Foto tahun 2015 di SPBU Payaman,Kudus Jawa Tengah. Tidak ada kaitan dengan dilantiknya Komisaris Utama Pertamina baru-baru ini.
[NARASI]
Inilah akibat memilih komisaris kafir. Budaya perusahaan lambat laun akan tidak sesuai dengan syariat Islam.
#KhilafahWillBeBack #MuslimUnitedWithKhilafah #KhilafahBukanRadikalisme
#TolakAtributNatal
(GFD-2020-3612) [SALAH] “Inilah Akibat Memilih Komisaris Kafir”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 25/02/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
[PENJELASAN]
Beredar foto operator SPBU mengenakan atribut Natal saat melayani pembelian BBM(Bahan Bakar Minyak), postingan tersebut diunggah oleh akun twitter @Pejuangtauhidku pada tanggal 23 Desember 2019 pukul 12:00.
Dalam unggahannya @Pejuangtauhidku juga menambahkan narasi “Inilah akibat memilih komisaris kafir. Budaya perusahaan lambat laun akan tidak sesuai dengan syariat Islam”.
Setelah melakukan periksa fakta, foto tersebut merupakan kegiatan rutin untuk menyambut perayaan Natal yang diselenggarakan oleh manajemen SPBU Payaman tahun 2015 silam.
Mandor SPBU Payaman Ema Susiati mengatakan, pada perayaan Natal memang biasanya karyawan SPBU akan mengenakan aksesoris Natal. Seperti halnya bando untuk pegawai perempuan dan topi kacamata motif Santa untuk pegawai putra.
Kegiatan yang sudah berjalan 10 tahun terakhir ini juga bukan hanya ketika perayaan Natal saja. Namun untuk Hari Idul Fitri maupun Ramadan, pihak SPBU juga menyesuaikan. ”Pemakaian aksesoris itu bukan hanya Natal saja. Namun ketika Idul Fitri pegawai SPBU juga mengenakan baju muslim,” ungkapnya.
Adapun Komisaris Pertamina 2015 adalah Tanri Abeng SE,MBA. Pria kelahiran Selayar 7 Maret 1942 tersebut merupakan seorang Muslim. Beliau digantikan oleh Basuki Tjahaja Purnama yang dilantik pada 25 November 2019.
KESIMPULAN:
Konten yang Menyesatkan, postingan @Pejuangtauhidku mengunggah foto peristiwa tahun 2015 dan dikaitkan dengan dilantiknya Komisaris Utama Pertamina 2019 Basuki Tjahaja Purnama untuk membuat isu dimasyarakat.
Beredar foto operator SPBU mengenakan atribut Natal saat melayani pembelian BBM(Bahan Bakar Minyak), postingan tersebut diunggah oleh akun twitter @Pejuangtauhidku pada tanggal 23 Desember 2019 pukul 12:00.
Dalam unggahannya @Pejuangtauhidku juga menambahkan narasi “Inilah akibat memilih komisaris kafir. Budaya perusahaan lambat laun akan tidak sesuai dengan syariat Islam”.
Setelah melakukan periksa fakta, foto tersebut merupakan kegiatan rutin untuk menyambut perayaan Natal yang diselenggarakan oleh manajemen SPBU Payaman tahun 2015 silam.
Mandor SPBU Payaman Ema Susiati mengatakan, pada perayaan Natal memang biasanya karyawan SPBU akan mengenakan aksesoris Natal. Seperti halnya bando untuk pegawai perempuan dan topi kacamata motif Santa untuk pegawai putra.
Kegiatan yang sudah berjalan 10 tahun terakhir ini juga bukan hanya ketika perayaan Natal saja. Namun untuk Hari Idul Fitri maupun Ramadan, pihak SPBU juga menyesuaikan. ”Pemakaian aksesoris itu bukan hanya Natal saja. Namun ketika Idul Fitri pegawai SPBU juga mengenakan baju muslim,” ungkapnya.
Adapun Komisaris Pertamina 2015 adalah Tanri Abeng SE,MBA. Pria kelahiran Selayar 7 Maret 1942 tersebut merupakan seorang Muslim. Beliau digantikan oleh Basuki Tjahaja Purnama yang dilantik pada 25 November 2019.
KESIMPULAN:
Konten yang Menyesatkan, postingan @Pejuangtauhidku mengunggah foto peristiwa tahun 2015 dan dikaitkan dengan dilantiknya Komisaris Utama Pertamina 2019 Basuki Tjahaja Purnama untuk membuat isu dimasyarakat.
