• (GFD-2020-5293) [SALAH] “Ini lho bapaknya Jokowi, yang namanya Widjiatno”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/10/2020

    Berita

    “GARA2 TUKANG ANGON BEBEK ANGSA INI NEGARAKU TERCINTA JADI AMBURADHUL..SAUDARA2 KU BNYK YG JADI KORBAN”

    “Ini lho bapaknya Jokowi, yang namanya Widjiatno!! Dokumen Negara sudah dibuka! Jokowi asli PKI Tulen! Ganyang Jokowi PKI”

    Hasil Cek Fakta

    Akun facebook bernama Cintya Bella mengunggah sebuah foto dengan narasi, “GARA2 TUKANG ANGON BEBEK ANGSA INI NEGARAKU TERCINTA JADI AMBURADHUL..SAUDARA2 KU BNYK YG JADI KORBAN”. Unggahan tersebut di posting pada 13 Oktober 2020

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim tersebut adalah salah. Faktanya, pria dalam foto tersebut bukanlah Widjiatno, melainkan jendral Wang Zhen yang merupakan figur politik Tiongkok dan salah satu dari Delapan Tetua Partai Komunis Tiongkok.

    Wang Zhen lahir di Kabupaten Liuyang, Hunan, Tiongkok, 11 April 1908 – meninggal di Guangzhou, 12 Maret 1993 pada umur 84 tahun. Ia adalah orang dekat Presiden Tiongkok berkuasa Li Xiannian pada masa jabatan tahun 1982 hingga 1985.

    Bantahan terkait ayah asli Pak Jokowi adalah pria berseragam seperti pada gambar sudah di periksa faktanya oleh Mafindo, “[SALAH] Akhirnya Bocor Juga Bapaknya Jokowi Yang Asli” yang tayang pada 29 Juli 2020.
    Lencana palu arit di kerah seragam yang berwarna merah pada foto merupakan rekayasa. Sebab, foto asli Wang merupakan foto hitam putih.

    Dikutip dari Detik.com, nama ayah kandung Jokowi adalah Wijiatno Notomiharjo. Menurut buku “Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi, Kisah Perempuan Pengajar Kesederhanaan”, Notomiharjo tinggal bersama kakeknya di Kampung Klelesan, Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, semasa melajang.

    Sementara itu, menurut arsip pemberitaan Tempo, ayah Notomiharjo atau kakek kandung Jokowi bernama Lamidi Wiryo Miharjo. Dikutip dari Detik dan Tempo, Lamidi merupakan Kepala Desa Kragan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah. Ia menjabat sejak 1950 hingga 1980-an.

    Dengan demikian, foto prajurit yang diisukan sebagai ayah pak Jokowi adalah salah dan merupakan konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Ayang Setiawan (Universitas Suryakancana).

    Informasi tersebut tidak benar. Faktanya, pria dalam foto tersebut bukanlah Widjiatno, melainkan jendral Wang Zhen yang merupakan figur politik Tiongkok dan salah satu dari Delapan Tetua Partai Komunis Tiongkok.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5294) [SALAH] Video “tol cikampek di blokir buruh menuju jakarta jam 08.00 tolak omnibus law”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/10/2020

    Berita

    Akun Siti Elizhah (fb.com/siti.elizhah) mengunggah sebuah video pada Selasa, 6 Oktober 2020 dengan narasi sebagai berikut:

    “tol cikampek di blokir buruh menuju jakarta jam 08.00 tolak omnibus law yg sengsarakan rakyat untungkan cukong cukong *#TolakOmnibusLaw* *#TolakRuuHIPKomunis*”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya peserta aksi demo tolak Omnibus Law yang memblokir Tol Cikampek menuju Jakarta pada 6 Oktober 2020 adalah klaim yang salah.

