Akun Facebook Talibah Begay mengunggah gambar yang menyatakan bahwa penggunaan sisi masker medis. Dalam gambar tersebut disebutkan bahwa ketika tidak sakit maka sisi putih masker digunakan pada bagian luar sedangkan saat sakit maka masker bagian biru digunakan pada bagian luar.
Berikut kutipan narasinya:
Narasi postingan:
“FYI: pass along the info”
Narasi pada gambar:
“a mask:
White side out: Filter- When your not sick and want to keep virus out
Blue side out: to keep germs in when your sick, to stop them from”
(GFD-2020-4626) [SALAH] “Gunakan Bagian Putih Masker Di Luar Saat Tidak Sakit, Gunakan Bagian Biru Masker Di Luar Saat Sakit”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 14/08/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim postingan itu keliru. Melalui Kanal Youtubenya, WHO menganjurkan penggunaan masker medis yang benar ialah bagian putih di dalam dan bagian berwarna biru di luar. Lalu, penggunaan masker medis disarankan sekali pakai. Selain menggunakan masker, WHO menyarankan, untuk menangkal diri dari Covid-19 juga harus melakukan pembatasan jarak minimal satu meter dan rajin mencuci tangan. Selain itu, hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut menggunakan masker.
Lalu, mengacu kepada hasil eksperimen smartairfilters.com, diketahui bahwa sisi berwarna biru pada masker medis lebih mampu menangkal partikel dari luar ketimbang sisi berwarna putih. Sisi warna biru pada masker medis mampu menangkal partikel hingga 98,6 persen bila dibandingkan sisi putih, yakni sebesar 96,9 persen.
Dilansir dari usatoday.com, Dr. Wing Hong Seto, co-director of the WHO Collaborating Center for Infectious Disease Epidemiology and Control menyatakan bahwa sisi bagian biru memiliki kelebihan anti air sedangkan sisi warna putih bersifat penyerap. “Warna biru di luar karena tahan air dan ada putih di dalam karena bersifat penyerap. Jadi, jika saya batuk, (sisi warna putih) akan menyerapnya,” ujarnya.
Lalu, mengacu kepada hasil eksperimen smartairfilters.com, diketahui bahwa sisi berwarna biru pada masker medis lebih mampu menangkal partikel dari luar ketimbang sisi berwarna putih. Sisi warna biru pada masker medis mampu menangkal partikel hingga 98,6 persen bila dibandingkan sisi putih, yakni sebesar 96,9 persen.
Dilansir dari usatoday.com, Dr. Wing Hong Seto, co-director of the WHO Collaborating Center for Infectious Disease Epidemiology and Control menyatakan bahwa sisi bagian biru memiliki kelebihan anti air sedangkan sisi warna putih bersifat penyerap. “Warna biru di luar karena tahan air dan ada putih di dalam karena bersifat penyerap. Jadi, jika saya batuk, (sisi warna putih) akan menyerapnya,” ujarnya.
Kesimpulan
Mengacu kepada imbauan WHO, penggunaan masker medis yang benar ialah bagian putih di dalam dan bagian biru di luar. Lalu, berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan smartairfilters.com, diketahui bahwa sisi warna biru pada masker medis memiliki ketahanan lebih kuat menangkal partikel dari luar untuk masuk ke mulut dan hidung ketimbang sisi warna putih.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1259454361053763/
- https://turnbackhoax.id/2020/08/14/salah-gunakan-bagian-putih-masker-di-luar-saat-tidak-sakit-gunakan-bagian-biru-masker-di-luar-saat-sakit/
- https://turnbackhoax.id/2019/02/06/salah-cara-pemakaian-masker-yang-benar/
- https://leadstories.com/hoax-alert/2020/07/fact-check-different-sides-of-surgical-masks-do-not-serve-different-purposes.html
- https://smartairfilters.com/en/blog/does-surgical-mask-orientation-affect-its-ability-capture-viruses/
- https://www.usatoday.com/story/news/factcheck/2020/04/15/fact-check-disposable-masks-should-always-worn-colored-side-out/2993699001/
- https://www.youtube.com/watch?v=adB8RW4I3o4
(GFD-2020-4627) [SALAH] Foto HRS dan Patung Christ the Redeemer
Sumber: facebook.comTanggal publish: 14/08/2020
Berita
Akun Facebook Teuku Irwan Irwan atau @teukuirwan.irwan.1 mengunggah foto tokoh Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) dan patung Christ the Redeemer di Rio de Janeiro, Brasil pada Rabu (12/8). Dalam unggahan tersebut terdapat narasi:
“Selamat PAGI BAGI KAUM MABOK AGAMA!sudahkah ANDA mengKAFIRKAN ORANG yang tidak sejalan Denganmu PAGI INI?😛😝,” tulis akun Facebook Teuku Irwan Irwan.
“Selamat PAGI BAGI KAUM MABOK AGAMA!sudahkah ANDA mengKAFIRKAN ORANG yang tidak sejalan Denganmu PAGI INI?😛😝,” tulis akun Facebook Teuku Irwan Irwan.
Hasil Cek Fakta
Setelah menelusuri melalui mesin pencari, faktanya unggahan akun Facebook Teuku Irwan Irwan adalah salah atau keliru.
Diketahui foto HRS adalah karya dari Jurnalis Tribun News, Gani Kurniawan. Foto tersebut di antaranya dihunakan sebagai sampul pada artikel berjudul “Tersangka Rizieq Shihab Tidak Penuhi Panggilan Polda Jabar untuk Diperiksa, Alasannya. . .” yang ditayangkan pada Selasa, 7 Februari 2017. Di bawah foto tersebut tersapat keterangan sebagai berikut, “Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq menyapa ribuan anggota FPI diiringi salawat seusai menjalani pemeriksaan di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Kamis (12/1/2017)”.
Sementara, foto patung Christ the Redeemer di antaranya dapat dilihat pada situs albomadventures.com dengan judul artikel “How to Visit Christ the Redeemer in Rio de Janeiro.”
Dengan begitu, unggahan akun Facebook Teuku Irwan Irwan yang menyatukan foto HRS dan patung Christ the Redeemer, menurut kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai konten yang dimanipulasi dengan definisi ketika informasi atau gambar yang asli dimanipulasi untuk menipu.
Diketahui foto HRS adalah karya dari Jurnalis Tribun News, Gani Kurniawan. Foto tersebut di antaranya dihunakan sebagai sampul pada artikel berjudul “Tersangka Rizieq Shihab Tidak Penuhi Panggilan Polda Jabar untuk Diperiksa, Alasannya. . .” yang ditayangkan pada Selasa, 7 Februari 2017. Di bawah foto tersebut tersapat keterangan sebagai berikut, “Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq menyapa ribuan anggota FPI diiringi salawat seusai menjalani pemeriksaan di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Kamis (12/1/2017)”.
Sementara, foto patung Christ the Redeemer di antaranya dapat dilihat pada situs albomadventures.com dengan judul artikel “How to Visit Christ the Redeemer in Rio de Janeiro.”
Dengan begitu, unggahan akun Facebook Teuku Irwan Irwan yang menyatukan foto HRS dan patung Christ the Redeemer, menurut kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai konten yang dimanipulasi dengan definisi ketika informasi atau gambar yang asli dimanipulasi untuk menipu.
Kesimpulan
Foto HRS dan Patung Christ the Redeemer dalam satu bingkai yang diunggah akun Facebook Teuku Irwan Irwan adalah hasil suntingan atau editan. Foto asli HRS adalah ketika Ia menjalani pemeriksaan di Mapolda Jabar pada Kamis, 12 Januari 2017 lalu dan merupakan karya Jurnalis Tribun News, Gani Kurniawan.
Rujukan
(GFD-2020-8230) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pemuda NU Ini Salat Berjamaah di Tempat Ibadah Umat Katolik?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 14/08/2020
Berita
Akun Facebook Munzirin mengunggah foto yang memperlihatkan belasan pemuda yang sedang salat berjamaah di sebuah ruangan. Di dinding belakang para pemuda yang mengenakan jaket berlogo Nahdlatul Ulama (NU) itu, terpasang salib. Foto itu dibagikan ke halaman Manusia Merdeka pada 12 Agustus 2020.
Foto tersebut pun diberi narasi, "Islam Nusantara itu nabinya siapa ya...? Tuhannya Yesus juga ya.....? terus kitabnya mungkin kitab STENSIL....??" Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah direspons lebih dari 100 kali dan dikomentari lebih dari 600 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Munzirin.
Bagaimana kebenaran narasi serta foto tersebut?
Hasil Cek Fakta
Dengan menulusuri foto di atas denganreverse image tool, Tim CekFakta Tempo terhubung dengan situs Duta Islam yang pernah memuat klarifikasi atas foto tersebut. Klarifikasi itu terdapat dalam artikel berjudul “Viral Foto Shalat di Gereja Banyak Dipelintir, Ini Klarifikasi dari IPNU Batam” yang dipublikasikan pada 28 Juni 2018.
Artikel tersebut memuat penjelasan dari Shon Haji Zuhri, salah satu kader NU yang termasuk dalam belasan pemuda di foto itu, sehingga tentunya mengetahui konteks foto tersebut. Di akhir artikel, situs Duta Islam juga memuat tautan tulisan yang diunggah oleh Shon di akun Facebook-nya pada 26 Juni 2018.
Menurut Shon, para pemuda NU tersebut adalah Pengurus Anak Cabang Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama ( IPNU ) Kecamatan Sagulung, Batam. Saat itu, mereka diundang untuk mengisi pentas seni dalam Jambore Pelajar Katolik yang digelar oleh Yayasan Tunas Karya. Kegiatan ini bertempat di SD Katolik Santo Ignasius Loyola di Rempang, Galang, pada 22-24 Juni 2018.
Jambore tersebut bertemakan kebhinekaan. Pemuda NU diundang untuk menampilkan kesenian yang bertemakan kebangsaan dan keberagaman. Mereka tampil pada 23 Juni 2018 pukul 20.00 WIB.
“Saat rombongan adik-adik IPNU yang dikawal beberapa anggota Banser sampai di lokasi, ternyata sudah masuk waktu salat magrib dan akhirnya rombongan melakukan salat magrib berjamaah di sebuah gedung yang ada salibnya,” ujar Shon. Foto salat magrib tersebut pun viral dan diklaim bahwa para pemuda NU itu salat di tempat ibadah agama lain.
Menurut Shon, gedung yang dipakai untuk salat tersebut bukanlah gereja, melainkan semacam asrama atau aula yang lokasinya terpisah dari gereja. Mereka telah berusaha mencari masjid atau musala terdekat, namun jaraknya cukup jauh dan tidak ada kendaraan untuk mengantar.
“Maka, kami meyakini, jika kami memaksakan diri harus melaksanakan salat magrib di masjid terdekat, maka waktu salat (magrib) akan habis. Sementara itu, kami tidak mungkin juga melaksanakan salat di lapangan yang ada di lokasi, karena keadaan cuaca (gerimis) dan lapangannya becek akibat guyuran air hujan selama dua hari,” ujar Shon.
Dengan pencarian lanjutan di Dacebook, Tempo terhubung dengan salah satu akun, yakni Cosmas Eko Suharyanto, yang juga terlibat dalam pelaksanaan jambore tersebut. Penjelasan oleh akun Cosmas Eko Suharyanto ini tidak jauh berbeda dengan yang ditulis oleh Shon.
Menurut Cosmas, lokasi pelaksanaan jambore berjarak sekitar dua jam dari pusat Batam. Sementara para anggota IPNU datang dari berbagai daerah di Batam. Mereka menempuh waktu dua jam dengan mini bus untuk mencapai lokasi jambore.
“Kami menyambutnya dengan suka cita dan langsung mengarahkan ke ruang aula untuk minum dan menikmati snack ringan, karena waktu sudah mendekati untuk salat magrib. Saya menyaksikan dua anggota Banser mengecek apakah ada musala di seberang jalan di kantor Polsek Galang yang sedang dibangun. Setelah dicek, rupanya belum dapat digunakan. Memang di sekitar area bumi Jambore Rempang tidak ada masjid terdekat," ujarnya.
Cosmas pun melanjutkan, “Akhirnya, setelah berdiskusi, salat magrib akan dilaksanakan di aula SD Ignasius. Segera saja suster dari kongregasi JMJ yang melayani di Asrama Rempang mengecek ketersediaan air untuk salat dan mempersiapkan segala sesuatunya, sementara panitia yang lain mempersiapkan tempat. Akhirnya, tibalah waktu salat, dengan menggunakan sound systempanitia, alunan doa itu berkumandang dengan merdu di tengah acara besar Remaja Katolik.”
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa para pemuda NU dalam foto di atas salat berjamaah di tempat ibadah umat Katolik menyesatkan. Para pemuda NU tersebut adalah Pengurus Anak Cabang Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sagulung, Batam. Saat itu, mereka diundang untuk mengisi pentas seni dalam Jambore Pelajar Katolik bertema kebhinekaan yang digelar oleh Yayasan Tunas Karya pada 23 Juni 2018. Salat berjamaah itu pun dilakukan di aula, bukan di tempat ibadah umat Katolik maupun gereja.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/Pt3aE
- https://www.tempo.co/tag/nahdlatul-ulama
- https://www.dutaislam.com/2018/06/viral-foto-shalat-di-gereja-banyak-ini-klarifikasi-dari-ipnu-batam.html
- https://web.facebook.com/ShonHaji.Zuhri/posts/2114474738564085
- https://www.tempo.co/tag/ipnu
- https://www.facebook.com/mascosmaseko/posts/3438731056142248
- https://www.tempo.co/tag/nu
- https://www.tempo.co/tag/katolik
(GFD-2020-8231) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pengendara Motor Ini Terbakar Akibat HP di Joknya Meledak?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 14/08/2020
Berita
Foto-foto seorang pengendara dan sebuah motor yang terbakar di jalan beredar di media sosial. Menurut klaim yang menyertai foto-foto tersebut, pengendara dan motor itu terbakar akibathandphone(HP) yang berada di bawah jok meledak.
Salah satu foto dari peristiwa tersebut diunggah oleh akun Facebook Hendrikus Kosat pada 12 Agustus 2020. Foto itu terdapat dalam gambar tangkapan layar status dari akun Facebook lain. “Kejadian beberapa menit yang lalu di KM 9 Kefa. Meledaknya motor akibat menaruh HP di jok motor,” demikian narasi yang tertulis dalam gambar tangkapan layar itu.
Dua foto dari peristiwa yang sama dengan angle yang berbeda diunggah oleh akun Facebook As Phugell pada 12 Agustus 2020. Akun ini pun menulis narasi, “Kejadian beberapa menit yang lalu. Akibat menyimpan HP di dalam jok motor. Posisi keadaan membawa bensin 1 jerigen.”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook As Phugell.
Apa benar pengendara dan motor dalam foto-foto di atas terbakar akibat HP di bawah joknya meledak?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula memasukkan kata kunci “terbakar di Kefa” dalam mesin pencari Google. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa peristiwa tersebut merupakan peristiwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.
Beberapa video peristiwa itu pernah diunggah oleh sejumlah kanal di YouTube. Salah satunya adalah kanal Adipapa Laa. Kanal ini mengunggah video peristiwa tersebut pada 12 Agustus 2020 dengan judul “Laka Lantas Di TTU Berujung Kebakaran Hingga Seorang PNS Merenggut Nyawa”.
Dalam keterangan video itu, disebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas tersebut terjadi di Jalan El Tari Kilometer 9 Jurusan Kefamenanu-Kupang pada 12 Agustus 2020. Kecelakaan ini menimpa Degonsa Kolo, pegawai Puskesmas Noemuti, yang harus kehilangan nyawanya lantaran tubuhnya hangus terbakar.
Korban yang mengendarai motor dari arah Kefamenanu menuju Noemuti ini diduga menabrak bagian belakang dump truck yang sedang parkir. Motor yang dikendarai korban pun meledak dan terbakar. Degonsa meninggal dunia di tempat karena seluruh tubuhnya hangus terbakar.
Video serupa pernah diunggah oleh kanal YouTube KompasTV Kupang pada 12 Agustus 2020 dengan judul “Pegawai Puskesmas di TTU Hangus Terbakar Akibat Lakalantas”. Dilansir dari Kompas.com, korban kecelakaan lalu lintas itu, Degonsa Kolo, tewas dengan tubuh hangus terbakar bersama motor yang dikendarainya di jalan raya kilometer 9 Jurusan Kupang, Desa Niola, Kecamatan Bikomi Selatan, TTU.
"Kejadiannya pagi tadi sekitar pukul 08.00 WITA," ujar Kapolres TTU Ajun Komisaris Besar Nelson Filipe Diaz Quintas. Menurut Nelson, seorang saksi mata bernama Paulus Farmasi, 29 tahun, bercerita bahwa, sebelum terbakar, ia sempat mendengar motor yang dikendarai Degonsa terjatuh di aspal.
Ketika itu, Paulus sedang mengemudikan truk dari arah Kefamenanu menuju Noemuti. Saat melewati jalan raya kilometer 9 Jurusan Kupang, Paulus turun dari truknya beberapa saat untuk buang air kecil. Setelah itu, Paulus naik kembali ke truknya untuk melanjutkan perjalanan.
Paulus juga melihat di arah depan banyak truk yang sedang memuat pasir. "Tiba-tiba terdengar bunyi gesek di belakang mobil saksi (Paulus). Lalu, saksi turun dari mobilnya dan melihat ada orang jatuh dari motor dan motor langsung terbakar," ujar Nelson.
Melihat itu, Paulus ketakutan dan meneruskan perjalanannya. "Saksi takut karena berada di TKP sendirian," kata Nelson. Setelah itu, Paulus melapor ke Polsek Noemuti. Saat ini, kata Nelson, jenazah Degonsa telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu.
HP di bawah jok motor
Dilansir dari Kompas.com, Kepala Cabang Yamaha Permata Motor Kebayoran Lama, Rendy Arrie, menjelaskan bahwa meledaknya HP yang disimpan di bawah jok motor bisa saja terjadi. Pasalnya, dalam kondisi normal di luar ruangan saja, yang suhunya sekitar 31-33 derajat celcius, HP sering mengalami overheat.
“Bisa saja terjadi jika ditaruh dalam bagasi, karena mesin motor sedang panas,” ujar Rendy. Belum lagi jika motor dalam posisi tidak bergerak, seperti di kemacetan. Suhu dalam bagasi bisa saja bertambah karena merupakan ruangan tertutup.
Rendy menambahkan, ada beberapa faktor yang membuat kebiasaan seperti itu sulit dihindari oleh para pengemudi motor. “Misal, dalam kondisi hujan, biasanya pengemudi akan menaruh barang-barang berharganya di dalam bagasi motor agar tidak basah,” katanya.
Jika memang pengemudi terpaksa menaruh HP di dalam bagasi, sebaiknya pastikan alat komunikasi tersebut dalam keadaan mati. “Untuk berjaga-jaga, sebaiknya matikan daya HP. Serta alasi HP dengan plastik atau kain untuk mengurangi panas yang dihasilkan oleh mesin motor,” katanya.
Menurut anggota Tim Riset Motor Listrik Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Yoga Uta Nugraha, pada dasarnya, munculnya api atau ledakan disebabkan oleh adanya tiga komponen penyusun, yakni oksigen, panas, dan bahan bakar. "Di motor, tentu ada bahan bakar. Ada juga oksigen karena pasti ada udara," kata Yoga seperti dikutip dari JPNN.
Ponsel, terutama smartphone, yang tersambung dengan internet rentan menimbulkan panas. Jika ponsel diletakkan di udara terbuka, panas yang dihasilkan tidak terlalu tinggi. Berbeda ketika ditempatkan di bawah jok, panas yang dihasilkan bakal lebih tinggi. Pertama, ponsel tidak berada di udara terbuka. Kedua, di bawah jok, khususnya motor matik, terdapat mesin. "Ponsel bisa mengalami panas berlebih dan berpotensi menimbulkan ledakan pada baterai," ujar Yoga.
Ledakan itu pun bisa mengakibatkan dua kemungkinan. Pertama, baterai meledak dan menyulut ledakan pada bagian bawah jok. Kedua, panas yang tinggi plus oksigen yang cukup serta bahan bakar menimbulkan ledakan. Karena itu, Yoga menyarankan untuk menghindari meletakkan ponsel di jok. Jika memang terpaksa, karena hujan atau faktor lainnya, ponsel harus dalam kondisi flight mode atau nonaktif.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pengendara motor dalam foto-foto di atas terbakar akibat HP di bawah joknya meledak, keliru. Pengendara motor itu terbakar setelah menabrak bagian belakang sebuah dump truck yang sedang parkir. Meskipun begitu, ponsel terutama smartphone yang tersambung dengan internet rentan menimbulkan panas. Jika diletakkan di bawah motor, ponsel bisa mengalami panas berlebih dan berpotensi menimbulkan ledakan pada baterai.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/motor-besar
- http://archive.ph/5FVXn
- http://archive.ph/0342C
- https://www.tempo.co/tag/kecelakaan-lalu-lintas
- https://www.youtube.com/watch?v=-OzcNQduJ4g
- https://bit.ly/2DQUduG
- https://bit.ly/3aoG9Ep
- https://bit.ly/33XjNJ9
- https://www.tempo.co/tag/jok-motor
- https://bit.ly/31OIG77
- https://www.tempo.co/tag/hp
Halaman: 7191/7906



