• (GFD-2021-6058) [SALAH] Video Temuan Barang dan Puing Kecelakaan Pesawat Sriwijaya SJ182

    Sumber: tiktok.com
    Tanggal publish: 11/01/2021

    Berita

    Dalam video
    “Ya Allah semoga korban dlm kecelakan pesawat Sriwijaya SJ182 semua’a Husnul khotimah & diberikan ketabahan bagi keluarga yang di tinggalkan di berikan ketabahan”

    Caption video
    “innalillahi wainnailaihi rojiun… semoga husnul khotimah.. aamiin
    kecelakaanmaut #sriwijayaarilines #khusnulkhotimah”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar pada aplikasi tiktok sebuah video berdurasi 24 detik yang diunggah oleh @dhie. Video tersebut mengambarkan suasana di kapal yang terlihat beberapa barang dan pada unggah video tersebut disertakan hastag sriwijayaairlines.

    Setelah ditelusuri, video tersebut merupakan video temuan barang dan puing pesawat Lion Air JT-610 yang mengalami kecelakaan pada 29 Oktober 2018. Pesawat tersebut lepas landas pada pukul 06.20 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dengan rute Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung dan setelah mengudara 13 menit, pesawat jatuh pada pukul 06.33 WIB di koordinat S 5’49.052″ E 107’06.628″.

    Dengan demikian, video yang diunggah oleh @dhie bukan video barang temuan dan kondisi pencarian dalam kecelakaan pesawat Sriwijaya SJ182. Video tersebut merupakan temuan barang dan puing kecelakaan pesawat Lion Air jt610 29 Oktober 2018, sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konten yang salah.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Luthfiyah Oktari Jasmien (Institut Agama Islam Negeri Surakarta).

    Faktanya, video tersebut merupakan temuan puing dan barang pada kecelakaan pesawat Lion Air jt610 pada 29 Oktober 2018.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6059) [SALAH] “pdip menolak dng tegas hukuman mati bagi koruptor, dengan alasan semua koruptor adalah teman sehidup semati mereka…”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 11/01/2021

    Berita

    “🤕🤕🤕🤕🤕

    waduh no coment…

    hehehehee…..

    kenyataan kan bossss…”

    Narasi dalam gambar:

    “pdip menolak dng tegas hukuman mati bagi koruptor, dengan alasan semua koruptor adalah teman sehidup semati mereka…”

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook Matt Hamvo mengunggah gambar berupa hasil tangkapan layar yang memperlihatkan Sekretaris Jendral DPP PDIP Hasto Kristiyanto dalam cover artikel CNN Indonesia dan pada gambar tersebut terdapat narasi yang mengklaim alasan Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) menolak secara tegas hukuman mati bagi koruptor karena semua koruptor adalah teman sehidup semati mereka.

    Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan artikel CNN Indonesia dengan gambar cover serupa yang berjudul “PDIP Tolak Hukuman Mati Koruptor: Kita Harus Rawat Kehidupan” yang diunggah pada Kamis, 12/12/2019.

    Dalam artikel tersebut, PDIP tak setuju dengan wacana hukuman mati karena tidak sejalan dengan semangat kemanusiaan. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan semua pihak tidak boleh menjadi penentu kehidupan seseorang.

    Hasto mengaku sepakat esensi dari korupsi adalah membunuh kemanusiaan. Namun, hukuman terberat bagi tindak pidana korupsi bukan dengan cara membunuhnya.

    “Untuk hal yang menyangkut dengan kehidupan seorang manusia tersebut, kita harus hati-hati karena kita bukan pemegang kehidupan atas orang per orang. Kita harus merawat kehidupan itu,” ujar Hasto di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Rabu (11/12).

    Hasto menganggap koruptor tetap harus dihukum berdasarkan dengan tingkat korupsinya. Selain dimiskinkan dan penjara seumur hidup, masih banyak cara untuk mencegah seseorang melakukan korupsi. Seperti pencabutan hak politik koruptor atau cara lain untuk menciptakan efek jera.

    Dengan demikian, klaim alasan PDIP menolak hukuman mati bagi koruptor karena koruptor teman sehidup semati mereka adalah tidak benar dan termasuk dalam kategori konten yang di manipulasi.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Konaah (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta).

    Klaim yang salah. PDIP tidak setuju dengan wacana hukuman mati karena tidak sejalan dengan semangat kemanusiaan. Diketahui pula bahwa CNN Indonesia tidak pernah menerbitkan artikel dengan judul atau isi pemberitaan seperti halnya klaim.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8445) Keliru, Klaim Ini Video Antrian Masuk Pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 11/01/2021

    Berita


    Video yang diklaim sebagai video antrian masuk pasien Covid-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Jakarta, beredar di Facebook. Dalam video itu, terlihat sebuah gedung yang dipenuhi dengan ratusan orang yang mengenakan masker. Terlihat pula puluhan tempat tidur yang dipenuhi pasien. Di beberapa titik, terdapat sejumlah petugas yang mengenakan alat pelindung diri (APD).
    Salah satu akun yang membagikan video beserta klaim itu adalah akun Lutfiyah Mufid, tepatnya pada 9 Januari 2021. Akun ini menulis, "Ini bukan antrian bandara, ini antrian masuk ke wisma atlet.. hati2 ikut protokol kesehatan.. Kemarin tembus 10rb lebih kasus confirm baru. Kopas : drg.afifuddin (Dari grup Dinas kesehatan kab Pasuruan)."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Lutfiyah Mufid yang berisi klaim keliru terkait video yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video di atas menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Lalu, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwa video tersebut bukan diambil di RSD Wisma Atlet, Jakarta, melainkan di Pusat Kuarantin dan Rawatan Covid-19 Berisiko Rendah (PKRC) Taman Ekspo Pertanian Malaysia (MAEPS) di Serdang, Selangor, Malaysia.
    Video yang sama dengan durasi yang lebih panjang pernah diunggah oleh kanal YouTube Dia BossKu pada 7 Januari 2021 dengan judul "Info Terkini || Pusat Kuarantin MAEPS SERDANG". Dalam keterangannya, tertulis bahwa video itu menunjukkan kondisi PKRC MAEPS di Serdang. Kanal ini pun menulis bahwa video itu berasal dari unggahan sebuah halaman di Facebook.
    Halaman Facebook yang dimaksud adalah halaman milik organisasi non-pemerintah We Are Malaysians. Halaman ini mengunggah video tersebut pada 7 Januari 2021. Video itu diberi keterangan "Quarantine Centre. MAEPS, Serdang Quarantine Centre. #stayathome #COVID19".
    Tempo kemudian menelusuri pemberitaan terkait kondisi PKRC MAEPS di Serdang, Malaysia. Dilansir dari mStar, video itu memang viral di Malaysia baru-baru ini. Video tersebut disebarkan dengan narasi bahwa PKRC MAEPS penuh, serta fasilitas dan perawatan yang diberikan kepada pasien Covid-19 kurang memuaskan. Kondisi ini sempat menimbulkan kepanikan warganet, apalagi dengan peningkatan kasus harian Covid-19 di Malaysia yang mencapai angka 3 ribu.
    Namun, salah satu pasien Covid-19 yang ditampung di MAEPS berbagi pengalaman yang jauh berbeda dengan yang diklaim di media sosial. Kepada mStar, Muhamad Afifie Chan mengatakan dia dirawat di MAEPS sejak 7 Januari 2021 setelah terkonfirmasi positif Covid-19. "Video yang tersebar di media sosial menunjukkan bahwa banyak orang yang antri, tapi bukan ingin masuk ke aula, melainkan dipulangkan karena sudah sembuh," ujarnya.
    "Sebenarnya tidak ramai sampai aula penuh. Lebih banyak tempat tidur yang kosong. Saya dan yang lainnya ditempatkan di tempat tidur sendiri-sendiri. Tidak ada yang menakutkan di aula MAEPS ini. Situasi di sini tenang, nyaman, dan bersih," kata Afifie. Pria berusia 30 tahun itu juga menjelaskan bahwa para petugas sangat ramah dan selalu memberikan semangat kepada pasien. "Makanan juga diberikan tiga kali sehari," ujar Afifie.
    Dikutip dari Sinar Harian, seorang pasien juga mengatakan bahwa PKRC MAEPS tidak penuh dan ramai seperti yang dibayangkan. Banyak tempat tidur yang masih kosong. "Kalau untuk tempat karantina bagi warga lokal, hanya setengah dari jumlah tempat tidur yang terpakai. Separuh lainnya masih kosong," ujar pasien tersebut.
    Pasien itu menyarankan pemerintah Malaysia untuk membuat pusat karantina yang tidak ber-AC dan terbuka. Menurut dia, PKRC MAEPS juga tidak menerapkan jarak sosial antar pasien. "Di sini, saya harus pakai masker karena kita berada dalam ruang ber-AC. Rasanya tidak nyaman, tapi bisa diterima karena rumah sakit telah penuh dengan pasien Covid-19, dan pemerintah juga telah melakukan yang terbaik bagi kami," katanya.
    Dilansir dari The Star, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia (NADMA) pun telah menyatakan bahwa video yang viral tersebut tidak mencerminkan situasi yang sebenarnya di PKRC MAEPS. Kepala unit komunikasi NADMA, Nur Daliza Dohat, mengatakan video itu tidak menunjukkan gambaran keseluruhan aula, tempat pasien Covid-19 ditampung.
    Menurut Daliza, PKRC MAEPS memiliki 8 ribu tempat tidur, dan mampu menampung hingga 10 ribu tempat tidur. Hingga 8 Januari 2021, PKCR MAEPS merawat 2.863 pasien. "Artinya, masih ada 5.137 tempat tidur yang kosong. Situasi yang ditampilkan dalam video itu membingungkan. Apa yang terlihat dalam video tersebut adalah situasi normal selama proses pemulangan harian," ujarnya.
    Daliza mengatakan, meski tidak ada sekat di aula, jarak fisik pasien Covid-19 tetap diterapkan sesuai standar prosedur operasi (SOP). Tidak adanya sekat memungkinkan para petugas memantau pasien secara efektif, katanya, seraya menambahkan bahwa saat ini terdapat 1.170 petugas dari berbagai instansi yang ditempatkan di PKRC MAEPS.
    MAEPS diaktifkan kembali sebagai PKRC pada 9 Desember 2020 setelah ditutup pada 15 Juli 2020. PKRC MAEPS pertama kali dibuka pada 16 April 2020. PKRC MAEPS diaktifkan kembali sebagai tempat perawatan pasien Covid-19 tanpa gejala, untuk memastikan tempat tidur di rumah sakit memadai bagi pasien yang bergejala. Sementara itu, jumlah kumulatif pasien Covid-19 yang dirawat di PKRC MAEPS sejak dibuka adalah sebanyak 19.121 orang.
    Pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet
    Berdasarkan arsip berita Tempo, RSD Wisma Atlet, Jakarta, terus mencatatkan penambahan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat. Pasien Covid-19 yang menjalani rawat inap di RS tersebut pada 11 Januari 2021 mencapai 4.331 orang. Pasien Covid-19 bergejala ringan hingga sedang ini dirawat inap di Tower 4, 5, 6, dan 7 Wisma Atlet.
    "Hari ini, dilaporkan pasien yang menjalani rawat inap bertambah 76 orang," kata juru bicara RSD Wisma Atlet Kolonel Mar Aris Mudian pada 11 Januari 2021. Pada 8 Januari 2021 lalu, RSD Wisma Atlet mencatat pasien Covid-19 yang menjalani rawat inap bertambah 147 orang. "Total pasien yang dirawat inap saat ini sebanyak 4.240 orang," kata Aris.
    Adapun total pasien yang menjalani perawatan di RSD Wisma Atlet sejak 23 Maret 2020 hingga saat ini mencapai 45.234 orang. Sebanyak 40.903 orang sudah keluar, di mana 40.316 orang telah dinyatakan sembuh dan 566 orang dirujuk ke RS rujukan Covid-19 karena menunjukkan gejala berat.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video antrian masuk pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet, Jakarta, keliru. Video itu menunjukkan suasana di Pusat Kuarantin dan Rawatan Covid-19 Berisiko Rendah (PKRC) Taman Ekspo Pertanian Malaysia (MAEPS) di Serdang, Selangor, Malaysia. Menurut otoritas Malaysia, video itu memperlihatkan proses pemulangan pasien Covid-19 dari pusat karantina tersebut.
    ANGELINA ANJAR SAWITRI
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8446) Keliru, Klaim Ini Foto Bayi yang Selamat dari Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 11/01/2021

    Berita


    Dua foto yang memperlihatkan seorang bayi yang terbungkus dalamlife jacketatau jaket penyelamat dan digendong oleh seorang tentara viral di media sosial dan grup-grup percakapan WhatsApp. Foto itu diklaim sebagai foto bayi yang selamat dari kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Menurut klaim tersebut, bayi itu selamat setelah terombang-ambing selama 24 jam di laut.
    Pesawat Sriwijaya Air bernomor register PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada 9 Januari 2021 pukul 14.40 WIB dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pesawat jenis Boeing 737-500 ini membawa 62 orang, yang terdiri atas 12 kru kabin pesawat (6 kru aktif) dan 50 penumpang (43 orang dewasa, 7 anak-anak, dan 3 balita).
    Di Facebook, salah satu akun yang membagikan foto beserta klaim itu adalah akun Eni Yusanti, tepatnya pada 10 Januari 2021. "BASARNAS, SAR,dan Team gabungan Angkatan Laut Berhasil mengevakuasi bayi salah satu korban dari Sriwijaya Air sj 182.Atas kuasa Allah swt masih selamat.dan Terombang ambing selama 24 jam di lautan," demikian narasi yang menyertai foto tersebut.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang memuat klaim keliru terkait foto-foto bayi yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto di atas denganreverse image toolSource dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa bayi dalam foto tersebut bukanlah korban yang selamat dari kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, melainkan dari tenggelamnya kapal feri Lestari Maju di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 2018.
    Berdasarkan arsip berita Tempo, foto ini sempat beredar pada Oktober 2018, ketika terjadi kecelakaan pesawat Lion Air JT610. Klaim yang menyertai foto tersebut ketika itu menyebut bayi ini merupakan korban yang selamat dari kecelakaan pesawat Lion Air JT610.
    Saat itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan klaim yang menyertai foto tersebut palsu. Bayi ini adalah penumpang yang selamat dari kejadian tenggelamnya kapal Lestari Maju di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 2018. "Jangan ikut menyebarkan hoax," tulis Sutopo di Twitter pada 30 Oktober 2018.
    Berita tentang bayi yang berhasil selamat dari kecelakaan kapal Lestari Maju tersebut juga pernah dimuat oleh kanal YouTube CNN Indonesi a pada 5 Juli 2018 dengan judul “Kisah Bayi 11 Bulan yang Selamat dari Kecelakaan Kapal Tenggelam KM Lestari Maju”.
    Menurut keterangan video tersebut, bayi yang selamat dari kecelakaan kapal motor Lestari Maju di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, adalah seorang bayi berusia sebelas bulan yang bernama Muhammad Asnawi Altamis. Bayi tersebut diselamatkan Tim SAR gabungan bersama ayah dan ibunya hingga ke bibir pantai Pabaddilang.
    Berdasarkan arsip berita Tempo, kapal feri Lestari Maju tenggelam saat berlayar dari Kabupaten Bulukumba menuju Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 2018 siang. Kapal Lestari Maju tenggelam akibat adanya kebocoran di sisi lambung kapal.
    Diduga, kapal yang berlayar dari Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukamba, tersebut mengalami kerusakan mesin setelah 15 menit perjalanan menuju Pelabuhan Pamatata, Kabupaten Selayar. Saat itu, nahkoda berupaya untuk menepikan kapal ke pulau terdekat. Namun, mesin yang rusak ditambah cuaca buruk membuat sebagian kapal tenggelam sebelum sampai di pulau terdekat.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas adalah foto bayi yang selamat dari kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, keliru. Bayi dalam foto tersebut merupakan korban yang selamat dari kecelakaan kapal feri Lestari Maju di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 2018. Bayi berusia sebelas bulan tersebut diselamatkan Tim SAR gabungan bersama ayah dan ibunya hingga ke bibir pantai Pabaddilang.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan