• (GFD-2020-3815) [SALAH] Merokok Menghadang Virus Corona Masuk Ke Paru-Paru

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 07/04/2020

    Berita

    Beredar postingan yang menyebutkan bahwa merokok dapat menghadang virus Corona atau COVID-19 menjangkiti seseorang. Disebutkan dalam postingan tersebut hal itu dikarenakan virus tersebut terhalang oleh nikotin yang ada di dalam rokok. Berikut kutipan narasinya:

    “*BERUNTUNGLAH PARA PEROKOK BERAT DI DUNIA.*

    Pentingnya merokok untuk melawan corona.
    Dibaca sampai selesai ????????????

    Mengunngkap fakta penelitian yang bilang merokok membunuhmu.Dan mengungkap fakta baru tentang pencegahan Virus Corona dengan asap rokok.

    Dilansir dari halaman peneliti paru-paru Dr. Prof. Ali bolgana dari Mesir.
    Bahwa kandungan nikotin rokok menempel di paru-paru yang dimana,virus yang masuk ke paru-paru lewat udara dapat terhalang karena adanya nikotin rokok tersebut,Makanya saat ini wabah virus corona yang menyerang ke negara-negara besar kebanyakan orang yang terdampak virus tersebut dan meninggal dunia di karenakan tidak ada nikotin yang menyelimuti paru-paru mereka,Walau pun kita tahu nikotin tersebut juga merusak paru-paru tetapi dalam jangka waktu lama dan panjang,sedangkan virus corona ini merusak paru-paru kita dalam hanya beberapa hari saja,jadi pernyataan merokok ini sudah di angkat di mesir dan sekarang penduduk mesir sudah melakukan prakteknya dan virus corona di mesir sudah bisa di tanggulangi karena mereka merokok sesuai anjuran Dr. Prof. Ali Bolgana seorang Dr. yang ahli dalam mencegah kerusakan paru-paru.
    Pada saat ini yang kita tahu bahwa orang yang terkena virus corona adalah orang yang tidak merokok, mengapa karena di dalam paru-paru mereka tidak ada getah nikotin yang mengikat virus atau kuman yang masuk ke dalam paru-paru mereka,yang menyebabkan virus tersebut bisa menggerogoti paru-paru mereka seperti virus corona ini.

    Mari saling berbagi,saling mengingatkan karena 1x kamu share kamu sudah menyelamatkan Masyarakat Indonesia sebanyak 10 orang.

    Di terbitkan dari perusahaan buku ternama di mesir dan Halaman artikel google linknya ada di bawah ini

    https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/قرناء/

    والله اعلم”

    BERUNTUNGLAH PARA PEROKOK DI DUNIA.

    Pentingnya merokok untuk melawan corona.
    Dibaca sampai selesai 👇👇👇

    Mengunngkap fakta penelitian yang bilang merokok membunuhmu. Dan mengungkap fakta baru tentang pencegahan Virus Corona dengan asap rokok.

    Dilansir dari halaman peneliti paru-paru Dr. Prof. Ali bolgana dari Mesir.
    Bahwa kandungan Nikotin rokok menempel di paru-paru yang dimana, virus yang masuk ke paru-paru lewat udara dapat terhalang karena adanya nikotin rokok tersebut. Makanya saat ini wabah virus corona yang menyerang ke negara-negara besar kebanyakan orang yang terdampak virus tersebut dan meninggal dunia di karenakan tidak ada nikotin yang menyelimuti paru-paru mereka, walau pun kita tahu nikotin tersebut juga merusak paru-paru tetapi dalam jangka waktu lama dan panjang, sedangkan virus corona ini merusak paru-paru kita dalam hanya beberapa hari saja, jadi pernyataan merokok ini sudah di angkat di mesir dan sekarang penduduk mesir sudah melakukan prakteknya dan virus corona di mesir sudah bisa di tanggulangi karena mereka merokok sesuai anjuran Dr. Prof. Ali Bolgana seorang Dr. yang ahli dalam mencegah kerusakan paru-paru.
    Pada saat ini yang kita tahu bahwa orang yang terkena virus corona adalah orang yang tidak merokok, mengapa karena di dalam paru-paru mereka tidak ada getah nikotin yang mengikat virus atau kuman yang masuk ke dalam paru-paru mereka,yang menyebabkan virus tersebut bisa menggerogoti paru-paru mereka seperti virus corona ini.

    Mari saling berbagi, saling mengingatkan karena 1x kamu share kamu sudah menyelamatkan Masyarakat Indonesia sebanyak 10 orang.

    Di terbitkan dari perusahaan buku ternama di mesir dan Halaman artikel google linknya ada di bawah ini

    https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/قرناء/

    paru-paru

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut keliru. Sebab, menurut sejumlah pakar merokok justru dapat membuat seseorang rentan terpapar COVID-19.

    Praktisi kesehatan dan dosen Warwick Medical School, Dr. James Gill, menyatakan merokok adalah faktor risiko yang signifikan terkait risiko terinfeksi COVID-19.

    “Ada banyak faktor yang saling terkait mengapa merokok mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dari kemampuan untuk mendapatkan oksigen dari darah ke jaringan, hingga peningkatan kadar karbon monoksida dalam darah,” jelasnya.

    Salah satu alasan terbesar yang memungkinkan risiko infeksi pernapasan pada perokok terus meningkat adalah kerusakan dan kematian yang terjadi pada silia (bulu-bulu halus) di saluran udara dan paru-paru. Silia bertugas melapisi saluran udara, sehingga memiliki peran yang sangat vital dalam membersihkan lendir dan kotoran serta menyaring partikel-partikel yang dihirup.

    Dengan begitu, silia berperan dalam mencegah virus dan bakteri masuk ke paru-paru. Gill menjelaskan bahan kimia yang terkandung dalam rokok memiliki dua efek serius pada silia ketika dihirup. Pertama adalah mengurangi gerakan silia, yang berarti akan lebih sulit untuk memindahkan lendir dan kotoran agar bisa keluar dari paru-paru.

    Seiring waktu, asap yang dihirup dari rokok lama-kelamaan juga dapat membunuh silia, hingga akhirnya meningkatkan risiko infeksi virus secara drastis. Karena itu, dia mengimbau agar perokok segera berhenti merokok untuk memperbaiki fungsi silia yang tersisa.

    Lalu, Ketua Pokja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Feni Fitriani, membantah bahwa merokok dapat menangkal COVID-19. "Itu tidak benar kalau mengatakan bahwa merokok malah melindungi," kata Feni yag dikutip dari liputan6.com.

    Bahkan, menjadi perokok sesungguhnya membuat seseorang lebih mudah menjadi sakit. Bukan hanya virus corona namun juga penyakit lainnya seperti kanker paru. Feni mengatakan, tanpa COVID-19 saja, seorang perokok sesungguhnya sudah memiliki kerusakan pada saluran napasnya.

    "Tapi karena efeknya merokok jangka panjang setelah 20 tahun, 30 tahun, tidak secepat COVID-19, jadi abai," kata Feni.

    Prof. Dr. Amin Soebandrio, Kepala Lembaga Biologi dan Pendidikan Tinggi Eijkman Kementerian Ristekdikti mengatakan bahwa merokok meningkatkan reseptor ACE 2, yang oleh para peneliti, ditemukan menjadi reseptor bagi virus corona penyebab COVID-19.

    Dia mengibaratkan, reseptor tersebut seperti sebuah pelabuhan yang jika menjadi lebih banyak tempat berlabuhnya, maka kapal yang akan datang akan semakin banyak pula.

    "Karena ACE 2 ekspresinya meningkat, otomatis dalam data menyebutkan sel paru perokok itu menjadi lebih rentan terhadap infeksi saluran napas. Jadi memfasilitasi masuknya virus," kata Amin dalam kesempatan yang sama.

    Lalu, dalam postingan menyertakan sebuah tautan. Bila tautan itu dibuka maka akan mengarahkan kepada laman kamus bahasa Arab beralamatkan di almaany.com. Sehingga, bila diklaim bahwa penelitian merokok dapat menangkal atau menghadang COVID-19 tidak ada dalam laman tersebut.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa klaim pada postingan tidak benar. Konten dalam postingan tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan

  • (GFD-2020-3817) [SALAH] Corona Jihad: Seorang Pedagang Sengaja Meludahi Bungkus Makanan

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 07/04/2020

    Berita

    Beredar unggahan video melalui Facebook mengenai seorang pedagang sengaja meludahi makanan yang sedang dia bungkus. Unggahan video menyebutkan aksi tersebut dengan judul “Corona Jihad.” Berikut kutipan narasinya:

    “Corona jihad
    This guy is spitting into the food he's packing for you.”

    Terjemahan:

    “Corona jihad
    Orang ini meludah ke makanan yang dia bungkus untukmu.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, melalui pencarian reverse image yandex.com, video yang diunggah Facebook tersebut sudah pernah tayang di YouTube pada 26 April 2019 berjudul “Viral!! MenjijikKan..Cara kedai mamak bungkus papadem” yang diunggah oleh akun “Yusuf Studio”.

    Dalam penelusuran lain, melansir dari thequint.com, artikel tersebut merujuk ke laman feedme.com.my dengan artikel yang berjudul “Watch: Mamak Staff Blows Air and Saliva into Papadum Bags, Enrages Netizens” (terjemahan: “Tonton: Staf Mamak Meniupkan Udara dan Air Liur ke dalam bungkusan berisi Papadum, Memicu amarah Netizens”) terbit pada 1 Mei 2019.

    Unggahan video Facebook tersebut sudah pernah tayang di YouTube pada 26 April 2019 dan sudah pernah dibahas pada 1 Mei 2019 dalam artikel laman feedme.com.my, dan membuktikan bahwa video Facebook itu tidak ada kaitannya dengan virus Corona, bahkan pada April 2019 virus Corona belum terjadi.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, video Facebook mengenai seorang pedagang yang sengaja meludahi bungkus makanan tidak ada kaitannya dengan virus Corona. Oleh sebab itu, video masuk dalam Misleading Content atau Konten Yang Menyesatkan.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8030) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Covid-19 Tidak Kuat dengan Cuaca di Wilayah Seperti Indonesia?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 06/04/2020

    Berita


    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan baru-baru ini mengatakan bahwa virus Corona Covid-19 diperkirakan tidak kuat dengan kondisi cuaca Indonesia. "Dari hasilmodelling, cuaca Indonesia di ekuator yang panas danhumiditytinggi maka untuk Covid-19 itu enggak kuat," kata dia dalam konferensi video pada Kamis, 2 April 2020.
    Dua hari setelah Luhut menyatakan hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta mengeluarkan siaran pers tentang pengaruh antara cuaca dan penyebaran virus Corona Covid-19. Menurut siaran pers itu, kondisi cuaca dan iklim serta geografi kepulauan di Indonesia relatif lebih rendah risikonya untuk perkembangan Covid-19.
    "Indonesia yang juga terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27-30 derajat Celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70-95 persen, dari kajian literatur, sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak Covid-19," demikian penjelasan dalam siaran pers BMKG di laman resminya.
    Dengan fakta bahwa tetap tersebar virus Corona Covid-19 di Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu, BMKG menduga penyebaran tersebut lebih kuat dipengaruhi oleh faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial ketimbang faktor cuaca.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim itu, Tempo menggunakan tiga metode, yakni membandingkan kasus Covid-19 di negara tropis lainnya, membandingkan temuan BMKG dengan pernyataan organisasi-organisasi kesehatan, dan memeriksa jurnal yang digunakan oleh BMKG.
    1. Belum ada penelitian final
    Belum ada penelitian final yang menyimpulkan bahwa suhu yang lebih hangat akan menghambat penularan Covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat ( CDC ) misalnya, belum bisa memastikan apakah cuaca dan suhu mempengaruhi penyebaran virus Corona Covid-19. Masih banyak yang harus dipelajari tentang transmisibilitas, tingkat keparahan, dan faktor-faktor lain yang terkait dengan Covid-19. Penyelidikan terkait hal itu masih berlangsung.
    Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) telah menegaskan bahwa terkena paparan sinar matahari atau suhu di atas 25 derajat Celcius tidak mencegah seseorang dari infeksivirus Corona Covid-19. Menurut WHO, negara-negara yang memiliki cuaca yang panas juga melaporkan adanya kasus Covid-19.
    Organisasi pemeriksa fakta AS, Full Fact, melaporkan bahwa saat ini tidak masuk akal untuk berspekulasi bahwa penyebaran virus Corona Covid-19 mengalami puncaknya di bulan-bulan yang lebih dingin, kemudian menghilang saat musim semi atau musim panas. Sesuai dengan pengalaman pada 2003 saat mewabahnya virus Corona SARS, sebagian besar pasien disembuhkan melalui intervensi kesehatan dari masyarakat, dan tidak menjadi virus musiman.
    Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Marc Lipsitch, profesor dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, biasanya virus baru memiliki perilaku yang berbeda dengan virus yang telah ada dalam populasi sejak lama. Virus Corona Covid-19 adalah jenis virus yang sangat baru sehingga sangat sedikit orang yang kebal terhadapnya. Artinya, ada banyak host yang rentan untuk terinfeksi dan, oleh karena itu, virus ini tidak mungkin berperilaku seperti virus musiman mapan lainnya.
    2. Kasus Covid-19 di daerah tropis
    Sejumlah negara tropis selain Indonesia telah melaporkan kasus Covid-19, antara lain di Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan Ekuador. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran virus Corona Covid-19 tetap terjadi di negara-negara tropis yang memiliki temperatur lebih tinggi dibandingkan negara-negara subtropis, seperti Cina dan Eropa.
    Di bawah ini, terdapat perbandingan antara jumlah kasus Covid-19 dan suhu saat terjadinya kasus di tiga negara tropis, yakni Singapura, Malaysia, dan Ekuador. Data kasus Covid-19 menggunakan grafik dari Worldometers, sedangkan data suhu diambil dari situs AccuWeather dan Weather.com.
    Singapura
    Data Worldometers menunjukkan kasus Covid-19 Singapura yang terjadi pada 15 Februari-6 April 2020 pukul 05.22 GMT telah mencapai 1.309 kasus dengan enam pasien meninggal. Rata-rata suhu di negara ini pada tanggal tersebut berada di atas 30 derajat celcius.
    Total kasus Covid-19 di Singapura menurut Worldometers.
    Data suhu di Singapura pada Maret 2020 menurut AccuWeather.
    Malaysia
    Malaysia mengindetifikasi kasus Covid-19 pertama pada 25 Januari 2020 dan angkanya melesat pada Maret 2020. Data Worldometers menunjukkan, hingga 6 April 2020 pukul 05.22 GMT, kasus Covid-19 di negara ini mencapai 3.662 kasus dan 61 pasien di antaranya meninggal. Penyebaran virus ini terjadi di Malaysia pada suhu di atas 30 derajat Celcius, sesuai data Weather.com.
    Total kasus Covid-19 di Malaysia menurut Worldometers.
    Data suhu di Malaysia pada Maret-April 2020 menurut Weather.com.
    Ekuador
    Ekuador merupakan sebuah negara di Amerika Tengah. Amerika Tengah memang terletak di khatulistiwa sehingga sebagian besar negaranya memiliki iklim tropis yang lembab. Sejak 18 Maret 2020, Ekuador mencatatkan kenaikan jumlah kasus Covid-19. Menurut data Worldometers, jumlah kasus Covid-19 di Ekuador hingga 6 April 2020 pukul 06.04 GMT mencapai 3.646 orang dengan 180 pasien meninggal. Suhu di Guayaquil, kota terbesar di Ekuador, di AccuWeather selama 18 Maret-5 April 2020 berada di atas 30 derajat celcius, kecuali 29 Maret dan 3 April.
    Total kasus Covid-19 di Ekuador menurut Worldometers.
    Data suhu Ekuador pada Maret-April 2020 menurut AccuWeather.
    3. Jurnal rujukan BMKG
    Di situsnya, BMKG memaparkan sejumlah rujukan mengenai adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran virus Corona Covid-19. Beberapa di antaranya adanya penelitian Araujo dan Naimi pada 2020, Chen et. al. (2020), Luo et. al. (2020), Poirier et. al. (2020), Sajadi et.al. (2020), Tyrrell et. al. (2020), dan Wang et. al. (2020).
    Tim CekFakta Tempo pun memeriksa penelitian tersebut dan menemukan bahwa beberapa di antaranya belum melaluipeer reviewatau penilaian sejawat.Peer reviewmerupakan sebuah proses pemeriksaan oleh pakar lain yang memiliki keahlian di bidang penelitian yang diperiksa.Peer reviewbertujuan untuk membuat sebuah penelitian memenuhi standar disiplin ilmiah dan standar keilmuan.
    Penelitian Miguel B. Araujo dan Babak Naimi pada 2020 berjudul “Spread of SARS-CoV-2 Coronavirus likely to be constrained by climate” yang dipublikasikan di Medrxiv belum melaluipeer review. Laporan tersebut merupakan penelitian medis baru yang belum dievaluasi sehingga tidak boleh digunakan sebagai panduan praktik klinis.
    Dua penelitian lainnya yang belum melaluipeer reviewadalah penelitian oleh Luo et. al. (2020) yang berjudul “The role of absolute humidity on transmission rates of the COVID-19 outbreak” dan oleh Tyrrell et. al. (2020) yang berjudul “Preliminary evidence that higher temperatures are associated with lower incidence of COVID-19, for cases reported globally up to 29th February 2020”.
    Ahli epidemiologi dan peneliti pandemi. Dicky Gunawan, dalam sebuah wawancara di MetroTV, menjelaskan bahwa sejumlah penelitian pendahuluan yang menyatakan kaitan antara cuaca dan penyebaran virus Corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 belum bisa dibuktikan. Apalagi, banyak fakta yang belum mendukung teori-teori bahwa cuaca panas bisa menghambat penularan virus tersebut.
    Dicky mencontohkan kasus Covid-19 yang terjadi Brasil. Di negara tropis yang terletak di Benua Amerika ini, kasus Covid-19 telah mencapai 11 ribu kasus dengan kematian sekitar 500 orang. Dalam sejarah pandemi, kata dia, tidak satu pun yang berkaitan dengan iklim. WHO pun telah mengeluarkan rekomendasi bahwa pencegahan Covid-19 tidak berkaitan dengan iklim atau suhu tertentu. “Ketika di-declare sebagai pandemi, semua negara akan berpotensi terkena,” kata Dicky pada 6 April 2020.
    Menurut Dicky, dengan adanya pandemi Covid-19, banyak penelitian pendahuluan yang diterbitkan tanpa melalui peer review. Idealnya, sebuah penelitian selesai membutuhkan waktu hingga satu tahun. Karena itu, penelitian-penelitian pendahuluan tersebut membutuhkan waktu untuk dibuktikan kebenarannya. Ia menyarankan agar setiap negara lebih berfokus melakukan intervensi langsung untuk mengatasi pandemi Covid-19. “Biarlah (teori-teori) ini nanti menjadi bonus apabila benar (ada kaitan antara cuaca panas dengan penyebaran Covid-19),” kata Dicky.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa virus Corona Covid-19 tidak kuat dengan cuaca di wilayah seperti Indonesia belum bisa dibuktikan. Fakta-fakta menunjukkan bahwa kasus Covid-19 juga terjadi di sejumlah negara tropis dengan suhu lebih dari 30 derajat Celcius. Beberapa penelitian pendahuluan yang digunakan oleh BMKG juga belum melaluipeer reviewdan belum bisa dibuktikan hingga artikel ini dimuat.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-3802) [SALAH] Puncak Persebaran Virus Corona 4 April Hingga 18 April 2020

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 06/04/2020

    Berita

    Beredar pesan berantai melalui Whatsapp yang menyebutkan puncak persebaran virus Corona atau wabah COVID-19 ialah pada tanggal 4-18 April 2020. Dalam pesan berantai tersebut juga terdapat sejumlah imbauan. Berikut kutipan narasinya:

    “Mulai besok weekend, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai.
    ????????????

    Tanggal inkubasi (14 hari) telah tiba. Dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya.

    Banyak orang bersin, batuk, dan orang lain bisa tertular, jadi sangat penting utk tetap di rumah, tidak brhubungan / bertemu dengan orang lain.
    Sangat berhati-hati adalah sangat penting.

    Dari 4 April hingga 18 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu.

    Biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul.
    Kemudian ada dua minggu tenang kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.

    Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan.
    Dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu.

    Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan bersama.

    Kita Akan Berada di Tingkat Infeksi Maksimum, dan Minim Uji Tes Korona.

    JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA REKAN ANDA????”

    Baru saja mendapat info ini:

    Mulai besok, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai, tanggal inkubasi telah tiba dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya dan banyak orang bisa tertular, jadi sangat penting untuk tetap di rumah dan tidak berhubungan dengan tidak bertemu orang lain, sangat berhati-hati adalah sangat penting.

    Dari 23 Maret hingga 3 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu, biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul kemudian ada dua minggu tenang dan kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.

    * Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu *.

    *Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan semua. *

    *"KITA AKAN BERADA DI TINGKAT INFEKSI MAKSIMUM".*

    *JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA KONTAK ANDA*

    Baru saja mendapat info ini:

    Mulai besok, jangan keluar rumah mencari makanan atau untuk apa pun, karena hal yang terburuk dimulai, tanggal inkubasi telah tiba dan banyak yg terinfeksi positif akan menunjukkan gejalanya dan banyak orang bisa tertular, jadi sangat penting untuk tetap di rumah dan tidak berhubungan dengan tidak bertemu orang lain, sangat berhati-hati adalah sangat penting.

    Dari 23 Maret hingga 3 April kita harus menjaga diri kita sendiri, karena kita akan berada di puncak penyebaran virus dalam dua minggu, biasanya dalam dua minggu itu semua yang terinfeksi akan muncul kemudian ada dua minggu tenang dan kemudian dua minggu lagi mulai berkurang.

    * Apa yang terjadi di Italia adalah bahwa siklus ini diabaikan pada musim penularan dan itulah mengapa semua kasus bercampur menjadi satu *.

    *Dan akhirnya, jangan menerima kunjungan dari siapa pun, bahkan dari keluarga yang sama. Ini semua untuk kebaikan semua. *

    *"KITA AKAN BERADA DI TINGKAT INFEKSI MAKSIMUM".*

    *JANGAN ABAIKAN PESAN INI, BAGIKAN KE SEMUA KONTAK ANDA*

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim puncak COVID-19 pada 4-18 April 2020 keliru. Sebab, sejumlah lembaga dan pakar yang melakukan prediksi tidak menyebutkan bahwa puncak COVID-19 pada kisaran tanggal tersebut.

    Pada 13 Maret 2020, Badan Intelijen Negara (BIN) memperkirakan puncak persebaran virus corona di Indonesia terjadi pada Mei 2020. Perhitungan tersebut disampaikan Deputi V BIN Afini Noer berdasarkan hasil simulasi permodelan pemerintah terhadap data pasien Covid-19. Ia mengatakan, masa puncak penyebaran virus corona kemungkinan terjadi dalam 60–80 hari setelah kasus pertama terkonfirmasi.

