Beredar postingan foto di Facebook yang diklaim sebagai foto Presiden Soekarno berjabat tangan dengan Barrack Obama saat masih sekolah di SD Menteng.
Berikut kutipan narasinya:
“Saat Presiden Soekarno datang ke SD Menteng dan bersalaman dgn Barrack Obama kecil.
Tidak pernah ada orang yg menyangka klo ternyata Obama menjadi orang nomor satu di Amerika.
Memang Soekarno itu penuh kharisma”
(GFD-2020-4273) [SALAH] Foto Presiden Soekarno Bersama Barrack Obama Kecil
Sumber: facebook.comTanggal publish: 06/07/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim narasi tersebut tidak benar. Diketahui bahwa foto tersebut merupakan foto Adi Nasution dan Ida Nasution, anak dari H. Mualiff Nasution, Sekretaris Pribadi Presiden Soekarno.
Dilansir dari hoaxes.id, Ida Nasution menyatakan bahwa foto tersebut merupakan foto dirinya bersama kakak kembarnya Adi. "Itu foto saya bersama kakak kembar, Adi P Nasution, Foto yang sedang viral itu diambil pada saat ‘lebaran’ tahun 1962 bertempat di ruangan depan di Istana Negara,” jelas Ida Nasution.
“Yang datang semua pegawai Istana dan rakyat umum. Itu hanya acara bersalaman, tidak ada angpau, tidak ada bingkisan, apalagi acara makan-makan,” tambahnya. “Kami tinggal di kompleks Istana Negara sejak tahun 1950 hingga tahun 1965, setelah peristiwa G30S kami pindah ke Jalan Jawa Menteng.”
Ida Nasution juga menjelaskan bahwa foto tersebut diambil saat dirinya bersama kakak kembar (Adi Nasution) berusia 9 tahun menjelang 10 tahun. “Saya lahir tahun 1953,” kata Ida Nasution.
Dilansir dari hoaxes.id, Ida Nasution menyatakan bahwa foto tersebut merupakan foto dirinya bersama kakak kembarnya Adi. "Itu foto saya bersama kakak kembar, Adi P Nasution, Foto yang sedang viral itu diambil pada saat ‘lebaran’ tahun 1962 bertempat di ruangan depan di Istana Negara,” jelas Ida Nasution.
“Yang datang semua pegawai Istana dan rakyat umum. Itu hanya acara bersalaman, tidak ada angpau, tidak ada bingkisan, apalagi acara makan-makan,” tambahnya. “Kami tinggal di kompleks Istana Negara sejak tahun 1950 hingga tahun 1965, setelah peristiwa G30S kami pindah ke Jalan Jawa Menteng.”
Ida Nasution juga menjelaskan bahwa foto tersebut diambil saat dirinya bersama kakak kembar (Adi Nasution) berusia 9 tahun menjelang 10 tahun. “Saya lahir tahun 1953,” kata Ida Nasution.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten tersebut tidak benar foto Presiden Soekarno bertemu Barrack Obama kecil. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1227208560945010/
- https://turnbackhoax.id/2020/07/06/salah-foto-presiden-soekarno-bersama-barrack-obama-kecil/
- https://www.hoaxes.id/2017/07/fakta-foto-viral-disangka-obama-kecil-bersama-bung-karno.html
- https://twitter.com/SejarahRI/status/880601113820446720
- https://inet.detik.com/cyberlife/d-3544256/heboh-foto-obama-cilik-salaman-dengan-soekarno
(GFD-2020-4274) [SALAH] “Aktor Javed Haider menjual sayuran karena tidak ada pekerjaan akibat pandemi #COVID19”
Sumber: teitter.comTanggal publish: 06/07/2020
Berita
“He is an actor aaj woh sabzi bech raha hain javed hyder” atau yang jika diterjemahkan: “Hai aktor ini, hari ini dia menjual sayuran Javed Haider”
“No work due to lockdown mahamari #COVID19” atau yang jika diterjemahkan: “Tidak ada pekerjaan karena epidemi lockdown #COVID19”
“No work due to lockdown mahamari #COVID19” atau yang jika diterjemahkan: “Tidak ada pekerjaan karena epidemi lockdown #COVID19”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa aktor Bollywood Javed Hyder jadi penjual sayur di pasar untuk bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19 adalah klaim yang salah.
Javed Hyder membantah klaim itu. Video itu hanya akting untuk konten di TikTok dengan maksud untuk memotivasi followersnya agar tidak menyerah di masa sulit.
“Tidak, saya tidak menjual sayuran di pasar. Saya masih menjadi aktor sampai sekarang. Video itu saya cuma akting saja buat konten di TikTok dengan maksud untuk memotivasi followers saya agar tidak menyerah di masa sulit. Tidak ada pekerjaan yang besar atau kecil,” ujar Javed Hyder seperti dikutip dari Detik.com
Menanggapi isu yang menyebut bahwa finansial dirinya mengalami penurunan, Javed Hyder menjawab bahwa keuangannya dalam taraf cukup untuk hidup normal. Lebih lanjut, aktor Bollywood itu mengatakan bahwa jika ia harus berjualan sayur di pasar untuk mencukupi keperluan hidup, ia tidak malu untuk melakukannya.
Javed Hyder membantah klaim itu. Video itu hanya akting untuk konten di TikTok dengan maksud untuk memotivasi followersnya agar tidak menyerah di masa sulit.
“Tidak, saya tidak menjual sayuran di pasar. Saya masih menjadi aktor sampai sekarang. Video itu saya cuma akting saja buat konten di TikTok dengan maksud untuk memotivasi followers saya agar tidak menyerah di masa sulit. Tidak ada pekerjaan yang besar atau kecil,” ujar Javed Hyder seperti dikutip dari Detik.com
Menanggapi isu yang menyebut bahwa finansial dirinya mengalami penurunan, Javed Hyder menjawab bahwa keuangannya dalam taraf cukup untuk hidup normal. Lebih lanjut, aktor Bollywood itu mengatakan bahwa jika ia harus berjualan sayur di pasar untuk mencukupi keperluan hidup, ia tidak malu untuk melakukannya.
Kesimpulan
Javed Hyder membantah klaim itu. Video itu hanya akting untuk konten di TikTok dengan maksud untuk memotivasi followersnya agar tidak menyerah di masa sulit.
Rujukan
(GFD-2020-8168) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Bocah Ini Mengambil Batu untuk Balas Tentara India yang Tembak Kakeknya?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 06/07/2020
Berita
Empat foto yang diklaim sebagai foto-foto seorang bocah yang mengambil batu untuk membalas tentara India yang menembak kakeknya beredar di media sosial. Dalam sebuah foto, memang terlihat bocah tersebut mendekati seorang tentara yang membawa senjata api.
Dalam foto itu, terlihat pula seorang pria paruh baya yang tergeletak di tanah dengan baju putih bernoda merah. Ada pula foto saat bocah itu duduk di atas dada pria tersebut, foto saat bocah itu berada di dalam sebuah mobil, serta foto pria yang sama yang tergeletak di dekat tiga tentara.
Akun yang membagikan foto-foto dan klaim tersebut adalah akun Facebook Yed Felistinesia. Dalam unggahannya pada 1 Juli 2020 tersebut, akun itu menulis, "Tentara India membunuh kakeknya dan bocah laki-laki ini mengambil batu untuk membunuh pembunuh kakeknya. Sekarang tanyakan kepada dunia jika bocah ini mengambil senjata setelah dia besar untuk membunuh pembunuh kakeknya, akankah dunia memanggilnya teroris??? #Save_Kashmir R.Ul Islam."
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yed Felistinesia.
Apa benar bocah dalam foto-foto itu mengambil batu untuk membalas tentara India yang menembak kakeknya?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto-foto di atas denganreverse image toolSource. Hasilnya, ditemukan bahwa peristiwa dalam foto-foto itu memang ramai diberitakan oleh media-media India baru-baru ini.
Situs News18.com misalnya, memuat foto-foto yang identik pada 1 Juli 2020 dalam artikelnya yang berjudul "Jammu dan Kashmir: Pasukan keamanan yang menyelamatkan seorang anak berusia 3 tahun masih terus menembak teroris". Artikel ini membahas tentang serangan gerilyawan pemberontak di Sopore, distrik Baramulla, negara bagian Jammu dan Kashmir, India, yang menewaskan seorang tentara dan seorang warga sipil.
Beberapa foto unggahan akun Yed Felistinesia juga pernah dimuat dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh situs Asianetnews.com pada 2 Juli 2020. Artikel ini juga menceritakan tentang serangan teroris di Sopore yang menewaskan seorang warga sipil yang sedang bepergian bersama cucu laki-lakinya.
Dilansir dari HW News, foto saat bocah itu duduk di atas dada kakeknya dan mendekati seorang tentara yang membawa senjata api merupakan foto momen-momen ketika bocah berusia 3 tahun tersebut diselamatkan oleh seorang polisi Jammu dan Kashmir dari lokasi baku tembak di Sopore.
Sebelumnya, Ayad diketahui menangis tersedu-sedu dan berusaha membangunkan kakeknya yang bersimbah darah. Seorang polisi pun mendekatinya, mengambil Ayad dari lokasi baku tembak itu, lalu menggendongnya untuk diantarkan kepada orang tuanya.
Dalam laporannya, HM News juga memuat foto ketika Ayad digendong oleh polisi yang menyelamatkannya. Foto tersebut berasal dari unggahan akun Twitter resmi Polisi Zona Kashmir, @KashmirPolice, yang diberi keterangan, "JKP (Jammu and Kashmir Police) menyelamatkan seorang bocah laki-laki berusia 3 tahun dalam serangan teroris di Sopore."
Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter @KashmirPolice.
Menurut laporan HM News, anak itu sedang bepergian bersama kakeknya dengan mobil dari Srinagar ke Handwara. Mereka terjebak dalam baku tembak ketika melintasi Sopore, kota yang berada di distrik Baramulla, sekitar 50 kilometer dari Srinagar.
Penjelasan yang sama juga dimuat oleh Outlook India, bahwa foto yang viral itu merupakan foto saat bocah laki-laki tersebut dijemput oleh anggota tentara dan polisi dari lokasi baku tembak di Sopore pada 1 Juli 2020 yang menewaskan kakek bocah itu.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa bocah dalam foto-foto di atas mengambil batu untuk membalas tentara India yang menembak kakeknya menyesatkan. Foto-foto tersebut memperlihatkan momen-momen saat bocah laki-laki berusia tiga tahun tersebut diselamatkan oleh polisi India dari lokasi baku tembak antara polisi India dengan gerilyawan Jammu dan Kashmir di Sopore. Dalam peristiwa itu, kakek bocah tersebut tewas tertembak.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
(GFD-2020-8169) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ribuan Santri Tak Sadarkan Diri Usai Ikut Rapid Test Covid-19 dari RS Cina?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 06/07/2020
Berita
Sebuah gambar dengan logo CNN Indonesia yang berisi klaim bahwa ada ribuan santri di Kudus, Jawa Tengah, yang tak sadarkan diri usai ikut rapid test Covid-19 dari rumah sakit Cina beredar di media sosial. Gambar itu memuat sebuah tulisan pendek yang berjudul "Sehari Setelah Dilakukan Rapid Test Covid-19 Kepada Para Santri di Kudus, 1.000 Santri Tak Sadarkan Diri".
Gambar tersebut bertanggal 24 Juni 2020. Adapun tulisan pendek itu berbunyi: "Lebih dari 1.000 Para Santriawan & Santriawati di Kudus dalam keadaan lemah, sebagian tak sadarkan diri, setelah di lakukan Rapid Test Covid-19 oleh Tim Dokter gabungan dari Rs. Indonesia dan RS. Swasta dari China. Tim Dokter dari China di ketuai oleh Lie Kong Nyen, dan dari Indonesia oleh Ringgo Silalahi. Kini ke-2 Tim Dokter tersebut sedang di mintai keterangan oleh Menteri Kesehatan terkait kejadian tersebut."
Untuk mendukung narasi tersebut, dimuat juga empat foto dalam gambar itu. Dua di antaranya memperlihatkan sebuah prosedur rapid test. Sementara foto lainnya menampakkan tim medis yang sedang membawa pasien dan seorang polisi yang berada di antara sejumlah santri yang terlihat dalam kondisi lemah.
Di Facebook, gambar tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Nhickey Mhedhiola, yakni pada 3 Juli 2020. Akun itu pun menulis, "Rezim ini mau menghabisi Islam." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 100 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Nhickey Mhedhiola.
Artikel ini akan berisi pemeriksaan terhadap dua hal, yakni:
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi keempat foto di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digitalnya denganreverse image toolGoogle. Berikut ini hasilnya:
Fakta:
Foto ini tidak terkait dengan rapid test para santri di Kudus. Dalam artikelnya, kantor berita Antara menulis keterangan bahwa foto ini adalah foto saat tim medis Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Magetan menggelar rapid test Covid-19 untuk para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fatah di Desa Temboro, Kecamatan Karas, Magetan, pada 21 April 2020.
Sumber: Antara
Fakta:
Sama halnya dengan foto pertama, foto ini adalah foto saat Dinas Kesehatan Jawa Timur dan Magetan melakukan rapid test Covid-19 terhadap 305 santri Ponpes Al-Fatah Magetan pada 21 April 2020. Sebanyak 31 santri dinyatakan reaktif dari rapid test tersebut.
Sumber: Antara
Fakta:
Foto ini adalah foto kegiatan simulasi penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Loekmono Hadi, Kudus, Jawa Tengah, pada 1 Februari 2020. Dalam simulasi ini, tim medis mengevakuasi seorang pasien ke ruang isolasi khusus. Foto ini adalah foto jepretan forografer Antara, Yusuf Nugroho, yang dimuat di situs Suara.com.
Sumber: Suara.com
Fakta:
Foto ini bukan foto santri di Kudus yang tak sadarkan diri setelah rapid test, melainkan foto puluhan santri Ponpes Syafaatul Quran di Dukuh Rimbu Lor, Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Demak, yang mendadak mual dan pusing diduga akibat keracunan makanan pada 25 Januari 2018.
Sumber: Okezone.com
Terkait klaim ribuan santri Kudus tak sadarkan diri
Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo memasukkan kata kunci “rapid test santri Kudus” di kolom pencarian situs CNN Indonesia. Lewat cara ini, ditemukan bahwa CNN Indonesia tidak pernah menerbitkan berita dengan judul sebagaimana yang tercantum dalam gambar berlogo CNN Indonesia di atas. Demikian juga di media lain, tidak terdapat pemberitaan soal ribuan santri di Kudus yang tak sadarkan diri karena ikut rapid test Covid-19.
Pada Juni-Juli 2020, Pemerintah Kabupaten Kudus memang memfasilitasi rapid test Covid-19 bagi para santri yang akan kembali ke ponpesnya masing-masing. Hasil non-reaktif rapid test menjadi syarat bagi para santri untuk bisa kembali ke ponpes. Dikutip dari Radio Suara Kudus, hasil rapid test terhadap ratusan santri Kudus ini semuanya non-reaktif.
Bahkan, untuk tes kesehatan secara keseluruhan, kondisi para santri cukup bagus. Setelah menjalani rapid test, para santri itu pun difasilitasi untuk kembali ke ponpes. Pada gelombang pertama, sekitar 300 santri diberangkatkan ke Ponpes Tegalrejo Magelang. Kemudian, pada 4 Juli, diberangkatkan 100 santri ke ponpes di Kediri, Jatim.
Rapid test Covid-19 terhadap para santri Kudus tersebut tidak melibatkan rumah sakit dari Cina. Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama ( RMINU ) Kudus menjelaskan rapid test di Pendopo Kabupaten Kudus itu adalah hasil kerja sama himpunan alumni-alumni pesantren, RMINU, dan Pemkab Kudus untuk memastikan santri bisa kembali ke ponpes dalam kondisi baik.
Sejauh ini, tidak pernah ada laporan bahwa seseorang tak sadarkan diri karena rapid test Covid-19, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Rapid test bekerja dengan cara mengambil sampel darah dari ujung jari atau pembuluh darah vena. Kemudian, sampel darah diteteskan ke alat tes atau bisa juga ditetesi serum terlebih dulu. Setelah itu, antibodi akan mengeluarkan respons yang bisa memberikan informasi tentang kontaminasi virus Corona. Kendati demikian, hasil tes terbagi dalam tiga kategori.
Hasil tes masuk dalam kategori reaktif saat terdapat garis yang muncul pada alat tes, yakni pada kolom kontrol dan kolom antibodi. Bila terdapat garis pada dua kolom ini, pasien direkomendasikan untuk melakukan konsultasi untuk tes dengan metode lain, sepertipolymerase chain reaction(PCR). Tes ini dilakukan agar pasien mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Sementara hasil tes masuk dalam kategori non-reaktif bila hanya muncul garis pada kolom kontrol. Kondisi ini terjadi karena antibodi belum terbentuk kendati virus telah terdeteksi. Pada kondisi ini, pihak rumah sakit menyarankan agar pasien berkonsultasi dengan dokter dan melakukan isolasi mandiri selama sepekan hingga dua pekan. Terakhir, bila hasil tak menunjukkan apapun pada kolom kontrol dan antibodi, berarti tidak sahih.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa ada ribuan santri di Kudus yang tak sadarkan diri usai ikut rapid test Covid-19 dari rumah sakit Cina, sebagaimana yang tercantum dalam gambar berlogo CNN Indonesia di atas, keliru. Pertama, CNN Indonesia tidak pernah menayangkan berita itu. Kedua, empat foto yang ada dalam gambar di atas sama sekali tidak terkait dengan rapid test para santri Kudus. Ketiga, tidak terdapat seribu santri Kudus yang pingsan setelah menjalani rapid test. Rapid test yang diikuti oleh pada santri Kudus pun tidak berasal dari rumah sakit Cina.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://web.archive.org/save/
- https://www.facebook.com/photo.php?fbid=106133277832968&set=a.104117524701210&type=3&theater
- https://jateng.antaranews.com/nasional/berita/1435136/santri-ponpes-temboro-magetan-jatim-jalani-rapid-test-covid-19?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews
- https://www.antaranews.com/berita/1437476/31-santri-temboro-magetan-reaktif-sesuai-hasil-rapid-test
- https://www.suara.com/foto/2020/02/01/155128/simulasi-penanganan-pasien-virus-corona-di-kudus
- https://news.okezone.com/read/2018/01/26/512/1850891/puluhan-santri-pondok-pesantren-di-demak-keracunan-massal
- https://www.radiosuarakudus.com/setelah-dilakukan-cek-kesehatan-dan-rapid-test-100-santri-asal-kudus-kembali-di-ponpes-kediri/
- https://www.nu.or.id/post/read/121285/rminu-kudus--hoaks--berita-ribuan-santri-pingsan-usai-rapid-test
- https://gaya.tempo.co/read/1333062/memahami-cara-kerja-rapid-test-virus-corona/full&view=ok
Halaman: 7278/7906






