• (GFD-2021-6821) [SALAH] Versi Baru WhatsApp dengan Warna Merah Muda

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 28/04/2021

    Berita

    Beredar sebuah tautan melalui pesan berantai di WhatsApp mengenai peluncuran versi baru WhatsApp. Dalam tautan tersebut, WhatsApp disebut sudah meluncurkan versi baru WhatsApp dengan warna merah muda. Pengguna dapat mengunduh aplikasi melalui tautan yang disediakan.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, aplikasi tersebut adalah palsu. Peneliti keamanan siber asal India, Rajshekhar Rajaharia menyatakan bahwa aplikasi tersebut adalah malware yang mampu mengambil alih akses ponsel pengguna. Melansir dari Gadgets360, WhatsApp telah menegaskan bahwa pihaknya tidak meluncurkan versi baru WhatsApp dengan warna merah muda. Pihak WhatsApp juga meminta pengguna untuk hanya mengunduh aplikasi resmi yang tersedia di Play Store dan App Store.

    Dengan demikian, tautan melalui pesan berantai di WhatsApp mengenai peluncuran versi baru WhatsApp tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten Tiruan/Imposter Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
    Aplikasi tersebut adalah palsu. WhatsApp telah menegaskan bahwa pihaknya tidak meluncurkan versi baru WhatsApp dengan warna merah muda.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6822) [SALAH] Video Tabrakan Mobil Wamenhan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta

    Sumber: Youtube.com
    Tanggal publish: 28/04/2021

    Berita

    Beredar di Youtube video yang diklaim sebagai video kecelakaan lalu lintas antara mobil Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI) dengan Asisten Logistik (Aslog) TNI AU dan motor patroli dan pengawalan (Patwal) di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
    Narasi:
    “TABRAKAN Mobil Wamenhan RI & Aslog TNI AU plus motor patwal di Terminal 3 SoeTa.”

    Hasil Cek Fakta

    Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa mobil yang tertabrak bukanlah mobil milik Wamenhan. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Terminal 3 Bandara Soetta terjadi antara sebuah mobil Camry dengan sejumlah kendaraan dinas Lemhanas, Patwal, dan Kemenkumham.

    “Mobil yang ditabrak lagi parkir, mobil patwal, mobil dinas Lemhanas, Kemkumham itu lagi parkir. Dia (pelaku) mau parkir juga akhirnya keserempet. Kena mobilnya dua, motornya satu,” kata Kasat Lantas Polres Bandara Soetta Mokhamad Sigit Prabowo (24/04/2021).

    Sigit menjelaskan kejadian itu berlangsung sekitar pukul 07.00 WIB. Penabrak itu diduga mengantuk saat mengejar jadwal keberangkatan pesawat. Dari kecelakaan itu, tidak terdapat korban luka, melainkan hanya kerugian materiil.

    “Iya dia itu buru-buru mungkin ngantuk ya, kerugian hanya materi saja. Jadi dia mau pergi itu takut ketinggalan pesawat, intinya buru-buru dia,” kata Sigit.

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka klaim bahwa mobil Wamenhan RI terlibat kecelakaan lalu lintas di Terminal 3 Bandara Soetta tidak benar dan masuk ke dalam kategori Konten yang Salah.

    Kesimpulan

    Bukan mobil Wamenhan yang ditabrak. “Mobil yang ditabrak lagi parkir, mobil patwal, mobil dinas Lemhanas, Kemkumham itu lagi parkir. Dia (pelaku) mau parkir juga akhirnya keserempet. Kena mobilnya dua, motornya satu,” kata Kasat Lantas Polres Bandara Soetta Mokhamad Sigit Prabowo.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8602) Sesat, Rudal Cina di Balik Tenggelamnya KRI Nanggala 402

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/04/2021

    Berita


    KLAIM
    Sejumlah konten di internet yang mengklaim bahwa rudal Cina berada di balik tenggelamnya KRI Nanggala 402 beredar dalam beberapa hari terakhir. Konten-konten ini menyebar setelah, pada 21 April 2021, kapal selam itu hilang kontak saat mengikuti latihan tempur di perairan Bali, lalu dinyatakan tenggelam ke dasar laut. Badan kapal diduga remuk dan terpisah menjadi tiga bagian. Sebanyak 53 awak Nanggala juga dinyatakan gugur dalam peristiwa ini.
    Konten pertama berupa video di YouTube berjudul "Menhan Bongkar Dalang Hilangnya Kapal Nanggala 402" yang diunggah pada 24 April 2021. Di awal video, disebutkan bahwa ada peran rudal maut Cina dalam tenggelamnya KRI Nanggala. Menurut video itu, rudal asal Cina C802 yang akan digunakan dalam latihan tempur di perairan Bali tersebut merupakan rudal anti kapal tercanggih di dunia yang dikembangkan sejak 1989.
    Situs Eramuslim juga mempublikasikan artikel berjudul "Fakta Mengerikan Rudal China Dibalik Tenggelamnya KRI Nanggala 402" pada 26 April 2021. Artikel ini mengutip penjelasan dari Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono terkait latihan penembakan dengan rudal C802 serta Panglima Komandi Armada II Laksamana Madya TNI Sudihartawan, juga terkait rudal tersebut.
    Gambar tangkapan layar unggahan di YouTube yang berisi klaim sesat terkait tenggelamnya kapal selam milik TNI Angkatan Laut, KRI Nanggala 402.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan pemeriksaan terhadap isi video di YouTube dan artikel di situs Eramuslim tersebut, rudal buatan Cina itu, rudal C802, bukan penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402. TNI AL telah menggunakan rudal tersebut sejak latihan gabungan TNI pada 2008. KRI Nanggala pun diketahui hilang kontak sebelum latihan tempur ketika itu sempat menembakkan rudal C802.
    Dalam video tersebut, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto tidak menyebut bahwa rudal asal Cina C802 sebagai dalang hilangnya KRI Nanggala. Pernyataan Prabowo terdapat pada menit 5:15 yang dibacakan oleh narator. Prabowo menyebut bahwa hilangnya KRI Nanggala 402 adalah bukti sulitnya perjuangan menjaga NKRI. Prabowo juga mengatakan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI perlu dimodernisasi.
    "Semenjak insiden peristiwa tenggelamnya kapal selam Nanggala, ia berniat mempercepat peremajaan alutsista. 'Kita memang perlu meremajakan alutsista kita. Banyak alutsista yang memang karena keterpaksaan dan karena kita utamakan pembangunan kesejahteraan. Kita belum modernisasi lebih cepat, tapi sekarang karena mendesak kita harus modernisasi alutsista kita lebih cepat lagi,' begitulah imbuh Prabowo. Lebih lanjut Prabowo menyebut akan meremajakan alutsista di darat, laut, maupun udara," kata narator.
    Dalam video tersebut, tidak ada pernyataan bahwa Prabowo membongkar dalang hilangnya KRI Nanggala. Ia juga tidak menyinggung tentang rudal maut Cina C802. Terkait artikel di situs Eramuslim, juga disebutkan bahwa penembakan rudal itu belum terlaksana, karena seluruh armada yang dilibatkan dalam latihan tempur tersebut sedang dikerahkan untuk melakukan pencarian dan pertolongan terhadap KRI Nanggala.
    Dikutip dari Koran Tempo edisi 25 April 2021, KRI Nanggala 402 hilang kontak saat geladi resik latihan penembakan torpedo pada 21 April dini hari. Kapal selam berjenis U-209 bikinan Jerman Barat pada 1978 itu sudah berlayar di perairan utara Pulau Bali sejak 20 April lalu. Kapal tersebut bersiap menggelar latihan perang rutin yang akan dihelat dua hari berikutnya.
    Sesuai dengan rencana geladi resik latihan perang, KRI Nanggala akan menembakkan torpedo berukuran 21 inci. Lalu, KRI Layang akan meluncurkan peluru kendali C802. Target keduanya sama, yaitu bekas KRI Karang Unarang. Geladi latihan itu dimulai pada 21 April pukul 03.00 Wita. Saat itu, KRI Nanggala meminta izin menyelam dengan kedalaman 13 meter dan bersiap menembakkan torpedo.
    Selama satu jam, para awaksea rider dan otoritas latihan menunggu lesatan torpedo, tapi tak juga muncul. Suasana semakin mencekam saat komunikasi radio dengan KRI Nanggala terputus. Padahal, kru KRI Nanggala seharusnya lebih dulu berkomunikasi di radio untuk meminta izin penembakan torpedo. "Dipanggil-panggil sudah tidak merespons. Jalur komunikasi utama dan jalur cadangan terputus," kata Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Yudo Margono.
    Peluru kendali C802 sudah lama digunakan oleh TNI AL. Dikutip dari kantor berita Antara, uji coba rudal C802 telah dilakukan dalam latihan gabungan TNI pada 2008. Indonesia memiliki empat rudal C802. Rudal ini adalah rudal anti kapal permukaan buatan Cina yang diperkenalkan oleh produsennya, China Haiying Electro-Mechanical Technology Academy, pada 1989.
    Rudal C802 juga dikenal sebagai rudal yang memiliki kemampuan untuk menghindar dari radar musuh karena, selain dilengkapi perangkat anti-jamming yang terpasang pada peralatan pemandunya, rudal ini mempunyai kemampuan terbang rendah (sea skimming) pada awal diluncurkan, yakni 20-30 meter, dan turun menjadi 5-7 meter saat akan mendekati sasaran.
    Dikutip dari situs Indomiliter, debut pertama rudal C802 ditampilkan TNI AL dalam latihan gabungan TNI pada 2008. Dalam ajang latihan tersebut, rudal C802 dipasang pada KRI Layang 805, tipe kapal FPB (fast patrol boat) 57 buatan PT PAL.
    Hingga saat ini, penyebab tenggelamnya KRI Nanggala masih diinvestigasi. Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Yudo Margono, dalam konferensi pers pada 25 April 2021, mengatakan bahwa investigasi baru bisa dilakukan setelah badan kapal berhasil diangkat ke permukaan. Namun, hal ini juga bukan hal yang mudah, karena lokasi tenggelamnya kapal berada di laut dalam.
    Meski begitu, Yudo masih meyakini tenggelamnya KRI Nanggala 402 bukan dikarenakan kesalahan manusia atau human error. Ia menyebut, sesaat sebelum hilang kontak, seluruh peralatan kapal selam itu terpantau berfungsi dengan baik. Saat proses menyelam, kata Yudo, KRI Nanggala 402 sudah melalui prosedur yang benar.
    Kru pun terpantau menjalankan perannya sesuai tugas masing-masing. Saat mulai menyelam pun diketahui semua lampu masih menyala, yang berarti tidak terjadi blackout. "Sudah kita evaluasi dari awal kejadian, tapi tentunya saya berkeyakinan ini bukan human error tapi lebih pada faktor alam," kata Yudo.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa rudal asal Cina merupakan dalang tenggelamnya KRI Nanggala 402, menyesatkan. Adanya rudal C802 buatan Cina dalam kapal selam itu bukanlah penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402. KRI Nanggala 402 hilang kontak sebelum rudal tersebut sempat ditembakkan. Hingga kini, penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402 yang membawa 53 awak itu masih diinvestigasi oleh TNI AL.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8603) Benar, Klaim Ini Video Tumpukan Jenazah Covid-19 yang Penuhi RS di India

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/04/2021

    Berita


    Video yang memperlihatkan kantong-kantong jenazah yang memenuhi sebuah rumah sakit beredar di media sosial. Dalam video itu, terlihat beberapa petugas dengan alat pelindung diri (APD) lengkap. Video ini diklaim menunjukkan tumpukan jenazah korban Covid-19 di India. Video itu beredar di tengah "tsunami Covid" di India karena melonjaknya kasus infeksi virus Corona di sana.
    Di Instagram, video berdurasi 38 detik tersebut dibagikan oleh akun ini pada 23 April 2021. Akun itu pun menulis, "India baru saja memecahkan rekor harian covid19 sebanyak 300K lebih jiwa yg terpapar dalam satu hari. Bahkan 2.000 nyawa meninggal dalam sehari. Sehingga ibukota New Delhi, India mengalami krisis Oksigen beberapa hari belakangan."
    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi video yang memperlihatkan tumpukan jenazah Covid-19 di sebuah rumah sakit di India.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Lalu, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwa video tersebut direkam di Dr. Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital, Raipur, Chhattisgarh, India. Rumah sakit ini kewalahan karena lonjakan jumlah kematian akibat infeksi virus Corona per hari sehingga kehabisan ruang untuk menyimpan jenazah.
    Video tersebut pernah diunggah ke Twitter oleh akun @VickyKedia pada 13 April 2021. Akun ini menulis, "Dr Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital di Raipur, Chhattisgarh, telah kehabisan ruang untuk menyimpan mayat. Mayat ditumpuk di luar gedung rumah sakit. #StaySafe #MaskUpIndia."
    Video yang sama juga pernah diunggah oleh akun @brajeshabpnews, akun  Twitter milik jurnalis media India ABP News, Brajesh Rajput, pada tanggal yang sama. Dia menulis, "Video di rumah sakit Raipur ini akan membuat merinding. Tempat penyimpanan jenazah yang meninggal karena #Corona sangat sedikit di rumah sakit. Siapa yang bertanggung jawab atas kengerian ini, para pemimpin kami diam."
    Gambar-gambar tangkapan layar video itu pun pernah dimuat oleh situs media India, India.com, dalam artikelnya pada 13 April 2021. Artikel ini berjudul "Kematian Virus Corona Chhattisgarh: Sebuah pemandangan kematian, gambar-gambar dari rumah sakit terbesar di Chhattisgarh ini menyesakkan".
    Menurut laporan India.com, gambar-gambar tersebut diambil di rumah sakit milik pemerintah terbesar di Raipur, ibukota Chhattisgarh, Dr. Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital. Dalam gambar-gambar itu, terlihat tumpukan jenazah Covid-19 di setiap sisi rumah sakit, dari yang berada di atas tandu hingga yang diletakkan di lantai, akibat kurangnya ruang penyimpanan.
    Dilansir dari situs media India lainnya, NDTV, pihak Dr. Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital mengaku tidak berdaya dengan kondisi ini. Menurut mereka, jenazah pasien Covid-19 menumpuk di kamar mayat lebih cepat daripada yang bisa mereka kremasi. Unit perawatan intensif rumah sakit dan tempat tidur yang dilengkapi oksigen hampir penuh 100 persen selama seminggu terakhir.
    "Tidak ada yang bisa menduga akan ada begitu banyak kematian sekaligus. Kami memiliki ruang pendingin yang cukup untuk jumlah kematian normal. Tapi kami tidak dapat memahami bagaimana tempat yang hanya cukup untuk 1-2 kematian kemudian melaporkan 10-20 kematian. Jika kita bersiap untuk 10-20 kematian, ada 50-60 orang yang meninggal. Bagaimana kita bisa mengatur ruang pendingin untuk begitu banyak orang sekaligus? Bahkan krematorium kewalahan," kata Kepala Petugas Medis dan Kesehatan Raipur, Meera Baghel.
    Menurut sumber resmi, setiap harinya, rata-rata sebanyak 55 jenazah dikremasi di Raipur, dan kebanyakan dari mereka adalah pasien Covid-19. Sementara Chhatisgarh merupakan satu di antara 10 negara bagian yang paling terpukul oleh gelombang kedua Covid-19 di di India. Pada 25 April 2021, Chhatisgarh melaporkan sebanyak 10.521 kasus Covid-19 baru dan 122 kematian.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video itu adalah video tumpukan jenazah  Covid-19 yang memenuhi rumah sakit di India, benar. Video tersebut direkam di Dr. Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital, Raipur, Chhattisgarh, India. Sejak gelombang kedua Covid-19 melanda India, rumah sakit tersebut kewalahan karena lonjakan jumlah kematian per hari sehingga kehabisan ruang untuk menyimpan jenazah.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan