• (GFD-2019-1306) [BENAR] LIPI Tidak Mengeluarkan Hasil Survei Capres-Cawapres

    Sumber:
    Tanggal publish: 26/03/2019

    Hasil Cek Fakta

    Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan klarifikasi terkait kabar yang menyebutkan bahwa lembaga tersebut sudah mengeluarkan survei elektabilitas Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres dan Cawapres) 2019. Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI, Firman Noor, membantah keterlibatan peneliti LIPI dalam sebuah hasil survei. Firman mengatakan, lembaganya tidak pernah mengeluarkan hasil survei elektabilitas pasangan calon presiden-wakil presiden 2019.

    “LIPI tidak pernah mengeluarkan hasil survei yang menyatakan elektabilitas Jokowi - Maruf 40,30 persen, Prabowo - Sandi 45, 45 persen, dan tidak tahu/tidak jawab 14,25 persen,” kata Firman.

    Firman menjelaskan, saat menjadi pembicara bersama peneliti LIPI, Aisah Putri Budiarti, survei yang menjadi rujukan adalah hasil survei Rumah Demokrasi yang disampaikan Ramdansyah, dalam acara diskusi bertajuk Migrasi Suara Pilpres 2019: Hasil Survei versus Realitas.

    “LIPI tidak terlibat sama sekali di dalam proses dan penyampaian hasil survei tersebut,” ujarnya.

    Menurut Firman, dirinya dan Aisah hadir selaku pembicara untuk mencermati secara umum peluang migrasi suara dalam Pemilu 2019, dengan melihat peluang migrasi dapat terjadi melalui perpindahan dari satu pasangan calon ke pasangan calon lain, atau dari swing voter ke salah satu pasangan calon.

    Ia juga meminta semua pihak agar lebih cermat, berhati-hati, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan atau menyebarluaskan berita kepada publik agar tidak terjebak pada pemberitaan hoaks yang dapat merugikan kredibilitas sebuah lembaga, khususnya lembaga penelitian seperti LIPI.

    Rujukan

  • (GFD-2019-1307) [FALSE] “PAF aircrafts create a beautiful formation of Allah’s name”

    Sumber: tns.world
    Tanggal publish: 26/03/2019

    Berita

    “Pakistan-Day: PAF aircrafts create a beautiful formation of Allah’s name in the sky
    By TNS World – March 23, 2018 6:58 pm
    (photograph)
    Islamabad, March 23 (TNS): On eve of Pakistan-Day, Pakistan Air Force’s aircrafts created a beautiful formation of Allah’s name over Islamabad’s skies. …”
    Complete copy of article content is in (2) section REFERENCE.

    Hasil Cek Fakta

    Not by PAF, the formation was unintentionally formed by Indonesian Air Force in May 3rd 2017 during Jogja International Air Show event. See EXPLANATION and REFERENCE section for more detail.

    Rujukan

  • (GFD-2019-1300) [SALAH] Area Proyek Bandara Kulonprogo Terendam Banjir

    Sumber: Portal Daring
    Tanggal publish: 25/03/2019

    Berita

    Portal law-justice.co memuat pemberitaan proyek Bandara Kulonprogo atau NYIA telah banjir. Pemberitaannya berjudul “Belum Diresmikan Bandara Baru Yogya Sudah Terendam Banjir.”

    Hasil Cek Fakta

    Pemberitaan tentang banjir di Proyek Bandara Kulonprogo atau New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) telah kebanjiran merupakan informasi yang tidak benar. Project Manajer Pembangunan (PMP) New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) PT Angkasa Pura I, Taochid Purnomo Hadi membantah telah terjadi banjir di area proyek NYIA. “Tidak ada banjir. [Sempat tergenang] di sebelah pintu masuk barat saja itu sebentar, kemudian kita sodet,” kata Taochid.

    Rujukan

  • (GFD-2019-1301) [SALAH] Kampanye Homo dan Lesbi di Hari Perempuan Internasional

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 25/03/2019

    Berita

    Narasi yang menyebutkan bahwa kelompok LGBT mengkampanyekan homoseksualitas di Hari Perempuan beredar di media sosial. Narasi itu dibagikan oleh akun Uun Gunawan Unz di Facebook pada 14 Maret 2019.

    Akun tersebut membagikan lima foto suasana aksi dengan memfokuskan pada poster tuntutan dan simbol-simbol berwarna pelangi.

    Uun Gunawan Unz menyertakan kalimat Na'udzubillahi mindzalik serta tulisan Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST), Dr. Henri Salahudin.

    Narasi Henri Salahudin itu berjudul “Ketika Genderang Perang itu Ditabuh”. Isinya menilai kumpulan homoseksual dan lesbian yang tidak takut lagi mengkampanyekan homoseksualitas secara terbuka di ruang publik.

    “Mereka tidak lagi takut kampanye homo secara terbuka di ruang publik & beraksi iring-iringan. Walaupun tidak jauh dari kantor-kantor keagamaan, ormas Islam, simbol-simbol kenegaraan yang dibangun dengan darah syuhada yang bertetesan,” tulis Henri Salahudin.

    Hasil Cek Fakta

    Peserta aksi yang membawa poster kampanye perlindungan bagi LGBT sebenarnya adalah jemaat Gereja Komunitas Anugerah – Reformed Baptist Salemba, Jakarta. Itu tampak dari logo Gereja Komunitas Anugerah yang terpasang pada foto dua poster aksi, sebagaimana yang dibagikan akun Uun Gunawan.

    Mereka memang turut dalam aksi International Women Day (IWD) 2019 yang diperingati dengan aksi jalan kaki dari Bundaran Bank Indonesia hingga Taman Aspirasi di depan Istana Merdeka, 8 Maret 2019.

    Hubungan Kemasyarakatan Gereja Komunitas Anugerah – Reformed Baptist Salemba, Julius Christian Adiatma, menjelaskan, bahwa narasi yang menyebutkan bahwa aksi itu untuk mempromosikan LGBT dan menuntut pengesahan pernikahan sesama jenis adalah keliru.

    “Selain itu, ada juga narasi yang mengaitkan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan kampanye komunitas LGBT. Narasi-narasi seperti ini jelas tidak sesuai dengan fakta yang ada,” kata Julius dalam siaran persnya yang diterima Tempo, 21 Maret 2019.

    Julius menjelaskan, Gereja Komunitas Anugerah adalah gereja yang inklusif terhadap semua golongan, terutama mereka yang termarjinalkan. Mereka turut serta dalam barisan IWD 2019, bukan dalam rangka menuntut pengesahan pernikahan sesama jenis maupun mempromosikan LGBT. Melainkan untuk menyuarakan penolakan segala bentuk persekusi, diskriminasi, dan kriminalisasi terhadap kelompok minoritas, termasuk kelompok LGBT.

    “Akhir-akhir ini, persekusi terhadap kelompok LGBT semakin meningkat. Kelompok minoritas seksual ini menjadi salah satu kelompok rentan di Indonesia,” kata dia.

    Julius mengutip Survei Wahid Institute yang dilaksanakan Oktober 2017. Dalam survei itu disebutkan, selain komunis, LGBT merupakan kelompok yang paling tidak disukai. Media massa banyak memberitakan kelompok LGBT mendapatkan perlakuan diskriminasi, misalnya dalam hal akses pada pekerjaan maupun tempat tinggal.

    Rujukan