    Lalu, pada 19 Maret 2020, ITB melakukan simulasi dan permodelan sederhana yang memprediksi mengenai puncak kasus harian. Puncak tersebut diperkirakan akan berakhir pertengahan April 2020. Namun, prediksi itu direvisi lantaran data masukan yang digunakan sebelumnya terjadi perubahan. Dari revisi yang dilakukan waktu estimasi titik puncak penyebaran yang dilakukan ITB berubah menjadi sekitar akhir Mei atau awal Juni 2020.

    Para peneliti dari Pemerintah Daeah Yogyakarta pada 24 Maret 2020 juga merilis perkiraan puncak penyebaran virus corona di Indonesia. Perkiraan tersebut dibuat berdasarkan referensi pola global dan lokal. Penelitian tersebut memprediksi, puncak penyebaran akan terjadi antara 70 hingga 100 hari. Artinya sekitar 12 Mei hingga 12 Juni 2020.

    Kemudian, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) pada 27 Maret 2020 membuat prediksi jumlah kasus dan titik puncak penyebarannya. Perhitungan tim FKM UI memprediksi, jumlah kasus di kisaran 500.000 hingga 2.500.000 kasus dengan mempertimbangkan tingkat intervensi pemerintah. Adapun masa puncak akan terjadi pada hari ke 77 atau kisaran pertengahan April 2020 dengan patokan hari pertama pada pekan pertama Februari 2020.

    Ilmuwan Matematika dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Sutanto Sastraredja juga melakukan prediksinya. Ia memprediksi puncak COVID-19 pada pertengahan Mei 2020. Sementara, akhir pandemi dinilainya bergantung pada kebijakan yang diambil pemerintah. Berdasarkan perhitungan matematis dinamika populasi Covid-19 menggunakan model SIQR yang dilakukannya, parameter dimasukkan dalam rumus hingga bisa dihitung kecepatan orang yang sudah terinfeksi dan masuk karantina.

    Guru Besar Statistika UGM Prof Dr rer nat Dedi Rosadi, alumni MIPA UGM Drs. Herivertus Joko Kristadi, dan alumni PPRA Lemhanas RI Dr Fidelis I. Diponegoro juga membuat perkiraan prediksi puncak penyebaran Covid-19. Para peneliti UGM itu menggunakan model yang mereka sebut dengan model probabilistik yang didasarkan atas data real. Menggunakan model tersebut, penambahan maksimal total penderita per hari adalah sekitar minggu kedua April 2020. Kisarannya, pada 7 April-11 April 2020 dengan penambahan kurang dari 185 pasien per hari.

    Lalu, empat alumni Matematika UI juga membuat pemodelan menyebarnya Covid-19 di Indonesia. Basisnya adalah penelitian yang dilakukan beberapa ilmuwan di Wuhan, Tiongkok. Mereka memprediksi tanpa penanganan pemerintah, penyebaran Covid-19 baru usai akhir Agustus atau awal September dengan ratusan ribu kasus. Puncak pandemi diramal terjadi tanggal 4 Juni yakni 11.318 kasus baru.

    Berdasarkan penjelasan itu, prediksi puncak persebaran COVID-19 disebutkan bulannya, beberapa menyebutkan tanggalnya. Namun, semua prediksi itu tidak ada yang menyebutkan tanggal puncak persebaran wabah COVID-19 pada 4-18 April 2020.

    Selain itu, narasi yang beredar serupa dengan narasi isu sebelumnya mengenai puncak persebaran COVID-19 pada 23 Maret-4 April 2020. Isu tersebut sudah diperiksa faktanya dalam artikel periksa fakta berjudul “[SALAH] Larangan Keluar Rumah Karena Puncak Penyebaran Virus Corona.”

    Kesimpulan

    Atas dasar itu, maka pesan berantai Whatsapp tersebut berisikan informasi yang keliru. Oleh sebab itu, konten informasi dalam pesan berantai itu masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan