(GFD-2020-8395) Keliru, Video Erdogan Tolak Duduk Bersama dan Jabat Tangan Macron usai Kasus Kartun Nabi Muhammad
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 30/11/2020
Berita
KLAIM
Video pendek yang diklaim sebagai video saat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak duduk bersebelahan dan berjabat tangan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron beredar di Facebook. Dalam video berdurasi 8 detik itu, Erdogan dan Macron bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Angela Merkel tampak berada dalam sebuah forum. Erdogan terlihat menyalami Putin dan Merkel, lalu meninggalkan Macron.
Salah satu akun yang membagikan video beserta klaim itu adalah akun Tarbiahmoeslim's Blogs, tepatnya pada 28 November 2020. Akun ini menulis, "Keren Sultan Erdogan, Dia tidak mau duduk dan salaman dengan orang yang telah menghina Islam dan Nabi Muhammad. Sama sekali tidak di perdulikannya pemimpin Prancis. 'Erdogan memberi tau Ini dia (Macron) yang najis, Izinkan saya pergi dengan izin Anda, Merkel, Saya tidak bisa duduk bersamanya'."
Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah mendapatkan lebih dari 3.800 reaksi dan 396 komentar.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Tarbiahmoeslim's Blogs.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri video terkait dengan memasukkan kata kunci “Erdogan, Macron, Putin, and Merkel” dalam kolom pencarian YouTube. Hasilnya, ditemukan bahwa video tersebut pernah dipublikasikan oleh sejumlah media asing kredibel.
Menurut pemberitaan, dalam video itu, Recep Tayyip Erdogan, Emmanuel Macron, Vladimir Putin, dan AngelaMerkel sedang bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Istanbul, Turki, pada 27 Oktober 2018. Pertemuan itu membahas situasi yang sedang berlangsung di Suriah. Konferensi tersebut kemudian diakhiri dengan pernyataan bersama oleh keempat tokoh itu kepada pers.
Kanal YouTube milik Ruptly, media yang berbasis di Rusia, menyiarkan videoliveselama sekitar dua jam saat Erdogan, Macron, Putin, dan Merkel menggelar konferensi pers tersebut. Konferensi pers inilah yang terlihat dalam video yang dibagikan oleh akun Tarbiahmoeslim’s Blogs.
Hal itu terlihat dari kesamaan warna dinding, ornamen bintang yang terpasang di dinding, bendera-bendera negara yang berjejer di belakang keempat tokoh tersebut, serta pakaian yang dikenakan oleh Erdogan, Macron, Putin, dan Merkel.
Dalam video Ruptly ini, di sesi konferensi pers, terlihat bahwa Erdogan duduk bersama Macron. Setelah itu, mereka berempat berdiri untuk mengikuti sesi foto. Keempatnya saling merekatkan tangan, termasuk Erdogan dan Macron. Video utuh bagian ini terdapat pada jam 2:15:27 hingga 2:16:30.
Gambar tangkapan layar video Ruptly yang menunjukkan Erdogan dan Macron berfoto bersama dalam pertemuan yang membahas situasi di Suriah pada 27 Oktober 2018.
KTT tersebut berlangsung setelah Rusia dan Turki mencapai kesepakatan pada 17 September 2018 untuk menciptakan zona penyangga demiliterisasi di sekitar wilayah Idlib, Suriah, yang dihuni oleh sekitar 3,5 juta penduduk dan menjadi benteng besar terakhir yang dikuasai militan di negara itu.
Video konferensi pers empat tokoh tersebut juga pernah dimuat oleh saluran televisi berita berbahasa Inggris yang berbasis di Beijing, Cina, CGTN, dengan judul "IS repels US-backed SDF from eastern Syria" pada tanggal yang sama. Cuplikan saat keempatnya melakukan foto bersama terdapat pada detik ke-36.
Peristiwa dalam video ini terjadi jauh sebelum munculnya ketegangan antara Erdogan dan Macron pasca Presiden Prancis tersebut merespons kasus pemenggalan seorang guru Prancis yang bernama Samuel Paty. Paty dianggap melecehkan Islam karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad milik Charlie Hebdo kepada murid-muridnya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video Recep Tayyip Erdogan yang menolak duduk bersebelahan dan berjabat tangan dengan Emmanuel Macron, keliru. Video ini diambil saat Erdogan dan Macron, bersama Putin dan Markel, bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi di Istanbul pada 27 Oktober 2018 untuk membahas isu Suriah. Peristiwa ini terjadi jauh sebelum adanya ketegangan antara Erdogan dan Macron pasca kasus pemenggalan Samuel Paty pada awal November 2020.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
(GFD-2020-5656) [SALAH] Perdana Menteri Malaysia Sebut Pelajar Indonesia akan Tertinggal dalam Penguasaan Sains Karena Terlalu Banyak Mempelajari Agama
Sumber: facebook.comTanggal publish: 29/11/2020
Berita
“…PELAN-PELAN anak-anak sekolah negeri di Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains, umurnya habis untuk menghafal ayat-ayat dan doa, belajar soal haram, dosa, bidadari, menghitung pahala, mencari dalil, memikirikan akerat. Setelah kalah bersaing lalu memusuhi perintah dan mendirikan ngeara Syariah sebagai solusi semuanya… ”(Mahatir Muhammad)”
Hasil Cek Fakta
Beredar postingan dari akun Facebook Raden Purbaya dengan sebuah foto berisikan klaim bahwa Mahatir Mohamad selaku Perdana Menteri Malaysia membuat pernyataan pelajar di Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains akibat terlalu banyak mempelajari agama. Postingan ini disukai sebanyak 805 kali dan dikomentari sebanyak 227 kali.
Berdasarkan penelusuran, pernyataan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang berhubungan dengan pendidikan dan pelajaran agama di Malaysia adalah perihal pengumuman pengurangan pendidikan agama dalam silabus sekolah Malaysia. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran agama mengurangi kemampuan dalam mata pelajaran lain yang diperlukan untuk mencari pekerjaan.
“Seseorang telah mengubah kurikulum di sekolah dan sekarah sekolah negara telah menjadi sekolah agama. Mereka belajar Islam dan tidak belajar yang lainnya. Akibatnya, mereka yang lulus tidak mahir dalam mata pelajaran yang dibutuhkan untuk mereka mencari pekerjaan, tapi mereka menjadi ulama yang cakap.” kata Mahathir.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim Perdana Menteri Malaysia membuat pernyataan pelajar di Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains akibat terlalu banyak mempelajari agama adalah tidak benar dan termasuk dalam Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
= = = = =
Berdasarkan penelusuran, pernyataan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang berhubungan dengan pendidikan dan pelajaran agama di Malaysia adalah perihal pengumuman pengurangan pendidikan agama dalam silabus sekolah Malaysia. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran agama mengurangi kemampuan dalam mata pelajaran lain yang diperlukan untuk mencari pekerjaan.
“Seseorang telah mengubah kurikulum di sekolah dan sekarah sekolah negara telah menjadi sekolah agama. Mereka belajar Islam dan tidak belajar yang lainnya. Akibatnya, mereka yang lulus tidak mahir dalam mata pelajaran yang dibutuhkan untuk mereka mencari pekerjaan, tapi mereka menjadi ulama yang cakap.” kata Mahathir.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim Perdana Menteri Malaysia membuat pernyataan pelajar di Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains akibat terlalu banyak mempelajari agama adalah tidak benar dan termasuk dalam Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
= = = = =
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).
Informasi tidak berdasar, tidak ada bukti yang valid maupun liputan resmi dari Perdana Menteri Malaysia membuat pernyataan tersebut.
Informasi tidak berdasar, tidak ada bukti yang valid maupun liputan resmi dari Perdana Menteri Malaysia membuat pernyataan tersebut.
Rujukan
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/0kp4zG0k-cek-fakta-benarkah-mahatir-sebut-anak-sekolah-di-indonesia-akan-tertinggal-karena-kebanyakan-belajar-agama-cek-faktanya
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1117/tidak-benar-mahathir-sebut-anak-indonesia-akan-tertinggal-dalam-sains-karena-sibuk-hafal-ayat-dan-doa
- https://says.com/my/news/tun-m-says-he-wants-change-school-syllabus-as-students-learn-nothing-except-islam
- https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/GNGBm3LK-mahathir-kurangi-jam-belajar-agama-di-sekolah-malaysia
- https://dunia.tempo.co/read/1157977/mahathir-mohamad-akan-kurangi-silabus-agama-di-sekolah-malaysia
(GFD-2020-5657) [SALAH] Pemberian Nomor Identitas untuk Anak-Anak Muslim di Prancis
Sumber: twitter.comTanggal publish: 29/11/2020
Berita
Pengguna Twitter ZahraBilloo mengunggah sebuah informasi (20/11) yang menyatakan bahwa Prancis tengah menyusun sebuah peraturan baru yang mewajibkan anak-anak Muslim di Prancis untuk memiliki nomor identitas khusus. Dalam unggahan tersebut, juga disertakan sebuah tautan artikel berita dari situs BBC News.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, pemerintah Prancis memang tengah menyusun peraturan baru yang bertujuan untuk mencegah radikalisasi Islam. Namun, peraturan tersebut tidak hanya ditujukan untuk umat Muslim Prancis saja. Pasal 20 dalam peraturan tersebut menetapkan bahwa seluruh anak di Prancis, tanpa membedakan agama dan kepercayaannya, wajib memiliki nomor identitas. Kementerian Luar Negeri Prancis juga menegaskan bahwa pemberian nomor identitas akan diwajibkan bagi seluruh anak di Prancis tanpa membedakan agama dan kepercayaannya.
Kepemilikan nomor identitas bagi anak-anak di Prancis sendiri bukan merupakan hal yang baru, sebab pemberian nomor identitas sudah dilakukan kepada anak-anak yang bersekolah di sekolah negeri. Tetapi, setelah peraturan baru disahkan, maka nomor identitas juga akan diberikan bagi anak-anak yang bersekolah di sekolah swasta. Lebih lanjut, artikel berita BBC News yang disertakan dalam unggahan tersebut juga tidak menyatakan bahwa pemberian nomor identitas akan diwajibkan bagi anak-anak Muslim saja.
Informasi dengan topik serupa juga pernah dimuat dalam situs Reuters dengan judul artikel ‘Fact check: France Has Proposed That All School Children Be Given ID Numbers, Not Just Muslim Kids’ dan mengategorikannya sebagai ‘misleading due to missing context’.
Dengan demikian, informasi yang diunggah oleh pengguna Twitter ZahraBilloo tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kepemilikan nomor identitas bagi anak-anak di Prancis sendiri bukan merupakan hal yang baru, sebab pemberian nomor identitas sudah dilakukan kepada anak-anak yang bersekolah di sekolah negeri. Tetapi, setelah peraturan baru disahkan, maka nomor identitas juga akan diberikan bagi anak-anak yang bersekolah di sekolah swasta. Lebih lanjut, artikel berita BBC News yang disertakan dalam unggahan tersebut juga tidak menyatakan bahwa pemberian nomor identitas akan diwajibkan bagi anak-anak Muslim saja.
Informasi dengan topik serupa juga pernah dimuat dalam situs Reuters dengan judul artikel ‘Fact check: France Has Proposed That All School Children Be Given ID Numbers, Not Just Muslim Kids’ dan mengategorikannya sebagai ‘misleading due to missing context’.
Dengan demikian, informasi yang diunggah oleh pengguna Twitter ZahraBilloo tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Rujukan
(GFD-2020-5658) [SALAH] Foto Pele Membungkukkan Badan di Makam Maradona
Sumber: twitter.comTanggal publish: 29/11/2020
Berita
Akun Twitter Bishan Bedi (@BishanBedi) mengunggah foto dengan narasi yang menggambarkan Pele membungkukkan badan di makam Maradona untuk perpisahan terakhir pada 27 November 2020. Unggahan tersebut respon sebanyak 5.5rb likes, 429 retweets, dan 51 balasan.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, foto unggahan tersebut adalah foto hasil suntingan. Ditemukan foto asli dari foto unggahan itu di situs Getty Images dengan narasi “They were her favorite flowers – Fotografía de stock Shot of a young man visiting a gravesite with a bunch of flowers” (Itu adalah bunga kesukaannya – stock photo Foto seorang pria mengunjungi makam dengan seikat bunga). Selain itu, beberapa situs terkait layanan pemakaman juga menggunakan foto yang sama.
Dengan demikian, unggahan akun Twitter Bishan Bedi (@BishanBedi) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Dimanipulasi karena foto asli unggahan tersebut bukan foto Pele di makam Maradona, melainkan foto ilustrasi seorang pria mengunjungi makam dengan seikat bunga yang ditemukan di situs Getty Images.
Dengan demikian, unggahan akun Twitter Bishan Bedi (@BishanBedi) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Dimanipulasi karena foto asli unggahan tersebut bukan foto Pele di makam Maradona, melainkan foto ilustrasi seorang pria mengunjungi makam dengan seikat bunga yang ditemukan di situs Getty Images.
Rujukan
- https://www.gettyimages.com.mx/detail/foto/they-were-her-favorite-flowers-imagen-libre-de-derechos/627008890
- https://www.wakememorialpark.com/services/cremation
- https://www.helenafunerals.com/packages-and-resources/traditional-packages
- https://www.greenwoodfuneralhomes.com/our-cemeteries/
- https://www.indiatoday.in/fact-check/story/picture-of-pele-mourning-at-maradona-grave-is-morphed-1744930-2020-11-28
Halaman: 6961/7929




