• (GFD-2020-4517) [SALAH] Fanpage Facebook Bantuan Samsung Pendidikan Adakan Program Bantuan Pendidikan

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 01/08/2020

    Berita

    Akun fanpage Bantuan Samsung Pendidikan mengunggah narasi yang disertai dengan sebuah foto pada 26 Juli 2020. Unggahan tersebut telah mendapat respon sebanyak 10 reaksi, 100 komentar, serta telah dibagikan sebanyak 41 kali.

    Pada unggahan tersebut, disebutkan bahwa Samsung Indonesia mengadakan bantuan pendidikan yang ditujukan kepada siswa/siswi yang kurang mampu untuk pembelajaran secara online akibat pandemi Covid-19. Bantuan yang akan Samsung Indonesia berikan berupa 2.700 unit Samsung Galaxy A10 dan untuk mendapatkannya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seperti yang tertera pada unggahan tersebut.

    Berikut kutipan narasinya:

    “Halo, Selamat Datang Di Fanspage Resmi Bantuan Samsung Indonesia.
    Kami sebagai Team Resmi Samsung Indonesia bertujuan untuk membantu siswa/siswi Indonesia yang membutuhkan ponsel untuk pembelajaran dirumah secara online karena pandemi Corona Virus / COVID-19.
    Unit terbatas, UNIT TERSEDIA : 2.700 UNIT SAMSUNG GALAXY A10.
    Kami peringati, kami hanya membantu orang orang yang kurang mampu untuk mendapat bimbingan belajar secara online, kami harap kejujuran dari anda, jika kalian mampu, mohon untuk berikan kesempatan bagi para penerus bangsa kita yang kurang mampu agar dapat belajar secara online di rumah.
    Diminta kerja samanya untuk memastikan hanya 1 Unit Samsung Galaxy A10 Bantuan Samsung untuk 1 orang. Mohon untuk tidak klaim 2x.
    Pengiriman akan di kirim secepatnya, setelah pesan resmi dari Samsung masuk ke inbox kamu untuk meminta data alamat lengkap pengiriman.
    Syarat yang harus di penuhi :
    1. Like Fanspage & Postingan ini.
    2. Komentar : "saya mau" sebanyak banyaknya di kolom komentar postingan Bantuan Samsung
    3. Share postingan ini ke timeline, dan tag 10 teman kamu untuk menginformasikannya.
    Semoga kamu beruntung :)”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, melalui akun Twitter resmi Samsung Indonesia (@samsungID), Samsung Indonesia mengkonfirmasi bahwa pihaknya hanya memiliki satu akun Facebook page resmi yang sudah terverifikasi, yaitu Samsung Indonesia. Samsung Indonesia juga menghimbau agar tetap waspada dengan pihak yang mengatasnamakan Samsung.

    Sebagai tambahan, foto yang digunakan pada unggahan tersebut merupakan foto yang diambil saat peluncuran resmi Samsung Galaxy S9 dan S9+ pada tahun 2018. Foto tersebut kemudian diedit sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan konteks narasi.

    Kesimpulan

    Dengan demikian, unggahan akun fanpage Bantuan Samsung Pendidikan dapat dikategorikan sebagai Konten Palsu. Hal ini dikarenakan narasi bantuan pendidikan yang diklaim akun fanpage tersebut tidak benar, akun tersebut bukan akun Facebook resmi Samsung Indonesia, dan foto yang digunakan bukan foto peluncuran progran bantuan Samsung.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4506) [SALAH] Foto “Penipuan para medis, termasuk alat tes suhu di kening, itu alat sinar leser tes suhu kabel demi proyek covit”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 31/07/2020

    Berita

    Akun Shatria Igirisa (fb.com/khendisbutchy.satria) mengunggah gambar tangkapan layar postingan dari akun Facebook Abrar dengan narasi sebagai berikut:

    “Ahir nya trungkap jg penipuan para2 medis yg berkeliaran di dunia nie,,yg sdh bgt bnyak memakan uang rakyat”

