• (GFD-2020-4002) [SALAH] “KRN PEMERINTAHNYA NGEYEL & RAKYATNYA BANDEL AKHIRNYA INDONESIA DILOCKDOWN DUNIA”

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 26/05/2020

    Berita

    Beredar pesan berantai melalui Whatsapp yang menyatakan bahwa Indonesia di-lockdown dunia lantaran sikap Pemerintah Indonesia yang ngeyel dan kebandelan rakyatnya. Dalam pesan berantai tersebut tercantum beberapa negara yang diklaim melakukan pelarangan kepada WNI untuk masuk negaranya, yakni Singapura, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, serta Australia dan Selandia Baru.

    Berikut kutipan narasinya:

    “REZIM PLANGA PLONGO

    KRN PEMERINTAHNYA NGEYEL & RAKYATNYA BANDEL AKHIRNYA INDONESIA DILOCKDOWN DUNIA.

    Info Kedubes:

    1. SINGAPURA

    Kedutaan Singapura Jkt, Warga Negara Indonesia yang akan berkunjung ke Singapura, saat ini tidak di perbolehkan sampai batas waktu yang tidak di tentukan.

    (pengisian form kesehatan dll , saat ini di tangguhkan sampai ada kebijakan baru dari pemerintah Singapura).

    2. JEPANG

    Kedubes Jepang, Warga Negara Indonesia yang akan berkunjung ke Jepang, saat ini tidak di perbolehkan sampai dengan Awal Juni.

    (namun larangan ini akan di perpanjang atau tidak, tergantung kebijakan pemerintah Jepang)

    3. KOREA SELATAN

    Bagian Korea Visa Application Center (KVAC) Jakarta, menginformasikan Warga Negara Indonesia yang akan berkunjung ke Korea, saat ini tidak di perbolehkan sampai dengan batas waktu yang tidak di tentukan.

    4. TAIWAN

    Konsulat Taiwan Jakarta, Warga Negara Indonesia yang akan berkunjung ke Taiwan, saat ini tidak di perbolehkan sampai batas waktu yang tidak di tentukan

    5. HONGKONG

    Info dari CX, WNI tidak di perbolehkan transit ataupun masuk ke Hongkonh sampai batas waktu yang tidak di tentukan

    6. AUSTRALIA & NEW ZEALAND

    Info dari Kedubes Australia dan NZ Jkt, saat ini WNI Indonesia belum bisa berkunjung ke Australia & NZ sampai batas waktu yang tidak di tentukan.

    Mana lagi negara yg akan menyusul melockdown Indonesia ❓”

    Hasil Cek Fakta

    Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa pelarangan untuk masuk ke dalam negara-negara yang tercantum dalam pesan berantai tersebut tidak hanya khusus untuk Indonesia. Di Singapura, dilansir dari liputan6.com, Pemerintah Singapura memang sudah lama menolak kedatangan pendatang internasional short term akibat Virus Corona COVID-19. Ini tak hanya berlaku untuk WNI.

    "Ini ketentuan sudah lama dan masih berlaku. Kita sudah pernah sampaikan press release. Setiap negara (termasuk Indonesia) juga masih melarang kunjungan WNA, kecuali mereka sudah punya ijin tinggal di Indonesia," ucap Duta Besar RI di Singapura, Ngurah Swajaya.

    Lalu, untuk Jepang, negara tersebut melarang masuk warga asing kepada lebih dari 100 negara. Bukan hanya Indonesia, melainkan juga Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan hampir seluruh negara Eropa. Tempat wisata di Jepang pun juga banyak ditutup, seperti Menara Tokyo, Disneyland Tokyo, dan Istana Kekaisaran.

    Begitu juga Korea Selatan yang kini membatasi kedatangan warga negara dari berbagai negara, bukan hanya Indonesia. Dilansir dari liputan6.com, situs imigrasi Korea Selatan menjelaskan visa short-term C-1 dan C-3 yang dikeluarkan sebelum 5 April telah disuspens. Visa-free entry yang diberikan Korsel juga disuspens apabila negara itu menerapkan pelarangan masuk bagi Korsel, contohnya seperti yang terjadi dengan Jepang.