Rujukan
(GFD-2020-3613) [SALAH] “Tingkat Sulfur Dioksida tinggi di Kota Wuhan tanda kremasi massal korban coronavirus, indikasi ada lebih dari 50.000 korban jiwa dibakar”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 25/02/2020
Berita
Bukan foto satelit. Foto itu adalah tangkapan layar situs prakiraan cuaca Windy.com. Angka yang terlihat dalam foto itu pun hanyalah perkiraan atau prediksi emisi sulfur dioksida di Wuhan berdasarkan data historis dan pola cuaca, bukan data satelit secara real-time.
Akun instagram Conspiracies Theory (instagram.com/conspiraciestheory) mengunggah sebuah gambar dengan narasi “I personally believe China is lying about infection numbers.”
Di gambar ini terdapat tulisan sebagai berikut:
“Sebuah foto satelit terbaru menunjukkan tingkat sulfur dioksida yang tinggi di sekitar Kota Wuhan, Cina. Sulfur dioksida (SO2) adalah sebuah gas yang dilepaskan ketika bahan organik, seperti tubuh manusia, dibakar. hal ini bisa menjadi pertanda terdapat kremasi massal korban dari coronavirus di sana dan mengindikasikan ada lebih 50.000 korban jiwa yang dibakar, jauh lebih tinggi seperti yang dilaporkan yakni 1.350 korban jiwa.”
Akun instagram Conspiracies Theory (instagram.com/conspiraciestheory) mengunggah sebuah gambar dengan narasi “I personally believe China is lying about infection numbers.”
Di gambar ini terdapat tulisan sebagai berikut:
“Sebuah foto satelit terbaru menunjukkan tingkat sulfur dioksida yang tinggi di sekitar Kota Wuhan, Cina. Sulfur dioksida (SO2) adalah sebuah gas yang dilepaskan ketika bahan organik, seperti tubuh manusia, dibakar. hal ini bisa menjadi pertanda terdapat kremasi massal korban dari coronavirus di sana dan mengindikasikan ada lebih 50.000 korban jiwa yang dibakar, jauh lebih tinggi seperti yang dilaporkan yakni 1.350 korban jiwa.”
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Dikutip dari situs media Okezone, foto dengan narasi tersebut sudah beredar di media sosial sejak 9 Februari 2020. Saat itu, akun yang menyebarkan foto dengan narasi tersebut adalah akun Twitter inteldotwav. Menurut akun ini, foto itu diambil dari situs Windy.com.
Berdasarkan verifikasi yang dilakukan oleh situs organisasi cek fakta Inggris, Full Fact, foto tersebut bukanlah foto satelit. Foto itu juga tidak menunjukkan data real-time terkait tingkat sulfur dioksida. Foto tersebut hanyalah perkiraan berdasarkan data historis dan pola cuaca tentang emisi SO2.
Situs Windy.com memang menampilkan perkiraan cuaca dan prediksi untuk berbagai tingkat polutan, seperti partikel, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida. Foto di atas merupakan ramalan emisi sulfur dioksida di Wuhan selama tiga hari sejak 8 Februari 2020. Perkiraan untuk saat ini bisa dicek di tautan ini.
Situs Windy.com menyatakan bahwa perkiraan emisi sulfur dioksida menggunakan data dari sistem pemodelan atmosfer GEOS-5 NASA. Menurut ahli meteorologi dari Kantor Pemodelan dan Asimilasi Global NASA, Arlindo M. da Silva, model SO2 GEOS-5 tidak mengasimilasi data satelit secara real-time. Perkiraan mereka, kata Silva, didasarkan pada bukti emisi di masa lalu.
“Meskipun data satelit telah digunakan dalam pembangunan inventarisasi emisi, emisi ini tidak memperhitungkan variasi harian dalam emisi SO2 dan karenanya tidak dapat menjelaskan perubahan mendadak dalam aktivitas manusia. Dalam GEOS-5, variasi harian dalam SO2 disebabkan oleh variasi dalam kondisi meteorologi, khususnya angin,” kata Silva.
Dengan kata lain, menurut Full Fact, foto yang diklaim sebagai foto satelit yang menunjukkan tingkat sulfur dioksida yang tinggi di Wuhan tersebut tidak didasarkan pada pengamatan secara real-time, melainkan prediksi berdasarkan pola cuaca. Karena itu, foto tersebut tidak mungkin menunjukkan peristiwa yang tidak terduga, seperti kremasi massal.
