KOMPAS.com - Di media sosial beredar unggahan dengan narasi yang mengeklaim polisi menangkap dua orang pelaku pemalsuan produk susu kemasan.
Susu kemasan yang dipalsukan itu disebut berbahaya bagi kesehatan.
Namun, setelah ditelusuri narasi tersebut perlu diluruskan karena informasinya keliru.
Foto pelaku pemalsuan produk susu kemasan salah satunya dibagikan akun Facebook ini, ini, dan ini.
Akun tersebut membagikan foto dua orang yang memakai baju tahanan dengan disertai narasi sebagai berikut:
Lebih berhati-hati lah mengkonsumsi susu,susu dalam kemasan,karna sudah tertangkap pelaku pemalsuan susu, yang mengederkan susu palsu yang berepek patal bagi tubuh yang mengkomsumsi
Akun Facebook Foto yang diklaim menampilkan pelaku pemalsuan produk susu kemasan
(GFD-2025-28361) [KLARIFIKASI] Foto Ini Pelaku Pemalsuan Tanggal Kedaluwarsa Susu, Bukan Pemalsuan Produk Susu
Sumber:Tanggal publish: 08/08/2025
Berita
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri sumber foto tersebut menggunakan Google Lens. Hasilnya, foto identik yang ada di laman Tribunnews Bogor ini.
Dalam artikel dijelaskan, dua orang yang memakai baju tahanan itu merupakan pelaku penjualan susu kemasan kedaluwarsa. Mereka ditangkap oleh Polresta Bogor Kota pada Juni 2025.
Kedua tersangka yakni berinisial M (53) dan F (27). M merupakan pemilik toko grosir di Kedunghalang, Bogor Utara, sedangkan F pemilik gudang di Depok yang mendistribusikan susu ke toko grosir.
Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, AKP Aji Riznaldi Nugroho mengatakan, toko grosir milik M sudah beroperasi selama beberapa tahun.
Namun, M mengaku baru menerima susu kemasan dari gudang F sebanyak dua kali.
"Jadi berdasarkan pengakuan baru dua kali,” kata AKP Aji pada 17 Juni 2025.
Adapun M membeli susu kemasan dari F jauh di bawah harga pasaran. Ia membeli satu dus susu kemasan dengan harga Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu, padahal harga pasarannya di atas Rp 100 ribu.
Dalam kasus itu, polisi menyita sejumlah dus berisi susu kemasaan merk Indomilk yang sudah kedaluwarsa.
Dalam artikel dijelaskan, dua orang yang memakai baju tahanan itu merupakan pelaku penjualan susu kemasan kedaluwarsa. Mereka ditangkap oleh Polresta Bogor Kota pada Juni 2025.
Kedua tersangka yakni berinisial M (53) dan F (27). M merupakan pemilik toko grosir di Kedunghalang, Bogor Utara, sedangkan F pemilik gudang di Depok yang mendistribusikan susu ke toko grosir.
Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, AKP Aji Riznaldi Nugroho mengatakan, toko grosir milik M sudah beroperasi selama beberapa tahun.
Namun, M mengaku baru menerima susu kemasan dari gudang F sebanyak dua kali.
"Jadi berdasarkan pengakuan baru dua kali,” kata AKP Aji pada 17 Juni 2025.
Adapun M membeli susu kemasan dari F jauh di bawah harga pasaran. Ia membeli satu dus susu kemasan dengan harga Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu, padahal harga pasarannya di atas Rp 100 ribu.
Dalam kasus itu, polisi menyita sejumlah dus berisi susu kemasaan merk Indomilk yang sudah kedaluwarsa.
Kesimpulan
Foto yang diklaim menampilkan pelaku pemalsuan produk susu kemasan merupakan informasi tidak benar dan perlu diluruskan.
Dua orang yang memakai baju tahanan tidak memalsukan produk susu kemasan, melainkan memalsukan tanggal kedaluwarsa pada sebuah merek susu. Mereka ditangkap Polresta Bogor Kota pada Juni 2025.
Dua orang yang memakai baju tahanan tidak memalsukan produk susu kemasan, melainkan memalsukan tanggal kedaluwarsa pada sebuah merek susu. Mereka ditangkap Polresta Bogor Kota pada Juni 2025.
Rujukan
- https://www.facebook.com/share/1AtxgbZ4oW/
- https://www.facebook.com/share/p/19qt532ZMV/
- https://www.facebook.com/share/p/19WuzTqU7c/
- https://bogor.tribunnews.com/2025/06/17/tampang-tersangka-pemalsu-tanggal-kadaluarsa-susu-di-kota-bogor-38-dus-susu-disita-polisi
- https://kitabisa.com/campaign/kompascompendidikan
(GFD-2025-28362) [KLARIFIKASI] Pertamina Sebut Kecepatan Nozzle Tidak Pengaruhi Takaran BBM
Sumber:Tanggal publish: 08/08/2025
Berita
KOMPAS.com - Di media sosial beredar video yang menunjukkan proses pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina.
Narasi video mengeklaim, petugas mengatur kecepatan selang dispenser atau nozzle ke level 3 sehingga membuat takaran BBM yang terisi ke kendaraan lebih sedikit.
Namun, berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut tidak benar dan perlu diluruskan.
Konten yang mengeklaim kecepatan nozzle pada dispenser SPBU Pertamina memengaruhi takaran BBM dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini.
Berikut narasi yang dibagikan:
Tips mengisi bensin di SPBU. Ternyata ada perbedaan signifikan ketika menggunakan speed 1 dan speed 3. Speed 1 lebih terbukti lebih efektif yang mana tangki terisi penuh dibanding menggunakan speed 3.
Screenshot Klarifikasi, Pertamina sebut kecepatan nozzle tidak pengaruhi takaran BBM
Narasi video mengeklaim, petugas mengatur kecepatan selang dispenser atau nozzle ke level 3 sehingga membuat takaran BBM yang terisi ke kendaraan lebih sedikit.
Namun, berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut tidak benar dan perlu diluruskan.
Konten yang mengeklaim kecepatan nozzle pada dispenser SPBU Pertamina memengaruhi takaran BBM dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini.
Berikut narasi yang dibagikan:
Tips mengisi bensin di SPBU. Ternyata ada perbedaan signifikan ketika menggunakan speed 1 dan speed 3. Speed 1 lebih terbukti lebih efektif yang mana tangki terisi penuh dibanding menggunakan speed 3.
Screenshot Klarifikasi, Pertamina sebut kecepatan nozzle tidak pengaruhi takaran BBM
Hasil Cek Fakta
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari mengatakan, kecepatan nozzle pada dispenser SPBU tidak memengaruhi takaran BBM.
"Kecepatan nozzle hanya mengatur laju aliran BBM, bukan volume atau takaran yang diberikan," kata Heppy, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Kamis (7/8/2025).
Terdapat tiga level kecepatan dengan level 1 paling lambat, sedangkan level 3 paling cepat.
Petugas akan menggunakan level yang sesuai dengan volume yang dibeli konsumen.
Misalnya, jika BBM yang dibeli konsumen dalam jumlah banyak, petugas akan menggunakan speed yang lebih tinggi agar pengisian lebih cepat.
Heppy memastikan setiap dispenser di SPBU Pertamina sudah melalui proses kalibrasi dan tera ulang secara rutin untuk memastikan akurasi volume BBM yang dikeluarkan.
"Kecepatan nozzle hanya mengatur laju aliran BBM, bukan volume atau takaran yang diberikan," kata Heppy, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Kamis (7/8/2025).
Terdapat tiga level kecepatan dengan level 1 paling lambat, sedangkan level 3 paling cepat.
Petugas akan menggunakan level yang sesuai dengan volume yang dibeli konsumen.
Misalnya, jika BBM yang dibeli konsumen dalam jumlah banyak, petugas akan menggunakan speed yang lebih tinggi agar pengisian lebih cepat.
Heppy memastikan setiap dispenser di SPBU Pertamina sudah melalui proses kalibrasi dan tera ulang secara rutin untuk memastikan akurasi volume BBM yang dikeluarkan.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, konten yang mengeklaim kecepatan nozzle pada dispenser SPBU memengaruhi takaran BBM perlu diluruskan.
Pertamina menjelaskan, kecepatan nozzle hanya mengatur laju aliran BBM, bukan volume atau takaran yang diberikan.
Pertamina menjelaskan, kecepatan nozzle hanya mengatur laju aliran BBM, bukan volume atau takaran yang diberikan.
Rujukan
- https://www.facebook.com/reel/790012442519627
- https://www.facebook.com/watch/?v=1672424356805250&rdid=0FsjhiWIMIiQVVWs
- https://www.facebook.com/reel/1981390422606182
- https://nasional.kompas.com/read/2025/08/07/09004251/awas-hoaks-kecepatan-nozzle-tak-pengaruhi-takaran-bbm-di-spbu
- https://kitabisa.com/campaign/kompascompendidikan
(GFD-2025-28366) [KLARIFIKASI] Video Ini Bukan Perlihatkan Masjid di Hokkaido Selamat dari Tsunami
Sumber:Tanggal publish: 08/08/2025
Berita
KOMPAS.com - Di media sosial beredar video yang diklaim menunjukkan sebuah masjid di Hokkaido, Jepang, tetap kokoh berdiri meski diterjang tsunami.
Konten tersebut beredar setelah tsunami melanda seluruh pesisir Jepang imbas gempa bermagnitudo 8,8 yang mengguncang Kamchatka, Rusia, pada 30 Juli 2025.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, konten tersebut dibagikan dengan konteks keliru dan perlu diluruskan.
Video yang diklaim menunjukkan sebuah masjid di Hokkaido, Jepang, tetap kokoh berdiri meski diterjang tsunami dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada Agustus 2025.
Berikut narasi yang dibagikan:
Sebuah video bergaya dokumenter yang menunjukkan Masjid Al-Fajar di Hokkaido, Jepang, berdiri tegak dan tidak rusak di tengah-tengah gempa bumi besar dan tsunami.
Masjid tetap kuat dan tidak tersentuh sementara daerah sekitarnya dihancurkan oleh puing-puing dan air.
Screenshot Klarifikasi, video ini bukan perlihatkan masjid di Hokkaido selamat dari tsunami
Konten tersebut beredar setelah tsunami melanda seluruh pesisir Jepang imbas gempa bermagnitudo 8,8 yang mengguncang Kamchatka, Rusia, pada 30 Juli 2025.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, konten tersebut dibagikan dengan konteks keliru dan perlu diluruskan.
Video yang diklaim menunjukkan sebuah masjid di Hokkaido, Jepang, tetap kokoh berdiri meski diterjang tsunami dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini, pada Agustus 2025.
Berikut narasi yang dibagikan:
Sebuah video bergaya dokumenter yang menunjukkan Masjid Al-Fajar di Hokkaido, Jepang, berdiri tegak dan tidak rusak di tengah-tengah gempa bumi besar dan tsunami.
Masjid tetap kuat dan tidak tersentuh sementara daerah sekitarnya dihancurkan oleh puing-puing dan air.
Screenshot Klarifikasi, video ini bukan perlihatkan masjid di Hokkaido selamat dari tsunami
Hasil Cek Fakta
Tim Cek Fakta Kompas.com menelusuri masjid dalam video yang dibagikan dengan teknik reverse image search menggunakan Google Lens.
Hasilnya, foto masjid yang sama ditemukan dalam sejumlah pemberitaan terkait tsunami yang melanda Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018.
Misalnya, pemberitaan Kompas.id ini. Artikel itu memuat foto yang menunjukkan kondisi Masjid Apung Palu usai diterjang tsunami pada 28 September 2018.
Terlihat sebagian bangunan masjid tersebut sudah terendam air. Masjid juga terputus dari jalan yang menyambungkannya ke daratan.
Sementara itu, penelusuran di Google Search menggunakan kata kunci "hokkaido mosque tsunami" tidak membuahkan hasil yang sesuai.
Tidak ditemukan pemberitaan dari media kredibel tentang masjid di Hokkaido yang tetap tegak berdiri meski dihantam tsunami pada Juli 2025.
Hasilnya, foto masjid yang sama ditemukan dalam sejumlah pemberitaan terkait tsunami yang melanda Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018.
Misalnya, pemberitaan Kompas.id ini. Artikel itu memuat foto yang menunjukkan kondisi Masjid Apung Palu usai diterjang tsunami pada 28 September 2018.
Terlihat sebagian bangunan masjid tersebut sudah terendam air. Masjid juga terputus dari jalan yang menyambungkannya ke daratan.
Sementara itu, penelusuran di Google Search menggunakan kata kunci "hokkaido mosque tsunami" tidak membuahkan hasil yang sesuai.
Tidak ditemukan pemberitaan dari media kredibel tentang masjid di Hokkaido yang tetap tegak berdiri meski dihantam tsunami pada Juli 2025.
Kesimpulan
Video yang diklaim menunjukkan sebuah masjid di Hokkaido, Jepang, tetap kokoh berdiri meski diterjang tsunami pada Juli 2025 perlu diluruskan.
Faktanya, video tersebut dibagikan dengan konteks keliru. Video asli menunjukkan kondisi Masjid Apung Palu, Sulawesi Tengah, yang terdampak tsunami pada 2018.
Faktanya, video tersebut dibagikan dengan konteks keliru. Video asli menunjukkan kondisi Masjid Apung Palu, Sulawesi Tengah, yang terdampak tsunami pada 2018.
Rujukan
(GFD-2025-28367) [KLARIFIKASI] Belum Ada Bukti Ada Larva Lalat atau Belatung di Kepala Jokowi
Sumber:Tanggal publish: 08/08/2025
Berita
KOMPAS.com - Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) diklaim mengalami penyakit furuncular myiasis, yang membuat larva lalat berkembang di bawah kulit kepalanya.
Di media sosial, beredar sebuah video menampilkan ada bercak atau bintil-bintil kecil di bagian atas kepala Jokowi.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar dan perlu diluruskan informasinya.
Informasi mengenai larva belatung di kepala Jokowi disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, dan ini.
Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada 27 Juli 2025:
Penampakan diduga Belatung di Kepala Jokowi akibat Furuncular Myiasis : Infeksi Larva Lalat yang berkembang dibawah Kulit Kepala.
Di media sosial, beredar sebuah video menampilkan ada bercak atau bintil-bintil kecil di bagian atas kepala Jokowi.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi itu tidak benar dan perlu diluruskan informasinya.
Informasi mengenai larva belatung di kepala Jokowi disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, dan ini.
Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada 27 Juli 2025:
Penampakan diduga Belatung di Kepala Jokowi akibat Furuncular Myiasis : Infeksi Larva Lalat yang berkembang dibawah Kulit Kepala.
Hasil Cek Fakta
Video yang beredar bersumber dari kanal YouTube SOLOKINI yang diunggah pada 26 Juli 2025.
Peristiwa dalam video merupakan momen kehadiran Jokowi dalam reuni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980 di Yogyakarta.
Dalam video, Jokowi dikerumuni peserta reuni dan mengisi buku tamu pada sebuah meja.
Sebagai informasi, furuncular myiasis adalah penyakit penyakit endemik yang beredar di sekitar Amerika tengah dan selatan.
Penyakit ini disebabkan oleh lalat yang disebut botfly (Dermatobia hominis), yang merupakan parasit pada tubuh manusia. Larva dari lalat botfly dapat hidup dan berkembang di tubuh manusia.
Dikutip dari Science Direct, larva botfly ditinggalkan di kulit oleh nyamuk. Biasanya larva ditinggalkan pada area kulit yang tidak tertutup.
Setelah berkembang biak, larva akan memunculkan benjolan di permukaan kulit berukuran 1-2 cm dan mengeluarkan sedikit cairan. Pasien biasanya mengeluhkan adanya sesuatu yang bergerak di dalam lesi dan terasa sakit.
Masa inkubasi larvanya yakni 15 hingga 45 hari, karena ia dikabarkan sakit sejak April 2025.
Jika benar Jokowi mengidap furuncular myiasis, seharusnya masa inkubasi larva telah selesai.
Adapun sejauh ini, tidak ada bukti bahwa Jokowi menderita penyakit furuncular myiasis.
Jokowi diutus Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus pada 26 April 2025.
Setelah pulang dari Vatikan, Jokowi dikabarkan mengidap penyakit alergi kulit.
Sebagaimana pernah diwartakan Kompas.com, selama mengidap penyakit alergi kulit mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter kepresidenan.
Ajudan Jokowi, Kompol Syarif Fitriansyah mengungkapkan, Jokowi masih dalam pemulihan
"Kondisinya sehat walafiat, bugar," ujar Syarif pada 12 Juli 2025.
Peristiwa dalam video merupakan momen kehadiran Jokowi dalam reuni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980 di Yogyakarta.
Dalam video, Jokowi dikerumuni peserta reuni dan mengisi buku tamu pada sebuah meja.
Sebagai informasi, furuncular myiasis adalah penyakit penyakit endemik yang beredar di sekitar Amerika tengah dan selatan.
Penyakit ini disebabkan oleh lalat yang disebut botfly (Dermatobia hominis), yang merupakan parasit pada tubuh manusia. Larva dari lalat botfly dapat hidup dan berkembang di tubuh manusia.
Dikutip dari Science Direct, larva botfly ditinggalkan di kulit oleh nyamuk. Biasanya larva ditinggalkan pada area kulit yang tidak tertutup.
Setelah berkembang biak, larva akan memunculkan benjolan di permukaan kulit berukuran 1-2 cm dan mengeluarkan sedikit cairan. Pasien biasanya mengeluhkan adanya sesuatu yang bergerak di dalam lesi dan terasa sakit.
Masa inkubasi larvanya yakni 15 hingga 45 hari, karena ia dikabarkan sakit sejak April 2025.
Jika benar Jokowi mengidap furuncular myiasis, seharusnya masa inkubasi larva telah selesai.
Adapun sejauh ini, tidak ada bukti bahwa Jokowi menderita penyakit furuncular myiasis.
Jokowi diutus Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus pada 26 April 2025.
Setelah pulang dari Vatikan, Jokowi dikabarkan mengidap penyakit alergi kulit.
Sebagaimana pernah diwartakan Kompas.com, selama mengidap penyakit alergi kulit mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter kepresidenan.
Ajudan Jokowi, Kompol Syarif Fitriansyah mengungkapkan, Jokowi masih dalam pemulihan
"Kondisinya sehat walafiat, bugar," ujar Syarif pada 12 Juli 2025.
Kesimpulan
Tidak ada bukti Jokowi mengidap penyakit furuncular myiasis, yang membuat larva belatung hidup di kulit kepalanya.
Jokowi dikabarkan mengalami alergi kulit usai berkunjung ke Vatikan pada April 2025.
Jokowi dikabarkan mengalami alergi kulit usai berkunjung ke Vatikan pada April 2025.
Rujukan
- https://www.facebook.com/uji.dolis.334/videos/1083004743308766
- https://www.facebook.com/erna.sukaesih.9/videos/1101877945200092
- https://www.facebook.com/reel/770730188868113
- https://www.facebook.com/reel/1302059421501130
- https://www.youtube.com/watch?v=Lz77yA4UTXs
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1853312/
- https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/botfly-myiasis
- https://yogyakarta.kompas.com/read/2025/07/12/190952978/jokowi-idap-alergi-kulit-dokter-kepresidenan-ikut-merawat
- https://kitabisa.com/campaign/kompascompendidikan
Halaman: 1502/7954