• (GFD-2025-27053) [PENIPUAN] YouTuber Aisar Khaled Bagi-Bagi Uang

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 20/05/2025

    Berita

    Akun Facebook “Tini Neto” pada Kamis (15/5/2025) membagikan foto [arsip] disertai narasi:
    “Selamat siang teman teman terimakasih buat Pak Aisar Khaled atas pengundian berhadiah give away nya terimakasih Pak Aisar Khaled yang sudah mencairkan hadiah uang undian saya sebesar 30 Juta. Dan gk nyangka emang beneran dapat undian give away hadiah nya saya fikir ini hoax ternayata emang beneran dapat hadiah saya 30 Juta, Dan izin teman teman untuk menandai di facebook saya ingin berbagi rezeki juga jika teman teman mau ikutan undian give away berhadiah nya bisa inbox saya di messenger dan bisa juga langsung Whatsaap Aisar Khaled nya ( ‪‪‪‪082164962678‬ ) Bilang aja mau ikutan give away Aisar Khaled!.!”
    Per Selasa (20/5/2025), konten tersebut telah mendapat 41 komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Nomor WhatsApp (WA) tersebut berbeda dengan nomor resmi (0821-7371-6668) yang tertera di profil akun Instagram Aisar Khaled “aisar_khaledd”.

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) kemudian memeriksa nomor WA yang tertera dalam unggahan akun Facebook “Tini Neto” melalui Getcontact. Hasilnya, hanya muncul satu nama pengguna “Kartu Paket Telk”, tidak ada keterangan lain yang berhubungan dengan Aisar Khaled.

    TurnBackHoax lalu memasukkan kata kunci “Aisar Khaled berbagi uang” ke mesin pencarian Google. Tidak ditemukan informasi kredibel mengenai Aisar Khaled yang berbagi melalui WA.

    Sebagian besar kegiatan giveaway Aisar Khaled dilakukan lewat Instagram dan TikTok. Terbaru, YouTuber asal Malaysia itu memberikan hadiah umroh saat siaran langsung di TikTok, seperti dilansir dari detik.com “YouTuber Malaysia Aisar Khaled Beri Hadiah Umrah Warga Prabumulih” yang tayang Minggu (16/2/2025).

    Kesimpulan

    Unggahan berisi klaim “Aisar Khaled bagi-bagi uang” merupakan konten palsu (fabricated content).

    (Ditulis oleh ‘Ainayya)

    Rujukan

  • (GFD-2025-27056) Hoaks! Hakim akui ijazah Jokowi palsu pada 17 Mei 2025

    Sumber:
    Tanggal publish: 20/05/2025

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di X menarasikan bahwa hakim yang menangani kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), menyatakan bahwa ijazah Jokowi terbukti palsu.

    Unggahan tersebut mengaitkan pernyataan tersebut dengan Majelis Hakim yang menangani kasus ini, yakni Ketua Majelis Hakim Putu Gde Hariadi serta Hakim Anggota Sutikna dan Wahyuni Prasetyaningsih.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “HAKIM MENGAKUI IJAZAH JOKO WIDODO PALSU.

    VIRALKAN NEWS INI SE INDONESIA RAYA

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Semoga tercipta negara yg damai

    HIDUP RAKYAT INDONESIA

    #JokowiPresidenPalsu

    #JokowiPresidenPalsu”

    Namun, benarkah hakim akui ijazah Jokowi palsu pada 17 Mei?



    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran ANTARA, tidak ditemukan pernyataan resmi yang menyatakan ijazah Jokowi palsu. Hingga saat ini, Polda Metro Jaya telah memeriksa sebanyak 24 saksi terkait laporan Jokowi mengenai tuduhan ijazah palsu tersebut.

    Beberapa saksi yang telah diperiksa antara lain Rizal Fadillah, Damai Hari Lubis, Kurnia Tri Royani, Rustam Effendi, Mikhael Benyamin Sinaga, Roy Suryo, dan Tifauzia Tyassuma.

    Sebelumnya, pada Jumat (9/5), Jokowi melalui tim kuasa hukumnya telah menyerahkan ijazah asli SMA dan universitasnya kepada Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri sebagai bentuk klarifikasi atas aduan yang dilayangkan oleh Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), Eggi Sudjana, yang menuding ijazah S1 Jokowi palsu.

    Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi terkait kebenaran tuduhan ijazah palsu Jokowi, dan proses hukum masih berjalan.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: Indriani

    Copyright © ANTARA 2025

    Rujukan

  • (GFD-2025-27057) [PENIPUAN] Raffi Ahmad Bagi-Bagi Uang untuk Warga Timor Leste

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 20/05/2025

    Berita

    Akun Facebook “Giveaway Info Terkini 460” pada Kamis (1/5/2025) membagikan foto [arsip] disertai narasi:
    “BANTUAN 10.000 DOLAR RAFFI AHMAD DAN NAGITA SLAVINA KE TIMOR TIMUR. SILAHKAN JAWAB KUIS DI BAWA INI
    SIAPA NAMA ISTRI RAFFI AHMAD
    (A}. NAGITA SLAVINA
    (B). AYU TING TING
    KIRIM JAWABAN ANDA DI MASENGGER"
    Unggahan disertai takarir:
    “BOM DIA
    BOA TARDE
    BOA NOITE
    *RANS ENTERTAIMENT*
    KHUSUS TAHUN 2025 RANS ENTERTAIMENT MENYELENGGARAKAN GIVE AWAY UNTUK SAUDARA/SAUDARI YANG BERADA DI TIMOR LESTE SEBESAR $10.000
    Silahkan jawab kuis di bawa ini
    SIAPA NAMA ISTRI RAFFI AHMAD
    (A). NAGITA SLAVINA
    (B). AYU TING TING
    Kirim jawaban anda di masengger
    SEMUA WARGA TIMOR LESTE BERKESEMPATAN MENDAPATKAN HADIAH TANPA TERKECUALI”
    Per Selasa (20/5/2025), konten tersebut telah mendapat 104 tanda suka dan 47 komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri akun Instagram resmi milik RANS Entertainment “rans.entertainment”. Dalam profil Instagram tersebut, tertulis bahwa akun Facebook resmi milik Raffi Ahmad hanyalah “Raffi Ahmad Lagi” dan “RANS ENTERTAINMENT”.
    TurnBackHoax lalu memasukkan kata kunci “Raffi Ahmad bagi uang ke warga Timor Leste” ke mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan informasi kredibel mengenai Raffi Ahmad yang membagi-bagikan uang 10.000 dolar untuk warga Timor Leste.
    Dalam artikel kompas.com “[HOAKS] Video Raffi Ahmad Beri Bantuan Dana untuk Pekerja Migran” yang tayang Maret 2025 disebutkan bahwa konten seperti itu dapat diindikasikan sebagai modus penipuan karena menghadirkan tautan untuk bertukar pesan melalui Facebook Messenger.

    Kesimpulan

    Unggahan berisi klaim “Raffi Ahmad bagi-bagi uang untuk warga Timor Leste” merupakan konten palsu (fabricated content).
    (Ditulis oleh ‘Ainayya)

    Rujukan

  • (GFD-2025-27059) Keliru: Angka Autisme di Vietnam Melonjak Gara-Gara Vaksin Bill Gates

    Sumber:
    Tanggal publish: 20/05/2025

    Berita

    SEORANG pria dalam sebuah video mengklaim kasus autisme di Vietnam meningkat lebih dari 300 persen sejak Bill Gates memperkenalkan vaksinasi di negara itu. Akun media sosial X [arsip] dan Facebook mengunggah potongan videonya pada 15 Mei 2025. 

    Padahal, lanjut dia, sebelum vaksinasi tersebut, Vietnam tidak memiliki penderita autism sejak tahun 1975, tahun 2000, tahun 2001. Konten ini beredar setelah pendiri grup Microsoft itu melawat ke Indonesia untuk menjajaki potensi Indonesia sebagai uji vaksin untuk tuberkulosis (TBC).



    Namun, benarkah angka autisme di Vietnam melonjak gara-gara vaksinasi dari Bill Gates?

    Hasil Cek Fakta

    Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi klaim tersebut melalui situs-situs kredibel dan wawancara ahli. Hasilnya, tidak ada bukti bahwa autisme di Vietnam meningkat karena vaksinasi. Vaksin memiliki lebih banyak manfaat bagi kesehatan.

    Asal usul video

    Klip yang menampilkan Anthony Phan itu beserta klaim vaksinasi menyebabkan autisme, telah menyebar luas sejak 2023. Sejumlah organisasi pemeriksa fakta internasional telah memverifikasi klaim tersebut.

    Organisasi pemeriksa fakta yang berpusat di Perancis, AFP, menjelaskan, video itu dicuplik dari film dokumenter kontroversial Vaxxed: From Cover-Up to Catastrophe yang disutradarai oleh Andrew Wakefield. Ia seorang dokter Inggris yang lisensi medisnya dicabut karena memalsukan data dalam sebuah makalah pada tahun 1998. 

    Saat itu, Andrew mengaitkan Autism spectrum disorder (ASD) disebabkan oleh vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR). The Lancet kemudian mencabut penelitian tersebut. Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan pada 2 Februari 2010, jurnal medis Inggris tersebut mengatakan, beberapa elemen dari makalah yang diterbitkan oleh Dr. Andrew Wakefield dan rekan-rekannya pada 1998 tersebut, terbukti tidak benar dan  bertentangan dengan temuan investigasi sebelumnya.

    Akan tetapi, publikasi Wakefield di The Lancet itu terus dipercaya dan memicu informasi yang salah.

    Peningkatan autisme tidak terkait dengan vaksin

    Tidak ada hasil penelitian maupun pernyataan dari otoritas Vietnam kenaikan angka autisme di negara mereka karena vaksinasi. Pada tahun 2021, para peneliti dari Hanoi University Public Health menerbitkan survei nasional pertama tentang prevalensi ASD di Vietnam. Mereka menemukan bahwa sekitar 1 dari 132 anak memiliki kondisi tersebut. ASD pada anak berusia 18 dan 30 bulan di Vietnam cenderung meningkat. Namun tren ini dapat ditemui di sejumlah negara-negara berpenghasilan menengah lainnya. Survei tersebut sama sekali tidak menyimpulkan peningkatan autisme karena vaksinasi. 

    Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan, angka autisme meningkat karena kapasitas banyak negara telah lebih baik dalam mengenali dan melaporkan kasus autisme dibandingkan sebelumnya. 

    Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 secara resmi memberikan sertifikat kepada Vietnam karena memiliki sistem regulasi nasional yang lengkap. Sistem ini dapat memastikan keamanan dan kemanjuran vaksin yang diproduksi dan digunakan di dalam negeri.

    Perluasan program Imunisasi Vietnam dinilai berhasil membantu mengendalikan campak, memberantas polio dan tetanus neonatal, menurut The United Nations International Children's Emergency Fund.

    Tidak hubungan antara vaksinasi dan autisme

    Banyak studi yang telah menyimpulkan, tidak ada kaitan antara vaksinasi dengan peningkatan autisme. Studi yang diterbitkan oleh Journal of the American Medical Association pada 2015, telah meneliti lebih dari 90.000 anak. Hasilnya mengonfirmasi bahwa vaksin MMR tidak meningkatkan risiko ASD.

    Studi lain pada 2002 terhadap 537.303 anak di Denmark dengan 82 persen di antaranya telah menerima vaksin MMR. Peneliti menunjukkan adanya risiko autisme yang antara kelompok yang divaksinasi dan yang tidak divaksinasi.

    Spesialis psikiatri anak dan remaja di Montenegro, Dr. Ivan Krgovi?, mengatakan, banyak penelitian besar telah dilakukan terhadap sejumlah besar anak selama beberapa tahun. “Tidak ditemukan adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme pada anak,” kata dia dikutip dari Badan Kesehatan Anak Dunia, UNICEF.

    Kesimpulan

    Hasil verifikasi Tempo tentang klaim angka autisme di Vietnam melonjak gara-gara vaksin adalah keliru.

    Rujukan