Beredar di media sosial Facebook mengenai tangkapan layar dari situs reportase13.blogspot.com. Situs ini menampilkan artikel yang berjudul “Luhut: Memilih Prabowo, Berarti Anda Menginginkan Ideologi Pancasila Dirubah, Termasuk Penghianat Bangsa”. Artikel berjudul tendensius ini menampilkan foto Menko Bidang Kemaritiman ini disertai berita mengenai Luhut yang menghimbau ada gerakan yang berkeinginan mengganti ideologi Pancasila.
Artikel ini beredar di grup tertutup sehingga tidak dapat ditampilkan tautan ke postingannya, sementara itu situs berdomain blogspot.com tersebut sendiri sudah tidak dapat diakses.
(GFD-2019-1488) [SALAH] Luhut: Memilih Prabowo, Berarti Anda Menginginkan Ideologi Pancasila Dirubah, Termasuk Penghianat Bangsa
Sumber: blogspot.comTanggal publish: 03/04/2019
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan berita pada artikel tersebut merupakan saduran persis dari berita Tempo.co berjudul “Luhut Panjaitan: Ada Gerakan Ingin Mengganti Ideologi Pancasila”. Berita tersebut memang berisikan Luhut yang menghimbau akan adanya gerakan-gerakan yang ingin mengganti Pancasila, serta mengundang mantan perwira dan mantan pejabat untuk bertemu menjelang hari-H pencoblosan. Akan tetapi, tidak ada pernyataan Luhut yang menghimbau bahwa apabila memilih Prabowo, berarti menginginkan ideologi Pancasila diubah. Dalam berita ini, Luhut justru menyatakan bahwa dirinya tidak bermaksud mengintervensi pilihan politik, dan tidak masalah apabila para mantan perwira yang diundangnya untuk bertemu memilih nomor 01 atau 02 di pemilihan presiden 2019.
Rujukan
(GFD-2019-1489) [BERITA] Pengadilan Agama Garut Sebut Pesan Berantai ‘Nomor Telepon Janda Garut’ Adalah Informasi Hoaks
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 03/04/2019
Berita
Pesan berantai beredar melalui layanan WhatsApp sejak Senin (25/3/2019), berisi 33 nama dan nomor telepon berjumlah yang disebut sebagai janda usai berperkara di Pengadilan Agama (PA) Garut, Jawa Barat.
“Daftar nomor WA janda di pengadilan agama per-tanggal 12 Maret 2019. Barusan pak Tb Hidayat dari PA,” begitu kalimat pembuka dalam pesan berantai tersebut. Ada 33 nama beserta nomor telepon yang tercatat dalam pesan berantai itu. Identitas yang tertera hanya nama seperti Dini, Fitri beserta nomor teleponnya.
Dalam penutup pesan tersebut, tertera kalimat yang menyatakan bahwa nomor-nomor tersebut bersumber dari Pengadilan Agama Garut ; “Sumber: Humas Pengadilan Agama Kabupaten Garut,”
“Daftar nomor WA janda di pengadilan agama per-tanggal 12 Maret 2019. Barusan pak Tb Hidayat dari PA,” begitu kalimat pembuka dalam pesan berantai tersebut. Ada 33 nama beserta nomor telepon yang tercatat dalam pesan berantai itu. Identitas yang tertera hanya nama seperti Dini, Fitri beserta nomor teleponnya.
Dalam penutup pesan tersebut, tertera kalimat yang menyatakan bahwa nomor-nomor tersebut bersumber dari Pengadilan Agama Garut ; “Sumber: Humas Pengadilan Agama Kabupaten Garut,”
Hasil Cek Fakta
Saat dikonfirmaasi, humas Pengadilan Agama Garut, Muhammad Dihyah Wahid membantah telah menyebarkan informasi tersebut. Di sana juga tak ada humas bernama TB Hidayat.
“Kami membantah hal tersebut,” ujar Dihyah ketika dihubungi Tirto, Kamis (28/3/2019).
Bantahan juga datang dari Ketua Pengadilan Agama Garut, Fajaruddin Effendy. Dia menyebut informasi berantai tersebut sebagai hoaks.
“Informasi yang berkembang melalui WA [ada orang mengaku dapat nomor] janda-janda yang mengaku memperoleh informasi dari humas PA Garut adalah tidak benar atau hoaks,” kata dia dikutip dari situsweb PA Garut, Kamis (28/3/2019).
Dalam pernyataan itu, disebutkan PA tidak pernah meminta nomor telepon seluler para pihak yang berperkara.
Selain itu, institusi itu juga menegaskan tidak pernah berkomunikasi dengannya pihak-pihak yang berperkara atau dengan pihak-pihak yang mengatasnamakan ‘Komunitas janda-janda yang berperkara di Pengadilan Agama Garut’.
Dihyah menjelaskan pihaknya telah melaporkan temuan tersebut ke pusat. Belum ada intruksi dari pimpinannya untuk melaporkan kasus ini ke polisi. “Kami telah melaporkan ke pimpinan tingkat banding. Untuk saat ini belum diberi arahan untuk melakukan upaya hukum,” katanya.
Ia kembali memastikan jika pesan berantai itu tidak berasal dari mereka. Bahkan, kata Dihyah, tak hanya PA Garut yang diisukan menyebar nomor-nomor misterius itu.
“Bukan hanya PA Garut yang diisukan menyebarkan rilis tersebut. Ada PA Bandung, Soreang dan Karawang,” ujarnya.
Menurut Dihyah, PA Bandung dan Karawang terlebih dahulu diisukan serupa. Nomor-nomor yang diisukan disebar dua PA tersebut sama persis dengan daftar nomor yang diisukan disebar PA Garut.
“Nama dan urutannya sama persis semuanya,” kata Dihyah.
“Kami membantah hal tersebut,” ujar Dihyah ketika dihubungi Tirto, Kamis (28/3/2019).
Bantahan juga datang dari Ketua Pengadilan Agama Garut, Fajaruddin Effendy. Dia menyebut informasi berantai tersebut sebagai hoaks.
“Informasi yang berkembang melalui WA [ada orang mengaku dapat nomor] janda-janda yang mengaku memperoleh informasi dari humas PA Garut adalah tidak benar atau hoaks,” kata dia dikutip dari situsweb PA Garut, Kamis (28/3/2019).
Dalam pernyataan itu, disebutkan PA tidak pernah meminta nomor telepon seluler para pihak yang berperkara.
Selain itu, institusi itu juga menegaskan tidak pernah berkomunikasi dengannya pihak-pihak yang berperkara atau dengan pihak-pihak yang mengatasnamakan ‘Komunitas janda-janda yang berperkara di Pengadilan Agama Garut’.
Dihyah menjelaskan pihaknya telah melaporkan temuan tersebut ke pusat. Belum ada intruksi dari pimpinannya untuk melaporkan kasus ini ke polisi. “Kami telah melaporkan ke pimpinan tingkat banding. Untuk saat ini belum diberi arahan untuk melakukan upaya hukum,” katanya.
Ia kembali memastikan jika pesan berantai itu tidak berasal dari mereka. Bahkan, kata Dihyah, tak hanya PA Garut yang diisukan menyebar nomor-nomor misterius itu.
“Bukan hanya PA Garut yang diisukan menyebarkan rilis tersebut. Ada PA Bandung, Soreang dan Karawang,” ujarnya.
Menurut Dihyah, PA Bandung dan Karawang terlebih dahulu diisukan serupa. Nomor-nomor yang diisukan disebar dua PA tersebut sama persis dengan daftar nomor yang diisukan disebar PA Garut.
“Nama dan urutannya sama persis semuanya,” kata Dihyah.
Rujukan
(GFD-2019-1473) [SALAH] Erdogan mendukung Prabowo-Sandi
Sumber: FacebookTanggal publish: 02/04/2019
Berita
Foto Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan, sedang memamerkan simbol dua jari yang identik dengan pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga Uno menjadi viral di media sosial. Informasi itu dibagikan oleh akun Revy Sukma di Facebook, Rabu 27 Maret 2019.
Akun Revy Sukma memberi narasi pada ungghannya bahwa Capres-Cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandi, telah dinanti dunia. Sejak diunggah, foto tersebut telah mendapat 2000 respon, 209 komentar dan lebih dari 1400 kali dibagikan.
Akun Revy Sukma memberi narasi pada ungghannya bahwa Capres-Cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandi, telah dinanti dunia. Sejak diunggah, foto tersebut telah mendapat 2000 respon, 209 komentar dan lebih dari 1400 kali dibagikan.
Hasil Cek Fakta
Menggunakan teknik pencarian berdasarkan gambar pada mesin pencari Google, Tempo menemukan beberapa gambar serupa. Namun tidak ada yang menampilkan wajah Presiden Erdogan.
Salah satunya sebuah foto yang bersumber dari Instagram dengan nama akun @nebbylah. Gambar tersebut justru menampilkan pose Sandiaga Uno dengan seseorang. Di bawah foto terdapat nama akun yang menunjukkan sumber pengunggah pertama foto tersebut yaitu teukuriefky.
“Bismillah, menuju Banda Aceh (Sabtu, 2 Feb’19),” tulis teukuriefky pada keterangan fotonya. Instagram menampilkan keterangan waktu yang menunjukkan bahwa foto tersebut diunggah pada 1 Februari 2019.
Pose Sandiaga dalam foto yang diunggah akun teukuriefky identik dengan pose Erdogan yang diunggah akun Revy Sukma. Kaos berkerah yang digunakan sama-sama berwarna putih dan terdapat tulisan 02 di tepi kirinya.
Aksesoris yang digunakan yaitu sebuah gelang berwarna putih pada pergelangan tangan kanan pun identik. Termasuk desain interior pesawat dan posisi tubuh saat menunjukkan simbol dua jari.
Salah satunya sebuah foto yang bersumber dari Instagram dengan nama akun @nebbylah. Gambar tersebut justru menampilkan pose Sandiaga Uno dengan seseorang. Di bawah foto terdapat nama akun yang menunjukkan sumber pengunggah pertama foto tersebut yaitu teukuriefky.
“Bismillah, menuju Banda Aceh (Sabtu, 2 Feb’19),” tulis teukuriefky pada keterangan fotonya. Instagram menampilkan keterangan waktu yang menunjukkan bahwa foto tersebut diunggah pada 1 Februari 2019.
Pose Sandiaga dalam foto yang diunggah akun teukuriefky identik dengan pose Erdogan yang diunggah akun Revy Sukma. Kaos berkerah yang digunakan sama-sama berwarna putih dan terdapat tulisan 02 di tepi kirinya.
Aksesoris yang digunakan yaitu sebuah gelang berwarna putih pada pergelangan tangan kanan pun identik. Termasuk desain interior pesawat dan posisi tubuh saat menunjukkan simbol dua jari.
Rujukan
(GFD-2019-1474) [SALAH] PDIP tak membutuhkan dukungan dan suara umat Islam
Sumber: FacebookTanggal publish: 02/04/2019
Berita
Narasi bahwa PDIP dan Jokowi-Ma’ruf Amin tidak membutuhkan dukungan dan suara dari umat Islam, beredar di media sosial. Narasi itu beredar disertai gambar Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri.
Gambar itu memuat dua teks bertuliskan “Megawati: Kami tidak butuh dukungan dan suara dari kalangan umat Islam” dan “TKN Jokowi Ma’ruf: Tanpa dukungan orang Islam kami tetap menang”.
Gambar itu diunggah oleh akun Mayang Sari di Facebook pada 23 Maret 2019. Dia menulis di berandanya, “Tenggelamkan partai yg sudah melecehkan ummat islam ini.”
Pidato Megawati yg mengatakan bahwa PDIP tidak butuh suara umat Islam
Gambar itu memuat dua teks bertuliskan “Megawati: Kami tidak butuh dukungan dan suara dari kalangan umat Islam” dan “TKN Jokowi Ma’ruf: Tanpa dukungan orang Islam kami tetap menang”.
Gambar itu diunggah oleh akun Mayang Sari di Facebook pada 23 Maret 2019. Dia menulis di berandanya, “Tenggelamkan partai yg sudah melecehkan ummat islam ini.”
Pidato Megawati yg mengatakan bahwa PDIP tidak butuh suara umat Islam
Hasil Cek Fakta
Narasi ini sebenarnya pernah beredar pada 2017 dengan menyunting sebuah gambar billboard. Dalam laman Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) yang pernah memverifikasi informasi itu, disebutkan bahwa saat itu gambar billboard yang bertuliskan “PDIP Tidak Butuh Suara Umat Islam” menjadi viral di Facebook.
Setelah ditelusuri, Mafindo menemukan bahwa billboard di Kota Padang itu aslinya bertuliskan “Wahai suamiku..... Carilah rezeki yang HALAL saja. Aku dan anak-anakmu rela Lapar dengan yang sedikit tapi halal, daripada kenyang, namun dibakar API NERAKA.”
Rin (37), pelaku pembuat hoaks billboard “PDIP tidak butuh Suara Umat Islam” itu telah ditangkap tim Subdit Cyber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, pada 21 Desember 2017. Rin ditangkap di rumahnya di Perumahan Baranang Siang Indah Blok G1, Desa Gunungleutik, Kecamatan Ciparay, Bandung.
Munculnya narasi “PDIP tidak butuh dukungan dan suara umat Islam” sebenarnya memelintir pernyataan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto pada Oktober 2017.
Saat itu Hasto menyampaikan bahwa PDIP tak takut bakal ditinggal para pemilihnya dari kalangan muslim karena mendukung pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Ormas menjadi undang-undang.
Menurut Hasto, selama ini partainya selalu mendapat dukungan dari kantong-kantong massa basis Islam.
Setelah ditelusuri, Mafindo menemukan bahwa billboard di Kota Padang itu aslinya bertuliskan “Wahai suamiku..... Carilah rezeki yang HALAL saja. Aku dan anak-anakmu rela Lapar dengan yang sedikit tapi halal, daripada kenyang, namun dibakar API NERAKA.”
Rin (37), pelaku pembuat hoaks billboard “PDIP tidak butuh Suara Umat Islam” itu telah ditangkap tim Subdit Cyber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, pada 21 Desember 2017. Rin ditangkap di rumahnya di Perumahan Baranang Siang Indah Blok G1, Desa Gunungleutik, Kecamatan Ciparay, Bandung.
Munculnya narasi “PDIP tidak butuh dukungan dan suara umat Islam” sebenarnya memelintir pernyataan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto pada Oktober 2017.
Saat itu Hasto menyampaikan bahwa PDIP tak takut bakal ditinggal para pemilihnya dari kalangan muslim karena mendukung pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Ormas menjadi undang-undang.
Menurut Hasto, selama ini partainya selalu mendapat dukungan dari kantong-kantong massa basis Islam.
Rujukan
Halaman: 7744/7963



