“WASPADA TERHADAP SERANGAN AKTING PLANDEMI – part 5
Mayat korban kopit nya kok bisa gerak gerak ?”
(GFD-2021-7227) [SALAH] Video Akting Plandemi Jenazah Pasien Covid-19 dapat Bergerak
Sumber: facebook.comTanggal publish: 13/07/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar informasi dari akun Facebook James Bowie berupa sebuah video yang diklaim adalah jenazah pasien Covid-19 yang dapat bergerak. Postingan tersebut disukai sebanyak 156 kali, dikomentari 47 kali, dan disebarkan kembali 87 kali.
Berdasarkan artikel periksa fakta medcom.id, video tersebut sebenarnya adalah aksi teatrikal dalam demonstrasi oleh mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Mesir untuk menekan kebijakan rektor. Video serupa juga ditemukan pada channel Youtube Koran Al-Badeel pada 28 Oktober 2013, terlihat beberapa orang terbungkus kain putih sebagai bagian dari aksi mahasiswa. Pada bagian deskripsi video tersebut terdapat kutipan dalam bahasa Arab yang jika diterjemahkan seperti ini:
“Sejumlah mahasiswa yang tidak mampu bertempat tinggal di kota-kota universitas, yang memperoleh nilai bagus, mulai menyiapkan pengeras suara dan menempatkannya di depan gedung Kepresidenan Universitas Al-Azhar, untuk mengadakan kegiatan protes, untuk menekan rektor universitas untuk mengakomodasi aspirasi mereka.
Mahasiswa Ikhwanul Muslimin juga memotong jalan kamp permanen di Universitas Al-Azhar, di tengah kerumunan pengendara, menyebabkan kemacetan lalu lintas di kedua sisi.
Para mahasiswa meneriakkan slogan-slogan menentang tentara dan polisi. Sejumlah anggota Ikhwanul Muslimin yang memprotes di Universitas Al-Azhar mencoba menyerbu gedung administrasi universitas dengan mencoba menyerbu klinik komprehensif universitas, sementara mahasiswa lain menyalakan lilin dan kembang api di udara.”
Melihat dari penjelasan tersebut, video jenazah pasien Covid-19 dapat bergerak adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Berdasarkan artikel periksa fakta medcom.id, video tersebut sebenarnya adalah aksi teatrikal dalam demonstrasi oleh mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Mesir untuk menekan kebijakan rektor. Video serupa juga ditemukan pada channel Youtube Koran Al-Badeel pada 28 Oktober 2013, terlihat beberapa orang terbungkus kain putih sebagai bagian dari aksi mahasiswa. Pada bagian deskripsi video tersebut terdapat kutipan dalam bahasa Arab yang jika diterjemahkan seperti ini:
“Sejumlah mahasiswa yang tidak mampu bertempat tinggal di kota-kota universitas, yang memperoleh nilai bagus, mulai menyiapkan pengeras suara dan menempatkannya di depan gedung Kepresidenan Universitas Al-Azhar, untuk mengadakan kegiatan protes, untuk menekan rektor universitas untuk mengakomodasi aspirasi mereka.
Mahasiswa Ikhwanul Muslimin juga memotong jalan kamp permanen di Universitas Al-Azhar, di tengah kerumunan pengendara, menyebabkan kemacetan lalu lintas di kedua sisi.
Para mahasiswa meneriakkan slogan-slogan menentang tentara dan polisi. Sejumlah anggota Ikhwanul Muslimin yang memprotes di Universitas Al-Azhar mencoba menyerbu gedung administrasi universitas dengan mencoba menyerbu klinik komprehensif universitas, sementara mahasiswa lain menyalakan lilin dan kembang api di udara.”
Melihat dari penjelasan tersebut, video jenazah pasien Covid-19 dapat bergerak adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).
Informasi yang salah. Video tersebut adalah aksi protes mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo, Mesir pada 28 Oktober 2013.
Informasi yang salah. Video tersebut adalah aksi protes mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo, Mesir pada 28 Oktober 2013.
Rujukan
(GFD-2021-7228) [SALAH] Video “Mesjid ditutup sementara, KATEDRAL BUKA UNTUK IBADAH MINGGU. rezim kurang ajar”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 13/07/2021
Berita
Akun Twitter Opposite6805 (twitter.com/Oppomeneh5) pada 4 Juli 2021 mengunggah sebuah video dengan narasi sebagai berikut:
“#PenindasRakyatHarusTumbang Mesjid ditutup sementara, KATEDRAL BUKA UNTUK IBADAH MINGGU. rezim kurang ajar”
Di video yang yang memperlihatkan pengendara mobil merekam situasi di depan Gereja Katedral Jakarta. Dalam video itu, si pengemudi mobil menyebut tidak ada spanduk penutupan gereja.
