• (GFD-2020-5949) [SALAH] Pesan Whatsapp Razia STNK di Seluruh Wilayah Indonesia

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 31/12/2020

    Berita

    Tersebar pesan berantai media pesan WhatsApp bahwa akan diadakan razia Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) mobil dan sepeda motor di seluruh Indonesia. Isi pesan itu menyebutkan, razia akan dilakukan pada Rabu, 30 Desember 2020 pada pukul 10.00-12.00, 15.00-17.00, 22.00-24.00, dan dini hari pukul 03.00-05.00.

    Operasi razia

    30 Desember 2020 ada razia polisi

    Menginformasikan Bahwa Besuk Hari Rabu Tanggasl : 30 Desember 2020 akan di laksasnakan Operasi Razia STNK di semua Wilayah RI, untuk Jadwalnya dari :
    Pemda, Dishub kerja sama dengan Polri menggelar razia pajak STNK mobil & motor.
    Bagi kendaraan yang telat bayar pajak. Berdasarkan data, ada ratusan ribu motor dan mobil yang belum bayar Pajak yang masih menggunakan pelat lama. Bagi kendaraan yang telat bayar pajak 3 tahun atau lebih akan langsung dikandangin.

    Berikut jadwal razianya :
    1. pagi jam 10:00-12:00
    2. siang dari jam 15:00-17:00
    3. malam dari jam 22:00-24:00 dilanjutkan kembali dari Jam 03:00-05:00 wib.

    Razia zebra gabungan dengan polres se-Indonesia. Lengkapi surat2 kendaraan anda. Mhn ditertibkan atribut2 TNI/Polri yg terpasang di kendaraan anda. nyaman berkendara untuk keselamatan kita bersama
    Agar di infokan ke keluarga dan rekan2.
    Razia STNK Dimulai Besok, Jadwalnya:
    Pemda, Dishub kerja sama dengan Polri menggelar rajia pajak STNK mobil & motor.
    Bagi kendaraan yang telat bayar pajak. Berdasarkan data, ada ratusan ribu motor dan mobil yang belum bayar pajak yang masih menggunakan pelat lama. Bagi kendaraan yang telat bayar pajak 3 tahun atau lebih akan langsung dikandangin.

    Berikut jadwal razianya. Info dari grup WA kiriman dari Bhayangkara polri:
    1. pagi jam 10:00-12:00
    2. siang dari jam 15:00-17:00
    3. malam dari jam 22:00-24:00 dilanjutkan kembali dari Jam 03:00-05:00 wib.

    Razia zebra gabungan dengan polres se-indonesia. Lengkapi surat2 kendaraan anda. Mhn ditertibkan atribut2 TNI/Polri yg terpasang di kendaraan anda *nyaman berkendara untuk keselamatan kita bersama

    Razia zebra hari ini

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penulusuran, informasi tersebut salah. Dilansir dari merdeka.com, Karopenmas Div Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono menegaskan, jika informasi razia STNK seluruh Indonesia itu tidak lah benar alias hoaks.

    “(Informasi ada razia) tidak benar,” kata Rusdi dilansir dari merdeka.com, Rabu, 30 Desember 2020.

    Sebagai tambahan, informasi serupa juga pernah dibahas dalam artikel Turn Back Hoax berjudul “[HOAKS] Razia STNK Pada Tanggal 28 Februari 2018” dan dengan klaim waktu yang berbeda dan penambahan suku kata.

    Dengan demikian, informasi yang beredar melalui pesan WhatsApp itu dapat dikategorikan Konten Palsu karena tidak ada razia STNK pada 30 Desember 2020 yang diberlakukan seperti yang disebutkan pada pesan WhatsApp tersebut.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5962) [SALAH] Foto Donald Trump Menggendut

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 31/12/2020

    Berita

    Akun Twitter ken olin (@keolin1) mengunggah foto Donald Trump dengan narasi yang menyebutkan bahwa Trump benar-benar menggendut. Unggahan tersebut telah mendapat respon sebanyak 3.380 retweet, 18.173 suka, dan 4.400 balasan.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, foto unggahan tersebut merupakan hasil suntingan. Terlihat beberapa perbedaan dengan foto asli Donald Trump, seperti di dagu dan perutnya. Foto asli dari unggahan tersebut ditemukan di situs Business Insider India dan Getty Images dengan narasi sebagai berikut.

    “US President Donald Trump steps out of his vehicle upon his return to the White House in Washington, DC, on June 28, 2020 after golfing at his Trump National Golf Club in Virginia.”

    “Presiden AS Donald Trump keluar dari kendaraannya sekembalinya ke Gedung Putih di Washington, DC, pada 28 Juni 2020 setelah bermain golf di Trump National Golf Club di Virginia.”

    Dengan demikian, unggahan akun Twitter ken olin (@keolin1) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Dimanipulasi karena foto asli Donald Trump sudah dimanipulasi sedemikan rupa sehingga terdapat beberapa perbedaan, seperti pada bagian dagu dan perutnya.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8435) Sesat, Klaim Ini Video Eksekusi Mati Para Koruptor di Cina

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 31/12/2020

    Berita


    Sebuah video yang diklaim sebagai video eksekusi mati para koruptor di Cina beredar di media sosial. Video tersebut memperlihatkan sejumlah orang yang sedang digiring oleh polisi berseragam hitam dari dalam sebuah bangunan ke lokasi eksekusi di sebuah halaman. Selanjutnya, setelah terdengar suara aba-aba, para polisi menembak orang-orang itu.
    Dalam video ini, terdapat pula tulisan yang berbunyi: "Ini lah para koruptor2 di CINA. Tembak MATI koruptor di CINA. Kapan indonesia juga begini. Semua koruptor tembak mati. Agar ada efek jera pd yg lain. Koruptor harus di bunuh. Jangan di hukum. KORUPTOR TEMBAK MATI. INDONESIA KAPAN? Korupror makan uang rakyat. KORUPTOR GAK PUNYA MALU."
    Di Facebook, video berdurasi 1 menit 12 detik tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Rudi Hartono, tepatnya pada 27 Desember 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan lebih dari 300 reaksi dan 90 komentar serta dibagikan sebanyak 379 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Rudi Hartono yang memuat video dengan narasi yang keliru.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video di atas menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Selanjutnya, gambar-gambar itu ditelusuri dengan reverse image tool Source, Yandex, dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa orang-orang yang dieksekusi mati dalam video tersebut bukanlah terpidana korupsi.
    Video yang identik dengan durasi yang lebih panjang dan kualitas gambar yang lebih baik pernah diunggah ke YouTube oleh kanal Malaikat Maut pada 12 Mei 2020. Video itu diberi judul dalam bahasa Cina dan Inggris yang jika diterjemahkan berarti "Tempat eksekusi Cina Hukuman mati dan eksekusi penembakan Cina pada 2005".
    Video tersebut juga pernah diunggah oleh kanal Hello Telegram pada 12 Juni 2020 dengan judul berbahasa Inggris dan Cina yang jika diterjemahkan berarti “Di dalam arena tembak Cina (bocor 2005) | hukuman mati di CN | Cina 2005 Sebuah film dokumenter tentang terpidana mati yang direkam pada 2005 baru-baru ini beredar”.
    Gambar tangkapan layar salah satu cuplikan dalam video itu pun pernah dimuat oleh situs media Jepang, Tocana, pada 18 Juni 2020. Menurut situs ini, video tersebut diambil di Cina pada 2005. Video ini merupakan film dokumenter tentang seorang perempuan yang membunuh suaminya, yang dijatuhi hukuman mati dengan ditembak.
    Berita tentang video ini juga pernah dimuat oleh situs media Taiwan, Liberty Times, pada 12 Juni 2020. Menurut laporan Liberty Times, video itu memperlihatkan perempuan Cina yang merupakan seorang terpidana mati yang menerima wawancara eksklusif sebelum dieksekusi. Dia dijatuhi hukuman mati oleh hakim karena membunuh suaminya.
    Setelah berbicara ke kamera, perempuan itu dibawa petugas untuk mengkonfirmasi kejahatannya dan memeriksa apakah hukumannya telah sesuai dengan prosedur hukum Cina. Setelah memastikan bahwa itu benar, dia menandatangani dokumen, dan petugas membawa perempuan tersebut untuk diikat bersama narapidana mati lainnya.
    Namun, di depan kamera, perempuan itu meyakini bahwa dia tidak bisa dieksekusi karena kejahatannya. "Tapi saya telah mencapai titik ini. Apa gunanya mengatakan sesuatu?" ujarnya. Ia juga mengaku tidak menyesali perbuatannya. "Ingin mendengar kebenaran? Cina bukanlah negara yang diatur oleh hukum, tapi negara yang diatur oleh manusia!"
    Hukuman bagi koruptor di Cina
    Berdasarkan arsip berita Tempo pada 13 Desember 2019, terdapat beberapa negara yang memberlakukan hukuman mati bagi koruptor atau kasus penyuapan lain. Dilansir dari Rappler, yang mengutip laporan Death Penalty Database of the Cornell Center on Death Penalty Worldwide, beberapa negara yang menerapkan hukuman tersebut adalah Cina, Korea Utara, Irak, Iran, Thailand, Laos, Vietnam, Myanmar, Maroko, dan Indonesia.
    Cina masuk dalam daftar tiga negara teratas yang telah melakukan eksekusi pada 2015, bersama Iran dan Pakistan. Namun, eksekusi itu dianggap sangat rahasia, sehingga sulit untuk menghitung jumlahnya. Tahanan dilaporkan tidak akan menunggu lama untuk menjalani hukuman mati, dieksekusi segera atau diberi waktu dua tahun penjara sebelum dieksekusi.
    Pemerintah Cina mengeksekusi mereka karena tindakannya merupakan kejahatan ekonomi dan politik. Pada 2011, Cina menjatuhkan hukuman mati kepada Xu Maiyong, mantan Wakil Wali Kota Hangzhou, dan Jiang Renjie, mantan Wakil Wali Kota Suzhou. Para pejabat itu dinyatakan bersalah melakukan suap sebesar US$ 50 juta atau Rp 700 miliar.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas merupakan video eksekusi mati para koruptor di Cina, menyesatkan. Video tersebut merupakan video yang menyorot seorang perempuan Cina yang menjadi terpidana mati karena membunuh suaminya. Ia dieksekusi mati bersama tujuh narapidana lainnya.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8436) Keliru, WHO Bandingkan Efektivitas 10 Vaksin Covid-19 dan Sebut Sinovac yang Terendah

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 31/12/2020

    Berita


    Akun Instagram @wawsehat membagikan informasi yang berisi klaim bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut vaksin Sinovac sebagai vaksin Covid-19 yang paling lemah. Kesimpulan itu diambil setelah WHO disebut melakukan perbandingan efektivitas 10 vaksin Covid-19 yang siap diedarkan.
    Klaim itu diunggah oleh akun @wawsehat pada 24 Desember 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah disukai lebih dari 1,5 ribu kali. Akun ini pun menulis bahwa informasi tersebut berasal dari situs media Aljazeera. Namun, akun ini tidak menyertakan tautan berita Aljazeera itu.
    Sinovac buatan China menjadi vaksin yang memiliki pengaruh paling rendah atau efektivitasnya paling rendah dibandingkan dengan 9 vaksin lainnya. Sementara itu, vaksin moderna dan vaksin Pfizer menjadi vaksin yang disebut-sebut lebih efektif dibandingkan vaksin lainnya. Karena itu, sejumlah negara di dunia rata-rata memesan vaksin Moderna dan vaksin Pfizer,” demikian sebagian narasi yang ditulis oleh akun tersebut.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Instagram @wawsehat yang memuat klaim keliru terkait WHO dan vaksin Covid-19.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, tidak ditemukan penjelasan di situs resmi WHO maupun pemberitaan di Aljazeera bahwa organisasi kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyebut vaksin Sinovac sebagai vaksin Covid-19 yang paling lemah.
    Lewat pencarian di situs resmi WHO dengan kata kunci “Covid-19 vaccine”, Tempo menemukan 39 artikel terkait dengan vaksin Covid-19. Namun, dari semua artikel tersebut, tidak satu pun berisi informasi bahwa WHO menyebut vaksin Sinovac paling lemah dibanding sembilan kandidat vaksin Covid-19 lainnya.
    Dalam artikel berjudul "COVAX Announces additional deals to access promising COVID-19 vaccine candidates; plans global rollout starting Q1 2021" yang terbit pada 21 Desember 2020, WHO hanya menjelaskan tentang 10 kandidat vaksin yang melibatkan investasi Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Dari 10 kandidat vaksin itu, sembilan di antaranya masih dalam pengembangan, di mana tujuh di antaranya dalam tahap uji klinis.
    Sepuluh kandidat vaksin tersebut adalah AstraZeneca/University of Oxford (Tahap 3); Clover Biopharmaceuticals, Cina (Tahap 1); CureVac, Jerman (Tahap 2B/3); Inovio, Amerika Serikat (Tahap 2); Institut Pasteur/Merck/Themis, Prancis/AS/Austria (Tahap 1); Moderna, AS (Tahap 3); Novavax, AS (Tahap 3); SK bioscience, Korea Selatan (Praklinis); University of Hong Kong, Hong Kong (Praklinis); University of Queensland/CSL, Australia (Tahap 1, program dihentikan).
    CEPI sendiri merupakan kemitraan inovatif antara publik, swasta, filantropi, dan organisasi sipil, yang diluncurkan di Davos, Swiss, pada 2017 untuk mengembangkan vaksin guna menghentikan epidemi di masa depan. CEPI telah bergerak dengan sangat mendesak dan berkoordinasi dengan WHO dalam menanggapi munculnya Covid-19.
    Adapun lewat penelusuran di Google dengan memasukkan kata kunci yang sama, “Covid-19 vaccine”, juga tidak menemukan berita bahwa WHO menyebut vaksin Sinovac paling lemah. Dalam sebuah berita di Aljazeera pada 18 November 2020 yang berjudul "Where are we in the Covid-19 vaccine race?", pejabat WHO Swaminathan menyatakan belum bisa mengambil kesimpulan tentang perlindungan jangka panjang dan efek samping dari seluruh vaksin yang sedang diuji coba.
    “Semua hasil yang kami lihat sejauh ini didasarkan pada tiga atau empat bulan analisis tindak lanjut, yang berarti bahwa kami belum bisa mengatakan apapun tentang perlindungan jangka panjang (dari vaksin), atau tentang efek sampingnya,” kata Swaminathan. “Dalam kondisi yang lain, Anda tidak akan pernah menggunakan vaksin dalam waktu terbatas. Tapi, karena berada di tengah pandemi, kita harus menyeimbangkan antara risiko dan kebutuhan.”
    Menurut arsip berita Tempo, pada 21 Desember 2020, juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Lucia Rizka Andalusia juga telah membantah bahwa vaksin Sinovac memiliki kualitas paling lemah di antara kandidat vaksin lainnya. "Hingga saat ini, tidak ada dokumen dan informasi resmi dari WHO yang membandingkan respons imunitas 10 kandidat vaksin, atau pernyataan bahwa vaksin Sinovac rendah," ujarnya.
    Dia menambahkan, sampai saat ini, belum ada pengumuman tingkat efikasi vaksin Sinovac, baik dari pihak produsen maupun badan pengawas obat di negara tempat dilakukannya uji klinis. Selain itu, kata Lucia, informasi bahwa hanya Indonesia yang memesan vaksin Sinovac tidak tepat. "Sejumlah negara telah melakukan pemesanan vaksin Covid-19 dari Sinovac, seperti Brasil, Turki, Chili, Singapura, dan Filipina. Bahkan, Mesir juga sedang bernegosiasi untuk bisa memproduksi vaksin Sinovac di negaranya," ujar dia.
    Efikasi vaksin Covid-19
    Tempo merangkum beberapa pemberitaan media mengenai efikasi vaksin Covid-19 yang diuji coba di sejumlah negara. Efikasi vaksin adalah kemampuan vaksin untuk memberikan manfaat bagi individu yang mendapatkan vaksinasi.
    Dikutip dari Aljazeera, hasil terbaru dari uji coba vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca dan University of Oxford menunjukkan bahwa vaksin ini aman dan sekitar 70 persen efektif, walaupun tetap muncul pertanyaan tentang seberapa baik vaksin itu dapat membantu melindungi mereka yang berusia di atas 55 tahun.
    Vaksin lainnya, vaksin Pfizer, menunjukkan kemanjuran 95 persen dalam mencegah infeksi Covid-19 yang bergejala, diukur sejak tujuh hari setelah dosis kedua diberikan. Vaksin terlihat kurang lebih sama protektifnya di seluruh kelompok usia serta kelompok ras dan etnis.
    Untuk vaksin Moderna, dilansir dari Stat News, diklaim 94,1 persen efektif mencegah gejala Covid-19, diukur sejak 14 hari setelah dosis kedua diberikan. Kemanjuran vaksin kemungkinan sedikit lebih rendah pada orang berusia 65 tahun ke atas. Namun, saat presentasi di depan komite penasihat Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), perusahaan menjelaskan bahwa angka tersebut dapat dipengaruhi oleh fakta bahwa muncul beberapa kasus pada kelompok usia tersebut dalam uji coba. Di sisi lain, vaksin ini kemungkinan sama efektifnya di berbagai kelompok etnis dan ras.
    Sementara vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Sinovac, dikutip dari Straits Times, ditemukan lebih dari 50 persen efektif dalam uji klinis Brasil, meskipun para peneliti menunda merilis lebih banyak informasi terkait itu atas permintaan perusahaan. Tingkat kemanjuran 50 persen adalah standar minimum yang ditetapkan oleh regulator AS untuk otorisasi darurat vaksin Covid.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa WHO membandingkan efektivitas 10 vaksin Covid-19 dan menyebut vaksin Sinovac yang terendah, keliru. Informasi itu disebut berasal dari Aljazeera. Namun, berdasarkan penelusuran, Aljazeera tidak pernah mempublikasikan berita yang mengutip perbandingan efektifitas 10 vaksin Covid-19 oleh WHO.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan