Yang ditanyakan oleh SUMBER adalah patung Jenderal Sudirman, pada tahun 2013 (masa Presiden SBY) patung tersebut sudah menempati posisinya seperti saat ini.
NARASI
“Sosok misterius siapa ini di belakang Pak Jokowi? Oligarki?”
(GFD-2019-3332) [KLARIFIKASI] “Sosok misterius Oligarki?”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 25/11/2019
Berita
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
“Patung Jenderal Sudirman berukuran cukup besar mengenakan pakaian ciri khasnya dengan bentuk pose sedang berdiri tegap dan tangan kanannya memegang tongkat. Pada bagian bawah patung tersebut terdapat plakat berisi keterangan patung tersebut. Tidak diketahui persis sejak kapan patung tersebut berada di dalam Istana Merdeka namun pada tahun 2013 (masa Presiden SBY) patung tersebut memang sudah menempati posisinya seperti saat ini.”
Selengkapnya di http://bit.ly/2D6dQLk / http://archive.md/vitLp (arsip cadangan).
======
REFERENSI
(1) Beberapa artikel dengan foto dan video yang berkaitan,
* detikNews: “Jokowi Diminta Tepati Janji, Prabowo Diminta Tobat”, selengkapnya di http://bit.ly/2OCkBJZ / http://archive.md/qsQDJ (arsip cadangan).
* CNN Indonesia: “Surya Paloh Duga Demo Besar karena Ada yang Tak Suka Jokowi”, selengkapnya di http://bit.ly/2OgAyqB / http://archive.md/Lj4RB (arsip sumber).
* Merdeka.com: “Gerindra ingin hubungan SBY dan Megawati seperti Jokowi dan Prabowo”, selengkapnya di http://bit.ly/339bkyx / http://archive.md/zflBg.
* TEMPO.CO: “Begini Imbauan Jokowi dan Jusuf Kalla soal Demo 4 November”, selengkapnya di http://bit.ly/2XC4S1Q.
* CNN Indonesia: “Melongok Istana Bersolek Jelang Hari Kemerdekaan” (galeri, foto ke 9), selengkapnya di http://bit.ly/34kioK8 / http://archive.md/lwvbw.
“Patung Jenderal Sudirman berukuran cukup besar mengenakan pakaian ciri khasnya dengan bentuk pose sedang berdiri tegap dan tangan kanannya memegang tongkat. Pada bagian bawah patung tersebut terdapat plakat berisi keterangan patung tersebut. Tidak diketahui persis sejak kapan patung tersebut berada di dalam Istana Merdeka namun pada tahun 2013 (masa Presiden SBY) patung tersebut memang sudah menempati posisinya seperti saat ini.”
Selengkapnya di http://bit.ly/2D6dQLk / http://archive.md/vitLp (arsip cadangan).
======
REFERENSI
(1) Beberapa artikel dengan foto dan video yang berkaitan,
* detikNews: “Jokowi Diminta Tepati Janji, Prabowo Diminta Tobat”, selengkapnya di http://bit.ly/2OCkBJZ / http://archive.md/qsQDJ (arsip cadangan).
* CNN Indonesia: “Surya Paloh Duga Demo Besar karena Ada yang Tak Suka Jokowi”, selengkapnya di http://bit.ly/2OgAyqB / http://archive.md/Lj4RB (arsip sumber).
* Merdeka.com: “Gerindra ingin hubungan SBY dan Megawati seperti Jokowi dan Prabowo”, selengkapnya di http://bit.ly/339bkyx / http://archive.md/zflBg.
* TEMPO.CO: “Begini Imbauan Jokowi dan Jusuf Kalla soal Demo 4 November”, selengkapnya di http://bit.ly/2XC4S1Q.
* CNN Indonesia: “Melongok Istana Bersolek Jelang Hari Kemerdekaan” (galeri, foto ke 9), selengkapnya di http://bit.ly/34kioK8 / http://archive.md/lwvbw.
Rujukan
(GFD-2019-3333) [SALAH] Foto anak berdarah mahasiswa Poly University korban demo demo rusuh di Hongkong
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 25/11/2019
Berita
Bukan korban akibat demo rusuh di Hongkong. Anak di dalam foto adalah Dicha Larasati Putri, anak Indonesia berusia 9 tahun yang didiagnosis menderita Bernards Soulier Syndrome, sebuah kelainan genetika yang langka bawaan turunan berupa ketidakmampuan tubuh membekukan darah (koagulasi).
Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mendapatkan mendapat informasi dari Taiwan Fact Check Center (kolega Mafindo sesama factchecker yang bersertifikasi IFCN) bahwa beredar foto mahasiwa Poly University Hongkong yang berdarah dan diklaim sebagai korban demo rusuh di Hongkong.
Foto tersebut diberi narasi, yang jika diterjemahkan dengan Google Lens sebagai berikut:
“The students of Poly university was stocked and very tired without any food. They were also inhured by the acid water from Police. Many students are sick, losing temperature and ear blooding. Hong Kong administration is going to cut the supply of water and electricity. It is getting worse .”
Sumber klaim sudah tidak bisa diakses ketika artikel ini disusun, salah satu tangkapan layar dari klaim ini diunggah ke kolom komentar postingan milik akun facebook Dicha Larasati.
Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mendapatkan mendapat informasi dari Taiwan Fact Check Center (kolega Mafindo sesama factchecker yang bersertifikasi IFCN) bahwa beredar foto mahasiwa Poly University Hongkong yang berdarah dan diklaim sebagai korban demo rusuh di Hongkong.
Foto tersebut diberi narasi, yang jika diterjemahkan dengan Google Lens sebagai berikut:
“The students of Poly university was stocked and very tired without any food. They were also inhured by the acid water from Police. Many students are sick, losing temperature and ear blooding. Hong Kong administration is going to cut the supply of water and electricity. It is getting worse .”
Sumber klaim sudah tidak bisa diakses ketika artikel ini disusun, salah satu tangkapan layar dari klaim ini diunggah ke kolom komentar postingan milik akun facebook Dicha Larasati.
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan fakta bahwa anak yang ada di dalam foto yang diklaim itu bukanlah mahasiswa Poly University Hongkong.
Anak tersebut adalah Dicha Larasati Putri, usianya sekarang sembilan tahun, lahir di Balikpapan, 21 juli 2010. Dicha adalah putri ketiga dari Ayah bernama Mudji Purwanto dan Ibu bernama Nurlina.
Pada tahun 2015, Dicha didiagnosis menderita Bernards Soulier Syndrome, sebuah kelainan genetika yang teramat langka.
Bernards Soulier Syndrome, BSS kependekannya, adalah kelainan bawaan turunan berupa ketidakmampuan tubuh membekukan darah (koagulasi). Tanda-tanda paling jelas adalah ukuran trombosit (sel yang berperan membekukan darah) di pembuluh darah sangat besar, sering disebut raksasa, namun jumlahnya rendah (trombositopenia). BSS membuat penderitanya cenderung berdarah berlebihan dan mudah memar.
Sindrom Bernard-Soulier merupakan kelainan yang amat langka. Perkiraan terbaru menunjukkan, sindrom ini hanya diderita sekitar satu juta orang dari 7 miliar penduduk dunia. Darah yang tidak mampu menggumpal sehingga mengakibatkan perdarahan terus-menerus diduga disebabkan kurangnya glycoprotein Ib/IX/V. Protein jenis ini sangat penting dalam proses penggumpalan trombosit di sekitar pembuluh darah yang terluka. Tanpa glycoprotein yang cukup, perdarahan penderitanya akan berkepanjangan.
Dicha mulai masuk rumah sakit pada Desember 2017. Kelainan pada tubuh membuat dia koma selama dua pekan. Sadar dari koma, Dicha didiagnosis menderita amnesia permanen. Berbagai pemeriksaan telah ditempuh untuk mengembalikan ingatannya.
“Memorinya kembali seperti bayi yang baru lahir. Ingatannya adalah ingatan baru. Memori baru. Masa lalunya hilang. Itu kata dokter. Dia tidak ingat lagi orangtuanya, saudara-saudara, teman-temannya, termasuk siapa dirinya,” tutur Nurlina. Ketika sang ibu berbicara, Dicha sesekali memanggil adiknya –anak dari pernikahan kedua Nurlina.
Dicha sempat bersekolah sebelum kehilangan ingatan. Ia tercatat sebagai murid kelas tiga di SD 015 Balikpapan. Setelah didiagnosis amnesia permanen, Dicha sempat diajar oleh guru privat. Sang guru, kata Nurlina, menyerah. Sangat sulit, bahkan untuk menanamkan satu huruf di ingatannya.
“Dicha kehilangan kemampuan membaca dan menulis. Memegang pensil pun tidak bisa. Penyakit itu (BSS) sudah menyerang saraf motorik,” lanjut Nurlina.
Baik Dicha maupun orangtuanya, mengaku belum pernah pergi ke Hongkong sebelumnya, sehingga bisa dipastikan bahwa narasi caption yang menyertai foto itu di akun media sosial di Taiwan adalah menyesatkan. Dan usianya yang baru 9 tahun tentulah ia bukan mahasiswa di Poly University.
Mafindo telah menghubungi langsung orangtuanya melalui WhatsApp dan meminta ijin untuk mempublikasikan informasi yang sesungguhnya, karena selain digunakan untuk hoax di Taiwan, ternyata fotonya juga digunakan oleh penipu yang mengatasnamakan Dicha untuk mengambil keuntungan pribadi.
Reporter kaltimkece.id menjenguk Dicha pada Ahad, 6 Oktober 2019. Gadis kecil itu dirawat di Ruang Isolasi Nomor 7, Bangsal Melati, RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda. Dicha mengenakan baju berwarna ungu putih bergaris horizontal. Selimut biru menutupi pinggang hingga ujung kakinya. Mulutnya ditutupi masker.
Di balik masker itu, sebuah selang kecil masuk ke lubang hidung kiri. Selang ini menjadi jalur keluarnya darah dari lambung. Darah Dicha memang keluar terus-menerus tanpa henti. Kantong yang menampung darah tersebut tergeletak di sebelah kiri Dicha. Tak jauh dari situ, sebuah boneka merah muda dengan setia mengganjal kepalanya.
Terkait Taiwan Fact Check Center : https://tfc-taiwan.org.tw/about/purpose
Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan fakta bahwa anak yang ada di dalam foto yang diklaim itu bukanlah mahasiswa Poly University Hongkong.
Anak tersebut adalah Dicha Larasati Putri, usianya sekarang sembilan tahun, lahir di Balikpapan, 21 juli 2010. Dicha adalah putri ketiga dari Ayah bernama Mudji Purwanto dan Ibu bernama Nurlina.
Pada tahun 2015, Dicha didiagnosis menderita Bernards Soulier Syndrome, sebuah kelainan genetika yang teramat langka.
Bernards Soulier Syndrome, BSS kependekannya, adalah kelainan bawaan turunan berupa ketidakmampuan tubuh membekukan darah (koagulasi). Tanda-tanda paling jelas adalah ukuran trombosit (sel yang berperan membekukan darah) di pembuluh darah sangat besar, sering disebut raksasa, namun jumlahnya rendah (trombositopenia). BSS membuat penderitanya cenderung berdarah berlebihan dan mudah memar.
Sindrom Bernard-Soulier merupakan kelainan yang amat langka. Perkiraan terbaru menunjukkan, sindrom ini hanya diderita sekitar satu juta orang dari 7 miliar penduduk dunia. Darah yang tidak mampu menggumpal sehingga mengakibatkan perdarahan terus-menerus diduga disebabkan kurangnya glycoprotein Ib/IX/V. Protein jenis ini sangat penting dalam proses penggumpalan trombosit di sekitar pembuluh darah yang terluka. Tanpa glycoprotein yang cukup, perdarahan penderitanya akan berkepanjangan.
Dicha mulai masuk rumah sakit pada Desember 2017. Kelainan pada tubuh membuat dia koma selama dua pekan. Sadar dari koma, Dicha didiagnosis menderita amnesia permanen. Berbagai pemeriksaan telah ditempuh untuk mengembalikan ingatannya.
“Memorinya kembali seperti bayi yang baru lahir. Ingatannya adalah ingatan baru. Memori baru. Masa lalunya hilang. Itu kata dokter. Dia tidak ingat lagi orangtuanya, saudara-saudara, teman-temannya, termasuk siapa dirinya,” tutur Nurlina. Ketika sang ibu berbicara, Dicha sesekali memanggil adiknya –anak dari pernikahan kedua Nurlina.
Dicha sempat bersekolah sebelum kehilangan ingatan. Ia tercatat sebagai murid kelas tiga di SD 015 Balikpapan. Setelah didiagnosis amnesia permanen, Dicha sempat diajar oleh guru privat. Sang guru, kata Nurlina, menyerah. Sangat sulit, bahkan untuk menanamkan satu huruf di ingatannya.
“Dicha kehilangan kemampuan membaca dan menulis. Memegang pensil pun tidak bisa. Penyakit itu (BSS) sudah menyerang saraf motorik,” lanjut Nurlina.
Baik Dicha maupun orangtuanya, mengaku belum pernah pergi ke Hongkong sebelumnya, sehingga bisa dipastikan bahwa narasi caption yang menyertai foto itu di akun media sosial di Taiwan adalah menyesatkan. Dan usianya yang baru 9 tahun tentulah ia bukan mahasiswa di Poly University.
Mafindo telah menghubungi langsung orangtuanya melalui WhatsApp dan meminta ijin untuk mempublikasikan informasi yang sesungguhnya, karena selain digunakan untuk hoax di Taiwan, ternyata fotonya juga digunakan oleh penipu yang mengatasnamakan Dicha untuk mengambil keuntungan pribadi.
Reporter kaltimkece.id menjenguk Dicha pada Ahad, 6 Oktober 2019. Gadis kecil itu dirawat di Ruang Isolasi Nomor 7, Bangsal Melati, RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda. Dicha mengenakan baju berwarna ungu putih bergaris horizontal. Selimut biru menutupi pinggang hingga ujung kakinya. Mulutnya ditutupi masker.
Di balik masker itu, sebuah selang kecil masuk ke lubang hidung kiri. Selang ini menjadi jalur keluarnya darah dari lambung. Darah Dicha memang keluar terus-menerus tanpa henti. Kantong yang menampung darah tersebut tergeletak di sebelah kiri Dicha. Tak jauh dari situ, sebuah boneka merah muda dengan setia mengganjal kepalanya.
Terkait Taiwan Fact Check Center : https://tfc-taiwan.org.tw/about/purpose
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2019/11/23/salah-foto-anak-berdarah-mahasiswa-poly-university-korban-demo-demo-rusuh-di-hongkong/ REFERENSI :
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1036562663342935/
- https://www.facebook.com/dini.angraini.31392/posts/658344428029275
- https://kaltimkece.id/mereka/humaniora/prahara-hidup-nurlina-tiga-anak-meninggal-karena-sakit-putri-terakhir-mengidap-kelainan-langka
- https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20151022/281492160167131
(GFD-2019-3328) [KLARIFIKASI] Foto Ahok Berseragam Pertamina
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 23/11/2019
Berita
Faktanya, foto Ahok berseragam Pertamina adalah hasil olah digital atau editan. diketahui, foto tersebut merupakan hasil edit oleh akun instagram @aganharahap pada Selasa (19/11/2019). Dikutip dari Kompas.com, Selasa (19/11/2019), Agan Harahap mengakui bahwa foto tersebut merupakan foto editan. Menurutnya, keterangan foto yang ia cantumkan dalam unggahan tersebut adalah sebuah bentuk sarkasme. Agan mengatakan, editan foto tersebut berkaitan dengan isu Ahok ditempatkan di Pertamina.
[NARASI]:
”Baru dapet foto ini dari salah satu grup WhatsApp dengan kalimat: Sumber A1: Beliau tadi siang baru fitting seragam baru. INFO VALID!”
[NARASI]:
”Baru dapet foto ini dari salah satu grup WhatsApp dengan kalimat: Sumber A1: Beliau tadi siang baru fitting seragam baru. INFO VALID!”
Hasil Cek Fakta
[PENJELASAN]:
Belum lama ini, beredar di media sosial foto Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal Ahok memakai baju petugas SPBU Pertamina.
Foto tersebut berasal dari akun Instagram @aganharahap pada Selasa (19/11/2019). Dalam keterangan foto itu, disebutkan bahwa pengunggah mendapatkan foto tersebut dari salah satu grup WhatsApp dengan kalimat: Sumber A1: Beliau tadi siang baru fitting seragam. INFO VALID!
Dikutip dari Kompas.com, Selasa (19/11/2019), Agan Harahap mengakui bahwa foto tersebut merupakan foto editan.
“Foto editan (yang dilakukan oleh Agan). Itu caption-nya cuma ngikutin postingan-postingan orang yang suka share di grup-grup WhatsApp atau Facebook” kata Agan kepada Kompas.com.
Menurutnya, keterangan foto yang ia cantumkan dalam unggahan tersebut adalah sebuah bentuk sarkasme.
Agan mengatakan, editan foto tersebut berkaitan dengan isu Ahok ditempatkan di Pertamina. apa yang ia lakukan selama ini adalah sebagai respons atas kecenderungan warganet Indonesia dalam media sosial.
“Apa yang saya lakukan selama ini adalah merespons social behaviour kita dalam hidup bermedsos,” tutupnya.
Diketahui, Agan Harahap beberapa kali telah melakukan editing foto terhadap beberapa tokoh politik Indonesia.
Sebelumnya ia juga pernah mengedit foto Ahok berada di antara dua wanita. Foto itu kemudian tersebar luas dan disalahgunakan dengan mengaitkan isu penutupan Alexis.
Belum lama ini, beredar di media sosial foto Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal Ahok memakai baju petugas SPBU Pertamina.
Foto tersebut berasal dari akun Instagram @aganharahap pada Selasa (19/11/2019). Dalam keterangan foto itu, disebutkan bahwa pengunggah mendapatkan foto tersebut dari salah satu grup WhatsApp dengan kalimat: Sumber A1: Beliau tadi siang baru fitting seragam. INFO VALID!
Dikutip dari Kompas.com, Selasa (19/11/2019), Agan Harahap mengakui bahwa foto tersebut merupakan foto editan.
“Foto editan (yang dilakukan oleh Agan). Itu caption-nya cuma ngikutin postingan-postingan orang yang suka share di grup-grup WhatsApp atau Facebook” kata Agan kepada Kompas.com.
Menurutnya, keterangan foto yang ia cantumkan dalam unggahan tersebut adalah sebuah bentuk sarkasme.
Agan mengatakan, editan foto tersebut berkaitan dengan isu Ahok ditempatkan di Pertamina. apa yang ia lakukan selama ini adalah sebagai respons atas kecenderungan warganet Indonesia dalam media sosial.
“Apa yang saya lakukan selama ini adalah merespons social behaviour kita dalam hidup bermedsos,” tutupnya.
Diketahui, Agan Harahap beberapa kali telah melakukan editing foto terhadap beberapa tokoh politik Indonesia.
Sebelumnya ia juga pernah mengedit foto Ahok berada di antara dua wanita. Foto itu kemudian tersebar luas dan disalahgunakan dengan mengaitkan isu penutupan Alexis.
Rujukan
(GFD-2019-3329) [SALAH] Anies Diberi Gelar Kehormatan oleh Perkumpulan Tiong Hoa dg Nama Liem Ay Bon
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 23/11/2019
Berita
Tidak ada pemberian gelar kepada Anies Baswedan. Foto yang diunggah sumber adalah ketika Anies menghadiri acara Festival Pecinan Cap Go Meh di Grogol, Jakarta Barat, Sabtu 3 Maret 2018. Aksara mandarin yang dipegang Anies berbunyi “Feng Tiao Yu Shun”. Kalimat itu berisi pribahasa yang berarti “Angin dan Hujan Cocok untuk Pertumbuhan Tanaman”, ini bisa merujuk pada makna perdamaian dunia.
Akun Joe Paijoe (fb.com/stefanus.robbie.3) menunggah sebuah gambar dengan narasi :
“Haiiiyaaa…Selamat kpd Wan Abud atas gelar Kehormatannya & punya nama Tiong Hoa: “LIEM AY BON”
Panggilannya Engkong Ay Bon
#LemAiBon.”
Serta narasi dalam gambar :
“Anies Diberi Gelar Kehormatan oleh Perkumpulan Tiong Hoa dg Nama Liem Ay Bon”
Di dalam gambar tersebut, tampak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang sedang mengangkat semacam kain merah. Kain merah itu bertuliskan aksara mandarin.
Akun Joe Paijoe (fb.com/stefanus.robbie.3) menunggah sebuah gambar dengan narasi :
“Haiiiyaaa…Selamat kpd Wan Abud atas gelar Kehormatannya & punya nama Tiong Hoa: “LIEM AY BON”
Panggilannya Engkong Ay Bon
#LemAiBon.”
Serta narasi dalam gambar :
“Anies Diberi Gelar Kehormatan oleh Perkumpulan Tiong Hoa dg Nama Liem Ay Bon”
Di dalam gambar tersebut, tampak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang sedang mengangkat semacam kain merah. Kain merah itu bertuliskan aksara mandarin.
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan oleh Tim Cek Fakta Medcom.id, foto Anies mengangkat kain merah bertuliskan aksara mandarin diambil saat acara Festival Pecinan Cap Go Meh di Grogol, Jakarta Barat, Sabtu 3 Maret 2018.
Foto identik ditemukan pada beberapa situs berita, seperti tayang di Inews.id melalui artikel berjudul “Anies-Sandi Pakai Baju Cheongsam Warna Emas di Festival Cap Go Meh”. Foto serupa juga ditemukan di IDN Times lewat artikel berjudul “Festival Pecinan Cap Go Meh”.
Pada versi foto utuh, tak hanya Anies, mantan Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno juga hadir dalam acara tersebut. Terlihat, Sandi juga memegang kain merah bertuliskan aksara mandarin.
Aksara mandarin yang dipegang Anies berbunyi “Feng Tiao Yu Shun”. Kalimat itu berisi pribahasa yang berarti “Angin dan Hujan Cocok untuk Pertumbuhan Tanaman”, ini bisa merujuk pada makna perdamaian dunia.
Sementara itu, aksara mandarin yang dipegang Sandi berbunyi “Guo Tai Min An”. Kalimat ini bermakna “Negara Damai, Rakyat Bahagia”.
Foto Anies memegang kain bertuliskan aksara mandarin adalah benar. Namun, klaim yang menyertai foto tersebut bahwa Anies mendapat gelar kehormatan dan diberi nama tionghoa ‘Liem Ai Bon’ adalah hoaks.
Kabar bohong tersebut masuk dalam kategori satire atau parodi. Konten hoaks jenis ini biasanya tidak memiliki potensi atau kandungan niat jahat, namun bisa mengecoh.
Satire merupakan konten yang dibuat untuk menyindir pada pihak tertentu. Kemasan konten berunsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Secara keumuman, satire dibuat sebagai bentuk kritik terhadap personal maupun kelompok dalam menanggapi isu yang tengah terjadi.
Sebenarnya, satire tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan oleh Tim Cek Fakta Medcom.id, foto Anies mengangkat kain merah bertuliskan aksara mandarin diambil saat acara Festival Pecinan Cap Go Meh di Grogol, Jakarta Barat, Sabtu 3 Maret 2018.
Foto identik ditemukan pada beberapa situs berita, seperti tayang di Inews.id melalui artikel berjudul “Anies-Sandi Pakai Baju Cheongsam Warna Emas di Festival Cap Go Meh”. Foto serupa juga ditemukan di IDN Times lewat artikel berjudul “Festival Pecinan Cap Go Meh”.
Pada versi foto utuh, tak hanya Anies, mantan Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno juga hadir dalam acara tersebut. Terlihat, Sandi juga memegang kain merah bertuliskan aksara mandarin.
Aksara mandarin yang dipegang Anies berbunyi “Feng Tiao Yu Shun”. Kalimat itu berisi pribahasa yang berarti “Angin dan Hujan Cocok untuk Pertumbuhan Tanaman”, ini bisa merujuk pada makna perdamaian dunia.
Sementara itu, aksara mandarin yang dipegang Sandi berbunyi “Guo Tai Min An”. Kalimat ini bermakna “Negara Damai, Rakyat Bahagia”.
Foto Anies memegang kain bertuliskan aksara mandarin adalah benar. Namun, klaim yang menyertai foto tersebut bahwa Anies mendapat gelar kehormatan dan diberi nama tionghoa ‘Liem Ai Bon’ adalah hoaks.
Kabar bohong tersebut masuk dalam kategori satire atau parodi. Konten hoaks jenis ini biasanya tidak memiliki potensi atau kandungan niat jahat, namun bisa mengecoh.
Satire merupakan konten yang dibuat untuk menyindir pada pihak tertentu. Kemasan konten berunsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Secara keumuman, satire dibuat sebagai bentuk kritik terhadap personal maupun kelompok dalam menanggapi isu yang tengah terjadi.
Sebenarnya, satire tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2019/11/22/salah-anies-diberi-gelar-kehormatan-oleh-perkumpulan-tiong-hoa-dg-nama-liem-ay-bon/
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/RkjzLAQk-dapat-gelar-kehormatan-anies-diberi-nama-tionghoa-liem-ay-bon-ini-fakta
- https://www.idntimes.com/news/indonesia/helmi/yang-dijanjikan-anies-di-festival-pecinan-cap-go-meh-1/full
- https://www.inews.id/news/megapolitan/anies-sandi-pakai-baju-cheongsam-warna-emas-di-festival-cap-go-meh
Halaman: 7777/8124