Dikutip dari artikel cek fakta di situs media Euro News, perkiraan yang dibuat oleh situs Windy.com, yang didasarkan pada sistem pemodelan atmosfer GEOS-5 NASA, kerap memberikan hasil yang jauh lebih tinggi ketimbang pengamatan. Perkiraan itu pun didasarkan pada bukti emisi di masa lalu, misalnya probabilitas tingkat polusi berdasarkan sumber emisi yang diketahui.
Mereka memperhitungkan sumber emisi yang biasanya terdapat di suatu wilayah, seperti pabrik dan pembangkit listrik, serta referensi silang dengan variabel meteorologi. Dengan kata lain, NASA harus memperkenalkan parameter “pembakaran tubuh manusia dalam kremasi massal” pada sistem pemodelan mereka. “Ini sangat tidak mungkin,” demikian penjelasan dari Euro News.
Menurut Euro News, tipe perkiraan ini memang menggunakan data satelit. Namun, umumnya, satelit tidak bisa mendeteksi sumber sulfur dioksida yang kecil, seperti pabrik ataupun kremasi. Satelit dapat mengukur secara akurat fenomena yang lebih intens, seperti letusan gubung api. Jadi, jika tidak intens, aktivitas emisi yang tidak biasa seperti kremasi, tidak akan terlihat.
Euro News pun mengecek emisi sulfur dioksida di Wuhan sebelum virus Corona Covid-2019 mewabah. Mereka menggunakan Earth Nullschool yang juga didasarkan pada sistem pemodelan atmosfer GEOS-5 NASA. Pada 14 Februari 2019, emisi SO2 yang diperoleh Euro News lebih tinggi ketimbang yang terlihat dalam foto unggahan akun consporaciestheory, yakni 1.583 μg/m3.
Para ahli yang diwawancarai oleh Euro News berpendapat, karena cuaca di Wuhan sempat berada di level 4-5 derajat, banyak warga Wuhan yang kemungkinan menggunakan pemanas sehingga konsentrasi SO2 meningkat. Di bagian timur Wuhan pun terdapat pembangkit listrik tenaga batu bara yang cukup besar. Pembangkit listrik ini juga diidentifikasi dalam katalog NASA mengenai sumber emisi SO2.
Seorang profesor kimia dari Italia membuat perhitungan kasar mengenai mayat yang harus dibakar untuk mencapai tingkat sulfur dioksida sebesar 1.351 μg/m3 seperti yang terlihat dalam foto yang beredar. Menurut perkiraannya, untuk mencapai level SO2 itu, Wuhan harus membakar sekitar 30 juta mayat.
Dilansir dari situs Arcgis, hingga 21 Februari 2020 pukul 13.00 WIB, jumlah kasus virus Corona Covid-19 yang terkonfirmasi di Cina mencapai 75.465 kasus. Dari jumlah tersebut, angka kematian di Cina mencapai 2.236 orang.
Dikutip dari situs media Okezone, foto dengan narasi tersebut sudah beredar di media sosial sejak 9 Februari 2020. Saat itu, akun yang menyebarkan foto dengan narasi tersebut adalah akun Twitter inteldotwav. Menurut akun ini, foto itu diambil dari situs Windy.com.
Berdasarkan verifikasi yang dilakukan oleh situs organisasi cek fakta Inggris, Full Fact, foto tersebut bukanlah foto satelit. Foto itu juga tidak menunjukkan data real-time terkait tingkat sulfur dioksida. Foto tersebut hanyalah perkiraan berdasarkan data historis dan pola cuaca tentang emisi SO2.
Situs Windy.com memang menampilkan perkiraan cuaca dan prediksi untuk berbagai tingkat polutan, seperti partikel, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida. Foto di atas merupakan ramalan emisi sulfur dioksida di Wuhan selama tiga hari sejak 8 Februari 2020. Perkiraan untuk saat ini bisa dicek di tautan ini.
Situs Windy.com menyatakan bahwa perkiraan emisi sulfur dioksida menggunakan data dari sistem pemodelan atmosfer GEOS-5 NASA. Menurut ahli meteorologi dari Kantor Pemodelan dan Asimilasi Global NASA, Arlindo M. da Silva, model SO2 GEOS-5 tidak mengasimilasi data satelit secara real-time. Perkiraan mereka, kata Silva, didasarkan pada bukti emisi di masa lalu.
