KOMPAS.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dikabarkan akan menarik anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Narasi di media sosial menyebutkan, Menkeu akan menarik Rp 71 triliun dana MBG.
Informasi tersebut sebagian benar. Simak konteks lengkapnya dari penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com berikut.
Unggahan yang menyebutkan Menkeu Purbaya menarik Rp 71 triliun anggaran program MBG disebarkan oleh akun Facebook ini dan ini.
Unggahan serupa juga beredar di Instagram ini, ini, dan ini.
Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada 26 September 2025:
MBG AKAN SEGERA TAMAT, PURBAYA TARIK ANGGARAN MBG UNTUK BERAS
Menteri Keuangan Purbaya Alihkan Dana 71 T Anggaran MBG Ke Bantuan Beras, Istana Minta Maaf Banyak Siswa Keracvnan.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana Merespon Soal Pernyataan Purbaya Menkeu Yang Menyatakan Jika Anggaran MBG 2-25 Tidak. Terserap Semua Akan. Di Ambil. Dan Di Alihkan Pada Bantuan Beras Gratis
Hal Ini Muncul Karena Akhir2 Ini Banyak Anak Korban Keracunan MBG, Purbaya Akan Bertindak Tegas Terkait Hal Ini, Jika Kejadian Berulang Maka MBG Ter4ncam Akan Berhenti
akun Facebook Tangkapan layar konten dengan narasi sebagian benar di sebuah akun Facebook, yang menyebutkan Menkeu Purbaya menarik Rp 71 triliun anggaran program MBG.
(GFD-2025-29451) [KLARIFIKASI] Menkeu Belum Tarik MBG, Dipantau Sampai Akhir Oktober
Sumber:Tanggal publish: 06/10/2025
Berita
Hasil Cek Fakta
Purbaya berencana mengalihkan anggaran program MBG ke program lain, termasuk program bantuan pangan beras 10 kg, jika tidak terserap dengan baik.
Seperti diwartakan Kompas.com, kebijakan ini sejatinya bukan untuk menegur Badan Gizi Nasional (BGN), melainkan untuk membantu penyerapan.
"Tapi kalau memang bisa diserap, kan bagus. Jadi saya enggak negur, tapi saya mendukung. Tapi kalau enggak jalan, saya ambil duitnya," ujar Purbaya.
Ini merupakan bagian dari patroli ke sejumlah kementerian/lembaga untuk memonitor penyerapan anggaran.
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, penyerapan anggaran BGN untuk program MBG sudah sangat baik.
"Tadi kami pastikan juga bahwa penyerapan anggarannya sekarang kelihatan sangat membaik. Sehingga Menteri Keuangan tidak perlu nanti mengambil anggaran yang tidak terserap," kata Luhut pada Jumat (3/10/2025) sebagaimana diberitakan Kompas.com.
Ia telah mengadakan rapat dengan Kepala BGN Dadan Hindayana di Kantor DEN.
Deden melaporkan, serapan anggaran untuk MBG secara keseluruhan sudah mencapai Rp 21,64 triliun hingga 3 Oktober 2025.
Serapan itu setara dengan 34 persen dari keseluruhan alokasi.
Namun Purbaya tetap akan merelokasi anggaran jika tidak terserap maksimal hingga akhir Oktober 2025.
"Kan kita melihat sampai akhir Oktober, kalau tidak menyerap ya kita akan potong juga," ungkap Purbaya pada Minggu (5/10/2025).
Seperti diwartakan Kompas.com, kebijakan ini sejatinya bukan untuk menegur Badan Gizi Nasional (BGN), melainkan untuk membantu penyerapan.
"Tapi kalau memang bisa diserap, kan bagus. Jadi saya enggak negur, tapi saya mendukung. Tapi kalau enggak jalan, saya ambil duitnya," ujar Purbaya.
Ini merupakan bagian dari patroli ke sejumlah kementerian/lembaga untuk memonitor penyerapan anggaran.
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, penyerapan anggaran BGN untuk program MBG sudah sangat baik.
