(GFD-2021-8563) Keliru, Inggris Nyatakan Covid-19 Penyakit Menular Biasa karena Konspirasi dan Bisa Diobati Parasetamol
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 29/03/2021
Berita
Pesan berantai yang berisi klaim bahwa pemerintah Inggris mengubah klasifikasi Covid-19 dari penyakit menular parah menjadi penyakit menular biasa beredar di grup-grup percakapan Whatsapp sejak Minggu, 28 Maret 2021. Klaim itu dilengkapi dengan artikel dari situs resmi pemerintah Inggris terkait Covid-19.
Menurut pesan tersebut, pemerintah Inggris menyatakan bahwa virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, adalah virus yang umum. Virus itu, menurut pesan ini, bisa dilawan dengan parasetamol. Pesan tersebut pun mengklaim bahwa perubahan itu dilakukan oleh pemerintah Inggris karena Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) secara resmi terlibat dalam konspirasi.
"Organisasi Kesehatan Dunia mencapai kesimpulan akhir bahwa pembawa virus Covid-19 dianggap orang yang tidak menular kepada orang lain, kecuali dalam kasus gejala, yang terpenting adalah suhu! Oleh karena itu, tidak disarankan untuk memeriksa yang tidak terinfeksi atau menyimpannya untuk karantina," demikian narasi dalam pesan tersebut.
Gambar tangkapan layar pesan berantai yang beredar di WhatsApp yang berisi klaim keliru terkait pemerintah Inggris dan Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, pemerintah Inggris memang mengeluarkan Covid-19 dari daftar penyakit menular dengan konsekuensi tinggi atauhigh consequence infectious diseases(HCID). Meskipun begitu, pandemi Covid-19 tetap dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang serius dan tidak bisa disembuhkan dengan parasetamol.
Dalam artikel di situs resmi pemerintah Inggris yang tautannya tercantum dalam pesan berantai itu menjelaskan, awalnya, Covid-19 ditetapkan sebagai HCID pada Januari 2020. Penetapan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa, saat itu, dalam tahap awal pandemi, informasi mengenai virus dan penyakit tersebut belum tersedia secara mencukupi.
Di Inggris, HCID ditetapkan dengan sejumlah kriteria, yakni penyakit infeksi akut dengan tingkat fatalitas (keparahan) kasus yang tinggi, tidak memiliki pengobatan yang efektif, dan seringkali sulit untuk dikenali serta dideteksi dengan cepat. Kriteria lain adalah kemampuan untuk menyebar di komunitas dan, dalam pengaturan perawatan kesehatan, memerlukan respons individu, populasi, serta sistem yang mesti ditingkatkan untuk memastikan penyakit tersebut dikelola secara efektif, efisien, dan aman.
Beberapa penyakit yang termasuk HCID dengan tingkat kematian yang sangat tinggi antara lain virus Ebola, Middle East Respiratory Syndrom (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome ( SARS ).
Kebijakan pemerintah Inggris terkait Covid-19 diubah dengan mengeluarkannya dari daftar HCID pada 19 Maret 2020. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa lebih banyak hal yang telah diketahui tentang Covid-19. Badan kesehatan masyarakat di Inggris telah menemukan lebih banyak informasi yang tersedia tentang angka kematian, serta terdapat kesadaran klinis yang lebih besar dan tes laboratorium yang spesifik dan sensitif, yang ketersediaannya terus meningkat.
Dalam artikel di situs resmi pemerintah Inggris tersebut, tidak terdapat penjelasan bahwa pencabutan Covid-19 dari daftar HCID dilakukan karena bisa dilawan dengan paracetamol. Tidak disebutkan pula bahwa WHO telah mengambil kesimpulan di mana pembawa virus Covid-19 dianggap sebagai orang yang tidak menularkan penyakti tersebut kepada orang lain.
Dikutip dari BuzzFeed, Brendan Wren, profesor dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, menjelaskan virus Corona memang sangat mudah menular antar manusia, seperti yang ditunjukkan oleh kecepatan pandemi. Akan tetapi, Covid-19 bukanlah patogen paling mematikan.
Menurut Wren, hanya 1 persen dari orang yang terkena Covid-19 meninggal karena infeksi tersebut. Angka ini lebih rendah dibandingkan tingkat kematian SARS sebesar 11 persen dan virus Ebola sebesar 50 persen. Karena itu, status Covid-19 diturunkan untuk tujuan penelitian ilmiah.
Namun, Wren melanjutkan, "Penurunan tersebut tidak mengurangi keseriusan infeksi Covid-19." Dia mengatakan mudahnya penyebaran virus ini menandakan bahwa Covid-19 telah menginfeksi dan membunuh lebih banyak orang daripada SARS dan Ebola.
Juru bicara pemerintah Inggris juga menjelaskan kepada BuzzFeed, “HCID adalah klasifikasi teknis tanpa implikasi terkini tentang bagaimana pemerintah menanggapi wabah virus Corona."
Mereka melanjutkan, “Kami selalu mengatakan bahwa kami akan mengambil tindakan yang tepat pada waktu yang tepat, berdasarkan bukti ilmiah terbaru, untuk memperlambat penyebaran virus, melindungi orang yang rentan, mengurangi permintaan pada Layanan Kesehatan Nasional (NHS) kami dan menyelamatkan nyawa.”
Inggris menjadi salah satu negara dengan kematian akibat Covid-19 tertinggi di dunia. Berdasarkan data Worldometer hingga 29 Maret 2021, kasus Covid-19 di sana telah mencapai 4.333.042 orang dengan kematian 126.592 orang. Jumlah ini menempatkan Inggris di posisi ke-6 sebagai negara dengan kasus Covid-19 terbanyak setelah Amerika Serikat, Brasil, India, Prancis, dan Rusia.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pemerintah Inggris mengubah klasifikasi Covid-19 dari penyakit menular parah menjadi penyakit menular biasa karena hanya konspirasi dan bisa disembuhkan dengan parasetamol, keliru. Pemerintah Inggris memang mengeluarkan Covid-19 dari daftar penyakit menular dengan konsekuensi tinggi atauhigh consequence infectious diseases(HCID). Namun, kebijakan itu diambil karena telah semakin banyak informasi yang tersedia terkait Covid-19. Meskipun begitu, perubahan klasifikasi ini tidak memengaruhi keseriusan infeksi Covid-19.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/inggris
- https://www.tempo.co/tag/who
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://www.gov.uk/guidance/high-consequence-infectious-diseases-hcid
- https://www.tempo.co/tag/sars
- https://www.buzzfeed.com/joeydurso/uk-downgraded-coronavirus-conspiracy-theory
- https://www.tempo.co/tag/ebola
- https://www.worldometers.info/coronavirus/
- https://www.tempo.co/tag/parasetamol
(GFD-2021-6598) [SALAH] Video “Berita Terkini!!! – Dibayar Kontan | Petugas Yang Menganiaya Dan Menyeret HRS Langsung Sakit Parah”
Sumber: Youtube.comTanggal publish: 29/03/2021
Berita
Beredar video yang diunggah kanal Youtube TITIK TUMPU pada 20 Maret 2021 dengan judul “BERITA TERKINI!!! – DIBAYAR KONTAN | PETUGAS YANG MENGANIAYA DAN MENYERET HRS LANGSUNG SAKIT PARAH”.
Bagian awal video itu menunjukkan Rizieq dibawa oleh seorang pria ke sebuah ruang pengadilan, lalu video menunjukkan foto kecil seorang pria yang dihubungkan dengan panah merah ke pria yang membawa Rizieq ke ruang sidang; bagian berikutnya menunjukkan pria di foto kecil itu sedang berbicara pada kamera saat sedang berbaring di kasur rumah sakit. Di detik ke-30, narator video berkata, “Aparat yang menyeret Habib Rizieq ke ruang sidang dengan memelintir tangannya hingga lebam, seketika langsung jatuh sakit setelah beliau keluar dari ruangan sidang.” Di menit 2:42, video itu menunjukkan foto Rizieq mengangkat tangan kanannya, dengan memar di pergelangan tangan ditunjukkan dalam lingkaran merah.
Bagian awal video itu menunjukkan Rizieq dibawa oleh seorang pria ke sebuah ruang pengadilan, lalu video menunjukkan foto kecil seorang pria yang dihubungkan dengan panah merah ke pria yang membawa Rizieq ke ruang sidang; bagian berikutnya menunjukkan pria di foto kecil itu sedang berbicara pada kamera saat sedang berbaring di kasur rumah sakit. Di detik ke-30, narator video berkata, “Aparat yang menyeret Habib Rizieq ke ruang sidang dengan memelintir tangannya hingga lebam, seketika langsung jatuh sakit setelah beliau keluar dari ruangan sidang.” Di menit 2:42, video itu menunjukkan foto Rizieq mengangkat tangan kanannya, dengan memar di pergelangan tangan ditunjukkan dalam lingkaran merah.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya video petugas yang mengawal HRS di persidangan pada tanggal 19 Maret 2021 langsung sakit parah merupakan klaim yang salah.
Faktanya, bukan petugas yang mengawal HRS di persidangan pada tanggal 19 Maret 2021. Pria di berbaju hijau di video itu aslinya seorang petugas Pemilu 2019 yang dirawat di rumah sakit lantaran kelelahan. Selain itu, klaim bahwa petugas yang mengawal HRS di persidangan menyeret dan menganiaya HRS tidak terbukti.
Dilansir dari AFP, pencarian gambar terbalik di Google dengan bantuan beberapa potongan video dari InVID-WeVerify menemukan bahwa video lelaki yang terbaring di rumah sakit itu diambil dari video berita iNews tanggal 26 April 2019 ini, dengan judul “KPU Catat 225 Anggota KPPS Meninggal dan 1.470 Dirawat Akibat Kelelahan Pemilu”. Bagian yang menunjukkan pria berbaring di ranjang RS itu dapat dilihat di menit 1:44 dari video iNews.
Video itu mewartakan bahwa pria tersebut bernama Soegeng Afriadi. Soegeng adalah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Medan, Sumatera Utara, yang dirawat di rumah sakit karena kelelahan bekerja saat Pemilu 2019.
Sementara itu, foto tangan HRS yang terkilir dan lebam, sebelum foto ini sudah pernah diperiksa faktanya di artikel berjudul [SALAH] Foto “HRS Jelas Didzolimi, Tangan Dipelintir Oleh Petugas Hingga Lebam” yang tayang di situs turnbackhoax.id pada 24 Maret 2021.
Faktanya, foto itu merupakan foto editan dengan menambahkan warna merah pada tangan HRS. Foto asli memperlihatkan suasana HRS saat tiba di Polda Metro Jaya pada Sabtu 12 Desember 2020. Pada foto itu tidak terlihat pergelangan HRS mengalami lebam atau memar.
Faktanya, bukan petugas yang mengawal HRS di persidangan pada tanggal 19 Maret 2021. Pria di berbaju hijau di video itu aslinya seorang petugas Pemilu 2019 yang dirawat di rumah sakit lantaran kelelahan. Selain itu, klaim bahwa petugas yang mengawal HRS di persidangan menyeret dan menganiaya HRS tidak terbukti.
Dilansir dari AFP, pencarian gambar terbalik di Google dengan bantuan beberapa potongan video dari InVID-WeVerify menemukan bahwa video lelaki yang terbaring di rumah sakit itu diambil dari video berita iNews tanggal 26 April 2019 ini, dengan judul “KPU Catat 225 Anggota KPPS Meninggal dan 1.470 Dirawat Akibat Kelelahan Pemilu”. Bagian yang menunjukkan pria berbaring di ranjang RS itu dapat dilihat di menit 1:44 dari video iNews.
Video itu mewartakan bahwa pria tersebut bernama Soegeng Afriadi. Soegeng adalah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Medan, Sumatera Utara, yang dirawat di rumah sakit karena kelelahan bekerja saat Pemilu 2019.
Sementara itu, foto tangan HRS yang terkilir dan lebam, sebelum foto ini sudah pernah diperiksa faktanya di artikel berjudul [SALAH] Foto “HRS Jelas Didzolimi, Tangan Dipelintir Oleh Petugas Hingga Lebam” yang tayang di situs turnbackhoax.id pada 24 Maret 2021.
Faktanya, foto itu merupakan foto editan dengan menambahkan warna merah pada tangan HRS. Foto asli memperlihatkan suasana HRS saat tiba di Polda Metro Jaya pada Sabtu 12 Desember 2020. Pada foto itu tidak terlihat pergelangan HRS mengalami lebam atau memar.
Rujukan
- https://periksafakta.afp.com/video-itu-menunjukkan-petugas-pemilu-2019-yang-dirawat-di-rs-karena-kelelahan
- https://turnbackhoax.id/2021/03/24/salah-foto-hrs-jelas-didzolimi-tangan-dipelintir-oleh-petugas-hingga-lebam/
- https://www.youtube.com/watch?v=a7NDUeNfjO4
- https://megapolitan.okezone.com/read/2020/12/12/338/2326344/habib-rizieq-acungkan-jempol-tampak-semangat-diperiksa-polda-metro
(GFD-2021-6599) [SALAH] Nama AstraZeneca Memiliki Arti ‘Senjata yang Mematikan’
Sumber: facebook.comTanggal publish: 29/03/2021
Berita
Beredar sebuah unggahan yang menyatakan bahwa nama AstraZeneca dalam vaksin Covid-19, berasal dari susunan bahasa yang memiliki arti senjata yang membunuh.
Hasil Cek Fakta
Namun setelah dilakukan penelusuran, klaim yang menyatakan bahwa nama AstraZeneca berarti senjata yang membunuh, adalah klaim yang tidak berdasar. Media Fulfact.org mengunggah artikel yang menjelaskan hal ini.
Dalam penjelasannya, diketahui bahwa nama AstraZeneca diambil dari gabungan perusahaan farmasi Swedia (Astra AB, diambil dari bahasa Yunani untuk ‘a star) dan perusahaan Zeneca Group Palace yang berbasis di Inggris.
Sejatinya penerjemahan berbagai bahasa ini dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Setiap pengertian itu bisa saja menggunakan pendekatan yang cukup selektif dan menyesatkan untuk terjemahan dan etimologi.
Dalam unggahan juga disebutkan nama perusahaan riset pasar Ipsos MORI diterjemahkan menjadi ‘mereka mati’ dalam bahasa Latin. Hal ini juga tidak memiliki dasar apapun. Nama ‘Ipsos MORI’ sebenarnya berasal dari penggabungan dua perusahaan dan tidak berarti apa-apa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa klaim yang menyatakan nama AstraZeneca memiliki arti ‘senjata yang mematikan’, adalah hoaks kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.
Dalam penjelasannya, diketahui bahwa nama AstraZeneca diambil dari gabungan perusahaan farmasi Swedia (Astra AB, diambil dari bahasa Yunani untuk ‘a star) dan perusahaan Zeneca Group Palace yang berbasis di Inggris.
Sejatinya penerjemahan berbagai bahasa ini dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Setiap pengertian itu bisa saja menggunakan pendekatan yang cukup selektif dan menyesatkan untuk terjemahan dan etimologi.
Dalam unggahan juga disebutkan nama perusahaan riset pasar Ipsos MORI diterjemahkan menjadi ‘mereka mati’ dalam bahasa Latin. Hal ini juga tidak memiliki dasar apapun. Nama ‘Ipsos MORI’ sebenarnya berasal dari penggabungan dua perusahaan dan tidak berarti apa-apa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa klaim yang menyatakan nama AstraZeneca memiliki arti ‘senjata yang mematikan’, adalah hoaks kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.
Rujukan
(GFD-2021-6600) [SALAH] Ekstrak Nanas Bisa Dijadikan Obat Virus Corona
Sumber: facebook.comTanggal publish: 29/03/2021
Berita
Sebuah akun facebook bernama Dr. Harold Tanchanco mengunggah beberapa potongan gambar yang berasal dari liputan berita, judul artikel an foto seorang pria mengenakan jas laboraturium.
Hasil Cek Fakta
Selain itu, terdapat narasi klaim bahwa ekstrak buah nanas (Bromelain) dapat menjadi obat virus corona. Dalam narasinya postingan tersebut juga mencatut seorang ilmuwan dari Australia mengatakan bormelain (ekstrak nanas) dapat melarutkan protein untuk mengobati virus corona.
Berdasarkan hasil penelusuran, dilansir dari factcheck.afp.com, foto yang digunakan dalam unggahan itu berasal dari saluran berita Australia 7News yang ditayangkan pada 18 Agustus 2020 di YouTube. Sementara itu, ilmuwan yang disebut dalam unggahan soal ekstrak nanas bisa mengobati corona itu adalah Profesor David Morris.
Kepada AFP, Morris membantah unggahan yang beredar. Ia menegaskan minum nanas tidak akan menyembuhkan seseorang dari penyakit corona. Pihaknya tidak pernah menganjurkan untuk minum nanas.
“Kami mempelajari efek bromelain, yang berasal dari batang tanaman nanas bersama dengan asetilsistein. Obat kombinasi, kami menyebut kombinasi tersebut sebagai BromAc,” ujar Morris kepada AfP.
“Tidak ada agen (bromelain saja atau asetilsistein) yang efektif sendiri,” tegasnya.
Berdasarkan hasil penelusuran, dilansir dari factcheck.afp.com, foto yang digunakan dalam unggahan itu berasal dari saluran berita Australia 7News yang ditayangkan pada 18 Agustus 2020 di YouTube. Sementara itu, ilmuwan yang disebut dalam unggahan soal ekstrak nanas bisa mengobati corona itu adalah Profesor David Morris.
Kepada AFP, Morris membantah unggahan yang beredar. Ia menegaskan minum nanas tidak akan menyembuhkan seseorang dari penyakit corona. Pihaknya tidak pernah menganjurkan untuk minum nanas.
“Kami mempelajari efek bromelain, yang berasal dari batang tanaman nanas bersama dengan asetilsistein. Obat kombinasi, kami menyebut kombinasi tersebut sebagai BromAc,” ujar Morris kepada AfP.
“Tidak ada agen (bromelain saja atau asetilsistein) yang efektif sendiri,” tegasnya.
Kesimpulan
Profesor David Morris, Ilmuwan yang dicatut dalam unggahan soal ekstrak nanas bisa mengobati corona membantah unggahan yang beredar. Ia menegaskan minum nanas tidak akan menyembuhkan seseorang dari penyakit corona. Pihaknya tidak pernah menganjurkan untuk minum nanas.
Rujukan
- https://factcheck.afp.com/facebook-posts-touting-pineapple-drinks-misrepresent-research-potential-covid-19-treatment
- https://kumparan.com/kumparannews/hoaxbuster-klaim-ekstrak-nanas-bisa-dijadikan-obat-corona-1vQcBriQg2x/full
- https://verafiles.org/articles/vera-files-fact-check-fb-page-endorsing-potential-natural-re
Halaman: 6720/7951