    Faktanya, bukan demo tolak Omnibus Law tahun 2020. Aksi unjuk rasa di video itu adalah aksi unjuk rasa tahun 2012.Aksi unjuk rasa itu digelar sebagai protes atas putusan PTUN Bandung yang memenangkan gugatan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

    Video yang identik, diunggah di kanal Youtube ipoenk aza pada 27 Desember 2012 dengan judul “Demo buruh 27/01/2012 terobos gerbang tol mm2100 cibitung2.avi”

    Video tersebut merupakan kejadian saat demo buruh terkait putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung. Akibat unjuk rasa tersebut, ada tujuh kawasan industri yang terkena dampak di antaranya Jababeka I, II, Hyundai, Ejip, MM 210, dan Delta Silicon.

    Puluhan ribu buruh di Kabupaten Bekasi, memblokir pintu Tol Cikarang Barat dan melumpuhkan aktivitas produksi di tujuh kawasan industri di Cikarang. Berdasarkan informasi dari National Traffic Management Centre (NTMC) Polri akibat aksi para buruh ini, tol Jakarta-Cikampek macet 20 kilometer.

    Apindo menggugat SK Gubernur Jawa Barat Nomor 561/Kep.1540.Bangsos/2011 tentang kenaikan UMK di Kabupaten Bekasi.

    Kesimpulan

    Bukan demo tolak Omnibus Law tahun 2020. Aksi unjuk rasa di video itu adalah aksi unjuk rasa tahun 2012.Aksi unjuk rasa itu digelar sebagai protes atas putusan PTUN Bandung yang memenangkan gugatan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

    Rujukan

  • (GFD-2020-5295) [SALAH] Memakai Masker Dapat Menyebabkan Kematian Akibat Keracunan Karbon Dioksida (CO2)

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/10/2020

    Berita

    “OH.. TERNYATA AKTIVIS ANTI MASKER DIA INI.
    Hayoolah .. kita buat gerakan yang sama sebagai aktivis anti Masker, agar kita tidak ketergantungan dan menyelamatkan banyak nyawa Manusia dari dampak terlalu lama dan terlalu Sering menggunakan Masker, yang bisa mengakibatkan HYPOXIA dan MATI karna fungsi paru” tidak lagi Normal dan keracunan CO2 kita sendiri.
    buat gerakan anti Masker agar kita tidak mudah di kontrol dan di kendalikan seperti Robot.
    Orang Sehat .. Gunakan OTAK.”

    Hirup CO2 bunuh diri

    Hirup CO2 Bunuh Diri Massal fitnah corona

    CO2

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan dari akun Facebook Soelaiman Sr. berupa sebuah video dan tangkapan layar dengan klaim bahwa memakai masker terlalu lama dan terlalu sering dapat menyebabkan hypoxia dan meninggal karena keracunan karbon dioksida. Postingan ini disukai sebanyak 24 kali dan disebarkan kembali sebanyak 15 kali.

    Menurut artikel periksa fakta liputan6.com, dr Arif Santoso SpP sebagai Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Unhas menegaskan bahwa memakai masker dalam waktu yang lama tidak membuat seseorang keracunan CO2. Ukuran virus korono sekitar 125 nanometer, ukuran ini membuat virus korona tidak dapat menembus masker sedangkan karbon dioksida, oksigen, hingga nitrogen ukurannya jauh lebih kecil daripada virus korona sehingga dapat menembus pori-pori masker.

    Bill Carroll, PhD sebagai profesor kimia Indiana University juga menjelaskan bahwa sebelum tubuh mengalami keracunan CO2, tubuh akan memberikan sinyal perlindungan diri, ketika tingkat CO2 yang mempengaruhi kadar keasaman darah berubah maka tubuh akan mendeteksi perubahan kadar keasaman darah tersebut sehingga orang tersebut akan pingsan sebagai salah satu cara tubuh menuntut seseorang agar bisa bernapas dengan normal.

    Melihat dari penjelasan tersebut, klaim memakai masker terlalu lama dan terlalu sering dapat menyebabkan hypoxia dan meninggal karena keracunan karbon dioksida adalah tidak benar dan termasuk dalam Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).

    Klaim tersebut tidak benar, memakai master terlalu lama tidak akan menyebabkan keracunan karbon dioksida karena masker telah didesain untuk menyaring udara dari partikel-partikel sehingga udara termasuk CO2 dapat menembus pori-pori masker.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5279) [SALAH] “Gatot Nurmantyo ternyata sudah kabur ke Luar Negeri”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 17/10/2020

    Berita

    Akun Nhana Khirana (fb.com/nhana.khirana.37) mengunggah sebuah gambar dengan narasi sebagai berikut:

    “Ada yg kabur menyusul bang toyib”

    Di gambar yang merupakan unggahan akun Biro Bayurini, terdapat narasi “Setelah mengetahui Ketua KAMI berisial ” C ” dan 3 Pengurus KAMI ditangkap Polda Sumut karena provokasi demo dan ajak melakukan penjarahan, Si Gatot Nurmantyo Ngacengan ternyata sudah kabur ke Luar Negeri.”

    Hasil Cek Fakta

    erdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa Gatot Nurmantyo sudah kabur ke luar negeri setelah penangkapan pengurus KAMI oleh polisi adalah klaim yang salah.

    Faktanya, hingga 15 Oktober 2020, Gatot Nurmantyo masih berada di Indonesia. Ia bersama pimpinan KAMI lainnya mendatangi Bareskrim Polri untuk menemui para petinggi KAMI yang ditahan.

    Dilansir dari berita di Kompas.com pada 16 Oktober 2020, polisi menetapkan sembilan tersangka terkait demonstrasi yang menolak UU Cipta Kerja yang berujung ricuh. Sebagian dari para tersangka itu merupakan petinggi KAMI. Sebanyak empat tersangka ditangkap terkait aksi menolak UU Cipta Kerja yang berujung rusuh di Medan, Sumatera Utara. Dari empat tersangka itu, satu di antaranya adalah Khairi Amri, Ketua KAMI Medan. Sementara dari lima tersangka yang ditangkap di Jabodetabek, tiga di antaranya merupakan petinggi KAMI, yakni Anton Permana, Syahganda Nainggolan, dan Jumhur Hidayat.

    Dikutip dari berita di Detik.com pada 13 Oktober 2020, Khairi Amri ditangkap oleh Polda Sumatera Utara pada 9 Oktober 2020. Anton Permana ditangkap oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri pada 12 Oktober 2020. Sementara Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat ditangkap oleh Bareskrim Polri pada 13 Oktober 2020.

    Pada 14 Oktober 2020, dalam pernyataan tertulisnya, pimpinan KAMI Gatot Nurmantyo menyesalkan penangkapan terhadap sejumlah anggota KAMI tersebut. “KAMI menyesalkan dan memprotes penangkapan tersebut sebagai tindakan represif dan tidak mencerminkan fungsi Polri sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat,” katanya seperti dilansir dari Suara.com.

    Pada 15 Oktober 2020, Gatot Nurmantyo bersama pimpinan KAMI lainnya, Din Syamsuddin, pun mendatangi para petinggi KAMI yang ditahan di Bareskrim Polrim. Namun, upaya tersebut gagal. Keduanya tiba sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah satu jam berlalu, keduanya menyatakan bahwa permohonan izin mereka untuk menemui para petinggi KAMI yang ditahan itu ditolak.

    “Ya gini, kami kan bertamu, meminta izin untuk menengok. Kami menunggu sampai ada jawaban. Ya, terima kasih, enggak ada masalah,” ujar Gatot pada 15 Oktober 2020. Namun, Gatot tidak mengetahui alasan polisi melarangnya menjenguk para petinggi KAMI tersebut. “Enggak tahu, ya pokoknya enggak dapat izin, ya enggak masalah,” kata Gatot.

    Rujukan