“Meskipun data satelit telah digunakan dalam pembangunan inventarisasi emisi, emisi ini tidak memperhitungkan variasi harian dalam emisi SO2 dan karenanya tidak dapat menjelaskan perubahan mendadak dalam aktivitas manusia. Dalam GEOS-5, variasi harian dalam SO2 disebabkan oleh variasi dalam kondisi meteorologi, khususnya angin,” kata Silva.
Dengan kata lain, menurut Full Fact, foto yang diklaim sebagai foto satelit yang menunjukkan tingkat sulfur dioksida yang tinggi di Wuhan tersebut tidak didasarkan pada pengamatan secara real-time, melainkan prediksi berdasarkan pola cuaca. Karena itu, foto tersebut tidak mungkin menunjukkan peristiwa yang tidak terduga, seperti kremasi massal.
Dikutip dari artikel cek fakta di situs media Euro News, perkiraan yang dibuat oleh situs Windy.com, yang didasarkan pada sistem pemodelan atmosfer GEOS-5 NASA, kerap memberikan hasil yang jauh lebih tinggi ketimbang pengamatan. Perkiraan itu pun didasarkan pada bukti emisi di masa lalu, misalnya probabilitas tingkat polusi berdasarkan sumber emisi yang diketahui.
Mereka memperhitungkan sumber emisi yang biasanya terdapat di suatu wilayah, seperti pabrik dan pembangkit listrik, serta referensi silang dengan variabel meteorologi. Dengan kata lain, NASA harus memperkenalkan parameter “pembakaran tubuh manusia dalam kremasi massal” pada sistem pemodelan mereka. “Ini sangat tidak mungkin,” demikian penjelasan dari Euro News.
Menurut Euro News, tipe perkiraan ini memang menggunakan data satelit. Namun, umumnya, satelit tidak bisa mendeteksi sumber sulfur dioksida yang kecil, seperti pabrik ataupun kremasi. Satelit dapat mengukur secara akurat fenomena yang lebih intens, seperti letusan gubung api. Jadi, jika tidak intens, aktivitas emisi yang tidak biasa seperti kremasi, tidak akan terlihat.
Euro News pun mengecek emisi sulfur dioksida di Wuhan sebelum virus Corona Covid-2019 mewabah. Mereka menggunakan Earth Nullschool yang juga didasarkan pada sistem pemodelan atmosfer GEOS-5 NASA. Pada 14 Februari 2019, emisi SO2 yang diperoleh Euro News lebih tinggi ketimbang yang terlihat dalam foto unggahan akun consporaciestheory, yakni 1.583 μg/m3.
Para ahli yang diwawancarai oleh Euro News berpendapat, karena cuaca di Wuhan sempat berada di level 4-5 derajat, banyak warga Wuhan yang kemungkinan menggunakan pemanas sehingga konsentrasi SO2 meningkat. Di bagian timur Wuhan pun terdapat pembangkit listrik tenaga batu bara yang cukup besar. Pembangkit listrik ini juga diidentifikasi dalam katalog NASA mengenai sumber emisi SO2.
Seorang profesor kimia dari Italia membuat perhitungan kasar mengenai mayat yang harus dibakar untuk mencapai tingkat sulfur dioksida sebesar 1.351 μg/m3 seperti yang terlihat dalam foto yang beredar. Menurut perkiraannya, untuk mencapai level SO2 itu, Wuhan harus membakar sekitar 30 juta mayat.
Dilansir dari situs Arcgis, hingga 21 Februari 2020 pukul 13.00 WIB, jumlah kasus virus Corona Covid-19 yang terkonfirmasi di Cina mencapai 75.465 kasus. Dari jumlah tersebut, angka kematian di Cina mencapai 2.236 orang.
Rujukan
(GFD-2020-3614) [SALAH] “#BALOOT arena Perjudian di Arab Saudi, Pertama kali dibuka dan diresmikan”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 25/02/2020
Berita
Video turnamen permainan kartu di kota Riyadh, Arab Saudi. Judi dilarang keras di negara Timur Tengah itu. “Baloot” mirip dengan permainan kartu Belote dari Prancis dan merupakan salah satu permainan kartu terpopuler di kalangan pemuda di Teluk Persia, terutama pemuda Saudi.