“#PenindasRakyatHarusTumbang Mesjid ditutup sementara, KATEDRAL BUKA UNTUK IBADAH MINGGU. rezim kurang ajar”
Di video yang yang memperlihatkan pengendara mobil merekam situasi di depan Gereja Katedral Jakarta. Dalam video itu, si pengemudi mobil menyebut tidak ada spanduk penutupan gereja.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa Gereja Katedral Jakarta tetap buka untuk ibadah Minggu sementara masjid ditutup saat penerapan PPKM Darurat merupakan konten yang menyesatkan.
Faktanya, Gereja Katedral Jakarta sudah meniadakan kegiatan ibadah tatap muka sejak Sabtu-Minggu (26-27 Juni 2021) berdasarkan surat yang diterbitkan Tim Gugus Kendali Covid KAJ pada 23 Juni 2021 lalu. Bahkan, pengumuman ditiadakannya ibadah tatap muka ini sudah diunggah di akun Instagram @katedraljakarta sejak tanggal 25 Juni 2021.
Selain itu, dilansir dari Liputan6, informasi tersebut disampaikan juga oleh Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta, Rm. Hani Rudi Hartoko SJ. Berikut pernyataannya:
“Pada tanggal 23 Juni, Tim Gugus Kendali Covid KAJ telah menerbitkan surat yang memutuskan bahwa kegiatan ibadah atau peribadatan secara tatap muka untuk sementara dihentikan dan digantikan dengan misa/ibadah secara online dengan beribadah dari rumah masing-masing. Oleh karena itu, Katedral Jakarta mulai Sabtu, Minggu, 26, 27, Juni yang lalu telah melaksanakan surat keputusan tersebut. Yaitu meniadakan Misa Harian, Misa Mingguan secara tatap muka dan kita melaksanakan secara online atau live streaming dan umat mengikuti dari rumah masing-masing.
Ketika ditetapkan PPKM berdasarkan instruksi Mendagri no. 15/2021 untuk tanggal 3-20 Juli 2021, kami (pihak) Katederal sudah melaksanakan seminggu sebelumnya meniadakan kegiatan tatap muka. Satu hal yang masih kami lakukan yaitu sesuai yang diatur oleh ketentuan Mendagri tersebut yaitu pelaksanaan pemberkatan perkawinan.
Bagi calon yang memutuskan untuk menunda (pemberkatan perkawinan) kami juga mengapresiasi dan mendukung. Tetapi bagi mereka yang tetap akan melaksanakan supaya diatur mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Yaitu jumlah hanya 30 orang, mengikuti seluruh protokol kesehatan dengan cermat. Dan kami juga menuntut setiap peserta sudah vaksin dan telah melakukan test SWAB antigen untuk memastikan kondisi kesehatan masing-masing peserta. Itulah cara kami juga mendukung upaya pemerintahan untuk memutus mata rantai penyebaran (Covid-19 yang makin mengkhawatirkan belakangan ini.
Inilah komitmen kami Gereja Katedral ikut mendukung upaya itu untuk kebaikan bersama. Maka kami mengimbau umat dan juga masyarakat untuk tetap patuh, disiplin diri mengikuti ketentuan tersebut. Beribadah dari rumah, bekerja dari rumah, dan melakukan aktivitas dari rumah masing-masing. Dan itulah cara kita menjamin kesehatan kebaikan bersama.
Faktanya, Gereja Katedral Jakarta sudah meniadakan kegiatan ibadah tatap muka sejak Sabtu-Minggu (26-27 Juni 2021) berdasarkan surat yang diterbitkan Tim Gugus Kendali Covid KAJ pada 23 Juni 2021 lalu. Bahkan, pengumuman ditiadakannya ibadah tatap muka ini sudah diunggah di akun Instagram @katedraljakarta sejak tanggal 25 Juni 2021.
Selain itu, dilansir dari Liputan6, informasi tersebut disampaikan juga oleh Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta, Rm. Hani Rudi Hartoko SJ. Berikut pernyataannya:
“Pada tanggal 23 Juni, Tim Gugus Kendali Covid KAJ telah menerbitkan surat yang memutuskan bahwa kegiatan ibadah atau peribadatan secara tatap muka untuk sementara dihentikan dan digantikan dengan misa/ibadah secara online dengan beribadah dari rumah masing-masing. Oleh karena itu, Katedral Jakarta mulai Sabtu, Minggu, 26, 27, Juni yang lalu telah melaksanakan surat keputusan tersebut. Yaitu meniadakan Misa Harian, Misa Mingguan secara tatap muka dan kita melaksanakan secara online atau live streaming dan umat mengikuti dari rumah masing-masing.
Ketika ditetapkan PPKM berdasarkan instruksi Mendagri no. 15/2021 untuk tanggal 3-20 Juli 2021, kami (pihak) Katederal sudah melaksanakan seminggu sebelumnya meniadakan kegiatan tatap muka. Satu hal yang masih kami lakukan yaitu sesuai yang diatur oleh ketentuan Mendagri tersebut yaitu pelaksanaan pemberkatan perkawinan.
Bagi calon yang memutuskan untuk menunda (pemberkatan perkawinan) kami juga mengapresiasi dan mendukung. Tetapi bagi mereka yang tetap akan melaksanakan supaya diatur mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Yaitu jumlah hanya 30 orang, mengikuti seluruh protokol kesehatan dengan cermat. Dan kami juga menuntut setiap peserta sudah vaksin dan telah melakukan test SWAB antigen untuk memastikan kondisi kesehatan masing-masing peserta. Itulah cara kami juga mendukung upaya pemerintahan untuk memutus mata rantai penyebaran (Covid-19 yang makin mengkhawatirkan belakangan ini.
Inilah komitmen kami Gereja Katedral ikut mendukung upaya itu untuk kebaikan bersama. Maka kami mengimbau umat dan juga masyarakat untuk tetap patuh, disiplin diri mengikuti ketentuan tersebut. Beribadah dari rumah, bekerja dari rumah, dan melakukan aktivitas dari rumah masing-masing. Dan itulah cara kita menjamin kesehatan kebaikan bersama.
Kesimpulan
Faktanya, Gereja Katedral Jakarta sudah meniadakan kegiatan ibadah tatap muka sejak Sabtu-Minggu (26-27 Juni 2021) berdasarkan surat yang diterbitkan Tim Gugus Kendali Covid KAJ pada 23 Juni 2021 lalu. Bahkan, pengumuman ditiadakannya ibadah tatap muka ini sudah diunggah di akun Instagram @katedraljakarta sejak tanggal 25 Juni 2021.
Rujukan
(GFD-2021-7229) [SALAH] “DIBAYAR KONTAN!!! ADZAB PENJUAL AGAMA DEMI HARTA. YUSUF MANSUR SUDAH TERBARING???”
Sumber: youtube.comTanggal publish: 13/07/2021
Berita
“BERITA TERKINI ~ BALASAN PENGGUNA DANA HAJI YANG TAK DI RIDHOI UMAT. USTADZ YUSUF MANSUR TERBARING!”
Hasil Cek Fakta
Terdapat sebuah video berdurasi 13 menit 17 detik yang diunggah oleh channel Youtube bernama titik tumpu mengenai kondisi Yusuf Mansur yang terbaring sakit, bahkan pada foto thumbnail video tersebut memuat tentang foto beberapa orang yang sedang menyolati jenazah, sehingga hal tersebut mengindikasikan adanya persepsi bahwa Ustadz Yusuf Mansur telah meninggal dunia.
Namun ketika video tersebut diputar, tidak ada penjelasan apapun yang menyatakan bahwa Ustadz Yusuf Mansur terbaring sakit ataupun meninggal dunia. Video tersebut hanya menjelaskan sebuah artikel yang menuliskan tentang Ustadz Yusuf Mansur yang meminta doa karena ia sedang merasa demam menggigil hingga sulit menelan, serta menjelaskan tentang harta kekayaan Yaqut Cholil, Menteri Agama Republik Indonesia yang mengalami peningkatan drastis setelah dirinya menjabat sebagai menteri. Selain itu, dalam video tersebut pula memuat tentang ceramah Ustadz Abdul Somad dan tayangan press conference yang dilakukan oleh kepolisian tentang kasus perumahan fiktif yang sempat menyeret Ustadz Yusuf Mansur atas pihak yang dituduh sebagai pelaku dari penipuan yang terjadi pada tahun 2020 lalu.
Dari semua informasi yang disampaikan dalam video, tidak ada satupun informasi valid yang menjelaskan tentang keadaan Ustadz Yusuf Mansur yang sedang terbaring sakit. Bahkan pada tahun 2020 lalu, sempat beredar informasi palsu yang mengabarkan tentang Ustadz Yusuf Mansur telah meninggal dunia. Namun melansir dari jateng.tribunnews.com dan kominfo.go.id, informasi tersebut adalah informasi yang salah, sebab Ustadz Yusuf Mansur langsung mengklarifikasi kabar tersebut melalui akun Instagram pribadinya.
Selain itu, foto yang terdapat dalam thumbnail video juga merupakan foto yang diunggah oleh Ustadz Yusuf Mansur pada akun Twitter pribadinya yaitu @Yusuf_Mansur di tahun 2020 lalu ketika ia meminta doa atas keadaannya yang sedang terbaring sakit dirumah sakit.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait terbaringnya Ustadz Yusuf Mansur karena sakit di rumah sakit ialah informasi yang salah atau masuk ke dalam kategori koneksi yang salah.
Namun ketika video tersebut diputar, tidak ada penjelasan apapun yang menyatakan bahwa Ustadz Yusuf Mansur terbaring sakit ataupun meninggal dunia. Video tersebut hanya menjelaskan sebuah artikel yang menuliskan tentang Ustadz Yusuf Mansur yang meminta doa karena ia sedang merasa demam menggigil hingga sulit menelan, serta menjelaskan tentang harta kekayaan Yaqut Cholil, Menteri Agama Republik Indonesia yang mengalami peningkatan drastis setelah dirinya menjabat sebagai menteri. Selain itu, dalam video tersebut pula memuat tentang ceramah Ustadz Abdul Somad dan tayangan press conference yang dilakukan oleh kepolisian tentang kasus perumahan fiktif yang sempat menyeret Ustadz Yusuf Mansur atas pihak yang dituduh sebagai pelaku dari penipuan yang terjadi pada tahun 2020 lalu.
Dari semua informasi yang disampaikan dalam video, tidak ada satupun informasi valid yang menjelaskan tentang keadaan Ustadz Yusuf Mansur yang sedang terbaring sakit. Bahkan pada tahun 2020 lalu, sempat beredar informasi palsu yang mengabarkan tentang Ustadz Yusuf Mansur telah meninggal dunia. Namun melansir dari jateng.tribunnews.com dan kominfo.go.id, informasi tersebut adalah informasi yang salah, sebab Ustadz Yusuf Mansur langsung mengklarifikasi kabar tersebut melalui akun Instagram pribadinya.
Selain itu, foto yang terdapat dalam thumbnail video juga merupakan foto yang diunggah oleh Ustadz Yusuf Mansur pada akun Twitter pribadinya yaitu @Yusuf_Mansur di tahun 2020 lalu ketika ia meminta doa atas keadaannya yang sedang terbaring sakit dirumah sakit.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait terbaringnya Ustadz Yusuf Mansur karena sakit di rumah sakit ialah informasi yang salah atau masuk ke dalam kategori koneksi yang salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Informasi tersebut salah. Faktanya informasi yang dikemukakan dalam video yang diunggah oleh Channel Youtube bernama titik tumpu tersebut tidak sesuai dengan narasi yang tertera pada thumbnail video.
Rujukan
(GFD-2021-8696) Keliru, Tabung Oksigen Bisa Dibuat dari Aerator Akuarium
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 13/07/2021
Berita
Sejumlah unggahan tentang memanfaatkan aerator akuarium sebagai pengganti tabung oksigen menjadi viral di media sosial dalam sepekan terakhir. Salah satu unggahan itu terdiri dari infografis berjudul Membuat Alat Penyaring Udara Sederhana serta foto dan video merakit aerator tersebut.
Unggahan ini tersebar di tengah kondisi banyaknya masyarakat kesulitan mencari akses tabung oksigen untuk merawat pasien terpapar Covid-19 dengan gejala sesak napas. Bahkan sejumlah rumah sakit juga sempat kehabisan pasokan oksigen.
Dalam beberapa unggahan, alat-alat untuk membuat oksigen itu, disebutkan antara lain aerator aquarium, botol bekas, selang, dan air. Teknik tersebut pun diklaim lebih murah, karena hanya bermodalkan Rp 150 ribu. Sebab, bisa juga memanfaatkan alat-alat di rumah.
“Bermodalkan Alat Sederhana Bisa Berguna untuk membuat Tabung Oksigen di Rumah. Dengan Bermodalkan 150.000 kita bisa menghemat uang kita Ratusan juta,” demikian narasi yang menyertai infografis dan foto tersebut.
Tangkapan layar unggahan membuat tabung oksigen dari aerator aquarium di media sosial.
Hasil Cek Fakta
Dengan menggunakan reverse image tool milik Google, Tempo menemukan infografis berjudul Membuat Alat Penyaring Udara Sederhana pernah diterbitkan oleh Kompas pada 2015 dalam konteks melawan asap saat bencana kebakaran hutan. Infografis tersebut dimuat di akun Twitter @kompasmuda pada 27 Oktober 2015.
Tempo juga menghubungi Ketua Departemen Fisika Kedokteran Klaster Medical Technology IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prasandhya Astagiri Yusuf. Dia menjelaskan bahwa infografis tersebut hanya digunakan untuk penyaring udara, bukan untuk menghasilkan oksigen. “Saat udara penuh partikel asap akan menyebabkan sakit di bagian paru. Nah alat tersebut dapat menyaring partikel asap,” kata dia saat dihubungi Tempo, Senin 12 Juli.
Menurut Prasandhya, aerator hanya berfungsi untuk membuat gelembung udara di akuarium agar ikan mendapatkan oksigen, tapi tidak menambahkan oksigen. Cara kerja aerator adalah dengan mengambil oksigen dari udara lalu digelembungkan di dalam air.
Kandungan oksigen di udara sendiri berkisar 20-21 persen. Sedangkan oksigen yang digunakan untuk medis, membutuhkan konsentrasi 100 persen. Sehingga kadar oksigen 20 persen di udara, tidak cukup untuk menyuplai kebutuhan oksigen pada pasien. Apalagi, saat terinfeksi Covid-19, membuat kemampuan difusi oksigen ke dalam tubuh menjadi terganggu.
Solusi seperti yang selama ini dilakukan, kata dia, yakni dengan menembakkan langsung oksigen yang berkonsentrasi lebih tinggi (100 persen) kepada pasien. Bahkan dalam kondisi lebih parah, pemberian oksigen melalui intubasi yakni dengan memasukkan oksigen melalui saluran pernapasan atau paru-paru.
Membuat alat sendiri dengan aerator, kata dia, justru berisiko bagi kesehatan. Kandungan air yang tidak steril misalnya, dapat menembakkan bakteri ke paru-paru dan dapat memicu infeksi tambahan. Dampak lainnya, kelembaban udara pada paru-paru akan meningkat dan justru memicu pertumbuhan bakteri. Selama ini, tabung oksigen yang diproduksi untuk kebutuhan medis dilengkapi dengan alat untuk mengontrol oksigen yang dipasok ke dalam tubuh seperti mengandung filter, pressure regulator, dan pressure control.
Selain penjelasan Prasandhya tersebut, dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Tomy Abuzairi, membuat video untuk menguji kadar oksigen di botol yang dialiri udara dari aerator atau kompresor berkapasitas 1 liter/menit.
Mulanya oksigen analyzer diset pada angka 21 persen. Kemudian saat aerator dihubungkan dengan oksigen analyzer tersebut, angka konsentrasi oksigen yang tertera hanya naik 0,2 menjadi 21,2 persen sehingga kenaikan oksigennya menjadi tidak signifikan.
Sebelumnya, Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anto Tri Sugiarto, juga menjelaskan, alat tersebut tidak akan dapat menambah jumlah oksigen yang dihirup. Pompa aerator, dia berujar, hanya membantu mengirim udara ke saluran pernapasan.
“Yang dipompakan adalah udara dengan komposisi oksigen sekitar 20,9 persen,” tutur Anto melalui pesan WhatsApp, Rabu, 30 Juni 2021 kepada Tempo. Itu, Anto menambahkan, berbeda dari memberikan oksigen yang sangat dibutuhkan kepada pasien Covid-19 gejala berat.
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa tabung oksigen bisa dibuat dari kompresor atau aerator akuarium adalah keliru. Aerator hanya berfungsi untuk membuat gelembung udara di akuarium, dan tidak dapat menyuplai kebutuhan oksigen untuk tubuh pasien Covid-19 bergejala berat.
Tim Cek Fakta Tempo
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/tabung-oksigen
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://twitter.com/kompasmuda/status/658846604279939072
- https://www.tempo.co/tag/universitas-indonesia
- https://www.tempo.co/tag/oksigen
- https://www.youtube.com/watch?v=sN3skn7Nugs
- https://www.tempo.co/tag/lembaga-ilmu-pengetahuan-indonesia-lipi
- https://tekno.tempo.co/read/1478270/video-viral-bikin-alat-oksigen-sendiri-ahli-ingatkan-ini/full&view=ok
Halaman: 6545/7963



