(GFD-2020-8178) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Tidak Ada Kematian yang Murni Disebabkan oleh Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 10/07/2020
Berita
Akun Facebook Sony H. Waluyo membagikan sebuah tulisan panjang yang menyinggung keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menarik negaranya sebagai anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam tulisan itu, terdapat pula tudingan bahwa WHO hanya menciptakan ketakutan tanpa memberikan bukti adanya kematian yang murni disebabkan oleh penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru, Covid-19.
Tulisan yang dibagikan pada 8 Juli 2020 ini juga berisi sejumlah klaim terkait Covid-19, mulai dari adanya kekeliruan tes Covid-19 dengan antibodi dan tidak perlunya menunggu vaksin Covid-19 karena selama ini pasien Covid-19 berhasil sembuh tanpa vaksin.
Untuk mendukung narasi-narasi dalam tulisannya, akun Sony H. Waluyo menyertakan sejumlah gambar tangkapan layar artikel berita. Klaim bahwa tidak ada kematian yang murni disebabkan oleh Covid-19 misalnya, dikutip dari dokter Stoian Alexov di situs Zaidpub.com. Selain itu, terdapat artikel yang memuat pernyataan Trump serta juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Ahmad Yurianto.
Gambar tangkapan layar sebagian isi tulisan panjang (kiri) dan gambar-gambar tangkapan layar (kanan) yang diunggah oleh akun Facebook Sony H. Waluyo.
Bagaimana kebenaran klaim-klaim terkait Covid-19 dalam tulisan akun Sony H. Waluyo tersebut?
Hasil Cek Fakta
Klaim 1: Telah banyak kritikan yang mengatakan bahwa data korban tidak valid dan murni sebab selalu ada penyakit lain yang menyertai/komplikasi. Narasi ini dilengkapi dengan gambar tangkapan layar artikel dari situs Zaidpub.com berisi pernyataan dokter Stoian Alenov bahwa tidak ada kematian di Eropa yang murni disebabkan oleh Covid-19.
Fakta:
Hingga 10 Juli 2020 pukul 14.00 WIB, tingkat kematian kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 3.417 orang dari total kasus sebanyak 70.736 orang. Jumlah kematian yang diumumkan oleh pemerintah pusat tersebut adalah kasus yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19 sesuai hasil tespolymerase chain reaction(PCR).
Covid-19 memang memperburuk kondisi kesehatan pasien yang memiliki penyakit penyerta, sehingga menyebabkan kematian lebih dini. Namun, meski tingkat kematian Covid-19 lebih tinggi terjadi pada mereka yang memiliki penyakit penyerta, ditemukan juga pasien yang meninggal tanpa penyakit penyerta.
Dikutip dari Detik.com, Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Rita Rogayah, mengatakan ada 76 pasien Covid-19 yang meninggal dari sebanyak 205 pasien positif Covid-19 di rumah sakitnya pada April 2020. Dari jumlah pasien yang meninggal itu, 65 pasien (86 persen) memiliki penyakit penyerta, sementara 11 pasien (14 persen) lainnya tanpa penyakit penyakit.
Kemudian, di Surabaya, Jawa Timur, hingga 15 Juni 2020, terdapat 328 pasien positif Covid-19 yang meninggal. Sebanyak 300 orang di antaranya memiliki penyakit penyerta, sementara 28 orang lainnya tidak mempunyai penyakit bawaan alias meninggal murni karena Covid-19.
Pernyataan dokter Stoian Alenov di situs Zaidpub.com pun telah dibantah oleh organisasi pemeriksa fakta Lead Stories. Menurut temuan mereka, sekitar 44.600 orang di Inggris meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru tersebut.
Sumber: Kemenkes, Detik.com, IDN Times, dan Lead Stories
Klaim 2: Dokter Andrew Kaufman menyatakan sampel uji Covid-19 tidak dimurnikan sehingga ada kekeliruan identifikasi antara virus dengan exosome yang adalah materi genetik antibodi. Inilah mengapa tes Covid-19 sering merujuk pada antibodi reaktif sebagai acuan untuk deteksi infeksi virus. Tentu saja hasilnya menjadi sering meleset sebab antibodi reaktif dapat timbul karena berbagai sebab dan bukan hanya karena oleh Covid-19.
Fakta:
Uji antibodi di Indonesia dengan rapid test tidak digunakan untuk mendeteksi Covid-19, melainkan hanya untuk penapisan atau screening. Untuk mendeteksi Covid-19, tes yang digunakan di banyak negara, termasuk yang direkomendasikan oleh WHO, adalah tes PCR.
Tes PCR tidak mendeteksi virus melalui antibodi, melainkan melalui potongan-potongan materi genetik virus yang terdapat pada lendir, air liur, dan sel-sel di bagian paling belakang rongga hidung. Setelah sampel dikumpulkan, suatu bahan kimia dipakai untuk menghilangkan materi-materi lain sehingga hanya menyisakan materi genetik virus yang disebut RNA.
Lalu, enzim ditambahkan ke dalam sampel melalui proses kimia untuk menyalin RNA menjadi DNA, yang kemudian dapat diproses di dalam mesin dan disalin berulang kali. Dengan salinan DNA yang cukup, para ilmuwan kemudian dapat menerapkantag fluorescentpada sampel yang mengikat potongan spesifik bahan genetik untuk mendeteksi adanya SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19.
Meski memiliki akurasi yang lebih tinggi ketimbang tes antibodi (rapid test), tes PCR tetap memiliki potensi negatif palsu. Namun, potensi ini bukan diakibatkan seperti klaim di atas. Negatif palsu bisa terjadi karena tiga hal. Pertama, jika infeksi yang terjadi pada seseorang yang dites masih terlalu dini atau malah terlambat sehingga tidak terdapat virus dalam jumlah yang cukup di sel mereka. Kedua, jika layanan kesehatan tidak mengumpulkan jumlah sampel yang cukup, misalnya swab kurang. Ketiga, jika jarak waktu antara pengambilan sampel dan tes terlalu lama, yang membuat RNA virus terurai.
Sumber: Live Science dan The Conversation
Klaim 3: Takut, khawatir, dan stres juga dialami para nakes sehingga tidak leluasa menangani pasien dengan akibat justru pasien yang perlu pertolongan dengan segera tidak tertangani. Sering kali kemudian hasil uji lab mendapati mereka yang meninggal tak tertolong ternyata negatif Covid-19 namun dimakamkan dengan protokol Covid-19 dan terlanjur diberitakan sebagai korban Covid-19.
Fakta:
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Doni Monardo menegaskan penerapan protokol pemakaman Covid-19 juga harus dilakukan pada pasien dalam pengawasan (PDP), untuk menghindari adanya penularan akibat salah penangangan. "Selama belum ada kepastian tes dari dinas kesehatan di daerah, maka pasien itu tetap diberikan status pasien Covid," ujar Doni pada 20 April 2020.
Doni mengatakan tak ingin ada kejadian yang terulang, di mana pasien suspek yang meninggal dimakamkan biasa, kemudian belakangan diketahui hasil tes pasien tersebut positif Covid-19. Karena itu, perlakuan bagi PDP akan sama dengan pasien positif hingga hasil tes lab keluar. Nantinya, Kementerian Kesehatan yang bakal mengumumkan pasien tersebut dinyatakan positif atau negatif.
"Untuk menghindari agar tidak terjadi lagi pasien yang meninggal non-Covid-19 atau Covid-19 salah dalam melakukan analisis atau mengambil keputusan," kata Doni. Hal ini, menurut Doni, juga menjawab sejumlah pertanyaan mengenai banyaknya pemakaman tertutup dengan protokol Covid-19. Mereka memang tak seluruhnya sudah dinyatakan positif, namun bisa jadi PDP yang meninggal sebelum hasil tesnya keluar atau bahkan belum dites.
Sumber: Tempo
Klaim 4: Fakta di lapangan menyatakan dengan gamblang bahwa semua orang di seluruh dunia selama ini yang didiagnosa terinfeksi jelas berhasil sembuh tanpa vaksin. Dari cara kerja vaksin sebenarnya juga sangat jelas dan gamblang bahwa vaksin juga bukan obat melainkan virus yang dilemahkan untuk memicu antibodi. Ini artinya sangat jelas bahwa antibodilah yang tetap menjadi ujung tombak untuk menangani virus, baik pada orang yang divaksin ataupun tidak.
Fakta:
Hadirnya vaksin telah mencegah setidaknya 10 juta kematian pada 2010-2015. Jutaan orang di seluruh dunia pun terlindungi dari penderitaan dan kecacatan yang terkait dengan penyakit seperti pneumonia, diare, batuk rejan, campak, dan polio. Program imunisasi yang berhasil juga memungkinkan prioritas nasional, seperti pendidikan dan pembangunan ekonomi, dapat bertahan.
Dikutip dari CDC, vaksin memberikan kekebalan pada tubuh untuk melawan penyakit tertentu. Sistem kekebalan mengenali virus atau kuman yang masuk ke dalam tubuh sebagai "penyerbu asing" (disebut antigen), dan tubuh menghasilkan protein yang disebut antibodi untuk melawannya.
Saat seorang anak terinfeksi untuk pertama kalinya oleh antigen spesifik (misalnya virus campak), sistem kekebalan bakal menghasilkan antibodi yang dirancang untuk melawannya. Namun, sistem kekebalan biasanya tidak bekerja cukup cepat untuk mencegah antigen yang menyebabkan penyakit, sehingga si anak akan tetap sakit. Namun, sistem kekebalan “mengingat” antigen itu. Jika masuk ke tubuh lagi, bahkan setelah bertahun-tahun, sistem kekebalan dapa
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi dalam tulisan yang diunggah oleh akun Sony H. Waluyo menyesatkan. Klaim bahwa tidak ada kematian yang murni disebabkan oleh Covid-19 pun tidak akurat karena ditemukan sejumlah pasien Covid-19 yang meninggal yang tidak memiliki penyakit penyerta.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/LMwQ0
- https://www.kemkes.go.id/article/view/20012900002/Kesiapsiagaan-menghadapi-Infeksi-Novel-Coronavirus.html
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5045877/14-persen-meninggal-tanpa-penyakit-penyerta-masih-ragukan-bahaya-corona
- https://jatim.idntimes.com/news/jatim/fitria-madia/tanpa-komorbid-28-pasien-meninggal-di-surabaya-murni-karena-covid/2
- https://leadstories.com/hoax-alert/2020/07/fact-check-doctors-claim-that-no-one-has-died-from-the-coronavirus-is-not-true.html
- https://www.livescience.com/covid19-coronavirus-tests-false-negatives.html
- https://theconversation.com/coronavirus-tests-are-pretty-accurate-but-far-from-perfect-136671
- https://nasional.tempo.co/read/1333549/protokol-pemakaman-jenazah-pdp-sama-dengan-pasien-covid-19/full&view=ok
- https://www.who.int/publications/10-year-review/vaccines/en/
- https://www.cdc.gov/vaccines/vac-gen/howvpd.htm
(GFD-2020-4296) [SALAH] Foto “Inilah Makam Nabi Muhammad Saw di masjid Nabawi”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 09/07/2020
Berita
Beredar foto makam yang diklaim adalah makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi. Salah satu yang membagikan adalah akun Yanti Yanti (fb.com/100044527606603). Akun ini membagikan unggahan dari akun MamahNya Mia (fb.com/mamanya.mia.589) yang mengunggah foto makam tersebut dengan narasi:
“Subhanallah.. Inilah Makam Nabi Muhammad Saw di masjid Nabawi.
Yang menuliskan Aamiin Lalu Bagikan Foto Ini, semoga terkabul Doanya, Dikaruniai Banyak Keberuntungan dan Rizqi berlimpah Berkah, bisa ke sini berziarah. Aamiin yaa Robbal Alamiin”
“Subhanallah.. Inilah Makam Nabi Muhammad Saw di masjid Nabawi.
Yang menuliskan Aamiin Lalu Bagikan Foto Ini, semoga terkabul Doanya, Dikaruniai Banyak Keberuntungan dan Rizqi berlimpah Berkah, bisa ke sini berziarah. Aamiin yaa Robbal Alamiin”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Periksa Fakta AFP Indonesia, klaim bahwa ada foto makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi adalah klaim yang salah.
Faktanya, makam di foto yang diunggah oleh sumber klaim bukan Nabi Muhammad SAW dan bukan di Masjid Nabawi. Foto itu adalah kuburan Suleyman Ibn Halid, seorang sahabat nabi di kota Diyarbakir, Turki.
Foto itu misalnya pernah dimuat di artikel berjudul “DİYARBAKIR – SUR İÇİNDE . KALE İÇİNDE HAZRETİ SÜLEYMAN CAMİİNDEDİR.” yang dimuat di situs Evliyalar.net, pada tanggal 25 September 2014. Terjemahan judul artikel itu adalah: “Di Sur, Diyarbakir, di dalam Masjid Suleyman”.
Tulisan putih berbahasa Turki di foto itu artinya: “Yang dimuliakan Suleyman Ibn Halid (semoga Allah meridainya).”
Tulisan di lempengan logam di kuburan itu artinya: “Yang dimuliakan Suleyman Ibn-i Halid (semoga Allah meridainya)
Tahun wafat: 639.”
Foto yang sama juga pernah dimuat dalam laporan tahun 2019 berjudul “Sancak ‘çalınmasın’ diye Antep’e gönderilmiş” tentang kuburan di Masjid Hazrat Suleiman di Diyarbakir oleh media lokal, Guneydogu Ekspres.
Faktanya, makam di foto yang diunggah oleh sumber klaim bukan Nabi Muhammad SAW dan bukan di Masjid Nabawi. Foto itu adalah kuburan Suleyman Ibn Halid, seorang sahabat nabi di kota Diyarbakir, Turki.
Foto itu misalnya pernah dimuat di artikel berjudul “DİYARBAKIR – SUR İÇİNDE . KALE İÇİNDE HAZRETİ SÜLEYMAN CAMİİNDEDİR.” yang dimuat di situs Evliyalar.net, pada tanggal 25 September 2014. Terjemahan judul artikel itu adalah: “Di Sur, Diyarbakir, di dalam Masjid Suleyman”.
Tulisan putih berbahasa Turki di foto itu artinya: “Yang dimuliakan Suleyman Ibn Halid (semoga Allah meridainya).”
Tulisan di lempengan logam di kuburan itu artinya: “Yang dimuliakan Suleyman Ibn-i Halid (semoga Allah meridainya)
Tahun wafat: 639.”
Foto yang sama juga pernah dimuat dalam laporan tahun 2019 berjudul “Sancak ‘çalınmasın’ diye Antep’e gönderilmiş” tentang kuburan di Masjid Hazrat Suleiman di Diyarbakir oleh media lokal, Guneydogu Ekspres.
Kesimpulan
Bukan makam Nabi Muhammad SAW dan bukan di Masjid Nabawi. Foto itu adalah kuburan Suleyman Ibn Halid, seorang sahabat nabi di kota Diyarbakir, Turki.
Rujukan
- https://periksafakta.afp.com/foto-ini-telah-beredar-dalam-laporan-tentang-kuburan-sahabat-nabi-muhammad-di-turki
- http://www.evliyalar.net/hz-suleyman-ibn-halid-r-a/
- https://www.guneydoguekspres.com/guncel/sancak-calinmasin-diye-antepe-gonderilmis-h6493.html
- https://www.google.com/maps/place/Hazrat+Suleiman+Mosque/@37.9148237,40.2388004,15z/data=!4m5!3m4!1s0x0:0xbddd47048a6064a9!8m2!3d37.9148237!4d40.2388004
(GFD-2020-4297) [SALAH] “Jenderal TNI (Purn) DR. ENDRIARTONO SUTARTO, M.Ph., Panglima TNI ke 14 Wafat”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 09/07/2020
Berita
Akun Abdullah Bastian (fb.com/1288440713) mengunggah sebuah gambar yang terdapat narasi sebagai berikut:
“Innalillahi wainna Illaihi Roji’un . Turut Berdukacita atas Wafatnya Jenderal TNI (Purn) DR. ENDRIARTONO SUTARTO, Mph., Panglima TNI ke 14. Semoga Almarhum Wafat dalam HUSNUL KHOTIMAH dan diampuni segala Dosa dosanya serta dilapangkan kuburnya… Alfatihah… Aamiiin….”
“Innalillahi wainna Illaihi Roji’un . Turut Berdukacita atas Wafatnya Jenderal TNI (Purn) DR. ENDRIARTONO SUTARTO, Mph., Panglima TNI ke 14. Semoga Almarhum Wafat dalam HUSNUL KHOTIMAH dan diampuni segala Dosa dosanya serta dilapangkan kuburnya… Alfatihah… Aamiiin….”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Medcom, klaim bahwa Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto meninggal dunia adalah klaim yang salah.
Faktanya, klaim tersebut adalah informasi palsu. Yang meninggal adalah Brigjen TNI (Purn) DR. H. Endrarto Sutarto, saudara dari Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto.
Selasa 7 Juli 2020, Endriartono terpantau menghadiri upacara persemayaman Jenazah Brigjen TNI (Purn) DR. H. Endrarto Sutarto di komplek Sederhana Kodam Jaya Kebon Jeruk, Jalan Flamboyan, Jakarta Barat.
Almarhum Endrarto diketahui saudara dari Endriartono. Almarhum pernah menjabat sebagai Sekjen Depkes, Kesatuan Kesehatan Kostrad.
“Hadir dalam Kegiatan di rumah duka Almarhum DR. H. ENDRARTO SUTARTO antara lain; Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto (Mantan Panglima TNI),” tulis Kodamjaya dalam situsnya kodamjaya-tniad.mil.id,Rabu 8 Juli 2020.
Faktanya, klaim tersebut adalah informasi palsu. Yang meninggal adalah Brigjen TNI (Purn) DR. H. Endrarto Sutarto, saudara dari Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto.
Selasa 7 Juli 2020, Endriartono terpantau menghadiri upacara persemayaman Jenazah Brigjen TNI (Purn) DR. H. Endrarto Sutarto di komplek Sederhana Kodam Jaya Kebon Jeruk, Jalan Flamboyan, Jakarta Barat.
Almarhum Endrarto diketahui saudara dari Endriartono. Almarhum pernah menjabat sebagai Sekjen Depkes, Kesatuan Kesehatan Kostrad.
“Hadir dalam Kegiatan di rumah duka Almarhum DR. H. ENDRARTO SUTARTO antara lain; Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto (Mantan Panglima TNI),” tulis Kodamjaya dalam situsnya kodamjaya-tniad.mil.id,Rabu 8 Juli 2020.
Kesimpulan
Informasi palsu. Yang meninggal adalah Brigjen TNI (Purn) DR. H. Endrarto Sutarto, saudara dari Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto.
Rujukan
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/0k80ppWk-mantan-panglima-tni-endriartono-sutarto-meninggal-dunia-hoaks
- https://kodamjaya-tniad.mil.id/danramil-05-kj-dampingi-dandim-0503-jb-hadiri-proses-pemakaman-jenazah-brigjen-tni-purn-dr-h-endrarto-sutarto/
- https://military.wikia.org/wiki/Endriartono_Sutarto
(GFD-2020-4298) [SALAH] Pengakuan Ribka Tjiptaning Semua Anak PKI Bergabung ke PDIP
Sumber: facebook.comTanggal publish: 09/07/2020
Berita
Akun Facebook Generasi Milenial mengunggah sebuah gambar tangkapan layar video di YouTube dengan narasi “Pengakuan Ribka Tjiptaning..!!!. Semua anak PKI bergabung ke PDIP” pada 6 Juli 2020. Unggahan tersebut telah mendapatkan respon sebanyak 500 reaksi, 137 komentar, dan telah dibagikan sebanyak 173 kali.
Berikut kutipan narasinya:
“Pengakuan Ribka Tjiptaning..!!!. Mayoritas anak PKI bergabung ke PDIP”
Berikut kutipan narasinya:
“Pengakuan Ribka Tjiptaning..!!!. Mayoritas anak PKI bergabung ke PDIP”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, gambar tangkapan layar tersebut merupakan potongan dari video talkshow “Analisa” tentang Kesaksian Anak PKI di Lativi (saat ini bernama tvOne) dalam rangka memperingati 37 tahun G30S/PKI tahun 2002. Talkshow “Analisa” dilakukan terkait dengan peluncuran buku yang ditulis oleh Ribka Tjiptaning dengan judul “Aku Bangga Jadi Anak PKI.” Video tersebut diunggah oleh kanal YouTube Andre Agusta W. A20 pada 17 Agustus 2016 yang terbagi menjadi tiga bagian dengan masing-masing video berdurasi selama 10.43 menit, 6.58 menit, dan 6.15 menit.
Pada akhir wawancara, Ribka yang juga pada saat itu merupakan Wakil Ketua 1 DPD Jawa Barat mengungkapkan anak-anak eks anggota PKI memberikan suaranya kepada PDIP dalam Pemilihan Legislatif 1999. Mereka memiliki harapan bahwa Megawati Soekarnoputri yang menjadi lambang perjuangan rakyat dapat memberikan perubahan dari masa Orde Baru. Namun, Ribka menyatakan bahwa belum terlihat adanya perjuangan PDIP terkait perubahan bagi anak-anak eks anggota PKI tersebut.
“Sampai sekarang, belum ada tanda-tanda Mbak Mega memperjuangkan ke arah ke sana,” ungkap Ribka.
Konteks dari pernyataan Ribka inilah yang dihilangkan dan dipotong durasinya menjadi hanya sekitar 1 menit yang kemudian diunggah oleh kanal YouTube Lowo Ijo pada 3 April 2019 dengan judul “Pengakuan Ribka Tjiptaning..!!!. Mayoritas anak PKI bergabung ke PDIP.”
Pada akhir wawancara, Ribka yang juga pada saat itu merupakan Wakil Ketua 1 DPD Jawa Barat mengungkapkan anak-anak eks anggota PKI memberikan suaranya kepada PDIP dalam Pemilihan Legislatif 1999. Mereka memiliki harapan bahwa Megawati Soekarnoputri yang menjadi lambang perjuangan rakyat dapat memberikan perubahan dari masa Orde Baru. Namun, Ribka menyatakan bahwa belum terlihat adanya perjuangan PDIP terkait perubahan bagi anak-anak eks anggota PKI tersebut.
“Sampai sekarang, belum ada tanda-tanda Mbak Mega memperjuangkan ke arah ke sana,” ungkap Ribka.
Konteks dari pernyataan Ribka inilah yang dihilangkan dan dipotong durasinya menjadi hanya sekitar 1 menit yang kemudian diunggah oleh kanal YouTube Lowo Ijo pada 3 April 2019 dengan judul “Pengakuan Ribka Tjiptaning..!!!. Mayoritas anak PKI bergabung ke PDIP.”
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran di atas, maka narasi dari gambar tangkapan layar video YouTube yang diunggah di Facebook masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan. Sebab, tidak disebutkan informasi dalam video bahwa semua anak eks anggota PKI bergabung ke PDIP.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1229476247384908/
- https://turnbackhoax.id/2020/07/09/salah-pengakuan-ribka-tjiptaning-semua-anak-pki-bergabung-ke-pdip/
- https://youtu.be/QCj6Bka4j2E
- https://youtu.be/gqg6evsneSc
- https://youtu.be/7IYLw88msx4
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/869/fakta-atau-hoaks-benarkah-ribka-tjiptaning-akui-semua-anak-pki-gabung-pdip
Halaman: 7268/7906



