(GFD-2021-7287) [SALAH] Foto Jokowi Makan Sendiri
Sumber: facebook.comTanggal publish: 21/07/2021
Berita
Beredar sebuah foto di media sosial yang menunjukkan Bapak Jokowi Widodo, Presiden Republik Indonesia, sedang makan sendirian. Foto tersebut disandingkan dengan narasi terkait pandangan pribadi terhadap sosok Jokowi.
Hasil Cek Fakta
Setelah ditelusuri, foto yang disematkan dalam unggahan tersebut merupakan hasil suntingan. Melalui penelusuran yandex, diketahui foto asli dari unggahan tersebut berasal dari berita yang diunggah oleh detik.news yang berjudul “Jokowi Ngangkring Bareng Penggemar di Fatmawati” pada 1/6/2012 dan Tribunnews yang berjudul “Lahap Jokowi Nikmati Makan Malam di Cangkringan Fatmawati” pada tanggal 2/6/2012. Dalam foto aslinya terlihat Jokowi sedang makan bersama dengan beberapa orang lainnya dan foto tersebut diambil pada tahun 2012 silam.
Dilansir dari detik.com, Jokowi yang saat itu merupakan calon Gubernur DKI Jakarta, menggelar acara ramah tamah dengan penggemar di sebuah angkringan di Jl. Fatmwati, Jakarta Selatan. Jokowi datang bersama tim suksesnya, kompak mengenakan baju kotak-kotak khasnya.
Dengan demikian, foto Jokowi makan sendiri yang disematkan dalam unggahan salah satu akun Facebook tersebut adalah hoaks dengan kategori konten yang dimanipulasi.
Dilansir dari detik.com, Jokowi yang saat itu merupakan calon Gubernur DKI Jakarta, menggelar acara ramah tamah dengan penggemar di sebuah angkringan di Jl. Fatmwati, Jakarta Selatan. Jokowi datang bersama tim suksesnya, kompak mengenakan baju kotak-kotak khasnya.
Dengan demikian, foto Jokowi makan sendiri yang disematkan dalam unggahan salah satu akun Facebook tersebut adalah hoaks dengan kategori konten yang dimanipulasi.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fathia Islamiyatul Syahida (Universitas Pendidikan Indonesia)
Foto tersebut merupakan hasil suntingan. Faktanya, foto asli merupakan dokumentasi saat Jokowi makan bersama dalam gelaran acara ramah tamah dengan penggemar di sebuah angkringan di Jl Fatmawati, Jakarta Selatan.
Foto tersebut merupakan hasil suntingan. Faktanya, foto asli merupakan dokumentasi saat Jokowi makan bersama dalam gelaran acara ramah tamah dengan penggemar di sebuah angkringan di Jl Fatmawati, Jakarta Selatan.
Rujukan
(GFD-2021-7274) [SALAH] Video Kericuhan di Pasar Ngabul Jepara
Sumber: facebook.comTanggal publish: 20/07/2021
Berita
“pasar ngabul jepara…ricuh “
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook bernama Imron Rosadi memposting video berdurasi 30 detik. Video yang merekam sebuah kericuhan tersebut diklaim terjadi di pasar Ngabul Jepara.
Setelah ditelusuri melansir dari kompas.com Camat Tahunan Nuril Abdilah mengatakan video tersebut tidak benar. Usai mendapat kiriman video tersebut pihaknya langsung meninjau lokasi.
“Video itu hoaks, saya langsung kroscek (Kamis malam), dan tidak ada apa-apa di sana, sepi seperti hari-hari biasa,” kata Nuril dikutip dari laman jepara.go.id.
Forkopimcam bersama pihak kepolisian dan TNI kembali ke Pasar Ngabul pada Jumat (16/7/2021) siang untuk mengumpulkan informasi dan memastikan kepada pedagang.
Namun, tidak terjadi sesuatu dan kondisi Pasar Ngabul sangat aman dan kondusif.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jepara Arif Darmawan bahwa video tersebut merupakan hoaks.
Lokasi kericuhan pada video tersebut terjadi di Pasar Kartini Peunayong Banda Aceh, pada Senin (24/5/2021) saat proses pemindahan pedagang ke Pasar Almahira Lamdingan, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.
“Kami berharap masyarakat tidak terpancing dan tetap kondusif, dalam situasi sekarang,” kata Arif.
Dengan demikian video yang diklaim kericuhan di pasar Ngabul Jepara merupakan hoaks. Kericuhan tersebut terjadi di pasar daerah Banda Aceh bulan Mei yang disebabkan rencana relokasi pedagang di Pasar Kartini Peunayong sehingga masuk dalam kategori konten yang salah.
Setelah ditelusuri melansir dari kompas.com Camat Tahunan Nuril Abdilah mengatakan video tersebut tidak benar. Usai mendapat kiriman video tersebut pihaknya langsung meninjau lokasi.
“Video itu hoaks, saya langsung kroscek (Kamis malam), dan tidak ada apa-apa di sana, sepi seperti hari-hari biasa,” kata Nuril dikutip dari laman jepara.go.id.
Forkopimcam bersama pihak kepolisian dan TNI kembali ke Pasar Ngabul pada Jumat (16/7/2021) siang untuk mengumpulkan informasi dan memastikan kepada pedagang.
Namun, tidak terjadi sesuatu dan kondisi Pasar Ngabul sangat aman dan kondusif.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jepara Arif Darmawan bahwa video tersebut merupakan hoaks.
Lokasi kericuhan pada video tersebut terjadi di Pasar Kartini Peunayong Banda Aceh, pada Senin (24/5/2021) saat proses pemindahan pedagang ke Pasar Almahira Lamdingan, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.
“Kami berharap masyarakat tidak terpancing dan tetap kondusif, dalam situasi sekarang,” kata Arif.
Dengan demikian video yang diklaim kericuhan di pasar Ngabul Jepara merupakan hoaks. Kericuhan tersebut terjadi di pasar daerah Banda Aceh bulan Mei yang disebabkan rencana relokasi pedagang di Pasar Kartini Peunayong sehingga masuk dalam kategori konten yang salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Luthfiyah Oktari Jasmien (UIN Raden Mas Said Surakarta).
Lokasi kericuhan pada video tersebut bukan di pasar Ngabul Jepara melainkan terjadi di pasar daerah Banda Aceh yang disebabkan rencana relokasi pedagang di Pasar Kartini Peunayong.
Lokasi kericuhan pada video tersebut bukan di pasar Ngabul Jepara melainkan terjadi di pasar daerah Banda Aceh yang disebabkan rencana relokasi pedagang di Pasar Kartini Peunayong.
Rujukan
(GFD-2021-7275) [SALAH] Ustadz Abdul Somad (UAS) Meninggal Dunia
Sumber: youtube.comTanggal publish: 20/07/2021
Berita
“INNALILLAH. SEMOGA KHUSNUL KHOTIMAH. TANGIS KELUARGA TAK TERBENDUNG”
Hasil Cek Fakta
Terdapat sebuah video berdurasi 10 menit 5 detik yang diunggah oleh channel Youtube bernama pena istana mengenai kondisi Ustadz Abdul Somad (UAS) yang diindikasikan telah meninggal dunia.
Namun setelah video tersebut diputar, informasi yang disampaikan ialah tentang pengalaman UAS ketika ia mengalami kondisi seperti ciri-ciri terjangkit Covid-19. Dalam sebuah kajian musyawarah UAS menyatakan bahwa setelah ia kembali dari luar kota, ia merasakan kondisi badan yang tidak enak. Ia merasa bahwa kondisinya saat itu seperti tulang dalam tubuhnya seolah ingin putus, lalu kepalanya seperti ditusuk dengan jarum dan kaca tajam, selain itu ia juga tidak bisa mencium bau, bahkan bau durian pun ia tidak bisa menciumnya.
Selain itu informasi lain yang disampaikan dalam video tersebut ialah mengenai berbagai kritik dari beberapa pihak terkait materi ceramah yang disampaikan oleh UAS terkait Covid-19 yang dianggap telah meresahkan dan membuat sebuah penurunan legitimasi masyarakat kepada pemerintah atas kebenaran adanya Virus Covid-19. Sehingga dalam video tersebut tidak memuat satu informasi apapun mengenai kondisi UAS yang telah meninggal dunia, bahkan tidak pula menayangkan tentang kondisi keluarga UAS yang tak dapat membendung tangis sebagaimana narasi yang tertera pada thumbnail video.
Melansir dari medcom.id, informasi mengenai UAS meninggal dunia juga telah beredar di platform media sosial Facebook pada beberapa waktu lalu, namun melansir dari medcom.id dan merdeka.com, informasi tersebut ialah informasi salah atau hoax, karena faktanya pada tanggal 13 Juli 2021, UAS mengunggah video klarifikasi pada akun Instagram resminya dengan menyatakan bahwa kondisinya saat ini masih dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait meninggalnya Ustadz Abdul Somad ialah informasi yang salah atau masuk ke dalam kategori koneksi yang salah.
Namun setelah video tersebut diputar, informasi yang disampaikan ialah tentang pengalaman UAS ketika ia mengalami kondisi seperti ciri-ciri terjangkit Covid-19. Dalam sebuah kajian musyawarah UAS menyatakan bahwa setelah ia kembali dari luar kota, ia merasakan kondisi badan yang tidak enak. Ia merasa bahwa kondisinya saat itu seperti tulang dalam tubuhnya seolah ingin putus, lalu kepalanya seperti ditusuk dengan jarum dan kaca tajam, selain itu ia juga tidak bisa mencium bau, bahkan bau durian pun ia tidak bisa menciumnya.
Selain itu informasi lain yang disampaikan dalam video tersebut ialah mengenai berbagai kritik dari beberapa pihak terkait materi ceramah yang disampaikan oleh UAS terkait Covid-19 yang dianggap telah meresahkan dan membuat sebuah penurunan legitimasi masyarakat kepada pemerintah atas kebenaran adanya Virus Covid-19. Sehingga dalam video tersebut tidak memuat satu informasi apapun mengenai kondisi UAS yang telah meninggal dunia, bahkan tidak pula menayangkan tentang kondisi keluarga UAS yang tak dapat membendung tangis sebagaimana narasi yang tertera pada thumbnail video.
Melansir dari medcom.id, informasi mengenai UAS meninggal dunia juga telah beredar di platform media sosial Facebook pada beberapa waktu lalu, namun melansir dari medcom.id dan merdeka.com, informasi tersebut ialah informasi salah atau hoax, karena faktanya pada tanggal 13 Juli 2021, UAS mengunggah video klarifikasi pada akun Instagram resminya dengan menyatakan bahwa kondisinya saat ini masih dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait meninggalnya Ustadz Abdul Somad ialah informasi yang salah atau masuk ke dalam kategori koneksi yang salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta). Informasi tersebut salah. Faktanya informasi yang disampaikan dalam video tersebut memuat informasi yang berbeda dengan narasi yang tertera pada thumbnail video.
Rujukan
(GFD-2021-7276) [SALAH] Foto Seorang Petani Kuba Dieksekusi karena Menolak Bekerja untuk Rezim Fidel Castro
Sumber: twitter.comTanggal publish: 20/07/2021
Berita
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Komunisme!”
NARASI DALAM GAMBAR:
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Foto ini memenangkan penghargaan Pulitzer pada tahun 1960. Foto ini menunjukkan seorang pendeta melayani ritual pengakuan dosa terakhir untuk seorang petani Kuba , yang memiliki sebuah lahan. Ia menolak bekerja untuk rezim Castro. Ia dieksekusi oleh regu tembak setelah “diadili” oleh Che Guevara selama 4 menit. Anda tidak akan pernah melihat foto ini di baju apapun.”(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Komunisme!”
NARASI DALAM GAMBAR:
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Foto ini memenangkan penghargaan Pulitzer pada tahun 1960. Foto ini menunjukkan seorang pendeta melayani ritual pengakuan dosa terakhir untuk seorang petani Kuba , yang memiliki sebuah lahan. Ia menolak bekerja untuk rezim Castro. Ia dieksekusi oleh regu tembak setelah “diadili” oleh Che Guevara selama 4 menit. Anda tidak akan pernah melihat foto ini di baju apapun.”
“Komunisme!”
NARASI DALAM GAMBAR:
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Foto ini memenangkan penghargaan Pulitzer pada tahun 1960. Foto ini menunjukkan seorang pendeta melayani ritual pengakuan dosa terakhir untuk seorang petani Kuba , yang memiliki sebuah lahan. Ia menolak bekerja untuk rezim Castro. Ia dieksekusi oleh regu tembak setelah “diadili” oleh Che Guevara selama 4 menit. Anda tidak akan pernah melihat foto ini di baju apapun.”(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Komunisme!”
NARASI DALAM GAMBAR:
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Foto ini memenangkan penghargaan Pulitzer pada tahun 1960. Foto ini menunjukkan seorang pendeta melayani ritual pengakuan dosa terakhir untuk seorang petani Kuba , yang memiliki sebuah lahan. Ia menolak bekerja untuk rezim Castro. Ia dieksekusi oleh regu tembak setelah “diadili” oleh Che Guevara selama 4 menit. Anda tidak akan pernah melihat foto ini di baju apapun.”
Hasil Cek Fakta
Akun Twitter dengan nama pengguna Objectivist mengunggah sebuah foto yang menunjukkan seorang pria tengah berlutut di hadapan seorang pendeta dan sekelompok orang yang membawa senjata api. Dalam foto tersebut juga terdapat keterangan yang menyatakan bahwa pria tersebut merupakan seorang petani Kuba yang dieksekusi karena menolak bekerja untuk rezim Fidel Castro.
Berdasarkan hasil penelusuran, pria dalam foto tersebut bukan merupakan seorang petani Kuba yang dieksekusi karena menolak bekerja untuk rezim Castro, melainkan seorang tentara berpangkat kopral yang bertugas di bawah kepemimpinan penguasa Kuba sebelumnya, Fulgencio Batista, yang tengah melakukan ritual pengakuan dosa terakhirnya sebelum dieksekusi.
Foto tersebut merupakan hasil karya seorang fotografer yang bekerja di media United Press International, Andrew Lopez. Foto serupa dengan deskripsi sebenarnya dapat dilihat di situs resmi Penghargaan Pulitzer, pulitzer.org.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Twitter dengan nama pengguna Objectivist tersebut dapat dikategorikan sebagai Konteks yang Salah/False Context.
Berdasarkan hasil penelusuran, pria dalam foto tersebut bukan merupakan seorang petani Kuba yang dieksekusi karena menolak bekerja untuk rezim Castro, melainkan seorang tentara berpangkat kopral yang bertugas di bawah kepemimpinan penguasa Kuba sebelumnya, Fulgencio Batista, yang tengah melakukan ritual pengakuan dosa terakhirnya sebelum dieksekusi.
Foto tersebut merupakan hasil karya seorang fotografer yang bekerja di media United Press International, Andrew Lopez. Foto serupa dengan deskripsi sebenarnya dapat dilihat di situs resmi Penghargaan Pulitzer, pulitzer.org.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Twitter dengan nama pengguna Objectivist tersebut dapat dikategorikan sebagai Konteks yang Salah/False Context.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Bukan foto seorang petani Kuba yang dieksekusi karena menolak bekerja untuk rezim Castro, melainkan foto seorang tentara berpangkat kopral yang bertugas di bawah kepemimpinan penguasa Kuba sebelumnya, Fulgencio Batista, yang akan dieksekusi.
Bukan foto seorang petani Kuba yang dieksekusi karena menolak bekerja untuk rezim Castro, melainkan foto seorang tentara berpangkat kopral yang bertugas di bawah kepemimpinan penguasa Kuba sebelumnya, Fulgencio Batista, yang akan dieksekusi.
Rujukan
Halaman: 6530/7963



