• (GFD-2021-8571) Keliru, Klaim Bom Gereja Katedral Makassar Diledakkan dengan Remote Jarak Jauh

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 05/04/2021

    Berita


    Gambar tangkapan layar sebuah pesan WhatsApp yang berisi klaim bahwa bom Gereja Katedral Makassar diledakkan dengan remote control dari jarak jauh beredar di Facebook. Menurut pesan itu, pengeboman di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021 tersebut persis dengan pengeboman yang terjadi di Surabaya pada 2018 silam.
    "Sandiwara rezim PKI dg mengorbankan org Islam persis yg terjd di Surabaya Tempo dulu. Korban disuruh antar barang di gereja sebelum masuk gereja BOM diledakkan lewat remot kendali jarak jauh. PKI ingin memframing PD publik bhw Islam teroris. Hati2 jika ada seseorang yg menyuruh kita minta kirimkan barang ke gereja. Bisa didlm barangnya terisi bom kendali jarak jauh jd itu strategi PKI utk menghancurkan islam," demikian bunyi pesan itu.
    Akun ini membagikan gambar tersebut pada 28 Maret 2021. Akun itu menulis, "Benarkah? Tanya..." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 500 reaksi dan 189 komentar serta dibagikan lebih dari 200 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri berbagai pemberitaan terkait dari media-media kredibel. Dilansir dari Kompas.com, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono telah membantah informasi yang mengklaim bom di Gereja Katedral Makassar diledakkan dengan remote control dari jarak jauh. "Enggak benar pernyataan tersebut," kata Argo pada 4 April 2021.
    Polisi memastikan bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar adalah bom bunuh diri. Terdapat dua pelaku yang melakukan aksi ini. Mereka melancarkan aksinya dengan mengendarai motor bernomor polisi DT 5984 MD dan berusaha merangsek ke halaman gereja. Namun, keduanya dicegat oleh petugas keamanan di gerbang gereja. "Pelaku sempat dicegah oleh security gereja tersebut tapi kemudian terjadilah ledakan itu," ujar Argo.
    Dikutip dari Detik.com, Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar adalah bom panci. Dilansir dari Koran Tempo, Kepala Polda Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Merdisyam menjelaskan bom yang digunakan pelaku memiliki daya ledak tinggi. Bom itu disimpan di dalam wadah panci. Polisi juga menemukan paku-paku yang bertebaran di tengah jalan.
    Menurut Listyo, pelaku merupakan bagian dari jaringan yang juga melakukan pengeboman Gereja Katedral Jolo, Filipina, pada 2018. Keduanya adalah bagian dari kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Sulawesi Selatan. Mereka merupakan bagian dari 20 anggota JAD Sulawesi Selatan yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) dalam dua bulan terakhir.
    Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengatakan aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh pasangan suami-istri di Gereja Katedral Makassar itu adalah upaya balas dendam atas tewasnya mentor mereka pada 6 Januari 2021. "Dia ingin mewujudkan itu, rencana serang sejak Januari diwujudkan oleh dia ini," kata Wawan pada 3 April 2021.
    Pada 6 Januari lalu, terjadi penangkapan terhadap 20 anggota JAD. Dua orang di antaranya tewas tertembak. Mereka adalah Moh Rizaldy dan Sanjai Ajis. Menurut Wawan, Rizaldy merupakan mentor dari pasangan suami-istri yang melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Rizaldy juga yang menikahkan keduanya enam bulan lalu. Setelah kedua orang itu tewas, para pengikutnya mengancam bakal menyerang.
    Bom Surabaya
    Setelah terjadinya ledakan bom di gereja Surabaya pada 13 Mei 2018, beredar klaim bahwa bom-bom tersebut dikontrol dari jarak jauh. Tiga gereja itu adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuna.
    Namun, menurut Kepala Divisi Humas Polri saat itu, Inspektur Jenderal Setyo Wasisto, rumor ini keliru. Dilansir dari Suara.com, Setyo menyatakan bahwa pelaku, Dita Oepriarto dan istrinya, Puji Kuswati, secara sadar mengajak keempat anaknya untuk melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja tersebut.
    "Bagaimana mungkin pelaku tak sadar saat melakukan aksinya? Bomnya kan diikat di badan semua. Pelaku semuanya melakukan itu secara sadar dan sudah disiapkan," kata Setyo pada 18 Mei 2018. Sebagai penguat, Setyo mengungkap keterangan ketua RT di lingkungan rumah keluarga Dita soal keganjilan perilaku dua anak Dita sehari sebelum aksi bom Surabaya.
    "Ada keterangan Pak RT yang mengatakan, satu hari sebelum kejadian, yakni Sabtu (12 Mei 2018), malam Minggu, dia melihat dua anak pelaku salat di musala. Kedua anak itu terlihat saling menangisi. Ada apa itu? Kemungkinan besar mereka tahu besoknya akan melakukan amaliah (teror)," kata Setyo.
    Kapolri saat itu, Jenderal Tito Karnavian, juga telah menjelaskan jenis bom yang digunakan oleh Dita dan keluarganya. Dilansir dari Detik.com, jenis bom tersebut berbeda-beda. Bom yang meledak di Gereka Santa Maria Tak bercela dibawa oleh kedua anak Dita di dalam tas.
    Bom yang meledak di GKI Diponegoro, yang dibawa oleh istri Dita, disematkan di ikat pinggangnya. Sementara bom yang meledak di GPPS Arjuna, yang berdaya eksplosif tinggi, dibawa oleh Dita dengan mobil. "Yang dengan (Toyota) Avanza di Arjuna itu menggunakan bom yang diletakkan dalam kendaraan, setelah itu ditabrak. Ini ledakan terbesar dari tiga (lokasi)," ujar Tito.
    Bom Medan oleh pelaku berjaket ojol
    Usai meledaknya bom di Polrestabes Medan pada 13 November 2019, beredar pula klaim bahwa bom tersebut merupakan paket yang dikirim dengan jasa ojek online (ojol). "Info bukan bom bunuh diri, tapi driver Gojek dapat orderan barang ke polrestabes. Sampai sana, barang yang dibawa meledak. Jadi, driver Gojek yang jadi korban," demikian isi pesan berantai di WhatsApp ketika itu.
    Tim CekFakta Tempo telah memverifikasi klaim tersebut pada 14 November 2019, dan menyatakannya keliru. Polri memastikan bahwa ledakan di Polrestabes Medan itu adalah aksi bom bunuh diri oleh pria bernama Rabbial Muslim, warga Sei Putih Barat, Medan Petisah.
    Usai kejadian bom Medan ini, polisi menangkap istri Rabbial yang berinisial DA. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri saat itu, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, mengatakan bahwa DA diduga terpapar paham radikalisme terlebih dulu sebelum sang suami. DA rutin berkomunikasi dengan seorang narapidana teroris berinisial I yang sedang berada tahanan. DA juga rutin mengunjungi I. Bahkan, keduanya sudah berencana untuk melakukan aksi di Bali.
    Selain itu, dikutip dari Detik.com, berdasarkan pengusutan Satuan Tugas (Satgas) Grab di Medan, Rabbial adalah mantan pengemudi ojol Grab. Menurut Ketua Garda Regional Sumatera Utara, Joko Pitoyo, Rabbial sudah putus mitra dengan Grab sejak November 2018. "Di Gojek, beliau tidak pernah terdaftar," kata Joko pada 13 November 2019.
    Sementara menurut Dedi, Rabbial datang ke Polrestabes Medan bukan untuk mengantar barang. Dia berujar bahwa petugas yang berjaga di pos pengamanan Polrestabes Medan sempat memeriksa Rabbial. "Petugas tanyakan apa keperluannya, pelaku mengaku akan membuat SKCK," katanya.
    Saat itu, petugas juga menggeledah tas yang dibawa Rabbial, tapi hanya menemukan sebuah buku. Rabbial pun diminta melepas jaket, tapi ia malah bergeser ke arah kerumunan orang. Bom itu, kata Dedi, meledak 30-40 meter dari pos pengamanan. Ketika itu, Rabbial belum sampai di tempat pembuatan SKCK.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa bom Gereja Katedral Makassar diledakkan dengan remote control dari jarak jauh, keliru. Polisi telah membantah klaim itu, dan menyatakan bahwa bom yang meledak di Gereja Katedral Makassar adalah bom bunuh diri. Bom itu berjenis bom panci. Terkait bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya pada 2018 silam, bom yang digunakan juga tidak dikontrol dari jarak jauh. Bom yang meledak di Gereka Santa Maria Tak bercela dibawa di dalam tas. Bom yang meledak di GKI Diponegoro disematkan di ikat pinggang. Sementara bom yang meledak di GPPS Arjuna dibawa dengan mobil yang kemudian ditabrakkan.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8572) Sesat, Artikel yang Sebut Cina Bohong soal Asal-usul Virus Corona

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 05/04/2021

    Berita


    Klaim bahwa Cina berbohong tentang asal-usul virus Corona beredar di Facebook. Klaim itu terdapat dalam artikel yang dimuat oleh situs Kabarterkini.sehatalajsr.com yang berjudul "China Tidak Bisa Berbohong Lagi, WHO Akhirnya Bongkar Asal Usul Virus Corona yang Sebenarnya, Benarkah Dunia Sudah Dibohongi Selama Ini?".
    Artikel itu berisi penjelasan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan peternakan satwa liar di Cina yang menjadi sumber pandemi Covid-19. Informasi tersebut diklaim berasal dari situs Intisari Grid, yang mengutip situs sains luar negeri Live Science pada 18 Maret 2021.
    "Menurut Peter Daszak, ahli ekologi penyakit di tim WHO yang melakukan investigasi ke China, di sekitar provinsi Yunna di China selatan terdapat banyak peternakan satwa liar. Menurutnya, peternak satwa liar tersebut kemungkinan besar memasok hewan ke pedagang di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan, tempat kasus pertama Covid-19 di temukan."
    Gambar tangkapan layar artikel yang beredar di Facebook yang memuat judul yang menyesatkan tentang pemerintah Cina dan asal-usul virus Corona.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, artikel yang dipublikasikan oleh Kabarterkini.sehatalajsr.com tersebut memang berasal dari artikel Intisari Grid yang diterbitkan pada 19 Maret 2021. Namun, artikel itu tidak memuat secara lengkap artikel Intisari Grid. Artikel tersebut hanya berisi sekitar sepertiga dari isi artikel yang dimuat Intisari.
    Judul artikel Intisari Grid (Grup Kompas) pun tidak sesuai dengan isi berita di situs Kompas.com yang menjadi sumber artikel tersebut. Berita Kompas.com yang dimaksud adalah berita yang berjudul "Dari Mana Covid-19 Berasal, WHO Ungkap Hasil Investigasinya" yang terbit pada 18 Maret 2021.
    Berita Kompas.com ini tidak menyebut adanya kebohongan yang dilakukan oleh Cina. Berita itu menjelaskan temuan WHO, bahwa kemungkinan virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, berasal dari peternakan hewan yang banyak berdiri di Cina.
    Di Intisari Grid, artikel tersebut disajikan dalam tiga halaman. Kabarterkini.sehatalajsr.com hanya mengutip isi artikel Intisari Grid yang terdapat di halaman pertama. Penjelasan yang tidak dimuat oleh situs itu antara lain sebagai berikut:

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, artikel yang berjudul "China Tidak Bisa Berbohong Lagi, WHO Akhirnya Bongkar Asal Usul Virus Corona yang Sebenarnya, Benarkah Dunia Sudah Dibohongi Selama Ini?" menyesatkan. Artikel ini memang diambil dari Intisari Grid, namun hanya sebagian kecil dan tidak menyeluruh, sehingga kurang memberikan informasi yang jelas. Artikel Intisari Grid pun berasal dari berita Kompas.com yang berjudul "Dari Mana Covid-19 Berasal, WHO Ungkap Hasil Investigasinya". Namun, dalam berita ini, tidak ada penjelasan bahwa Cina melakukan kebohongan. Sumber virus Corona penyebab Covid-19 masih ditelusuri oleh WHO.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6645) [SALAH] Vaksin Bisa Merusak Sel Darah dan Sel Otak

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 05/04/2021

    Berita

    Beredar di media sosial dan aplikasi percakapan pesan berantai berisi informasi vaksin yang diklaim bisa merusak sel darah dan sel otak manusia. Pesan berantai tersebut ramai dibagikan sejak pekan lalu.

    Salah satu yang mengunggahnya adalah akun bernama Lyana Bajana. Dia mengunggahnya di Facebook pada 1 April 2021.

    Berikut isi postingannya:

    "BUKTI peksin MERUSAK SEL DARAH DAN SEL OTAK MANUSIA YG MENDAPAT peksin

    Ini adalah hasil penelitian di laboratorium perbedaan antara sel darah orang yg belum di peksin dan sel darah orang lain yg sudah di peksin

    Dan hasil nya mengejutkan.. sel darah orang yg sudah di peksin mengalami kerusakan dan perubahan.

    sel sel darah orang yg sudah di peksin di kuasai oleh sesuatu yg aneh yg terkandung di dalam peksin

    (Sample di ambil dari 3 orang berbeda.. 1 yg belum di fakfak, 2 lain nya yg udah di fakfak)

    Dua paper penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal of Inorganic Biochemistry menyimpulkan bahwa alumunium adjuvant dalam peksin bersifat merusak sel sel di dalam otak yaitu pada sel neural dan sel endothelial microvessel.

    Paper pertama melakukan pengujian toksisitas adjuvant alumunium terhadap genetik sel neural. Senyawa alumunium dalam adjuvant vaksin menyebabkan perubahan ekspresi genetik pada sel sel neural otak manusia sehingga menyebabkan kerusakan sel.

    Paper kedua menguji dampak pemberian senyawa alumunium adjuvant pada peningkatan kadar CRP (C-Reactive Protein) pada sel endothelial di otak. Senyawa alumunium adjuvant dalam peksin menyebabkan kenaikan kadar CRP pada endothelial sel otak. CRP adalah biomarker / indikator inflamasi pada sel endothelial otak.

    Tidak heran kenapa para peneliti independen di luar negeri banyak yang mengkaitkan pemberian peksin yang mengandung adjuvant alumunium dengan penyakit alzheimer yang menyerang otak. Khususnya di negara amerika yang memiliki jumlah penderita alzheimer sangat banyak. Hal ini disebabkan program peksin yang diterapkan pemerintah amerika jauh lebih banyak dibanding negara negara lain didunia, sehingga dampak negatif peksin di negara amerika juga terbanyak di dunia.

    Sumber Journal :

    1. https://sci-hub.se/10.1016/j.jinorgbio.2005.04.021

    2. https://sci-hub.se/10.1016/j.jinorgbio.2015.07.013"

    Selain itu postingan juga disertai gambar yang diklaim sebagai sel darah dan sel otak yang sudah divaksin.

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan meminta penjelasan dari dr. Ikrimah Nisa Utami, Sp.PD. Dia menyebut pesan berantai dan postingan yang mengklaim vaksin bisa merusak sel darah dan sel otak adalah tidak benar.

    "Dari dua sumber jurnal yang dicantumkan, tidak ada satupun yang meneliti tentang vaksin covid-19. Mereka membahas tentang hubungan Aluminium terhadap Alzheimer dan peningkatan CRP secara umum bukan tentang vaksin."

    "Lagipula ini jurnal tahun 2005 dan 2015, dimana pandemi belum ada dan, semua gambar cawan petri itu (gelas percobaan) bukan gambar yang ada pada jurnal," ujar dr. Nisa saat dihubungi Liputan6.com, Senin (5/4/2021).

    "Narasi yang beredar sangat tidak sesuai dengan isi jurnal yang disampaikan. Isi jurnalnya sendiri sama sekali tidak menyebutkan vaksin covid-19," katanya menambahkan.

    Ia juga berharap masyarakat tidak mudah percaya dengan banyaknya informasi yang beredar terkait vaksin secara umum maupun vaksin covid-19 secara khusus.

    "Banyak hoaks yang beredar hanya mencomot saja hasil penelitian yang telah ada dan dikaitkan dengan vaksin covid-19. Sehingga masyarakat harus lebih teliti dan memverifikasinya terlebih dulu sebelum menyebarkannya," ujarnya menambahkan.

    Selain itu Cek Fakta Liputan6.com juga meminta penjelasan dari dr. Muhamad Fajri Adda'i terkait fungsi alumunium pada vaksin.

    "Kandungan pada vaksin adalah alumunium hidroksida dan itu sangat aman. Fungsinya adalah sebagai adjuvant atau meningkatkan kemampuan vaksin," ujar dr. Fajri yang juga edukator dan relawan tim penanganan covid-19.

    "Selain itu menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS), alumunium hidroksida ini sudah digunakan sebagai adjuvant vaksin sejak 70 tahun yang lalu dan keamanannya sudah terbukti. Apalagi kandungan alumunium pada vaksin dosisnya kecil dan aman."

    "Tak hanya di vaksin, penggunaan alumunium hidroksida juga terdapat pada obat maag. Peran alumunium hidroksida ini sangat besar dalam menstimulasi imunitas," katanya menambahkan.

    Dr. Fajri menjelaskan penelitian dalam postingan pesan berantai tidak terkait dengan vaksin.

    "Pada paper ini jenis alumuniumnya beda yakni alumunium sulfat. Fungsinya juga beda dan memang telah menjadi karena khawatiran terhadap pencemaran lingkungan. Alumunium sulfat ini biasa dipakai pada pabrik kertas, pembuatan busa pada pemadam kebakaran atau menjernihkan limbah," ujarnya.

    "Narasi di pesan berantai atau postingan itu telah dipelintir sehingga sangat salah artinya. Tidak ada hubungannya dengan vaksin, ini jelas hoaks. Vaksin memakai alumunium hidroksida sementara penelitiannya tentang alumunium sulfat."

    Dilansir dari Fullfact.org dalam artikel "No evidence aluminium in vaccines causes Alzheimer's disease" yang tayang 11 November 2020 disebutkan penggunaan aluminium di vaksin pada manusia relatif kecil yakni sekitar 0,2 sampai 0,8 miligram).

    Sebagai perbandingan manusia dewasa biasanya mengonsumsi aluminium tujuh hingga sembilan miligram setiap harinya. Aluminium sendiri terkandung dalam beberapa makanan dan minuman termasuk buah, sayuran, tepung, produk susu, bir hingga wine.

    Kesimpulan

    Postingan pesan berantai yang mengklaim vaksin bisa merusak sel darah dan sel otak adalah tidak benar.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6646) [SALAH] Shell Indonesia Bagikan Hadiah Rayakan Hari Jadi Ke- 100 Tahun

    Sumber: WhatsApp
    Tanggal publish: 05/04/2021

    Berita

    Cek Fakta Liputan6.com mendapati informasi Shell Indonesia membagikan hadiah untuk merayakan hari jadi ke 100 tahun.

    Informasi Shell Indonesia membagikan hadiah untuk merayakan hari jadi ke 100 tahu beredar melalui aplikasi percakapan WhatsApp.

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri informasi Shell Indonesia membagikan hadiah untuk merayakan hari jadi ke 100 tahun, dengan menghubungi pihak Shell Indonesia.

    VP External Relation Shell Indonesia Rhea Sianipar mengatakan, informasi Shell Indonesia membagikan hadiah untuk merayakan hari jadi ke 100 tahun tidak benar.

    "Informasi disebutkan tidak benar dan modus," kata Rhea, saat berbincang dengan Liputan6.com.

    PT Shell Indonesia menghimbau masyarakat untuk waspada terhadap penipuan bermodus perayaan “100th Anniversary Shell” berhadiah tertentu yang disebutkan akan diberikan bila masyarakat berpartisipasi dalam tautan atau aplikasi.

    "Mohon untuk diketahui bahwa PT Shell Indonesia tidak memiliki program 100th Anniversary Celebration dan tidak ada kaitan apapun dengan program tersebut," tuturnya.

    Jika mendapat informasi penawaran seperti informasi tersebut, mohon untuk tidak memberikan respons atau memberikan data pribadi Anda. Juga tidak memenuhi permintaan pihak perusahaan tertentu yang menyebut PT Shell Indonesia sebagai bagian dari penawaran program tersebut.

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, informasi Shell Indonesia membagikan hadiah untuk merayakan hari jadi ke 100 tahun tidak benar.

    PT Shell Indonesia tidak memiliki program 100th Anniversary Celebration dan tidak ada kaitan apapun dengan program tersebut.

    Rujukan