Foto yang diklaim sebagai korban bukan korban virus babi melainkan korban infeksi streptococcus karena memakan blood puding atau makanan yang dibuat dari darah hewan beku. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, juga menyatakan bahwa virus Hog Cholera tidak membahayakan manusia walaupun daging babi yang terjangkit virus itu dikonsumsi.
Akun David’z Mana’loe (fb.com/david.manalu.165) mengunggah beberapa gambar yang diberi narasi sebagai berikut :
“Hati2 yg suka makan jagal babi”
Akun tersebut juga mengunggah gambar tangkapan layar pesan WhatsApp yang menyebut ada ‘gejala penyakit babi’.
“Areal Medan dan sekitarnya Stop beli daging babi untuk dimasak dan dimakan. Atau untuk dijual. BERBAHAYA. Ada Wabah Virus mematikan manusia,” demikian cuplikan isi percakapan WA tersebut.
(GFD-2019-3267) [SALAH] Virus Babi Hog Cholera Menular pada Manusia
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 07/11/2019
Berita
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Artikel ini akan memeriksa dua hal:
– Benarkah pasien yang fotonya muncul dalam unggahan di Facebook terkena virus babi?
– Benarkah virus babi menyerang manusia?
1. Tentang berita “Babi di Sumut Terjangkit Hog Kolera”
Tempo menemukan berita yang berjudul “Hampir 2 Ribu Babi di Sumut Terjangkit Hog Kolera” itu dipublikasikan oleh situs Medan Inside. Berita tersebut berisi tentang virus Hog Cholera atau kolera babi yang sedang mewabah di Sumatera Utara (Sumut). Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mencatat sebanyak 1.985 babi yang tersebar di tujuh kabupaten di Sumut terjangkit virus kolera babi.
Menjangkitnya virus Hog Cholera terhadap hampir 2 ribu babi di Sumut itu juga dipublikasikan oleh situs Kompas.com pada 24 Oktober 2019. Beritanya berjudul “Hampir 2000 Ekor Ternak Babi di Sumut Terjangkit Hog Cholera, Amankah?”.
Dengan demikian, gambar tangkapan layar berita yang tersebar di Facebook tersebut benar.
2. Foto pasien yang diklaim terkena virus babi
Tempo menggunakan reverse image tools pada Google dan Yandex untuk menelusuri apakah foto tersebut benar merupakan foto pasien yang terkena virus babi bernama Hog Cholera. Hasilnya, ditemukan foto yang sama di situs media Vietnam, Danviet.
Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa pasien itu mengalami perdarahan subkutan yang menjadi gejala penyakit streptokokus. Perdarahan ini bukan disebabkan oleh virus kolera babi. Kedua foto pasien yang diklaim terkena virus Hog Kolera itu pernah viral di Vietnam saat mewabahnya virus babi Afrika (African swine fever atau demam babi Afrika) di sana pada 7 Maret 2019.
Faktanya, menurut artikel tersebut, gambar-gambar yang beredar dari media sosial adalah pasien korban infeksi streptococcus karena memakan blood puding atau makanan yang dibuat dari darah hewan beku.
Menurut Departemen Pembangunan Industri Primer dan Regional Australia, virus babi Afrika (African swine fever) memang serupa dengan virus Hog Cholera (classical swine fever) meskipun jenis virusnya berbeda. Kedua virus ini hanya bisa menyerang babi, tidak bisa menyerang manusia.
World Organisation for Animal Health (OIE), dalam situsnya, juga menegaskan bahwa African swine fever tidak berisiko pada kesehatan manusia.
Apakah African swine fever sudah menyebar hingga Indonesia?
Sejauh ini belum ada informasi sahih soal itu. Dalam artikel berjudul Puluhan ekor babi mati di Kupang, tapi bukan karena virus ASF yang dimuat Antara pada Jumat 1 November 2019, disebutkan bahwa Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dani Suhadi, mengemukakan kasus kematian puluhan ekor babi milik warga di Kota Kupang tidak disebabkan serangan virus African swine fever (ASF) atau demam babi Afrika.
3. Foto babi yang mengalami pendarahan
Dengan reverse image tools Google, Tempo menelusuri foto yang memperlihatkan dua petugas sedang memeriksa seekor babi dengan pendarahan di kulitnya. Hasilnya, babi tersebut tidak terkena virus Hog Cholera atau virus babi Afrika.
Situs berita Vietnam, Docbao, pernah mempublikasikan artikel dengan foto tersebut pada 2 Oktober 2015. Secara garis besar, berita itu berisi tentang pemeriksaan tim inspeksi interdisipliner Thailand di restoran Hai Beo milik Pham Thanh Hai pada 29 September 2015. Tim itu memeriksa dua babi yang dijual di restoran tersebut karena mengalami pendarahan memar pada permukaan kulitnya. Menurut hasil pemeriksaan tim itu, babi tersebut terkena pasteurelosis, penyakit bakterial yang kerap menyerang hewan ternak.
Virus babi Afrika pertama kali terdeteksi di Cina pada 3 Agustus 2018. Sejak itu, Kementerian Pertanian dan Pedesaan Cina mencatat bahwa terdapat lebih dari 100 kasus pembantaian terhadap sekitar 916 ribu babi dengan cara dibakar massal. Meskipun wabah terburuk terjadi di Cina, penyakit ini telah menyebar ke Vietnam, Kamboja, Mongolia, dan Rusia. Cina sendiri adalah rumah bagi sekitar 440 juta babi (setengah dari populasi babi di dunia) dan sebanyak 1,2 juta babi telah dibunuh untuk menghentikan penyakit ini.
Menurut Direktur Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidi, masyarakat tidak perlu takut dengan keberadaan virus babi Afrika. Hingga saat ini, belum ada data yang menyebut bahwa virus tersebut dapat menyerang manusia. Dia pun mengatakan penanganan dan pencegahan penyakit yang berasal dari babi ini bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan dan sanitasi kandang, juga vaksinasi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, juga menyatakan bahwa virus Hog Cholera tidak membahayakan manusia walaupun daging babi yang terjangkit virus itu dikonsumsi. Azhar juga menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai pencegahan agar virus tersebut tidak menyebar lebih luas.
Artikel ini akan memeriksa dua hal:
– Benarkah pasien yang fotonya muncul dalam unggahan di Facebook terkena virus babi?
– Benarkah virus babi menyerang manusia?
1. Tentang berita “Babi di Sumut Terjangkit Hog Kolera”
Tempo menemukan berita yang berjudul “Hampir 2 Ribu Babi di Sumut Terjangkit Hog Kolera” itu dipublikasikan oleh situs Medan Inside. Berita tersebut berisi tentang virus Hog Cholera atau kolera babi yang sedang mewabah di Sumatera Utara (Sumut). Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mencatat sebanyak 1.985 babi yang tersebar di tujuh kabupaten di Sumut terjangkit virus kolera babi.
Menjangkitnya virus Hog Cholera terhadap hampir 2 ribu babi di Sumut itu juga dipublikasikan oleh situs Kompas.com pada 24 Oktober 2019. Beritanya berjudul “Hampir 2000 Ekor Ternak Babi di Sumut Terjangkit Hog Cholera, Amankah?”.
Dengan demikian, gambar tangkapan layar berita yang tersebar di Facebook tersebut benar.
2. Foto pasien yang diklaim terkena virus babi
Tempo menggunakan reverse image tools pada Google dan Yandex untuk menelusuri apakah foto tersebut benar merupakan foto pasien yang terkena virus babi bernama Hog Cholera. Hasilnya, ditemukan foto yang sama di situs media Vietnam, Danviet.
Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa pasien itu mengalami perdarahan subkutan yang menjadi gejala penyakit streptokokus. Perdarahan ini bukan disebabkan oleh virus kolera babi. Kedua foto pasien yang diklaim terkena virus Hog Kolera itu pernah viral di Vietnam saat mewabahnya virus babi Afrika (African swine fever atau demam babi Afrika) di sana pada 7 Maret 2019.
Faktanya, menurut artikel tersebut, gambar-gambar yang beredar dari media sosial adalah pasien korban infeksi streptococcus karena memakan blood puding atau makanan yang dibuat dari darah hewan beku.
Menurut Departemen Pembangunan Industri Primer dan Regional Australia, virus babi Afrika (African swine fever) memang serupa dengan virus Hog Cholera (classical swine fever) meskipun jenis virusnya berbeda. Kedua virus ini hanya bisa menyerang babi, tidak bisa menyerang manusia.
World Organisation for Animal Health (OIE), dalam situsnya, juga menegaskan bahwa African swine fever tidak berisiko pada kesehatan manusia.
Apakah African swine fever sudah menyebar hingga Indonesia?
Sejauh ini belum ada informasi sahih soal itu. Dalam artikel berjudul Puluhan ekor babi mati di Kupang, tapi bukan karena virus ASF yang dimuat Antara pada Jumat 1 November 2019, disebutkan bahwa Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dani Suhadi, mengemukakan kasus kematian puluhan ekor babi milik warga di Kota Kupang tidak disebabkan serangan virus African swine fever (ASF) atau demam babi Afrika.
3. Foto babi yang mengalami pendarahan
Dengan reverse image tools Google, Tempo menelusuri foto yang memperlihatkan dua petugas sedang memeriksa seekor babi dengan pendarahan di kulitnya. Hasilnya, babi tersebut tidak terkena virus Hog Cholera atau virus babi Afrika.
Situs berita Vietnam, Docbao, pernah mempublikasikan artikel dengan foto tersebut pada 2 Oktober 2015. Secara garis besar, berita itu berisi tentang pemeriksaan tim inspeksi interdisipliner Thailand di restoran Hai Beo milik Pham Thanh Hai pada 29 September 2015. Tim itu memeriksa dua babi yang dijual di restoran tersebut karena mengalami pendarahan memar pada permukaan kulitnya. Menurut hasil pemeriksaan tim itu, babi tersebut terkena pasteurelosis, penyakit bakterial yang kerap menyerang hewan ternak.
Virus babi Afrika pertama kali terdeteksi di Cina pada 3 Agustus 2018. Sejak itu, Kementerian Pertanian dan Pedesaan Cina mencatat bahwa terdapat lebih dari 100 kasus pembantaian terhadap sekitar 916 ribu babi dengan cara dibakar massal. Meskipun wabah terburuk terjadi di Cina, penyakit ini telah menyebar ke Vietnam, Kamboja, Mongolia, dan Rusia. Cina sendiri adalah rumah bagi sekitar 440 juta babi (setengah dari populasi babi di dunia) dan sebanyak 1,2 juta babi telah dibunuh untuk menghentikan penyakit ini.
Menurut Direktur Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidi, masyarakat tidak perlu takut dengan keberadaan virus babi Afrika. Hingga saat ini, belum ada data yang menyebut bahwa virus tersebut dapat menyerang manusia. Dia pun mengatakan penanganan dan pencegahan penyakit yang berasal dari babi ini bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan dan sanitasi kandang, juga vaksinasi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, juga menyatakan bahwa virus Hog Cholera tidak membahayakan manusia walaupun daging babi yang terjangkit virus itu dikonsumsi. Azhar juga menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai pencegahan agar virus tersebut tidak menyebar lebih luas.
Rujukan
(GFD-2019-3268) [SALAH] Diminta Mundur Dari Jabatan Menko Polhukam, PAK MFLUD NANGIS
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 07/11/2019
Berita
Gambar suntingan. Judul berita asli dari situ harianpijar adalah “Diminta Mundur dari Jabatan Menko Polhukam, Mahfud MD: Memang ICW Itu Siapa” yang berisi permintaan Indonesia Corruption Watch (ICW) agar Menko Polhukam Mahfud MD untuk mundur dalam waktu 100 hari jika pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak menerbitkan Perppu tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Akun U Ali Hafid (fb.com/u.hafid.3) mengunggah sebuah gambar yang diberi narasi : “Berita terakhir sblm ngopi”
Di gambar tersebut, ada narasi : “Diminta Mundur Dari Jabatan Menko Polhukam, PAK MFLUD NANGIS “
Akun U Ali Hafid (fb.com/u.hafid.3) mengunggah sebuah gambar yang diberi narasi : “Berita terakhir sblm ngopi”
Di gambar tersebut, ada narasi : “Diminta Mundur Dari Jabatan Menko Polhukam, PAK MFLUD NANGIS “
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran, ternyata gambar yang diunggah oleh sumber klaim itu adalah hasil suntingan.
Foto Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD yang ada di gambar tersebut adalah foto yang diambil oleh wartawan detik.com, Lisye Sri Rahayu dan dimuat di situs tersebut pada tanggal 11 Oktober 2019 ketika Mahfud MD yang saat itu sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjenguk Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto, Jalan Abdul Rachman Saleh, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019).
Sementara itu, sumber klaim menggunakan foto itu dari situs harianpijar.com pada artikel berjudul “Diminta Mundur dari Jabatan Menko Polhukam, Mahfud MD: Memang ICW Itu Siapa?”.
Sumber klaim mengganti judul pada artikel itu menjadi “Diminta Mundur Dari Jabatan Menko Polhukam, PAK MFLUD NANGIS”
Berikut isi lengkap artikel tersebut ;
harianpijar.com, JAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD untuk mundur dalam waktu 100 hari jika pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Memang ICW itu siapa?,” kata Mahfud MD saat dikonfirmasi di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa, 29 Oktober 2019.
Mahfud MD juga mengatakan akan memberikan waktu 100 hari kepada ICW untuk membuat pernyataan terkait Perppu KPK. Namun, dirinya tidak secara detail menjelaskan alasannya menyampaikan pernyataan itu.
“Saya beri juga waktu 100 hari untuk ICW, apa namanya untuk membuat pernyataan apapun yang terkait dengan itu (Perpu KPK),” ujar Mahfud MD.
Sementara, menurut Peneliti ICW Kurnia Ramadhana, Mahfud MD lebih baik mengundurkan diri dari Menko Polhukam jika dalam 100 hari pemerintah tidak menerbitkan perppu untuk membatalkan UU KPK yang baru.
Bahkan, ICW menilai aspek hukum dan HAM perlu difokuskan dalam 100 hari Kabinet Indonesia Maju.
“Seharusnya Prof Mahfud mengundurkan diri jika tidak bisa menyelamatkan KPK dalam waktu 100 hari,” kata Kurnia Ramadhana di kantornya, Jakarta, Senin. 28 Oktober 2019.
Namun sebelumnya, Menko Polhukam Mahfud MD mengklaim tengah mempertimbangkan masukan dari semua pihak terkait Perppu KPK. Selain itu, Perppu KPK merupakan kewenangan presiden.
“Jadi tinggal kita nunggu presiden bagaimana. Sudah diolah,” kata Mahfid MD di Hotel JW Marriott, Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019.
Ditegaskan Mahfud MD, masukan terkait Perppu KPK sudah ada sebelum dirinya dipilih menjadi menteri menggantikan Wiranto. Bahkan, masyarakat juga telah memberikan sikap dan pandangannya mengenai Perppu KPK kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Karena, Perppu KPK merupakan kewenangan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sehingga dengan posisi tersebut dirinya tidak berwenang untuk mengintervensi penerbitan Perppu KPK. (elz/cnn)
Berdasarkan hasil penelusuran, ternyata gambar yang diunggah oleh sumber klaim itu adalah hasil suntingan.
Foto Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD yang ada di gambar tersebut adalah foto yang diambil oleh wartawan detik.com, Lisye Sri Rahayu dan dimuat di situs tersebut pada tanggal 11 Oktober 2019 ketika Mahfud MD yang saat itu sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjenguk Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto, Jalan Abdul Rachman Saleh, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019).
Sementara itu, sumber klaim menggunakan foto itu dari situs harianpijar.com pada artikel berjudul “Diminta Mundur dari Jabatan Menko Polhukam, Mahfud MD: Memang ICW Itu Siapa?”.
Sumber klaim mengganti judul pada artikel itu menjadi “Diminta Mundur Dari Jabatan Menko Polhukam, PAK MFLUD NANGIS”
Berikut isi lengkap artikel tersebut ;
harianpijar.com, JAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD untuk mundur dalam waktu 100 hari jika pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Memang ICW itu siapa?,” kata Mahfud MD saat dikonfirmasi di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa, 29 Oktober 2019.
Mahfud MD juga mengatakan akan memberikan waktu 100 hari kepada ICW untuk membuat pernyataan terkait Perppu KPK. Namun, dirinya tidak secara detail menjelaskan alasannya menyampaikan pernyataan itu.
“Saya beri juga waktu 100 hari untuk ICW, apa namanya untuk membuat pernyataan apapun yang terkait dengan itu (Perpu KPK),” ujar Mahfud MD.
Sementara, menurut Peneliti ICW Kurnia Ramadhana, Mahfud MD lebih baik mengundurkan diri dari Menko Polhukam jika dalam 100 hari pemerintah tidak menerbitkan perppu untuk membatalkan UU KPK yang baru.
Bahkan, ICW menilai aspek hukum dan HAM perlu difokuskan dalam 100 hari Kabinet Indonesia Maju.
“Seharusnya Prof Mahfud mengundurkan diri jika tidak bisa menyelamatkan KPK dalam waktu 100 hari,” kata Kurnia Ramadhana di kantornya, Jakarta, Senin. 28 Oktober 2019.
Namun sebelumnya, Menko Polhukam Mahfud MD mengklaim tengah mempertimbangkan masukan dari semua pihak terkait Perppu KPK. Selain itu, Perppu KPK merupakan kewenangan presiden.
“Jadi tinggal kita nunggu presiden bagaimana. Sudah diolah,” kata Mahfid MD di Hotel JW Marriott, Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019.
Ditegaskan Mahfud MD, masukan terkait Perppu KPK sudah ada sebelum dirinya dipilih menjadi menteri menggantikan Wiranto. Bahkan, masyarakat juga telah memberikan sikap dan pandangannya mengenai Perppu KPK kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Karena, Perppu KPK merupakan kewenangan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sehingga dengan posisi tersebut dirinya tidak berwenang untuk mengintervensi penerbitan Perppu KPK. (elz/cnn)
Rujukan
(GFD-2019-3269) [SALAH] Batu ini yang dipijak oleh Nabi untuk naik ke langit, batu ini menangis hingga sekarang batu ini terapung
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 07/11/2019
Berita
Benda yang terlihat di foto itu adalah patung pahatan karya Sha’ban Mohamed Abbas, pematung kontemporer yang dibuat untuk Bandara Internasional Kairo tahun 2008.
Akun Bintang Libra (fb.com/bintang.libra.5621149) mengunggah sebuah foto ke grup Grup Ayu Ting Ting (fb.com/groups/1952907801650273/) dengan narasi sebagai berikut;
“Assalamu’alaikum wr wb
Batu ini yg dipijak olen Nabi tuk naik kelangit…. Batu ini ingin ikut Nabi ttapi dilarang oleh Jibril…Batu ini menangis hingga skrang bati ni terapung sbg bukti keagungan Allah swt.”
Akun Bintang Libra (fb.com/bintang.libra.5621149) mengunggah sebuah foto ke grup Grup Ayu Ting Ting (fb.com/groups/1952907801650273/) dengan narasi sebagai berikut;
“Assalamu’alaikum wr wb
Batu ini yg dipijak olen Nabi tuk naik kelangit…. Batu ini ingin ikut Nabi ttapi dilarang oleh Jibril…Batu ini menangis hingga skrang bati ni terapung sbg bukti keagungan Allah swt.”
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran, ternyata klaim tersebut tidak benar.
Benda yang terlihat di foto itu adalah patung pahatan karya Sha’ban Mohamed Abbas, pematung kontemporer yang dibuat untuk Bandara Internasional Kairo tahun 2008.
Foto ini telah dipublikasikan di situs agensi foto Alamy dan menunjukkan instalasi seni di Bandara Internasional Kairo di Mesir.
Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, keterangan foto berbahasa Perancis itu artinya: “Patung ilusi optik, Sha’ban Abbas, 2008, di Terminal 3, Bandara Kairo, Mesir”.
Sha’ban Mohamed Abbas adalah pematung kontemporer pemenang penghargaan yang wafat di usia 41 tahun pada tanggal 17 November 2010.
Berita tentang wafatnya Abbas dipublikasikan oleh koran Mesir Al-Ahram pada tanggal 18 November 2010.
Menurut laman resmi seni rupa pemerintah Mesir, karya seni Abbas bisa dijumpai di berbagai museum di Mesir, termasuk di Museum Mesir Modern di Kairo, Bandara Baru Internasional Kairo dan Museum Taman di Pusat Seni Gezira – Kairo.
Foto instalasi seni yang sama juga dipublikasikan di majalah online pada bulan Maret 2017.
Berdasarkan hasil penelusuran, ternyata klaim tersebut tidak benar.
Benda yang terlihat di foto itu adalah patung pahatan karya Sha’ban Mohamed Abbas, pematung kontemporer yang dibuat untuk Bandara Internasional Kairo tahun 2008.
Foto ini telah dipublikasikan di situs agensi foto Alamy dan menunjukkan instalasi seni di Bandara Internasional Kairo di Mesir.
Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, keterangan foto berbahasa Perancis itu artinya: “Patung ilusi optik, Sha’ban Abbas, 2008, di Terminal 3, Bandara Kairo, Mesir”.
Sha’ban Mohamed Abbas adalah pematung kontemporer pemenang penghargaan yang wafat di usia 41 tahun pada tanggal 17 November 2010.
Berita tentang wafatnya Abbas dipublikasikan oleh koran Mesir Al-Ahram pada tanggal 18 November 2010.
Menurut laman resmi seni rupa pemerintah Mesir, karya seni Abbas bisa dijumpai di berbagai museum di Mesir, termasuk di Museum Mesir Modern di Kairo, Bandara Baru Internasional Kairo dan Museum Taman di Pusat Seni Gezira – Kairo.
Foto instalasi seni yang sama juga dipublikasikan di majalah online pada bulan Maret 2017.
Rujukan
(GFD-2019-3274) [SALAH] Video ‘politisi’ Brasil dilempar ke sungai
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 07/11/2019
Berita
Pria yang didorong ke sungai di dalam video itu sebenarnya adalah seorang aktor amatir. Video tersebut merupakan video sindiran. Video itu dibuat oleh warga Engomadeira, Brasil, untuk menunjukkan bahwa mereka telah ditipu oleh politikus. Video itu juga dibuat untuk mengingatkan politikus agar tidak melupakan janji kampanyenya.
kun Bali Channel (fb.com/balichannelnews) menunggah sebuah video dengan narasi :
“Kala itu, Dia menjanjikan sebuah jembatan di sungai. Dia datang lagi untuk kampanye pemilihan untuk masa jabatan baru dan menjanjikan hal yang sama. Mengobral janji yang tak pasti. Lihat bagaimana publik menyambutnya.”
Sementara itu, di dalam video terdapat narasi sebagai berikut : “Walikota ini menjanjikan sebuah jembatan di sungai. Dia datang lagi untuk kampanye pemilihan masa jabatan baru… Lihat bagaimana publik menyambutnya..”
kun Bali Channel (fb.com/balichannelnews) menunggah sebuah video dengan narasi :
“Kala itu, Dia menjanjikan sebuah jembatan di sungai. Dia datang lagi untuk kampanye pemilihan untuk masa jabatan baru dan menjanjikan hal yang sama. Mengobral janji yang tak pasti. Lihat bagaimana publik menyambutnya.”
Sementara itu, di dalam video terdapat narasi sebagai berikut : “Walikota ini menjanjikan sebuah jembatan di sungai. Dia datang lagi untuk kampanye pemilihan masa jabatan baru… Lihat bagaimana publik menyambutnya..”
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Periksa Fakta AFP, menggunakan mesin pencari Google dengan memasukkan kata kunci “politician promised bridge Portal Engomadeira” (politisi menjanjikan jembatan Portal Engomadeira).
Pencarian itu menemukan versi video yang lebih panjang yakni 8 menit 35 detik di halaman Facebook Brasil bernama Portal Engomadeira.
Engomadeira adalah daerah di pinggiran kota Salvador, ibu kota Bahia, yang merupakan negara bagian di timur laut Brasil.
Video itu diberi judul berbahasa Portugis yang jika diterjemahkan menjadi “Politikus Dibuang ke Saluran Pembuangan”.
Deskripsi di video yang lebih panjang termasuk tagar dalam bahasa Portugis bisa diterjemahkan sebagai “#pementasan” dan “#merekam”, yang mengindikasikan bahwa video tersebut adalah sandiwara.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia, status unggahan tersebut berbunyi: “Politisi membuat janji yang tidak bisa ia tepati dan dilempar ke selokan terbuka. #Merekam#Pementasan#Kenyataanhidup#Georgetovao#Ericosilva”.
Versi video yang lebih panjang juga menyertakan teks seperti di film yang mengidentifikasi video tersebut sebagai “produksi Erico Silva”. Video lengkapnya memperjelas bahwa adegan itu adalah rekayasa.
Tim Periksa Fakta AFP di Brazil menonton video tersebut dan menjelaskan kepada kami bahwa pria yang mengenakan kemeja berwarna terang terlihat sedang memperkenalkan dirinya sebagai peserta pemilu dan menjanjikan perbaikan di daerah itu termasuk mengakhiri sistem selokan terbuka. Sekitar menit keempat, sebuah teks muncul, berbunyi: “Anggota dewan telah dipilih dan belum menepati janjinya. Dia kembali empat tahun kemudian.”
Dia terlihat sedang berkata kepada penduduk di daerah tersebut bahwa dia tidak bisa membantu mereka karena ada terlalu banyak hal yang perlu dikerjakan di tempat lain. Warga yang marah terlihat mencemoohkannya dan kemudian dia didorong ke selokan yang dia janjikan untuk diperbarui.
Sekitar menit ketujuh, seorang pria muncul dengan mikrofon untuk mewawancarai “politisi” itu — dan pada saat itu terungkap bahwa anggota dewan itu sebenarnya adalah wakil presiden komunitas Portal Engomadeira.
“Kami membuat video ini untuk menunjukkan kepada orang-orang betapa kami telah ditipu selama empat tahun. Ini adalah waktu yang lama untuk menunggu semuanya terjadi,” kata aktor yang berperan sebagai politisi di lokasi pengambilan gambar.
Untuk menanggapi kebingungan pengguna media sosial terhadap video yang telah ditonton lebih dari dua juta kali itu, Portal Engomadeira mengklarifikasi bahwa adegan tersebut direkayasa untuk menunjukkan masalah dalam politik lokal.
