• (GFD-2021-6476) [SALAH] “kenapa semua nya meninggal dengan ciri ciri penyebab yg sama seperti korban vaksin Covid-19 lain di luar negeri”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 05/03/2021

    Berita

    Akun Facebook James Bowie (fb.com/bungaran.tampubolonii) pada 25 Februari 2021 mengunggah sebuah gambar dengan narasi sebagai berikut:

    “4 ORANG YANG MENINGGGAL SETELAH SUNTIK VAKSIN SINOVAC DI INDONESIA
    Walau tim cek fakta dan beberapa media klaim bukan karena vaksin covid.. tapi kenapa semua nya meninggal dengan ciri ciri penyebab yg sama seperti korban lain di luar negeri ?
    Yaitu :
    1. Cardiovascular
    2. Blood Disorder
    3. Brain Damage
    – Dokter palembang : jantung / Cardiovascular
    – Nakes cilacap : demam berdarah / thrombocytopenia / Blood Disorder
    – Direktur STIK : sebelum meninggal di laporkan sesak nafas / Cardiovascular
    – Nakes blitar : sebelum meninggal di laporkan demam dan sesak nafas / Cardiovasvular”

    Meninggal setelah vaksin

    Korban meninggal akibat vaksin

    vaksin beracun

    Hasil Cek Fakta

    Faktanya, bukan karena vaksin Covid-19.. Keempatnya meninggal karena beberapa penyebab, mulai dari terinfeksi Covid-19, kekurangan oksigen, hingga demam berdarah. Ketiga hal tersebut tidak berkaitan dengan pemberian vaksin Covid-19.

    Dilansir dari Tempo, Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI), Hindra Irawan Satari, mengatakan meninggalnya empat nakes itu sudah diaudit oleh tim dari lembaganya. “Hasilnya, bukan karena vaksin Covid-19,” kata Hindra saat dihubungi pada 4 Maret 2021.

    Selain itu, menurut Hindra, cardiovascular, blood disorder, dan brain damage bukan penyakit yang disebabkan oleh vaksin Covid-19. Khusus kejadian di Blitar, nakes ini meninggal karena terinfeksi Covid-19 sebelum menerima vaksin Sinovac. Dengan demikian, dia belum memiliki antibodi dari vaksin untuk mencegah terinfeksi Covid-19. “Antibodi terbentuk antara 14-30 hari setelah penyuntikan vaksin kedua,” ujarnya.

    Hal tersebut ditegaskan oleh dokter spesialis patologi klinis, Tonang Dwi Ardyanto. Menurut dia, tiga penyakit itu, cardiovascular, blood disorder, dan brain damage, bisa terjadi dalam beberapa kondisi. Namun, bukan dampak dari vaksin Covid-19 maupun infeksi Covid-19.

    Pernyataan Hindra terkait kejadian di Blitar pun sama dengan pernyataan Deny Christianto, Kepala Bidang Pelayanan Medik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo, Blitar, yang dikutip dari VoA Indonesia. Menurut Deny, hasil audit Komite Daerah (Komda) KIPI, meninggalnya perawat tersebut tidak disebabkan oleh vaksin Covid-19.

    “Kalau dari Komda KIPI menyatakan, ini kan sudah dilaksanakan audit KIPI di tingkat nasional, itu disampaikan bahwa memang kejadian meninggalnya nakes E ini tidak berhubungan dengan vaksinasi Covid-19 sebelumnya. Dan kesimpulannya bahwa vaksin Sinovac ini aman dan bisa dilanjutkan,” tutur Deny.

    Terkait penyebab meninggalnya nakes di Cilacap, dikutip dari Portal Purwokerto, nakes tersebut didiagnosa mengalami demam berdarah, dengan pemberat di saluran cerna. Dia masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit pada 3 Februari 2021 sore dengan keluhan lemas dan feses berwarna hitam.

    Soal Direktur STIK Tamalatea Makassar, menurut Hindra, dia terkena Covid-19 setelah bepergian ke Mamuju, Sulawesi Barat. Anak dan suaminya juga terkonfirmasi positif Covid-19.

    Dikutip dari IDN Times Sulawesi Selatan, Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan, dan Penunjang Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Mansyur Arif mengatakan kematian Direktur STIK Tamalatea Eha Soemantri sudah dikaji dan diasesmen bersama Komda Penanggulangan dan Pengkajian KIPI Sulsel.

    Mansyur mengatakan Eha menerima suntikan vaksin Covid-19 pertama pada 14 Januari. Sebelum dan sesudah vaksinasi, dia berkunjung ke Mamuju. “Nyonya ES diketahui mengalami sesak napas, demam, dan batuk tiga hari pasca vaksinasi kedua yakni pada 1 Februari dan dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 pada 5 Februari berdasarkan tes swab antigen,” kata Mansyur.

    Pada 17 Februari, Eha telah dinyatakan negatif berdasarkan tes swab PCR. Namun, keesokan harinya, keadaan Eha menurun. “Almarhumah dinyatakan meninggal ketika dirawat di ICU (Intensive Care Unit) RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo pada 19 Februari,” ujar Mansyur.

    Berdasarkan asesmen, RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo mengambil kesimpulan bahwa Eha kemungkinan terinfeksi Covid-19 sebelum vaksinasi kedua diberikan. Ketika berkunjung ke luar kota itulah Eha diduga pernah berkontak dengan orang yang positif Covid-19.

    Adapun terkait dokter di Palembang yang diklaim meninggal karena vaksin Covid-19, Tempo telah memeriksa klaim itu pada 25 Januari dan menyatakannya keliru. Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan kematian dokter yang berinisial JF tersebut tidak ada hubungannya dengan vaksinasi Covid-19, yang saat ini baru dilakukan dengan vaksin Sinovac.

    “Laporan sementara, almarhum memang menerima vaksin pada Kamis (21 Januari) dan ditemukan telah meninggal pada Jumat (22 Januari) malam. Dari pemeriksaaan sementara, ditemukan tanda-tanda kekurangan oksigen, dan tanda ini tidak berhubungan dengan akibat vaksinasi,” ujar Nadia.

    Kesimpulan

    Bukan karena vaksin Covid-19.. Keempatnya meninggal karena beberapa penyebab, mulai dari terinfeksi Covid-19, kekurangan oksigen, hingga demam berdarah. Ketiga hal tersebut tidak berkaitan dengan pemberian vaksin Covid-19.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8526) Keliru, Takbier adalah Bir Non Alkohol Produksi Arab Saudi

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 05/03/2021

    Berita


    Klaim bahwa Arab Saudi memproduksi bir non alkohol yang bernama Takbier beredar di Facebook. Klaim ini dilengkapi dengan sebuah gambar yang memperlihatkan dua botol produk minuman bermerk Takbier. Dalam label merk yang berwarna hijau tersebut, terdapat pula sebuah kalimat tauhid dan pedang berwarna putih. Dalam gambar itu, juga dicantumkan foto Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
    Foto ini beredar di tengah pro-kontra terbitnya Peraturan Presiden (Perpes) Nomor 10 Thaun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal, di mana di dalamnya terdapat lampiran yang mengatur  investasi miras  di sejumlah provinsi. Per 2 Maret 2021, Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah mencabut lampiran tersebut setelah menerima masukan dari sejumlah pihak, termasuk para tokoh agama dan ulama.
    Akun ini membagikan klaim beserta foto itu pada 2 Maret 2021. Akun tersebut menulis, "Takbier - Bir yang Sempat Jadi Kontroversi Diproduksi di Arab Saudi." Menurut unggahan ini, merk tersebut sempat mengalami sengketa hukum dengan pabrik Jerman karena telah menggunakan lambang Kerajaan Arab Saudi pada labelnya. Namun, setelah sengketa itu, Arab Saudi justru mulai memproduksi bir tersebut secara nasional.
    "Hal tersebut bagaikan udara segar bagi para penikmat bir di Arab karena dapat mencicipi sensasi dari bir tanpa permasalahan agama," demikian narasi dalam unggahan itu. Takbier pun disebut menjadi minuman resmi Piala Dunia 2018. "Bir 'halalcohol' ini bisa dinikmati oleh siapa saja, bahkan yang tidak mengkonsumsi alkohol, karena dibuat tanpa menghadirkan alkohol." Menurut unggahan ini, informasi itu berasal dari situs Beergembira.com.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait produk minuman bir non alkohol yang bernama Takbier.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo mula-mula memeriksa artikel terkait yang dimuat oleh situs Beergembira.com. Menurut situs ini, informasi tersebut berasal dari situs Noktara.de. Tempo kemudian memeriksa artikel terkait yang diterbitkan oleh situs Noktara.de ini.
    Situs yang berbasis di Jerman itu memang pernah memuat artikel tersebut pada 13 Mei 2018. Artikel yang ditulis dalam bahasa Jerman ini diberi judul "Takbier: Arab Saudi memproduksi bir resmi Piala Dunia". Namun, artikel itu sebenarnya hanyalah artikel satire. Situs Noktara.de pun merupakan situs satire.
    Dalam halaman FAQ-nya, Noktara.de menulis bahwa laporan-laporan yang ada di situsnya adalah fiktif, meskipun kerap diciptakan dari referensi nyata. Artikel terkait Takbier dibuat sebelum berlangsungnya pertandingan pembukaan Piala Dunia 2018 yang mempertemukan tim sepak bola Arab Saudi dengan Rusia.
    Dilansir dari majalah Jerman, Stern, situs satire Noktara.de dibuat oleh Soufian El Khayari dan Derya Sami Saydjari. Keduanya merupakan seorang muslim yang tumbuh di Jerman. Soufian dan Derya meluncurkan Noktara.de pada Oktober 2016. Mereka membuat situs itu karena, menurut mereka, siapa pun bisa bercanda tentang Islam.
    Dalam wawancaranya dengan Stern, Soufian yang orang tuanya berasal dari Maroko dan Derya yang berdarah Suriah-Turki juga mengungkap arti di balik nama Noktara. Dalam bahasa Arab, "nokta" berarti bercanda. Sementara "ra", menurut Soufian dan Derya, ditambahkan untuk mengubah kata "nokta" menjadi kata baru yang terdengar lebih segar.
    Tempo kemudian menelusuri gambar yang memperlihatkan dua botol produk minuman bermerk Takbier dalam unggahan di atas. Hasilnya, ditemukan bahwa foto dua botol produk minuman itu berasal dari mockup, atau maket yang kerap digunakan untuk memvisualisasikan sebuah konsep desain. Biasanya, pengguna tinggal mengganti label dalam mockup itu dengan desain yang mereka buat sendiri.
    Salah satu desain mockup botol bir yang disediakan di situs Designhooks.com.
    Mockup ini pernah dimuat salah satunya oleh situs Designhooks.com. Mockup itu pun pernah dipakai oleh sejumlah desainer untuk memvisualisasikan desain label produk minumannya. Beberapa di antaranya diunggah di situs Behance, yakni oleh akun Jota Martinez dan akun Amandine Faingnaert.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Takbier adalah bir non alkohol produksi Arab Saudi, keliru. Artikel yang memuat klaim itu merupakan artikel satire, yang dibuat oleh situs satire yang berbasis di Jerman, Noktara.de. Foto dua produk minuman bermerk Takbier yang digunakan untuk melengkapi klaim tersebut pun hanyalah mockup atau maket.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8527) Keliru, Timor Leste Rilis Uang Bergambar Baju Adat Rote dan Xanana Gusmao

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 05/03/2021

    Berita


    Gambar sebuah uang kertas pecahan 100 bertuliskan Central Bank of Timor Leste atau Bank Sentral Timor Leste beredar di media sosial. Dalam gambar itu, terlihat dua sisi dari uang kertas tersebut. Sisi pertama memuat gambar mantan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao. Sementara sisi lainnya memuat gambar baju adat yang identik dengan baju adat Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT).
    Di Facebook, gambar uang kertas itu diunggah oleh akun ini pada 15 Februari 2021. Akun tersebut menulis, “Butuh bantuan ada yang bisa fasih bahasa tetun/timor leste utk translate informasi. Disinyalir semntara terjadi pengakuan sepihak adat budaya Rote dalam pengggunaan di mata uang pecahan 100 Timor Leste. Tq.”
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang memuat klaim keliru terkait gambar uang kertas yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, Bank Sentral Timor Leste tidak pernah menerbitkan uang kertas pecahan 100 bergambar baju adat Rote, NTT tersebut. Hingga saat ini, Timor Leste masih menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat dan centavos, yang dicetak di Portugal, sebagai alat tukar yang sah.
    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tempo mula-mula menelusuri gambar uang kertas itu denganreverse image toolSource dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa gambar ini merupakan gambar tangkapan layar dari video yang pernah diunggah oleh kanal YouTube SocialMediaGMNTV pada 12 Februari 2021 dengan judul “Osan ho imajen Xanana Gusmão, BCTL laiha Koñesimentu”.
    Tempo kemudian menghubungi jurnalis Timor Leste Zevonia Vieira untuk mendapatkan penjelasan terkait uang kertas pecahan 100 itu. Menurut Vonia, uang kertas tersebut hanyalah hasil kreativitas dari seseorang yang mengidolakan tokoh Timor Leste Xanana Gusmao. “Orang itu berharap, jika suatu saat Timor Leste memiliki mata uang sendiri, wajah Xanana Gusmao sebagai tokoh pejuang bisa ditampilkan pada uang tersebut,” katanya pada 5 Maret 2021.
    Setelah beredar di Facebook, gambar uang kertas tersebut pun menuai banyak reaksi warganet di Timor Leste. “Banyak yang mengira bahwa uang itu adalah uang beneran,” ujarnya. Namun, Vonia memastikan bahwa uang tersebut tidak beredar di negaranya. Timor Leste masih menggunakan dolar AS sebagai mata uang yang sah.
    Beredarnya gambar uang kertas dengan ilustrasi Xanana Gusmao dan baju adat yang identik dengan baju adat Rote itu juga telah direspons oleh Bank Sentral Timor Leste (BCTL). Dikutip dari situs lokal Timor Leste, Neon Metin, Gubernur BCTL Abrao Vasconcelos telah memastikan bahwa desain uang tersebut tidak serius. “Itu bagian dari ekspresi seseorang yang mengidolakan Xanana Gusmao,” ujarnya.
    Konsulat Republik Demokratik Timor Leste di Kupang, NTT, Jesuino Dos Reis Matos memberikan penjelasan serupa terkait gambar uang kertas yang viral itu. Menurut dia, negaranya masih menggunakan dolar AS sebagai mata uang resmi. "Tidak benar, Timor Leste masih pake Dollar US. Ini orang NTT yang kreasikan mungkin," katanya pada 16 Februari 2021 seperti dikutip dari Kumparan.com.
    Dilansir dari Liputan6.com, selain menggunakan dolar AS sebagai alat tukar yang sah, Timor Leste juga menggunakan mata uang lokal centavos. Menurut Head of Business & Treasury PT Bank Mandiri Tbk Cabang Dili, NTT, Tommy Utomo, BCTL memperoleh pasokan dolar AS dari Bank Sentral AS (The Federal Reserve atau The Fed). Sementara uang koin centavos dicetak di Portugal.
    "Kalau mata uang lokal centavos di‎cetak langsung di Portugis. Tapi, kalau dolar AS, dapat pasokan dari Bank Sentral AS," kata Tommy pada 23 Maret 2016. Dia menjelaskan uang koin centavos terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 50, dan 100. Sementara itu, untuk nominal di atasnya, menggunakan dolar AS. Ia menyebut 100 centavos setara dengan 1 dolar AS.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Timor Leste merilis uang kertas pecahan 100 bergambar baju adat Rote, NTT, dan Xanana Gusmao tersebut keliru. Bank Sentral Timor Leste tidak pernah menerbitkan uang kertas pecahan 100 dengan mencantumkan gambar-gambar tersebut. Desain uang kertas itu dibuat oleh seseorang yang mengidolakan Xanana Gusmao. Hingga kini, Timor Leste masih menggunakan dolar AS, yang dipasok dari The Fed, dan uang koin centavos, yang dicetak di Portugal, sebagai mata uang yang sah.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8528) Keliru, Klaim Ini Video Israel Tembaki Masjid Palestina

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 05/03/2021

    Berita


    Video pendek yang diklaim sebagai video ketika Israel menembak menara masjid Palestina beredar di YouTube pada 3 Maret 2021. Dalam video itu, terlihat sebuah menara masjid yang diberondong oleh tembakan berulang kali. Selain suara senapan, terdengar pula suara azan dalam video tersebut.
    Kanal ini mengunggah video berdurasi 2 menit itu dengan judul "Tentara Israel Tembak Menara Mesjid Palestina". Dalam keterangannya, kanal tersebut menulis, "Tentera Israil(LAKNATULLOH ALAHI) menembaki menara masjid Pelastina ketika azan di kumandang kan namun tetap berdiri tidak tumbang dan terbakar."
    Gambar tangkapan layar unggahan di YouTube yang berisi klaim keliru terkait video yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim Cek Fakta Tempo, video yang diunggah oleh kanal tersebut adalah video lama. Peristiwa dalam video itu terjadi pada 2008. Peristiwa tersebut pun bukan peristiwa penembakan menara masjid Palestina yang dilakukan oleh tentara Israel.
    Untuk memeriksa klaim itu, Tempo memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Lalu, gambar-gambar itu ditelusuri dengan reverse image tool Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa gambar tangkapan layar video yang sama pernah dipublikasikan oleh situs yang berbasis di Turki, Timeturk, pada 24 Maret 2008.
    Situs tersebut memberikan keterangan bahwa peristiwa dalam gambar itu terjadi saat tentara Amerika Serikat menembaki menara sebuah masjid di Irak. Tembakan dengan senapan mesin berat selama beberapa menit ini dilaporkan menghancurkan beberapa menara.
    Ketika itu, video dari peristiwa tersebut juga beredar di YouTube. Salah satu kanal, Michael Moore, mengunggah video kejadian itu pada 16 Maret 2008 dengan judul "Marinir AS Menembak Masjid Tanpa Alasan". Kanal ini pun memberikan keterangan sebagai berikut:
    “Kesaksian Cpl. (Kopral) Jon M. Turner (3/8 Kilo Company, Peleton 1, Korps Marinir AS) pada tanggal 15 Maret 2008, termasuk dua video penembakan pasukan Turner di masjid-masjid tanpa alasan, suatu pelanggaran terhadap hukum internasional.”
    Penyerangan itu terjadi di tengah invasi AS ke Irak sejak 20 Maret 2003 yang melibatkan sekitar 200 ribu tentara. Meskipun menerima kecaman global dan tidak mendapatkan otorisasi dari PBB, AS, yang didukung oleh pasukan dari Inggris, Australia, dan Polandia, meluncurkan Operasi Kebebasan Irak karena menganggap Saddam Hussein, yang oleh AS disebut diktator, menyembunyikan senjata pemusnah massal.
    Pada 1 Mei 2003, Presiden AS George W. Bush menyatakan "misi sudah tercapai" saat berpidato di kapal induk USS Abraham Lincoln. Pasukan AS berhasil menangkap Saddam tanpa insiden berarti pada 13 Desember, dalam persembunyiannya di sebuah lubang 2,5 meter di daerah pertanian Tikrit, Baghdad. Ia dihukum gantung pada 2006. Tapi senjata pemusnah massal yang menjadi dasar untuk melancarkan serangan tak pernah ditemukan.
    Bush awalnya memenangkan dukungan publik dan politik yang luas untuk melakukan serangan terhadap Baghdad. Tapi pendapat itu berubah setelah perang berlarut-larut. Meskipun Bush menyebut misi telah tercapai pada 2003, perang belum sepenuhnya berakhir.
    Secara resmi, invasi Irak dinyatakan berakhir usai pasukan terakhir AS pergi dari negara itu pada 15 Desember 2011. Mereka terlibat dalam perang selama sepuluh tahun, delapan bulan, tiga minggu, dan empat hari di negara yang berada di belahan bumi lain, yang berjarak ribuan kilometer dari rumahnya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video ketika tentara Israel menembak menara masjid Palestina, keliru. Video itu adalah video lama, yang menunjukkan penembakan masjid di Irak oleh tentara AS pada 2008.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan