(GFD-2025-28975) [PENIPUAN] Akun Facebook Kemnaker "Bantuan BSU Terkini"
Sumber: facebook.comTanggal publish: 11/09/2025
Berita
Ditemukan akun [arsip] Facebook mengatasnamakan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Akun tersebut berisi unggahan terkait informasi penerimaan bantuan subsidi upah (BSU). Salah satunya pada unggahan [ini].
Hasil Cek Fakta
Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) melakukan pencarian melalui website resmi milik Kemnaker pada halaman “Berita” dengan menuliskan kata kunci “BSU - 2025”. Hasilnya, pencarian mengarah pada salah satu artikel dengan judul “Kemnaker Ingatkan Masyarakat Waspadai Link Palsu Terkait BSU” tayang Selasa, (15/7/2025).
Dalam keterangannya, pihaknya menghimbau kepada masyarakat agar berhati-hati terhadap tautan palsu yang mengatasnamakan program Bantuan Subsidi Upah (BSU). Kepala Biro Humas Kemnaker, Sunardi mengatakan, tahun ini pemerintah kembali menyalurkan BSU kepada para pekerja dan buruh dengan besaran sebesar Rp 300.000 per bulan untuk dua bulan, yakni Juni dan Juli dan sudah selesai disalurkan pada pekan awal Agustus kemarin.
Akun Facebook yang ditemukan tersebut juga bukan merupakan akun resmi milik Kemnaker. Informasi resmi terkait BSU hanya disampaikan melalui situs dan media sosial resmi Kemnaker, antara lain:
Website http://bsu.kemnaker.go.id
Facebook https://facebook.com/KemnakerRI
Instagram https://www.instagram.com/kemnaker
X https://x.com/kemnakerri
YouTube https://kemnaker.go.id/null
Dalam keterangannya, pihaknya menghimbau kepada masyarakat agar berhati-hati terhadap tautan palsu yang mengatasnamakan program Bantuan Subsidi Upah (BSU). Kepala Biro Humas Kemnaker, Sunardi mengatakan, tahun ini pemerintah kembali menyalurkan BSU kepada para pekerja dan buruh dengan besaran sebesar Rp 300.000 per bulan untuk dua bulan, yakni Juni dan Juli dan sudah selesai disalurkan pada pekan awal Agustus kemarin.
Akun Facebook yang ditemukan tersebut juga bukan merupakan akun resmi milik Kemnaker. Informasi resmi terkait BSU hanya disampaikan melalui situs dan media sosial resmi Kemnaker, antara lain:
Website http://bsu.kemnaker.go.id
Facebook https://facebook.com/KemnakerRI
Instagram https://www.instagram.com/kemnaker
X https://x.com/kemnakerri
YouTube https://kemnaker.go.id/null
Kesimpulan
Akun Facebook “Bantuan BSU terkini” merupakan konten tiruan (impostor content).
Rujukan
- http[kemnaker.go.id] Website Kementerian Ketenagakerjaan
- https://kemnaker.go.id [kemnaker.go.id] Kemnaker Ingatkan Masyarakat Waspadai Link Palsu Terkait BSU
- https://kemnaker.go.id/news/detail/kemnaker-ingatkan-masyarakat-waspadai-link-palsu-terkait-bsu
- https://www.facebook.com/share/1BRXcuXmU4/ (unggahan akun Facebook “bantuan BSU terkini)
- https://archive.ph/rUXmA (arsip unggahan akun Facebook “bantuan BSU terkini”)
(GFD-2025-28976) Cek Fakta: Klarifikasi Video PT Gudang Garam Lakukan PHK Massal
Sumber:Tanggal publish: 11/09/2025
Berita
Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan video PT Gudang Garam melakukan PHK massal pada karyawannya. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.
Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 6 September 2025.
Dalam postingannya terdapat video sejumlah orang saling menangis dan mengucapkan salam perpisahan. Video itu disertai narasi:
"Imbas Efisiensi? Gudang Garam PHK Ribuan Pekerja"
Lalu benarkah postingan video PT Gudang Garam melakukan PHK massal pada karyawannya?
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan klarifikasi dari PT Gudang Garam yang dilansir dari laman Bursa Efek Indonesia, Idx.co.id.
Heru Budiman, Direktur & Corporate Secretary PT Gudang Garam menjelaskan pihaknya tidak melakukan PHK massal seperti yang viral di media sosial.
"Kami sampaikan bahwa sebenarnya yang terjadi bukan PHK massal, melainkan proses pelepasan 309 karyawan secara normatif melalui mekanisme pensiun normal dan pensiun dini secara sukarela, serta berakhirnya kontrak kerja sesuai batas waktu kontrak kerja," bunyi pernyataan PT Gudang Garam.
"Saat ini operasional perseroan berjalan seperti biasa dari proses produksi hingga distribusi. Kejadian tersebut tidak memberikan dampak terhadap kelangsungan usaha perseroan."
Mereka juga menambahkan terus melakukan langkah-langkah adaptif terhadap kondisi pasar yang saat ini dipengaruhi oleh perkembangan ketentuan cukai dan penanganan terhadap rokok yang tidak memenuhi ketentuan cukai.
Kesimpulan
Postingan video PT Gudang Garam melakukan PHK massal pada karyawannya telah diklarifikasi pihak manajemen.
Rujukan
(GFD-2025-28979) [SALAH] Nepal Berhasil Gulingkan DPR
Sumber: TiktokTanggal publish: 11/09/2025
Berita
Beredar unggahan video [arsip] dari akun Tiktok “joys1233” pada Rabu (10/09/2025). Unggahan berisi narasi:
“NEPAL BERHASIL MENGGULINGKAN DPR
Di indonesia gagal total, rusuh dikit malah di bilangnya anarkis, kocak emang, segala bentuk kata2 kampungan dari ANARKIS, tanpa mereka sadari kalau kata anarkis itulah yg di gunakan oleh pejabat untuk mempengaruhi rakyat agar kepimimpinannya tetap kokoh dengan segala kejahatannya saat ini, karena kita rakyat di larang keras agar mereka bisa tuli seumur hidup.”
Hasil Cek Fakta
Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran klaim dengan memasukkan kata kunci “Nepal berhasil gulingkan DPR” ke mesin pencarian Google. Hasilnya tidak ditemukan berita kredibel yang membenarkan klaim. Pencarian teratas mengarah kepada artikel bbc.com yang berjudul “Gedung DPR dibakar, 22 orang tewas, PM mundur – Apa yang diketahui soal demo di Nepal?”.
Artikel yang tayang pada Rabu (10/09/2025) tersebut menjelaskan Demonstrasi kaum Gen-Z tersebut menentang tuduhan praktik korupsi yang telah meluas dan berubah menjadi aksi kekerasan. Rangkaian demonstrasi itu dipicu oleh larangan media sosial, yang kini telah dicabut. Selain itu,Kantor Perdana Menteri (PM) Nepal menyatakan bahwa Sharman Oli (PM Nepal) mengundurkan diri. Dalam artikel tersebut, tidak ditemukan narasi penggulingan DPR (Pratinidhi Sabha) Nepal.
Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (Turnbackhoax) menelusuri keadaan terkini Nepal. Hasilnya ditemukan artikel dari Tirto.id berjudul “Presiden Nepal, PM, dan Para Menteri Mundur Imbas Demo Rusuh” yang tayang Rabu (10/09/2025) menjelaskan Perdana Menteri, Presiden dan beberapa Menteri di Nepal mengundurkan diri imbas dari demonstrasi yang rusuh.
Hingga artikel ini ditulis, tidak ditemukan keterangan bahwa salah satu lembaga legislatif Nepal yaitu DPR atau Pratinidhi Sabha dibubarkan.
Artikel yang tayang pada Rabu (10/09/2025) tersebut menjelaskan Demonstrasi kaum Gen-Z tersebut menentang tuduhan praktik korupsi yang telah meluas dan berubah menjadi aksi kekerasan. Rangkaian demonstrasi itu dipicu oleh larangan media sosial, yang kini telah dicabut. Selain itu,Kantor Perdana Menteri (PM) Nepal menyatakan bahwa Sharman Oli (PM Nepal) mengundurkan diri. Dalam artikel tersebut, tidak ditemukan narasi penggulingan DPR (Pratinidhi Sabha) Nepal.
Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (Turnbackhoax) menelusuri keadaan terkini Nepal. Hasilnya ditemukan artikel dari Tirto.id berjudul “Presiden Nepal, PM, dan Para Menteri Mundur Imbas Demo Rusuh” yang tayang Rabu (10/09/2025) menjelaskan Perdana Menteri, Presiden dan beberapa Menteri di Nepal mengundurkan diri imbas dari demonstrasi yang rusuh.
Hingga artikel ini ditulis, tidak ditemukan keterangan bahwa salah satu lembaga legislatif Nepal yaitu DPR atau Pratinidhi Sabha dibubarkan.
Kesimpulan
Unggahan berisi klaim “Nepal berhasil gulingkan DPR” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).
Rujukan
- http[Google] Penelusuran dengan kata kunci “Nepal berhasil gulingkan DPR” [bbc.com] Gedung DPR dibakar, 22 orang tewas, PM mundur – Apa yang diketahui soal demo di Nepal? [Tirto.id] Presiden Nepal, PM, dan Para Menteri Mundur Imbas Demo Rusuh
- https://www.bbc.com/indonesia/articles/c79v1048ngno
- https://tirto.id/demo-di-nepal-rusuh-pm-sharma-oli-dan-sejumlah-menteri-mundur-hhvJ
- https://vt.tiktok.com/ZSDe6XGTr/ (Tautan unggahan akun Tiktok “joys1233”)
- https://archive.ph/aiOQQ (Arsip unggahan unggahan akun Tiktok “joys1233”)
(GFD-2025-28980) Keliru: Indonesia Jadi Target Revolusi Warna lewat Demonstrasi Agustus 2025
Sumber:Tanggal publish: 11/09/2025
Berita
SEBUAH utas di Threads [arsip] berisi narasi yang menyebutkan bahwa Indonesia menjadi target revolusi warna atau colour revolution. Dalam utasnya, pengunggah menuliskan, rentetan demonstrasi yang terjadi sejak 25 Agustus lalu memiliki pola yang sama dengan Pakta Warsawa, sebuah aliansi negara yang diinisiasi Uni Soviet (sebuah negara yang bubar tahun 1991) atau yang kini disebut Blok Timur. Aksi itu juga disebutkan mendapat dukungan dari NED, lembaga pendanaan pro demokrasi milik AS.
Berikut petikan akhir utasnya:
Saya hanya mengingatkan: Hati-Hati dengan Revolusi Warna yang sedang mengincar Indonesia. Pola yang sama dengan dua peristiwa silam di jajaran Pakta Warsawa tahun 2000-an yang kemudian dikenal dengan istilah Balkanisasi, serta isu Arab Spring yang memporak-porandakan beberapa negara di Jalur Sutra tahun 2010-an.
Namun, benarkah klaim tersebut?
Berikut petikan akhir utasnya:
Saya hanya mengingatkan: Hati-Hati dengan Revolusi Warna yang sedang mengincar Indonesia. Pola yang sama dengan dua peristiwa silam di jajaran Pakta Warsawa tahun 2000-an yang kemudian dikenal dengan istilah Balkanisasi, serta isu Arab Spring yang memporak-porandakan beberapa negara di Jalur Sutra tahun 2010-an.
Namun, benarkah klaim tersebut?
Hasil Cek Fakta
Tempo memverifikasi klaim itu dengan menelusuri sumber kredibel dan mewawancarai peneliti hubungan internasional. Hasilnya, poin-poin yang dituliskan dalam utas terbukti keliru.
Sejumlah poin dalam narasi yang beredar tidak sesuai catatan sejarah. Misalnya, Pakta Warsawa disebut disetujui tahun 2000-an. Padahal, perjanjian itu ditandatangani di Warsawa, Polandia, pada 14 Mei 1955 dan dibatalkan pada 31 Maret 1991.
Pakta Warsawa lahir dari aliansi Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur lewat Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Saling Membantu. Aliansi ini dibentuk untuk menandingi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang didirikan Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Eropa Barat pada 1949. Pakta Warsawa bubar setelah krisis melanda dan kekuatan negara anggotanya merosot.
Utas tuntutan 17+8 diajukan tanpa dibahas dengan rakyat Indonesia. Faktanya, sejumlah tuntutan sudah dikonsultasikan lebih dulu ke banyak pihak. Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera Bivitri Susanti menjelaskan melalui akun X pribadinya (@BivitriS) bahwa tuntutan 17+8 yang dibuat para pemengaruh telah mengutip banyak rumusan masalah lain dan berdiskusi dengan banyak pihak. “Termasuk saya, via tlp (kemudian komunikasi lebih intensif setelah itu),” cuitnya.
Laporan Tempo juga menuliskan, sejumlah tuntutan itu dikeluarkan oleh konsorsium Bijak Memantau yang sebagian anggotanya adalah pemengaruh yang resah setelah melihat serangkaian aksi demonstrasi yang tidak memiliki fokus tuntutan untuk pemerintah.
Dari serangkaian tuntutan, tak ada yang berisi niat menggulingkan rezim. Mereka menuntut TNI tidak campur tangan dalam urusan sipil, DPRD transparan dan membatalkan tunjangan berlebihan, pembentukan tim investigasi independen atas pelindasan Affan Kurniawan dengan rantis Brimob, serta sejumlah penugasan lain.
Poin yang mengaitkan penggunaan simbol warna tertentu, kemunculan sejumlah tokoh menonjol, hingga kericuhan di lapangan dalam rentetan demonstrasi Agustus lalu sebagai tanda revolusi warna juga dibantah oleh Peneliti Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) Satria Unggul Wicaksana Prakasa.
Prakarsa menegaskan penggunaan warna dalam aksi di Indonesia tidak berkaitan dengan revolusi warna atau campur tangan asing. “Tidak ada kaitan dengan color revolution di Mesir atau Arab Spring. Arab Spring terjadi karena gejolak masyarakat, juga didukung upaya militer melakukan kudeta di Mesir pada 2011,” kata Satria kepada Tempo, Rabu, 10 September 2025.
Menurut dia, sejumlah pakar di Indonesia juga menilai demonstrasi itu lahir dari kemarahan publik terhadap kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang dan tindakan represif aparat. Aksi tersebut menyebar lewat media sosial dengan algoritma biasa sehingga kelompok masyarakat lain yang merasakan keresahan serupa ikut turun ke jalan.
Ia juga menilai tudingan keterlibatan “antek asing” dalam aksi lalu sebagai hoaks. “Menurut saya sangat jauh kalau aksi itu dikaitkan dengan gerakan asing. Ini murni luapan masyarakat yang jengah dengan kebijakan pemerintah. Harus dilihat dalam konteks nasional, bukan intervensi asing,” ujar Satria.
Keterangan Satria sejalan dengan laporan Tempo yang menemukan sejumlah personel TNI diduga memicu kericuhan di beberapa daerah. Diduga tindakan itu dilakukan individu, bukan kebijakan institusi TNI.
Sejumlah poin dalam narasi yang beredar tidak sesuai catatan sejarah. Misalnya, Pakta Warsawa disebut disetujui tahun 2000-an. Padahal, perjanjian itu ditandatangani di Warsawa, Polandia, pada 14 Mei 1955 dan dibatalkan pada 31 Maret 1991.
Pakta Warsawa lahir dari aliansi Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur lewat Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Saling Membantu. Aliansi ini dibentuk untuk menandingi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang didirikan Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Eropa Barat pada 1949. Pakta Warsawa bubar setelah krisis melanda dan kekuatan negara anggotanya merosot.
Utas tuntutan 17+8 diajukan tanpa dibahas dengan rakyat Indonesia. Faktanya, sejumlah tuntutan sudah dikonsultasikan lebih dulu ke banyak pihak. Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera Bivitri Susanti menjelaskan melalui akun X pribadinya (@BivitriS) bahwa tuntutan 17+8 yang dibuat para pemengaruh telah mengutip banyak rumusan masalah lain dan berdiskusi dengan banyak pihak. “Termasuk saya, via tlp (kemudian komunikasi lebih intensif setelah itu),” cuitnya.
Laporan Tempo juga menuliskan, sejumlah tuntutan itu dikeluarkan oleh konsorsium Bijak Memantau yang sebagian anggotanya adalah pemengaruh yang resah setelah melihat serangkaian aksi demonstrasi yang tidak memiliki fokus tuntutan untuk pemerintah.
Dari serangkaian tuntutan, tak ada yang berisi niat menggulingkan rezim. Mereka menuntut TNI tidak campur tangan dalam urusan sipil, DPRD transparan dan membatalkan tunjangan berlebihan, pembentukan tim investigasi independen atas pelindasan Affan Kurniawan dengan rantis Brimob, serta sejumlah penugasan lain.
Poin yang mengaitkan penggunaan simbol warna tertentu, kemunculan sejumlah tokoh menonjol, hingga kericuhan di lapangan dalam rentetan demonstrasi Agustus lalu sebagai tanda revolusi warna juga dibantah oleh Peneliti Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) Satria Unggul Wicaksana Prakasa.
Prakarsa menegaskan penggunaan warna dalam aksi di Indonesia tidak berkaitan dengan revolusi warna atau campur tangan asing. “Tidak ada kaitan dengan color revolution di Mesir atau Arab Spring. Arab Spring terjadi karena gejolak masyarakat, juga didukung upaya militer melakukan kudeta di Mesir pada 2011,” kata Satria kepada Tempo, Rabu, 10 September 2025.
Menurut dia, sejumlah pakar di Indonesia juga menilai demonstrasi itu lahir dari kemarahan publik terhadap kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang dan tindakan represif aparat. Aksi tersebut menyebar lewat media sosial dengan algoritma biasa sehingga kelompok masyarakat lain yang merasakan keresahan serupa ikut turun ke jalan.
Ia juga menilai tudingan keterlibatan “antek asing” dalam aksi lalu sebagai hoaks. “Menurut saya sangat jauh kalau aksi itu dikaitkan dengan gerakan asing. Ini murni luapan masyarakat yang jengah dengan kebijakan pemerintah. Harus dilihat dalam konteks nasional, bukan intervensi asing,” ujar Satria.
Keterangan Satria sejalan dengan laporan Tempo yang menemukan sejumlah personel TNI diduga memicu kericuhan di beberapa daerah. Diduga tindakan itu dilakukan individu, bukan kebijakan institusi TNI.
Kesimpulan
Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan demonstrasi di berbagai daerah yang terjadi akhir Agustus 2025 termasuk revolusi warna yang didukung NED AS adalah klaim keliru.
Rujukan
Halaman: 1507/8120



