Akun Twitter @LamarihuAru mengunggah sebuah foto dengan narasi bahwa polisi India telah tiba di Indonesia untuk menertibkan masyarakat yang tidak mau tinggal diam di rumah. Keterangan yang diberikan ternyata tidak sesuai dengan fakta, lantaran foto tersebut diambil dalam waktu, tempat dan kejadian yang berbeda.
NARASI:
Kabar Terkini.. Sejumlah Polisi India Telah Tiba Di Indonesia Untuk menertibkan Masyarakat yg tdk mau tinggal di rumah..Siapkan Pantat dan Minyak Gosok..
(GFD-2020-3837) [SALAH] “Sejumlah Polisi India Telah Tiba Di Indonesia”
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 16/04/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Akun Twitter @LamarihuAru mengunggah sebuah foto yang memperlihatkan sejumlah polisi India berseragam lengkap. Narasi yang disematkan oleh akun @LamarihuAru adalah bahwa polisi India telah tiba di Indonesia untuk menertibkan masyarakat yang tidak mau diam di rumah di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.
Menurut pencarian melalui mesin pencari gambar milik google, faktanya foto tersebut diunggah oleh media India hindustantimes.com pada 10 Mei 2017 dengan judul “Low-waist pants, skin-tight shirts lands 400 Punjab cops in trouble”. Dari keterangan yang diberikan oleh hindustantimes.com, sejumlah polisi tengah menuju ke toko penjahit untuk kembali mengubah tampilan mereka seperti semula, setelah mengikuti gaya berpakaian polisi dalam film Dabangg.
Dabangg sendiri merupakan film yang menceritakan sebuah kisah hidup seorang polisi India yang diperankan oleh Salman Khan. Pasca film tersebut ramai menjadi perbincangan, gaya berpakaian Salman Khan dalam film pun menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah polisi di wilayah Ludhiana, India.
Namun baru saja sehari mereka mengikuti gaya dalam film tersebut, Deputy Commissioner of Police (DCP) atau wakil komisaris polisi meminta kepada sejumlah polisi agar mengubah kembali cara berpakaian mereka sesuai spesifikasi. Oleh sebab itu, kurang lebih sebanyak 430 personil kepolisian diminta agar mengubah kembali tampilan mereka sesuai aturan yang sudah ditentukan.
Unggahan milik akun @LamarihuAru masuk ke dalam kategori false context, yang berarti foto tersebut benar adanya namun keterangan atau narasi yang diberikan baik dari segi waktu, tempat dan informasi kejadiannya tidak sesuai dengan fakta.
Menurut pencarian melalui mesin pencari gambar milik google, faktanya foto tersebut diunggah oleh media India hindustantimes.com pada 10 Mei 2017 dengan judul “Low-waist pants, skin-tight shirts lands 400 Punjab cops in trouble”. Dari keterangan yang diberikan oleh hindustantimes.com, sejumlah polisi tengah menuju ke toko penjahit untuk kembali mengubah tampilan mereka seperti semula, setelah mengikuti gaya berpakaian polisi dalam film Dabangg.
Dabangg sendiri merupakan film yang menceritakan sebuah kisah hidup seorang polisi India yang diperankan oleh Salman Khan. Pasca film tersebut ramai menjadi perbincangan, gaya berpakaian Salman Khan dalam film pun menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah polisi di wilayah Ludhiana, India.
Namun baru saja sehari mereka mengikuti gaya dalam film tersebut, Deputy Commissioner of Police (DCP) atau wakil komisaris polisi meminta kepada sejumlah polisi agar mengubah kembali cara berpakaian mereka sesuai spesifikasi. Oleh sebab itu, kurang lebih sebanyak 430 personil kepolisian diminta agar mengubah kembali tampilan mereka sesuai aturan yang sudah ditentukan.
Unggahan milik akun @LamarihuAru masuk ke dalam kategori false context, yang berarti foto tersebut benar adanya namun keterangan atau narasi yang diberikan baik dari segi waktu, tempat dan informasi kejadiannya tidak sesuai dengan fakta.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2020/04/14/salah-sejumlah-polisi-india-telah-tiba-di-indonesia/
- https://www.hindustantimes.com/punjab/day-after-ludhiana-s-dabangg-cops-get-dressing-down-they-make-a-beeline-for-tailors/story-2KfeHHW5sGs8RnrvsEcRYP.html
- https://www.hindustantimes.com/punjab/low-waist-pants-skin-tight-shirts-lands-400-punjab-cops-in-trouble/story-v4YDLaglHuOsYnPLOqUqNJ.html
(GFD-2020-3838) [SALAH] Foto “Percuma di lock down”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 16/04/2020
Berita
Pelintiran daur ulang. TIDAK terkait COVID-19, foto yang dibagikan adalah bagian dari proyek seni mengenang korban kamp konsentrasi Nazi “Katzbach” pada 24 Maret 2014.
NARASI
“Maaf menurut pribadi saya sendiri, Percuma di lock down untuk masyarakat yang ada di pulau lombok khususnya bosq gagah yang ada di atas sana. Kalau masih airpot di buka dan pelabuhan, untuk pelabuhan tetap dibuka tapi ada pengecualian khusus untuk angkutan domistik/pangan dan itu pun harus dengan pengawalan yang ketat. Semakin bos-bosq di atas sana menekan rakyat untuk tetap berdiam diri untuk diam di rumah, itu sama halnya bosq yang di atas sana membunuh rakyat anda sendiri, percuma untuk bersosialisai ke rakyat yang di bawah kalau pintu masuk virus tetap terbuka di biarkan begitu saja bebas.
mari kita berfikir secara logika bosq, apa mungkin rakyat masyarakat terutama yang ada di Lombok tercinta masyarakat sekitar menularankan virus tersebut yang berdiam di lombok kalau bukan datangnya dari seseorang yang datang dari luar daerah?
Saya Rasa bosq yang di atas kursi sana sudah tau jawabanya.
Apa artinya kita menguras air kotoran kalau masih di kencingi trus menerus.
Cobalah untuk mengunci dulu pintu toiletnya agar tidak di masuki orang sampai kotoran air tersebut berhenti mengalir.
Menurut pemikiran saya pribadi, satu satu cara untuk mengatasi pencegahan virus ini adalah meLock down bandara dan tiap tiap pelabuhan untuk sementara waktu, bukan rakyat yang tidak pernah tersentuh virus tersebut yang di korbankan. Pencegahan harus tetap berjalan, tapi sumber penularannya harus di hentikan bosq gagah.
Mohon maaf atas pemahaman dan pemikiran saya yang bodoh dan tidak berpendidikan ini.????????????????????????????????????????
Saya tahu anda di atas sana lebih pintar dari saya
Saya hanyalah tengkulak eleh.
SALAM HORMAT BUAT BAPAK GUBERNUR KAMI WABILL KHUSUS DI LOMBOK TERCINTA.”
======
NARASI
“Maaf menurut pribadi saya sendiri, Percuma di lock down untuk masyarakat yang ada di pulau lombok khususnya bosq gagah yang ada di atas sana. Kalau masih airpot di buka dan pelabuhan, untuk pelabuhan tetap dibuka tapi ada pengecualian khusus untuk angkutan domistik/pangan dan itu pun harus dengan pengawalan yang ketat. Semakin bos-bosq di atas sana menekan rakyat untuk tetap berdiam diri untuk diam di rumah, itu sama halnya bosq yang di atas sana membunuh rakyat anda sendiri, percuma untuk bersosialisai ke rakyat yang di bawah kalau pintu masuk virus tetap terbuka di biarkan begitu saja bebas.
mari kita berfikir secara logika bosq, apa mungkin rakyat masyarakat terutama yang ada di Lombok tercinta masyarakat sekitar menularankan virus tersebut yang berdiam di lombok kalau bukan datangnya dari seseorang yang datang dari luar daerah?
Saya Rasa bosq yang di atas kursi sana sudah tau jawabanya.
Apa artinya kita menguras air kotoran kalau masih di kencingi trus menerus.
Cobalah untuk mengunci dulu pintu toiletnya agar tidak di masuki orang sampai kotoran air tersebut berhenti mengalir.
Menurut pemikiran saya pribadi, satu satu cara untuk mengatasi pencegahan virus ini adalah meLock down bandara dan tiap tiap pelabuhan untuk sementara waktu, bukan rakyat yang tidak pernah tersentuh virus tersebut yang di korbankan. Pencegahan harus tetap berjalan, tapi sumber penularannya harus di hentikan bosq gagah.
Mohon maaf atas pemahaman dan pemikiran saya yang bodoh dan tidak berpendidikan ini.????????????????????????????????????????
Saya tahu anda di atas sana lebih pintar dari saya
Saya hanyalah tengkulak eleh.
SALAM HORMAT BUAT BAPAK GUBERNUR KAMI WABILL KHUSUS DI LOMBOK TERCINTA.”
======
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
(1) First Draft News: “Konten yang Salah
Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah”
Selengkapnya di http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S.
* SUMBER membagikan foto orang-orang yang berbaring di Frankfurt (Jerman) pada 24 Maret 2014, bagian dari proyek seni mengenang korban kamp konsentrasi Nazi “Katzbach”.
* SUMBER menambahkan narasi yang tidak sesuai dengan konteks foto yang sesungguhnya sehingga menimbulkan kesimpulan yang salah.
(2) Sumber foto, REUTERS: “TANGGAL: 24 Maret 2014
Orang-orang berbaring di zona pejalan kaki sebagai bagian dari proyek seni untuk mengenang 528 korban kamp konsentrasi Katzbach Nazi, di Frankfurt, 24 Maret 2014. Para tahanan di kamp konsentrasi Katzbach, bagian dari bekas pabrik industri Adler , dipaksa melakukan mars kematian ke kamp konsentrasi Buchenwald dan Dachau pada 24 Maret 1945. Sekitar 528 korban Katzbach dimakamkan di pemakaman pusat Frankfurt. REUTERS / Kai Pfaffenbach (JERMAN – Tag: SOCIETY ANNIVERSARY ANNIVERSARY TPX GAMBAR OF THE HARI ENTERTAINMENT)”.
Google Translate Chrome extension, https://reut.rs/2S0vtTG / http://archive.md/HJDP8 (arsip cadangan).
======
(1) First Draft News: “Konten yang Salah
Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah”
Selengkapnya di http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S.
* SUMBER membagikan foto orang-orang yang berbaring di Frankfurt (Jerman) pada 24 Maret 2014, bagian dari proyek seni mengenang korban kamp konsentrasi Nazi “Katzbach”.
* SUMBER menambahkan narasi yang tidak sesuai dengan konteks foto yang sesungguhnya sehingga menimbulkan kesimpulan yang salah.
(2) Sumber foto, REUTERS: “TANGGAL: 24 Maret 2014
Orang-orang berbaring di zona pejalan kaki sebagai bagian dari proyek seni untuk mengenang 528 korban kamp konsentrasi Katzbach Nazi, di Frankfurt, 24 Maret 2014. Para tahanan di kamp konsentrasi Katzbach, bagian dari bekas pabrik industri Adler , dipaksa melakukan mars kematian ke kamp konsentrasi Buchenwald dan Dachau pada 24 Maret 1945. Sekitar 528 korban Katzbach dimakamkan di pemakaman pusat Frankfurt. REUTERS / Kai Pfaffenbach (JERMAN – Tag: SOCIETY ANNIVERSARY ANNIVERSARY TPX GAMBAR OF THE HARI ENTERTAINMENT)”.
Google Translate Chrome extension, https://reut.rs/2S0vtTG / http://archive.md/HJDP8 (arsip cadangan).
======
Rujukan
(GFD-2020-3839) [SALAH] “Ini kiriman video betapa dahsyatnya wabah covid 19 di Amerika”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 16/04/2020
Berita
Jenazah dalam video itu meninggal bukan karena terinfeksi virus Corona COVID-19, melainkan karena sebab lain. Jenazah kasus COVID-19 di sana akan dimasukkan ke dalam peti tertutup dan dimakamkan langsung oleh rumah sakit.
Akun Nesya Zahra (fb.com/nesya.zahra.731) mengunggah sebuah video dengan narasi sebagaio berikut:
“Ini kiriman video betapa dahsyatnya wabah covid 19 di Amerika.
