(GFD-2020-8044) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Jogging dan Bersepeda Rawan Tularkan Corona Bahkan pada Jarak 10-20 Meter?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 15/04/2020
Berita
Narasi bahwa seseorang yang melakukan olahraga lari atau jogging serta bersepeda rawan tertular dan menularkan virus Corona Covid-19 bahkan pada jarak 10-20 meter viral di media sosial. Informasi ini diklaim berasal dari para peneliti asal Belgia dan Belanda.
Di Facebook, narasi tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Rohadi Abu Faiz, yakni pada 10 April 2020. Akun ini menulis sebagai berikut:
"Bagi yg tetap ngotot jogging dan sepedaanTernyata anda rawan tertular dan rawan menularkan COVID-19 bahkan pada jarak 20 meter sekalipun.
Lho bukannya jarak aman 1 meter social distancing..?Tidak berlaku.Itu untuk bila sama sama diam.Ketika bergerak apalagi semakin cepat.. maka daya kibas angin akan menerbangkan luas virus ke mana.Jadi kalau ada yg bersepeda melintas di depan anda.. maka bisa jadi ada virus yg ikut terkibas anginnya ke anda.
Ini hasil studinyahttps://medium.com/@jurgenthoelen/belgian-dutch-study-why-in-times-of-covid-19-you-can-not-walk-run-bike-close-to-each-other-a5df19c77d08
Kenapa bersepeda dan lari di luar rumah menjadi tetap berbahaya... karena akan menjadikan COVID-19 aerosol terkena kibasan angin gerakan kecepatan itu."
Akun Rohadi Abu Faiz juga membagikan beberapa gambar tangkapan layar dari laporan studi yang dilakukan oleh peneliti Belgia dan Belanda itu, yakni Bert Blocken, Fabio Malisia, Thijs van Druenen, dan Thierry Marchal. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 1.700 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Rohadi Abu Faiz.
Adapun tautan yang dibagikan oleh akun Rohadi Abu Faiz berisi artikel yang diunggah oleh akun Jurgen Thoelen di Medium, yang dalam profilnya mengklaim sebagai pengusaha, mengenai studi Bert Blocken dkk. Dalam artikel itu, dicantumkan pula tautan ke laporan studi Bert Blocken dkk.
Dalam laporan yang disebut white paper ini, disebutkan bahwa studi itu menyelidiki apakah jarak fisik sejauh 1,5 meter cukup aman diterapkan ketika berjalan, berlari, atau bersepeda. Penelitian ini pun menemukan bahwa jarak aman sejauh 1,5 meter hanya berlaku dalam kondisi diam. Saat berjalan, berlari, atau bersepeda, slipstream atau pergerakan udara membuat droplet terbang lebih jauh. Karena itu, penelitian ini menganjurkan untuk berjalan, berlari, atau bersepeda secara bersebelahan atau membentuk formasi diagonal, tidak membentuk formasi depan-belakang.
Studi ini juga menyatakan, tanpa adanya angin, jarak fisik sejauh 1,5 meter hanya aman bagi dua orang yang berjalan, berlari, atau bersepeda secara bersebelahan. Sementara itu, jarak aman antara satu orang dengan orang lainnya yang membentuk formasi depan-belakang ketika berjalan dengan kecepatan 4 km per jam adalah sekitar 5 meter, ketika berlari dengan kecepatan 14,4 km per jam adalah sekitar 10 meter, dan ketika bersepeda dengan kecepatan 30 km per jam adalah sekitar 20 meter.
Apa benar orang yang jogging serta bersepeda rawan tertular dan menularkan virus Corona Covid-19 bahkan pada jarak 10-20 meter?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan pemeriksaan terhadap white paper tersebut oleh Tim CekFakta, tertulis bahwa studi itu masih berstatus "preprint". Preprint merupakan dokumen ilmiah yang dipublikasikan sebelum menjalani peer-review. Peer-review adalah sebuah proses pemeriksaan oleh para pakar lain yang memiliki keahlian di bidang penelitian yang diperiksa. Peer-review bertujuan untuk membuat sebuah penelitian memenuhi standar disiplin ilmiah dan keilmuan.
Dalam sebuah tulisan yang berbentuk tanya-jawab yang diunggah oleh Blocken di akun Twitter -nya, ia mengakui bahwa studinya tersebut memang belum menjalani peer-review. Menurut Blocken, kita tengah menghadapi situasi yang luar biasa. Karena itu, studi ini penting dipublikasikan untuk membantu mengurangi risiko penyebaran Covid-19. "Prioritasnya adalah kesehatan masyarakat," katanya.
Meskipun begitu, dilansir dari Vice, ratusan ilmuwan lain telah berhasil menerbitkan penelitian tentang virus Corona Covid-19 yang telah menjalani peer-review dalam beberapa pekan terakhir. "Perlindungan atas publikasi ilmiah diberlakukan karena suatu alasan, dan kita telah melihat selama pandemi ini bahwa proses yang terburu-buru memicu terbitnya publikasi ilmiah yang tidak akurat," demikian laporan yang ditulis oleh Vice.
Kepada Vice, ahli epidemiologi dari Pusat Dinamika Penyakit Menular Harvard, William Hanage, mengatakan bahwa viralnya penelitian Blocken itu berbahaya. Hingga kini, para ilmuwan belum bisa memastikan seberapa jauh virus Corona Covid-19 dapat menyebar lewat udara. Beberapa ahli juga berspekulasi bahwa risiko penularan Covid-19 di luar ruangan kemungkinan lebih kecil.
Selain itu, droplet memang membawa virus. Tapi tidak berarti bahwa siapa pun yang terpapar droplet dari napas seseorang akan terinfeksi. Transmisi Covid-19 tergantung pada sejumlah faktor. Para ilmuwan meyakini salah satu faktor yang penting adalah "viral load", yakni ukuran dari seberapa banyak virus yang terdapat dalam tubuh seseorang.
Menurut ahli epidemiologi Dicky Budiman saat dihubungi Tim CekFakta Tempo pada 14 April 2020, hingga kini, belum ditemukan bukti adanya penularan Covid-19 melalui jogging atau bersepeda. Riset yang dilakukan oleh Blocken pun masih dalam tahap awal. Artinya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Selain itu, riset yang dilakukan oleh Blocken tersebut menyalahi etika. Pasalnya, penelitian itu tidak disampaikan melalui jurnal. "Tapi melalui media sosial sehingga dapat diterima berbeda oleh masyarakat. Riset ini belum dipublikasikan di jurnal dan belum melalui mekanisme peer-review," kata Dicky.
Riset serupa, menurut Dicky, memang pernah dilakukan, yakni di ruang tertutup seperti perpustakaan dan pusat perbelanjaan. Namun, dalam menyikapi potensi penularan Covid-19, baik di ruang terbuka maupun di ruang tertutup, prinsip utamanya adalah penyakit ini ditularkan melalui droplet, dan potensi lainnya aerosol. "Faktor lingkungan juga tentu berpengaruh."
Saat ini, kata Dicky, para peneliti masih melakukan riset mengenai sejauh mana kemungkinan penularan Covid-19 secara aerosol. Namun, para ahli epidemiologi berpandangan bahwa sejauh ini aktivitas di ruang terbuka yang tidak ramai atau tidak dipadati banyak orang masih aman.
Menurut Dicky, agar tetap hidup, virus harus senantiasa berada di dalam cairan tubuh penderita, baik ingus, bersin, ataupun batuk. Artinya, ketika keluar dari tubuh penderita, cairan itu akan terpengaruh oleh gravitasi. "Jadi, tidak beterbangan ke sana-sini," tuturnya.
Dicky juga mengatakan bahwa terinfeksinya seseorang oleh Covid-19 dipengaruhi banyak faktor. Pertama, viral load atau jumlah virus yang menyerang. Kedua, imunitas tubuh atau bagaimana tubuh merespon serangan virus. "Jadi, melihat faktor ini, rasanya jauh kemungkinan teori Blocken terpenuhi," katanya.
Meskipun begitu, Dicky mengingatkan bahwa, ketika berolahraga, masyarakat harus tetap memberlakukan jaga jarak fisik. "Kalau mau olahraga, boleh saja. Asal sendiri atau di lokasi yang memungkinkan jarak antar orang sangat longgar. Makin jauh tentu makin bagus. Pakai masker kain dan jauhi keramaian," ujar kandidat doktor di Universitas Griffith Australia tersebut.
Dikutip dari The Guardian, peneliti senior kesehatan global di Universitas Southampton, Michael Head, mengatakan bahwa seseorang yang jogging tetap harus menjaga jarak meskipun risiko penularan virus kecil. "Tetap ada risiko di sana, tapi risikonya akan sangat kecil," kata Head pada 23 Maret 2020.
Menurut Head, ketika seseorang berlari, memang ada saat di mana dia berada di belakang orang lain, lalu melewati orang tersebut. Namun, jangka waktu untuk berada di dekat orang lain itu akan minimal. "Jika Anda berlari dan melewati seseorang dalam beberapa detik, di ruang terbuka pula, risiko penularan ketika itu kecil," tuturnya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa orang yang jogging serta bersepeda rawan tertular dan menularkan virus Corona Covid-19 bahkan pada jarak 20 meter belum terbukti kebenarannya. Hingga artikel ini dimuat, studi yang memuat klaim itu belum melalui peer-review sehingga belum memenuhi standar disiplin ilmiah dan keilmuan.
Saat ini, para ilmuwan belum bisa memastikan seberapa jauh penyebaran virus Corona Covid-19 lewat udara. Para peneliti pun masih melakukan riset mengenai sejauh mana kemungkinan penularan Covid-19 secara aerosol. Selain itu, banyak faktor yang mempengaruhi terinfeksinya seseorang oleh Covid-19, seperti viral load, imunitas tubuh, dan sebagainya.
IBRAHIM ARSYAD
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://web.facebook.com/photo.php?fbid=10207369849361012&set=pcb.10207369849601018&type=3&theater
- https://medium.com/@jurgenthoelen/belgian-dutch-study-why-in-times-of-covid-19-you-can-not-walk-run-bike-close-to-each-other-a5df19c77d08
- http://www.urbanphysics.net/COVID19_Aero_Paper.pdf
- https://twitter.com/realBertBlocken/status/1249403106259017728
- https://www.vice.com/amp/en_us/article/v74az9/the-viral-study-about-runners-spreading-coronavirus-is-not-actually-a-study
- https://amp.theguardian.com/world/2020/mar/23/coronavirus-outdoor-etiquette-no-spitting-and-keep-your-distance
(GFD-2020-8045) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Minum Teh Panas yang Dicampur Perasan Lemon Bisa Bunuh Corona?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 15/04/2020
Berita
Pesan berantai dengan narasi bahwa minum teh panas yang yang dicampur dengan perasan lemon dapat membunuh virus Corona Covid-19 beredar di grup-grup percakapan WhatsApp. Menurut pesan berantai tersebut, informasi itu berasal dari Palestina.
Berikut narasi lengkap pesan berantai tersebut:
"KABAR ISTIMEWAPalestina Covid-19 tidak ada yang matiBerita Super...Obat virus Covid-19 tercapai
Informasi dari Negara Islam Palestina... Virus Covid-19 tidak menyebabkan kematian.
Ternyata resepnya sangat sederhana tapi sangat ampuh.1. Lemon2. Teh
Minumlah teh panas setelah dicampur dengan perasan lemon.
Dapat segera membunuh virus covid-19 dan dapat sepenuhnya menghilangkan virus dari tubuh."
Gambar tangkapan layar pesan berantai mengenai teh panas dan lemon yang beredar di WhatsApp.
Artikel ini akan berisi pemeriksaan terhadap dua hal, yakni:
Hasil Cek Fakta
Klaim bahwa teh panas serta lemon bisa membunuh virus Corona Covid-19 pernah menyebar sebelumnya dalam dua pesan berantai yang berbeda. Pada akhir Maret 2020, beredar pesan berantai yang menyarankan pasien Covid-19 untuk minum teh panas. Sementara pesan berantai yang mengklaim makanan alkali, termasuk lemon, dapat membunuh virus Corona beredar pada awal April 2020.
Tim CekFakta Tempo telah memeriksa dua klaim itu. Terkait teh panas, informasi tersebut berasal dari para peneliti Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Zhejiang, Cina. Dalam sebuah percobaan dengan sel yang dikultur secara in vitro, mereka menemukan bahwa teh, yang kaya polifenol, bekerja dengan baik dalam membunuh virus Corona secara ekstraseluler dan menekan proliferasi intraselulernya.
Namun, hal itu telah dibantah oleh seorang ahli imunologi yang diwawancara oleh China Daily. Menurut dia, virus Corona menginfeksi sel epitel alveolar di paru-paru. Sementara teh yang diminum tidak akan mencapai paru-paru. Bahkan, jika percobaan in vitro menunjukkan bahwa teh dapat membunuh virus Corona, tidak berarti bahwa minum teh bisa menghasilkan efek yang sama.
Menurut ahli tersebut, setelah tes in vitro pun, uji coba pada hewan harus dilakukan, kemudian dipertimbangkan untuk uji klinis pada manusia. Hasil tes in vitro tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa minum teh dapat membantu mencegah penularan Covid-19.
Saat ini, artikel yang dipublikasikan lewat akun WeChat CDC Zhejiang tersebut sudah dihapus. Staf CDC Zhejiang mengatakan temuan dari penelitian terbaru akan dipublikasikan melalui WeChat setelah prosedur-prosedur yang diperlukan diselesaikan.
Sementara terkait lemon, narasi yang beredar ketika itu menyatakan virus Corona memiliki derajat keasaman (pH) 5,5-8,5. Dengan derajat keasaman tersebut, virus Corona bisa dibunuh dengan konsumsi makanan alkali, termasuk lemon, yang mengandung pH lebih tinggi ketimbang pH virus.
Sebagai informasi, semakin rendah pH, suatu unsur akan semakin bersifat asam. Adapun makanan alkali adalah makanan yang mengandung pH basa atau pH di atas 7 (pH yang dianggap netral). Lemon memiliki pH sekitar 2, bukan 9,9 seperti yang disebut dalam pesan berantai itu.
Menurut Euronews, mengkonsumsi makanan tertentu yang memiliki pH di bawah ataupun di atas 7 tidak akan mengubah derajat keasaman dalam tubuh. Pasalnya, tubuh telah mengatur derajat keasamannya dalam kisaran yang sangat sempit, terbatas pada pH 7,37-7,43, agar sel-sel tetap berfungsi.
Ahli virus Shaheed Jameel pun mengatakan virus tidak memiliki derajat keasaman. Karena itu, pernyataan yang mengaitkan makanan yang diklaim memiliki pH tinggi dengan virus Corona tidak berdasar. "Tidak ada organisme hidup yang memiliki nilai pH," kata Shaheed.
Sementara Oyewale Tomori, profesor virologi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa klaim tentang pH pada virus Corona keliru. "Virus Corona tidak ada hubungannya dengan perut. Jadi, bagaimana 'makanan alkali' mengalahkan virus? Klaim ini harus diabaikan," ujarnya.
Menurut laporan organisasi cek fakta FactCheck, klaim "campuran teh dan lemon bisa membunuh virus Corona Covid-19" juga pernah menyebar di Amerika Serikat pada awal April 2020. Pesan berantai yang beredar di sana identik dengan yang menyebar di Indonesia. Bedanya, negara yang disebut dalam pesan itu adalah Israel, bukan Palestina.
