“Buzzerp GAR ITB
Malu sama agama sendiri 🤣
Orang seperti inilah yg merusak kedamaian beragama di Indonesia”
(GFD-2021-6392) [SALAH] Foto Shinta Hudiarto Menyamar Menjadi Muslim dengan Memakai Mukena
Sumber: facebook.comTanggal publish: 21/02/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah unggahan di media sosial Facebook yang menampilkan foto wanita nasrani, yang memakai mukena untuk menyamar sebagai seorang muslim. Wanita ini disebutkan bernama Shinta Hudiarto, yang kemudian diketahui merupakan juru bicara dari Gerakan Anti Radikalisme Alumni Institut Teknologi Bandung (GAR ITB).
Namun setelah dilakukan penelusuran, jubir GAR ITB ini diketahui memang beragama Islam. Dalam unggahan di akun Facebook pribadinya, Shinta mengklarifikasi bahwa dirinya adalah seorang muslim. Bahkan Shinta telah melakukan umroh pada tahun 2018 lalu.
Foto dengan menggunakan mukena yang beredar pun diketahui memang foto Shinta yang diambil dari akun Instagram pribadinya. Jadi tidak ada hubungannya dengan maksud untuk menyamar. Sedangkan foto dirinya dengan bingkai bernuansa natal merupakan hasil editan. Dalam foto asli dari akun Instagram Shinta, foto dengan bingkai bernuansa natal tersebut tidak ada.
Shinta Hudiarto sendiri mendapat banyak kecaman dari masyarakat sejak komunitas GAR ITB, dimana dirinya adalah seorang jubir disana, dituduh melakukan pelaporan Din Syamsuddin atas tindakan radikalisme.
Melansir dari artikel Tempo.co, Shinta mengatakan bahwa tuduhan kepada GAR ITB adalah keliru. Kenyataannya, GAR ITB melaporkan Din Syamsuddin bukan atas tuduhan tindakan radikalisme, namun karena dugaan kasus pelanggaran disiplin ASN oleh Din Syamsuddin.
Dari hasil penelusuran dapat disimpulkan bahwa unggahan yang menyebutkan bahwa Shinta Hudiarto memakai mukena untuk menyamar sebagai seorang muslim adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Namun setelah dilakukan penelusuran, jubir GAR ITB ini diketahui memang beragama Islam. Dalam unggahan di akun Facebook pribadinya, Shinta mengklarifikasi bahwa dirinya adalah seorang muslim. Bahkan Shinta telah melakukan umroh pada tahun 2018 lalu.
Foto dengan menggunakan mukena yang beredar pun diketahui memang foto Shinta yang diambil dari akun Instagram pribadinya. Jadi tidak ada hubungannya dengan maksud untuk menyamar. Sedangkan foto dirinya dengan bingkai bernuansa natal merupakan hasil editan. Dalam foto asli dari akun Instagram Shinta, foto dengan bingkai bernuansa natal tersebut tidak ada.
Shinta Hudiarto sendiri mendapat banyak kecaman dari masyarakat sejak komunitas GAR ITB, dimana dirinya adalah seorang jubir disana, dituduh melakukan pelaporan Din Syamsuddin atas tindakan radikalisme.
Melansir dari artikel Tempo.co, Shinta mengatakan bahwa tuduhan kepada GAR ITB adalah keliru. Kenyataannya, GAR ITB melaporkan Din Syamsuddin bukan atas tuduhan tindakan radikalisme, namun karena dugaan kasus pelanggaran disiplin ASN oleh Din Syamsuddin.
Dari hasil penelusuran dapat disimpulkan bahwa unggahan yang menyebutkan bahwa Shinta Hudiarto memakai mukena untuk menyamar sebagai seorang muslim adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
Klaim tersebut salah. Faktanya Shinta Hudiarto adalah seorang wanita muslim. Dirinya mengaku bahwa foto menggunakan mukena adalah benar foto dirinya yang diambil dari akun Instagram pribadi Shinta.
Klaim tersebut salah. Faktanya Shinta Hudiarto adalah seorang wanita muslim. Dirinya mengaku bahwa foto menggunakan mukena adalah benar foto dirinya yang diambil dari akun Instagram pribadi Shinta.
Rujukan
(GFD-2021-6393) [SALAH] Uya Kuya Meninggal Dunia
Sumber: tiktok.comTanggal publish: 21/02/2021
Berita
RIP Uya Kuya, smoga di terima disisinya
Masih gk percaya
uya kuya meninggal dunia
Masih gk percaya
uya kuya meninggal dunia
Hasil Cek Fakta
Akun Tiktok @KG1st.Mail mengunggah sebuah video dengan keterangan “RIP Uya Kuya”. Pada unggahan video miliknya, akun Tiktok @KG1st.Mail turut menyertakan foto Uya tengah terbaring di rumah sakit.
Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa informasi Uya Kuya meninggal dunia adalah hoaks. Hal itu dikonfirmasi oleh Istri Uya, Astrid Kuya pada kolom komentar di unggahan video akun @KG1st.Mail. Astrid melalui akun Tiktok bercentang biru menegaskan bahwa informasi yang menyebut suaminya meninggal dunia adalah hoaks.
“hoax ini !!! Siap2 yah di depan rumah ada yg kasih surat cinta dr pengacara. Eh nanti nagis kejer.ibunya nangis, ayahnya minta maaf. Kasihann….” tegas Asrtrid.
Berdasar seluruh informasi, unggahan oleh akun Tiktok @KG1st.Mail merupakan hoaks dengan kategori fabricated content atau konten palsu.
Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa informasi Uya Kuya meninggal dunia adalah hoaks. Hal itu dikonfirmasi oleh Istri Uya, Astrid Kuya pada kolom komentar di unggahan video akun @KG1st.Mail. Astrid melalui akun Tiktok bercentang biru menegaskan bahwa informasi yang menyebut suaminya meninggal dunia adalah hoaks.
“hoax ini !!! Siap2 yah di depan rumah ada yg kasih surat cinta dr pengacara. Eh nanti nagis kejer.ibunya nangis, ayahnya minta maaf. Kasihann….” tegas Asrtrid.
Berdasar seluruh informasi, unggahan oleh akun Tiktok @KG1st.Mail merupakan hoaks dengan kategori fabricated content atau konten palsu.
Kesimpulan
Informasi palsu. Istri Uya Kuya, Astrid Kuya mengonfirmasi pada kolom komentar unggahan tersebut dengan menyatakan “hoax ini !!!”.
Rujukan
- https://www.viva.co.id/showbiz/gosip/1350177-uya-kuya-dikabarkan-meninggal-sang-istri-murka
- https://jogja.suara.com/read/2021/02/21/111722/uya-kuya-dikabarkan-meninggal-dunia-begini-reaksi-astrid-kuya?page=all
- https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/21/171500065/hoaks-artis-uya-kuya-meninggal-dunia?page=all
(GFD-2021-6396) [SALAH] Video Mobil Terbalik setelah Banjir Surut di Bekasi
Sumber: youtube.comTanggal publish: 21/02/2021
Berita
“BANJIR DI BEKASI 2021 !!! MOBIL BANYAK TERBALIK !!!”
Hasil Cek Fakta
Kanal YouTube Artmeyn De mengunggah sebuah video (20/2) yang menunjukkan beberapa mobil yang terbalik dan saling bertumpukan. Video tersebut dilengkapi dengan judul yang menyatakan bahwa video tersebut menunjukkan kondisi setelah banjir surut di Bekasi tahun ini.
Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut bukan merupakan video setelah banjir yang melanda Bekasi sejak 19 Februari 2021 kemarin surut, melainkan video setelah banjir surut di Jatiasih, Bekasi, pada tanggal 2 Januari 2020 lalu. Video serupa juga pernah disebarkan dengan narasi banjir yang melanda Sampang, Madura pada Desember 2020 lalu, serta Kalimantan Selatan pada Januari 2021 lalu. Melansir dari Liputan6, hingga hari ini, Minggu, 21 Februari 2021, banjir di Jatiasih, Bekasi, masih belum surut. Banjir tersebut disebabkan oleh tanggul Kali Bekasi yang jebol pada Sabtu, 20 Februari 2021 dini hari.
Dengan demikian, video yang diunggah oleh kanal YouTube Artmeyn De tersebut dapat dikategorikan sebagai Konteks yang Salah/False Context.
Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut bukan merupakan video setelah banjir yang melanda Bekasi sejak 19 Februari 2021 kemarin surut, melainkan video setelah banjir surut di Jatiasih, Bekasi, pada tanggal 2 Januari 2020 lalu. Video serupa juga pernah disebarkan dengan narasi banjir yang melanda Sampang, Madura pada Desember 2020 lalu, serta Kalimantan Selatan pada Januari 2021 lalu. Melansir dari Liputan6, hingga hari ini, Minggu, 21 Februari 2021, banjir di Jatiasih, Bekasi, masih belum surut. Banjir tersebut disebabkan oleh tanggul Kali Bekasi yang jebol pada Sabtu, 20 Februari 2021 dini hari.
Dengan demikian, video yang diunggah oleh kanal YouTube Artmeyn De tersebut dapat dikategorikan sebagai Konteks yang Salah/False Context.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Video tersebut bukan video tahun 2021, melainkan video setelah banjir surut di Jatiasih, Bekasi, pada tanggal 2 Januari 2020 lalu.
Video tersebut bukan video tahun 2021, melainkan video setelah banjir surut di Jatiasih, Bekasi, pada tanggal 2 Januari 2020 lalu.
Rujukan
- https://wow.tribunnews.com/2020/01/02/video-penampakan-mobil-saling-bertumpuk-hingga-terbalik-setelah-banjir-surut-di-bekasi
- https://www.liputan6.com/bisnis/read/4488543/rentetan-jurus-menteri-pupr-atasi-banjir-di-bekasi
- https://turnbackhoax.id/2020/12/13/salah-video-banjir-bandang-di-sampang-madura-pada-10-desember-2020/
(GFD-2021-6383) [SALAH] “wabah flu Spanyol penyebabnya bukan virus melainkan gejala pneumonia oleh bakteri akibat oleh karena adanya wajib masker”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 20/02/2021
Berita
Akun Facebook Hakim Waluyo (fb.com/hakim.waluyo.31) pada 1 Februari 2021 mengunggah sebuah gambar dengan narasai sebagai berikut:
“Hasil penelitian lebih dalam tentang wabah flu Spanyol ternyata didapatkan penyebabnya bukanlah oleh virus melainkan gejala pneumonia oleh bakteri. Bakteri tersebut tumbuh dan hidup subur justru oleh karena adanya wajib masker yang dijadikan protokol pencegahan penyebaran penyakit yang dinyatakan diduga disebabkan oleh virus flu.
Gejala keracunan CO2 akibat penggunaan masker berkepanjangan tidak akan seketika. Pelan namun pasti dan terkadang dalam hitungan tahunan. Efeknya yang pasti adalah tubuh kekurangan oksigen dan otak lemot untuk berpikir, sulit untuk mencerna dan memahami situasi sehingga tidak mampu berpikir cerdas dan solutif. Targetnya adalah kebodohan. Efek lainnya selain sistem imun menjadi lemah, sel-sel tubuh yang kurang oksigen akan terjadi kelainan pertumbuhan karena lingkungan kimiawi biologis yang tidak sehat sehingga tumbuh menjadi tumor, kanker dst.
Itulah mengapa ada latihan olah nafas dan praktisi olah nafas paham persis bahwa kebijakan wajib masker itu sama dengan pembunuhan secara pelan-pelan. Perlu mempelajari pengetahuan tentang olah nafas untuk lebih paham alasannya. Praktisi meditasi juga jika tidak paham resiko bahaya wajib masker adalah aneh bin ajaib sebab meditasi melibatkan teknik olah nafas. Oksigen adalah energi daya hidup dan juga daya penyembuhan. Rahayu sagung dumadi.”
“Hasil penelitian lebih dalam tentang wabah flu Spanyol ternyata didapatkan penyebabnya bukanlah oleh virus melainkan gejala pneumonia oleh bakteri. Bakteri tersebut tumbuh dan hidup subur justru oleh karena adanya wajib masker yang dijadikan protokol pencegahan penyebaran penyakit yang dinyatakan diduga disebabkan oleh virus flu.
Gejala keracunan CO2 akibat penggunaan masker berkepanjangan tidak akan seketika. Pelan namun pasti dan terkadang dalam hitungan tahunan. Efeknya yang pasti adalah tubuh kekurangan oksigen dan otak lemot untuk berpikir, sulit untuk mencerna dan memahami situasi sehingga tidak mampu berpikir cerdas dan solutif. Targetnya adalah kebodohan. Efek lainnya selain sistem imun menjadi lemah, sel-sel tubuh yang kurang oksigen akan terjadi kelainan pertumbuhan karena lingkungan kimiawi biologis yang tidak sehat sehingga tumbuh menjadi tumor, kanker dst.
Itulah mengapa ada latihan olah nafas dan praktisi olah nafas paham persis bahwa kebijakan wajib masker itu sama dengan pembunuhan secara pelan-pelan. Perlu mempelajari pengetahuan tentang olah nafas untuk lebih paham alasannya. Praktisi meditasi juga jika tidak paham resiko bahaya wajib masker adalah aneh bin ajaib sebab meditasi melibatkan teknik olah nafas. Oksigen adalah energi daya hidup dan juga daya penyembuhan. Rahayu sagung dumadi.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim bahwa wabah flu Spanyol penyebabnya bukan virus melainkan gejala pneumonia oleh bakteri akibat oleh karena adanya wajib masker adalah klaim yang menyesatkan.
Faktanya, pandemi influenza 1918 atau flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas bukan pneumonia bakteri. Terkait masker, penggunaannya tidak akan menyebabkan kekurangan oksigen, karena masker tidak mengganggu sirkulasi udara dalam tubuh.
Dilansir dari Tempo, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), pandemi influenza 1918 atau yang kerap disebut pandemi flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas. Meskipun tidak ada konsensus universal mengenai dari mana virus itu berasal, virus tersebut menyebar ke seluruh dunia selama 1918-1919.
CDC menjelaskan, ketika pandemi flu Spanyol terjadi, memang banyak ahli kesehatan yang mengira penyakit itu disebabkan oleh bakteri yang disebut “Pfeiffer’s bacillus”, yang sekarang dikenal sebagai Haemophilus influenzae. Namun, hal tersebut dikarenakan tidak adanya tes diagnostik ketika itu yang bisa menguji infeksi influenza. Dokter tidak mengetahui adanya virus influenza.
Dilansir dari AFP, sejarawan Universitas Sydney yang memiliki spesialisasi dalam kedokteran dan teknologi, Peter Hobbins, mengatakan otopsi yang dilakukan pada pasien yang meninggal karena flu Spanyol menunjukkan penyebab utama kematian adalah terisinya paru-paru oleh cairan, baik karena penyakit atau respons imun tubuh yang terlalu aktif terhadap infeksi.
Menurut Hobbins, penyebab sebenarnya pandemi flu Spanyol pada 1918 adalah strain baru virus Influenza A (H1N1). Dia menambahkan upaya di seluruh dunia telah dilakukan untuk membuat vaksin. Namun, ketika itu, tidak ditemukan secara jelas apa “agen penyebabnya, karena mikroskop yang digunakan tidak cukup bagus untuk melihat virus”.
Dikutip dari Reuters, pada Oktober 2020, beredar klaim palsu bahwa, selama pandemi flu Spanyol, orang meninggal akibat pneumonia bakteri dari masker. Klaim itu juga menyebut bahwa direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, Anthony Fauci, mengetahui hal itu dan menuliskannya dalam sebuah penelitian pada 2008.
Menurut Reuters, klaim tersebut keliru. Pada 2008, Fauci memang menerbitkan riset terkait pandemi flu Spanyol. Namun, pneumonia bakteri yang ia maksud dalam riset itu didahului oleh virus influenza. “Bukti yang kami teliti mendukung skenario di mana kerusakan akibat virus diikuti oleh pneumonia bakteri yang menyebabkan sebagian besar kematian.” Penelitian ini pun tidak menyinggung soal masker.
Terkait klaim bahwa penggunaan masker berkepanjangan dapat menyebabkan gejala keracunan CO2, dilansir dari artikel berjudul “[SALAH] Memakai Masker Dapat Menyebabkan Kematian Akibat Keracunan Karbon Dioksida (CO2)” yang tayang di situs turnbackhoax.id pada 18 Oktober 2020, dr Arif Santoso SpP sebagai Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Unhas menegaskan bahwa memakai masker dalam waktu yang lama tidak membuat seseorang keracunan CO2. Ukuran virus korono sekitar 125 nanometer, ukuran ini membuat virus korona tidak dapat menembus masker sedangkan karbon dioksida, oksigen, hingga nitrogen ukurannya jauh lebih kecil daripada virus korona sehingga dapat menembus pori-pori masker.
Bill Carroll, PhD sebagai profesor kimia Indiana University juga menjelaskan bahwa sebelum tubuh mengalami keracunan CO2, tubuh akan memberikan sinyal perlindungan diri, ketika tingkat CO2 yang mempengaruhi kadar keasaman darah berubah maka tubuh akan mendeteksi perubahan kadar keasaman darah tersebut sehingga orang tersebut akan pingsan sebagai salah satu cara tubuh menuntut seseorang agar bisa bernapas dengan normal.
Faktanya, pandemi influenza 1918 atau flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas bukan pneumonia bakteri. Terkait masker, penggunaannya tidak akan menyebabkan kekurangan oksigen, karena masker tidak mengganggu sirkulasi udara dalam tubuh.
Dilansir dari Tempo, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), pandemi influenza 1918 atau yang kerap disebut pandemi flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas. Meskipun tidak ada konsensus universal mengenai dari mana virus itu berasal, virus tersebut menyebar ke seluruh dunia selama 1918-1919.
CDC menjelaskan, ketika pandemi flu Spanyol terjadi, memang banyak ahli kesehatan yang mengira penyakit itu disebabkan oleh bakteri yang disebut “Pfeiffer’s bacillus”, yang sekarang dikenal sebagai Haemophilus influenzae. Namun, hal tersebut dikarenakan tidak adanya tes diagnostik ketika itu yang bisa menguji infeksi influenza. Dokter tidak mengetahui adanya virus influenza.
Dilansir dari AFP, sejarawan Universitas Sydney yang memiliki spesialisasi dalam kedokteran dan teknologi, Peter Hobbins, mengatakan otopsi yang dilakukan pada pasien yang meninggal karena flu Spanyol menunjukkan penyebab utama kematian adalah terisinya paru-paru oleh cairan, baik karena penyakit atau respons imun tubuh yang terlalu aktif terhadap infeksi.
Menurut Hobbins, penyebab sebenarnya pandemi flu Spanyol pada 1918 adalah strain baru virus Influenza A (H1N1). Dia menambahkan upaya di seluruh dunia telah dilakukan untuk membuat vaksin. Namun, ketika itu, tidak ditemukan secara jelas apa “agen penyebabnya, karena mikroskop yang digunakan tidak cukup bagus untuk melihat virus”.
Dikutip dari Reuters, pada Oktober 2020, beredar klaim palsu bahwa, selama pandemi flu Spanyol, orang meninggal akibat pneumonia bakteri dari masker. Klaim itu juga menyebut bahwa direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, Anthony Fauci, mengetahui hal itu dan menuliskannya dalam sebuah penelitian pada 2008.
Menurut Reuters, klaim tersebut keliru. Pada 2008, Fauci memang menerbitkan riset terkait pandemi flu Spanyol. Namun, pneumonia bakteri yang ia maksud dalam riset itu didahului oleh virus influenza. “Bukti yang kami teliti mendukung skenario di mana kerusakan akibat virus diikuti oleh pneumonia bakteri yang menyebabkan sebagian besar kematian.” Penelitian ini pun tidak menyinggung soal masker.
Terkait klaim bahwa penggunaan masker berkepanjangan dapat menyebabkan gejala keracunan CO2, dilansir dari artikel berjudul “[SALAH] Memakai Masker Dapat Menyebabkan Kematian Akibat Keracunan Karbon Dioksida (CO2)” yang tayang di situs turnbackhoax.id pada 18 Oktober 2020, dr Arif Santoso SpP sebagai Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Unhas menegaskan bahwa memakai masker dalam waktu yang lama tidak membuat seseorang keracunan CO2. Ukuran virus korono sekitar 125 nanometer, ukuran ini membuat virus korona tidak dapat menembus masker sedangkan karbon dioksida, oksigen, hingga nitrogen ukurannya jauh lebih kecil daripada virus korona sehingga dapat menembus pori-pori masker.
Bill Carroll, PhD sebagai profesor kimia Indiana University juga menjelaskan bahwa sebelum tubuh mengalami keracunan CO2, tubuh akan memberikan sinyal perlindungan diri, ketika tingkat CO2 yang mempengaruhi kadar keasaman darah berubah maka tubuh akan mendeteksi perubahan kadar keasaman darah tersebut sehingga orang tersebut akan pingsan sebagai salah satu cara tubuh menuntut seseorang agar bisa bernapas dengan normal.
Kesimpulan
Pandemi influenza 1918 atau flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas bukan pneumonia bakteri. Terkait masker, penggunaannya tidak akan menyebabkan kekurangan oksigen, karena masker tidak mengganggu sirkulasi udara dalam tubuh.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1247/keliru-klaim-pandemi-flu-spanyol-disebabkan-pneumonia-bakteri-yang-berasal-dari-masker
- https://turnbackhoax.id/2020/10/18/salah-memakai-masker-dapat-menyebabkan-kematian-akibat-keracunan-karbon-dioksida-co2/
- https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/1918-pandemic-h1n1.html
- https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/reconstruction-1918-virus.html
- https://factcheck.afp.com/facebook-posts-falsely-claim-bacterial-meningitis-vaccine-not-h1n1-virus-caused-1918-spanish-flu
- https://www.reuters.com/article/uk-factcheck-fauci-mask-pneumonia-1918-idUSKBN277200
Halaman: 6950/8117



