• (GFD-2020-4023) [SALAH] Pembatasan Sosial Jakarta-Bandung Sudah Tidak Diterapkan Lagi

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 29/05/2020

    Berita

    Beredar unggahan video melalui Facebook dengan narasi bahwa tol Jakarta-Bandung sudah tidak melakukan pembatasan sosial. Berikut kutipan narasinya:

    “TIDAK ADA LOCKDOWN, TIDAK ADA MASKER, LALU LINTAS TOL BANDUNG JAKARTA, JAKARTA-BANDUNG”

    bandung lockdown

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, informasi mengenai Jakarta-Bandung sudah tidak melakukan pembatasan sosial tidak ditemukan. Artikel terkait mengenai Jakarta dan Bandung memperpanjang masa PSBB dari katadata.co.id dalam artikel berita “Jakarta & Bandung Perpanjang PSBB hingga Usai Lebaran, Kapan Berakhir?” tayang pada 20 Mei 2020.

    Melansir dari katadata.co.id, pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi melanjutkan penerapan PSBB hingga 4 Juni mendatang. Dengan demikian, ibu kota resmi memasuki PSBB tahap ketiga. Sebelumnya, DKI Jakarta mulai menerapkan PSBB tahap pertama pada 10 April dan seharusnya berakhir pada 23 April, lalu diperpanjang hingga 22 Mei sebagai PSBB tahap kedua.

    Selain Jakarta, Kota Bandung yang mulanya melakukan PSBB pada 22 April hingga 15 Mei diperpanjang hingga 29 Mei 2020.

    Dalam penelusuran lain, melansir dari liputan6.com, Achmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 menegaskan, hingga saat ini pemerintah tak melakukan relaksasi dalam kegiatan Pembatasan Sosial Berskala Besar.

    “Pemerintah sampai dengan saat ini tidak melakukan relaksasi sedikit pun terkait dengan kegiatan-kegiatan PSBB,” kata Yurianto.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, informasi mengenai pembatasan sosial sudah tidak diterapkan lagi di Jakarta-Bandung tidak benar, unggahan tersebut masuk dalam Misleading Content/Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4005) [SALAH] Video “Cina RRC menyusup masuk melalui Bandara Banyuwangi. Ketahuan dan ditangkap”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 28/05/2020

    Berita

    Akun Lowo Ijo membagikan sebuah video yang diklaim sebagai TKA asal China tertangkap saat berusaha menyusup melalui Bandara Banyuwangi. Berikut kutipan narasinya:

    “Cina RRC menyusup masuk melalui Bandara Banyuwangi. Ketahuan dan ditangkap. ????????????✊????”

    Hasil Cek Fakta

    Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa TKA asal China itu bukan berupaya menyusup. Hal itu diketahui melalui penelusuran video mengarahkan kepada video berjudul “TKA China Menolak Pulang, Tuntut Gajinya Dibayarkan Perusahaan di Bandara Banyuwangi” di kanal Youtube Tribun Timur yang tayang pada 26 Mei 2020.

    TKA bernama Cui Changqing tersebut diketahui menolak untuk dipulangkan setelah kontrak kerjanya selesai. Ia sempat mengamuk dan menetap di Bandara Banyuwangi lantaran merasa upahnya belum dibayar oleh perusahaan yang mempekerjakannya, yakni PT Sinoma Engineering.

    Cui diketahui sempat merusak fasilitas milik Bandara Banyuwangi. Dilansir dari kumparan.com, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Arman Asmara Syarifuddin mengaku telah mengamankan Mr Cui Changqing. Kini, aparat kepolisian juga tengah melakukan penyidikan.

    Diketahui pula, dilansir dari detik.com, Cui merasa gajinya sudah diterima agen yang memberangkatkannya sebagai TKA. Dirinya menuntut gajinya di agen diserahkan terlebih dahulu kepada dirinya.

    Pada saat negosiasi dia minta 10 ribu RMB. Itu pun langsung disanggupi oleh agen dan perusahaan, sehingga dirinya mau keluar dari kolong bus. Namun, setelah itu, Cui kembali marah-marah tak jelas. Menurut translator, dirinya meminta uang tambahan 12.100 RMB," ujar Kombes Pol Arman.