Akun Daeng Soma Ucu Zar (fb.com/usman.zahra) mengunggah sebuah video dengan narasi sebagai berikut:
“#BALOOT arena Perjudian di Arab Saudi
Pertama kali dibuka dan diresmikan”
Akun Daeng Soma Ucu Zar (fb.com/usman.zahra) mengunggah sebuah video dengan narasi sebagai berikut:
“#BALOOT arena Perjudian di Arab Saudi
Pertama kali dibuka dan diresmikan”
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan penelusuran Tim Periksa Fakta AFP, video tersebut telah digunakan dalam konteks yang menyesatkan; klip itu sebenarnya memperlihatkan turnamen permainan kartu di Riyadh, Arab Saudi; judi dilarang keras di negara Timur Tengah itu.
Pencarian gambar terbalik di Google diikuti dengan pencarian kata kunci menemukan video asli ini diunggah di akun YouTube terverifikasi Al Ekhbariya TV, stasiun TV dari Arab Saudi, pada tanggal 15 Februari 2020.
Jurnalis AFP yang mengerti bahasa Arab menerjemahkan judul video itu sebagai: “Perempuan berpartisipasi dalam turnamen permainan Baloot”.
“Baloot” mirip dengan permainan kartu Belote dari Prancis dan merupakan salah satu permainan kartu terpopuler di kalangan pemuda di Teluk Persia, terutama pemuda Saudi.
Pada tahun 2018, klaim yang mirip sudah pernah diperiksa faktanya dan dimuat di situs turnbackhoax.id. Lokasi yang direkam di video yang disertakan di post yang diedarkan pada tahun 2018 itu bukan lounge untuk berjudi. Video tersebut merekam event turnamen kartu, yaitu event permainan kartu “Baloot” selama 4 hari.
Narator dalam video itu menjelaskan tentang permainan kartu Baloot dan seberapa umum permainan itu dimainkan di wilayah Teluk Persia dan bahwa perempuan untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam turnamen tersebut.
Wartawan di video itu juga mewawancarai seorang peserta perempuan, yang bisa dilihat di detik ke-30 video tersebut. Peserta itu mengatakan bahwa suaminya mengajarinya cara bermain Baloot dan mengizinkannya untuk berpartisipasi dalam turnamen. Dia juga mengatakan bahwa ini pertama kalinya perempuan bisa berpartisipasi di turnamen tersebut.
Turnamen Baloot ini dimulai dari tanggal 13 Februari sampai tanggal 20 Februari 2020 dan diadakan di pusat perbelanjaan Riyadh Front, menurut Otoritas Hiburan Umum (GEA) Raba Saudi.
Harian Saudi Gazette mempublikasikan laporan tentang turnamen tersebut pada tanggal 17 Februari 2020. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, laporan itu berjudul: “Kemeriahan menyelimuti turnamen Baloot saat wanita bertanding melawan pria untuk pertama kalinya.”
Dua paragraf pertama dari laporan itu berbunyi: “Semangat, kemeriahan dan kegembiraan menyelimuti Turnamen Baloot Musim Dingin Riyadh saat para perempuan bertanding untuk pertama kalinya dalam salah satu permainan paling populer di Kerajaan Arab Saudi.
“Turnamen ini diadakan di Front Riyadh mulai tanggal 13-22 Februari 2020, dengan para peserta bersaing untuk mendapatkan hadiah senilai lebih dari SR2 juta.”
Arab News, harian Saudi lainnya, juga mempublikasikan laporan mengenai turnamen tersebut pada tanggal 17 Februari 2020. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, judul laporan itu adalah: “Pemain Baloot wanita memamerkan kebolehan mereka di turnamen Saudi.” Turnamen itu memberikan total hadiah dua juta riyal kepada para pemenang, menurut situs resminya.
Berdasarkan penelusuran Tim Periksa Fakta AFP, video tersebut telah digunakan dalam konteks yang menyesatkan; klip itu sebenarnya memperlihatkan turnamen permainan kartu di Riyadh, Arab Saudi; judi dilarang keras di negara Timur Tengah itu.
Pencarian gambar terbalik di Google diikuti dengan pencarian kata kunci menemukan video asli ini diunggah di akun YouTube terverifikasi Al Ekhbariya TV, stasiun TV dari Arab Saudi, pada tanggal 15 Februari 2020.
Jurnalis AFP yang mengerti bahasa Arab menerjemahkan judul video itu sebagai: “Perempuan berpartisipasi dalam turnamen permainan Baloot”.
“Baloot” mirip dengan permainan kartu Belote dari Prancis dan merupakan salah satu permainan kartu terpopuler di kalangan pemuda di Teluk Persia, terutama pemuda Saudi.
Pada tahun 2018, klaim yang mirip sudah pernah diperiksa faktanya dan dimuat di situs turnbackhoax.id. Lokasi yang direkam di video yang disertakan di post yang diedarkan pada tahun 2018 itu bukan lounge untuk berjudi. Video tersebut merekam event turnamen kartu, yaitu event permainan kartu “Baloot” selama 4 hari.
Narator dalam video itu menjelaskan tentang permainan kartu Baloot dan seberapa umum permainan itu dimainkan di wilayah Teluk Persia dan bahwa perempuan untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam turnamen tersebut.
Wartawan di video itu juga mewawancarai seorang peserta perempuan, yang bisa dilihat di detik ke-30 video tersebut. Peserta itu mengatakan bahwa suaminya mengajarinya cara bermain Baloot dan mengizinkannya untuk berpartisipasi dalam turnamen. Dia juga mengatakan bahwa ini pertama kalinya perempuan bisa berpartisipasi di turnamen tersebut.
Turnamen Baloot ini dimulai dari tanggal 13 Februari sampai tanggal 20 Februari 2020 dan diadakan di pusat perbelanjaan Riyadh Front, menurut Otoritas Hiburan Umum (GEA) Raba Saudi.
Harian Saudi Gazette mempublikasikan laporan tentang turnamen tersebut pada tanggal 17 Februari 2020. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, laporan itu berjudul: “Kemeriahan menyelimuti turnamen Baloot saat wanita bertanding melawan pria untuk pertama kalinya.”
Dua paragraf pertama dari laporan itu berbunyi: “Semangat, kemeriahan dan kegembiraan menyelimuti Turnamen Baloot Musim Dingin Riyadh saat para perempuan bertanding untuk pertama kalinya dalam salah satu permainan paling populer di Kerajaan Arab Saudi.
“Turnamen ini diadakan di Front Riyadh mulai tanggal 13-22 Februari 2020, dengan para peserta bersaing untuk mendapatkan hadiah senilai lebih dari SR2 juta.”
Arab News, harian Saudi lainnya, juga mempublikasikan laporan mengenai turnamen tersebut pada tanggal 17 Februari 2020. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, judul laporan itu adalah: “Pemain Baloot wanita memamerkan kebolehan mereka di turnamen Saudi.” Turnamen itu memberikan total hadiah dua juta riyal kepada para pemenang, menurut situs resminya.
Rujukan
(GFD-2020-3609) [SALAH] “Korban penculikan, ternyata sudah dijahit semua perutnya”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 21/02/2020
Berita
Bukan korban penculikan. Anak itu meninggal karena tenggelam setelah terjatuh dari rumahnya yang terletak di atas air. Jahitan di tubuh bocah tersebut merupakan jahitan post-mortem dari rumah sakit. Peristiwa itu tidak terjadi di Indonesia, melainkan di Kampung Titian, Tawau, Sabah, Malaysia.
Akun Fatma Herawati Mungkur (fb.com/100010046945560) mengunggah beberapa video dan foto dengan narasi “Korban penculikan,, dikira tenggelam di sungai, jadi goyang badannya,, setelah dibuka bajunya, ternyata sudah dijahit semua perutnya..”
Satu foto yang memperlihatkan mayat seorang anak dengan bekas jahitan di dada dan perut. Video pertama yang berdurasi 53 detik berisi rekaman mayat seorang bocah laki-laki yang terapung di air. Video kedua sepanjang 21 detik memperlihatkan sejumlah warga yang mengguncangkan tubuh bocah tersebut dengan posisi terbalik.
Akun Fatma Herawati Mungkur (fb.com/100010046945560) mengunggah beberapa video dan foto dengan narasi “Korban penculikan,, dikira tenggelam di sungai, jadi goyang badannya,, setelah dibuka bajunya, ternyata sudah dijahit semua perutnya..”
Satu foto yang memperlihatkan mayat seorang anak dengan bekas jahitan di dada dan perut. Video pertama yang berdurasi 53 detik berisi rekaman mayat seorang bocah laki-laki yang terapung di air. Video kedua sepanjang 21 detik memperlihatkan sejumlah warga yang mengguncangkan tubuh bocah tersebut dengan posisi terbalik.
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, faktanya klaim bahwa anak itu adalah korban penculikan adalah klaim yang salah.
Anak itu meninggal karena tenggelam setelah terjatuh dari rumahnya yang terletak di atas air. Jahitan di tubuh bocah tersebut merupakan jahitan post-mortem dari rumah sakit. Peristiwa itu tidak terjadi di Indonesia, melainkan di Kampung Titian, Tawau, Sabah, Malaysia.
Peristiwa yang menimpa bocah laki-laki tersebut belum pernah dilaporkan di media massa. Karena itu, Tim CekFakta Tempo melakukan penelusuran di media sosial agar konteks peristiwa yang sebenarnya bisa terungkap.
Dengan reverse image tools milik Google, Tempo menelusuri foto mayat bocah laki-laki yang viral di atas. Lewat penelusuran ini, Tempo terhubung dengan akun Twitter Mer_Maid, yang mengunggah foto tersebut pada 24 Januari 2020. Pemilik akun ini menulis di profilnya bahwa ia berasal dari Penampang, Sabah, Malaysia.
Tempo pun mendapatkan petunjuk dari beberapa komentar di unggahan akun Mer_Maid tersebut. Peristiwa itu disebut terjadi di belakang masjid Esbok, Tawau, Sabah, Malaysia. Kota ini berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Kalimantan Utara. Beberapa akun menjelaskan bahwa bocah itu bukan korban penculikan, melainkan meninggal karena tenggelam. Jahitan di tubuhnya adalah hasil bedah post-mortem dari rumah sakit.
Tempo mencocokkan penjelasan dari beberapa akun itu dengan percakapan warga yang terdengar dari video pertama. Dialog dalam video itu memakai bahasa Melayu, Malaysia. Salah satu dialog yang terdengar dengan jelas adalah “tunggu polis”. Polis merupakan sebutan bagi polisi di Malaysia. Lembaga kepolisian Malaysia misalnya, bernama Polis Diraja Malaysia.
Menurut Zam Yuza, analis konsultasi keamanan regional di Sabah, Tawau menjadi salah satu pusat komunitas campuran Indonesia dan Sabahan. “Two Malay dialects, Indonesian and Sabah, are spoken in the videos (Dua dialek Melayu, Indonesia dan Sabah, digunakan dalam video itu),” kata Yuza saat dihubungi Tempo.
Berbekal petunjuk lokasi tersebut, Tempo mengirimkan e-mail wawancara kepada Pejabat Polis Daerah Tawau pada 18 Februari 2020. Namun, hingga keesokan harinya, e-mail itu tak kunjung dijawab.
Tempo pun mengalihkan pencarian dengan membuat daftar media-media lokal di Sabah dan mengirimkan pesan, baik melalui e-mail maupun media sosial, ke dua redaksi media lokal di sana. Dengan cara ini, Tempo berhasil terhubung ke salah satu jurnalis setempat dan mendapatkan nomor kontak Kepala Polisi Tawau, Asisten Komisaris Polisi Peter Umbuas.
Menurut Peter, narasi bahwa bocah laki-laki yang meninggal itu adalah korban penculikan keliru. Bocah tersebut meninggal karena tenggelam, setelah terjatuh dari rumahnya yang terletak di atas air.
Adapun jahitan pada tubuh anak itu adalah jahitan post-mortem dari rumah sakit. Post-mortem merupakan tindakan pemeriksaan keseluruhan untuk memperoleh dan mencatat data lengkap mengenai korban dan penyebab kematiannya.
“Ini disahkan tidak betul. Gambar yang diviralkan adalah gambar selepas post-mortem,” kata Peter dalam bahasa Melayu lewat pesan WhatsApp kepada Tempo, Kamis, 20 Februari 2020.
Menurut Peter, peristiwa itu terjadi pada 19 Januari 2020 di Tawau Ice Box, atau yang kini disebut dengan Kampung Titingan. Nama Ice Box (dibaca “Esbok”) tersebut sama dengan yang disebut oleh warganet di kolom komentar unggahan akun Twitter Mer_Maid.
Di Google Maps, sejumlah rumah di Kampung Titingan memang terlihat dibangun di atas air, identik dengan yang terdapat dalam video yang viral di atas. Lokasi kampung air ini pun berada di belakang sebuah masjid, sama dengan yang disebut oleh warganet di kolom komentar unggahan akun Twitter Mer_Maid.
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, faktanya klaim bahwa anak itu adalah korban penculikan adalah klaim yang salah.
Anak itu meninggal karena tenggelam setelah terjatuh dari rumahnya yang terletak di atas air. Jahitan di tubuh bocah tersebut merupakan jahitan post-mortem dari rumah sakit. Peristiwa itu tidak terjadi di Indonesia, melainkan di Kampung Titian, Tawau, Sabah, Malaysia.
Peristiwa yang menimpa bocah laki-laki tersebut belum pernah dilaporkan di media massa. Karena itu, Tim CekFakta Tempo melakukan penelusuran di media sosial agar konteks peristiwa yang sebenarnya bisa terungkap.
Dengan reverse image tools milik Google, Tempo menelusuri foto mayat bocah laki-laki yang viral di atas. Lewat penelusuran ini, Tempo terhubung dengan akun Twitter Mer_Maid, yang mengunggah foto tersebut pada 24 Januari 2020. Pemilik akun ini menulis di profilnya bahwa ia berasal dari Penampang, Sabah, Malaysia.
Tempo pun mendapatkan petunjuk dari beberapa komentar di unggahan akun Mer_Maid tersebut. Peristiwa itu disebut terjadi di belakang masjid Esbok, Tawau, Sabah, Malaysia. Kota ini berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Kalimantan Utara. Beberapa akun menjelaskan bahwa bocah itu bukan korban penculikan, melainkan meninggal karena tenggelam. Jahitan di tubuhnya adalah hasil bedah post-mortem dari rumah sakit.
Tempo mencocokkan penjelasan dari beberapa akun itu dengan percakapan warga yang terdengar dari video pertama. Dialog dalam video itu memakai bahasa Melayu, Malaysia. Salah satu dialog yang terdengar dengan jelas adalah “tunggu polis”. Polis merupakan sebutan bagi polisi di Malaysia. Lembaga kepolisian Malaysia misalnya, bernama Polis Diraja Malaysia.
Menurut Zam Yuza, analis konsultasi keamanan regional di Sabah, Tawau menjadi salah satu pusat komunitas campuran Indonesia dan Sabahan. “Two Malay dialects, Indonesian and Sabah, are spoken in the videos (Dua dialek Melayu, Indonesia dan Sabah, digunakan dalam video itu),” kata Yuza saat dihubungi Tempo.
Berbekal petunjuk lokasi tersebut, Tempo mengirimkan e-mail wawancara kepada Pejabat Polis Daerah Tawau pada 18 Februari 2020. Namun, hingga keesokan harinya, e-mail itu tak kunjung dijawab.
Tempo pun mengalihkan pencarian dengan membuat daftar media-media lokal di Sabah dan mengirimkan pesan, baik melalui e-mail maupun media sosial, ke dua redaksi media lokal di sana. Dengan cara ini, Tempo berhasil terhubung ke salah satu jurnalis setempat dan mendapatkan nomor kontak Kepala Polisi Tawau, Asisten Komisaris Polisi Peter Umbuas.
Menurut Peter, narasi bahwa bocah laki-laki yang meninggal itu adalah korban penculikan keliru. Bocah tersebut meninggal karena tenggelam, setelah terjatuh dari rumahnya yang terletak di atas air.
Adapun jahitan pada tubuh anak itu adalah jahitan post-mortem dari rumah sakit. Post-mortem merupakan tindakan pemeriksaan keseluruhan untuk memperoleh dan mencatat data lengkap mengenai korban dan penyebab kematiannya.
“Ini disahkan tidak betul. Gambar yang diviralkan adalah gambar selepas post-mortem,” kata Peter dalam bahasa Melayu lewat pesan WhatsApp kepada Tempo, Kamis, 20 Februari 2020.
Menurut Peter, peristiwa itu terjadi pada 19 Januari 2020 di Tawau Ice Box, atau yang kini disebut dengan Kampung Titingan. Nama Ice Box (dibaca “Esbok”) tersebut sama dengan yang disebut oleh warganet di kolom komentar unggahan akun Twitter Mer_Maid.
Di Google Maps, sejumlah rumah di Kampung Titingan memang terlihat dibangun di atas air, identik dengan yang terdapat dalam video yang viral di atas. Lokasi kampung air ini pun berada di belakang sebuah masjid, sama dengan yang disebut oleh warganet di kolom komentar unggahan akun Twitter Mer_Maid.
Rujukan
Halaman: 7574/7986







