• (GFD-2021-8845) Keliru, Video Vaksin Sinovac Untuk Anak Belum Diuji Coba

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 20/12/2021

    Berita


    Sebuah video yang memperlihatkan seseorang yang sedang menyampaikan informasi tentang vaksin sinovac pada anak diklaim belum dilakukan uji coba beredar di aplikasi pengiriman pesan. Pada video yang berdurasi 2 menit dan diberi narasi “blm di uji coba kok brani ksh percobaan ke ank negri..?” itu terlihat sekelompok warga dengan serius mendengarkan penyampaian tentang informasi vaksin untuk anak.
    Seorang pria dalam video itu mengatakan vaksin merk sinovac untuk anak sama sekali belum dilakukan ujicoba untuk anak-anak Indonesia. Pria itu juga terlihat menunjukan sebuah dokumen jurnal tentang keamanan vaksin pada warga. Seorang wanita dalam video itu bahkan ikut meminta warga untuk berhati-hati memberikan vaksin untuk anak.
    Lantas benarkah vaksin sinovac untuk anak-anak belum dilakukan uji coba ?
    Tangkapan layar unggahan video dengan klaim vaksin untuk anak belum pernah diuji coba.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri informasi vaksin sinovac untuk anak dari sumber kredibel. Hasilnya diketahui vaksin sinovac untuk anak adalah merupakan vaksin yang telah mendapatkan izin penggunaan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia pada 1 November 2021.
    Dikutip dari liputan6, BPOM mengizinkan penggunaan vaksin Sinovac dari China untuk anak usia 6-11 tahun. Menurut Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, pihaknya sedang menunggu rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
    Ikatan Dokter Anak Indonesia ( IDAI ) sendiri telah merekomendasikan pemberian imunisasi COVID- 19 Corona Vac pada anak golongan usia 6 tahun ke atas. Vaksin Corona harus diberikan secara intramuskular dengan dosis 3ug (0,5 ml) sebanyak dua kali pemberian dengan jarak dosis pertama ke dosis kedua yaitu 4 minggu. Sebelum dan sesudah vaksinasi semua anak tetap memakai masker dengan benar, menjaga jarak,tidak berkerumun, jangan bepergian bila tidak penting.
    IDAI juga meminta pelaksanaan imunisasi harus mengikuti kebijakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan dapat dimulai setelah mempertimbangkan kesiapan petugas kesehatan, sarana, prasarana dan masyarakat. Semua anggota IDAI diimbau untuk melakukan imunisasi kejar dan imunisasi rutin untuk mencegah kejadian luar biasa penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi selain membantu meningkatkan cakupan imunisasi COVID-19 pada anak.
    Sementara Imunisasi untuk anak dengan kanker dalam fase pemeliharaan, penyakit kronis atau autoimun yang terkontrol dapat mengikuti panduan imunisasi umum dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter penanggung jawab pasien sebelumnya. 
    Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) juga telah mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan vaksinasi COVID-19 untuk anak usia 6 sampai 11 tahun. Jenis vaksin yang akan digunakan untuk Vaksinasi anak usia 6-11 tahun adalah vaksin Sinovac atau vaksin jenis lainnya yang sudah ada Emergency Use Of Authorization (EUA) dari BPOM.
    Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Kesehatan, mengatakan Untuk vaksin Sinovac, interval pemberian dosis 1 dan dosis 2 adalah 28 hari serta harus didahului dengan proses skrining kesehatan sesuai dengan format standar yang telah berlaku.
    Dilansir dari detik.com, menurut Cissy Kartasasmita, Anggota Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sekaligus Ketua Pokja Imunisasi Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Sebelum diberikan EUA (Emergency Use Authorization), vaksin untuk anak sebenarnya telah melewati proses pengkajian ulang mengenai imunogenisitas dan keamanannya oleh BPOM. Vaksin untuk anak ini juga sudah diuji melalui uji klinik pada tiap kelompok usia, baik 18-60 tahun, di atas 60 tahun dan juga kelompok 12-17 tahun. Setelah itu, juga telah lolos uji coba pada anak usia 3-17 tahun di China dan negara lain. “Hasilnya aman dan efektif,"kata Cissy.
    Dikutip dari reuters, Sinovac Biotech mengklaim Vaksin COVID-19 Sinovac aman dan mampu memicu respons kekebalan pada anak-anak dan remaja. Hasil awal dari uji coba tahap awal dan menengah dari uji klinis Fase I dan II yang melibatkan lebih dari 500 orang berusia antara 3-17 tahun yang menerima dua suntikan vaksin dosis sedang atau rendah, atau plasebo sebagian besar mendapatkan reaksi ringan.
    Zeng Gang, seorang peneliti di perusahaan tersebut pada konferensi akademis di Beijing , mengatakan dua anak yang mendapat dosis lebih rendah dilaporkan mengalami demam yang lebih tinggi, yang dikategorikan sebagai grade 3. Tingkat antibodi yang dipicu oleh Corona Vac Sinovac lebih tinggi daripada yang terlihat pada orang dewasa berusia 18 hingga 59 tahun dan pada orang tua dalam uji klinis sebelumnya.
    Untuk anak-anak berusia 3-11 tahun, dosis yang lebih rendah dapat menginduksi respons antibodi yang menguntungkan, dan dosis sedang bekerja dengan baik untuk mereka yang berusia 12 hingga 17 tahun.
    Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pernyataan sementara tentang vaksinasi COVID-19 untuk anak-anak dan remaja mengakui uji coba vaksin pada anak-anak usia 3 tahun telah diselesaikan untuk dua vaksin tidak aktif (Sinovac-CoronaVac dan BBIBP-CorV). Dua produk vaksin ini bahkan telah disetujui otoritas China. Meskipun produk vaksin tersebut sudah mendapatkan EUL untuk dewasa, namun belum mendapatkan WHO EUL untuk anak-anak.

    Kesimpulan


    Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta TEMPO, video yang mengklaim vaksin merk sinovac untuk anak belum dilakukan uji cobaKeliru. Vaksin ini diketahui merupakan vaksin yang telah mendapatkan izin penggunaan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia pada 1 November 2021. Vaksin ini bahkan telah mendapatkan EUA (Emergency Use Authorization) setelah melewati proses pengkajian ulang mengenai imunogenisitas dan keamanannya.
    Perusahaan Biotech mengklaim Vaksin COVID-19 Sinovac aman dan mampu memicu respons kekebalan pada anak-anak dan remaja. Hasil awal dari uji coba tahap awal dan menengah dari uji klinis Fase I dan II yang melibatkan lebih dari 500 orang berusia antara 3-17 tahun yang menerima dua suntikan vaksin dosis sedang atau rendah, atau plasebo sebagian besar mendapatkan reaksi ringan.
    TIM CEK FAKTA TEMPO

    Rujukan

  • (GFD-2021-8839) [SALAH] Judul Berita “Ilmuwan Pfizer Memperingatkan Vaksinasi Mingguan untuk virus Omicron Mungkin Diperlukan untuk Mencegah Lockdown”

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 19/12/2021

    Berita

    Beredar postingan di Twitter oleh akun bernama @Loenz_Nkabi, yang memposting sebuah screenshot judul artikel berita berbunyi “Pfizer Scientists Warn Weekly Vaccinations May Be Needed For Omicron Variant COVID- 19 To Prevent Lockdown”, (terjemahan Bahasa Indonesia: “Ilmuwan Pfizer Memperingatkan Vaksinasi Mingguan untuk virus Omicron Mungkin Diperlukan untuk Mencegah Lockdown”).

    Postingan @Loenz_Nkabi beredar di tengah pemberitaan mengenai virus Covid-19 varian Omicron yang telah menyebar di berbagai negara serta program vaksinasi yang masih terus digalakkan di setiap wilayah.

    Hasil Cek Fakta

    Namun, setelah dilakukan penelusuran fakta terkait, postingan @Loenz_Nkabi mengandung hoaks. Perwakilan perusahaan Pfizer, Keanna Ghazvini, mengklarifikasi bahwa pihak Pfizer tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa ilmuwan mereka memperingatkan bahwa dibutuhkan vaksinasi seminggu sekali untuk mencegah Omicron.

    Selain itu, setelah dilakukan penelusuran mengenai asal artikel aslinya, ditemukan bahwa artikel berita tersebut berasal dari website bernama thestonkmarket.com, yang menurut deskripsinya website tersebut berisikan konten-konten lelucon bergaya satire.

    Dengan begitu dapat diketahui, artikel berita yang menyebut bahwa ilmuwan Pfizer memperingatkan agar melakukan vaksinasi setiap minggu untuk mencegah penyebaran Omicron hanyalah lelucon.

    Saat ini, para ahli kesehatan dan ilmuwan sedang dalam proses mempelajari lebih dalam virus Omicron dan cara tepat pencegahannya.

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa klaim @Loenz_Nkabi adalah hoaks dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR

    Informasi Palsu. Perusahaan farmasi Pfizer mengklarifikasi bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut. Selain itu, tangkapan layar judul berita tersebut diambil dari website konten lelucon.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8840) [SALAH] Gunung Welirang Jawa Timur Erupsi

    Sumber: Youtube.com
    Tanggal publish: 19/12/2021

    Berita

    Beredar video di Youtube yang diposting oleh channel bernama “DI SEKITAR KITA”, dalam video yang berdurasi 3 menit 16 detik tersebut memperlihatkan fenomena awan menggumpal kemerahan disertai petir yang beberapa kali muncul.

    Channel DI SEKITAR KITA lantas memberikan judul dengan klaim bahwa kejadian tersebut adalah erupsi Gunung Welirang. Hingga saat ini video telah dilihat sebanyak 153 kali.

    Mengutip CNN Indonesia, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 18.00 WIB, Senin (13/12). Warga sekitar Gunung Welirang khawatir gunung tersebut mengalami erupsi.

    “Seperti awan warnanya merah, terus terlihat juga kilat menyala-nyala, dari atas Welirang,” ungkap Febri Arissandi, seorang mahasiswa pascasarjana di Batu, kepada CNNIndonesia.com.

    Gunung Welirang berstatus aktif dengan ketinggian 3.156 mdpl yang secara administratif terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

    Hasil Cek Fakta

    Namun, setelah dilakukan penelusuran fakta terkait, video tersebut bukan fenomena erupsi. Dilansir dari Tempo.co, saat tim cek fakta memeriksa kebenaran fenomena dalam video, didapati fenomena asli pernah dijelaskan di channel Youtube KOMPASTV, dengan judul video “Viral! Fenomena Langit Merah di Atas Gunung Welirang, Begini Penjelasan BMKG”, diunggah pada 13 Desember 2021.

    Dijelaskan oleh Koordinator Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur Taufiq Hermawan, bahwa fenomena awan merah menggumpal disertai petir tersebut dinamakan fenomena optik atmosfer.

    Lebih lanjut, Teguh menjelaskan warna kemerahan pada awan dan langit di sekitarnya disebabkan pembiasan cahaya matahari oleh partikel-partikel yang ada di atmosfer sehingga menghasilkan energi yang rendah, gelombang panjang, dan memunculkan warna kemerahan.

    Fenomena ini merupakan hal yang wajar dan biasanya terjadi di pada sore menjelang malam hari. Warna kemerahan pada langit dan adanya petir juga disebabkan oleh awan Cumulonimbus. Menurut pantauan radar BMKG Juanda, saat itu banyak pertumbuhan awan Cumulonimbus di sekitar lokasi.

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa video Gunung Welirang erupsi adalah tidak benar dan termasuk kategori Konteks yang Salah.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR

    Bukan Erupsi. Koordinator Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur Taufiq Hermawan menjelaskan bahwa kejadian langit merah disertai petir merupakan fenomena optik atmosfer.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8841) [SALAH] Video Bukti Varian Omicron Hanya Dibuat-Buat

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 19/12/2021

    Berita

    Sebuah akun Twitter dengan nama pengguna “PaulDoodly” mengunggah sebuah video yang menunjukkan sekelompok orang tengah mendokumentasikan sesuatu di rumah sakit. Dalam video tersebut juga disertai sebuah narasi yang menyatakan bahwa video itu merupakan bukti bahwa varian Omicron hanya dibuat-buat oleh media.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut tidak membuktikan bahwa varian Omicron hanya dibuat-buat. Melansir dari AFP, seorang juru bicara Shamir Medical Center, Liad Aviel menjelaskan bahwa video tersebut merupakan video di balik pembuatan video promosi fasilitas kesehatan Shamir Medical Center di Israel pada Maret 2021 lalu, sebelum kasus pertama varian Omicron terdeteksi.

    Video promosi yang dimaksud telah diunggah di kanal YouTube Shamir Medical Center dengan judul video “Shamir Medical Center – A Groundbreaking Technological Power” yang ditulis dalam Bahasa Ibrani. Adegan yang tengah didokumentasikan dalam video yang diunggah oleh pengguna Twitter “PaulDoodly” dapat dilihat pada menit 1:30 hingga 1:44 dalam video promosi.

    Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Twitter dengan nama pengguna “PaulDoodly” tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini.

    Bukan video yang membuktikan bahwa varian Omicron hanya dibuat-buat. Video tersebut merupakan video di balik pembuatan video promosi fasilitas kesehatan Shamir Medical Center di Israel pada Maret 2021 lalu.

    Rujukan