    Negosiasi alot terjadi hingga tengah malam. Cui tidak mau negosiasi dengan translator dan pihak agen serta perusahaan. Hingga akhirnya polisi memanggil penerjemah dari Banyuwangi. Setelah negosiasi, akhirnya agen dan perusahaan menyanggupi penambahan uang 12.100 RMB tersebut. Uang itu kemudian di transfer ke rekening pribadinya.

    "Namun, lantaran tidak ada keterangan gaji di rekening yang sudah ditransfer, Cui tidak mau mengakui jika itu dari agen dan perusahaan. Tapi dia mengakui ada uang masuk sebesar 12.100 RMB," tambahnya.

    Hingga akhirnya, Cui kembali meminta uang gaji itu. Sampai saat ini pun permintaan Cui tak digubris oleh agen dan perusahaannya.

    "Saat ini kami masih melakukan koordinasi dengan Imigrasi. Nanti juga kita tembusi Kedutaan Besar China terkait masalah ini. Ini juga permintaan dari TKA itu," tambahnya.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, klaim bahwa ada TKA China menyusup ke Bandara Banyuwangi dan tertangkap tidak benar. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8103) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Tocilizumab adalah Obat yang 90 Persen Bisa Sembuhkan Covid-19 Meski Pasien Kritis?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/05/2020

    Berita


    Klaim bahwa para ilmuwan telah menemukan obat baru yang 90 persen bisa menyembuhkan infeksi virus Corona Covid-19, meskipun pasien dalam kondisi kritis, beredar di media sosial. Menurut klaim itu, obat tersebut adalah Tocilizumab, dengan nama dagang Actemra.
    Di Facebook, klaim itu dibagikan salah satunya oleh akun Teng Teng, yakni pada 30 Maret 2020. Klaim tersebut berasal dari artikel di situs Goodmothers.raulaz.com yang berjudul "Alhamdulillah,Ilmuan Temukan Obat Baru Untuk Virus C0R0NA, Sembuhkan 90% Meski Kondisi Pasien Kritis".
    Artikel yang terbit pada 28 Maret 2020 ini menyebut bahwa sumber dari informasi itu adalah Tribunnewswiki.com. Menurut artikel tersebut, Tocilizumab diproduksi oleh perusahaan farmasi Swiss Roche dan biasanya digunakan untuk mengobati radang sendi.
    Dalam artikel itu, disebutkan pula bahwa uji coba pertama obat tersebut hasilnya efektif. Terdapat pasien Covid-19 di dua rumah sakit di Anhui, Cina, yang kondisinya kritis. Mereka pun diberi Tocilizumab secara rutin pada 5-14 Februari 2020. Keduanya diklaim bisa disembuhkan. Lima belas dari 20 pasien yang terlibat dalam percobaan obat itu juga dapat menurunkan asupan oksigen.
    Uji coba obat ini menyimpulkan, "Tocilizumab adalah pengobatan yang efektif pada pasien Covid-19 yang parah." Di Cina, penelitian terkait obat tersebut masih terus berjalan. Dalam uji klinis, obat itu sudah diujicobakan pada 188 pasien dan terus berjalan hingga 10 Mei 2020. Perusahaan bioteknologi Amerika Serikat, Genetech, juga menguji coba obat ini, apakah bisa digunakan di AS.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Teng Teng.
    Apa benar Tocilizumab adalah obat yang 90 persen bisa menyembuhkan infeksi virus Corona Covid-19 meskipun pasien dalam kondisi kritis?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo memeriksa pemberitaan di media-media kredibel serta penelitian di berbagai jurnal ilmiah mengenai penggunaan Tocilizumab atau Actemra untuk menyembuhkan pasien Covid-19.
    Dilansir dari FiercePharma, pada akhir Februari 2020, ilmuwan di Akademi Ilmu Pengetahuan Cina memang menemukan hasil yang menjanjikan pada 14 pasien Covid-19 yang parah dan kritis yang dirawat dengan obat-obatan yang tersedia, termasuk Actemra, di rumah sakit yang berafiliasi dengan Universitas Sains dan Teknologi Cina (USTC).
    Para ilmuwan di sana telah memulai uji klinis acak untuk mengevaluasi pengaplikasian obat tersebut. Berdasarkan laporan Regitrasi Uji Klinis Cina, para ilmuwan tersebut mendaftarkan 188 pasien, yang setengahnya menggunakan Actemra.
    Meskipun begitu, Actemra tidak secara langsung membunuh virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2. Actemra berfungsi menghambat reseptor interleukin 6 (IL-6), sebuah sitokin proinflamasi. Ilmuwan USTC dan kelompok penelitian lain menduga IL-6 adalah penyebab utama dalam reaksi berlebihan kekebalan tubuh atau badai sitokin pada pasien Covid-19.
    Saat terjangkit Covid-19, tubuh dapat merespons patogen dengan memproduksi sel-sel kekebalan secara berlebihan dalam sebuah fenomena berbahaya yang disebut badai sitokin. Peradangan paru-paru serupa terjadi pada pasien SARS selama wabah di tahun 2003, terutama di Cina. Pada awal Maret 2020, otoritas Cina merekomendasikan penggunaan Actemra terbatas bagi pasien Covid-19 yang mengalami badai sitokin yang berpotensi merusak jaringan paru-paru.
    Di AS, Tocilizumab juga sedang diuji klinis kepada pasien Covid-19. Pada akhir April 2020, uji klinis oleh University of California (UC) San Diego Health ini telah memasuki fase ketiga. Uji klinis tersebut bertujuan untuk menilai apakah obat itu dapat digunakan sebagai terapi bagi pasien Covid-19 yang memiliki kerusakan paru-paru serius.
    Pada uji klinis ketiga ini, UC San Diego Health melakukan percobaan intervensi acak dengan mendaftarkan sekitar 330 peserta di hampir 70 lokasi di seluruh dunia. Peserta harus berusia 18 tahun ke atas dan dirawat di rumah sakit dengan diagnosis pneumonia Covid-19. Studi ini diperkirakan selesai pada 30 September 2020.
    Namun, menurut penelitian lain yang diterbitkan pada 22 Mei 2020 di European Journal of Internal Medicine berjudul "Efficacy and safety of tocilizumab in severe Covid-19 patients: a single-centre retrospective cohort study", tidak terdapat peningkatan klinis dan kematian yang signifikan secara statistik antara pasien dengan pengobatan Tocilizumab dan pasien dengan perawatan standar.
    Penelitian yang dilakukan terhadap 65 pasien ini, yang 32 di antaranya dirawat dengan Tocilizumab, juga mencatat infeksi bakteri atau jamur pada 13 persen pasien dengan Tocilizumab serta pada 12 persen pasien perawatan standar. "Konfirmasi kemanjuran dan keamanan membutuhkan uji coba terkontrol yang berkelanjutan," demikian kesimpulan dalam studi tersebut.
    Menurut dokumen Penilaian Bukti untuk Perawatan Terkait Covid-19 yang diterbitkan oleh ASHP (American Society of Health-System Pharmacists) Advancing Healthcare, penggunaan Tocilizumab di Cina memang menjanjikan. Tapi, di Italia, dua dari enam (33 persen) pasien Covid-19 yang memiliki pneumonia dan dirawat dengan Tocilizumab meninggal.
    Mengutip panel National Institutes of Health dalam panduan perawatan Covid-19, tidak terdapat data klinis yang cukup untuk merekomendasikan atau menentang penggunaan Tocilizumab sebagai pengobatan Covid-19. Peran pengukuran sitokin rutin dalam menentukan tingkat keparahan dan pengobatan Covid-19 masih membutuhkan studi lebih lanjut.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa Tocilizumab adalah obat yang 90 persen bisa menyembuhkan infeksi virus Corona Covid-19 meskipun pasien dalam kondisi kritis belum bisa dibuktikan. Penelitian mengenai efektivitas obat nyeri sendi ini dalam perawatan pasien Covid-19 masih dilakukan oleh sejumlah ilmuwan, baik di Cina maupun di AS.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8104) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pesan Berantai Soal Virus Hanya Bisa Dikalahkan Antibodi Ini Berasal dari Dekan IPB?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/05/2020

    Berita


    Pesan berantai yang diklaim bersumber dari Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor (FMIPA IPB), Sri Nurdiati, beredar di media sosial. Pesan berantai yang beredar di tengah pandemi Covid-19 ini memuat narasi bahwa virus hanya bisa dikalahkan oleh antibodi.
    Berikut ini isi lengkap pesan berantai tersebut:
    "Inilah nasihat pakar yg benar. Memberikan pencerahan dan harapan, tidak menakut-nakuti tapi menguatkan.
    sumber:DR. Ir. Hj. Sri Nurdiati (Dekan FMIPA IPB dan Dosen Biokimia IPB):
    Banyak orang nggak sadar pentingnya "ANTIBODI" stoknya harus selalu ada. Orang lebih panik masker atau hand sanitizer hilang di pasaran. Harusnya kita lebih panik kalau "ANTIBODI" hilang di tubuh, karena virus tidak mungkin dihindari.
    Point penting dari diskusi:1. Virus itu hanya bisa dikalahkan oleh "ANTIBODI"2. "Antibodi" yg di dlm tubuh itu kyk pabrik, kadang banyak kadang sedikit.3. Supaya produksi "anti bodi" banyak, sering konsumsi vitamin C dan E setiap hari serta berjemur Sinar Matahari Pagi.`Jangan remehkan pentingnya Olahraga rutin.4. Virus itu ngga mungkin dihindari, jadi pasti selalu ada, contohnya kalau bersin, bisa dipastikan ada virus disitu. Bersin indikasi tubuh menolak.5. Kalau berhasil tembus ke hidung dekat tenggorokan, tubuh akan batuk, tanda menolak.6. Kalau masih tembus juga, baru demam. Kalau masih tembus juga, barulah "antibodi" keluar dr pabrik utk melawan perang dgn virus.7. Kelemahan virus itu sm sabun. Kalau ngga ada hands sanitizer, pake sabun apa saja bisa bahkan sabun cuci piring jg bisa. Dlm 3-5 menit, virus akan mati sama sabun.8. Selama 14 hari "antibodi" kita akan merekam virus ini dan disimpan dlm sel memori di otak.9. Jadi kalau kita sembuh dan suatu saat kena corona lagi, sel memori ini akan aktif dlm 24 jam (ngga perlu menunggu 14 hari lagi).
    Jadi, mari kita lebih fokus ke dalam tubuh dgn meyakinkan "STOCK ANTIBODI" cukup alias vitamin C/E rutin dikonsumsi dan Berjemur Sinar Matahari yg paling mudah.
    Catatan tambahan dari Redaksi:Sumber vitamin C dan E terdapat pada Buah2an, kacang2an dan sayur2an, antara lain:Jeruk Manis/nipisTomat, Buah NagaJambu Biji, ManggaKacang Tanah, MaduKacang Hijau, BayamJahe dan rempah2Pucuk MelinjoPucuk Kates
    Semoga bermanfaat untk kita semua & masyarakat...Terus semangat berusaha melawan Virus Covid 19 & jangan lupa selalu berdoa kepada Tuhan agar di beri kesehatan,kekuatan,dan keselamatan kita sekeluarga, segenap bangsa Indonesia."
    Gambar tangkapan layar pesan berantai tentang virus dan antibodi yang beredar di WhatsApp yang diklaim bersumber dari salah satu dekan IPB.
    Apa benar pesan berantai di atas bersumber dari Dekan FMIPA IPB, Sri Nurdiati?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo dengan plagiarism checker tool, pesan berantai yang identik telah beredar sebelumnya di media sosial pada pertengahan April 2020. Di Facebook, sebagian isi pesan tersebut diunggah oleh akun Jobs in Indonesia. Akun ini menulis bahwa informasi itu berasal dari situs Beritanow.com.
    Dalam artikelnya pada 16 April 2020 yang berjudul "Banyak Yang Tidak Tahu: Ini Rahasia Imunitas Tubuh", situs Beritanow.com memang memuat pesan berantai yang isinya sama dengan pesan berantai yang beredar saat ini.
    Namun, dilansir dari situs resmi IPB, Sri Nurdiati membantah bahwa ia pernah menulis pesan berantai itu. "Bukan saya yang menulisnya. Akibatnya, saya harus mengklarifikasi pertanyaan yang datang bertubi-tubi ke saya, bahwa itu bukan tulisan saya," kata Sri pada 20 April 2020.
    Meskipun begitu, Sri menyatakan bahwa pesan berantai itu berisi informasi yang positif, tentang bagaimana memperkuat antibodi di dalam tubuh manusia. "Namun sayang, artikel itu mencantumkan nama saya, lengkap dengan jabatan dan institusi saya," ujarnya.
    Dalam pernyataan itu, Sri juga menambahkan tips tentang bagaimana menjaga hidup agar tetap sehar di tengah pandemi Covid-19. Beberapa di antaranya adalah stay at home, menerapkan social distancing, menggunakan masker, rajin mencuci tangan, istirahat dan olahraga yang cukup, makan makanan sehat dan bergizi, serta mengkonsumi vitamin dan mineral.
    Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo pada 19 Februari 2020, dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Iris Rengganis, mengatakan bakteri dan virus, termasuk virus Corona Covid-19, memang rentan masuk saat daya tahan atau imunitas tubuh melemah.
    Menurut Iris, imunitas tubuh bisa dijaga dan diperbaiki dengan pola hidup sehat, yakni konsumsi makanan bernutrisi, beraktivitas fisik secara rutin, tidur yang cukup, dan rajin minum air putih untuk mendetoksifikasi racun. "Kurang tidur dan stres bisa memicu turunnya imunitas tubuh yang otomatis menurunkan kualitas antibodi," tuturnya.
    Imunitas bukan satu-satunya kunci melawan pandemi
    Peneliti epidemiologi Eijkman-Oxford Clinical Research Unit, Henry Surendra, mengatakan, secara epidemiologi, pandemi bisa dikendalikan dengan tiga cara, yaitu menghilangkan atau mengurangi sumber infeksi, memutus rantai penularan, dan melindungi kelompok populasi yang berisiko terinfeksi. “Aspek imunitas individu ataupunherd immunity(imunitas kawanan) masuk ke dalam salah satu upaya melindungi populasi berisiko,” kata Henry kepada Tim CekFakta Tempo  pada 13 Mei 2020.
    Namun, imunitas sendiri cukup kompleks dan spesifik. Untuk mencegah penularan pada level individu saat pandemi Covid-19, jalannya adalah melalui vaksinasi. Tapi, sampai saat ini, belum ada vaksin untuk memberikan imunitas pada seseorang dalam melawan virus penyebab Covid-19, SARS-CoV-2.
    Vaksinasi juga sangat bermanfaat untuk mencegah penularan pada level populasi, yakni dengan memvaksin sebagian besar populasi. Untuk Covid-19, diperkirakan memerlukan 70 persen populasi yang divaksin agar tercapaiherd immunity.Peningkatan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi atau suplemen tidak serta-merta bisa membuat seseorang terhindar dari penyakit ketika terpapar virus Corona. “Tentu ini keliru,” kata Henry.
    Tanpa vaksin, menurut Henry, seseorang yang terpapar virus Corona bakal terinfeksi. Pasca infeksi, kondisi tubuh kemungkinan bisa membantu mempercepat respons terhadap virus dengan cara memproduksi antibodi. Karena belum ada vaksin untuk Covid-19 dan pandemi memerlukan respons cepat, tindakan yang paling tepat adalah memutus rantai penularan dengan menjaga jarak aman, rajin mencuci tangan, menggunakan masker, dan sebagainya.
    Aspek psikologi pun berperan. Sebab, saat seseorang khawatir berlebihan, kesehatan mentalnya dapat terganggu, kemudian mengakibatkan daya tahan tubuh menurun. Namun, Henry mengingatkan bahwa aspek psikologi hanya satu dari sekian banyak aspek dalam pandemi. “Untuk saat ini, upaya-upaya memutus rantai penularanlah yang paling signifikan dampaknya dalam penanggulangan pandemi,” kata Henry.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, pesan berantai soal virus hanya bisa dikalahkan oleh antibodi di atas bukan berasal dari Dekan FMIPA IPB, Sri Nurdiati. Dalam pernyataan tertulisnya, Sri menjelaskan bahwa ia tidak pernah membuat pesan berantai tersebut.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekf akta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan