(GFD-2020-8228) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Piramida dan Burj Khalifa Diberi Lampu Bendera Lebanon Sebagai Solidaritas Ledakan Beirut?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 13/08/2020
Berita
Foto Burj Khalifa di Uni Emirat Arab dan Piramida Giza di Mesir yang diberi lampu berwarna bendera Lebanon beredar di media sosial. Menurut narasi yang menyertai foto itu, pemberian lampu tersebut merupakan bentuk solidaritas atas ledakan di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020.
Di Facebook, foto tersebut diunggah salah satunya oleh akun Care Ummah, yakni pada 5 Agustus 2020. Akun itu pun menulis narasi, “Bersama dalam Solidaritas Dengan Lebanon. @burjkhalifa terletak di Dubai menyalakan gedung tertinggi di dunia dengan warna bendera Lebanon. Piramida Giza, salah satu keajaiban tertua dunia yang terletak di Mesir, menyala dengan warna-warna bendera Lebanon dalam solidaritas.”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Care Ummah.
Apa benar Piramida dan Burj Khalifa diberi lampu berwarna bendera Lebanon sebagai bentuk solidaritas atas ledakan di Beirut ?
Hasil Cek Fakta
Piramida
Foto Piramida dengan lampu berwarna bendera Lebanon merupakan hasil suntingan. Foto aslinya pernah diunggah oleh akun Facebook resmi Kementerian Pariwisata dan Kepurbakalaan Mesir pada 19 April 2020. Dalam foto ini, Piramida diberi lampu berwarna biru dengan tulisan "Experience Egypt Soon".
Video yang diunggah di kanal YouTube AFP News Agency pada 19 April 2020 juga memperlihatkan Piramida dengan warna lampu yang sama, namun bertuliskan "Stay Home". Video itu diberi keterangan: "Piramida Agung diterangi dengan cahaya biru dan diproyeksikan dengan pesan laser 'Stay Home' di dataran tinggi Giza di pinggiran ibukota Mesir, Kairo, dalam rangka World Heritage Day, saat negara tersebut berjuang melawan penyebaran Covid-19."
AFP Periksa Fakta pun telah memverifikasi foto Piramida yang diberi cahaya dalam warna bendera Lebanon itu, dan menyatakannya sebagai foto suntingan. Kementerian Pariwisata Mesir, yang diwawancara oleh AFP Kairo, juga telah membantah klaim tentang cahaya dalam warna bendera Lebanon di Piramida itu. "Berita ini tidak benar," kata seorang sumber di kementerian tersebut.
Burj Khalifa
Foto Burj Khalifa dalam unggahan akun Care Ummah pernah diunggah oleh akun Twitter resmi Burj Khalifa pada 5 Agustus 2020. Foto itu diberi keterangan: "#BurjKhalifa menyala dalam solidaritas dengan saudara-saudari kita di #Lebanon."
Dilansir dari situs media Timur Tengah, Al Arabiya, Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia, menyala dengan gambar bendera Lebanon sebagai bentuk solidaritas atas ledakan di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020 yang menewaskan sedikitnya 100 orang dan melukai ribuan lainnya.
Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Anwar Gargash mencuit di akun Twitter-nya, "Hati kami bersama Beirut dan rakyatnya. Kami berdoa semoga Tuhan melindungi Lebanon dan rakyatnya, dan Tuhan meredakan rasa sakit mereka, menyembuhkan luka mereka, dan menjauhkan kesedihan dari mereka," kata Gargash yang juga menyertakan foto Burj Khalifa dengan lampu bendera Lebanon.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Piramida dan Burj Khalifa diberi lampu berwarna bendera Lebanon sebagai bentuk solidaritas atas ledakan di Beirut, sebagian benar. Burj Khalifa memang menyala dengan warna bendera Lebanon setelah terjadi ledakan di Lebanon pada 4 Agustus 2020. Namun, foto Piramida yang diberi cahaya dalam warna bendera Lebanon merupakan hasil suntingan.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/ledakan-di-beirut
- https://www.tempo.co/tag/lebanon
- https://www.tempo.co/tag/beirut
- https://bit.ly/3gSQkDz
- https://bit.ly/3akTvl0
- https://bit.ly/3kCRYLX
- https://twitter.com/BurjKhalifa/status/1290739073359982594
- https://bit.ly/3fTXhmy
- https://www.tempo.co/tag/burj-khalifa
- https://www.tempo.co/tag/piramida
(GFD-2020-8229) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Hantaman Rudal Israel dalam Ledakan di Beirut?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 13/08/2020
Berita
Video yang memperlihatkan hantaman rudal di sebuah wilayah yang telah terbakar dan mengepulkan asap yang tebal beredar di media sosial. Video tersebut diklaim sebagai video hantaman rudal Israel dalam ledakan di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020.
Di Facebook, video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Yan Ismahara pada 8 Agustus 2020. Akun ini pun menulis narasi sebagai berikut:
"Berdasar Rekaman Video Infrared ternyata Ledakan di Libanon karena Dihantam Rudal Israel. Untuk menyamarkan maka lebih dulu diledakkan oleh para penyusup, lalu dihancurkan lagi pake rudal. Ingat, minimal ada dua ledakan besar. Breaking News! NAMPAK REKAMAN KAMERA INFRARED MENUNJUKKAN ADANYA SERANGAN RUDAL DARI LANGIT, DIDUGA PELAKU NYA ADALAH ISR43L.”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yan Ismahara.
Apa benar video tersebut adalah video hantaman rudal Israel dalam ledakan di Beirut?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Gambar-gambar tersebut kemudian ditelusuri jejak digitalnya denganreverse image toolGoogle dan Yandex. Hasilnya, video tersebut telah mengalami suntingan.
Video yang sama dengan kualitas yang lebih tinggi dan durasi yang lebih panjang pernah diunggah oleh kanal YouTube Youssef Kawtharani pada 5 Agustus 2020. Video itu diberi judul “Beirut Lebanon huge Explosion”. Namun, dalam video berdurasi 17 detik ini, tidak terlihat benda yang diklaim sebagai rudal oleh akun Yan Ismahara.
Youssef Kawtharani pun mengunggah video itu ke Instagram pada hari yang sama dan telah disaksikan lebih dari 19.200 kali.
Kantor berita Reuters juga telah memverifikasi video itu dan menyatakannya sebagai hasil suntingan. Video itu adalah potongan dari rekaman milik Youssef Kawtharani, yang dalam profil Instagram menyebut dirinya sebagai sukarelawan di palang merah Lebanon. Video aslinya diambil di Rue Chafaka, setengah mil dari lokasi ledakan, yang dikonfirmasi oleh Google Street View.
Video editan tersebut juga berkualitas lebih rendah ketimbang video aslinya. Video ini dilapisi dengan sejumlah grafik, termasuk gambar diam di bagian awal yang memperlihatkan rudal yang dilingkari. Lewat analisis bingkai demi bingkai, rudal tidak terlihat di semua bingkai, termasuk sebelum momen menghantam tanah.
Video lain dengan narasi serupa
Sesaat setelah terjadinya ledakan di Beirut pada 4 Agustus 2020, beredar video dengan efek film negatif yang menunjukkan hantaman rudal di sebuah wilayah. Video itu diklaim sebagai video yang diambil tepat sebelum terjadinya ledakan di Beirut.
Video tersebut merupakan hasil suntingan, berupa penggabungan dua video, penambahan gambar rudal, dan pemberian efek film negatif. Dua video yang digabungkan itu sama-sama diambil dari peristiwa ledakan di Beirut pada 4 Agustus 2020.
Baik dalam video yang diunggah CNN Arabic maupun kanal YouTube Daesh Hunter, tidak terlihat adanya sebuah benda yang diklaim sebagai rudal. Organisasi cek fakta yang berbasis di Amerika Serikat, Lead Stories, pun telah memverifikasi video itu. Menurut profesor digital forensik dari Universitas California, Berkeley, Hany Farid, video itu jelas palsu.
Farid menjelaskan bagaimana video itu diedit. "Jika menonton video itu bingkai demi bingkai, Anda akan melihat beberapa hal yang secara jelas menggambarkan bahwa video itu palsu. Sekitar detik ke-8, misil menghilang dari video, jauh sebelum ledakan. Tidak ada pula gerakan yang kabur pada rudal yang semestinya terlihat mengingat kecepatannya. Selain itu, rudal tersebut tampak identik dalam setiap bingkai di mana rudal itu terlihat. Ini adalah tanda dari manipulasicopy-pastementah di mana misil itu ditempelkan ke setiap bingkai yang berurutan," ujar Farid.
Dilansir dari Kompas.com, video tersebut awalnya adalah rekaman dari produser media sosial CNN Arabic yang berbasis di Beirut, Mehsen Mekhtfe. Video asli itu diedit oleh orang tak bertanggung jawab, dengan menambahkan objek mirip rudal. Mekhtfe kebetulan berada di dekat lokasi ledakan dan merekam ledakan tersebut.
"Banyak orang menghubungi saya untuk memberi tahu saya bahwa itu palsu," kata Mekhtfe. Dia menegaskan bahwa video itu asli miliknya dan tidak terdapat rudal di sana. Ketika orang-orang bertanya kepadanya soal rudal, dia menyatakan tidak melihat rudal apa pun atau mendengar jet atau pundronedi atasnya.
Penyebab ledakan di Beirut
Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, sumber ledakan berasal dari sebuah gudang pelabuhan yang menyimpan 2.750 ton amonium nitrat selama enam tahun tanpa memenuhi aturan keselamatan. Al Jazeera melaporkan bahwa belum diketahui secara pasti mengapa amonium nitrat yang biasanya digunakan untuk pupuk pertanian serta bahan peledak di pertambangan dan konstruksi itu teronggok di gudang tersebut selama bertahun-tahun.
Namun, CNN melaporkan sebuah dokumen yang menjelaskan bahwa amonium nitrat itu dibawa ke pelabuhan di Beirut oleh kapal Rusia MV Rhosus pada 2013. Kapal ini singgah di Beirut dengan tujuan akhir Mozambik. Kapal Rusia berbendera Moldova tersebut terpaksa bersandar di Beirut karena kesulitan keuangan. Awak kapal itu yang berkebangsaan Rusia dan Ukraina dikabarkan resah dengan kapal yang tak kunjung berlayar ke tujuan akhir.
Menurut Direktur Bea Cukai Lebanon, Badri Daher, begitu tiba di pelabuhan di Beirut, kapal Rusia itu tidak pernah meninggalkan pelabuhan meski berulang kali diperingatkan karena membawa muatan bahan kimia yang setara dengan "bom mengambang". Kepala bea cukai sebelum Daher, Chafic Merhi, ternyata telah menulis surat kepada hakim yang menangani kasus ini pada 2016 agar otoritas pelabuhan mengekspor kembali amonium nitrat yang dibawa kapal Rusia itu. Hal ini untuk menjaga keamanan pelabuhan dan pekerja karena bahaya yang dapat ditimbulkannya dalam iklim yang tidak sesuai.
Menteri Pekerjaan Umum Michel Najjar mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia baru mengetahui keberadaan bahan peledak yang disimpan di pelabuhan Beirut 11 hari sebelum ledakan, melalui laporan yang diberikan kepadanya oleh Dewan Pertahanan Tertinggi negara itu. "Tidak ada menteri yang tahu apa yang ada di hangar atau kontainer, dan itu bukan tugas saya untuk tahu," katanya.
Najjar pun menyatakan telah menindaklanjuti keberadaan amonium tersebut. Namun, pada akhir Juli, pemerintah Lebanon memberlakukan karantina wilayah karena meningkatnya jumlah kasus Covid-19. Najjar akhirnya berbicara dengan manajer umum pelabuhan, Hasan Koraytem, pada 3 Agustus. Dia meminta Koraytem untuk mengiriminya semua dokumentasi yang relevan, sehingga bisa "melihat masalah ini". Namun, permintaan itu datang terlambat. Keesokan harinya, tepat setelah pukul 18.00 (15.00 GMT), gudang tersebut meledak, memusnahkan pelabuhan, dan menghancurkan sebagian besar Beirut.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video hantaman rudal Israel dalam ledakan di Beirut, Lebanon, keliru. Video yang diunggah oleh akun Facebook Yan Ismahara itu merupakan hasil suntingan. Video ini dilapisi dengan sejumlah grafik, termasuk gambar rudal. Lewat analisis bingkai demi bingkai, rudal tidak terlihat di semua bingkai, termasuk sebelum momen menghantam tanah.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/ledakan-di-beirut
- https://www.tempo.co/tag/lebanon
- http://archive.ph/4xYxo
- https://bit.ly/3fOEcSN
- https://bit.ly/31PNr06
- https://reut.rs/2DPsjPx
- https://www.google.com/maps/@33.8973939,35.520658,3a,75y,147.94h,93.58t/data=!3m10!1e1!3m8!1sAF1QipP28xNlKiAaGJ9iZ4zVDW76Sx0IC7BQkDxBsGM-!2e10!3e11!7i5504!8i2752!9m2!1b1!2i45
- https://www.tempo.co/tag/beirut
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/937/fakta-atau-hoaks-benarkah-video-yang-tunjukkan-hantaman-rudal-dalam-ledakan-di-beirut-ini
- https://www.tempo.co/tag/rudal
- https://www.tempo.co/tag/israel
(GFD-2020-4610) [SALAH] Presiden Israel Ancam Indonesia Akan Jadikan Indonesia Seperti Palestina
Sumber: facebook.comTanggal publish: 12/08/2020
Berita
Beredar sebuah video dari akun Facebook VIDEO MUSIK DAN FILM dengan video dan narasi berisikan klaim bahwa Israel ancam Indonesia akan jadikan Indonesia seperti Palestina. Postingan ini telah dikomentari sebanyak sekitar 3700 kali dan telah mendapat sekitar 32000 likes.
Berikut kutipan narasinya:
“Viral!!! Presiden israel ancam indonesia”
Berikut kutipan narasinya:
“Viral!!! Presiden israel ancam indonesia”
Hasil Cek Fakta
Penelurusan tentang Israel ancam Indonesia akan dijadikan seperti Palestina ditemukan sebuah artikel dari tirastimes.com yang berjudul “Presiden Israel: Bila Terus Ikut Campur, Kami Berjanji Akan Buat Indonesia Seperti Palestina”. Artikel tersebut diterbitkan pada tanggal 20 Desember 2017 berisikan narasi yang serupa dengan konten video tentang adanya isu bahwa Israel akan menyerang Indonesia dikarenakan situs-situs Israel dibombardir oleh peretas yang mayoritas berasal dari Indonesia. Presiden Israel Reuven Rivlin juga disebutkan meminta Indonesia tidak mencampuri urusannya dan jika tidak di indahkan maka negara Israel akan menyerang Indonesia sama seperti saat mereka menyerang Palestina.
Berdasarkan dari artikel cekfakta.tempo.co, penelurusan ancaman Israel terhadap Indonesia mengarah kepada video dari channel Youtube Gangpro Gaming dengan narasi yang serupa dan menggunakan sebuah artikel berita sebagai referensi bahwa narasi yang ia bawa adalah benar dan bukanlah hoax. Referensi tersebut adalah artikel dari merdeka.com berjudul “Diserang Hacker Indonesia, Israel Ancam Lakukan Balasan”. Berita tersebut dipublikasikan pada tanggal 22 November 2012. Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (IDSIRTI) mendapatkan kabar dari First Org yang merupakan lembaga otoritas Internet Israel bahwa peretas pro-Israel akan melakukan serangan balasan terhadap DNS server Indonesia dan menyasar pada domain berakhiran .id yang merupakan Internet top-level domain (TLD) untuk kode negara Indonesia.
Berdasarkan dari artikel cekfakta.tempo.co, penelurusan ancaman Israel terhadap Indonesia mengarah kepada video dari channel Youtube Gangpro Gaming dengan narasi yang serupa dan menggunakan sebuah artikel berita sebagai referensi bahwa narasi yang ia bawa adalah benar dan bukanlah hoax. Referensi tersebut adalah artikel dari merdeka.com berjudul “Diserang Hacker Indonesia, Israel Ancam Lakukan Balasan”. Berita tersebut dipublikasikan pada tanggal 22 November 2012. Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (IDSIRTI) mendapatkan kabar dari First Org yang merupakan lembaga otoritas Internet Israel bahwa peretas pro-Israel akan melakukan serangan balasan terhadap DNS server Indonesia dan menyasar pada domain berakhiran .id yang merupakan Internet top-level domain (TLD) untuk kode negara Indonesia.
Kesimpulan
Ancaman tersebut tidak benar, ancaman yang disebutkan Israel pada tahun 2012 adalah dikarenakan adanya serangan dari peretas dari Indonesia dan selama dimonitor oleh Pengelola nama Domain Internet Indonesia (Pandi) tidak ada serangan peretas Israel terhadap domain Indonesia (.id).
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2020/08/12/salah-presiden-israel-ancam-indonesia-akan-jadikan-indonesia-seperti-palestina/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/901/fakta-atau-hoaks-benarkah-presiden-israel-janji-bikin-indonesia-seperti-palestina-jika-terus-ikut-campur
- https://m.merdeka.com/teknologi/diserang-hacker-indonesia-israel-ancam-lakukan-balasan.html
- https://www.vox.com/2016/4/7/11585928/anonymous-hack-israel-day-could-impact-the-entire-world
(GFD-2020-4611) [SALAH] Memakai Masker Dapat Timbulkan Radang Selaput Dada
Sumber: facebook.comTanggal publish: 12/08/2020
Berita
Beredar postingan dari akun Facebook Anna Sommers yang berisikan narasi seorang gadis menderita pleurisy atau radang selaput dada dikarenakan penggunaan masker. Postingan ini telah dikomentari sekitar 1000 kali dan telah disebarkan kembali sekitar 7100 kali.
Berikut kutipan narasinya:
“My daughter. 19 yrs old. Healthy. Frontline worker at a huge grocery store chain. Started feeling sick about two weeks ago. Side and back pain. Nausea.. Chest pain. Primary doc sent her for chest x-ray.. Something "lit up" on right side. Sent for MRI. Cat scan. Ultra sound of back and abdomen areas..NOTHING.. While at work was unable to breathe. Chest pain. Rushed to e.r. quarantined. Tested for covid. Young. By herself because no one can be with her. Turns out its pleurisy.. An inflection of the outside of the lining of the lungs. They basically tell her.. It's because she has been wearing a mask for over 8 hours a day 5-6 days a week. Breathing in her own bacteria. Carbon dioxide.. Caused an infection. And now she is in severe pain. Has to be off work with no pay.. But you wont see that on social media! She's 19. Healthy. And now is bed bound and struggling to breathe. Antibiotics. Steroids. Breathing treatments.
(Jennifer Brown) -shared”
Jika diterjemahkan narasi tersebut berbunyi seperti ini :
"Anak perempuanku. 19 tahun. Sehat. Pekerja garis depan di rantai toko kelontong besar. Mulai merasa mual sekitar dua minggu lalu. Nyeri sisi dan punggung. Mual .. Nyeri dada. Dokter primer mengirimnya untuk rontgen dada .. Sesuatu "menyala" di sisi kanan. Dikirim untuk MRI. Suara ultra dari daerah punggung dan perut..Tidak ada .. Saat bekerja tidak dapat bernapas. Nyeri dada. Bergegas ke UGD. Dikarantina. Diuji untuk covid. Muda, sendiri karena tidak ada yang bisa bersamanya. Ternyata itu radang selaput dada .. Infleksi bagian luar dari lapisan paru-paru. Mereka pada dasarnya memberitahunya .. Itu karena dia telah memakai masker selama lebih dari 8 jam sehari 5-6 hari seminggu. Bernapas dalam bakteri sendiri. Karbon dioksida .. Menyebabkan infeksi. Dan sekarang dia sangat kesakitan. Harus pergi bekerja tanpa bayaran .. Tapi Anda tidak akan melihatnya di media sosial! Dia 19. Sehat. Dan sekarang ranjang terikat dan berjuang untuk bernafas. Antibiotik. Steroid. Perawatan pernapasan."
Berikut kutipan narasinya:
“My daughter. 19 yrs old. Healthy. Frontline worker at a huge grocery store chain. Started feeling sick about two weeks ago. Side and back pain. Nausea.. Chest pain. Primary doc sent her for chest x-ray.. Something "lit up" on right side. Sent for MRI. Cat scan. Ultra sound of back and abdomen areas..NOTHING.. While at work was unable to breathe. Chest pain. Rushed to e.r. quarantined. Tested for covid. Young. By herself because no one can be with her. Turns out its pleurisy.. An inflection of the outside of the lining of the lungs. They basically tell her.. It's because she has been wearing a mask for over 8 hours a day 5-6 days a week. Breathing in her own bacteria. Carbon dioxide.. Caused an infection. And now she is in severe pain. Has to be off work with no pay.. But you wont see that on social media! She's 19. Healthy. And now is bed bound and struggling to breathe. Antibiotics. Steroids. Breathing treatments.
(Jennifer Brown) -shared”
Jika diterjemahkan narasi tersebut berbunyi seperti ini :
"Anak perempuanku. 19 tahun. Sehat. Pekerja garis depan di rantai toko kelontong besar. Mulai merasa mual sekitar dua minggu lalu. Nyeri sisi dan punggung. Mual .. Nyeri dada. Dokter primer mengirimnya untuk rontgen dada .. Sesuatu "menyala" di sisi kanan. Dikirim untuk MRI. Suara ultra dari daerah punggung dan perut..Tidak ada .. Saat bekerja tidak dapat bernapas. Nyeri dada. Bergegas ke UGD. Dikarantina. Diuji untuk covid. Muda, sendiri karena tidak ada yang bisa bersamanya. Ternyata itu radang selaput dada .. Infleksi bagian luar dari lapisan paru-paru. Mereka pada dasarnya memberitahunya .. Itu karena dia telah memakai masker selama lebih dari 8 jam sehari 5-6 hari seminggu. Bernapas dalam bakteri sendiri. Karbon dioksida .. Menyebabkan infeksi. Dan sekarang dia sangat kesakitan. Harus pergi bekerja tanpa bayaran .. Tapi Anda tidak akan melihatnya di media sosial! Dia 19. Sehat. Dan sekarang ranjang terikat dan berjuang untuk bernafas. Antibiotik. Steroid. Perawatan pernapasan."
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan artikel factcheck.afp.com, Departemen Kesehatan Australia kota Victoria menjelaskan bahwa pleurisy atau radang selaput dada disebabkan oleh infeksi virus, infeksi bakteri, kanker, pembekuan darah pada paru-paru dan kondisi autoimun. Dr. Leon van den Toorn, presiden the Dutch Association of Doctors for Lung Diseases and Tuberculosis menjelaskan penggunaan masker tidak menimbulkan risiko bagi diri sendiri.
Menurut artikel apnews.com, Humberto Choi sebagai pulmonologi di Cleveland Clinic menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, disebutkan juga ribuan pekerja medis bekerja dengan menggunakan masker setiap harinya bahkan masker yang digunakan lebih ketat dari masker bedah dan hingga sekarang belum ada yang terkena pleurisy.
Menurut artikel apnews.com, Humberto Choi sebagai pulmonologi di Cleveland Clinic menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, disebutkan juga ribuan pekerja medis bekerja dengan menggunakan masker setiap harinya bahkan masker yang digunakan lebih ketat dari masker bedah dan hingga sekarang belum ada yang terkena pleurisy.
Kesimpulan
Klaim tersebut tidak benar, pemakaian masker sama sekali tidak menimbulkan risiko bagi diri sendiri ataupun pleurisy. Pleurisy atau radang selaput dada hanya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, pembekuan darah pada paru-paru, dan kondisi autoimun.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2020/08/12/salah-memakai-masker-dapat-timbulkan-radang-selaput-dada/
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4320018/cek-fakta-tidak-benar-memakai-masker-bisa-bikin-radang-selaput-dada
- https://factcheck.afp.com/wearing-face-mask-does-not-put-you-risk-developing-pleurisy-health-experts-say
- https://apnews.com/afs:Content:9051682276
Halaman: 7193/7906



