• (GFD-2025-26663) [KLARIFIKASI] Konteks Keliru, Video Pernyataan Ma'ruf Amin Terkait Ahok pada 2019

    Sumber:
    Tanggal publish: 22/04/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar unggahan video yang menampilkan mantan Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyebut mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai sumber konflik.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi dalam video perlu diluruskan karena informasinya menghilangkan konteks secara utuh.

    Video yang menampilkan Ma'ruf Amin mengatakan Ahok sebagai sumber konflik salah satunya dibagikan akun Facebook ini, ini, dan ini pada April 2025.

    Dalam video, tampak Ma'ruf Amin sedang berbincang dengan beberapa orang. Kemudian ia mengatakan Ahok sebagai sumber konflik bangsa sehingga harus dihabisi.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Tim Cek Fakta Kompas.com, video itu telah beredar sejak 2019. Ma'ruf Amin juga telah memberikan penjelasan soal pernyataan itu.

    Seperti diberitakan Kompas.com pada 4 April 2019, Ma'ruf mengatakan bahwa ada konteks yang dihilangkan dalam video tersebut.

    Menurut Ma'ruf, video diambil ketika beberapa pemuka agama mengajaknya mendukung mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Pemilihan Presiden 2019.

    Ajakan itu tidak lepas dari keberhasilan Anies mengalahkan Ahok di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

    Namun, Ma'ruf menolak ajakan mendukung Anies, ia lebih memilih mendukung Jokowi. 

    Menurut Ma'ruf, Jokowi tidak bisa dikalahkan dengan cara seperti meredam suara pemilih Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017. 

    "Jadi waktu itu saya bilang, saya enggak setuju (dukung Anies). Pak Jokowi berbeda dengan Ahok. Ahok itu sumber konflik. Kalau Pak Jokowi kan bukan," ujar Ma'ruf.

    "Tapi Pak Jokowi tidak. Makanya saya cenderung mendukung Pak Jokowi ketimbang Anies. Biar nanti Anies 2024 ke atas bolehlah. Sekarang Pak Jokowi. Konteksnya itu," ungkapnya. 

    Sebagai konteks, Pilkada DKI Jakarta 2017 diwarnai dengan politik identitas. Ahok yang saat itu maju sebagai calon gubernur dipenjara karena kasus penistaan agama.

    Kesimpulan

    Video Ma'ruf Amin mengatakan Ahok sebagai sumber konflik dan harus dihabisi perlu diluruskan. Video itu telah beredar sejak tahun 2019.

    Ma'ruf saat itu menjelaskan bahwa video diambil ketika beberapa pemuka agama memintanya mendukung Anies maju di Pilpres 2019 untuk melawan Jokowi.  

    Ajakan itu tidak lepas dari keberhasilan Anies mengalahkan Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017.

    Namun, Ma'ruf menolaknya. Menurut dia, Jokowi berbeda dengan Ahok yang saat itu tersandung kasus penistaan agama. Ma'ruf pun lebih memilih mendukung Jokowi. 

    Rujukan

  • (GFD-2025-26664) [KLARIFIKASI] Soeharto Bicara soal Ijazah Palsu Merupakan Manipulasi AI

    Sumber:
    Tanggal publish: 22/04/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Di media sosial beredar video yang menampilkan Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto, berbicara tentang ijazah palsu.

    Dia mempertanyakan soal pemimpin yang memiliki ijazah palsu, dan menteri yang latar belakang pendidikannya tidak jelas.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video tersebut palsu dan merupakan hasil manipulasi artificial intelligence (AI). Narasi ini perlu diluruskan karena informasinya keliru.

    Video Soeharto berbicara tentang ijazah palsu dibagikan oleh akun Facebook ini dan ini, serta akun Threads ini. Konten tersebut dibagikan pada April 2025.

    Berikut narasi yang dibagikan:

    PAK HARTO IKUT BICARA SOAL IJAZAH PALSU

    Berikut cuplikan pernyataan Soeharto dalam video tersebut:

    Sekarang agak lain ya. Ada yang pendidikannya tidak jelas jadi pemimpin. Ada menteri yang dapat gelar profesor tapi tidak sesuai kaidah akademis.

    Ada yang dapat gelar profesor dari kampus abal-abal jadi utusan khusus ada yang jadi stafus. Kasihan daripada rakyat yang di bawah. Dulu saya seleksi para menteri dengan ketat.

    Saya lihat ijazah mereka asli atau enggak. Yang ijazahnya palsu sudah pasti saya singkirkan.

    Screenshot Hoaks, video Soeharto bicara soal ijazah palsu

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com mencermati video tersebut dan menemukan kejanggalan yang mengindikasikan video itu merupakan hasil manipulasi.

    Apabila diperhatikan, tampak gerakan bibir dan pipi Soeharto tidak sinkron saat berbicara. Seolah keduanya berasal dari video yang terpisah dan kemudian ditempelkan.

    Kemudian, Kompas.com mengecek video tersebut menggunakan Deepware, perangkat yang dapat mendeteksi video manipulasi AI atau deepfake.

    Menurut Deepware, video Soeharto bicara tentang ijazah palsu adalah deepfake.

    Setelah ditelusuri menggunakan Google Lens, video itu adalah hasil manipulasi dari video YouTube yang diunggah kanal President Files.

    Video yang diunggah pada 13 November 2019 tersebut berjudul "Temu Wicara Presiden Soeharto pada Acara Penerimaan Peserta RATINKOPAR".

    Deskripsi video menyebutkan, Soeharto menerima peserta Rapat Tahunan Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (Ratinkopar) di Tapos, Bogor, Jawa Barat pada 29 Oktober 1994.

    Acara itu adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKPRI), yang merupakan wadah koperasi untuk para pegawai negeri sipil (PNS).

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, video Soeharto berbicara tentang ijazah palsu adalah hoaks dan hasil manipulasi AI.

    Video asli merupakan arsip digital saat Soeharto menerima peserta Ratinkopar di Tapos, Bogor, Jawa Barat pada 29 Oktober 1994.

    Narasi yang muncul ini perlu diluruskan karena informasinya keliru. Konten ini bisa jadi merupakan satire terkait kondisi politik saat ini, yaitu adanya sejumlah orang yang mempertanyakan keaslian ijazah mantan presiden, yaitu Joko Widodo.

    Rujukan

  • (GFD-2025-26684) [HOAKS] Citra Kirana Meninggal Setelah Melahirkan pada 21 April 2025

    Sumber:
    Tanggal publish: 22/04/2025

    Berita

    KOMPAS.com - Artis Citra Kirana dikabarkan meninggal dunia pada Senin (21/4/2025) setelah melahirkan. Kabar itu dibagikan oleh sejumlah akun Facebook.

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, kabar tersebut hoaks.

    Kabar Citra Kirana meninggal dunia setelah melahirkan dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, ini, ini, dan ini pada Senin (21/4/2025).

    Berikut narasi yang dibagikan:

    Citra Kirana, Innalillahi Wa, Setelah Melahirkan,Selamat Jalan Untuk Selamanya

    Narasi tersebut menyertakan foto Citra Kirana yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Kompas.com mengecek akun Instagram @citraciki (terverifikasi) untuk mengetahui kabar terkini Citra Kirana.

    Pada Senin (21/4/2025), Citra Kirana mengunggah Instagram Story yang menunjukkan dirinya menaiki kereta uap Jaladara di Solo, Jawa Tengah.

    Sementara itu, foto Citra Kirana terbaring di ranjang rumah sakit adalah gambar lama yang diambil saat ia dirawat inap pada 19 September 2020.

    Foto tersebut ditemukan di artikel Liputan6.com, 20 September 2020, berjudul "Kembali Dirawat di RS, Citra Kirana Demam 40 Derajat Celcius dan Dinyatakan Bukan Mastitis".

    Adapun Citra Kirana melahirkan putra pertama pada 28 Agustus 2020. Dilansir Kompas.com, istri Rezky Aditya itu melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Keene Atharrazka Adhitya.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, kabar Citra Kirana meninggal dunia pada Senin (21/4/2025) adalah hoaks.

    Citra Kirana masih aktif mengunggah konten di Instagram. Sementara itu, foto Citra Kirana terbaring di rumah sakit adalah gambar lama tahun 2020.

    Rujukan

  • (GFD-2025-26626) [SALAH] Maskapai Air Canada Sengaja Hapus Israel di Peta In-Flight

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 21/04/2025

    Berita

    Akun Facebook “Lindo Ginting” pada Selasa (8/4/2025) membagikan foto [arsip] berisi narasi:
    “Maskapai Air Canada Hapus Israel di Peta in-Flight Jadi Palestinian Terrtitories"
    Per Senin (21/4/2025), konten tersebut disukai 52 akun dan telah dibagikan 5 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran berita dengan memasukkan kata kunci “Air Canada hapus Israel” ke mesin pencarian Google. Hasil penelusuran mengarah ke pemberitaan NDTV “Air Canada Changing Inflight Maps After Erasing Israel With Palestinian Territories”.
    Dalam berita yang tayang Selasa (18/3/2025) itu, dijelaskan bahwa ada kesalahan dalam sistem IFE (in-flight entertainment) yang membuat beberapa pesawat Boeing 737 MAX milik Air Canada tidak menampilkan nama Israel di peta in-flight. Sebagai gantinya, wilayah tersebut diberi nama “Palestinian Territories”.
    Air Canada menegaskan masalah tersebut telah diselesaikan bersama dengan Thales, perusahaan penyedia sistem IFE asal Prancis.

    Kesimpulan

    Unggahan berisi klaim “maskapai Air Canada sengaja hapus Israel di peta in-flight” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
    (Ditulis oleh ‘Ainayya)

    Rujukan