    Taiwan sudah melarang masuknya warga asing sejak Maret lalu, dan ini tak hanya berlaku bagi WNI saja.

    "Untuk sementara ini tidak semua orang Indonesia bisa masuk ke Taiwan, kecuali bagi yang dapat visa khusus baru bisa masuk," ucap pihak Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Jakarta kepada Liputan6.com.

    Hong Kong diketahui melarang semua orang yang bukan warga negaranya untuk masuk ke wilayahnya. Ada beberapa pengecualian, contohnya untuk suami atau istri warga Hong Kong, serta petugas diplomatik.

    Lalu, dilansir dari cnnindonesia.com, Mulai 20 Maret 2020 pemerintah Australia tidak lagi mengizinkan penduduk non-Australia masuk ke negara mereka, kecuali anggota keluarga langsung warga Australia. Warga Australia di luar negeri masih dapat kembali ke negara itu, tetapi akan dikenakan isolasi 14 hari pada saat kedatangan. Pada 18 Maret 2020, pemerintah Australia menerbitkan larangan perjalanan Level 4 yang berarti "jangan bepergian" sehingga tidak ada lagi kasus baru yang masuk.

    Dan, Selandia Baru diketahui melarang masuk pendatang kecuali warga negara, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengumumkan dalam konferensi pers pada hari Rabu (18/3). Larangan perjalanan juga berlaku bagi mereka yang datang dari Kepulauan Pasifik, yang sebelumnya telah dibebaskan dari pembatasan ini.

    Aturan ini juga mempengaruhi perjalanan penduduk antara Selandia Baru dan Australia, yang biasanya dapat melakukan perjalanan bolak-balik tanpa visa. "Yang bisa dimaklumi ialah perjalanan dari dan ke Samoa dan Tonga untuk urusan kemanusiaan," kata Ardern.

    Pasangan warga Selandia Baru, wali sah atau anak-anak tanggungan yang bepergian bersama mereka juga dapat pulang ke Negara Kiwi.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka klaim pesan berantai tersebut tidak benar. Oleh sebab itu, pesan berantai itu masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8099) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Tes PCR Tak Bisa Tunjukkan Jenis Virus Corona Covid-19?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 26/05/2020

    Berita


    Sebuah tulisan panjang yang menyebut bahwa tespolymerase chain reaction(PCR) tidak bisa menunjukkan jenis virus Corona Covid-19 viral di Facebook. Salah satu akun yang membagikan tulisan itu adalah akun Thiwy Yunus, yakni pada 23 Mei 2020. Akun ini mengklaim bahwa tulisan tersebut merupakan saduran. Namun, akun itu tidak menyebut sumber dari tulisan ini.
    Tulisan tersebut berisi sejumlah klaim. Klaim pertama, rapid test hanya bisa mengecek antibodi di dalam tubuh seseorang, bukan mengecek virus. "Jika antibodi muncul/reaktif dianggap ada virus atau bakteri.. Tapi gak tau itu virus/bakteri apa.. Itu sudah dianggap hasilnya positif. Orang flu kalo ikut rapid tes hasilnya kemungkinan positif karena antibodinya muncul.. Jadi hasil rapid tes positif blm tentu kena Corona."
    Klaim kedua, tes PCR juga hanya bisa mendeteksi keberadaan virus, tapi tidak bisa menentukan jenis virus yang diidap seseorang serta membedakan virus yang masih hidup dan yang sudah mati akibat sudah dibunuh oleh antibodi di dalam tubuh. "Tes PCR akan memberikan hasil positif jika ada virus, entah itu virus hidup atau virus mati," demikian bunyi klaim kedua.
    Adapun klaim ketiga, tidak ada kasus kematian yang murni diakibatkan oleh virus Corona. "Disebabkan krn terlalu bnyk bermacam2 virus yg ada dlm tubuh shg antibodi kalah dan tidak mampu kalahkan virus yg terlalu bnyk dan bermacam2 itu.. Jika ada ribuan yg meninggal itu menunjukkan sebelum adanya Covid-19 banyak ribuan org sdh terjangkit virus.. Sehingga ketika kena covid kondisi semakin parah.. antibodi gak ngatasi lagi.."
    Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 1.500 kali, dikomentari lebih dari 400 kali, dan disukai lebih dari 500 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Thiwy Yunus.
    Artikel cek fakta ini akan berisi pemeriksaan terhadap dua klaim:

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi dua klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mewawancarai Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Berry Juliandi, dan melakukan riset terhadap berbagai artikel di situs-situs kredibel.
    Menurut Berry, klaim bahwa rapid test tidak bisa menentukan Covid-19 keliru. Rapid test yang dipakai dalam skrining Covid-19 sudah didesain untuk mengenali antibodi yang dikeluarkan tubuh saat virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, menginfeksi. “Rapid test itu menggunakan suatu bahan kimia yang khusus mengenali antibodi SARS-CoV-2,” kata Berry saat dihubungi pada 26 Mei 2020.
    Antibodi merupakan reaksi alami tubuh apabila terdapat protein asing yang masuk. Tubuh mengeluarkan antibodi sesuai jenis protein asing yang masuk. Karena itu, kata Berry, antibodi untuk SAR-CoV-2 akan berbeda dengan antibodi untuk virus flu biasa atau untuk bakteri. "Apakah bisa mengenali virus apapun, itu salah, karena dia dikembangkan untuk mengenali antibodi untuk SARS-CoV-2," katanya.
    Meskipun begitu, akurasi hasil pengujian dengan rapid test memang lebih rendah. Sebab, tes ini sangat bergantung pada jumlah antibodi yang dikeluarkan tubuh saat terjadinya infeksi SARS-CoV-2. Apabila antibodi yang dikeluarkan sedikit, yang dipengaruhi oleh genetika seseorang, hasil rapid test bisa menjadi negatif.
    Faktor kedua, rendahnya antibodi sangat bergantung pada durasi waktu sejak seseorang pertama kali terinfeksi. Seseorang yang baru terinfeksi, antibodinya masih rendah. “Sehingga, saat rapid test, hasilnya negatif. Padahal, sebenarnya, dia sudah positif Covid-19,” kata Berry.
    Karena itu, waktu terbaik untuk melakukan rapid test minimal pada hari ke-7 setelah terinfeksi dan seterusnya, saat jumlah antibodi cukup banyak. Namun, kendalanya, tidak diketahui kapan seseorang mulai terinfeksi SARS-CoV-2. Sehingga, menurut Berry, rapid test lebih tepat digunakan hanya sebagai penapisan atau skrining orang-orang yang pernah terinfeksi.
    Terkait klaim kedua, bahwa tes PCR tidak bisa menunjukkan jenis virus yang diidap seseorang serta membedakan virus yang masih hidup dan yang sudah mati, juga keliru. Menurut Berry, tes Covid-19 yang paling akurat adalah dengan PCR.
    Berry menjelaskan bahwa tes PCR Covid-19 sudah dikembangkan untuk mendeteksi SARS-CoV-2 yang diambil dari lendir di saluran pernapasan. Dalam PCR ini, terdapat materi genetik sintetik atau primer yang hanya bisa menempel pada urutan materi genetik SARS-CoV-2. “Jadi, kalau ada virus lain pada lendir, tidak akan bisa dideteksi oleh primer yang khusus dirancang untuk menempel pada SARS-CoV-2,” katanya.
    Klaim bahwa PCR tidak bisa mendeteksi virus yang masih hidup atau yang sudah mati pun keliru. Sebab, virus sebenarnya adalah benda mati yang hanya bisa aktif apabila masuk ke dalam sel makhluk hidup.
    Menurut Berry, kelebihan tes PCR tersebut menjadikan tes ini lebih akurat ketimbang rapid test. Tes PCR bisa mendeteksi keberadaan SARS-CoV-2 tanpa harus menunggu munculnya antibodi seperti rapid test. “Meskipun virusnya sedikit, bisa langsung dideteksi. Atau, meski 1 detik lalu terinfeksi, juga bisa langsung dideteksi dengan PCR,” kata Berry.
    Sementara terkait klaim bahwa tidak ada kasus kematian yang murni diakibatkan oleh virus Corona, Tempo telah memverifikasinya dalam artikel di tautan ini. Menurut para ahli, pasien yang meninggal karena Covid-19 bukan saja mereka yang memiliki penyakit penyerta dan berusia tua, melainkan juga kelompok usia muda dan tanpa penyakit penyerta.
    WHO rekomendasikan PCR
    Dikutip dari LiveScience, tes PCR bekerja dengan mendeteksi bahan genetik spesifik dalam virus. Tergantung pada jenis PCR yang dipakai, petugas kesehatan mengambil sampel liur dari bagian belakang tenggorokan atau dari saluran pernapasan bawah, dan bisa juga menggunakan sampel tinja.
    Begitu sampel tiba di laboratorium, peneliti akan mengekstrak asam nukleatnya, yang menyimpan genom virus. Kemudian, peneliti dapat memperkuat daerah genom tertentu dengan teknik yang dikenal sebagai transkripsi terbalik PCR. Hal ini, pada dasarnya, memberikan peneliti sebuah sampel yang lebih besar yang dapat mereka bandingkan dengan SARS-CoV-2.
    Dilansir dari The Conversation, tes PCR pun telah direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) selama pandemi Covid-19. Sedangkan rapid test yang menguji antibodi belum sepenuhnya dapat diandalkan.
    Pada 7 April 2020, WHO telah mendaftarkan dua tes diagnostik pertama untuk penggunaan darurat selama pandemi Covid-19. Kedua diagnosain vitroitu adalahgenesig Real-Time PCR Coronavirus (Covid-19)dancobas SARS-CoV-2 Qualitative assay for use on the cobas 6800/8800 Systems.
    Genesig Real-Time PCR Coronavirus (Primerdesign, Inggris) adalah sistem terbuka yang lebih cocok untuk laboratorium dengan kapasitas pengujian sampel sedang. Adapuncobas SARS-CoV-2 for use on the cobas 6800/8800 Systems(Roche, Amerika Serikat) adalah uji sistem tertutup untuk laboratorium yang lebih besar.
    Mariangela Simao, Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Produk Obat-obatan dan Kesehatan mengatakan, "Daftar penggunaan darurat produk-produk ini akan memungkinkan negara-negara di dunia untuk meningkatkan pengujian dengan diagnostik yang terjamin kualitasnya. Memfasilitasi akses terhadap tes yang akurat sangat penting bagi mereka untuk mengatasi pandemi dengan alat terbaik yang ada."

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa tes PCR tidak bisa menunjukkan jenis virus yang diidap seseorang serta membedakan virus yang masih hidup dan yang sudah mati, keliru. Begitu pula dengan klaim bahwa rapid test tidak bisa mengenali virus Corona Covid-19, yang juga keliru. Rapid test yang digunakan saat ini telah dikembangkan untuk mengenali antibodi yang dikeluarkan tubuh apabila terdapat infeksi Covid-19, meskipun tingkat akurasinya lemah. Sedangkan tes PCR dengan akurasi yang lebih tinggi digunakan untuk mengetahui keberadaan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-4001) [SALAH] Voucher Dua Pizza Besar Domino’s Pizza Selama Masa Pandemi Corona

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 25/05/2020

    Berita

    Beredar pesan berantai di Whatsapp yang menyebutkan Domino’s Pizza membagikan voucehr dua pizza besar gratis selama masa pandemi virus Corona atau Covid-19. Saat tautan di dalam pesan itu dibuka diarahkan kepada sebuah survei.

    Berikut kutipan narasinya:

    “Dominos is giving away 2 FREE Large Pizzas per family to everyone this week to support the nation during Corona Pandemic. Click here to get: http://www[dot]dominos.com[dot]2pizza[dot]club”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa Domino’s Pizza tidak pernah mengeluarkan program voucher semacam itu. Adapun, klaim perusaan pizza asal Amerika Serikat itu membagi-bagikan voucher sudah beredar sejak April 2020 di media sosial Facebook.

    Ketika membuka tautan yang disertakan dalam pesan berantai itu, tautan akan mengarahkan kepada sebuah survei. Menurut hasil temuan snopes.com, ketika menyelesaikan survei tersebut maka tidak ada voucher atau kupon yang diterima. Adapun, survei tersebut ditengarai berpotensi berbahaya sebab dapat disalahgunakan sebagai metode informasi personal dari mereka yang membuka tautan dan mengisi surveinya.

    Lalu, melalui pencarian di laman resmi Domino’s Pizza, tidak ditemukan program voucher dua pizza besar khusus untuk masa-masa pandemi Covid-19. Selain itu, untuk laman resmi milik Domino’s Pizza di Indonesia beralamatkan di dominos.co.id dan untuk alamat laman di Amerika Serikat ialah biz.dominos.com.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut maka konten yang tersebar melalui pesan berantai Whatsapp tidak benar. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk kategori Fabricated Content atau Konten Palsu.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4726) [SALAH] Video “TAKBIRAN IDUL FITRI 2020 DI ACEH”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 24/05/2020

    Berita

    “TAKBIRAN IDUL FITRI 2020 DI ACEH”

    Hasil Cek Fakta

    Masyarakat dikejutkan dengan sebuah unggahan yang berisi video melalui media sosial Facebook, perihal dengan perayaan takbiran jelang hari raya Idul Fitri 2020 di Aceh. Video tersebut diunggah oleh akun Facebook @KajianIslam pada 23 Mei 2020 pukul 21.35 WIB. Hingga saat ini, video tersebut telah disukai lebih dari 1,5 ribu kali dan mendapat 158 komentar oleh sesama pengguna Facebook lainnya.

    Namun setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, faktanya diketahui bahwa video tersebut bukanlah terjadi pada tahun seperti yang disebutkan oleh akun @KajianIslam. Mencari dengan menggunakan kata kunci serupa melalui situs web berbagi video Youtube, diketahui bahwa video serupa pernah diunggah oleh akun d’K4PT3N_channel pada 5 Juni 2019 dengan judul “Pawai takbiran Idul Fitri keliling Kota Banda Aceh”.

    Sementara melansir dari tribunnews.com, saat itu pawai takbir hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah dilepas langsung oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dengan diiringi pemukulan beduk. Tak hanya Plt Gubernur, acara juga turut dihadiri oleh Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman dan Ketua DPRA, Sulaiman. Acara takbir keliling saat itu diikuti oleh satu kelompok yang terdiri dari peserta obor sebanyak 30 hingga 40 orang dan beberapa mobil hias.

    Unggahan akun Facebook @KajianIslam perihal takbir keliling di Aceh pada tahun 2020 adalah tidak sesuai dengan fakta alias hoaks. Unggahan tersebut masuk ke dalam kategori false context. False context sendiri merupakan sebuah konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Biasanya, false context memuat pernyataan, foto, atau video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu tempat, namun secara konteks yang ditulis tidak sesuai dengan fakta yang ada.

    Kesimpulan

    Melalui media sosial Facebook, beredar video dengan klaim bahwa video tersebut merupakan perayaan takbiran menjelang hari raya Idul Fitri 2020 di Aceh. Namun pasca dilakukan penelusuran lebih lanjut dengan menggunakan beberapa kata kunci yang berhubungan, klaim yang diunggah bersamaan dengan video tersebut adalah tidak sesuai dengan fakta.

    Rujukan