(GFD-2021-8462) Sesat, Klaim Ini Video Seorang Pria yang Pingsan usai Disuntik Vaksin Covid-19
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 20/01/2021
Berita
Video yang memperlihatkan seorang pria yang pingsan usai disuntik beredar di media sosial. Menurut klaim yang menyertai video itu, pria tersebut pingsan usai disuntik vaksin Covid-19. Video ini diunggah salah satunya oleh kanal YouTube News Berita pada 17 Januari 2021 dengan judul “Seorang pria tak sadarkan diri, setelah beberapa detik di suntik vaksin”. Kanal ini juga menambahkan tagar #Covid19 di atas judul.
Dalam video berdurasi 1 menit 30 detik itu, terlihat seorang pria berkemeja putih yang baru saja disuntik oleh seorang petugas kesehatan di bawah sebuah tenda yang berdiri di halaman sebuah gedung. Namun, setelah berpindah ke tenda lain, ia lemas dan terjatuh. Selanjutnya, ia dibaringkan di sebuah ranjang, lalu digotong oleh sejumlah petugas untuk dimasukkan ke sebuah mobil ambulans.
Gambar tangkapan layar unggahan kanal YouTube News Berita yang memuat klaim menyesatkan terkait video yang diunggahnya.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Lalu, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwa video itu adalah video simulasi vaksinasi Covid-19 yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 13 Januari 2021.
Video yang sama dengan kualitas yang lebih baik dan durasi yang lebih panjang pernah diunggah ke YouTube oleh kanal Mzaq Chanell pada 12 Januari 2021. Video itu diberi judul “Simulasi Vaksinisasi Covid 19 Perdana di Kantor Gubernur NTT”.
Dalam video berdurasi 8 menit 52 detik ini, ambulans yang membawa pria yang pingsan itu hanya berjalan beberapa meter. Pada menit 3:05, ambulans berjalan mundur, kemudian pemeran penerima vaksin dan petugas kesehatan turun dari ambulans sembari tertawa. Dalam video ini, terdengar pula penjelasan dari pengeras suara bahwa kegiatan itu hanya simulasi.
Kanal YouTube Dodi Ifanda Maimbau juga pernah mengunggah video tersebut pada 17 Januari 2021 dengan judul “Iklan Layanan Masyarakat Simulasi: Penerima Vaksin Covid-19 Roboh Pingsan, Dan Dilarikan Ke RS”. Dalam keterangannya, tertulis bahwa kegiatan simulasi tersebut digelar di halaman Gedung Sasando di Kantor Gubernur NTT pada 13 Januari 2021.
Tempo kemudian memastikan informasi tersebut dengan menelusuri pemberitaan terkait. Berdasarkan arsip berita Tempo, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, telah memastikan bahwa peristiwa dalam video itu hanya simulasi. "Ini kan simulasi pelaksanaan vaksin. Jadi, simulasi menghadapi bagaimana kalau tiba-tiba ada kasus yang pingsan," kata Nadia pada 18 Januari 2021.
Nadia mengatakan bahwa simulasi itu dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19 dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Ia juga menegaskan bahwa, hingga kini, belum ada laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) sejak dimulainya program vaksinasi Covid-19 pada 13 Januari 2021. "Sampai saat ini, tidak ada laporan adanya KIPI atau efek samping," ujarnya.
Dilansir dari kantor berita Antara, Pemerintah Provinsi NTT melakukan simulasi vaksinasi Covid-19 satu hari menjelang pemberian vaksin bagi pejabat publik dan tenaga kesehatan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Simulasi dilakukan di halaman Kantor Gubernur NTT pada 13 Januari 2021, dengan mendirikan lima tenda untuk pemeriksaan suhu dan tekanan darah, skrining, vaksinasi, dan tindakan pascavaksinasi.
Wakil Direktur Pelayanan Rumah Sakit WZ Johannes Kupang, Stefanus Soka, mengatakan simulasi vaksinasi COvid-19 tersebut dilaksanakan sebanyak tiga kali, mulai dari yang tidak timbul gejala pasca vaksinisasi, bergejala berat, dan bergejala ringan. Pihaknya juga sudah menyiapkan ambulans di dekat lokasi vaksin sebagai antisipasi jika ada warga yang bergejala berat. "Kalau ada yang bergejala berat, akan langsung dilarikan ke rumah sakit."
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video pria yang pingsan setelah disuntik vaksin Covid-19, menyesatkan. Video tersebut hanyalah video simulasi, tepatnya simulasi vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di halaman kantor gubernur pada 13 Januari 2021, satu hari sebelum pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi pejabat publik dan tenaga kesehatan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Menurut Kementerian Kesehatan, hingga kini, belum ada laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) sejak dimulainya program vaksinasi Covid-19 pada 13 Januari 2021.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://archive.vn/ihuVc
- https://www.tempo.co/tag/vaksinasi-covid-19
- https://bit.ly/35VNgTX
- https://bit.ly/2LNlli8
- https://bit.ly/3o4oSFQ
- https://www.tempo.co/tag/ntt
- https://bit.ly/3sEMJ2v
- https://www.tempo.co/tag/kupang
- https://www.tempo.co/tag/kementerian-kesehatan
(GFD-2021-8463) Keliru, Vaksin Sinovac Dipasangi GPS atau Chip untuk Lacak Keberadaan Orang yang Telah Divaksin
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 20/01/2021
Berita
Klaim bahwa salah satu vaksin Covid-19, vaksin Sinovac, dipasangi GPS (Global Positioning System) atauchipyang bisa digunakan untuk mengetahui keberadaan orang yang telah divaksin, beredar di media sosial. Klaim itu dilengkapi dengan potongan video wawancara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir di acara televisi Mata Najwa.
Di Facebook, klaim beserta video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Jamilha Amar, tepatnya pada 19 Januari 2021. Akun ini menulis sebagai berikut:
"Sinovac ternyata juga sebagai jps /chip yg utk mngetahui keberadaan seseorang yg telah di vaksin. ** NO VAKSIN.... ?? **Erick Thohir sang Missionaris Chip Covid-19 Dgn Sangat Terbuka Menjelaskan Tentang Chip Yang Terdapat Didalam Vaksin . Itu Artinya , Setelah Kita Divaksinasi Hidup Kita Akan Dikontrol Seumur Hidup.Sungguh Allah SWT Maha Mengetahui , Maha Bijaksana Dan Maha Pembuat Makar..Pembantu Jokowi Ngebocorin Apa Itu Vaksin Sinovak....!!"
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Jamilha Amar yang memuat klaim keliru terkait vaksin Covid-19 Sinovac.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, dalam acara televisi Mata Najwa, Menteri BUMN Erick Thohir memang sempat menyinggung soal sistem barcode. Namun, sistembarcodeyang dimaksud Erick bukanchipyang dimasukkan ke dalam tubuh orang yang divaksin. Sistembarcodetersebut terpasang di botol dan kemasan vaksin Covid-19 untuk melacak distribusi vaksin, apakah tepat sasaran dan diberikan kepada orang yang sesuai.
Pernyataan Erick Thohir tersebut dilontarkan dalam acara televisi Mata Najwa yang tayang pada 14 Januari 2021. Menurut Erick, sejak awal, Bio Farma telah memberikanbarcodedi botol dan kemasan vaksin Sinovac, sehingga setiap botol vaksin akan terlacak penerimanya. Demikian juga saat distribusi ke daerah, truk pengirim vaksin bisa dilacak. “Truk-truknya akan terlihat, nomor mobilnya apa, ada kejadian apa, kita lakukan apa,” katanya.
Barcodetersebut menjadi salah satu bagian dari perbaikan sistemdatabasevaksin nasional. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengatakan, denganbarcode tersebut, vaksin dapat dicegah untuk tidak disuntikkan kepada orang yang belum seharusnya disuntik.
"Kita dibantu Pak Menteri BUMN, semua viral vaksin adabarcodeuntukdealingdengan siapa yang disuntik, jadione by oneketahuan. Tetesan-tetesan vaksin yang mungkin tadinya mau dipakai jadi tetesan nafkah para koruptor mudah-mudahan bisa dikurangi karena semua sudah terintegrasi lewat IT sejak awal pemaketan kita bisatrackbarangnya ke mana," kata Budi.
Sistem layanan vaksinasi ini disiapkan oleh PT Bio Farma bersama PT Telkom. Mereka menggunakan teknologitrack and traceberupa2D barcodepada kemasan vaksin Covid-19 yang dilakukan saat proses pengemasan produk. Aplikasi teknologi itu untuk memastikan produk asli, sekaligus mengendalikan stok. Selain itu, menampilkan informasi detail tanggal kedaluwarsa, nomorbatch, dan nomor serial produk ketikabarcodedipindai bagi pengguna.“Pemasangan teknologitrack and trace, dalam bentukbarcodeyang dapat dipindai, dipasang pada kemasan primer (vial), sekunder (dus kemasan) maupun tersier hingga truk pengantar," kata Direktur Digital Health Care PT Bio Farma, Soleh Udin Al Ayubi, yang akrab disapa Ayub, pada 2 Desember 2020.
Ayub mengatakan, infrastruktur digital tersebut juga dikembangkan untuk mengawasi vaksin saat proses distribusi. Salah satunya dengan menyematkan Freeze Tag, untuk memastikan suhu vaksin tetap berada antara 2-8 derajat Celsius saat proses pengiriman berlangsung.
Selain itu, teknologiGlobal Positioning System(GPS) digunakan untuk memindai posisi pengantaran vaksin, dan memantau suhu vaksin selama perjalanan berlangsung secarareal-timedaricommand centeryang berada di PT Bio Farma.
Hoaks microchip
Narasi tentang penanamanmicrochipdengan vaksin Covid-19 telah beredar sejak September 2020 lalu. Penanamanmicrochipke tubuh manusia lewat vaksin adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dikutip dari Science20, kebanyakanmicrochipRFID (Radio Frequency Identification) terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam jarum berukuran normal yang digunakan untuk vaksin. Mungkin saja membuatchipdengan ukuran yang lebih kecil, tapi tidak berguna apabila tidak memiliki antena sebagai penerima sinyal.
Sebuah chip harus memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mengambil daya dari gelombang mikro, yang kemudian mengirim kembali sinyal yang cukup kuat sehingga bisa diterima oleh penerima.ChipRFID terkecil yang tersedia secara komersial, lengkap dengan antenanya, hanya dapat terbaca dari jarak milimeter. SementarachipRFID terkecil yang tidak tersedia secara komersial hanya dapat terbaca dari jarak mikron.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin Sinovac dipasangi GPS atauchipuntuk mengetahui keberadaan orang yang telah divaksin, keliru. Sistembarcodememang diadopsi dalam program vaksinasi Covid-19. Namun,barcodetersebut dipasang di botol dan kemasan vaksin, bukan dimasukkan ke tubuh orang yang divaksin, sehingga tidak mungkin melacak keberadaan orang tersebut. Fungsibarcodeini untuk melacak agar vaksin diberikan kepada orang yang sesuai.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-sinovac
- https://archive.vn/NNXfK
- https://www.tempo.co/tag/barcode
- https://www.youtube.com/watch?v=hUKnXEXGLd0
- https://bisnis.tempo.co/read/1421390/erick-thohir-setiap-vaksin-covid-19-punya-barcode-sesuai-pasien-yang-disuntik?page_num=2
- https://tekno.tempo.co/read/1410958/bio-farma-siapkan-teknologi-cegah-penimbunan-dan-pemalsuan-vaksin-covid-19/full&view=ok
- https://www.tempo.co/tag/bio-farma
- https://www.science20.com/robert_walker/no_bill_gates_does_not_want_to_inject_us_all_with_a_microchip_in_a_vaccine_fails_basic_fact_check-250358
- https://www.tempo.co/tag/chip
(GFD-2021-6143) [SALAH] Video Bill Gates Rapat dengan CIA Mengenai Vaksin Pada Tahun 2005
Sumber: facebook.comTanggal publish: 20/01/2021
Berita
“Everyone needs to listen to this!
Bill Gates briefing the CIA back in 2005 on how he has created a plan to suppress certain genes in humans by way of vaccines. “We will need to create a respiratory virus in order to get the vaccine out.” Guys. Seriously. Don’t be fooled by the government.
& Do not get the vaccine”.
Terjemahan Narasi:
“Semua orang perlu mendengarkan ini!
Bill Gates memberi tahu CIA pada tahun 2005 tentang bagaimana dia telah membuat rencana untuk menekan gen tertentu pada manusia melalui vaksin. “Kami perlu membuat virus di saluran pernapasan untuk mendistribusikan vaksin.” Kawan. Sungguh. Jangan tertipu oleh pemerintah.
& Jangan divaksin”.
Bill Gates briefing the CIA back in 2005 on how he has created a plan to suppress certain genes in humans by way of vaccines. “We will need to create a respiratory virus in order to get the vaccine out.” Guys. Seriously. Don’t be fooled by the government.
& Do not get the vaccine”.
Terjemahan Narasi:
“Semua orang perlu mendengarkan ini!
Bill Gates memberi tahu CIA pada tahun 2005 tentang bagaimana dia telah membuat rencana untuk menekan gen tertentu pada manusia melalui vaksin. “Kami perlu membuat virus di saluran pernapasan untuk mendistribusikan vaksin.” Kawan. Sungguh. Jangan tertipu oleh pemerintah.
& Jangan divaksin”.
Hasil Cek Fakta
Beredar video di media sosial berupa seorang pria yang tengah presentasi tentang program vaksin. Narasi yang beredar menyebutkan pria dalam video adalah Bill Gates. Selain itu video juga menampilkan beberapa gambar tentang vaksin yang dapat mengendalikan pikiran manusia.
Dari hasil penelusuran diketahui klaim tersebut tidak benar. Video telah beredar sejak 2011 lalu dengan klaim yang menyerang pihak CIA. Presenter dalam video bukan Bill Gates, begitu pula dengan video presentasi pada CIA yang juga tidak asli. Juru bicara Bill & Melinda Gates Foundation mengonfirmasi kepada Reuters.com pada 14 Mei 2020 melalui email bahwa video tersebut tidak menampilkan Bill Gates.
Sementara video itu sendiri merupakan promosi untuk film berjudul ‘FunVax’, sebuah film dokumenter pada tahun 2011 yang gagal diproduksi oleh sutradara Ryan Harper. Film ini gagal diproduksi karena kekurangan dana dan dibiarkan begitu saja, namun promosinya sudah beredar di internet secara diam-diam.
Sejak beredar pada tahun 2011, telah banyak media yang memeriksa kebenaran dari video ini. Terlebih setelah video memperlihatkan gambar dua otak manusia yang berbeda dengan klaim “itu adalah otak religius dan non-religius” sebenarnya adalah gambar yang sama dari seorang pecandu sabu berusia 43 tahun, gambar tersebut diambil dari artikel ilmiah di Neurology.org edisi Desember 2010. Foto telah disunting dengan memberi efek berwarna merah dan kuning.
“Gambar hasil photoshop dari artikel tahun 2010 yang tidak terkait dengan video”, diterjemahkan dari situs metabunk 01 Desember 2010.
Dari penelusuran di atas, video tersebut merupakan bagian dari promosi film berjudul “FunVax,” dan presenter dalam video bukan Bill Gates, namun aktor yang berperan sebagai presenter. Sehingga status tersebut masuk kategori Konten yang Menyesatkan.
Dari hasil penelusuran diketahui klaim tersebut tidak benar. Video telah beredar sejak 2011 lalu dengan klaim yang menyerang pihak CIA. Presenter dalam video bukan Bill Gates, begitu pula dengan video presentasi pada CIA yang juga tidak asli. Juru bicara Bill & Melinda Gates Foundation mengonfirmasi kepada Reuters.com pada 14 Mei 2020 melalui email bahwa video tersebut tidak menampilkan Bill Gates.
Sementara video itu sendiri merupakan promosi untuk film berjudul ‘FunVax’, sebuah film dokumenter pada tahun 2011 yang gagal diproduksi oleh sutradara Ryan Harper. Film ini gagal diproduksi karena kekurangan dana dan dibiarkan begitu saja, namun promosinya sudah beredar di internet secara diam-diam.
Sejak beredar pada tahun 2011, telah banyak media yang memeriksa kebenaran dari video ini. Terlebih setelah video memperlihatkan gambar dua otak manusia yang berbeda dengan klaim “itu adalah otak religius dan non-religius” sebenarnya adalah gambar yang sama dari seorang pecandu sabu berusia 43 tahun, gambar tersebut diambil dari artikel ilmiah di Neurology.org edisi Desember 2010. Foto telah disunting dengan memberi efek berwarna merah dan kuning.
“Gambar hasil photoshop dari artikel tahun 2010 yang tidak terkait dengan video”, diterjemahkan dari situs metabunk 01 Desember 2010.
Dari penelusuran di atas, video tersebut merupakan bagian dari promosi film berjudul “FunVax,” dan presenter dalam video bukan Bill Gates, namun aktor yang berperan sebagai presenter. Sehingga status tersebut masuk kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Rizqi Abdul Azis (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia).
Bukan Bill Gates. Video tersebut merupakan promosi film berjudul “FunVax” yang gagal digarap pada tahun 2011 oleh sutradara bernama Ryan Harper. Foto hasil rontgen otak dalam video diambil dari studi pada tahun 2010 tentang seorang wanita berusia 43 tahun dengan riwayat penyalahgunaan metamfetamin (sabu-sabu).
Bukan Bill Gates. Video tersebut merupakan promosi film berjudul “FunVax” yang gagal digarap pada tahun 2011 oleh sutradara bernama Ryan Harper. Foto hasil rontgen otak dalam video diambil dari studi pada tahun 2010 tentang seorang wanita berusia 43 tahun dengan riwayat penyalahgunaan metamfetamin (sabu-sabu).
(GFD-2021-8459) Keliru, Jenazah Korban Gempa Mamuju Dibungkus Daun Pisang Karena Tak Ada Kain Kafan
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 19/01/2021
Berita
Foto yang diklaim sebagai foto jenazah korban gempa Mamuju, Sulawesi Barat, yang dibungkus daun pisang karena tidak ada kain kafan beredar di media sosial. Dalam foto itu, terlihat sejumlah orang yang sedang menjalankan salat di depan lima jenazah yang terbalut dengan kain berwarna hijau. Di atas jenazah-jenazah itu, diletakkan pula kain sarung untuk menutupi.
Di Facebook, foto tersebut diunggah salah satunya oleh akun Vety Harteni E pada 16 Januari 2021. Akun ini pun menulis narasi, “#Innalillahi wa innalillahi rojiun ** Ya Rabb ,,, Tak ada kain kafan jenazah korban gempa Mamuju di bungkus daun pisang ,,,, ** Separah inikah penanganan bencana wahai para pengusa ,,,”
Foto itu beredar tak lama setelah terjadinya gempa Mamuju - Mejene di Sulawesi Barat dengan magnitudo 6,2 pada 15 Januari 2021 dini hari. Gempa mengakibatkan sejumlah bangunan rusak, seperti Kantor Gubernur Sulawesi Barat, Maleo Town Square, dan Rumah Sakit Mitra Manakarra. Sebanyak 84 orang meninggal akibat gempa Majene - Mamuju tersebut.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Vety Harteni E yang memuat klaim keliru terkait jenazah korban gempa Mamuju, Sulawesi Barat.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto tersebut denganreverse image toolSource, Yandex, dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa lima jenazah itu memang merupakan korban gempa Mamuju, Sulawesi Barat, pada 15 Januari 2021. Namun, jenazah-jenazah ini tidak dibungkus daun pisang, melainkan plastik berwarna hijau untuk melapisi kain kafan, agar jenazah tidak basah saat terkena air.
Foto yang sama pernah diunggah oleh akun Instagram organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT), @actforhumanity, pada 16 Januari 2021. Menurut ACT, berdasarkan informasi dari warga Mamuju, bungkus berwarna hijau yang menyelimuti lima jenazah tersebut bukan daun pisang, melainkan plastik. "Plastik ini digunakan oleh warga Mamuju khususnya, untuk mencegah basah karena terkena air," demikian penjelasan ACT.
Dilansir dari situs media lokal Sulawesi Selatan, Berita Sidrap, kerabat korban gempa tersebut mengatakan bahwa lima jenazah itu telah dibungkus kain kafan. Hanya saja, bagian luar jenazah juga ditutupi terpal berwarnah hijau, yang mana mirip dengan daun pisang. “Stop maki yang sebarkan berita hoaks bahwa temanku dibungkus daun pisang, kasihani keluarga, kerabat, dan teman-temannya yang sedang berduka,” kata Vivi, rekan korban.
“Sekali lagi, almarhumah Hajah Kiki, Hajah Ririn, Hajah Atty, dan yang lainnya tidak dibungkus daun pisang, tapi terpal warna hijau yang didalamnya tetap memakai kain kafan, jenazah dimakamkan dengan sangat layak oleh keluarga,” ujarnya. Menurut Berita Sidrap, korban yang meninggal itu adalah satu keluarga yang tertimpa reruntuhan rumah saat gempa dengan magnitudo 6,2 terjadi di Mamuju pada 15 Januari 2021 dini hari.
Foto prosesi salat jenazah terhadap lima korban gempa Mamuju tersebut juga pernah dimuat oleh Tribun Timur pada 16 Januari 2021 dalam beritanya yang berjudul “Satu Keluarga Terjebak Reruntuhan Bangunan Saat Gempa di Mamuju, Lima Orang Meninggal”. Menurut Tribun Timur, lima jenazah tersebut merupakan anak dan cucu dari keluarga Haji Sabar, warga Jalan Monginsidi, Mamuju.
Keluarga tersebut terjebak reruntuhan bangunan rumah saat gempa mengguncang Mamuju dan Majene pada 15 Januari 2021 dini hari. Saat ditemukan, lima orang sudah meninggal. Sementara tiga orang lainnya berhasil selamat, termasuk Sabar, meski mengalami luka-luka. Jenazah kelima korban tersebut dikebumikan pada 16 Januari 2021.
Peristiwa tersebut juga diberitakan oleh Kumparan. Menurut Muhammad Basri, salah satu pihak keluarga Sabar, sebanyak delapan orang tengah berada di rumah Sabar yang berlantai tiga tersebut saat gempa Mamuju terjadi pada 15 Januari 2021. Dua orang berhasil menyelamatkan diri, sementara enam orang lainnya terjebak di dalam rumah. "Haji Sabar selamat saat evakuasi, sementara lima anggota keluarga lainnya dievakuasi dalam kondisi meninggal," kata Basri.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa jenazah korban gempa Mamuju dalam foto tersebut dibungkus daun pisang karena tidak ada kain kafan, keliru. Lima jenazah korban gempa Mamuju dalam foto tersebut bukan dibungkus daun pisang, melainkan plastik berwarna hijau untuk melapisi kain kafan. Hal tersebut sengaja dilakukan agar jenazah tidak basah saat terkena air.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/gempa-mamuju
- https://archive.vn/JDKEh
- https://www.tempo.co/tag/gempa-majene
- https://www.tempo.co/tag/sulawesi-barat
- https://bit.ly/2XTWxHu
- https://beritasidrap.com/read/16864/hoaks-jenazah-korban-gempa-sulbar-dibungkus-daun-pisang
- https://www.tempo.co/tag/gempa
- https://bit.ly/3o1vrJu
- https://www.tempo.co/tag/majene
- https://bit.ly/3iqx1U4
- https://www.tempo.co/tag/mamuju
Halaman: 6845/7945



