Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan video beredar di Facebook ini, ini, dan ini menarasikan Gunung Gede Pangrango yang terletak dalam wilayah tiga Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur mengalami erupsi.
Dalam video tersebut, gunung mengeluarkan asap putih.
Berikut narasi dalam unggahan tersebut:
“Detik -detik Terjadinya Erupsi Gunung Gede Bogor ,Jawa Barat tgl 02-April-2025”
Namun, benarkah Gunung Gede Pangrango erupsi?
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(GFD-2025-26428) Hoaks! Video Gunung Gede Pangrango erupsi pada awal April
Sumber:Tanggal publish: 09/04/2025
Berita
Hasil Cek Fakta
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan informasi aktivitas erupsi Gunung Gede di Cianjur Jawa Barat yang beredar di berbagai kanal media sosial beberapa hari terakhir adalah kabar bohong atau hoaks.
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengatakan bahwa kolom abu erupsi di atas puncak Gunung Gede yang diinformasikan video ilustrasi di beberapa akun media sosial itu tidak benar, karena video tersebut diambil dari aktivitas Gunung Marapi di Sumatera Barat.
Berdasarkan pemantauan aktivitas visual dari Pos Pemantauan Gunung Api dari Badan Geologi di Cianjur melaporkan bahwa sampai saat ini tidak terjadi erupsi maupun keluarnya kolom abu di atas kawah Gunung Gede.
“Erupsi terakhir Gunung Gede terjadi pada tahun 1957 berupa kolom erupsi mencapai 3.000 meter di atas Kawah Ratu,” katanya, dilansir dari ANTARA.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Hingga Selasa (8/4), Badan Geologi masih menetapkan status Gunung Gede pada Level 1 (Normal). Masyarakat di sekitar Gunung Gede ataupun wisatawan direkomendasikan untuk tidak menuruni, mendekati dan bermalam dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon.
Pewarta: Tim JACX
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2025
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengatakan bahwa kolom abu erupsi di atas puncak Gunung Gede yang diinformasikan video ilustrasi di beberapa akun media sosial itu tidak benar, karena video tersebut diambil dari aktivitas Gunung Marapi di Sumatera Barat.
Berdasarkan pemantauan aktivitas visual dari Pos Pemantauan Gunung Api dari Badan Geologi di Cianjur melaporkan bahwa sampai saat ini tidak terjadi erupsi maupun keluarnya kolom abu di atas kawah Gunung Gede.
“Erupsi terakhir Gunung Gede terjadi pada tahun 1957 berupa kolom erupsi mencapai 3.000 meter di atas Kawah Ratu,” katanya, dilansir dari ANTARA.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Hingga Selasa (8/4), Badan Geologi masih menetapkan status Gunung Gede pada Level 1 (Normal). Masyarakat di sekitar Gunung Gede ataupun wisatawan direkomendasikan untuk tidak menuruni, mendekati dan bermalam dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon.
Pewarta: Tim JACX
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2025
Rujukan
(GFD-2025-26431) Cek Fakta: Hoaks Artikel Presiden Prabowo Marah ke Rakyat yang Bikin Pusing Pemerintah
Sumber:Tanggal publish: 09/04/2025
Berita
Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan artikel Presiden Prabowo marah ke rakyat yang bikin pusing pemerintah. Postingan itu beredar sejak awal pekan ini.
Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 8 April 2025.
Dalam postingannya terdapat cuplikan layar artikel berjudul:
"Presiden Prabowo Marah ke Rakyat Beras kan masih ada ubi sagu gandum untuk dikonsumsi Jangan Musingin Pemerintah Deh!!"
Akun itu menambahkan narasi:
"Boikot pajak dia makan gaji buta dari rakyat jadi pemimpin mau enaknya doang nggak bisa ngasih solusi cuma mau duduk manis di istana"
Lalu benarkah postingan artikel Presiden Prabowo marah ke rakyat yang bikin pusing pemerintah?
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan artikel yang identik dengan postingan. Artikel itu diunggah situs Tribratanews.polri.go.id dengan foto dan jam unggahan yang sama dengan postingan yakni 09:38:54 WIB.
Namun dalam artikel asli berjudul "Prabowo Subianto Prioritaskan Ekonomi Kerakyatan Demi Indonesia Emas 2045". Tanggal tayang dalam artikel itu sendiri pada 15 Oktober 2024 bukan 5 April 2025 seperti dalam postingan yang telah disunting.
Berikut isi artikelnya:
"JAKARTA,TBNEWS - Buku berjudul "The Prabowo Mind, The New Indonesia Economy 5.0 Manifesto" resmi dirilis menjelang pelantikan presiden terpilih periode 2024-2029 Prabowo Subianto. Buku tersebut ditulis Ketua Umum Angkatan Muda Koperasi Indonesia (AMKI) Frans Meroga.
Hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua Dewan Pakar presiden terpilih Prabowo, Syamsul Bahri mewakili Ketua Dewan Pakar Presiden Terpilih Burhanuddin Abdullah sebagai keynote speaker.
Syamsul Bahri mengatakan Prabowo Subianto akan memprioritaskan ekonomi kerakyatan demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Hal itu merujuk pada kontribus UMKM yang mencapai lebih dari 60% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
“Sudah jelas Pak Prabowo akan menaruh perhatian lebih terhadap pemberdayaan koperasi serta pelaku UMKM sehingga memastikan terjadinya upskilling dan upscaling para pelaku ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Turut hadir pula para tokoh yang menjadi narasumber dalam bedah buku tersebut. Mereka adalah Rektor Universitas Insan Cita Indonesia Laode Masihu Kamaluddin, Staf Khusus Presiden Joko Widodo, Angkie Yudistira, dan sociopreneur, penulis, serta presenter Nadya Mulya.
Sementara itu, Frans melalui bukunya menyebut Prabowo sangat konsen pada ekonomi kerakyatan. Menurut dia masyarakat perlu tahu soal perhatian Prabowo terhadap Indonesia Emas 2045.
"Hal inilah yang ingin kita amplifikasikan supaya masyarakat tahu untuk menuju Indonesia emas pada 2045 dengan target rata-rata pertumbuhan ekonomi 8% kita harus mendorong ekonomi kerakyatan. Semua bisa bergerak bersama mendorong pemberdayaan koperasi dan UMKM," paparnya.
Implementasi dan peningkatan ekonomi kerakyatan, menurut Frans, dapat dicapai dengan menggerakkan koperasi, pelaku usaha UMKM, dan sektor informal.
Untuk mendukung hal itu, penguatan regulasi perlu dilakukan sebagai political will dari pemerintahan baru ke depan sehingga dapat benar-benar berpihak. Selain itu, perlu adanya pembudayaan dan literasi yang kuat atas koperasi kepada semua generasi.
Di samping itu, Laode Masihu Kamaludin mengapresiasi buku yang dirilis Frans Meroga Panggabean. Menurut dia buku tersebut menarik karena bertemakan ekonomi yang berkelanjutan, berkedaulatan, dan berkemakmuran. Dalam kampanye kemarin Prabowo berjanji akan mendorong ekonomi digital menjadi lebih kuat.
"Namun, jangan lupa permasalahan pada bangsa ini adalah big data. Jadi data yang kita miliki saat ini masih belum akurat. Jadi dapat dikatakan evidence based kita masih lemah. Jika data kita bagus maka diksi pengambilan kebijakan akan lebih baik," imbuhnya.
Laode menjelaskan, Prabowo Subianto sudah mengerti bagaimana cara memecahkan permasalahan-permasalahan ini. Peranan digital dinilai akan mempermudah semua hal.
"Prabowo tahu betul Indonesia adalah salah satu negara yang terkuat dalam ekonomi digitalnya di ASEAN dan diperkirakan pada 2030 kekuatan ekonomi kita akan naik 3-5 kali lipat dengan sumbangan 30% dari APBN," urainya.
Menurut Laode, hal tersebut bisa tercapai jika semuanya mendorong ekonomi digital. Apalagi, saat ini penggunaan gawai di Indonesia sudah tinggi.
"Hal ini menandakan masyarakat kita aware dengan dunia digital. Nah, nantinya tinggal kita arahkan saja kontennya ke konten ekonomi untuk mendorong ekonomi digital," ujarnya."
Kesimpulan
Postingan artikel Presiden Prabowo marah ke rakyat yang bikin pusing pemerintah adalah hoaks. Judul dalam artikel tersebut telah disunting.
Rujukan
(GFD-2025-26432) Cek fakta, pemerintah akan kembalikan dana haji yang terpakai untuk IKN
Sumber:Tanggal publish: 09/04/2025
Berita
Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di X menampilkan tangkapan layar berita dari CNN Indonesia yang menarasikan Menteri Koperasi Indonesia Budi Arie Setiadi akan mengembalikan dana haji yang tidak sengaja terpakai untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dana tersebut akan dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk Tunjangan Hari Raya (THR). Dana haji yang terpakai pemerintah untuk IKN disebutkan dalam judul artikel tersebut mencapai Rp700 triliun.
Berikut narasi dalam unggahan tersebut:
“Benarkah Dana Haji yg dipakai pemerintah tidak sengaja untuk IKN mencapai 700 Triliun.”
Namun, benarkah pemerintah akan kembalikan dana haji yang terpakai untuk IKN sebesar Rp700 triliun?
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Dana tersebut akan dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk Tunjangan Hari Raya (THR). Dana haji yang terpakai pemerintah untuk IKN disebutkan dalam judul artikel tersebut mencapai Rp700 triliun.
Berikut narasi dalam unggahan tersebut:
“Benarkah Dana Haji yg dipakai pemerintah tidak sengaja untuk IKN mencapai 700 Triliun.”
Namun, benarkah pemerintah akan kembalikan dana haji yang terpakai untuk IKN sebesar Rp700 triliun?
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan judul artikel seperti di tangkapan layar unggahan tersebut. Jika ditelusuri berdasarkan waktu, tanggal, dan gambar ditemukan serupa dalam artikel CNN Indonesia yang berjudul “210 Ribu Orang Bakal Dilatih Kelola Koperasi Desa Merah Putih”.
Dalam artikel tersebut, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi mulanya menegaskan sebanyak 210.000 orang bakal mendapatkan pelatihan dalam pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Program Koperasi Desa Merah Putih tersebut dirancang untuk mengatasi tantangan ekonomi pedesaan, termasuk praktik tengkulak dan rentenir yang merugikan masyarakat.
Dengan demikian, tangkapan layar artikel dalam unggahan tersebut merupakan hasil suntingan.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pewarta: Tim JACX
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2025
Dalam artikel tersebut, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi mulanya menegaskan sebanyak 210.000 orang bakal mendapatkan pelatihan dalam pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Program Koperasi Desa Merah Putih tersebut dirancang untuk mengatasi tantangan ekonomi pedesaan, termasuk praktik tengkulak dan rentenir yang merugikan masyarakat.
Dengan demikian, tangkapan layar artikel dalam unggahan tersebut merupakan hasil suntingan.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pewarta: Tim JACX
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2025
Rujukan
(GFD-2025-26433) Cleveland Clinic Tak Sebut Penerima Vaksin COVID akan Meninggal
Sumber:Tanggal publish: 09/04/2025
Berita
tirto.id - Pemberian vaksin COVID-19 masih terus diwarnai kekhawatiran terhadap efek samping jangka panjangnya. Ketakutan ini akhirnya berujung pada bertebarannya narasi-narasi miring terkait vaksin tersebut di jagat maya.
Baru-baru ini misalnya, sebuah akun X dengan nama @toobaffled (arsip) menyebarkan klaim bahwa jutaan orang yang divaksin COVID-19 akan meninggal dalam 5 tahun. Narasi itu disebut berasal dari Cleveland Clinic, pusat medis akademis nirlaba yang memadukan perawatan klinis dan rumah sakit dengan penelitian dan pendidikan.
Akun pengunggah turut melampirkan artikel dari media bernama Slay News,yang berbahasa Inggris, berjudul “Cleveland Clinic: Millions of Covid-Vaxxed Will Die Within ‘5 Years’’. Dalam artikel yang disertakan, Cleveland Clinic dikatakan telah mengeluarkan peringatan yang mengerikan bahwa jutaan orang yang menerima “vaksin mRNA Covid” akan menghadapi kematian mendadak dalam “lima tahun” mendatang.
Namun, menurut artikel, lembaga itu belum mengeluarkan peringatan kepada publik tentang gelombang kematian yang mengancam penerima vaksin COVID.
“Sebaliknya, Cleveland Clinic diam-diam mengeluarkan berita mengejutkan dalam pembaruan terkini di situs webnya. Menurut Cleveland Clinic, kematian massal diperkirakan akan melonjak karena bom waktu miokarditis di antara orang yang divaksinasi Covid,” begitu bunyi artikelnya.
Cuitan X yang berisi artikel Slay News ini telah disimpan oleh lebih dari seribu orang, per Senin (24/3/2025) hingga Rabu (9/4/2025). Jumlah impresinya pun ramai, di antaranya berupa 3.800 likes, 1.800 retweet, dan 304 replies.
Beberapa akun media sosial lain pun terlihat membagikan narasi serupa, seperti akun X ini dan akun Instagram ini.
Lantas, benarkah klaim yang berseliweran?
Baru-baru ini misalnya, sebuah akun X dengan nama @toobaffled (arsip) menyebarkan klaim bahwa jutaan orang yang divaksin COVID-19 akan meninggal dalam 5 tahun. Narasi itu disebut berasal dari Cleveland Clinic, pusat medis akademis nirlaba yang memadukan perawatan klinis dan rumah sakit dengan penelitian dan pendidikan.
Akun pengunggah turut melampirkan artikel dari media bernama Slay News,yang berbahasa Inggris, berjudul “Cleveland Clinic: Millions of Covid-Vaxxed Will Die Within ‘5 Years’’. Dalam artikel yang disertakan, Cleveland Clinic dikatakan telah mengeluarkan peringatan yang mengerikan bahwa jutaan orang yang menerima “vaksin mRNA Covid” akan menghadapi kematian mendadak dalam “lima tahun” mendatang.
Namun, menurut artikel, lembaga itu belum mengeluarkan peringatan kepada publik tentang gelombang kematian yang mengancam penerima vaksin COVID.
“Sebaliknya, Cleveland Clinic diam-diam mengeluarkan berita mengejutkan dalam pembaruan terkini di situs webnya. Menurut Cleveland Clinic, kematian massal diperkirakan akan melonjak karena bom waktu miokarditis di antara orang yang divaksinasi Covid,” begitu bunyi artikelnya.
Cuitan X yang berisi artikel Slay News ini telah disimpan oleh lebih dari seribu orang, per Senin (24/3/2025) hingga Rabu (9/4/2025). Jumlah impresinya pun ramai, di antaranya berupa 3.800 likes, 1.800 retweet, dan 304 replies.
Beberapa akun media sosial lain pun terlihat membagikan narasi serupa, seperti akun X ini dan akun Instagram ini.
Lantas, benarkah klaim yang berseliweran?
Hasil Cek Fakta
Tim Riset Tirto mula-mula mengunjungi situs resmi https://my.clevelandclinic.org/ untuk memverifikasi klaim. Saat memasukkan kata kunci “Covid-vaxxed will die within 5 years” di kolom pencarian situs tersebut, kami tak menemukan artikel maupun rilis yang mengonfirmasi narasi ini.
Tirto lalu melakukan penelusuran Google dengan kata kunci “Cleveland Clinic say millions of people with COVID-19 vaccines will die within 5 years”. Hasilnya sama, kami pun tak menemukan adanya laporan resmi yang membenarkan klaim tersebut.
Narasi ini justru telah dinyatakan tidak benar oleh beberapa lembaga pemeriksa fakta, seperti PolitiFact dan LogicallyFacts. Pihak Cleveland Clinic bahkan sudah mengonfirmasi bahwa klaim yang berlalu-lalang salah.
"Klaim terbaru yang menyatakan bahwa vaksin COVID-19 akan menyebabkan miokarditis dan kematian massal adalah salah dan tidak memiliki dasar ilmiah apa pun. Penelitian telah menunjukkan bahwa tertular virus COVID-19 merupakan faktor risiko yang lebih besar untuk komplikasi terkait jantung, termasuk miokarditis, daripada vaksin," kata juru bicara Cleveland Clinic, seperti dikutip Logically Facts.
Situs Cleveland Clinic memuat informasi tentang miokarditis, termasuk gejala, penyebab, dan komplikasi seriusnya. Namun, Tirto tidak menemukan informasi tentang kematian massal di halaman lembaga tersebut tentang miokarditis.
Miokarditis sendiri merupakan peradangan pada otot jantung. Kondisi ini sering kali disebabkan oleh virus, infeksi bakteri, atau penyakit autoimun.
Meski miokarditis masuk dalam kemungkinan komplikasi yang ditimbulkan vaksin mRNA COVID (menggunakan instruksi untuk bagian dari virus untuk melatih sistem kekebalan tubuh, seperti Moderna dan Pfizer-Biontech), menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Badan Obat-obatan Eropa (EMA), penyakit ini merupakan efek samping langka dari vaksin COVID-19.
Situs British Heart Foundation juga menyatakan bahwa meskipun miokarditis dapat melemahkan otot jantung dan menyebabkan nyeri dada, sesak napas, dan palpitasi, dengan pengobatan, kebanyakan orang akan pulih dengan baik.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa narasi yang beredar tidak memiliki dasar yang jelas. Lagi pula, Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs Slay News sebagai situs yang memiliki kredibilitas rendah dan bias ekstrem sayap kanan. Situs Slay News disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten palsu.
Tirto sebelumnya juga pernah memeriksa klaim salah soal WHO mengakui Mpox sebagai efek samping vaksin COVID-19, yang juga mengutip artikel Slay News.
Tirto lalu melakukan penelusuran Google dengan kata kunci “Cleveland Clinic say millions of people with COVID-19 vaccines will die within 5 years”. Hasilnya sama, kami pun tak menemukan adanya laporan resmi yang membenarkan klaim tersebut.
Narasi ini justru telah dinyatakan tidak benar oleh beberapa lembaga pemeriksa fakta, seperti PolitiFact dan LogicallyFacts. Pihak Cleveland Clinic bahkan sudah mengonfirmasi bahwa klaim yang berlalu-lalang salah.
"Klaim terbaru yang menyatakan bahwa vaksin COVID-19 akan menyebabkan miokarditis dan kematian massal adalah salah dan tidak memiliki dasar ilmiah apa pun. Penelitian telah menunjukkan bahwa tertular virus COVID-19 merupakan faktor risiko yang lebih besar untuk komplikasi terkait jantung, termasuk miokarditis, daripada vaksin," kata juru bicara Cleveland Clinic, seperti dikutip Logically Facts.
Situs Cleveland Clinic memuat informasi tentang miokarditis, termasuk gejala, penyebab, dan komplikasi seriusnya. Namun, Tirto tidak menemukan informasi tentang kematian massal di halaman lembaga tersebut tentang miokarditis.
Miokarditis sendiri merupakan peradangan pada otot jantung. Kondisi ini sering kali disebabkan oleh virus, infeksi bakteri, atau penyakit autoimun.
Meski miokarditis masuk dalam kemungkinan komplikasi yang ditimbulkan vaksin mRNA COVID (menggunakan instruksi untuk bagian dari virus untuk melatih sistem kekebalan tubuh, seperti Moderna dan Pfizer-Biontech), menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Badan Obat-obatan Eropa (EMA), penyakit ini merupakan efek samping langka dari vaksin COVID-19.
Situs British Heart Foundation juga menyatakan bahwa meskipun miokarditis dapat melemahkan otot jantung dan menyebabkan nyeri dada, sesak napas, dan palpitasi, dengan pengobatan, kebanyakan orang akan pulih dengan baik.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa narasi yang beredar tidak memiliki dasar yang jelas. Lagi pula, Media Bias Fact Check mengidentifikasi situs Slay News sebagai situs yang memiliki kredibilitas rendah dan bias ekstrem sayap kanan. Situs Slay News disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten palsu.
Tirto sebelumnya juga pernah memeriksa klaim salah soal WHO mengakui Mpox sebagai efek samping vaksin COVID-19, yang juga mengutip artikel Slay News.
Kesimpulan
Hasil penelusuran fakta menunjukkan bahwa narasi Cleveland Clinic saol jutaan penerima vaksin COVID-19 akan meninggal dalam waktu 5 tahun bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).
Hasil penelusuran di situs resmi https://my.clevelandclinic.org/ tak menemukan adanya artikel maupun rilis yang mengonfirmasi. Narasi ini justru telah dinyatakan tidak benar oleh beberapa lembaga pemeriksa fakta.
Pihak Cleveland Clinic bahkan sudah mengonfirmasi bahwa klaim yang berlalu-lalang salah. Situs Slay News disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten palsu.
Hasil penelusuran di situs resmi https://my.clevelandclinic.org/ tak menemukan adanya artikel maupun rilis yang mengonfirmasi. Narasi ini justru telah dinyatakan tidak benar oleh beberapa lembaga pemeriksa fakta.
Pihak Cleveland Clinic bahkan sudah mengonfirmasi bahwa klaim yang berlalu-lalang salah. Situs Slay News disebut seringkali menyebarkan propaganda, konspirasi, pseudosains, dan konten-konten palsu.
Rujukan
- https://x.com/toobaffled/status/1903985877061365849
- https://mvau.lt/media/6c9bedcb-147f-42de-934a-5d7b01908b8f
- https://x.com/bgatesisapyscho/status/1905744248001249457
- https://www.instagram.com/p/DHt9dZhNnJ4/?utm_source=ig_embed
- https://www.politifact.com/factchecks/2025/apr/04/facebook-posts/cleveland-clinic-didnt-say-millions-of-people-with/
- https://www.logicallyfacts.com/en/fact-check/cleveland-clinic-has-not-warned-that-millions-of-covid-vaccinated-will-die-soon
- https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22129-myocarditis
- https://my.clevelandclinic.org/health/procedures/covid-vaccine
- https://www.cdc.gov/vaccines/covid-19/clinical-considerations/myocarditis.html
- https://www.bhf.org.uk/informationsupport/conditions/myocarditis
- https://mediabiasfactcheck.com/slay-news-bias-and-credibility/
- https://tirto.id/tidak-benar-who-akui-mpox-sebagai-efek-samping-vaksin-covid-19-g5m4
Halaman: 1927/7923

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183101/original/080509500_1744161151-cek_fakta_ubi.jpg)


