• (GFD-2021-7026) [SALAH] Gubernur Provinsi Papua Meninggal Dunia

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 01/06/2021

    Berita

    “Bapak Gubernur Papua Meninggal Dunia Selamat (emoticon)”

    Hasil Cek Fakta

    Beberapa waktu lalu sempat beredar postingan di salah satu akun facebook bernama Abraham Tabuni yang memposting sebuah video upacara pemakaman militer yang disebutnya sebagai upacara pemakaman atas meninggalnya Gubernur Papua.

    Namun berdasarkan hasil periksa fakta terkait video yang beredar tersebut, ditemukanlah sebuah fakta bahwa informasi mengenai meninggalnya Gubernur Papua sebagaimana dikatakan oleh pemilik salah satu akun facebook tersebut ialah informasi palsu.

    Melansir dari cnnindonesia.com , Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Akmal Malik memastikan bahwa kabar Gubernur Papua, Lukas Enembe meninggal dunia ialah hoax.

    Selain itu, Akmal Malik juga menegaskan bahwa, Gubernur Papua, Lukas Enembe pada saat ini hanya sedang menjalani operasi di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Bahkan Juru Bicara Gubernur Papua, Rifai Darus juga telah menggelar jumpa pers untuk mengklarifikasi informasi tersebut.

    Atas dasar tersebut, maka melansir dari kompas.com , Rifai Darus mengatakan bahwa pada saat ini Pemerintah Provinisi Papua sedang mengumpulkan data dan akan melaporkan kasus atas penyebaran kabar hoax tersebut ke polisi.

    Selanjutnya, Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri juga telah memerintahkan Direktorat Kriminal Khusus mengejar pelaku yang menyebarkan informasi palsu tersebut karena dianggap telah meresahkan masyarakat.

    Fakhiri juga menegaskan kembali bahwa apabila terjadi sesuatu dengan Gubernur Papua, maka ia akan mendapat kabar lebih dulu dibandingkan para awak media ataupun masyarakat umum.

    Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait meninggalnya Gubernur Papua, Lukas Enembe ialah informasi salah atau kategori konten yang salah.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta).

    Informasi yang salah. Faktanya Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Akmal Malik memastikan kabar Gubernur Papua Lukas Enembe meninggal dunia adalah hoaks.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8642) Keliru, Anak-anak Kebal terhadap Virus Corona dan yang Meninggal Tak Ada Kaitannya dengan Covid-19

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 01/06/2021

    Berita


    Video pendek yang berisi klaim bahwa anak-anak kebal terhadap virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, beredar di Instagram. Menurut perempuan dalam video itu, yang mengklaim dirinya sebagai peneliti, anak-anak yang meninggal dalam setahun terakhir juga tidak terkait dengan Covid-19. Video tersebut juga mempromosikan agar publik menolak vaksin Covid-19 karena dianggap sebagai genosida.
    "Masihkah vaksin harus dipaksakan untuk masyarakat? Harus berapa banyak anak-anak mati karena vaksin dan membuat pemerintah sadar bahwa vaksin harus dihentikan?" demikian teks yang tertulis dalam video itu.
    Sementara perempuan dalam video tersebut berkata, "Virus ini tidak berpengaruh terhadap anak-anak. Mereka kebal terhadap virus ini. Dua ratus lebih anak meninggal dalam setahun, dan tidak ada hubungannya dengan dengan Covid-19. Hanya karena 200 lebih anak meninggal, kalian ingin menyuntikkan vaksin kepada anak-anak yang lain? Akuilah bahwa ini merupakan sebuah pembunuhan besar-besaran, genosida."
    Akun ini membagikan video tersebut pada 30 Mei 2021. Akun itu menulis, "Masihkah kita mau dipermainkan, dijadikan kelinci percobaan, manggut-manggut aja disuruh ini-itu. Kita ini manusia berakal, bukan kawanan hewan ternak."
    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi video dengan klaim keliru terkait penularan Covid-19 terhadap anak-anak.

    Hasil Cek Fakta


    Klaim 1: Anak-anak kebal terhadap virus Corona dan yang meninggal tidak ada kaitannya dengan Covid-19
    Fakta:
    Data kasus di beberapa negara menunjukkan bahwa anak-anak tidak kebal terhadap Covid-19. Dilansir dari NPR, menurut American Academy of Pediatrics (AAP), jumlah anak-anak yang terinfeksi Covid-19 di beberapa negara bagian di Amerika Serikat baru-baru ini mencapai 22,4 persen, lebih tinggi dibandingkan pada 2020 saat pandemi baru terjadi, yakni sebesar 3 persen.
    Jumlah anak yang positif Covid-19 tersebut mencapai 71.649 orang dari 319.601 kasus per 29 April 2021. Diduga, salah satu penyebab meningkatnya kasus pada anak-anak adalah adanya varian baru virus Corona yang menyebar, B117, yang menjadi dominan di banyak negara dan lebih mudah menular.
    Di Brasil, meskipun awalnya Covid-19 dinilai jarang menyebabkan anak-anak yang tertular penyakit ini meninggal, ternyata ada 1.300 bayi yang meninggal karena penyakit tersebut, seperti yang dilaporkan oleh BBC pada 15 April 2021.
    Anak-anak di Indonesia pun juga tertular Covid-19. Jumlah anak-anak di Indonesia yang positif Covid-19 hingga 20 Desember 2020 mencapai 74.249 orang. Sedangkan data klaster sekolah atau pesantren sudah mencapai 3.711 kasus dan tersebar di berbagai provinsi.
    Menurut Johns Hopkins Medicine, meskipun Covid-19 pada anak-anak biasanya lebih ringan ketimbang pada orang dewasa, beberapa anak bisa mengalami sakit yang parah dan komplikasi atau gejala jangka panjang yang mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Virus ini dapat menyebabkan kematian pada anak-anak meskipun lebih jarang ketimbang pada orang dewasa.
    Klaim 2: Vaksinasi Covid-19 pada anak-anak bertujuan untuk genosida
    Fakta:
    Dilansir dari Johns Hopkins Medicine, vaksin Covid-19 telah melalui prosedur keamanan yang sangat ketat. Berdasarkan hasil pemberian vaksin Covid-19 Pfizer untuk anak-anak di AS, efek samping suntikan antara anak-anak dan orang dewasa sama. Anak-anak akan merasakan sakit di lokasi suntikan, dan lebih lelah dari biasanya. Sakit kepala, nyeri otot atau persendian, bahkan demam dan kedinginan juga mungkin terjadi. Efek samping ini bersifat sementara dan bakal hilang dalam waktu 48 jam.
    Selama ini, vaksinasi telah terbukti mencegah banyak kematian pada anak-anak akibat berbagai penyakit. Dikutip dari Unicef, pada abad ke-20, lebih dari 5,2 miliar orang meninggal, di mana 1,7 miliar orang di antaranya meninggal karena penyakit menular, seperti difteri (0,76 juta), hepatitis B (12,7 juta), campak (96,7 juta), meningitis (21,9 juta), polio (0,13 juta), cacar (400 juta), tetanus (37,1 juta), dan batuk rejan (38,1 juta).
    Vaksinasi sangat aman dan efektif. Vaksin hanya diberikan kepada anak-anak setelah melalui tinjauan yang panjang dan cermat oleh ilmuwan, dokter, dan profesional kesehatan. Vaksin akan menimbulkan ketidaknyamanan dan dapat menyebabkan rasa sakit, kemerahan, atau nyeri di tempat suntikan. Tapi ini minimal dibandingkan dengan rasa sakit, ketidaknyamanan, dan trauma akibat penyakit yang dicegah oleh vaksin. Efek samping yang serius usai vaksinasi, seperti reaksi alergi yang parah, sangat jarang terjadi.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa anak-anak kebal terhadap virus Corona dan yang meninggal tidak ada kaitannya dengan Covid-19, keliru. Di AS, jumlah anak yang positif Covid-19 mencapai 71.649 orang per 29 April 2021. Sementara di di Indonesia, jumlah anak yang terinfeksi Covid-19 hingga 20 Desember 2020 mencapai 74.249 orang. Terkait anak-anak yang meninggal akibat Covid-19, di Brasil, terdapat 1.300 bayi yang meninggal karena penyakit tersebut.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8643) Keliru, Klaim Ini Video Pembakaran Bendera Israel oleh Rakyatnya Sendiri karena Konflik dengan Palestina

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 01/06/2021

    Berita


    Sebuah video yang memperlihatkan sekelompok orang menggelar aksi protes dengan membakar bendera Israel beredar di Facebook. Sejumlah pria dalam video itu tampak mengenakan pakaian yang biasa digunakan oleh umat Yahudi. Video ini diklaim sebagai video pembakaran bendera Israel oleh rakyatnya sendiri akibat berkonflik dengan Palestina.
    Video tersebut dibagikan oleh akun ini pada 21 Mei 2021. Akun itu pun menulis, “BENDERA ISR4HELL. DI BAKAR RAKYATNYA SENDIRI. APA KABAR Y4Hud1 PESEK. Sepertinya gak bakal cair ini dananya.” Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dengan 500 reaksi dan telah ditonton lebih dari 11 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait video yang diunggahnya. Video itu tidak terkait dengan konflik antara Israel dan Palestina.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula mengambil gambar tangkapan layar video itu. Lalu, gambar ini ditelusuri denganreverse image toolGoogle dan Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa video itu telah beredar sejak pertengahan 2019 lalu dan tidak terkait dengan memanasnya konflik antara Israel dan Palestina baru-baru ini.
    Video yang identik pernah diunggah oleh situs Ensonhaber.com pada 4 Juli 2019. Video tersebut juga pernah dimuat oleh sejumlah media Turki, seperti Yenisafak dan Gaste24, pada tanggal yang sama. Pembakaran bendera Israel dalam video itu merupakan bagian dari aksi protes umat Yahudi ultra-ortodoks di Israel terkait kematian seorang pemuda Israel keturunan Ethiopia akibat tertembak polisi.
    Dikutip dari LA Times, pemuda Israel keturunan Ethiopia yang meninggal akibat peluru polisi itu bernama Solomon Teka, 18 tahun. Ia tertembak oleh polisi yang sedang tidak bertugas pada 30 Juni 2019 di pinggiran Kiryat Haim di Haifa, Israel bagian utara, saat berkumpul dengan teman-temannya di sebuah taman bermain.
    Dilansir dari CNN, polisi yang menembak Teka kala itu sedang menikmati liburan akhir pekannya bersama istri dan tiga anaknya di taman bermain tersebut. Ketika itu, polisi tersebut melihat beberapa remaja yang memukuli seorang anak laki-laki yang lebih muda. Polisi ini mendatangi mereka dan mencoba untuk menghentikannya, sebelum kemudian melepaskan tembakan yang mengenai Teka.
    Dikutip dari Middle East Eye, peristiwa tersebut memicu gelombang protes komunitas Yahudi Ethiopia di Israel. Ribuan warga Israel-Ethiopia menggelar demonstrasi besar-besaran di seluruh Israel untuk memprotes penembakan polisi terhadap Teka. Aksi protes ini menyebabkan 111 petugas polisi terluka dan ratusan pengunjuk rasa ditahan.
    Presiden Israel Reuven Rivlin bahkan meminta pengunjuk rasa untuk menyudahi aksi protes. Rivlin pun berjanji bahwa pemerintahannya akan bertindak secara bertanggung jawab dan moderat serta bakal memperbaiki kesalahan mereka dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video itu adalah video pembakaran bendera Israel oleh rakyatnya sendiri akibat berkonflik dengan Palestina, keliru. Video tersebut merupakan video lama dan tidak terkait dengan memanasnya konflik antara Israel dan Palestina baru-baru ini. Video itu memperlihatkan aksi protes umat Yahudi ultra-ortodoks di Israel terkait kematian seorang pemuda Israel keturunan Ethiopia akibat tertembak oleh polisi pada pertengahan 2019 lalu.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-7018) [SALAH] Suntikan Vaksin Kosong di Indonesia

    Sumber: instagram.com
    Tanggal publish: 31/05/2021

    Berita

    “Minta pendapat ton, kopid berbahaya ga ton?”
    Suntikan kosong
    Suntik vaksin bohong
    Suntik vaksin kosong

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah video dari media sosial Instagram dengan nama akun Infobanglibali, yang memperlihatkan seorang perawat menyuntikkan vaksin tampa injeksi kepada seorang pasien vaksinasi. Video ini menunjukkan bahwa sang perawat menyuntikkan jarum yang kosong kepada pasien laki-laki tersebut. Video tersebut pun telah dilihat sebanyak 8 ribu kali, dengan berbagai tanggapan di kolom komentar.

    Namun setelah menelusuri terkait kebenaran video tersebut, diketahui bahwa video itu bukan berasal dari Indonesia. Melalui laman pencarian gambar Google, terdapat sebuah artikel berita dari media terchap.com yang menjelaskan terkait video viral tersebut.

    Diketahui bahwa videon tersebut terjadi di Pusat Vaksinasi Mucho Lote di Guayaquil, Ekuador pada hari Minggu, 25 April 2021. Dijelaskan pula bahwa pria di dalam video tersebut memang tidak mendapatkan suntikan vaksin dari perawat.

    Pria ini diduga menyuap perawat untuk memotong antrian agar mendapatkan vaksinasi COVID-19 sebelum gilirannya. Namun, perawat malah memberinya suntikan palsu, secara harfiah menusuk jarum di bahunya tanpa benar-benar menyuntikkan apa pun. Ini mungkin karena dosis vaksin sangat terbatas, dan akan di bawah pengawasan ketat sehingga dosis yang hilang akan diperhatikan.

    Sekretaris Jenderal Kepresidenan Ekuador, Jorge Wated Reshuan pun membenarkan bahwa perawat yang melakukan suntikan palsu tersebut telah ditangkap. Pria yang merekam video dirinya itu pun juga ditangkap.

    Dari penelusuran di atas dapat disimpulkan bahwa video penyuntikkan vaksin kosong tersebut merupakan hoaks kategori misleading content atau konten yang menyesatkan. Hal tersebut karena video tersebut bukan terjadi di Indonesia.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)

    Berita tersebut keliru. Video penyuntikkan vaksin kosong tersebut bukan terjadi di Indonesia, namun di Pusat Vaksinasi Mucho Lote di Guayaquil, Ekuador.

    Rujukan