• (GFD-2020-8374) Tidak Benar Ini Video Lantunan Selawat Nissa Sabyan di Amerika yang Bikin Juri Menangis

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 13/11/2020

    Berita


    KLAIM
    Video yang diklaim memperlihatkan penampilan Nissa Sabyan di sebuah ajang pencarian bakat di Amerika Serikat viral di Facebook. Klaim itu juga menyebut lantunan selawat yang dibawakan oleh Nissa dalam ajang tersebut membuat para juri menangis.
    Dalam video berdurasi sekitar 4 menit itu, Nissa menyanyikan lagu "Deen Assalam". Di sela-sela penampilan Nissa, terselip cuplikan-cuplikan yang memperlihatkan penyanyi Cheryl, produser Simon Cowell, dan presenter Nick Grimshaw tercengang, lalu menitikkan air mata.
    Akun yang membagikan video beserta klaim itu adalah akun Su An Par Az, tepatnya pada 20 September 2020. Akun ini menulis, "Semua Orang Di Sana Menangis Mendengarnya-Su An Par Az." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan 79 ribu reaksi dan 2 ribu komentar.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Su An Par Az.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, video tersebut adalah hasil suntingan yang menggabungkan dua video yang berbeda. Video Nissa Sabyan yang menyanyikan lagu "Deen Assalam" itu diambil dari acara televisi NET pada 29 Mei 2018. Sementara video yang memperlihatkan Cheryl, Simon Cowel, dan Nick Grimshaw yang terpukau diambil dari ajang pencarian bakat X Factor UK edisi 30 Agustus 2015.
    Untuk memeriksa klaim dalam unggahan akun Su An Par Az, Tempo mula-mula memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengantool InVID. Lalu, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image tool Google. Hasil penelusuran mengarah pada video di YouTube berjudul “X Factor contestant Josh Daniels makes judges cry” yang diunggah oleh kanal Etoro 2015 pada 2 September 2015.
    Tempo kemudian melakukan penelusuran lanjutan di YouTube dan menemukan video aslinya di kanal The X Factor UK yang diunggah pada 30 Agustus 2015. Video ini menampilkan ekspresi tiga juri The X Factor UK saat itu, Simon Cowell, Cheryl, dan Nick Grimshaw yang terpukau dan menitikkan air mata karena penampilan Josh Daniel, kontestan berusia 21 tahun yang menyanyikan lagu "Jealous" milik Labrinth.
    Cuplikan yang menampilkan ketiga juri dalam video di kanal The X Factor UK itu sama dengan cuplikan yang terdapat dalam video unggahan akun Su An Par Az. Kesamaan terlihat dari pakaian yang dikenakan ketiga juri itu, ekspresi mereka, serta wajah para penonton di belakang mereka.
    Pakaian dan ekspresi para juri The X Factor UK yang terlihat dalam video unggahan akun Su An Par Az (atas) sama dengan yang terlihat dalam video The X Factor UK edisi Agustus 2015 (bawah).
    Terkait video Nissa Sabyan, Tempo menelusurinya lewat petunjuk logo NET.Z yang sebagian terlihat di sisi atas kanan video unggahan akun Su An Par Az. Lewat penelusuran di YouTube, Tempo menemukan bahwa video itu adalah video penampilan Nissa di acara Rising Star Net.Z yang ditayangkan oleh stasiun televisi NET pada 29 Mei 2018.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video lantunan selawat Nissa Syaban di sebuah ajang pencarian bakat di Amerika yang membuat para juri menangis, keliru. Video ini adalah hasil suntingan yang menggabungkan dua video yang berbeda. Video yang memperlihatkan Cheryl, Simon Cowell, dan Nick Grimshaw diambil dari tayangan The X Factor UK pada 30 Agustus 2015. Adapun video yang memperlihatkan Nissa yang sedang menyanyikan lagu "Deen Assalam" berasal dari tayangan NET pada 29 Mei 2018.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8375) Relawan Prancis yang Mualaf Sophie Petronin Tak Pernah Kirim Pesan tentang Islam ke Macron

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 13/11/2020

    Berita


    KLAIM
    Klaim bahwa Sophie Petronin mengirim pesan bernada kritik kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron viral di media sosial. Petronin disebut sebagai misionaris asal Prancis yang mualaf setelah ditawan oleh kelompok Islam di Mali, Afrika Barat.
    Klaim ini beredar di tengah pro-kontra terkait pernyataan Macron yang merespons kasus pemenggalan guru Prancis Samuel Paty. Paty dianggap melecehkan Islam karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad milik Charlie Hebdo kepada murid-muridnya.
    Pesan dari Petronin itu terdiri dari lima paragraf. Secara garis besar, pesan tersebut berisi kritik tentang bagaimana Macron memperlakukan Islam. “Tidak ada yang pernah melecehkan saya secara verbal atau fisik, dan mereka tidak menghina agama saya, Yesus, atau Perawan Damai seperti yang Anda lakukan terhadap Nabi Muhammad SAW.”
    Di Facebook, klaim tentang Petronin itu diunggah oleh halaman Ceramah Ust Adi Hidayat pada 9 November 2020. Klaim tersebut disertai dengan video kepulangan Petronin ke Prancis. Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 2.700 kali.
    Klaim itu juga dimuat oleh situs Warta-berita.com pada 31 Oktober 2020 dalam artikelnya yang berjudul "Ini Isi Pesan Buat Macros dari Misionaris Prancis yang Muallaf Setelah Ditawan 'Teroris' Mali". Namun, dalam artikel itu, tidak tercantum sumber tulisan tersebut.
    Gambar tangkapan layar unggahan halaman Facebook Ceramah Ust Adi Hidayat.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi unggahan tersebut, Tim CekFakta Tempo membandingkan narasi dari unggahan itu dengan informasi dari berbagai pemberitaan media. Menurut laporan BBC dan France24, Sophie Petronin memang disandera di Mali oleh pemberontak Tuareg yang didukung oleh kelompok Islam pada Desember 2016. Ia dibebaskan pada 8 Oktober 2020, bersama mantan pemimpin oposisi Mali Soumaila Cisse dan dua warga Italia, setelah pemerintah Mali melepaskan lebih dari 100 tawanan jihadis.
    Namun, Petronin bukan seorang misionaris. Ia adalah pekerja sosial yang fokus dalam membantu anak yatim dan anak kekurangan gizi. Dia menjalankan program dari Asosiasi Amal Swiss untuk Gao sejak 2004. Dia juga merupakan seorang ahli penyakit cacing Guinea yang ditemukan menyebar melalui air yang terkontaminasi di Mali Utara.
    Berdasarkan laporan kantor berita Turki Anadolu Agency dan media Cristianity Today, Sophie Petronin memang telah masuk Islam dan menyebut dirinya sebagai Mariam. Hal itu dinyatakan oleh Petronin setelah ia dibebaskan, seperti dikutip dari surat kabar harian Prancis Le Point.
    “My greatest joy today is knowing that my assistant was able to continue working without me. For Mali, I will pray, implore Allah's blessings and mercy, because I am a Muslim. You say Sophie, but you have Mariam in front of you," katanya.
    Meskipun Petronin mualaf, perempuan berusia 75 tahun tersebut tidak pernah mengirimkan pesan kepada Presiden Emmanuel Macron. Hal ini disampaikan oleh Sebastien Chadaud-Petronin, putra Sophie Petronin, kepada organisasi pemeriksa fakta Prancis CheckNews. "Tidak ada surat yang ditujukan kepada Tuan Macron dari Sophie Petronin," ujarnya.
    CheckNews mendokumentasikan bahwa surat yang diklaim dikirim oleh Sophie itu mulanya beredar dalam bahasa Arab di Facebook pada 19 Oktober 2020. Kemudian, surat itu beredar semakin luas setelah dikutip oleh sejumlah situs dan media Arab. Pada 23 Oktober, surat tersebut pun dibagikan oleh media Mesir Al Hiwar. Surat ini juga ditemukan dalam versi online surat kabar Aljazair, El-Khabar, pada 26 Oktober. Akhirnya, surat palsu itu beredar dalam bahasa Prancis.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa relawan Prancis yang mualaf, Sophie Petronin, mengirim pesan tentang Islam kepada Presiden Emmanuel Macron, keliru. Perempuan berusia 75 tahun yang disandera di Mali, Afrika Barat, pada 2016 dan telah dibebaskan pada Oktober 2020 itu tidak pernah mengirim pesan terkait Islam yang bernada kritik kepada Macron. Hal ini telah dikonfirmasi oleh putra Petronin, Sebastien Chadaud-Petronin.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-5582) [SALAH] Angkut 100 Prajurit TNI, Pesawat Hercules Jatuh di Papua

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 13/11/2020

    Berita

    Beredar pesan berantai di grup Whatsapp yang menyebutkan telah terjadi kecelakaan pesawat hercules yang membawa 100 prajurit TNI di wilayah Papua pada tanggal 09 November 2020, serta merinci jumlah korban luka dan meninggal.

    Hasil Cek Fakta

    Informasi tersebut salah. Faktanya, foto bangkai pesawat tersebut merupakan kecelakaan pesawat pada tahun 2016 lalu yang terjadi di sekitar Gunung Lisuwa, Kampung Maima, Distrik Minimo, Kabupaten Jayawijaya.

    Dilansir dari detik.com dan lenteratoday.com, Informasi kecelakaan pesawat ternyata adalah kabar bohong (hoax). Kapuspen TNI Mayjen Achmad Riad mengatakan semua pesawat dalam kondisi aman. Mayjen Achmad Riad mengatakan foto-foto yang beredar merupakan peristiwa kecelakaan pada 2016.

    “Selamat siang rekan rekan, terkait info tersebut adalah tidak benar. Saya sudah cross check dengan Asintel Kasau jawabannya ‘Semua pesawat aman’. Gambar tersebut menunjukkan nomor lambung sama dengan kejadian kecelakaan tahun 2016. Terima kasih,” ungkap Mayjen Achmad Riad.

    Hal senada disampaikan Danlanud Silas Papare Jayapura, Marsma Budhi Achmadi. Dia mengatakan tak ada kecelakaan pesawat dan gambar yang beredar merupakan foto lama.

    “Hoax (ada kecelakaan pesawat). Foto-foto semua tidak betul. Iya foto-foto lama,” katanya.

    Dengan demikian, informasi yang menyebutkan bahwa pesawat hercules membawa 100 prajurit TNI dan terjatuh di wilayah Papua adalah salah dan merupakan konten yang salah.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5523) [SALAH] Sampul Majalah Hidayah Bahas Kepulangan Rizieq Shihab

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 12/11/2020

    Berita

    Sebuah gambar sampul majalah Hidayah dengan judul "Seorang Pria Berwajah Gosong Mendadak Mati Mendengar Kepulangan Habib Rizieq" beredar di media sosial.

    Gambar tersebut diunggah oleh akun Facebook Budi Zulfikri Tanjung III pada 9 November 2020.

    Gambar sampul majalah Hidayah tersebut berwarna biru. Tampak seorang pria tergeletak di kasur mengerang kesakitan. Orang-orang di sekitarnya tampak mendoakan pria tersebut.

    Tedapat narasi dalam sampul majalah tersebut. Berikut narasinya:

    "Seorang Pria Berwajah Gosong Mendadak Mati Mendengar Kepulangan Habib Rizieq".

    "Alhamdulillah," tulis akun Facebook Budi Zulfikri Tanjung III.

    Gambar sampul majalah Hidayah yang disebarkan akun Facebook Budi Zulfikri Tanjung III telah 12 kali dibagikan dan mendapat 7 komentar warganet.

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri gambar sampul majalah Hidayah dengan judul "Seorang Pria Berwajah Gosong Mendadak Mati Mendengar Kepulangan Habib Rizieq".

    Penelusuran dilakukan dengan mengunggah gambar tersebut ke situs Google Reverse Image. Hasilnya terdapat beberapa gambar serupa namun dengan judul sampul yang berbeda.

    Gambar asli sampul majalah Hidayah tersebut berjudul "Liputan Khusus Tren Ruqyah di Tengah Masyarakat Modern" dan "Mulut Keluarkan Api Menjelang Ajal".

    Adalah akun Twitter @majalahjadulku yang mengunggah gambar tersebut pada 23 Januari 2019 lalu.

    "Hidayah 2006 #hidayah #majalahhidayah #intisari #islam #ceritaislam #jenazah #kisahnyata #kisah #islami #pondokpesantren #ponpes #santri #ceritaislami #bukuhidayah #olshop #tokobuku #perpustakaan #azab #book #jadul #lawas #ceritalama #kisahsejati #kisahinspiratif #kisahinspirasi," tulis akun Twitter @majalahjadul.

    Kesimpulan

    Gambar sampul majalah Hidayah dengan judul "Seorang Pria Berwajah Gosong Mendadak Mati Mendengar Kepulangan Habib Rizieq" ternyata tidak benar.

    Gambar tersebut telah disunting dengan menambahkan narasi yang tidak sesuai fakta sebenarnya. Konten tersebut masuk dalam kategori Palsu.

    Rujukan