• (GFD-2020-4843) [SALAH] Foto “Italia. Tidak ada lagi ruang yang tersedia di rumah sakit. #CoronavirusLockdown”

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 28/03/2020

    Berita

    “Ini dari Italia. Tidak ada lagi ruang yang tersedia di rumah sakit. Tolong jangan keluar dari rumah Anda untuk 14 hari ke depan. #CoronavirusLockdown”.

    (“This is from Italy. No more spaces are available in hospitals. Please do not step out of your homes for next 14 days. #CoronavirusLockdown”.)

    Hasil Cek Fakta

    SUMBER membagikan foto-foto korban gempa bumi yang terjadi di Zagreb, Kroasia. SUMBER menambahkan narasi yang salah yang menyebabkan kesimpulan keliru.

    EcoWatch: “Gempa bumi berkekuatan 5,4 skala Richter melanda Zagreb, Kroasia pagi ini – yang terkuat dalam 140 tahun! Hatiku hancur melihat rumah sakit dievakuasi seperti ini selama #coronavirus dengan pasien dan ibu dengan bayi mereka yang baru lahir kedinginan”

    INDEPENDENT: “Setidaknya 17 orang terluka setelah gempa berkekuatan 5,3 skala Richter melanda ibukota Zagreb
    Bayi yang baru lahir harus dievakuasi dari rumah sakit bersalin setelah gempa kuat mengguncang Kroasia selama penguncian sebagian coronavirus .Gempa berkekuatan 5,3 skala Richter – terbesar yang menghantam ibu kota Zagreb dalam 140 tahun – menyebabkan sedikitnya 17 orang terluka dan menyebabkan kerusakan luas pada bangunan. Seorang gadis berusia 15 tahun berada dalam kondisi kritis, menurut pihak berwenang.”

    Kesimpulan

    BUKAN di Italia, lokasi yang benar dari foto-foto yang dibagikan adalah Zagreb (Kroasia).

    Rujukan

  • (GFD-2020-4844) [SALAH] “salah satu solusi untuk virus ini adalah secangkir teh sederhana”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 28/03/2020

    Berita

    Akun Agusta Ita (fb.com/agusta.ita) mengunggah sebuah postingan berisi klaim sebagai berikut:

    “_ *Breaking News dari Xinhua* _
    * Dr. Li Wenliang *, Dokter pahlawan Tiongkok yg dihukum karena mengatakan yg sebenarnya tentang Virus Corona dan kemudian meninggal karena penyakit yg sama, telah mendokumentasikan kasusfile untuk tujuan penelitian dan dalam kasusfile mengusulkan penyembuhan yg secara signifikan akan mengurangi dampak COVID – 19 Virus pada tubuh manusia.
    _Bahan kimia *Methylxanthine*, *Theobromine* dan *Theophylline* merangsang senyawa yang dapat menangkal virus ini pada manusia dengan minimal sistem kekebalan rata-rata._
    Apa yang lebih mengejutkan adalah bahwa kata-kata rumit Bahan Kimia yang begitu sulit bagi orang-orang di China untuk mengerti sebenarnya adalah *_Seduhan Teh Panas_* yg dikonsumsi oleh Orang China dan India.
    _YA, Teh reguler kami memiliki semua bahan kimia ini di dalamnya, Methylxanthine utama dalam teh adalah kafein stimulan, Methylxanthines lain yang ditemukan dalam teh adalah dua senyawa yang secara kimiawi serupa, Theobromine dan Theophilin._
    Pabrik teh secara otomatis telah menciptakan bahan kimia ini sebagai cara untuk mengusir serangga dan hewan lainnya.
    _Siapa yang tahu bahwa salah satu solusi untuk virus ini adalah secangkir teh sederhana. dan itulah alasan mengapa begitu banyak pasien di China lebih cepat disembuhkan. Staf rumah sakit di Cina telah mulai menyajikan Teh Panas kepada pasien 3 kali sehari, Dan efeknya akhirnya di *Wuhan* “Pusat Pandemi ini” telah terkandung dan penularannya hampir berhenti._
    *_Silakan bagikan pesan ini kepada teman dan keluarga Anda untuk membuat mereka mengetahui tentang berkah ini dalam bentuk TEH di dapur, Sesering mungkin minum Teh Panas, akan menolong Anda._*”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa minum teh dapat membantu mengurangi dampak COVID-19 pada tubuh manusia adalah klaim yang tidak ada bukti ilmiah.

    Selain itu, tidak ditemukan situs kredibel yang menulis tentang dokter Li Wenliang ataupun rumah sakit di Cina yang menggunakan teh panas untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi virus Corona Covid-19.

    Sebaliknya, beberapa media telah menerbitkan artikel bantahan atas pesan berantai yang juga viral di sejumlah negara itu, seperti India dan Singapura.

    Dikutip dari China Daily, pada akhir Februari 2020, beredar sebuah artikel yang mengklaim bahwa minum teh dapat membantu mencegah infeksi virus Corona Covid-19. Menurut artikel itu, para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Zhejiang, Cina, dalam sebuah percobaan dengan sel yang dikultur secara in vitro, menemukan bahwa teh, yang kaya polifenol, bekerja dengan baik dalam membunuh virus tersebut secara ekstraseluler dan menekan proliferasi intraselulernya.

    Namun, hal itu dibantah oleh seorang ahli imunologi. Menurut dia, virus Corona Covid-19 menginfeksi sel epitel alveolar di paru-paru. Sementara teh yang diminum tidak akan mencapai paru-paru.

    Bahkan, jika percobaan in vitro menunjukkan bahwa teh dapat membunuh virus tersebut, tidak berarti bahwa minum teh bisa menghasilkan efek yang sama. Setelah tes in vitro, uji coba pada hewan harus dilakukan, kemudian dipertimbangkan untuk uji klinis pada manusia. Hasil tes in vitro tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa minum teh dapat membantu mencegah infeksi virus Corona Covid-19.

    Saat ini pun, artikel yang dipublikasikan lewat akun WeChat CDC Zhejiang tersebut sudah dihapus. Staf CDC Zhejiang mengatakan temuan dari penelitian terbaru akan dipublikasikan melalui akun WeChat setelah prosedur-prosedur yang diperlukan telah diselesaikan.

    Dilansir dari BBC, memang benar bahwa methylxanthine ditemukan dalam teh, serta dalam kopi dan coklat. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dokter Li Wenliang meneliti efek dari bahan kimia itu terhadap pasien Corona. Li Wenliang pun merupakan seorang dokter spesialis mata, bukan ahli virus. Selain itu, menurut laporan BBC, klaim bahwa rumah sakit di Cina merawat pasien Corona dengan memberikan teh tidak benar.

    India Today pun telah memverifikasi klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah atas klaim itu.

    Sejauh ini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), belum ada vaksin ataupun obat yang bisa mencegah serta mengobati Covid-19. Para pasien Corona hanya mendapatkan perawatan untuk meredakan gejala-gejalanya. Sementara pasien yang mengalami gejala sakit yang lebih serius harus dibawa ke rumah sakit.

    Ada beberapa kandidat vaksin serta obat untuk Covid-19 yang masih diteliti melalui uji klinis. WHO tengah mengkoordinasikan upaya dalam menyediakan vaksin dan obat untuk mencegah dan mengobati Covid-19 tersebut.

    WHO juga menyatakan bahwa cara yang paling efektif untuk melindungi diri dan orang lain dari Covid-19 adalah sering mencuci tangan, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, dan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk-batuk atau bersin-bersin.

    Kesimpulan

    Tidak ada bukti ilmiah atas klaim minum teh dapat membantu mengurangi dampak COVID-19 pada tubuh manusia. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dokter Li Wenliang meneliti efek dari bahan kimia itu terhadap pasien Corona. Li Wenliang pun merupakan seorang dokter spesialis mata, bukan ahli virus.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4620) [SALAH] Tenaga Medis China Didatangkan Untuk Membantu Menangani Covid-19 di Indonesia

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 27/03/2020

    Berita

    Hari ini Tim Dokter China sudah tiba Indonesia 👍👍👍
    Infonya Tempat dan lokasi Treatment juga sdh disiapkan di seluruh daerah. Alat test dan obat nya juga sdg di distribusikan.
    Lokasi untuk rawat pasien positive covid-19 sedang di renovasi ada di Wisma atlit yg dibangun a hok dekat R.S Mitra kemayoran.

    Hasil Cek Fakta

    Sebuah akun twitter bernama @ANDINI_MAHARAN1 mengunggah sebuah video yang diklaim merupakan tenaga medis asal China yang didatangkan untuk membantu menangani pasien Virus Covid-19 di Indonesia.

    Dalam video tersebut terlihat orang-orang yang berpakaian APD lengkap di terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta.

    Setelah ditelusuri, dari pengamatan video itu, mereka mengantre di gate Keberangkatan Internasional Terminal 3, bukan di Kedatangan Internasional.

    “Benar, mereka bukan tiba di sini, tapi mereka akan berangkat ke Cina. Jumlahnya sekitar 124 orang,” ungkap Febri Toga Simatupang, Senior Manager Branch Communication and Legal PT Angkasa Pura II Bandara Internasional Soekarno Hatta, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (26/3/2020).

    Kepala Sub Bagian Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Kementrian hukum dan Ham, Achmad Nur Shaleh juga turut membantah kabar yang beredar terkait kedatangan tim medis dari China ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta.

    “Jadi itu area keberagkatan yang difoto. Bukan area kedatangan dan diambilnya waktu pemulangan WN RRT,” ujar Nur Shaleh dalam keteragan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, 26/03/20.

    Lantaran penerbangan dari dan ke tanah daratan China masih ditutup, ratusan penumpang tersebut mencharter pesawat. Mereka menumpang maskapai asal Kamboja, kemudian akan transit di negara tersebut untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke China.

    Penerbangan pun terjadi pada sore tadi. Sekitar pukul 17.00 WIB, pesawat take off membawa ratusan penumpang sewaan tersebut menuju negara tujuan.

    Lalu, soal mayoritas penumpangnya yang mengenakan baju APD lengkap, ternyata tetap harus dibuka pada saat pemeriksaan X-Ray keberangkatan.

    Achmad Nur Saleh menjelaskan bahwa Warga Negara RRT tersebut dievakuasi kembali ke negaranya menggunakan pesawat carteran cambodia airlines (KR3708). “Untuk proses evakuasi WN RRT,” kata dia.

    Orang yang terdaftar dalam manifestasi penerbangan pesawat carteran cambodia airlines (KR3708) adalah kru pesawat sebanyak 7 orang terdiri atas 1 WNI dan 6 WNA (1 Korea Selatan, 3 Kamboja, 2 Filipina). Jumlah penumpang sebanyak 126 Warga Negara RRT.

    Kesimpulan

    Bukan tenaga medis dari China. orang-orang yang memakai APD lengkap itu adalah warga tiongkok yang ingin berangkat ke China mengunakan maskapai Kamboja yang dicharter, lantaran penerbangan dari dan ke tanah daratan China masih ditutup.

    Rujukan

  • (GFD-2020-3759) [SALAH] 5 Kecamatan di Lampung “Red Zone” COVID-19

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 27/03/2020

    Berita

    Beredar sebuah pesan berantai melalui WhatsApp yang menyebutkan jika beberapa kecamatan di Lampung telah masuk warning zone COVID-19. Pesan tersebut berupa tabel daerah yang diklaim "red zone" COVID-19 di Lampung dan disertai narasi "Hati-hati lampung sudah masuk zona merah.”

    Hasil Cek Fakta

    Namun setelah melakukan penelusuran informasi tersebut dibantah langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana, mengutip dari TribunLampung.co.id Reihana menjelaskan jika informasi tersebut adalah hoaks. Dia juga mengatakan jika tabel informasi warning zone tersebut bukan bersumber dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Provinsi Lampung.

    "Jadi tidak pernah ada Diskes Lampung menyebarkan tabel itu. Saya juga kaget siapa yang mengeluarkan data tersebut," kata Reihana.

    Selain itu Nasrul selaku Humas Grab Lampung juga mengatakan jika data yang beredar tersebut tidak benar.

    "Data tersebut bukan dari kami, di internal Grab Lampung tidak pernah mengeluarkan edaran warning zone semacam itu," ujar Nasrul mengutip dari kumparan.com

    Nasrul juga menambahkan baik pihak Grab Lampung maupun pusat tidak pernah mengeluarkan edaran warning zone tersebut.

    "Imbauannya secara umum untuk pencegahan Covid-19, dan kami juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Jadi kami juga tidak sembarangan mengeluarkan imbauan. Kami mengimbau demi keamanan para driver saat mengantar makanan ditarok di pagar agar tidak kontak langsung, kemudian untuk driver yang sakit diimbau untuk beristirahat di rumah, disesuaikan dengan kondisi bisa sampai 14 hari," jelasnya dikutip dari kumparan.com.

    Reihana juga menghibau warga agar tidak panik dan tidak langsung percaya pada sebuah informasi.

    "Harap masyarakat mematuhi anjuran kebijakan pemerintah untuk melakukan self monitoring dan self isolation. Jangan sampai kita seperti negara terjangkit lainnya yang menyepelekan imbauan pemerintah. Jadi masyarakat harus tetap waspada, tapi juga jangan panik, karena yang PDP belum tentu positif terinfeksi virus Corona, dan tiga PDP di Lampung justru negatif corona," ujar Reihana melalui grup WhatsApp.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan mengenai informasi warning zone di Lampung yang dibantah langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, maka informasi tersebut masuk ke dalam Konten Yang Menyesatkan atau Misleading Content.

    Rujukan