"Tadi kami pastikan juga bahwa penyerapan anggarannya sekarang kelihatan sangat membaik. Sehingga Menteri Keuangan tidak perlu nanti mengambil anggaran yang tidak terserap," kata Luhut pada Jumat (3/10/2025) sebagaimana diberitakan Kompas.com.
Ia telah mengadakan rapat dengan Kepala BGN Dadan Hindayana di Kantor DEN.
Deden melaporkan, serapan anggaran untuk MBG secara keseluruhan sudah mencapai Rp 21,64 triliun hingga 3 Oktober 2025.
Serapan itu setara dengan 34 persen dari keseluruhan alokasi.
Namun Purbaya tetap akan merelokasi anggaran jika tidak terserap maksimal hingga akhir Oktober 2025.
"Kan kita melihat sampai akhir Oktober, kalau tidak menyerap ya kita akan potong juga," ungkap Purbaya pada Minggu (5/10/2025).
Kesimpulan
Narasi yang menyebutkan Menkeu Purbaya menarik Rp 71 triliun anggaran program MBG tidak sepenuhnya benar.
Menkeu masih akan memantau penyerapan anggaran hingga akhir Oktober 2025.
Purbaya meluruskan, dirinya bukan menegur BGN melainkan membantu mendukung penyerapan dana.
Menkeu masih akan memantau penyerapan anggaran hingga akhir Oktober 2025.
Purbaya meluruskan, dirinya bukan menegur BGN melainkan membantu mendukung penyerapan dana.
Rujukan
- https://www.facebook.com/reel/806099751904565
- https://www.facebook.com/reel/2034477583982625
- https://www.instagram.com/reel/DPEO2TPj_Ma/
- https://www.instagram.com/reel/DPLDIcNE-8n/
- https://www.instagram.com/reel/DPGlSM0jx89/
- https://nasional.kompas.com/read/2025/09/19/18562841/menkeu-bakal-alihkan-anggaran-mbg-ke-bantuan-beras-10-kg-jika-tak-terserap
- https://money.kompas.com/read/2025/10/03/181100026/luhut-serapan-anggaran-mbg-sangat-baik-menkeu-purbaya-tak-perlu-ambil-yang
- https://nasional.kompas.com/read/2025/10/05/14595211/purbaya-respons-luhut-tetap-potong-anggaran-mbg-jika-tak-terserap-hingga
- https://app.kompas.com/download?source=Kompas.com&medium=Referral&campaign=belowarticle
(GFD-2025-29420) Cek Fakta: Hoaks Artikel Said Aqil Puji Wapres Gibran Mirip Nabi Yusuf
Sumber:Tanggal publish: 06/10/2025
Berita
Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan artikel Said Aqil memuji Wapres Gibran Rakabuming Raka seperti Nabi Yusuf. Postingan itu beredar sejak beberapa waktu lalu.
Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 22 Agustus 2025.
Dalam postingannya terdapat cuplikan layar artikel berjudul:
"Said Aqil Puji Gibran Mirip Sekali Nabi Yusuf AS Muda Ganteng kecerdasannya Jauh Dari Wakil Presiden Sebelumnya"
Akun itu menambahkan narasi:
"jilat terus ..... termul"
Lalu benarkah postingan artikel Said Aqil memuji Wapres Gibran Rakabuming Raka seperti Nabi Yusuf?
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan artikel yang identik dengan postingan. Kesamaan terdapat pada foto yang dipakai dan juga waktu artikel diunggah yakni 15 Agustus 2025 pukul 09.35 WIB.
Artikel itu identik dengan yang diunggah oleh Tempo.co. Namun dalam artikel asli berjudul "Erick Thohir Angkat Kembali Eks Ketua PBNU Said Aqil Siradj sebagai Komisaris Utama PT KAI."
Artikel itu sama sekali tidak membahas pujian Said Aqil pada Wapres Gibran. Artikel asli membahas keputusan Menteri BUMN saat itu, Erick Thohir yang tetap mempertahankan Said Aqil sebagai Dewan Komisaris PT KAI.
Kesimpulan
Postingan artikel Said Aqil memuji Wapres Gibran Rakabuming Raka seperti Nabi Yusuf adalah hoaks.
Rujukan
(GFD-2025-29424) Tidak Tepat Menakar RON BBM dengan Alat OKTIS-2
Sumber:Tanggal publish: 06/10/2025
Berita
tirto.id - Sebuah video beredar di media sosial, dengan klaim Pertamax Turbo dengan spesifikasi RON 91.
ADVERTISEMENT
Video tersebut diunggah sejumlah akun di Facebook. Teranyar, Tirto menemukan unggahan akun “Serambi Jumpa” (arsip), “Dhela Afa Rahmawati” (arsip), dan “Syafrie Zaid” (arsip) dari Kamis (2/10/2024) sampai Sabtu (4/10/2025). Dalam unggahan tersebut, terdapat beberapa klip video yang memperlihatkan beberapa gelas ukur diisi oleh berbagai macam Bahan Bakar Minyak (BBM).
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
Di akhir video, sebuah foto memperlihatkan sebuah alat OKTIS-2 sedang digunakan untuk mengecek Research Octane Number (RON) yang menunjukkan RON berada di angka 91.
#inline3 {margin:1.5em auto}
#inline3 img{margin: 0 auto;max-width:300px !important;}
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
“Tidak ada henti2nya buat Rakyat Kecewa!! Kini ditemukan Pertamax Turbo Ron 91.Netizen : “Bangs4t!!”,” tulis salah satu akun pengunggah.
#inline4 {margin:1.5em 0}
#inline4 img{max-width:300px !important;margin:auto;display:block;}
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Periksa fakta Menakar RON BBM. foto/periksa fakta tirto
Hingga artikel ini ditulis, unggahan telah mendapatkan 31 tanda suka dan dikomentari lebih dari 8.500 kali.
ADVERTISEMENT
Video lain dengan klaim serupa juga ditemukan di TikTok, diunggah oleh akun “BLACK hole” (arsip) pada 9 Oktober 2025. Dalam video tersebut, terlihat sebuah cairan berwarna merah, yang identik dengan BBM Pertamax Turbo, tengah dites menggunakan alat OKTIS-2, hasilnya menunjukkan RON berada di angka 91.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
ADVERTISEMENT
Video tersebut diunggah sejumlah akun di Facebook. Teranyar, Tirto menemukan unggahan akun “Serambi Jumpa” (arsip), “Dhela Afa Rahmawati” (arsip), dan “Syafrie Zaid” (arsip) dari Kamis (2/10/2024) sampai Sabtu (4/10/2025). Dalam unggahan tersebut, terdapat beberapa klip video yang memperlihatkan beberapa gelas ukur diisi oleh berbagai macam Bahan Bakar Minyak (BBM).
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
Di akhir video, sebuah foto memperlihatkan sebuah alat OKTIS-2 sedang digunakan untuk mengecek Research Octane Number (RON) yang menunjukkan RON berada di angka 91.
#inline3 {margin:1.5em auto}
#inline3 img{margin: 0 auto;max-width:300px !important;}
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
“Tidak ada henti2nya buat Rakyat Kecewa!! Kini ditemukan Pertamax Turbo Ron 91.Netizen : “Bangs4t!!”,” tulis salah satu akun pengunggah.
#inline4 {margin:1.5em 0}
#inline4 img{max-width:300px !important;margin:auto;display:block;}
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Periksa fakta Menakar RON BBM. foto/periksa fakta tirto
Hingga artikel ini ditulis, unggahan telah mendapatkan 31 tanda suka dan dikomentari lebih dari 8.500 kali.
ADVERTISEMENT
Video lain dengan klaim serupa juga ditemukan di TikTok, diunggah oleh akun “BLACK hole” (arsip) pada 9 Oktober 2025. Dalam video tersebut, terlihat sebuah cairan berwarna merah, yang identik dengan BBM Pertamax Turbo, tengah dites menggunakan alat OKTIS-2, hasilnya menunjukkan RON berada di angka 91.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Hasil Cek Fakta
Sebagai informasi RON alias nilai oktan di BBM adalah angka yang menunjukkan tingkat ketukan atau banyaknya ketukan (knocking) di ruang bakar kendaraan saat pembakaran.
