(GFD-2019-3054) [SALAH] “penonton Liga Jerman membuat ‘konfigurasi’ menghormati Rasulullah”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 08/09/2019
Berita
“Masya Allah .. Ratusan ribu penonton sepak bola Liga Jerman, membuat ‘konfigurasi’ utk menghormati Rasulullah SAW. Jerman adlh salah satu negara Eropa yg terpesat perkembangan Islamnya krn dimotori oleh ustaz Pierre Vogel yg seorang muallaf setempat.”
Hasil Cek Fakta
Pelintiran daur ulang. Bukan di Liga Jerman, yang benar adalah atraksi koreografi fans klub Al Ittihad membentuk tulisan حبيبي يا رسول الله di Liga Arab pada 20 Februari 2015.
Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.
Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.
Rujukan
(GFD-2019-3055) [SALAH] “mau dipakai infrastruktur calon Ibu Kota”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 08/09/2019
Berita
“Alat berat yang mau dipakai infrastruktur calon Ibu Kota. Tenggelam diperairan Sampit. Moga ini pertanda Allah akan menenggelamkan rezim ini macam Fir’aun beserta bala tentaranya. Aamiin”.
Hasil Cek Fakta
Tidak berkaitan dengan calon ibu kota. LCT Ayu 78 sedang menuju ke Tanjung Api-api (Sumatera Selatan) ketika karam, BUKAN menuju Kalimantan seperti premis pelintiran yang dibangun oleh narasi SUMBER.
Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.
Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.
Rujukan
(GFD-2019-3051) [SALAH] Selebaran DPO Provokator Kerusuhan Veronica Koman oleh Polda Metro Jaya
Sumber: facebook.comTanggal publish: 06/09/2019
Berita
Beredar selebaran Daftar Pencarian Orang (DPO) atas nama Veronica Koman. Dalam selebaran yang beredar itu tertulis lambang Polda Metro Jaya. Selain itu, terdapat pula nomor kontak 081213120006 sebagai nomor narahubung. Berikut narasinya:
"Veronica Koman ini adalah orang yang sangat aktif, salah satu yang sangat aktif yang membuat provokasi di dalam mau pun di luar negeri untuk menyebarkan hoaks dan juga provokasi."
#BravoPolri
#BravoTNI
#NKRIHargaMati
#TumpasProvokator
#TangkapVeronicaKoman
.
.
.
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190905175150-12-427906/veronica-koman-diburu-interpol
"Veronica Koman ini adalah orang yang sangat aktif, salah satu yang sangat aktif yang membuat provokasi di dalam mau pun di luar negeri untuk menyebarkan hoaks dan juga provokasi."
#BravoPolri
#BravoTNI
#NKRIHargaMati
#TumpasProvokator
#TangkapVeronicaKoman
.
.
.
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190905175150-12-427906/veronica-koman-diburu-interpol
Hasil Cek Fakta
Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa pihak Polda Metro Jaya membantah bahwa selebaran itu dikeluarkan oleh pihaknya. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono membantah polisi telah menerbitkan selebaran DPO untuk Veronica Koman.
Sebab, hingga kini belum ada laporan untuk pengeluaran DPO di Polda Metro Jaya. Lantaran itu masyarakat diminta tidak mempercayai selebaran itu. Jika pihaknya mengeluarkan selebaran maka nanti akan diumumkan.
“Polda Metro Jaya tidak benar jika mengeluarkan DPO ini karena belum ada laporan,” tegasnya.
Selain itu, Argo kembali menegaskan, format DPO milik Polda Metro Jaya tidak seperti selebaran yang beredar. Format selebaran yang beredar itu, menurutnya, tak sesuai dengan aturan yang dimiliki tim Polda Metro Jaya.
“Format DPO bukan seperti itu,” ungkap Argo.
Meski begitu, penetapan Veronica sebagai tersangka kerusuhan di Papua sudah ditetapkan oleh pihak Ditreskrimsus Polda Jatim pada Rabu, 4 September 2019. Polisi menetapkannya sebagai tersangka setelah mengantongi lebih dari dua alat bukti. Dia dijerat dengan pasal berlapis, di antaranya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Saat ini, Polda Jawa Timur sudah berkoordinasi dengan Divhubinter Polri dan Siber mengeluarkan red notice. Nantinya red notice tersebut akan disampaikan ke Interpol guna disampaikan ke negara Veronica berada.
Sebab, hingga kini belum ada laporan untuk pengeluaran DPO di Polda Metro Jaya. Lantaran itu masyarakat diminta tidak mempercayai selebaran itu. Jika pihaknya mengeluarkan selebaran maka nanti akan diumumkan.
“Polda Metro Jaya tidak benar jika mengeluarkan DPO ini karena belum ada laporan,” tegasnya.
Selain itu, Argo kembali menegaskan, format DPO milik Polda Metro Jaya tidak seperti selebaran yang beredar. Format selebaran yang beredar itu, menurutnya, tak sesuai dengan aturan yang dimiliki tim Polda Metro Jaya.
“Format DPO bukan seperti itu,” ungkap Argo.
Meski begitu, penetapan Veronica sebagai tersangka kerusuhan di Papua sudah ditetapkan oleh pihak Ditreskrimsus Polda Jatim pada Rabu, 4 September 2019. Polisi menetapkannya sebagai tersangka setelah mengantongi lebih dari dua alat bukti. Dia dijerat dengan pasal berlapis, di antaranya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Saat ini, Polda Jawa Timur sudah berkoordinasi dengan Divhubinter Polri dan Siber mengeluarkan red notice. Nantinya red notice tersebut akan disampaikan ke Interpol guna disampaikan ke negara Veronica berada.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/970957563236779/
- https://turnbackhoax.id/2019/09/06/salah-selebaran-dpo-provokator-kerusuhan-veronica-koman-oleh-polda-metro-jaya/
- https://megapolitan.kompas.com/read/2019/09/06/12542411/beredar-poster-foto-dpo-veronica-koman-polisi-itu-hoaks
- https://www.vivanews.com/berita/nasional/5699-polda-metro-jaya-bantah-terbitkan-selebaran-veronica-koman-jadi-dpo
- https://www.medcom.id/nasional/hukum/VNxZd8Jk-polda-metro-bantah-selebaran-dpo-veronica-koman
- https://news.detik.com/berita/d-4695873/polda-metro-tegaskan-tak-edarkan-selebaran-dpo-veronica-koman?single=1
- https://kabarmedan.com/cek-fakta-selebaran-tentang-veronica-koman-dpo-polda-metro-jaya-hoaks/
- https://www.suara.com/news/2019/09/06/123038/selebaran-veronica-koman-dpo-polda-metro-jaya-hoaks
(GFD-2019-3052) [SALAH] Orang yg mengibarkan bendera Bintang Kejora di gunung Papua akhirnya ditangkap Polisi Hongkong
Sumber: facebook.comTanggal publish: 06/09/2019
Berita
Akun MANTAN Bojomu (fb.com/angel.smaker.71) mengunggah beberapa video ke beberapa grup dengan narasi sebagai berikut ;
“Ternyata orang2 CIA
tidak Ada habis Nya mengacaukan negara lain :angry:
Foto Press di’Hongkong = Orang yg mengibarkan bendera Bintang Kejora di’gunung Papua… (Video pertama)… akhirnya ditangkap Polisi Hongkong…
#militantjokowi
#gwmilitantjokowi
#pemerintahharustegas“
“Ternyata orang2 CIA
tidak Ada habis Nya mengacaukan negara lain :angry:
Foto Press di’Hongkong = Orang yg mengibarkan bendera Bintang Kejora di’gunung Papua… (Video pertama)… akhirnya ditangkap Polisi Hongkong…
#militantjokowi
#gwmilitantjokowi
#pemerintahharustegas“
Hasil Cek Fakta
Video pertama yang menampilkan seorang pria yang ditangkap oleh polisi Hong Kong terjadi di stasiun kereta bawah tanah Hong Kong pada 31 Agustus 2019. Video itu diunggah dalam empat seri di akun Twitter antiELAB pada 1 September 2019.
Dalam video pertama, pria tersebut berteriak mengajukan protes, “Tell me why? I want to go that way! This is Hong Kong, not China!” Video berikutnya menunjukkan bagaimana akhirnya polisi menjatuhkan pria itu ke tanah dan menggiringnya. Pria itu masih terus memprotes upaya polisi tersebut.
Theepochtimes.com memberitakan bahwa pria tersebut bernama Martin Svenningsen. Berita yang terbit pada 1 September 2019 itu diberi judul Chinese Media Spread Fake News That Western Man Arrested in Hong Kong Is CIA Agent.
Epoch Times juga menyebutkan tambahan identitas lain, yakni label Sveriges Radio di kartu pers yang ditemukan. Ketika ditelusuri, Sveriges Radio merupakan perusahaan penyiaran radio nasional yang beraktivitas di Swedia. Mengutip situs resmi sverigesradio.se, Svenningsen pernah menduduki posisi sebagai produser di P4 Extra di Stockholm.
Tim CekFakta Tempo menelusuri apakah pria dalam video pengibaran bendera Bintang Kejora adalah orang yang sama dengan pria dalam video pertama dan apakah kedua video ini saling terkait.
Tim CekFakta Tempo mendapatkan video ini merupakan potongan dari sebuah video kampanye yang berjudul “Climb for West Papua-Facing Your Fear” yang diunggah oleh akun Free West Papua Campaign Australia di Facebook pada 24 Mei 2017.
Video versi asli berdurasi 10 menit 50 detik dan tidak terjadi di Papua, melainkan di Sydney, Australia. Video tersebut diproduksi sebagai upaya solidaritas terhadap orang-orang Papua Barat.
Video itu berkisah tentang seorang manajer sebuah hotel di Sydney, Jake Toivonen, yang punya fobia terhadap ketinggian. Namun, demi menyatakan solidaritas terhadap orang-orang Papua Barat, Toivonen memutuskan untuk menghadapi ketakutannya secara langsung.
Dengan bantuan ahli panjat tebing, Cam Leadle, Toivonen mendaki tebing Sweet Dream di Blue Mountains, Sydney. Dukungan Toivonen pun tidak berhenti di situ. Dia dengan bangga mengangkat bendera Bintang Kejora di ketinggian 180 meter.
Jadi kesimpulannya, berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, pengibaran bendera Bintang Kejora oleh seorang warga negara asing dalam video kedua adalah bentuk solidaritas terhadap Papua Barat. Lokasinya pun di Sydney, Australia, bukan di Papua. Pria ini juga bukan orang yang sama dengan pria yang ditangkap oleh polisi Hong Kong dalam video pertama.
Dalam video pertama, pria tersebut berteriak mengajukan protes, “Tell me why? I want to go that way! This is Hong Kong, not China!” Video berikutnya menunjukkan bagaimana akhirnya polisi menjatuhkan pria itu ke tanah dan menggiringnya. Pria itu masih terus memprotes upaya polisi tersebut.
Theepochtimes.com memberitakan bahwa pria tersebut bernama Martin Svenningsen. Berita yang terbit pada 1 September 2019 itu diberi judul Chinese Media Spread Fake News That Western Man Arrested in Hong Kong Is CIA Agent.
Epoch Times juga menyebutkan tambahan identitas lain, yakni label Sveriges Radio di kartu pers yang ditemukan. Ketika ditelusuri, Sveriges Radio merupakan perusahaan penyiaran radio nasional yang beraktivitas di Swedia. Mengutip situs resmi sverigesradio.se, Svenningsen pernah menduduki posisi sebagai produser di P4 Extra di Stockholm.
Tim CekFakta Tempo menelusuri apakah pria dalam video pengibaran bendera Bintang Kejora adalah orang yang sama dengan pria dalam video pertama dan apakah kedua video ini saling terkait.
Tim CekFakta Tempo mendapatkan video ini merupakan potongan dari sebuah video kampanye yang berjudul “Climb for West Papua-Facing Your Fear” yang diunggah oleh akun Free West Papua Campaign Australia di Facebook pada 24 Mei 2017.
Video versi asli berdurasi 10 menit 50 detik dan tidak terjadi di Papua, melainkan di Sydney, Australia. Video tersebut diproduksi sebagai upaya solidaritas terhadap orang-orang Papua Barat.
Video itu berkisah tentang seorang manajer sebuah hotel di Sydney, Jake Toivonen, yang punya fobia terhadap ketinggian. Namun, demi menyatakan solidaritas terhadap orang-orang Papua Barat, Toivonen memutuskan untuk menghadapi ketakutannya secara langsung.
Dengan bantuan ahli panjat tebing, Cam Leadle, Toivonen mendaki tebing Sweet Dream di Blue Mountains, Sydney. Dukungan Toivonen pun tidak berhenti di situ. Dia dengan bangga mengangkat bendera Bintang Kejora di ketinggian 180 meter.
Jadi kesimpulannya, berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, pengibaran bendera Bintang Kejora oleh seorang warga negara asing dalam video kedua adalah bentuk solidaritas terhadap Papua Barat. Lokasinya pun di Sydney, Australia, bukan di Papua. Pria ini juga bukan orang yang sama dengan pria yang ditangkap oleh polisi Hong Kong dalam video pertama.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/388/fakta-atau-hoaks-benarkah-ada-wartawan-asing-ditangkap-di-hong-kong-karena-mengibarkan-bendera-bintang-kejora
- https://www.jawapos.com/hoax-atau-bukan/06/09/2019/hoax-video-pengibar-bendera-bintang-kejora-tertangkap-di-hongkong/
- https://twitter.com/anti_elab/status/1167844311335133185
- https://www.theepochtimes.com/chinese-media-spread-fake-news-that-mystery-american-arrested-in-hong-kong-is-cia-agent_3064611.html
Halaman: 7666/7976