“Apakah ini benar, atau hanya akting?” tanya seorang pengguna Facebook bernama Lew Ventura dalam komentar postingan Facebook video asli. Portal Engomadeira menjawab: “Teman, masalah yang ditampilkan dalam video itu nyata, tetapi adegan itu diperankan melalui film dan oleh aktor untuk menunjukkan bahwa ketika politisi datang ke sini membuat janji, mereka akan mendapatkan respon seperti ini (jika mereka tidak menepatinya).”
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Periksa Fakta AFP, menggunakan mesin pencari Google dengan memasukkan kata kunci “politician promised bridge Portal Engomadeira” (politisi menjanjikan jembatan Portal Engomadeira).
Pencarian itu menemukan versi video yang lebih panjang yakni 8 menit 35 detik di halaman Facebook Brasil bernama Portal Engomadeira.
Engomadeira adalah daerah di pinggiran kota Salvador, ibu kota Bahia, yang merupakan negara bagian di timur laut Brasil.
Video itu diberi judul berbahasa Portugis yang jika diterjemahkan menjadi “Politikus Dibuang ke Saluran Pembuangan”.
Deskripsi di video yang lebih panjang termasuk tagar dalam bahasa Portugis bisa diterjemahkan sebagai “#pementasan” dan “#merekam”, yang mengindikasikan bahwa video tersebut adalah sandiwara.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia, status unggahan tersebut berbunyi: “Politisi membuat janji yang tidak bisa ia tepati dan dilempar ke selokan terbuka. #Merekam#Pementasan#Kenyataanhidup#Georgetovao#Ericosilva”.
Versi video yang lebih panjang juga menyertakan teks seperti di film yang mengidentifikasi video tersebut sebagai “produksi Erico Silva”. Video lengkapnya memperjelas bahwa adegan itu adalah rekayasa.
Tim Periksa Fakta AFP di Brazil menonton video tersebut dan menjelaskan kepada kami bahwa pria yang mengenakan kemeja berwarna terang terlihat sedang memperkenalkan dirinya sebagai peserta pemilu dan menjanjikan perbaikan di daerah itu termasuk mengakhiri sistem selokan terbuka. Sekitar menit keempat, sebuah teks muncul, berbunyi: “Anggota dewan telah dipilih dan belum menepati janjinya. Dia kembali empat tahun kemudian.”
Dia terlihat sedang berkata kepada penduduk di daerah tersebut bahwa dia tidak bisa membantu mereka karena ada terlalu banyak hal yang perlu dikerjakan di tempat lain. Warga yang marah terlihat mencemoohkannya dan kemudian dia didorong ke selokan yang dia janjikan untuk diperbarui.
Sekitar menit ketujuh, seorang pria muncul dengan mikrofon untuk mewawancarai “politisi” itu — dan pada saat itu terungkap bahwa anggota dewan itu sebenarnya adalah wakil presiden komunitas Portal Engomadeira.
“Kami membuat video ini untuk menunjukkan kepada orang-orang betapa kami telah ditipu selama empat tahun. Ini adalah waktu yang lama untuk menunggu semuanya terjadi,” kata aktor yang berperan sebagai politisi di lokasi pengambilan gambar.
Untuk menanggapi kebingungan pengguna media sosial terhadap video yang telah ditonton lebih dari dua juta kali itu, Portal Engomadeira mengklarifikasi bahwa adegan tersebut direkayasa untuk menunjukkan masalah dalam politik lokal.
“Apakah ini benar, atau hanya akting?” tanya seorang pengguna Facebook bernama Lew Ventura dalam komentar postingan Facebook video asli. Portal Engomadeira menjawab: “Teman, masalah yang ditampilkan dalam video itu nyata, tetapi adegan itu diperankan melalui film dan oleh aktor untuk menunjukkan bahwa ketika politisi datang ke sini membuat janji, mereka akan mendapatkan respon seperti ini (jika mereka tidak menepatinya).”
Rujukan
Halaman: 7788/8123