Sederhananya, RON menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan di ruang bakar kendaraan. BBM oktan tinggi (RON tinggi) memiliki kualitas yang lebih baik dibanding oktan yang lebih rendah.
Meski begitu bensin oktan tinggi belum tentu mempengaruhi kinerja mesin secara signifikan. Ini karena performa mesin tidak hanya dipengaruhi penggunaan bahan bakar.
Terkait dengan narasi yang beredar di internet, klaim menyebut kalau Pertamax Turbo, BBM dengan spesifikasi RON 98, mencatatkan angka RON 91, saat dilakukan pengetesan, mengarahkan narasi kecurangan dalam penjualan BBM.
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tirto menghubungi Pakar Bahan Bakar ITB, Dr. Ing Ir. Tri Yuswidjajanto Zaenuri. Ia menjelaskan bahwa alat OKTIS-2, yang digunakan dalam video, tidak tepat jadi alat untuk mengukur angka oktan alias RON.
“Jadi RON itu adalah ketahanan bahan bakar untuk tidak berdetonasi. Jadi harus ada pembakaran. Nah, kalau yang [video pengetesan dengan] OKTIS-2 itu kan enggak ada pembakaran. Dia hanya sensor kapasitif. Jadi tergantung dari cairan yang ada di antara sensornya. Cairan itu bisa mengalirkan listrik atau enggak,” jelas laki-laki yang akrab disapa Yus itu.
Dia menjabarkan cara kerja OKTIS-2. Alat itu akan, menampilkan angka rendah di layar kalau cairan memiliki kemampuan menghantarkan listrik. Sedangkan cairan yang tidak menghantarkan listrik akan menunjukkan angka yang lebih tinggi.
Artinya, nilai yang muncul pada OKTIS-2 tidak menunjukkan angka oktan bahan bakar, melainkan mencerminkan sifat dielektrik cairan yang diuji.
Yus menerangkan, untuk menguji RON, idealnya menggunakan mesin Cooperative Fuel Research (CFR) F1 dengan standar ASTM D2699.
“Jadi kalau yang metode ASTM itu, pertama adalah bahan bakar yang mau diuji RON-nya itu dipakai sebagai bahan bakar untuk mesin namanya CFR Engine,” papar Yus.
Dalam metode ini, bahan bakar yang akan diuji digunakan langsung pada mesin CFR, yang memungkinkan penyesuaian rasio kompresi dengan cara menaikkan atau menurunkan posisi silinder.
Mesin dijalankan pada putaran 600 RPM, kemudian rasio kompresi ditingkatkan hingga muncul tanda-tanda detonasi atau knocking. Setelah itu, bahan bakar tersebut dibandingkan dengan campuran standar n-heptana dan iso-octana.
Perbandingan antara kedua bahan inilah yang menentukan nilai RON. Misalnya, jika campurannya terdiri dari 98 persen iso-octana dan 2 persen n-heptana, maka bahan bakar tersebut memiliki RON 98.
Metode inilah yang digunakan secara ilmiah untuk menentukan angka oktan bahan bakar, bukan dengan alat seperti OKTIS-2.
Yus menekankan bahwa alat OKTIS-2 yang digunakan dalam video tidak dapat mengukur angka oktan (RON) karena alat tersebut bekerja dengan mendeteksi sifat dielektrik cairan, yakni kemampuan cairan dalam menghantarkan listrik, bukan melalui proses pembakaran sebagaimana metode pengukuran RON yang sebenarnya.
Lebih lanjut, Yus menjelaskan bahwa sifat dielektrik atau kapasitif cairan sama sekali tidak memiliki kaitan dengan angka oktan.
Yus juga menyebut bahwa alat OKTIS-2 sebenarnya bisa dikalibrasi agar hasilnya menyesuaikan standar tertentu, sebagaimana dilakukan di Rusia. Namun, hal itu tidak membuat alat tersebut sahih untuk mengukur RON.
Di Indonesia, alat ini berpotensi menghasilkan kesimpulan keliru karena dua alasan: (1) penggunaannya sering dilakukan tanpa pemahaman bahwa alat tersebut hanya memberikan indikasi dan (2) alatnya tidak dikalibrasi dengan bahan bakar yang beredar di Indonesia.
“Jadi OKTIS itu hanya indikasi saja, tapi tidak mengukur RON. Kalau dipakai di kita, satu, yang menggunakan belum tentu tahu bahwa alat itu bisa disetting RON atau AKI (Anti-Knocking Index). Kedua, tidak dikalibrasi dengan bahan bakar yang ada di Indonesia,” tuturnya.
Pada Maret 2025 lalu, bersama dengan kanal OtoHub, Yus, juga sempat melakukan pengujian terhadap sejumlah BBM menggunakan alat OKTIS-2 ini. Selain menerangkan fungsi alat yang lebih untuk menakar kemampuan mengalirkan listrik pada cairan, dia juga memperagakan bagaimana OKTIS-2 punya dua setelan dengan kode "PNY" dan "USA".
Dalam eksperimen dalam video terlihat Yus dan kru OtoHub mengujikan beragam BBM dari berbagai merek dengan berbagai spesifikasi. Menggunakan alat OKTIS-2 yang diset "PNY" yang disebut dapat mengukur RON, alat tersebut menunjukkan angka yang selalu lebih besar dari spesifikasi yang diberikan oleh penyedia BBM.
Misal BBM RON 92 dari merek merah hasil pengujian OKTIS-2 menunjukkan angka 106. Contoh lain BBM RON 95 dari brand hijau menunjukkan angka 102. Dalam eksperimen ini, pencelupan OKTIS-2 ke dalam cairan dilakukan selama tiga kali untuk tiap cairan dan menggunakan dua alat OKTIS-2. Hasilnya pun cenderung konsisten.
Sementara saat melakukan pengujian dengan setelan “USA”, seperti dijelaskan Yus, ini untuk mengukur Anti-Knocking Index (AKI). Angkanya cenderung lebih kecil dibanding angka RON.
Dalam eksperimen yang sama Yus juga menunjukkan hasil pengujian dengan mesin CFR yang sesuai standar ASTM D-2699-23. Hasilnya pengujian terhadap BBM yang dijual di Indonesia, hampir semuanya menunjukkan angka RON yang hanya berbeda 0,1-0,5 dibanding klaim dari masing-masing penyedia SPBU.
Adapun isu soal BBM dengan nilai RON tak sesuai ini bukan hanya beredar pada Oktober 2025. Kami menemukan narasi serupa banyak beredar di internet sebelumnya, misalnya unggahan pada September 2025 ini. Modusnya sama terkait pengujian spesifikasi RON BBM tertentu dengan alat OKTIS-2.
Sederhananya, RON menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan di ruang bakar kendaraan. BBM oktan tinggi (RON tinggi) memiliki kualitas yang lebih baik dibanding oktan yang lebih rendah.
Meski begitu bensin oktan tinggi belum tentu mempengaruhi kinerja mesin secara signifikan. Ini karena performa mesin tidak hanya dipengaruhi penggunaan bahan bakar.
Terkait dengan narasi yang beredar di internet, klaim menyebut kalau Pertamax Turbo, BBM dengan spesifikasi RON 98, mencatatkan angka RON 91, saat dilakukan pengetesan, mengarahkan narasi kecurangan dalam penjualan BBM.
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tirto menghubungi Pakar Bahan Bakar ITB, Dr. Ing Ir. Tri Yuswidjajanto Zaenuri. Ia menjelaskan bahwa alat OKTIS-2, yang digunakan dalam video, tidak tepat jadi alat untuk mengukur angka oktan alias RON.
“Jadi RON itu adalah ketahanan bahan bakar untuk tidak berdetonasi. Jadi harus ada pembakaran. Nah, kalau yang [video pengetesan dengan] OKTIS-2 itu kan enggak ada pembakaran. Dia hanya sensor kapasitif. Jadi tergantung dari cairan yang ada di antara sensornya. Cairan itu bisa mengalirkan listrik atau enggak,” jelas laki-laki yang akrab disapa Yus itu.
Dia menjabarkan cara kerja OKTIS-2. Alat itu akan, menampilkan angka rendah di layar kalau cairan memiliki kemampuan menghantarkan listrik. Sedangkan cairan yang tidak menghantarkan listrik akan menunjukkan angka yang lebih tinggi.
Artinya, nilai yang muncul pada OKTIS-2 tidak menunjukkan angka oktan bahan bakar, melainkan mencerminkan sifat dielektrik cairan yang diuji.
Yus menerangkan, untuk menguji RON, idealnya menggunakan mesin Cooperative Fuel Research (CFR) F1 dengan standar ASTM D2699.
“Jadi kalau yang metode ASTM itu, pertama adalah bahan bakar yang mau diuji RON-nya itu dipakai sebagai bahan bakar untuk mesin namanya CFR Engine,” papar Yus.
Dalam metode ini, bahan bakar yang akan diuji digunakan langsung pada mesin CFR, yang memungkinkan penyesuaian rasio kompresi dengan cara menaikkan atau menurunkan posisi silinder.
Mesin dijalankan pada putaran 600 RPM, kemudian rasio kompresi ditingkatkan hingga muncul tanda-tanda detonasi atau knocking. Setelah itu, bahan bakar tersebut dibandingkan dengan campuran standar n-heptana dan iso-octana.
Perbandingan antara kedua bahan inilah yang menentukan nilai RON. Misalnya, jika campurannya terdiri dari 98 persen iso-octana dan 2 persen n-heptana, maka bahan bakar tersebut memiliki RON 98.
Metode inilah yang digunakan secara ilmiah untuk menentukan angka oktan bahan bakar, bukan dengan alat seperti OKTIS-2.
Yus menekankan bahwa alat OKTIS-2 yang digunakan dalam video tidak dapat mengukur angka oktan (RON) karena alat tersebut bekerja dengan mendeteksi sifat dielektrik cairan, yakni kemampuan cairan dalam menghantarkan listrik, bukan melalui proses pembakaran sebagaimana metode pengukuran RON yang sebenarnya.
Lebih lanjut, Yus menjelaskan bahwa sifat dielektrik atau kapasitif cairan sama sekali tidak memiliki kaitan dengan angka oktan.
Yus juga menyebut bahwa alat OKTIS-2 sebenarnya bisa dikalibrasi agar hasilnya menyesuaikan standar tertentu, sebagaimana dilakukan di Rusia. Namun, hal itu tidak membuat alat tersebut sahih untuk mengukur RON.
Di Indonesia, alat ini berpotensi menghasilkan kesimpulan keliru karena dua alasan: (1) penggunaannya sering dilakukan tanpa pemahaman bahwa alat tersebut hanya memberikan indikasi dan (2) alatnya tidak dikalibrasi dengan bahan bakar yang beredar di Indonesia.
“Jadi OKTIS itu hanya indikasi saja, tapi tidak mengukur RON. Kalau dipakai di kita, satu, yang menggunakan belum tentu tahu bahwa alat itu bisa disetting RON atau AKI (Anti-Knocking Index). Kedua, tidak dikalibrasi dengan bahan bakar yang ada di Indonesia,” tuturnya.
Pada Maret 2025 lalu, bersama dengan kanal OtoHub, Yus, juga sempat melakukan pengujian terhadap sejumlah BBM menggunakan alat OKTIS-2 ini. Selain menerangkan fungsi alat yang lebih untuk menakar kemampuan mengalirkan listrik pada cairan, dia juga memperagakan bagaimana OKTIS-2 punya dua setelan dengan kode "PNY" dan "USA".
Dalam eksperimen dalam video terlihat Yus dan kru OtoHub mengujikan beragam BBM dari berbagai merek dengan berbagai spesifikasi. Menggunakan alat OKTIS-2 yang diset "PNY" yang disebut dapat mengukur RON, alat tersebut menunjukkan angka yang selalu lebih besar dari spesifikasi yang diberikan oleh penyedia BBM.
Misal BBM RON 92 dari merek merah hasil pengujian OKTIS-2 menunjukkan angka 106. Contoh lain BBM RON 95 dari brand hijau menunjukkan angka 102. Dalam eksperimen ini, pencelupan OKTIS-2 ke dalam cairan dilakukan selama tiga kali untuk tiap cairan dan menggunakan dua alat OKTIS-2. Hasilnya pun cenderung konsisten.
Sementara saat melakukan pengujian dengan setelan “USA”, seperti dijelaskan Yus, ini untuk mengukur Anti-Knocking Index (AKI). Angkanya cenderung lebih kecil dibanding angka RON.
Dalam eksperimen yang sama Yus juga menunjukkan hasil pengujian dengan mesin CFR yang sesuai standar ASTM D-2699-23. Hasilnya pengujian terhadap BBM yang dijual di Indonesia, hampir semuanya menunjukkan angka RON yang hanya berbeda 0,1-0,5 dibanding klaim dari masing-masing penyedia SPBU.
Adapun isu soal BBM dengan nilai RON tak sesuai ini bukan hanya beredar pada Oktober 2025. Kami menemukan narasi serupa banyak beredar di internet sebelumnya, misalnya unggahan pada September 2025 ini. Modusnya sama terkait pengujian spesifikasi RON BBM tertentu dengan alat OKTIS-2.
Kesimpulan
Klaim video yang menunjukkan Pertamax Turbo memiliki RON 91 sebagaimana ditunjukkan dalam video yang beredar adalah menyesatkan tanpa tambahan konteks tertentu (missing context).
Alat OKTIS-2 yang digunakan dalam video tersebut tidak dirancang untuk mengukur angka oktan (RON), melainkan hanya mendeteksi sifat dielektrik cairan—yakni kemampuan cairan menghantarkan listrik. Hasil pengukuran dengan alat ini sama sekali tidak mencerminkan angka oktan bahan bakar.
Secara ilmiah, pengukuran RON harus dilakukan menggunakan mesin Cooperative Fuel Research (CFR) dengan standar ASTM D2699 melalui proses pembakaran dan pengujian ketahanan bahan bakar terhadap detonasi. Karena itu, hasil pengukuran menggunakan OKTIS-2 tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan kualitas atau angka oktan Pertamax Turbo.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Alat OKTIS-2 yang digunakan dalam video tersebut tidak dirancang untuk mengukur angka oktan (RON), melainkan hanya mendeteksi sifat dielektrik cairan—yakni kemampuan cairan menghantarkan listrik. Hasil pengukuran dengan alat ini sama sekali tidak mencerminkan angka oktan bahan bakar.
Secara ilmiah, pengukuran RON harus dilakukan menggunakan mesin Cooperative Fuel Research (CFR) dengan standar ASTM D2699 melalui proses pembakaran dan pengujian ketahanan bahan bakar terhadap detonasi. Karena itu, hasil pengukuran menggunakan OKTIS-2 tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan kualitas atau angka oktan Pertamax Turbo.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/share/1BBiVhVbPn/
- https://archive.ph/8fJl3
- https://www.facebook.com/reel/1465247578100312
- https://archive.ph/wip/a2lD3
- https://archive.ph/wip/Z0hop
- https://aurum.tirto.id/gold/ck.php?oaparams=2__bnnid=2218__znnid=318__cb=8063614237__oadest=
- https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Flive%2FcKuCnJKjIHQ%3Fsi%3DKXQqrfsWQ15TwFiL
- https://aurum.tirto.id/gold/ck.php?oaparams=2__bnnid=2218__znnid=319__cb=9f73f15752__oadest=
- https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Flive%2FcKuCnJKjIHQ%3Fsi%3DKXQqrfsWQ15TwFiL
- https://vt.tiktok.com/ZSUJESyPk/
- https://archive.ph/SxVHB
- https://www.youtube.com/watch?v=NH85lvzKK48
- https://www.facebook.com/reel/1184185893540590/?s=single_unit&__cft__[0]=AZUzl6LNiNtwmUxctgAsw-eDTHFgjtvUqdJp7PukCeIwVVqo14ZyxrMvh1XNzJ1FbU2nHpwB4mx6vtPqHDbgUi5aQfg7pft7xBE-sWMrY5l1oRx5FBrT7zf_B2wMFrwge5ZmdMAeC1i9vdLW4m34JRAoSfVCxKkdiw4DzenOrTfXpg&__tn__=H-R
- https://mailto:factcheck@tirto.id
(GFD-2025-29425) [SALAH] Video Warga Menjarah SPBU Pertamina
Sumber: tiktok.comTanggal publish: 06/10/2025
Berita
Beredar video [arsip] dari akun Tiktok “paparazi937” pada Minggu (28/9/2025) yang diklaim sejumlah orang menjarah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina. Berikut narasi lengkapnya:
begini akibatnya kalau pertamina tidak adil hancur sudah spbu..
Pertamina sudah mulai di jarah
Sejak diunggah Minggu (28/9/2025), video itu telah ditonton 756 kali, disukai 56 kali, dan menuai 5 komentar per Senin (6/10/2025).
begini akibatnya kalau pertamina tidak adil hancur sudah spbu..
Pertamina sudah mulai di jarah
Sejak diunggah Minggu (28/9/2025), video itu telah ditonton 756 kali, disukai 56 kali, dan menuai 5 komentar per Senin (6/10/2025).
Hasil Cek Fakta
Disadur dari artikel Cek Fakta kompas.com.
Cek Fakta kompas.com menelusuri kebenaran klaim dengan menggunakan metode reverse image search. Hasilnya ditemukan beberapa video serupa yang diambil dari sudut berbeda dari akun Tiktok “akdi.supriatno” dan “tunasfakta“.
Dalam keterangannya dijelaskan bahwa video tersebut merupakan momen ketika warga melaksanakan aksi protes di depan kantor Pertamina Balongan, Indramayu, Jawa Barat pada Selasa (23/9/2025).
Diberitakan kompas.com sebelumnya, sejumlah warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Balongan Bersatu melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor PT Pertamina Patra Niaga TBBM Balongan untuk memprotes pengalihan bantuan susu.
Adapun bantuan susu itu dialihkan untuk program Corporate Social Responsibility (CSR) lainnya. Salah satunya yakni penyediaan fasilitas umum berupa gedung serbaguna Desa Balongan.
Ketika dikonfirmasi, Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun juga membantah video yang diklaim menampilkan penjarahan di SPBU Pertamina.
Roberth menjelaskan, video itu merupakan unjuk rasa menuntut bantuan susu.
Cek Fakta kompas.com menelusuri kebenaran klaim dengan menggunakan metode reverse image search. Hasilnya ditemukan beberapa video serupa yang diambil dari sudut berbeda dari akun Tiktok “akdi.supriatno” dan “tunasfakta“.
Dalam keterangannya dijelaskan bahwa video tersebut merupakan momen ketika warga melaksanakan aksi protes di depan kantor Pertamina Balongan, Indramayu, Jawa Barat pada Selasa (23/9/2025).
Diberitakan kompas.com sebelumnya, sejumlah warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Balongan Bersatu melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor PT Pertamina Patra Niaga TBBM Balongan untuk memprotes pengalihan bantuan susu.
Adapun bantuan susu itu dialihkan untuk program Corporate Social Responsibility (CSR) lainnya. Salah satunya yakni penyediaan fasilitas umum berupa gedung serbaguna Desa Balongan.
Ketika dikonfirmasi, Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun juga membantah video yang diklaim menampilkan penjarahan di SPBU Pertamina.
Roberth menjelaskan, video itu merupakan unjuk rasa menuntut bantuan susu.
Kesimpulan
Faktanya, video tersebut merupakan momen unjuk rasa di depan kantor PT Pertamina Patra Niaga TBBM Balongan, Indramayu untuk memprotes pengalihan bantuan susu pada Selasa (23/9/2025).
Rujukan
- https://www.kompas.com/cekfakta/read/2025/09/30/100100682/-hoaks-video-warga-menjarah-spbu-pertamina
- https://bandung.kompas.com/read/2025/09/23/162800278/penjelasan-pertamina-soal-pengalihan-bantuan-susu-yang-diprotes-warga
- https://www.tiktok.com/@akdi.supriatno/video/7553306230157036808
- https://www.tiktok.com/@tunasfakta/video/7553202054810848523
Halaman: 1393/8116