Video ini dari murid saya yg tinggal di Amerika. Ini yg diliput di Brooklyn utk mengingatkan semua, jgn menganggap enteng virus covid 19 ini. Mayat2 Muslim diserahkan ke komunitas (Arab) utk dimakamkan karena Pemerintah setempat sudah kewalahan. Komunitas ini menerima mayat puluhan orang perharinya kurang lebih 55 orang. Jenazah2 itu digeletakin begitu saja di ruang kantor menunggu antre untuk dimakamkan. Jadi tolong, sahabat2 di Tanah air jangan anggap enteng virus covid 19 ini, tetap pakai masker,seringlah cuci tangan dan setiap habis dari luar rumah segera mandi. Dan jangan pernah lupa berdoa kepada Allah SWT agar kita senantiasa berada didalam lindunganNYA. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin”
Akun Nesya Zahra (fb.com/nesya.zahra.731) mengunggah sebuah video dengan narasi sebagaio berikut:
“Ini kiriman video betapa dahsyatnya wabah covid 19 di Amerika.
Video ini dari murid saya yg tinggal di Amerika. Ini yg diliput di Brooklyn utk mengingatkan semua, jgn menganggap enteng virus covid 19 ini. Mayat2 Muslim diserahkan ke komunitas (Arab) utk dimakamkan karena Pemerintah setempat sudah kewalahan. Komunitas ini menerima mayat puluhan orang perharinya kurang lebih 55 orang. Jenazah2 itu digeletakin begitu saja di ruang kantor menunggu antre untuk dimakamkan. Jadi tolong, sahabat2 di Tanah air jangan anggap enteng virus covid 19 ini, tetap pakai masker,seringlah cuci tangan dan setiap habis dari luar rumah segera mandi. Dan jangan pernah lupa berdoa kepada Allah SWT agar kita senantiasa berada didalam lindunganNYA. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin”
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa jenazah-jenazah di video itu adalah jenazah yang meninggal karena terinfeksi virus Corona COVID-19 adalah klaim yang keliru.
Jenazah-jenazah dalam video di atas meninggal bukan karena terinfeksi virus Corona, melainkan karena sebab lain. Jenazah kasus Covid-19 di sana akan dimasukkan ke dalam peti tertutup dan dimakamkan langsung oleh rumah sakit.
Tim CekFakta Tempo menggunakan tool InVID untuk mengekstraksi video tersebut menjadi sejumlah foto. Foto-foto itu kemudian ditelusuri dengan reverse image tool. Dengan cara ini, Tempo memperoleh video dalam versi lengkap yang berdurasi 5 menit 15 detik.
Video itu adalah video milik akun Facebook SHERIFKHORSHEID yang dipublikasikan oleh Youm7.com, sebuah situs berita berbahasa Arab yang berbasis di Mesir, pada 7 April 2020. Video tersebut diunggah dengan keterangan “video tentang jumlah mayat muslim yang menjadi korban Corona sebelum pemakaman mereka di New York”.
Lewat video itu, Tempo memperoleh petunjuk pada menit awal, ketika dua pria yang bercakap-cakap dalam bahasa Arab hendak masuk ke sebuah kantor. Di kaca jendela kantor tersebut, tertera dua nomor telepon. Tempo kemudian mengecek nomor telepon tersebut, yakni 347-262-2744 dan 718-435-6700, ke mesin pencarian Google.
Berdasarkan informasi dari situs Business Directory, nomor telepon itu adalah milik Islamic International Funeral Services atau Layanan Pemakaman Islam Internasional yang beralamat di Pat Marmo, 4123 4th Avenue, Brooklyn, New York.
Melalui penelusuran dengan Google Maps, Tempo mendapati bahwa kantor itu adalah benar kantor Islamic International Funeral Services. Hal ini terlihat dari kesamaan tulisan nomor telepon yang tertera pada kaca jendela kantor serta bangunan yang berada di seberang jalan.
Dalam artikelnya, Youm7.com menjelaskan bahwa video itu direkam oleh Bakr Mansour, warga Yordania, yang memantau jumlah kematian akibat Covid-19 pada kalangan muslim di Amerika. Saat video itu diambil, salah satu staf biro pemakaman mengatakan bahwa kantornya menerima 55 jenazah kasus Covid-19, sepuluh jenazah di antaranya telah dimakamkan. Situs ini juga menjelaskan bahwa 90 persen kematian yang diterima oleh Islamic International Funeral Services adalah karena virus Corona.
Setelah video ini menyebar di media sosial, petugas Islamic International Funeral Services yang berada dalam video itu kemudian membuat klarifikasi. Tempo mendapatkan video klarifikasi tersebut diunggah oleh kanal Abu Ammar di YouTube pada 7 April 2020.
Melalui bantuan Direktur Tempo Institute, Qaris Tajudin, yang merupakan lulusan Universitas Al Azhar Mesir dan bisa berbahasa Arab, diketahui bahwa pria dalam video itu menjelaskan jenazah-jenazah tersebut meninggal bukan karena Covid-19, tapi karena sebab lain.
Menurut pria itu, pasien yang meninggal karena Covid-19 diletakkan dalam peti tertutup dan dikuburkan langsung oleh rumah sakit, tanpa melalui Islamic International Funeral Services. “Jenazah diurus di rumah sakit, dilakukan tayamum, lalu langsung ke pemakaman,” katanya.
Tempo pun sempat mengirimkan pesan ke Islamic International Funeral Services lewat Facebook. Salah satu admin menjawab bahwa video yang viral itu diambil dan diedarkan ke media sosial tanpa kesepakatan. “Maaf, kami tidak dapat mengomentari video itu. Itu diambil tanpa persetujuan kami dan kami menghargai privasi saudara-saudari muslim kami,” katanya pada 13 April 2020.
Dilansir dari Bloomberg, New York menjadi pusat yang terdampak parah dari wabah Covid-19 di Amerika. Departemen Kesehatan setempat menjelaskan bahwa hari Minggu kemarin, 12 April 2020, merupakan hari keenam berturut-turut di mana kematian mencapai lebih dari 700 orang. Hingga kini, total kematian di New York telah mencapai 9.385 orang dengan jumlah yang terinfeksi mencapai 188.694 orang.
Dikutip dari NY Daily News, tingginya kematian akibat Covid-19 memang menyebabkan rumah duka kewalahan melayani permintaan untuk pemakaman dan pembakaran jenazah. “Setiap lingkungan, kelompok etnis, kelompok agama, mereka semua dibanjiri (jenazah),” kata John D’Arienzo, pengelola rumah duka Brooklyn dan Presiden Asosiasi Direktur Pemakaman Metropolitan di New York. “Ini yang terburuk yang pernah kulihat.”
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa jenazah-jenazah di video itu adalah jenazah yang meninggal karena terinfeksi virus Corona COVID-19 adalah klaim yang keliru.
Jenazah-jenazah dalam video di atas meninggal bukan karena terinfeksi virus Corona, melainkan karena sebab lain. Jenazah kasus Covid-19 di sana akan dimasukkan ke dalam peti tertutup dan dimakamkan langsung oleh rumah sakit.
Tim CekFakta Tempo menggunakan tool InVID untuk mengekstraksi video tersebut menjadi sejumlah foto. Foto-foto itu kemudian ditelusuri dengan reverse image tool. Dengan cara ini, Tempo memperoleh video dalam versi lengkap yang berdurasi 5 menit 15 detik.
Video itu adalah video milik akun Facebook SHERIFKHORSHEID yang dipublikasikan oleh Youm7.com, sebuah situs berita berbahasa Arab yang berbasis di Mesir, pada 7 April 2020. Video tersebut diunggah dengan keterangan “video tentang jumlah mayat muslim yang menjadi korban Corona sebelum pemakaman mereka di New York”.
Lewat video itu, Tempo memperoleh petunjuk pada menit awal, ketika dua pria yang bercakap-cakap dalam bahasa Arab hendak masuk ke sebuah kantor. Di kaca jendela kantor tersebut, tertera dua nomor telepon. Tempo kemudian mengecek nomor telepon tersebut, yakni 347-262-2744 dan 718-435-6700, ke mesin pencarian Google.
Berdasarkan informasi dari situs Business Directory, nomor telepon itu adalah milik Islamic International Funeral Services atau Layanan Pemakaman Islam Internasional yang beralamat di Pat Marmo, 4123 4th Avenue, Brooklyn, New York.
Melalui penelusuran dengan Google Maps, Tempo mendapati bahwa kantor itu adalah benar kantor Islamic International Funeral Services. Hal ini terlihat dari kesamaan tulisan nomor telepon yang tertera pada kaca jendela kantor serta bangunan yang berada di seberang jalan.
Dalam artikelnya, Youm7.com menjelaskan bahwa video itu direkam oleh Bakr Mansour, warga Yordania, yang memantau jumlah kematian akibat Covid-19 pada kalangan muslim di Amerika. Saat video itu diambil, salah satu staf biro pemakaman mengatakan bahwa kantornya menerima 55 jenazah kasus Covid-19, sepuluh jenazah di antaranya telah dimakamkan. Situs ini juga menjelaskan bahwa 90 persen kematian yang diterima oleh Islamic International Funeral Services adalah karena virus Corona.
Setelah video ini menyebar di media sosial, petugas Islamic International Funeral Services yang berada dalam video itu kemudian membuat klarifikasi. Tempo mendapatkan video klarifikasi tersebut diunggah oleh kanal Abu Ammar di YouTube pada 7 April 2020.
Melalui bantuan Direktur Tempo Institute, Qaris Tajudin, yang merupakan lulusan Universitas Al Azhar Mesir dan bisa berbahasa Arab, diketahui bahwa pria dalam video itu menjelaskan jenazah-jenazah tersebut meninggal bukan karena Covid-19, tapi karena sebab lain.
Menurut pria itu, pasien yang meninggal karena Covid-19 diletakkan dalam peti tertutup dan dikuburkan langsung oleh rumah sakit, tanpa melalui Islamic International Funeral Services. “Jenazah diurus di rumah sakit, dilakukan tayamum, lalu langsung ke pemakaman,” katanya.
Tempo pun sempat mengirimkan pesan ke Islamic International Funeral Services lewat Facebook. Salah satu admin menjawab bahwa video yang viral itu diambil dan diedarkan ke media sosial tanpa kesepakatan. “Maaf, kami tidak dapat mengomentari video itu. Itu diambil tanpa persetujuan kami dan kami menghargai privasi saudara-saudari muslim kami,” katanya pada 13 April 2020.
Dilansir dari Bloomberg, New York menjadi pusat yang terdampak parah dari wabah Covid-19 di Amerika. Departemen Kesehatan setempat menjelaskan bahwa hari Minggu kemarin, 12 April 2020, merupakan hari keenam berturut-turut di mana kematian mencapai lebih dari 700 orang. Hingga kini, total kematian di New York telah mencapai 9.385 orang dengan jumlah yang terinfeksi mencapai 188.694 orang.
Dikutip dari NY Daily News, tingginya kematian akibat Covid-19 memang menyebabkan rumah duka kewalahan melayani permintaan untuk pemakaman dan pembakaran jenazah. “Setiap lingkungan, kelompok etnis, kelompok agama, mereka semua dibanjiri (jenazah),” kata John D’Arienzo, pengelola rumah duka Brooklyn dan Presiden Asosiasi Direktur Pemakaman Metropolitan di New York. “Ini yang terburuk yang pernah kulihat.”
Rujukan
(GFD-2020-8043) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Muslim Amerika yang Salat Hingga ke Jalan di Tengah Pandemi Corona?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 15/04/2020
Berita
Video yang memperlihatkan ribuan orang sedang menunaikan salat berjamaah di jalan raya viral di media sosial. Video itu diklaim sebagai video muslim Amerika Serikat yang berbondong-bondong salat berjamaah hingga ke jalan di tengah pandemi Corona Covid-19.
Dalam video berdurasi 45 detik ini, terlihat pula seorang jamaah yang mengibarkan bendera Amerika Serikat serta bendera Yaman. Di Facebook, video ini dibagikan salah satunya oleh akun Hafiz Okta Sanjaya, yakni 10 April 2020. Akun ini menuliskan narasi sebagai berikut:
"Situasi dan Kondisi (Sikon) Tadi Malem di Amerika Serikat... Saat Tiba Masuk Sholat Magrib Masyarakat Kaum Muslim berbondong bondong Menunaikan Sholat berjama"ah di Mesjid sampai Tumpah Ruah di Jalan Raya. Sehubungan dengan Adanya Covid 19, Pemerintah Setempat Memberi Kesempatan Ummat Islam beribadah Secara Terbuka & di boleh kan Suara Volume Mesdjid di besar kan. Tumben... Sebelum Covid 19 datang di Amerika, Suara Volume Mesjid tidak di bolehkan Keluar."
Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah direspons lebih dari 2.900 kali, dikomentari lebih dari 1.200 kali, dibagikan lebih dari 2.500 kali, dan ditonton lebih dari 39 ribu kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Hafiz Okta Sanjaya.
Apa benar video di atas merupakan video muslim Amerika yang salat berjamaah hingga ke jalan di tengah pandemi Corona?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo dengan memasukkan kata kunci "muslim pray on New York street" di mesin pencari Google, ditemukan video yang sama yang pernah diunggah ke YouTube oleh kanal Quran Videos pada 5 Februari 2017 dengan judul "Muslim praying in New York streets".
Video serupa juga pernah diunggah oleh situs CNN pada 3 Februari 2017 dengan judul "Bodega owners protest immigration order". Video tersebut diberi keterangan:
"Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang melarang perjalanan dari tujuh negara mayoritas muslim, termasuk Yaman, ke Amerika. Sebagai respons atas kebijakan itu, sekitar 1.000 pemilik bodega (convenience store) asal Yaman di New York melakukan mogok kerja untuk menunjukkan solidaritas mereka kepada orang-orang yang terkena dampak dan membuktikan pentingnya mereka bagi masyarakat."
Selain menelusuri dengan mesin pencari, dengantoolInVID, Tempo melakukan fragmentasi terhadap video itu menjadi beberapa gambar. Gambar-gambar itu kemudian ditelusuri denganreverse image toolTinEye.
Hasilnya, gambar yang identik pernah dimuat dalam sebuah artikel di situs berbahasa Arab yang berbasis di Palestina, Alwatanvoice.com, pada 9 Februari 2017. Artikel itu berjudul "Muslim berdoa di jalan-jalan Amerika untuk menanggapi keputusan Trump".
Tempo pun menelusuri pemberitaan mengenai peristiwa itu di media-media kredibel. Hasilnya, ditemukan bahwa berita soal unjuk rasa yang berlangsung di New York tersebut pernah dimuat oleh The New Yorker pada 4 Februari 2017 dengan judul "The Bodega Strike Against Trump's Executive Order on Immigration".
Terdapat pula foto aksi protes itu dengan latar belakang gedung yang sama dengan yang terlihat dalam video unggahan akun Hafiz Okta Sanjaya. Foto tersebut diberi keterangan, "Ribuan warga Yaman-Amerika melakukan doa malam sebagai bagian dari protes di Brooklyn (sebuah wilayah di New York) terhadap larangan perjalanan anti-Muslim Donald Trump." Foto ini diabadikan oleh fotografer Anadolu Agency, Mohammed Elshamy.
Gambar tangkapan layar berita di The New Yorker pada 4 Februari 2017 mengenai unjuk rasa warga Amerika Serikat keturunan Yaman terkait kebijakan Presiden Donald Trump soal imigrasi.
Pemberitaan mengenai unjuk rasa tersebut juga pernah dimuat oleh situs dalam negeri. Dilansir dari Detik.com, ratusan warga keturunan Yaman di New York turun ke jalan dan memenuhi bagian luar Brooklyn Borough Hall untuk memprotes kebijakan imigrasi Presiden Amerika Donald Trump. Aksi protes itu diwarnai dengan salat berjamaah di tengah kota New York.
Seperti dikutip dari Reuters dan AFP pada 3 Februari 2017, sebagian besar toko kelontong dan restoran milik warga Amerika-Yaman di New York juga tutup pada 2 Februari waktu setempat sebagai bentuk protes atas kebijakan Trump yang kontroversial. Kebijakan itu melarang warga dari tujuh negara mayoritas muslim, termasuk Yaman, masuk ke Amerika setidaknya selama 90 hari ke depan.
Warga yang berunjuk rasa melambaikan bendera Amerika dan Yaman sambil meneriakkan "bersatu kita bangkit melawan larangan muslim" dan "USA". Mereka juga membawa poster bertuliskan "Muslim Lives Matter" dan "kebencian tidak akan membuat kita hebat", serta "Tuan Trump, dari mana asal istri Anda?" merujuk pada Ibu Negara Melania yang lahir di Slovenia.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi bahwa video di atas merupakan video muslim Amerika yang salat berjamaah hingga ke jalan di tengah pandemi Covid-19, menyesatkan. Peristiwa dalam video tersebut terjadi pada Februari 2017, jauh sebelum munculnya virus Corona Covid-19 pada Desember 2019. Ketika itu, terjadi protes dari warga Amerika keturunan Yaman terkait kebijakan Presiden Donald Trump yang melarang warga dari tujuh negara mayoritas muslim, termasuk Yaman, masuk ke Amerika.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
Halaman: 7332/7817





