• (GFD-2020-5649) [SALAH] Video Erdogan Tolak Jabat Tangan Macron karena Karikatur Nabi Muhammad SAW

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 30/11/2020

    Berita

    Sebuah video yang diklaim sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak menjabat tangan Presiden Prancis, Emmanuel Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW beredar di media sosial. Video tersebut diunggah akun Facebook Syamsuri pada 28 November 2020

    Dalam video berdurasi 8 detik itu, tampak Erdogan menjabat tangan Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Presiden Rusia, Vladimir Putin di sebuah pertemuan. Kedua pemimpin negara itu berdiri di sebelah kanan Erdogan.

    Sedangkan Macron, yang berada di sebelah kiri tidak disalami oleh Erdogan. Video tersebut kemudian dikaitkan dengan sikap Erdogan yang menolak menjabat tangan Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW.

    "Kali ini Si macron di Cuekin abis sama presiden Turki Erdogan gara² masalah karikatur nabi waktu itu," tulis akun Facebook Syamsuri.

    Video yang disebarkan akun Facebook Syamsuri telah 166 kali ditayangkan dan mendapat 6 komentar warganet.

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri video yang diklaim sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak menjabat tangan Presiden Prancis, Emmanuel Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW.

    Penelusuran dilakukan menggunakan situs berbagi video YouTube dengan memasukkan kata kunci "erdogan meet putin, merkel, and macron".

    Hasilnya terdapat cuplikan video serupa yang diunggah Channel YouTube Ruptly pada 27 Oktober 2018 lalu. Video berdurasi 2 jam 17 menit itu berjudul "LIVE: Erdogan, Putin, Macron, Merkel give statement following Syria summit".

    "Turkish President Recep Tayyip Erdogan, Russian President Vladimir Putin, French President Emmanuel Macron and German Chancellor Angela Merkel give a joint press statement after a summit to discuss the ongoing situation in Syria, in Istanbul on Saturday, October 27.

    The summit, which is the first of its kind, takes place after Russia and Turkey reached a deal on September 17 to create a demilitarised buffer zone around the region of Idlib, which is home to 3.5 million people, in an attempt to prevent further fighting in the last major militant-held bastion in the country.

    The four leaders are expected to extensively discuss the ceasefire, as well as an effective implementation of a political settlement in accordance with United Nations Security Council Resolution 2254, which was established in December 2015," tulis Channel YouTube Ruptly.

    Gambar Erdogan yang hanya bersalaman dengan Merkel dan Putin terlihat pada 2:15:47. Namun jika video itu diteruskan maka tampak Erdogan memegang tangan Macron saat sesi foto bersama. Momen tersebut bisa dilihat pada 2:16:16.

    Liputan6.com juga menemukan artikel yang menjelaskan mengenai pertemuan empat pemimpin negara tersebut. Adalah artikel berjudul "Turki Gelar KTT dengan Rusia, Jerman, Prancis Bahas Suriah" yang dimuat situs cnnindonesia.com pada 28 Oktober 2018.

    Jakarta, CNN Indonesia -- Para pemimpin Turki, Rusia, Prancis, dan Jerman menggelar konferensi tingkat tinggi di Istanbul pada Sabtu untuk mencari solusi politik atas perang saudara di Suriah, termasuk untuk membuka akses bantuan kemanusiaan dan menyelamatkan gencatan senjata yang sedang terancam di Idlib, wilayah terakhir yang dikuasai pemberontak.

    Dilansir dari AFP, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk duduk bersama membicarakan konflik Suriah yang telah menewaskan 360.000 orang sejak 2011.

    "Seluruh mata dunia tertuju pada kami hari ini... Saya berharap kami bisa bertindak dengan pemahaman yang tulus dan konstruktif, dan tidak gagal memenuhi harapan orang-orang," kata Erdogan dalam sambutannya.

    Konferensi tingkat tinggi ini digelar sehari setelah terbunuhnya tujuh warga sipil oleh pasukan pemerintah Suriah dalam pertempuran di barat laut provinsi Idlib. Menurut lembaga pemantau hak asasi manusia, jumlah korban itu tertinggi sejak gencatan senjata disepakati pada bulan lalu.

    Rusia yang mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad dan Turki yang mendukung pemberontak telah bersepakat menciptakan zona penyangga di sekitar Idlib, namun kekerasan semakin meningkat secara dramatis menjelang pertemuan para pemimpin negara tersebut.

    Ini menjadi konferensi tingkat tinggi pertama yang melibatkan Jerman dan Prancis. Sebelumnya, Turki dan Rusia beberapa kali menggelar pertemuan dengan Iran yang selalu dicurigai oleh para pemimpin Barat.

    Erdogan menggelar pertemuan singkat dengan Merkel, Putin, dan Macron sebelum KTT dimulai. Para pemimpin ini diharapkan membuat kesepakatan bersama menjelang konferensi pers yang digelar secara terpisah.

    Juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin mengatakan pada Jumat bahwa tujuan utama KTT adalah untuk mengklarifikasi langkah-langkah yang akan diambil untuk sebuah solusi politik, dan untuk menentukan peta jalan.

    Kepada kantor berita Turki, Anadolu, Kalin mengatakan penekanan utamanya adalah pembentukan komisi yang akan membuat konstitusi Suriah pascaperang, yang dipandang sebagai sebuah batu pijakan untuk menggelar pemilihan umum di negeri tersebut.

    Sebelumnya, Damaskus telah menolak proposal pembentukan sebuah komite untuk membuat konstitusi baru yang digagas PBB.

    Kesimpulan

    Video yang diklaim sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak menjabat tangan Presiden Prancis, Emmanuel Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW ternyata tidak benar.

    Video yang diunggah akun Facebook Syamsuri tidak utuh. Video aslinya memperlihatkan Erdogan tetap menjabat tangan Macron saat sesi foto bersama.

    Video tersebut juga tidak ada kaitannya dengan isu karikatur Nabi Muhammad SAW yang dibuat ulang oleh Charlie Hebdo. Video yang diunggah akun Facebook Syamsuri masuk kategori palsu.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5662) [SALAH] Facebook Menghapus Status “Presiden Terpilih” di Akun Facebook Joe Biden

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 30/11/2020

    Berita

    Akun Twitter @ChuckCallesto (Chuck Callesto) menyebarluaskan informasi bahwa Facebook secara sengaja telah mengubah status di halaman Facebook Joe Biden dari “Presiden Terpilih” menjadi Politisi. Cuitan tersebut telah dibagikan ulang sebanyak 7,435 kali. Selain itu, terdapat 20,175 orang yang telah menyukai, diikuti dengan 1,100 orang memberikan komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelurusan lebih lanjut, dilihat dari halaman Facebook Joe Biden yang diarsip pada 7 November 2020, tertuliskan bahwa Joe Biden memang teridentifikasi sebagai “Politisi”, bukan “Presiden Terpilih”. Status tersebut masih terus bertahan hingga saat ini.

    Selain itu, dilansir dari situs berita USA Today, pengubahan status dari laman Facebook pribadi Joe Biden diatur oleh administrator dari tim Biden sendiri, bukan tim Facebook. Klaim ini didukug oleh USA Today yang pernah membahas hal serupa perihal Trump, dengan artikel yang berjudul “Fact check: Trump’s campaign page has control over his designation as ‘political candidate’”.

    Informasi dengan topik serupa juga pernah dimuat di situs Politi Fact dengan judul artikel “No, Facebook didn’t remove ‘President’ from Trump’s Facebook page” dan mengkategorikannya sebagai false.

    Dengan demikian, pernyataan yang ditulis oleh @ChuckCallesto tersebut dapat dikategorikan sebagai konten yang menyesatkan, sebab akun tersebut telah menyebarkan informasi yang salah mengenai pengubahan status Joe Biden di Facebook.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5663) [SALAH] Prabowo Dukung Paslon No. 01 Pilkada Kalimantan Tengah 2020

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 30/11/2020

    Berita

    Akun Facebok bernama Jamal Kasanang Kharisma membagikan sebuah postingan berupa gambar dalam grup Pilkada Kalteng 2020. Postingan yang mendapat likes sebanyak 78 dan 31 komentar memperlihatkan foto Prabowo mengacungkan 1 jari telunjuk yang kemudian diklaim oleh akun Jamal bahwa Prabowo mendukung pasangan nomor urut 1 Pilkada Kalimantan Tengah, Ben-Ujang. Ia pun juga menyertakan caption “perintah siap dilaksanakan pak” yang seolah-olah Prabowo memerintahkan masyarakat Kalteng untuk memilih nomor urut 1.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah dilakukan penelusuran dengan mesin pencarian gambar Google, kami mendapati foto tersebut diambil saat masa kampanye Prabowo dalam Pilpres 2014 lalu. Hasil penelusuran menunjukkan foto yang sama persis digunakan oleh Liputan6.com dalam beberapa artikel beritanya seperti, “Tiba di Konser Maher Zein, Prabowo Disambut Antusias Pendukungnya” pertama kali tayang pada 02 Juli 2014, “Prabowo-Hatta Keliling Jabar dan Jateng Hari Ini” pertama kali tayang pada 03 Juli 2014 dan “Prabowo: Kita Utamakan Politik Bertetangga yang Baik” yang pertama kali tayang pada 22 Juni 2014.

    Dalam beberapa artikel berita yang telah disebutkan di atas dapat ditarik kesamaan yakni foto prabowo mengacungkan 1 jari telunjuk sudah ada sejak tahun 2014 dan pertama kali dimuat di kanal berita Liputan6.com pada bulan Juni 2014. Di setiap penyertaan gambar juga disertai dengan keterangan “Pasangan Prabowo-Hatta akan menggelar kampanye akbar di Gelora Bung Karno, Senayan. Keduanya akan hadir di panggung terbuka pada pukul 13.05 WIB”. Diketahui pula saat Pilpres 2014 pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat nomor urut 1.

    Dari berbagai data yang telah kami kumpulkan dapat disimpulkan bahwa, foto Prabowo mengacungkan 1 jari telunjuk tidak ada keterkaitan dengan momen Pilkada Kalimantan Tengah 2020. Adapun foto tersebut diambil di momen Pilpres 2014 ketika Prabowo sedang melakukan kampanye. Arti 1 jari telunjuk adalah Prabowo ingin masyarakat mencoblos nomor urut 1 atas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, bukan Ben-Ujang dalam Pilkada Kalteng 2020. Sehingga klaim bahwa Prabowo mendukung paslon nomor urut 1 Pilkada Kalteng 2020 adalah HOAX dan termasuk kategori FALSE CONTEXT.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5664) [SALAH] Wakil Wali Kota Probolinggo Meninggal Dunia

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 30/11/2020

    Berita

    Telah beredar pesan berantai di Whatsapp yang menginformasikan kabar meninggalnya Wakil Wali Kota Probolinggo Mochammad Soufis Subri pada 24 November 2020, karena berjuang melawan Covid-19.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, informasi yang beredar itu tidak benar. Dilansir dari Wartabromo, Kepala Dinas Kominfo Kota, Aman Suryaman secara tegas membantah kabar tentang Wawali meninggal.
    “Sampai malam ini, Bapak Wakil Wali Kota masih dalam perawatan intensif di rumah sakit. Jadi, berita itu (kabar Wawali meninggal) tidak benar. Hoax,” tegas Aman Suryaman pada Selasa malam, 24 November 2020 .

    Selain pihak Pemkot Probolinggo, kabar itu juga dibantah pihak keluarganya. Dikutip dari laman resmi Pemkot Probolinggo, Sayidah Rafi Dianya Sabri, anak semata wayang Wawali Probolinggo Mochammad Soufis Subri, menegaskan orang tuanya masih berada di Ruang ICU di Graha Amerta RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

    “Sambung doanya, mohon doanya kepada semua, agar Abah (Wawali Subri) bisa segera membaik. Sambung doanya, ya, karena Abah butuh doa dan semangat,” kata Sayidah melalui sambungan telepon pada Selasa malam, 24 November, 2020.


    Sayidah menghimbau kepada semua pihak agar tidak menyebarkan berita yang tidak benar, dan mohon doanya supaya kondisinya semakin membaik.


    Dengan demikian, informasi yang beredar melalui pesan WhatsApp itu dapat dikategorikan Konten Palsu karena tidak benar jika Wakil Wali Kota Probolinggo meninggal dunia.

    Rujukan