FactCheck pun menyatakan bahwa klaim "campuran teh dan lemon bisa membunuh virus Corona Covid-19" tidak berdasar. Menurut WHO, hingga saat ini, belum ada vaksin ataupun obat khusus untuk mencegah atau mengobati Covid-19. Sementara itu, dokter penyakit menular Krutika Kuppalli mengatakan, "Tidak ada data yang menunjukkan bahwa lemon atau teh panas akan membunuh virus."
Menurut direktur medis Monarch Athletic Club, Ryan M. Greene, manfaat lemon yang dicampurkan pada air hangat lebih kepada menguatkan sistem imun atau kekebalan tubuh. "Serat buah lemon yang disebut pectin membantu memberi makan bakteri microbiome yang bermanfaat memperkuat sistem kekebalan tubuh," kata Greene pada 25 Maret 2020.
Green menambahkan bahwa pectin juga bisa meningkatkan produksi enzim pencernaan, meningkatkan fungsi usus secara teratur, dan membantu menghilangkan racun dalam tubuh. Selain itu, vitamin C yang terkandung dalam lemon bisa mengurangi durasi dan tingkat keparahan infeksi saluran pernapasan atas.
Tidak ada warga Palestina yang meninggal karena Covid-19?
Menurut data Worldometers per 15 April 2020, warga Palestina yang meninggal akibat terinfeksi virus Corona Covid-19 berjumlah dua orang. Adapun total kasus Covid-19 di Palestina mencapai 308 kasus di mana 62 kasus di antaranya telah dinyatakan sembuh.
Adapun per 11 April 2020, dilansir dari Bisnis.com, juru bicara pemerintah Palestina Ibrahim Milhem mengatakan bahwa total kasus Covid-19 di Palestina mencapai 268 kasus. Sebanyak 1.750 orang juga sedang berada di pusat karantina milik negara. Adapun lebih dari 12 ribu orang menjalani karantina mandiri di rumah.
Selain itu, sejak Covid-19 merebak, dua warga Palestina meninggal akibat penyakit tersebut. Kasus pertama adalah seorang perempuan berusia 60 tahun dan kasus kedua adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun. Keduanya memiliki riwayat penyakit kronis sebelum tertular virus Corona Covid-19.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa teh panas yang dicampur dengan perasan lemon bisa membunuh virus Corona Covid-19 keliru. Hingga kini, menurut WHO, belum ada vaksin ataupun obat khusus untuk mencegah atau mengobati Covid-19. Selain itu, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa lemon atau teh panas akan membunuh virus. Manfaat lemon yang dicampurkan pada air hangat lebih kepada menguatkan sistem imun atau kekebalan tubuh.
IBRAHIM ARSYAD
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/702/fakta-atau-hoaks-benarkah-dokter-li-wenliang-dan-rs-di-cina-sarankan-minum-teh-bagi-pasien-corona
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/715/fakta-atau-hoaks-benarkah-virus-corona-bisa-dibunuh-dengan-konsumsi-makanan-alkali
- https://www.factcheck.org/2020/04/lemon-juice-tea-does-not-cure-covid-19-in-israel-or-anywhere-else/
- https://web.facebook.com/photo.php?fbid=10216533562633712&set=a.10207543970459526&type=3&theater&_rdc=1&_rdr
- https://www.msn.com/id-id/kesehatan/health/manfaat-air-lemon-untuk-kekebalan-tubuh/ar-BB11E62f?srcref=rss
- https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries
- https://kabar24.bisnis.com/read/20200412/19/1225767/57-pasien-positif-covid-19-di-palestina-sembuh
(GFD-2020-3830) [SALAH] Anak Pemilik Pempek Ny Kamto Dirampok di Jl Palagan Perum Monjali
Sumber: facebook.comTanggal publish: 15/04/2020
Berita
Beredar postingan video yang memperlihatkan rekaman CCTV perampokan kepada seorang pria. Pada narasi yang menyertainya, disebutkan peristiwa tersebut merupakan perampokan anak pemilik Pempek Ny Kamto yang berada di Jl. Palagan, Perum Monjali. Disebutkan bahwa perampok menggasak uang sebesar Rp20 juta.
Berikut kutipan narasinya:
“EFEK AKIBAT SEMUA NARAPIDANA DI BEBASKAN OLEH REZIM BERBASIS KOMUNIS..
DENGAN ALASAN YG TDK MASUK AKAL...
Anak pemilik empek2 Ny Kamto, Jl. Palagan tadi siang ditembak perampok di Perum Monjali 20 jt melayang
Mohon tingkatkan kewaspadaan diri masing2 maupun bersama. Kerusuhan sudah dimulai.”
Sesudah kroscek,
Bukan di Jogja dan bukan pempek ny kamto.
Tp anak bos pempek di Jambi
"Anak pemilik empek2 Ny Kamto, Jl. Palagan tadi siang ditembak perampok di Perum Monjali, 20 jt melayang
Mohon tingkatkan kewaspadaan diri masing2 maupun bersama. Kerusuhan sudah dimulai"
Sesudah kroscek,
Bukan di Jogja dan bukan pempek ny kamto.
Tp anak bos pempek di Jambi
Anak pemilik empek2 Ny Kamto, Jl. Palagan tadi siang ditembak perampok di Perum Monjali, 20 jt melayang
Mohon tingkatkan kewaspadaan diri masing2 maupun bersama. Kerusuhan sudah dimulai
Berikut kutipan narasinya:
“EFEK AKIBAT SEMUA NARAPIDANA DI BEBASKAN OLEH REZIM BERBASIS KOMUNIS..
DENGAN ALASAN YG TDK MASUK AKAL...
Anak pemilik empek2 Ny Kamto, Jl. Palagan tadi siang ditembak perampok di Perum Monjali 20 jt melayang
Mohon tingkatkan kewaspadaan diri masing2 maupun bersama. Kerusuhan sudah dimulai.”
Sesudah kroscek,
Bukan di Jogja dan bukan pempek ny kamto.
Tp anak bos pempek di Jambi
"Anak pemilik empek2 Ny Kamto, Jl. Palagan tadi siang ditembak perampok di Perum Monjali, 20 jt melayang
Mohon tingkatkan kewaspadaan diri masing2 maupun bersama. Kerusuhan sudah dimulai"
Sesudah kroscek,
Bukan di Jogja dan bukan pempek ny kamto.
Tp anak bos pempek di Jambi
Anak pemilik empek2 Ny Kamto, Jl. Palagan tadi siang ditembak perampok di Perum Monjali, 20 jt melayang
Mohon tingkatkan kewaspadaan diri masing2 maupun bersama. Kerusuhan sudah dimulai
Hasil Cek Fakta
Melalui hasil penelusuran, diketahui informasi yang dibagikan itu keliru. Diketahui bahwa perampokan sebenarnya terjadi di Jl. Sumbawa, RT 34, Kelurahan Thehok, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi. Kanit Reskrim Polsek Jambi Selatan Ipda Putu Gede Ega Purwita mengatakan bahwa pelaku perampokan berhasil membawa kabur uang senilai Rp20 juta.
“Korbannya ini adalah keponakan pengusaha pempek selamat. Sebelumnya korban ini baru dari Bank di kawasan pasar, lalu hendak menukarkan uang Rp 20 juta dengan nominal kecil dan kemudian dirampok di depan halaman rumah,” kata Putu Gede.
Korban yang diketahui berinisial DW itu awalnya membawa uang senilai Rp 20 juta. Uang itu rencananya akan diberikan ke rumah pamannya. Ketika hendak masuk ke rumah, korban didatangi dua pria menggunakan motor dan merampok uang yang dibawa korban.
