• (GFD-2020-5501) [SALAH] Video Pemakaman Pemuda Pemenggal Guru di Prancis Sebagai Pahlawan

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 09/11/2020

    Berita

    “Jenazah pemuda Islam berbangsa Checnya yg memenggal leher samuel paty perancis yg membuat penghinaan kpd Nabi Muhammad ﷺ melalui karikatur nya tlh di bawa pulang ke Chechnya dan di kebumikan disana sebagai seorang mujahid agung. Takbir…!!!
    ALLAHUAKBAR!!!”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan dari akun Facebook KABAR JATIM berupa video berisikan suasana pemakaman jenazah yang diklaim adalah jenazah pemenggal Samuel Paty di Prancis dan dikebumikan sebagai seorang mujahid agung. Postingan ini disukai sekitar 16 ribu kali dan dikomentari sebanyak 1,2 ribu kali.

    Berdasar penelusuran, pencarian tertuju pada sebuah artikel dari kabkaz-uzel.ue. Pada artikel tersebut, dilampirkan foto-foto yang serupa dengan video yang disebarkan, jenazah yang terlihat pada foto diketahui bukanlah pemenggal guru dalam peristiwa di Prancis, melainkan Yusup Termirkhanov di Chechnya. Yusup berstatus sebagai narapidana atas pembunuhan anggota militer Yuri Budanov pada 2011 silam, dan divonis selama 15 tahun.

    Yusup Termirkhanov meninggal pada 3 Agustus 2018 dan dimakamkan di desa Geldagan, distrik Kurchaloyvsky, Chechnya. Pemenggal guru di Prancis diketahui bernama Abdoulakh Anzorov yang merupakan pemuda dari Chechnya pada 16 Oktober 2020 melakukan pemenggalan kepada Samuel Paty setelah memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad SAW kepada muridnya dan ditembak mati oleh polisi setempat.

    Melihat dari penjelasan tersebut, video suasana pemakaman pemenggal guru di Prancis sebagai pahlawan adalah tidak benar dan termasuk dalam Konten yang Salah/False Context.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).

    Klaim tersebut tidak benar, jenazah yang diarak pada video tersebut tidak berhubungan dengan peristiwa di Prancis melainkan pemakaman Yusup Termikhanov pada tahun 2018 di Chechnya.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8365) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Foto Bocah dalam Sangkar Ini Dibuat saat Prancis Jajah Kongo?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 09/11/2020

    Berita


    Foto berwarna yang menunjukkan seorang bocah laki-laki berkulit hitam berada di dalam sangkar beredar di Facebook. Di luar sangkar itu, di sisi kiri dan kanan bocah tersebut, terdapat dua anak perempuan berkulit putih yang tampak tersenyum. Foto ini diklaim dibuat pada 1955 di tengah penjajahan Prancis atas Kongo.
    Salah satu akun yang membagikan foto beserta klaim itu adalah akun Ibro Nanang, tepatnya pada 4 November 2020. Akun ini pun menulis narasi sebagai berikut:
    "KEBERHASILAN PERANCIS MENJADI TERORIS.. Foto ini dibuat pada tahun 1955 di tengah penjajahan Perancis atas Kongo.. Dalam foto tersebut seorang Ayah membawa seorang anak Afrika untuk anak-anaknya sebagai "hiburan". Perlu diketahui, bahwa Perancis berhasil membunuh 10 hingga 15 juta penduduk Kongo dalam waktu 50 tahun penjajahannya.. Perancis juga berhasil memotong ribuan tangan anak-anak di perkebunan karet dan lahan lainnya sebagai bentuk hukuman atas kegagalan sang Ayah dalam mengumpulkan jumlah karet ataupun bahan tambang lainnya. Sampai akhirnya Negara Kongo dinamakan: 'Negara Tangan Yang Terpotong'."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ibro Nanang.
    Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan sebanyak 150 kali dan mendapatkan lebih dari 600 reaksi dan 100 komentar. Sebagian besar komentar dalam unggahan itu berisi makian terhadap Prancis. Unggahan ini beredar di tengah protes sejumlah negara yang berpenduduk mayoritas muslim terhadap pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait Islam serta seruan boikot produk Prancis.
    Selain beredar di Indonesia, foto bocah berkulit hitam di dalam sangkar yang dikaitkan dengan Prancis tersebut juga beredar di luar negeri, seperti di Azerbaijan dan Rusia.
    Apa benar foto bocah berkulit hitam di dalam sangkar itu dibuat pada 1955 di tengah penjajahan Prancis atas Kongo?

    Hasil Cek Fakta


    Hasil verifikasi Tim CekFakta Tempo menunjukkan foto asli yang memperlihatkan bocah berkulit hitam di dalam sangkar tersebut berwarna hitam-putih. Foto itu pun tidak diambil saat Prancis menjajah Kongo, melainkan saat periode Belgia Kongo atau era koloni Belgia atas Kongo. Saat ini, wilayah Kongo yang dulunya merupakan koloni Belgia bernama Republik Demokratik Kongo. Sementara wilayah Kongo yang pernah menjadi koloni Prancis kini bernama Republik Kongo.
    Untuk mendapatkan fakta tersebut, Tempo menelusuri jejak digital foto itu denganreverse image toolYandex. Lewat cara ini, ditemukan bahwa versi asli foto tersebut adalah berwarna hitam-putih. Foto itu menjadi cover buku berbahasa Belanda yang berjudul "Wit-Zwart in Zwart-Wit: samen en toch apart : foto's en verhalen uit Belgisch-Congo" karya sejarawan Paul Van Damme. Buku ini terbit pada 8 Mei 2020, dan dijual salah satunya di situs Amazon.
    Buku karya sejarawan Belgia Paul van Damme.
    Buku terbitan Borgerhoff & Lamberigts ini sejatinya berkisah tentang studi sejarah terkait hubungan antara warga kulit hitam dan kulit putih di Republik Demokratik Kongo sebelum 1960, atau saat Kongo masih menjadi koloni Belgia. Buku tersebut terbit pada 2020 untuk menandai usia kemerdekaan Republik Demokratik Kongo yang mencapai 60 tahun.
    Sepuluh foto dalam buku "Wit-Zwart in Zwart-Wit" tersebut kemudian dipublikasikan pertama kali dalam ukuran yang lebih besar oleh majalah Belgia, Knack, dengan judul "In beeld: foute foto's van 'ons Congo'" pada 21 Mei 2020. Salah satu foto memperlihatkan seorang bocah laki-laki berkulit hitam yang berada di dalam sangkar, seperti yang terdapat dalam unggahan akun Ibro Nanang. Menurut Knack, foto itu koleksi Van de Meersche dan berangka tahun 1955.
    Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai konteks foto itu, Tempo menghubungi penulis buku tersebut, Paul Van Damme, sejarawan asal Belgia. Paul menjelaskan bahwa foto tersebut milik keluarga seorang penjajah Belgia, yang diambil antara 1950-1960 di Kongo Belgia. Foto tersebut adalah koleksi Cegesoma yang beralamat di Luchtvaartsquare, Anderlecht. “Foto ini dari koloni Belgia. Dan aslinya tidak berwarna!” kata Paul melalui e-mail pada 6 November 2020.
    Menurut Paul, foto itu kemungkinan dimaksudkan sebagai foto "permainan anak-anak". Tapi fotografer tidak menyadari bahwa foto dan permainan itu salah dan rasis, seperti kolonialisme itu sendiri. Dengan menganggap hal itu normal, fotografer meneruskan persepsi amoral tentang superioritas kulit putih. “Rasisme adalah ciri khas kolonialisme. Dan sekarang, 60 tahun kemudian, rasisme masih menjadi masalah struktural,” kata pria lulusan jurusan ilmu sejarah di KU Leuven, Belgia.
    Menurut Paul, foto tersebut tidak terkait dengan apa yang terjadi di Prancis baru-baru ini. Kongo Belgia yang dimaksud adalah yang saat ini bernama Republik Demokratik Kongo. Pada 1908-1960, Republik Demokratik Kongo merupakan koloni Belgia. Sedangkan koloni Prancis adalah Kongo Brazaville, yang saat ini bernama Republik Kongo. “Sungguh mengerikan bagaimana foto ini digunakan untuk tujuan yang berbeda,” katanya.
    Republik Demokratik Kongo yang dulunya menjadi koloni Belgia. Sementara Republik Kongo, terletak di sebelah barat Republik Demokratik Kongo, adalah koloni Prancis.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa "foto bocah laki-laki berkulit hitam di dalam sangkar itu dibuat pada 1955 di tengah penjajahan Prancis atas Kongo" keliru. Foto aslinya berwarna hitam-putih, dan menjadi sampul buku karya sejarawan Belgia, Paul Van Damme, yang berjudul "Wit-Zwart in Zwart-Wit: samen en toch apart : foto's en verhalen uit Belgisch-Congo". Menurut Paul, foto tersebut diambil di Republik Demokratik Kongo sebelum 1960 saat masih menjadi koloni Belgia.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8366) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video-video Penyerangan Muslim Berhijab di Prancis?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 09/11/2020

    Berita


    Video kolase yang menunjukkan sejumlah penyerangan terhadap perempuan muslim yang berhijab beredar di media sosial. Penyerangan dalam video itu terlihat dilakukan oleh sejumlah pria di berbagai tempat, seperti di jalan, taman, bandara, dan restoran. Penyerangan dalam video ini diklaim terjadi di Prancis.
    Di Facebook, video kolase itu dibagikan salah satunya oleh oleh akun Martini Maharani, tepatnya pada 3 November 2020. Akun ini pun menulis narasi, “Beginilah Perlakuan Polisi Prancis Terhadap Muslimah Prancis Yg memakai Hijab...” Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 600 kali dan mendapatkan 125 komentar serta 255 reaksi.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Martini Maharani.
    Video ini beredar di tengah munculnya sejumlah kecaman dari negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim terhadap pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait Islam serta seruan boikot produk Prancis.
    Apa benar penyerangan terhadap perempuan muslim yang berhijab dalam video itu terjadi di Prancis?

    Hasil Cek Fakta


    Hasil verifikasi Tim CekFakta Tempo menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa dalam video kolase tersebut tidak terjadi di Prancis, melainkan di sejumlah negara lain, yakni Inggris, Rusia, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia. Berbagai peristiwa dalam video itu juga tidak terjadi dalam satu waktu, melainkan dari tahun-tahun yang berbeda.
    Untuk memverifikasi video itu, Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Kemudian, gambar-gambar tersebut ditelusuri jejak digitalnya denganreverse image toolYandex dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa video itu adalah gabungan dari tujuh video yang berbeda dengan konteks dan waktu yang juga berbeda.
    Berikut ini fakta-fakta terkait enam dari tujuh video tersebut:

    Video ini telah lama beredar di YouTube, tepatnya sejak 2012. Video yang berasal dari rekaman CCTV tersebut pernah diunggah oleh kanal Klausur Uberleben pada 20 November 2012. Menurut keterangannya, video ini memperlihatkan serangan acak terhadap seorang gadis muslim berhijab di Plaistow, London, Inggris.
    Situs media CNN juga mengkonfirmasi bahwa peristiwa ini terjadi di Plaistow, London Timur, tepatnya pada 13 November 2012. Menurut Kepolisian Metropolitan London, pria dalam video itu digambarkan sebagai pria botak berkulit hitam dengan tubuh berotot. Tingginya sekitar 6 kaki, berusia 25-30 tahun, dan saat itu mengenakan jaket bisbol serta celana jeans. Dia mengikuti gadis berusia 16 tahun itu sekitar 500 meter dari rumahnya sebelum akhirnya berlari mendekati dan memukulnya.
    Sumber: YouTube dan CNN

    Dikutip dari situs media Independent Turki, peristiwa penyerangan perempuan muslim di depan anak-anaknya oleh seorang pria ini terjadi di Kota Tübenkama, daerah otonomi Tatarstan, Rusia, pada 8 Juli 2020. Petugas kepolisian Tübenkama mengumumkan bahwa penyerang, yang dilaporkan berusia 34 tahun, ditangkap beberapa jam setelah kejadian. Situs lokal Turki, Ahaber, menjelaskan bahwa 40 persen penduduk daerah otonomi Tatarstan merupakan orang Rusia. Populasi muslim di sana mencapai sekitar 53 persen.
    Sumber: Independent Turki dan Ahaber Video 3
    Video ini adalah rekaman seorang pasien berusia 19 tahun yang dipukul oleh pasien lain di lobi ruang gawat darurat Rumah Sakit Beaumont-Dearborn, Michigan, AS, pada 10 Februari 2018. Dikutip dari situs media ABC, menurut Kepolisian Dearborn, pelaku bernama John Deliz, 50 tahun. Menurut laoran situs media ABC7, Deliz sebenarnya telah keluar dari rumah sakit hari itu. Kepada polisi, pihak keamanan rumah sakit mengatakan bahwa dia menyapa pasien lain untuk meminta rokok dan berusaha berjalan menyusuri lorong. Dia kemudian duduk menunggu di lobi untuk mencari tumpangan. Saat itulah Deliz menyerang seorang mahasiswi muslim yang saat itu akan memeriksakan diri karena menduga rahangnya patah.
    Sumber: ABC dan ABC7

    Video ini diambil di Belanda, saat seorang preman yang menggunakan penutup kepala menyerang korban dari belakang di sebuah pusat perbelanjaan. Video ini pernah viral di YouTube dan Liveleak. Situs media Express mempublikasikan berita ini pada 22 Desember 2016.
    Sumber: Express

    Video ini adalah video penyerangan yang dilakukan oleh warga Australia, Stipe Lozina, terhadap seorang perempuan bernama Rana Elasmar di Sydney pada November 2019. Dikutip dari situs media ABC dan BBC, saat itu, Elasmar yang sedang hamil 38 minggu tengah bersama teman-temannya di sebuah kafe ketika Lozina masuk dan mendekati meja mereka, untuk meminta uang. Elasmar menolak. Lozina pun melancarkan serangan "keji" yang dipicu oleh prasangka agama. Karena serangan itu, Lozina dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.
    Sumber: ABC dan BBC

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video penyerangan terhadap para perempuan muslim  berhijab di Prancis, keliru. Video tersebut merupakan gabungan dari tujuh video dengan konteks dan waktu yang berbeda. Video-video itu pun tidak diambil di Prancis, melainkan di sejumlah negara lain, yakni Inggris, Rusia, AS, Belanda, dan Australia.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-5478) [SALAH] Museum Prancis Berisi 18.000 Tengkorak Muslim

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 08/11/2020

    Berita

    “Perancis marah karena kepala satu warganya dipenggal setelah menistakan Rasulullah ﷺ, tapi seperti lupa bahwa mereka telah membangun museum tengkorak di paris. Museum berisi 18.000 tengkorak kepala manusia (mayoritas muslim) yang mereka potong dan mereka kumpulkan saat menjajah Aljazair dan negeri lainnya. Lalu dengan angkuh menolak untuk mengembalikan tengkorak-tengkorak tersebut kepada keluarganya
    .
    (AsySyaikh Dr. Iyad Qunaibi hafizhahullah)
    source: @nusantarabertauhidid”

    Hasil Cek Fakta

    Forum Facebook Pecinta Panji Rasulullah mengunggah sebuah informasi (1/11) yang menyatakan bahwa sebuah museum di Prancis memiliki koleksi 18.000 tengkorak manusia dan bahwa mayoritas tengkorak tersebut adalah milik umat Muslim saat Prancis menjajah Aljazair dan negara lain. Unggahan tersebut juga menyatakan bahwa pemerintah Prancis menolak untuk mengembalikan tengkorak-tengkorak tersebut ke negara asal.

    Berdasarkan hasil penelusuran, museum yang dimaksud merupakan Musee de l’Homme atau ‘Museum Manusia’, yaitu sebuah museum antropologi yang berfokus pada evolusi manusia. Museum ini memuat koleksi dari berbagai belahan dunia yang dibawa oleh para penjelajah dan tentara Prancis pada masa kolonial. Koleksi tersebut juga meliputi 18.000 tengkorak manusia yang 24 di antaranya terbukti merupakan tengkorak milik pejuang muslim anti-kolonialisme dari Aljazair. 24 buah tengkorak muslim Aljazair tersebut sudah dikembalikan ke negara asal pada Juli 2020 yang lalu, untuk memenuhi tuntutan restitusi oleh negara-negara bekas koloni Prancis. Lebih lanjut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa pemenggalan kepala tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan telah meminta maaf kepada pemerintah Aljazair.

    Dengan demikian, informasi yang diunggah oleh forum Facebook Pecinta Panji Rasulullah tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).

    Informasi yang salah. Faktanya, dari 18.000 tengkorak manusia yang terdapat dalam Musee de l’Homme di Prancis, hanya 24 di antaranya yang terbukti merupakan tengkorak pejuang muslim Aljazair. 24 buah tengkorak muslim Aljazair tersebut sudah dikembalikan ke negara asal pada Juli 2020 lalu.

    = = = = =

    Rujukan