tirto.id - Gempa bumi dengan magnitudo 4,1 melanda Bogor sekitarnya, Kamis (10/4/2025) malam. Gempa terjadi pada pukul 22.16 WIB dengan episenter di darat pada koordinat 6.62 LS dan 106.8 BT, sekitar 2 kilometer tenggara Kota Bogor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa ini berjenis gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu dari aktivitas sesar aktif jalur Sesar Citarik dengan mekanisme geser mengiri (sinistral strike-slip).
Nemun demikian, sebelum kejadian itu, beredar video aktivitas sebuah gunung yang diklaim sebagai cuplikan erupsi Gunung Gede, yang terletak dalam wilayah tiga Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yakni Kabupaten Cianjur, Bogor, dan Sukabumi. Akun Facebook bernama “Kang Nazcjr Kang Nascjr” (arsip) membagikan klip berdurasi satu menit ini pada Selasa (8/4/2025).
Dalam video, sebuah gunung di tepi sawah terlihat mengeluarkan asap. Video juga diiringi suara kicauan burung dan dengung sepeda motor.
“INFO TERBARU. INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI'UUN. GUNUNG GEDE CIANJUR -BOGOR ERUPSI. SEMOGA TIDAK TERJADI YANG TIDAK DI INGINKAN,” bunyi takarir penyertanya.
Per Jumat (11/4/2025), unggahan ini sudah dibagikan ke 55 orang lainnya, dan meraup 75 tanda suka serta 55 komentar. Meski ada warganet yang ikut melontarkan kalimat istirja, ada juga pengguna Facebook lain yang mengatakan bahwa narasi yang beredar hoaks.
Tak cuman di Facebook, klaim senada juga berlalu-lalang di TikTok (arsip).
Lantas, bagaimana faktanya?
(GFD-2025-26469) Video Erupsi Gunung Gede pada Awal April 2025, Benarkah?
Sumber:Tanggal publish: 11/04/2025
Berita
Hasil Cek Fakta
Usai menyaksikan video secara utuh, Tim Riset Tirto melakukan penelusuran Google dengan kata kunci “erupsi Gunung Gede April 2025”. Hasilnya, narasi ini sudah dinyatakan tidak benar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah memastikan informasi aktivitas erupsi Gunung Gede yang beredar di berbagai media sosial pada April 2025 adalah kabar hoaks. Mengutip rilis Badan Geologi, klip tersebut nyatanya diambil dari aktivitas erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat.
Menurut pemantauan aktivitas visual dari Pos PGA Gunung Gede yang berada di Desa Ciloto, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hingga Selasa (8/4/2025), diketahui tidak terjadi erupsi maupun keluarnya kolom abu di atas kawah Gunung Gede.
“Pengamatan visual sejak 1 Januari 2025 hingga tanggal 8 April 2025 menunjukkan aktivitas yang tampak di permukaan masih berupa hembusan asap putih tipis hingga sedang yang berasal dari Kawah Wadon dengan ketinggian asap kawah berkisar antara 50 – 100 meter,” tulis Badan Geologi ESDM di laman resminya, Selasa (8/4/2025).
Erupsi terakhir Gunung Gede sendiri terjadi pada tahun 1957, berupa kolom erupsi mencapai 3 ribu meter di atas Kawah Ratu. Sementara pemantauan kegempaan menunjukkan, sejak peningkatan Gempa Vulkanik-Dalam (VA) pada tanggal 1 April 2025, tidak terjadi peningkatan aktivitas hembusan asap kawah ataupun terjadi lagi peningkatan Gempa Vulkanik-Dalam (VA).
“Pada periode 2 April 2025 hingga 8 April 2025 pukul 06.00 WIB terekam 1 kali gempa Tornillo, 2 kali gempa Vulkanik-Dalam, 6 kali gempa Tektonik Lokal, dan 14 kali gempa Tektonik Jauh. Dengan demikian tingkat aktivitas G. Gede hingga tanggal 8 April 2025 pukul 06.00 WIB masih ditetapkan pada Level I (Normal),” begitu bunyi rilis lanjutannya.
Dengan status itu, ESDM mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Gede dan pengunjung atau wisatawan untuk tidak menuruni, mendekati dan bermalam dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon.
Per Jumat (11/4/2025), situs ESDM https://magma.vsi.esdm.go.id/ untuk mengecek stasus vulkanik gunung pun memperlihatkan kalau Gunung Gede masih berstatus level 1 atau normal, dan tidak terlihat adanya erupsi.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah memastikan informasi aktivitas erupsi Gunung Gede yang beredar di berbagai media sosial pada April 2025 adalah kabar hoaks. Mengutip rilis Badan Geologi, klip tersebut nyatanya diambil dari aktivitas erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat.
Menurut pemantauan aktivitas visual dari Pos PGA Gunung Gede yang berada di Desa Ciloto, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hingga Selasa (8/4/2025), diketahui tidak terjadi erupsi maupun keluarnya kolom abu di atas kawah Gunung Gede.
“Pengamatan visual sejak 1 Januari 2025 hingga tanggal 8 April 2025 menunjukkan aktivitas yang tampak di permukaan masih berupa hembusan asap putih tipis hingga sedang yang berasal dari Kawah Wadon dengan ketinggian asap kawah berkisar antara 50 – 100 meter,” tulis Badan Geologi ESDM di laman resminya, Selasa (8/4/2025).
Erupsi terakhir Gunung Gede sendiri terjadi pada tahun 1957, berupa kolom erupsi mencapai 3 ribu meter di atas Kawah Ratu. Sementara pemantauan kegempaan menunjukkan, sejak peningkatan Gempa Vulkanik-Dalam (VA) pada tanggal 1 April 2025, tidak terjadi peningkatan aktivitas hembusan asap kawah ataupun terjadi lagi peningkatan Gempa Vulkanik-Dalam (VA).
“Pada periode 2 April 2025 hingga 8 April 2025 pukul 06.00 WIB terekam 1 kali gempa Tornillo, 2 kali gempa Vulkanik-Dalam, 6 kali gempa Tektonik Lokal, dan 14 kali gempa Tektonik Jauh. Dengan demikian tingkat aktivitas G. Gede hingga tanggal 8 April 2025 pukul 06.00 WIB masih ditetapkan pada Level I (Normal),” begitu bunyi rilis lanjutannya.
Dengan status itu, ESDM mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Gede dan pengunjung atau wisatawan untuk tidak menuruni, mendekati dan bermalam dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon.
Per Jumat (11/4/2025), situs ESDM https://magma.vsi.esdm.go.id/ untuk mengecek stasus vulkanik gunung pun memperlihatkan kalau Gunung Gede masih berstatus level 1 atau normal, dan tidak terlihat adanya erupsi.
Kesimpulan
Hasil penelusuran fakta menunjukkan bahwa video erupsi Gunung Gede pada awal April 2025 bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).
Narasi ini sudah dinyatakan tidak benar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Klip tersebut nyatanya diambil dari aktivitas erupsi Gunungapi Marapi di Sumatera Barat.
Menurut pemantauan aktivitas visual dari Pos PGA Gunung Gede yang berada di Desa Ciloto, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hingga Selasa (8/4/2025), diketahui tidak terjadi erupsi maupun keluarnya kolom abu di atas kawah Gunung Gede.
Narasi ini sudah dinyatakan tidak benar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Klip tersebut nyatanya diambil dari aktivitas erupsi Gunungapi Marapi di Sumatera Barat.
Menurut pemantauan aktivitas visual dari Pos PGA Gunung Gede yang berada di Desa Ciloto, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hingga Selasa (8/4/2025), diketahui tidak terjadi erupsi maupun keluarnya kolom abu di atas kawah Gunung Gede.
Rujukan
- https://web.facebook.com/reel/1216578853473943
- https://archive.ph/EpOtq
- https://www.tiktok.com/search?q=erupsi%20gunung%20gede&t=1744335024894
- https://archive.ph/EpsVz
- https://www.komdigi.go.id/berita/berita-hoaks/detail/hoaks-detik-detik-erupsi-gunung-gede-2-april-2025
- https://geologi.esdm.go.id/media-center/klarifikasi-badan-geologi-tentang-berita-hoax-erupsi-gunungapi-gede-jawa-barat
(GFD-2025-26470) Cek Fakta: Hoaks Video Mantan Menkes Siti Fadilah Supari Promosi Obat Nyeri Sendi
Sumber:Tanggal publish: 11/04/2025
Berita
Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan video mantan Menkes Siti Fadilah Supari mempromosikan obat nyeri sendi. Postingan itu beredar sejak bulan lalu.
Salah satu akun ada yang mempostingnya di Facebook. Akun itu mengunggahnya pada 8 Maret 2025.
Dalam postingannya terdapat video Siti Fadilah Supari mempromosikan obat yang membantu menyembuhkan nyeri sendi selamanya.
Akun itu menambahkan narasi:
"Nyeri sendi akan hilang selamanya!🌟 Temukan cara mengatasi rasa sakit dan meraih kebebasan bergerak!"
Lalu benarkah postingan video mantan Menkes Siti Fadilah Supari mempromosikan obat nyeri sendi?
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan video yang identik dengan postingan. Video itu diunggah Siti Fadilah Supari dalam akun resmi Tiktoknya @siti_fadilah_supari pada 15 September 2023.
Namun dalam video tersebut Siti Fadilah Supari tidak berbicara terkait promosi obat nyeri sendi. Dia bercerita terkait tetangganya yang meninggal dunia mendadak karena tidak mengikuti peringatan dokter.
Video itu juga disertai narasi:
"Pengalaman ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua, tidak selamanya yang berbau asing itu sesuai dengan kita, apalagi tentang masalah kesehatan, gaya hidup kita dan gaya hidup orang asing, sudah pasti berbeda dan hal tersebut menentukan kualitas hidup seseorang, semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran"
Selain itu penelusuran dilanjutkan dengan menggunakan website pendeteksi konten video AI, deepware.ai. Di sana ditemukan bahwa video dalam postingan merupakan buatan AI.
Kesimpulan
Postingan video mantan Menkes Siti Fadilah Supari mempromosikan obat nyeri sendi adalah hoaks.
Rujukan
(GFD-2025-26473) [KLARIFIKASI] Atraksi di Bangkok secara Keliru Dinarasikan Penyiksaan TKI di Kamboja
Sumber:Tanggal publish: 11/04/2025
Berita
KOMPAS.com - Tenaga kerja Indonesia (TKI) di Kamboja disebut mengalami penyiksaan, yang menyebabkan TKI itu meninggal dunia.
Bersamaan dengan narasi tersebut, beredar tangkapan layar video kejadian penyiksaan.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut merupakan informasi keliru.
Informasi mengenai penyiksaan WNI di Kamboja disebarkan melalui video oleh Twitter ini pada 29 Maret 2025.
Tampak seseorang dilempar dalam tong raksasa, kemudian ketika diangkat hanya tersisa tulang belulang.
Tangkapan layar bagian awal video lantas disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, dan ini.
Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada Minggu (6/4/2025):
Tragedi ini bukan sekadar berita, tetapi luka mendalam bagi kemanusiaan. Mereka pergi mencari nafkah, namun pulang hanya sebagai cerita pilu. Sudah saatnya kita bersuara untuk keadilan mereka—agar tak ada lagi nyawa yang hilang dengan cara sekejam ini.
Sementara, berikut teks yang tertera pada video:
detik2 WNI mengalami penyiksaan sampae meninggal
tki di kambojasungguh kejam wni di rebus hidup2 pas di angkat tinggal tulang
Bersamaan dengan narasi tersebut, beredar tangkapan layar video kejadian penyiksaan.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut merupakan informasi keliru.
Informasi mengenai penyiksaan WNI di Kamboja disebarkan melalui video oleh Twitter ini pada 29 Maret 2025.
Tampak seseorang dilempar dalam tong raksasa, kemudian ketika diangkat hanya tersisa tulang belulang.
Tangkapan layar bagian awal video lantas disebarkan oleh akun Facebook ini, ini, ini, dan ini.
Berikut narasi yang ditulis salah satu akun pada Minggu (6/4/2025):
Tragedi ini bukan sekadar berita, tetapi luka mendalam bagi kemanusiaan. Mereka pergi mencari nafkah, namun pulang hanya sebagai cerita pilu. Sudah saatnya kita bersuara untuk keadilan mereka—agar tak ada lagi nyawa yang hilang dengan cara sekejam ini.
Sementara, berikut teks yang tertera pada video:
detik2 WNI mengalami penyiksaan sampae meninggal
tki di kambojasungguh kejam wni di rebus hidup2 pas di angkat tinggal tulang
Hasil Cek Fakta
Video yang beredar bukanlah penyiksaan WNI, melainkan atraksi yang dilakukan di taman hiburan.
Tim Cek Fakta Kompas.com menggunakan teknik reverse image search untuk mengecek jejak digital video dan tangkapan layar yang beredar.
Hasilnya diketahui, video atraksi taman hiburan disebarkan oleh akun TikTok Panuwat Kaenpech pada 21 April 2024.
Label pada TikTok menyebutkan, aksi dalam video diperagakan oleh profesional dan pengguna diimbau untuk tidak menirunya.
Video dari atraksi serupa ditemukan di kanal YouTube Piyanat Jeamwong dan Krisada Mingquanta.
Keterangan video menyebutkan bahwa atraksi tersebut merupakan hiburan yang ada di Dream World Bangkok, Thailand.
Kasus WNI meninggal akibat kekerasan di Kamboja memang ada.
Dikutip dari Antara, seorang WNI berinisial RAH (30) meninggal pada 23 September 2024 di Kota Poipet, Kamboja.
"Penyebab kematiannya adalah kekerasan yang dilakukan oleh sesama WNI, yang jumlahnya 22 orang, termasuk dua perempuan, terhadap RAH," kata Judha.
RAH dan 22 WNI tersebut bekerja di sebuah perusahaan judi daring Kamboja.
Pelaku telah ditahan kepolisian Kamboja, kata Direktur Pelindungan WNI dan BHI Kemlu RI Judha Nugraha.
Kemudian, perusahaan tempat korban bekerja bersedia bertanggung jawab memulangkan jenazah ke Indonesia.
Tim Cek Fakta Kompas.com menggunakan teknik reverse image search untuk mengecek jejak digital video dan tangkapan layar yang beredar.
Hasilnya diketahui, video atraksi taman hiburan disebarkan oleh akun TikTok Panuwat Kaenpech pada 21 April 2024.
Label pada TikTok menyebutkan, aksi dalam video diperagakan oleh profesional dan pengguna diimbau untuk tidak menirunya.
Video dari atraksi serupa ditemukan di kanal YouTube Piyanat Jeamwong dan Krisada Mingquanta.
Keterangan video menyebutkan bahwa atraksi tersebut merupakan hiburan yang ada di Dream World Bangkok, Thailand.
Kasus WNI meninggal akibat kekerasan di Kamboja memang ada.
Dikutip dari Antara, seorang WNI berinisial RAH (30) meninggal pada 23 September 2024 di Kota Poipet, Kamboja.
"Penyebab kematiannya adalah kekerasan yang dilakukan oleh sesama WNI, yang jumlahnya 22 orang, termasuk dua perempuan, terhadap RAH," kata Judha.
RAH dan 22 WNI tersebut bekerja di sebuah perusahaan judi daring Kamboja.
Pelaku telah ditahan kepolisian Kamboja, kata Direktur Pelindungan WNI dan BHI Kemlu RI Judha Nugraha.
Kemudian, perusahaan tempat korban bekerja bersedia bertanggung jawab memulangkan jenazah ke Indonesia.
Kesimpulan
Tangkapan layar dari video atraksi di taman hiburan Bangkok, Thailand disebarkan dengan konteks keliru.
Atraksi itu keliru diklaim sebagai kasus kekerasan WNI di Kamboja. Informasi ini perlu diluruskan agar tidak terjadi kabar bohong yang beredar di masyarakat.
Atraksi itu keliru diklaim sebagai kasus kekerasan WNI di Kamboja. Informasi ini perlu diluruskan agar tidak terjadi kabar bohong yang beredar di masyarakat.
Rujukan
- https://x.com/GasMedsos66731/status/1906020244755456466
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=1030501948938516&set=a.139863191335734
- https://www.facebook.com/photo?fbid=122233599176211353&set=a.122174323850211353
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=122215856966231247&set=a.122169650018231247
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=1423829112353434&set=a.733424081393944
- https://www.google.com/search?gsessionid=SAtOUENtuFZzRM0corvjOm2xO_r5E-xP4nqQIH215nyX2dbD0nmnDQ&lsessionid=ZSrIyGGnItsihUQLjXjrN_fvOi5nVImajPcsdRxWLca29n2BPb3Nlg&vsdim=403,394&source=lns.web.cntpubb&lns_surface=44&biw=403&bih=394&hl=en-US&vsrid=CIeW6dzQhpfvxgEQBBgBIiQwRTg0OTA4Ny03QTNELTRBNkItOUU1MS04Njc1Mzc0RDM5MTk&udm=26&q&vsint=CAQqCgoCCAcSAggHIAE6IwoWDTp1_T4Viln_Ph06dX0_JYpZfz8wARCTAxiKAyUAAIA_&lns_mode=un&qsubts=1744267388732&stq=1&cs=1&lei=dmj3Z4SGGfre1e8PgfSgGA
- https://www.tiktok.com/@panuwatkaenpech/video/7088993800676314394?q=panuwat&t=1744102409913
- https://www.youtube.com/watch?v=7bvwQybLZIA
- https://www.youtube.com/watch?v=SZyVCSzSFtk
- https://www.antaranews.com/berita/4377386/kemlu-ri-pastikan-kbri-tangani-kasus-wni-meninggal-di-kamboja
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
(GFD-2025-26474) [HOAKS] Tautan untuk Dapat Kompensasi Pertamax Oplosan Rp 300.000 dari Pertamina
Sumber:Tanggal publish: 11/04/2025
Berita
KOMPAS.com - Di media sosial beredar tautan yang diklaim untuk mendapatkan kompensasi Rp 300.000 dari Pertamina terkait kasus Pertamax oplosan.
Sebagaimana diketahui, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan (RS) telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tata kelola minyak mentah.
Kejaksaan Agung (Kejagung) menyebutkan, Pertamina diduga membeli Pertalite untuk kemudian "di-blending" atau dioplos menjadi Pertamax.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, tautan yang diklaim untuk mendapatkan kompensasi itu adalah hoaks.
Tautan yang diklaim untuk mendapatkan kompensasi Rp 300.000 dari Pertamina terkait kasus Pertamax oplosan dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini pada Selasa (8/4/2025).
Berikut narasi yang dibagikan:
Halo sobat pertamina
Sebagai permintaan maaf, kami melakukan bagi-bagi konpensasi terhadap korban oplosan pertamax sebesar Rp 300,000,-
Silahkan melakukan pendaftaran atau klik daftar untuk mendapatkannya
Screenshot Hoaks, tautan kompensasi korban Pertamax oplosan
Sebagaimana diketahui, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan (RS) telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tata kelola minyak mentah.
Kejaksaan Agung (Kejagung) menyebutkan, Pertamina diduga membeli Pertalite untuk kemudian "di-blending" atau dioplos menjadi Pertamax.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, tautan yang diklaim untuk mendapatkan kompensasi itu adalah hoaks.
Tautan yang diklaim untuk mendapatkan kompensasi Rp 300.000 dari Pertamina terkait kasus Pertamax oplosan dibagikan oleh akun Facebook ini, ini, dan ini pada Selasa (8/4/2025).
Berikut narasi yang dibagikan:
Halo sobat pertamina
Sebagai permintaan maaf, kami melakukan bagi-bagi konpensasi terhadap korban oplosan pertamax sebesar Rp 300,000,-
Silahkan melakukan pendaftaran atau klik daftar untuk mendapatkannya
Screenshot Hoaks, tautan kompensasi korban Pertamax oplosan
Hasil Cek Fakta
Setelah diperiksa, tautan yang dibagikan oleh sejumlah akun Facebook tersebut tidak mengarah ke situs resmi Pertamina.
Tautan itu mengarah ke situs yang meminta pengunjung memasukkan nama lengkap, asal provinsi, dan nomor Telegram aktif.
Tautan tersebut kemungkinan adalah modus phishing atau pencurian data untuk mengambilalih akun Telegram.
Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari mengatakan, tautan kompensasi mengatasnamakan Pertamina tersebut hoaks.
"Itu hoaks," kata Heppy saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (10/4/2025).
Tautan itu mengarah ke situs yang meminta pengunjung memasukkan nama lengkap, asal provinsi, dan nomor Telegram aktif.
Tautan tersebut kemungkinan adalah modus phishing atau pencurian data untuk mengambilalih akun Telegram.
Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari mengatakan, tautan kompensasi mengatasnamakan Pertamina tersebut hoaks.
"Itu hoaks," kata Heppy saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (10/4/2025).
Kesimpulan
Tautan yang diklaim untuk mendapatkan kompensasi Rp 300.000 dari Pertamina terkait kasus Pertamax oplosan adalah hoaks.
Pertamina mengatakan bahwa tautan kompensasi tersebut hoaks. Selain itu, tautan tersebut terindikasi sebagai modus phishing atau pencurian data.
Pertamina mengatakan bahwa tautan kompensasi tersebut hoaks. Selain itu, tautan tersebut terindikasi sebagai modus phishing atau pencurian data.
Rujukan
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0YPy1Yf91twLUyRnhTarK1SgF2kAC2ggSBfjZ2BEFbWq8VpSLKn1RucHF3sEX5GeQl&id=61571789203717
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid02gNUCpVuJGhHieTQ69YsPUu6pNbisnWaEQNUCaQCchSrk746vxsdZDicbwriLkNkrl&id=61572351279198
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid025a3mpnte9EvMzt5sPn8HY418dqt76CoF1J2Mm1n7E18x761mHSqeKfUS32zmkdmxl&id=61568864349867
- https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D
Halaman: 2112/8119


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5184732/original/060307900_1744341110-cek_fakta_siti.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4833416/original/004150300_1715834980-cek_fakta_sendi_3.jpg)