Aksi perampokan senjata api ini juga sempat terekam kamera CCTV. Dari rekaman itu, pelaku sempat menembak korban lantaran ingin merebut uang yang dibawa oleh korban tersebut.
"Korban ini sempat melindungi tasnya yang berisikan uang, isi tasnya itu pecahan 10 ribu 20 ribu dengan total 20 juta. Lalu korban ditembak dengan senjata api rakitan, korban ditembak di bagian lengan dan kini sudah dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat," ujar Putu Gede.
“Korbannya ini adalah keponakan pengusaha pempek selamat. Sebelumnya korban ini baru dari Bank di kawasan pasar, lalu hendak menukarkan uang Rp 20 juta dengan nominal kecil dan kemudian dirampok di depan halaman rumah,” kata Putu Gede.
Korban yang diketahui berinisial DW itu awalnya membawa uang senilai Rp 20 juta. Uang itu rencananya akan diberikan ke rumah pamannya. Ketika hendak masuk ke rumah, korban didatangi dua pria menggunakan motor dan merampok uang yang dibawa korban.
Aksi perampokan senjata api ini juga sempat terekam kamera CCTV. Dari rekaman itu, pelaku sempat menembak korban lantaran ingin merebut uang yang dibawa oleh korban tersebut.
"Korban ini sempat melindungi tasnya yang berisikan uang, isi tasnya itu pecahan 10 ribu 20 ribu dengan total 20 juta. Lalu korban ditembak dengan senjata api rakitan, korban ditembak di bagian lengan dan kini sudah dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat," ujar Putu Gede.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kejadian lokasi perampokan tidak seperti pada klaim postingan. Oleh sebab itu, maka konten postingan tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1160738264258707/
- https://turnbackhoax.id/2020/04/15/salah-anak-pemilik-pempek-ny-kamto-dirampok-di-jl-palagan-perum-monjali/
- https://bengkulu.antaranews.com/berita/101094/terekam-cctv-pengusaha-pempek-di-jambi-jadi-korban-perampokan-bersenpi
- https://news.detik.com/berita/d-4970367/perampok-bersenpi-beraksi-di-jambi-gasak-duit-rp-20-juta
- https://kumparan.com/jambikita/keponakan-pemilik-pempek-selamat-di-jambi-ditembak-dan-dirampok-1tBsYLtJTL4
- https://jambiekspres.co.id/read/2020/04/08/30982/keponakan-bos-pempek-selamat-dirampok-uang-rp-20-juta-raib/
(GFD-2020-3831) [SALAH] Pasar Tebet Barat Ditutup Total Karena Ada Pedagang Positif Corona
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 15/04/2020
Berita
Beredar informasi yang menyebutkan Pasar Tebet Barat ditutup lantaran ada pedagang terpapar virus Corona atau wabah COVID-19. Dalam pesan itu juga disebutkan bahwa terdapat dua orang karyawan toko yang positif dan 12 orang lainnya saspek. Berikut kutipan narasinya:
“*Breaking news* Orang Tampa Gejala - OTG
(semoga jadi PERHATIAN berSAMA)
*JUST INFO* _*Pasar Tebet Barat*_ ditutup total karena pemilik _*Toko Kristal*_ di lantai 2 positif dan meninggal kemarin, lalu Kepala Pasar Jaya Tebet Barat inisiatif untuk rapid test ke semua pedagang Pasar Tebet Barat, hasilnya : _*2 orang karyawan toko kristal positif, dan 12 orang suspect*_ Hebatnya ke-14 orang itu baik2 aja, gak demam, gak sakit tenggorokan atau sesak nafas. Terinfeksi tanpa gejala, akhirnya dibawa langsung ke Wisma Atlet dan semua pedagang Pasar Tebet Barat wajib karantina mandiri di rumah dibawah Dinkes.”
“*Breaking news* Orang Tampa Gejala - OTG
(semoga jadi PERHATIAN berSAMA)
*JUST INFO* _*Pasar Tebet Barat*_ ditutup total karena pemilik _*Toko Kristal*_ di lantai 2 positif dan meninggal kemarin, lalu Kepala Pasar Jaya Tebet Barat inisiatif untuk rapid test ke semua pedagang Pasar Tebet Barat, hasilnya : _*2 orang karyawan toko kristal positif, dan 12 orang suspect*_ Hebatnya ke-14 orang itu baik2 aja, gak demam, gak sakit tenggorokan atau sesak nafas. Terinfeksi tanpa gejala, akhirnya dibawa langsung ke Wisma Atlet dan semua pedagang Pasar Tebet Barat wajib karantina mandiri di rumah dibawah Dinkes.”
Hasil Cek Fakta
Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa informasi tersebut tidak benar. Camat Tebet, Jakarta Selatan, Dyan Airlangga membantah kabar penutupan pasar itu karena ada pedagang terpapar COVID-19.
"Itu hoaks, pasar tetap buka tidak ada penutupan," kata Dyan di Jakarta, Rabu (15/4/2020).
Dyan mengaku telah menghubungi Kepala Pasar Tebet Barat untuk mengkonfirmasi pesan berantai di media sosial bahwa dua pedagang yang positif Corona Covid-19. "Itu hoaks, saya sudah hubungi langsung kepala pasarnya," kata Dyan.
Dyan mengatakan, di wilayah Tebet terdapat tiga pasar, yakni Tebet Barat, Tebet Timur dan Bukit Duri. Ketiga pasar ini tetap beroperasi melayani sejak awal pandemi Corona.
Camat Tebet memastikan pasar-pasar tetap beroperasi melayani pembeli selama masa tanggap darurat Corona dengan menyediakan kebutuhan pokok.
"Sesuai arahan Gubernur, pasar tetap beroperasi untuk menyediakan kebutuhan pokok masyarakat," kata Dyan.
"Itu hoaks, pasar tetap buka tidak ada penutupan," kata Dyan di Jakarta, Rabu (15/4/2020).
Dyan mengaku telah menghubungi Kepala Pasar Tebet Barat untuk mengkonfirmasi pesan berantai di media sosial bahwa dua pedagang yang positif Corona Covid-19. "Itu hoaks, saya sudah hubungi langsung kepala pasarnya," kata Dyan.
Dyan mengatakan, di wilayah Tebet terdapat tiga pasar, yakni Tebet Barat, Tebet Timur dan Bukit Duri. Ketiga pasar ini tetap beroperasi melayani sejak awal pandemi Corona.
Camat Tebet memastikan pasar-pasar tetap beroperasi melayani pembeli selama masa tanggap darurat Corona dengan menyediakan kebutuhan pokok.
"Sesuai arahan Gubernur, pasar tetap beroperasi untuk menyediakan kebutuhan pokok masyarakat," kata Dyan.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka informasi yang beredar tidak benar. Oleh sebab itu, maka konten informasi tersebut masuk ke dalam kategori Fabricated Content atau Konten Palsu.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1160966197569247/
- https://turnbackhoax.id/2020/04/15/salah-pasar-tebet-barat-ditutup-total-karena-ada-pedagang-positif-corona/
- https://www.antaranews.com/berita/1421169/camat-pastikan-pasar-tebet-barat-tetap-buka
- https://megapolitan.kompas.com/read/2020/04/15/10413851/hoaks-kabar-pasar-tebet-tutup-karena-ada-pedagang-positif-covid-19
- https://www.liputan6.com/news/read/4228169/kabar-pedagang-positif-corona-hoaks-camat-pastikan-pasar-tebet-tetap-buka
- https://www.merdeka.com/peristiwa/camat-pastikan-pasar-tebet-tetap-buka-kabar-2-pedagang-terpapar-covid-19-hoaks.html
Halaman: 7333/7817