    Di gambar tersebut, terdapat narasi : “Penipuan para medis.. Hati-hati.. Termasuk alat tes suhu di kening, itu alat sinar leser tes suhu kabel.. Demi proyek covit mereka rela mengorbankan rakyat Indonesia..”. Terdapat juga foto seseorang dengan tangan diborgol dan ditutupi jas putih yang didampingi petugas kepolisian. Foto ini dimuat di situs prabumulihpos[dot]com di artikel berjudul “Oknum Staf Rumah Sakit Ditangkap Karena Palsukan Hasil Tes Covid-19” yang dimuat pada 30 Juni 2020.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim foto seseorang dengan tangan diborgol dan ditutupi jas putih yang didampingi petugas kepolisian yang dimuat di situs prabumulihpos[dot]com di artikel berjudul “Oknum Staf Rumah Sakit Ditangkap Karena Palsukan Hasil Tes Covid-19” terkait dengan COVID-19 dan alat tes suhu di kening adalah alat sinar laser tes suhu kabel adalah klaim yang yang menyesatkan.

    Faktanya, foto yang dipakai tidak terkait dengan COVID-19 karena foto itu adalah foto tahun 2017 terkait kasus penipuan oleh dokter palsu. Selain itu, penggunaan Thermal Gun untuk tes suhu di kening dipastikan aman karena tidak menggunakan sinar laser dan tidak menggunakan sinar radioaktif semacam, x-ray.

    Foto yang diunggah oleh situs prabumulihpos[dot]com yang bukan merupakan situs media yang terdaftar di Dewan Pers, adalah foto terkait kasus penipuan yang dilakukan oleh Candra Hermawan (27) yang menjadi dokter gadungan atau dokter palsu pada tahun 2017. Mengaku sebagai dokter, pria ini melakukan penipuan. Modus yang dilakukan adalah mampu mencarikan pekerjaan di rumah sakit.

    Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya Kompol I Dewa Gede Juliana mengatakan kepada wartawan, Rabu (1/11/2017), Candra telah menipu tiga orang dengan modus yang sama. Dari aksinya, pelaku memperoleh sekitar Rp 75 juta.

    Situs prabumulihpos[dot]com sendiri bukanlah situs media berita resmi, karena selain tidak terdaftar di Dewan pers, situs ini tidak mencantumkan keterangan redaksi. Untuk situs media cetak Prabumulih Pos yang resmi dan terdaftar di Dewan Pers, situsnya beralamatkan di prabumulihpos.co.id.

    Terkait artikel yang diunggah di situs prabumulihpos[dot]com tersebut, artikel itu berisi berita tentang Kepolisian Resor Sibolga yang mengungkap kasus seorang oknum ASN dan Perawat di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) yang diduga telah mengeluarkan surat keterangan hasil rapid test Covid-19 palsu kepada puluhan calon penumpang kapal yang akan berangkat dari Sibolga menuju kepulauan Nias.

    Terungkapnya kasus pemalsuan surat keterangan hasil rapid test Covid-19 itu setelah kapal yang ditumpangi batal berangkat dari Pelabuhan Sibolga, Jumat (26/6/2020) malam lantaran surat keterangan hasil rapid test Covid-19 yang dimiliki penumpang dinyatakan tidak sah oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Kapolres Sibolga AKBP Triyadi melalui Kasubbag Humas Iptu R Sormin mengatakan, kedua tersangka atas kasus pemalsuan surat keterangan tersebut telah diamankan, pada Sabtu (27/6/2020).

    Selain itu, menurut Achmad Yurianto yang saat itu menjabat juru bicara pemerintah untuk Covid-19, penggunaan thermo gun sebagai alat ukur suhu tubuh manusia dipastikan aman. Berbagai ahli telah menyebutkan bahwa thermo gun hanya mengukur suhu tubuh dengan pancaran radiasi sinar inframerah.

    Termometer tembak untuk ukur suhu tubuh manusia tidaklah berbahaya bagi otak ataupun bagian tubuh lainnya. Penggunaan alat ini sehari-hari aman untuk ukur temperatur tubuh manusia, dari berbagai usia.

    Kesimpulan

    Foto yang dipakai tidak terkait dengan COVID-19 karena foto itu adalah foto tahun 2017 terkait kasus penipuan oleh dokter palsu. Selain itu, penggunaan Thermal Gun untuk tes suhu di kening dipastikan aman karena tidak menggunakan sinar laser dan tidak menggunakan sinar radioaktif semacam, x-ray.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4507) [SALAH] “Rupanya cebong semua masuk rumah sakit jiwa”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 31/07/2020

    Berita

    Beredar postingan groub Facebook “MANUSIA MERDEKA” (facebook.com/groups/bebasberdaulat) oleh akun “Rizal Novianta” (facebook.com/novianta.rizal / archive.md/PZ5tc), yang sudah dibagikan 31 kali per tangkapan layar dibuat. Dengan Narasi "“Pantas klu cebong ganggu tempat ibadah umat islam, dan merusak alquran di bilang sakit jiwa.
    Rupanya cebong semua masuk rumah sakit jiwa”.

    Hasil Cek Fakta

    * MAFINDO: “Foto yang digunakan di cuitan sumber sudah disunting, nama yang benar adalah “MAHONI”.”

    * MAFINDO: “Foto-foto di post sumber adalah hasil suntingan, untuk foto yang kedua sebelumnya foto yang sama pernah disunting menjadi “Rumah Sakit Jiwa Kecebong”.”

    * kumparan: “Polisi telah memeriksa wanita berinisial I yang viral karena membanting dan merobek Al-Quran. Kapolres Polres Pelabuhan Makassar menyebut I mengalami kelainan kejiwaan.”

    Kesimpulan

    Hoaks Lama Bersemi Kembali (HLBK). Foto yang dibagikan adalah hasil SUNTINGAN, yang dulu setelah diperiksa muncul balasan versi “Rumah Sakit Jiwa Kampret”.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8208) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Salat Subuh di Hagia Sophia Sejak Kembali Jadi Masjid?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 30/07/2020

    Berita


    Video yang memperlihatkan salat berjamaah di depan sebuah gedung beredar di media sosial. Video tersebut diklaim sebagai suasana salat subuh di Hagia Sophia sejak Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan bahwa bangunan yang sebelumnya dijadikan museum ini ditetapkan kembali sebagai masjid.
    Di Facebook, video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Imadudin, yakni pada 22 Juli 2020. Akun ini pun menuliskan narasi, “Semenjak di buka, Sholat Subuh di Hagia Sophia...Inilah yg ditakuti para kafeer jika Jama'ah Sholat Subuh banyaknya spt halnya Sholat Jum'at.”
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Imadudin.
    Apa benar video tersebut merupakan video salat subuh di Hagia Sophia sejak kembali menjadi masjid?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Selanjutnya, gambar-gambar itu ditelusuri jejak digitalnya denganreverse image toolYandex, Google, dan TinEye.
    Hasilnya, ditemukan bahwa video tersebut telah beredar di internet sejak 2015, jauh sebelum Presiden Erdogan menetapkan kembali Hagia Sophia sebagai masjid. Di YouTube, video itu pernah diunggah oleh kanal Sirah Nabawiyyah pada 14 November 2015 dengan judul “Suasana Shalat Subuh di Masjid Hagya Sophia, Turki”.
    Video yang sama dengan kualitas yang lebih tinggi pernah diunggah oleh kanal Ibnu Thabrani Channel pada 8 Mei 2015 dengan judul “Gerakan Sholat Shubuh Berjama'ah Di Turki”. Video tersebut diberi keterangan, “Ini video tentang pertama kalinya setelah 79 tahun, warga Turki melaksanakan sholat shubuh berjama'ah di masjid Hagia Sophia, Istanbul tanggal 31 Mei 2014.”
    Berdasarkan petunjuk waktu ini, Tempo menelusuri pemberitaan terkait salat subuh berjamaah di Hagia Sophia pada 31 Mei 2014. Hasilnya, ditemukan berita terkait salat subuh itu yang dimuat oleh situs media NBC News pada 31 Mei 2014. Berita tersebut berjudul "Protesters Pray For Turkey's Hagia Sophia to Become a Mosque".
    Berita ini pun memuat foto suasana salat subuh di depan Haghia Sophia tersebut. Foto itu diberi keterangan, "Para pengunjuk rasa berdoa di depan Museum Haghia Sophia di Istanbul, Turki, pada 31 Mei pagi." Berita tersebut memang menceritakan para pengunjuk rasa yang salat di depan Haghia Sophia untuk menyuarakan keinginan mereka mengubah museum tersebut menjadi masjid.
    Haghia Sophia pernah menjadi tempat ibadah bagi dua agama sejak didirikan di Istanbul pada abad ke-6. Bangunan ini pernah menjadi katedral bagi umat kristiani selama 900 tahun serta masjid bagi umat muslim selama 500 tahun. Pada 2014, Hagia Sophia, atau Ayasofya dalam bahasa Turki, secara resmi adalah sebuah museum: monumen Turki yang paling banyak dikunjungi, yang status netralnya melambangkan sifat sekuler dari Turki modern.
    Tapi puluhan ribu jemaah muslim yang berkumpul di sana pada 31 Mei 2014 berharap Haghia Sophia kembali menjadi masjid, mimpi yang mereka yakini dapat dipenuhi oleh Perdana Menteri Erdogan. Bahkan, ada desas-desus, yang telah dibantah oleh pemerintah Turki, bahwa Erdogan, seorang konservatif religius yang mengincar kursi kepresidenan dalam pemilu pada Agustus 2014, bisa memimpin salat di Hagia Sophia suatu hari nanti.
    Hagia Sophia kembali menjadi masjid
    Berdasarkan arsip berita Tempo, pada 10 Juli 2020, pengadilan tinggi Turki menganulir Dekrit 1934 yang mengubah kembali status Museum Hagia Sophia menjadi masjid. Setelah putusan pengadilan itu, Presiden Erdogan menandatangani keputusan presiden yang menyerahkan Hagia Sophia kepada Kepresidenan Urusan Agama Turki dan membukanya sebagai tempat ibadah sambil memberi selamat kepada warga Turki.
    Dikutip dari Daily Sabah, pengadilan menyatakan bahwa Hagia Sophia secara resmi terdaftar sebagai masjid sesuai fungsi awalnya, menambahkan bahwa penggunaannya dalam bentuk apa pun selain masjid secara hukum tidak mungkin. "Keputusan kabinet pada 1934 yang mengakhiri penggunaannya sebagai masjid dan mendefinisikannya sebagai museum tidak mematuhi hukum," demikian keterangan pengadilan.
    Permanent Foundations Service to Historical Artifacts and Environment Association, organisasi non-pemerintah yang berbasis di Istanbul, telah mengajukan petisi ke Dewan Negara Turki agar menganulir keputusan yang mengubah Hagia Sophia menjadi museum setelah sebelumnya menjadi masjid selama hampir 500 tahun. Pengadilan mendengar argumen dari kedua belah pihak dalam sidang pada 2 Juli sebelum mengeluarkan keputusannya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video salat subuh di Hagia Sophia sejak kembali menjadi masjid menyesatkan. Salat berjamaah itu digelar oleh warga Turki di depan Hagia Shopia pada 31 Mei 2014, jauh sebelum Presiden Erdogan menetapkan kembali Hagia Sophia sebagai masjid. Ketika itu, Hagia Sophia masih berstatus sebagai museum. Warga Turki yang menggelar salat berjamaah di depan Hagia Sophia itu menyuarakan permintaannya agar Hagia Sophia diubah menjadi masjid.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan