Bukan mie ataupun spaghetti. Objek panjang di dalam video nyatanya adalah cacing/parasit dalam usus. Mi dan sejenisnya merupakan bahan makanan yang mengandung tepung, lemak, dan protein. Oleh karena itu tentunya mi akan hancur bila dicerna.
Akun Usy Bundana Adealbi (fb.com/lushi.ramadhani.9) mengunggah sebuah video yang diberi narasi :
“Assalamu’alaikum Wr Wbr ….
*VIDEO INI HARUS DILIHAT OLEH SETIAP ORANG*
Video ini telah diambil oleh Dr. Harish Shukla dari Apollo Hospitals ……….
Beliau mengungkapkan, bahwa sistem pencernaan atau usus kita tidak bisa mencerna makanan sejenis MIE atau SPAGHETTI …….
Penyumbatan di usus karena konsumsi MIE atau SPAGHETTI yang disingkirkan saat dokter melakukan operasi, sangat menakutkan ….
Silahkan menunjukkan video ini kepada anak atau cucu Anda.
Silahkan berbagi video ini.”
(GFD-2019-3279) [SALAH] Penyumbatan di usus karena konsumsi mie atau spaghetti yang disingkirkan saat dokter melakukan operasi
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 08/11/2019
Berita
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Setelah dilakukan penelusuran, video tersebut adalah asli. Namun, narasi yang menyebut video tersebut adalah operasi bedah usus pengangkatan mie instan karena tidak bisa dicerna merupakan hoaks.
Faktanya, video tersebut menunjukkan proses operasi pengangkatan cacing parasit. Objek panjang seperti mie yang terlihat dalam video adalah cacing parasit dalam usus.
Periksa fakta terhadap klaim ini pernah dimuat di turnbackhoax.id pada 22 Oktober 2017 dengan judul “(HOAX): Operasi Penyumbatan Usus Akibat Mengkonsumi Mie Instan”
Video yang identik ditemukan pada kanal Youtube DetaDoctor. Kanal itu mengunggah video itu dengan judul “Removal operation intestinal worms parasites from human” atau dengan terjemahan bahasa Indonesia “Operasi pengangkatan parasit cacing usus pada manusia”. Video itu tayang pada 4 Juni 2013.
Parasit usus adalah parasit yang dapat menginfeksi saluran gastro-intestinal (saluran pencernaan) manusia dan hewan. Mereka dapat hidup di seluruh tubuh, tetapi kebanyakan berada di dinding usus. Menurut University of Maryland Medical Center dalam situs umm.edu, parasit usus terbagi menjadi dua jenis, cacing dan protozoa (tidak semua cacing dan protozoa menjadi parasit usus).
Jenis cacing seperti cacing pita, cacing kremi, cacing gelang dan cacing dengan banyak sel adalah salah satu cacing yang paling umum menghuni usus manusia. Dalam bentuk dewasa, cacing tidak dapat berkembang biak di dalam tubuh manusia. Dalam kasus cacing, parasit usus dapat merusak atau membuat sakit inangnya melalui infeksi yang disebut helminthiasis.
Di sisi lain, protozoa hanya memiliki satu sel, dapat berkembang biak di dalam tubuh manusia, dan dapat memungkinkan mengembangkan infeksi serius. Parasit usus biasanya menular ke manusia melalui kontak dengan kotoran yang terinfeksi, seperti melalui tanah yang terkontaminasi, makanan atau air. Yang paling umum parasit usus protozoa adalah: Giardia intestinalis, Entamoeba histolytica, Cyclospora cayetanenensis, dan Cryptosporidium.
Parasit usus menimbulkan berbagai gejala pada mereka yang terkena dampak, sebagian besar menjadi komplikasi gastrointestinal dan gejala umum. Komplikasi gastrointestinal mencakup diare, mual, disentri, dan nyeri perut.
Gejala-gejala ini berdampak pada kualitas gizi, termasuk penurunan penyerapan mikronutrien, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, dan kehilangan darah pada usus yang biasanya dapat mengakibatkan anemia. Hal ini juga dapat menyebabkan cacat fisik dan mental, tertundanya pertumbuhan pada anak-anak, dan iritasi kulit di sekitar anus dan vulva.
Ahli pencernaan dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan bahwa mi dan sejenisnya merupakan bahan makanan yang mengandung tepung, lemak, dan protein. Oleh karena itu tentunya mi akan hancur bila dicerna.
Hanya saja memang seseorang tidak disarankan mengonsumsi mi terlalu sering karena gizinya yang tidak sempurna seperti diutarakan oleh pakar gizi teknologi pangan Profesor Made Astawan dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Setelah dilakukan penelusuran, video tersebut adalah asli. Namun, narasi yang menyebut video tersebut adalah operasi bedah usus pengangkatan mie instan karena tidak bisa dicerna merupakan hoaks.
Faktanya, video tersebut menunjukkan proses operasi pengangkatan cacing parasit. Objek panjang seperti mie yang terlihat dalam video adalah cacing parasit dalam usus.
Periksa fakta terhadap klaim ini pernah dimuat di turnbackhoax.id pada 22 Oktober 2017 dengan judul “(HOAX): Operasi Penyumbatan Usus Akibat Mengkonsumi Mie Instan”
Video yang identik ditemukan pada kanal Youtube DetaDoctor. Kanal itu mengunggah video itu dengan judul “Removal operation intestinal worms parasites from human” atau dengan terjemahan bahasa Indonesia “Operasi pengangkatan parasit cacing usus pada manusia”. Video itu tayang pada 4 Juni 2013.
Parasit usus adalah parasit yang dapat menginfeksi saluran gastro-intestinal (saluran pencernaan) manusia dan hewan. Mereka dapat hidup di seluruh tubuh, tetapi kebanyakan berada di dinding usus. Menurut University of Maryland Medical Center dalam situs umm.edu, parasit usus terbagi menjadi dua jenis, cacing dan protozoa (tidak semua cacing dan protozoa menjadi parasit usus).
Jenis cacing seperti cacing pita, cacing kremi, cacing gelang dan cacing dengan banyak sel adalah salah satu cacing yang paling umum menghuni usus manusia. Dalam bentuk dewasa, cacing tidak dapat berkembang biak di dalam tubuh manusia. Dalam kasus cacing, parasit usus dapat merusak atau membuat sakit inangnya melalui infeksi yang disebut helminthiasis.
Di sisi lain, protozoa hanya memiliki satu sel, dapat berkembang biak di dalam tubuh manusia, dan dapat memungkinkan mengembangkan infeksi serius. Parasit usus biasanya menular ke manusia melalui kontak dengan kotoran yang terinfeksi, seperti melalui tanah yang terkontaminasi, makanan atau air. Yang paling umum parasit usus protozoa adalah: Giardia intestinalis, Entamoeba histolytica, Cyclospora cayetanenensis, dan Cryptosporidium.
Parasit usus menimbulkan berbagai gejala pada mereka yang terkena dampak, sebagian besar menjadi komplikasi gastrointestinal dan gejala umum. Komplikasi gastrointestinal mencakup diare, mual, disentri, dan nyeri perut.
Gejala-gejala ini berdampak pada kualitas gizi, termasuk penurunan penyerapan mikronutrien, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, dan kehilangan darah pada usus yang biasanya dapat mengakibatkan anemia. Hal ini juga dapat menyebabkan cacat fisik dan mental, tertundanya pertumbuhan pada anak-anak, dan iritasi kulit di sekitar anus dan vulva.
Ahli pencernaan dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan bahwa mi dan sejenisnya merupakan bahan makanan yang mengandung tepung, lemak, dan protein. Oleh karena itu tentunya mi akan hancur bila dicerna.
Hanya saja memang seseorang tidak disarankan mengonsumsi mi terlalu sering karena gizinya yang tidak sempurna seperti diutarakan oleh pakar gizi teknologi pangan Profesor Made Astawan dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Rujukan
(GFD-2019-3280) [SALAH] Menhan Prabowo dan Panglima akan menertibkan ORMAS yang berpakaian mirip Uniform TNI
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 08/11/2019
Berita
Gambar suntingan. Judul asli artikel berita di situs iNews.id adalah “Menhan Prabowo dan Panglima TNI Bertekad Wujudkan Postur Pertahanan Negara Andal”. Di dalam artikel itu juga tidak ditemukan pernyataan seperti yang diklaim oleh sumber.
kun Khaysha Zasqiya Ramadhani (fb.com/ummy.aisyah.98) mengunggah sebuah gambar dengan narasi : “Banserr – Cepaat Cari Seragam Batik – Loreng mu akan di Sita …”
Gambar tersebut menampilkan tangkapan layar artikel yang dimuat oleh situs iNews.id yang yang menampilkan momen ketika Menteri Pertahan, Letnan Jenderal (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo bertemu dengan Panglima TNI, Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P.
Di dalam gambar tersebut terdapat narasi : “Menhan Prabowo dan Panglima akan menertibkan ORMAS yang berpakaian mirip Uniform TNI sesuai Undang-undang nomor 16 tahun 2017 pasal 59”
kun Khaysha Zasqiya Ramadhani (fb.com/ummy.aisyah.98) mengunggah sebuah gambar dengan narasi : “Banserr – Cepaat Cari Seragam Batik – Loreng mu akan di Sita …”
Gambar tersebut menampilkan tangkapan layar artikel yang dimuat oleh situs iNews.id yang yang menampilkan momen ketika Menteri Pertahan, Letnan Jenderal (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo bertemu dengan Panglima TNI, Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P.
Di dalam gambar tersebut terdapat narasi : “Menhan Prabowo dan Panglima akan menertibkan ORMAS yang berpakaian mirip Uniform TNI sesuai Undang-undang nomor 16 tahun 2017 pasal 59”
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan artikel yang menampilkan foto ketika Menteri Pertahan, Letnan Jenderal (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo bertemu dengan Panglima TNI, Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P di Mabes TNI, Jakarta, Rabu 30 Oktober 2019.
Artikel yang dimuat di iNews.id tersebut berjudul “Menhan Prabowo dan Panglima TNI Bertekad Wujudkan Postur Pertahanan Negara Andal”
Di dalam artikel tersebut, tidak ditemukan pernyataan “Menhan Prabowo dan Panglima akan menertibkan ORMAS yang berpakaian mirip Uniform TNI sesuai Undang-undang nomor 16 tahun 2017 pasal 59” seperti yang ditulis di gambar yang diunggah oleh sumber klaim.
Berikut isi lengkap artikel tersebut :
JAKARTA, iNews.id – Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kementerian Pertahanan (Kemhan) bertekad mewujudkan postur pertahanan negara yang andal untuk menghadapi berbagai ancaman dan tantangan masa depan bangsa. Tekad ini digelorakan demi mewujudkan Indonesia maju.
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di hadapan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menuturkan, TNI telah menerima alat utama sistem senjata (alusista) hasil pembangunan kekuatan MEF Renstra ke II yang diadakan Kemhan.
TNI selanjutnya mewujudkan dalam kemampuan operasi militer yang mencakup network centric warefare, fire power, introprabilitas, kemampuan intelijen, dan kemampuan lainnya.
Panglima juga menyampaikan bahwa TNI telah mengakselerasi 11 program prioritas TNI antara lain revitalisasi program MEF guna mendukung kebijakan poros maritim dunia yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait seperti, Bakamla, KKP, Bea Cukai dan sebagainya.
“Program tersebut diwujudkan dalam pembanguan sistem integrative vision center yang diperlukan agar periarian Indonesia bebas dari gangguan sesuai visi pemerintah,” kata Panglima di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (30/10/2019).
Begitu juga hasil penelusuran terhadap media-media arus utama lain tidak ditemukan pernyataan Menhan ataupun Panglima TNI seperti narasi yang ada di gambar tersebut.
Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan artikel yang menampilkan foto ketika Menteri Pertahan, Letnan Jenderal (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo bertemu dengan Panglima TNI, Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P di Mabes TNI, Jakarta, Rabu 30 Oktober 2019.
Artikel yang dimuat di iNews.id tersebut berjudul “Menhan Prabowo dan Panglima TNI Bertekad Wujudkan Postur Pertahanan Negara Andal”
Di dalam artikel tersebut, tidak ditemukan pernyataan “Menhan Prabowo dan Panglima akan menertibkan ORMAS yang berpakaian mirip Uniform TNI sesuai Undang-undang nomor 16 tahun 2017 pasal 59” seperti yang ditulis di gambar yang diunggah oleh sumber klaim.
Berikut isi lengkap artikel tersebut :
JAKARTA, iNews.id – Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kementerian Pertahanan (Kemhan) bertekad mewujudkan postur pertahanan negara yang andal untuk menghadapi berbagai ancaman dan tantangan masa depan bangsa. Tekad ini digelorakan demi mewujudkan Indonesia maju.
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di hadapan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menuturkan, TNI telah menerima alat utama sistem senjata (alusista) hasil pembangunan kekuatan MEF Renstra ke II yang diadakan Kemhan.
TNI selanjutnya mewujudkan dalam kemampuan operasi militer yang mencakup network centric warefare, fire power, introprabilitas, kemampuan intelijen, dan kemampuan lainnya.
Panglima juga menyampaikan bahwa TNI telah mengakselerasi 11 program prioritas TNI antara lain revitalisasi program MEF guna mendukung kebijakan poros maritim dunia yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait seperti, Bakamla, KKP, Bea Cukai dan sebagainya.
“Program tersebut diwujudkan dalam pembanguan sistem integrative vision center yang diperlukan agar periarian Indonesia bebas dari gangguan sesuai visi pemerintah,” kata Panglima di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (30/10/2019).
Begitu juga hasil penelusuran terhadap media-media arus utama lain tidak ditemukan pernyataan Menhan ataupun Panglima TNI seperti narasi yang ada di gambar tersebut.
Rujukan
(GFD-2019-3281) [SALAH] Gebrakan Menteri Kesehatan yang Baru
Sumber: facebook.com dan whatsapp.comTanggal publish: 08/11/2019
Berita
Gebrakan menteri kesehatan Terawan soal bpjs
Beredar informasi yang menyebutkan adanya gebrakan baru dari Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto. Gebrakan tersebut ialah pasien kondisi darurat tidak perlu membayar untuk dapat dirawat di rumah sakit bintang lima.
Berikut narasinya:
*GEBRAKAN MENTERI KESEHATAN YG BARU DR TERAWAN*????????????????????????
Pasien BPJS dalam kondisi darurat bisa masuk DAN DITANGANI SECARA SERIUS DI rumah sakit manapun TERMASUK RS BINTANG 5 tanpa harus membayar LEBIH DAHULU.
Dalam kondisi darurat,
RS tidak boleh tanya tentang pembayarannya. PASIEN KONDISI DARURAT harus ditangani RS sampai maksimal baru bicara tentang Biaya.
Pasien Panduan Bpjs...tidak wajib membayar sepeserpun walau RS bintang 5 tidak ikut BPJS. Karena setelah melewati masa krisis, pasien dapat durujuk ke RS yg sdh bergabung dg BPJS. dan Rumah sakit yg telah menangani pasien gawat darurat dapat menagihkan Ke BPJS.
BERGABUNG DENGAN BPJS KELAS MANAPUN.
*Apabila ada RUMAH SAKIT.....yg menolak pasien dalam kondisi darurat....laporkan ke 1500567* *HALOKEMENKES ATAU WWW.KEMKES.GO.ID*
*TWEET@KEMENKES.*
*SEBARKAN INFO INI DAN LAPORKAN KE KEMENKES 1500567 DAN VIRALKAN RUMAH SAKIT YANG MENOLAK RAKYAT INDONESIA YG SAKIT KONDISI DARURAT.*
*SANGSI TERBERAT RS YG MENOLAK PASIEN DALAM KONDISI DARURAT ADALAH PENCABUTAN IJIN RUMAHSAKIT..*
Gebrakan menteri kesehatan yang baru dr. Terawan
Beredar informasi yang menyebutkan adanya gebrakan baru dari Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto. Gebrakan tersebut ialah pasien kondisi darurat tidak perlu membayar untuk dapat dirawat di rumah sakit bintang lima.
Berikut narasinya:
*GEBRAKAN MENTERI KESEHATAN YG BARU DR TERAWAN*????????????????????????
Pasien BPJS dalam kondisi darurat bisa masuk DAN DITANGANI SECARA SERIUS DI rumah sakit manapun TERMASUK RS BINTANG 5 tanpa harus membayar LEBIH DAHULU.
Dalam kondisi darurat,
RS tidak boleh tanya tentang pembayarannya. PASIEN KONDISI DARURAT harus ditangani RS sampai maksimal baru bicara tentang Biaya.
Pasien Panduan Bpjs...tidak wajib membayar sepeserpun walau RS bintang 5 tidak ikut BPJS. Karena setelah melewati masa krisis, pasien dapat durujuk ke RS yg sdh bergabung dg BPJS. dan Rumah sakit yg telah menangani pasien gawat darurat dapat menagihkan Ke BPJS.
BERGABUNG DENGAN BPJS KELAS MANAPUN.
*Apabila ada RUMAH SAKIT.....yg menolak pasien dalam kondisi darurat....laporkan ke 1500567* *HALOKEMENKES ATAU WWW.KEMKES.GO.ID*
*TWEET@KEMENKES.*
*SEBARKAN INFO INI DAN LAPORKAN KE KEMENKES 1500567 DAN VIRALKAN RUMAH SAKIT YANG MENOLAK RAKYAT INDONESIA YG SAKIT KONDISI DARURAT.*
*SANGSI TERBERAT RS YG MENOLAK PASIEN DALAM KONDISI DARURAT ADALAH PENCABUTAN IJIN RUMAHSAKIT..*
Gebrakan menteri kesehatan yang baru dr. Terawan
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, informasi tersebut telah dibantah oleh pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Widyawati menegaskan bahwa informasi dalam pesan berantai tersebut tidak benar.
Menurut dia, kabar yang sama seperti ini pernah menyebar pada 2017 lalu. Widyawati pun kembali menegaskan, kabar yang beredar ini bukan berasal atau gebrakan dari Menkes Terawan Agus Putranto.
“Pesan tersebut juga bukan berasal dari Kementerian Kesehatan atau BPJS Kesehatan,” kata Widyawati.
Ia menjelaskan, rumah sakit tidak mengenal klasifikasi bintang 5, melainkan RS kelas A, B, C, dan D. Sementara itu, kelas pelayanan RS untuk pasien JKN terdiri dari kelas 1, 2, dan 3.
Peserta JKN-KIS yang memerlukan pelayanan gawat darurat, lanjut Widyawati, dapat langsung memperoleh pelayanan di setiap fasilitas kesehatan, baik yang bekerjsama atau tidak kerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Hal ini tertuang dalam Pasal 63 Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.
Seperti diatur pada Pasal 32 ayat 2 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka.
Pihak Kemenkes pun sudah memberikan bantahan melalui akun media sosial Twitternya, yakni @KemenkesRI.
Senada dengan pihak Kemenkes, BPJS Kesehatan pun membantah kabar yang beredar itu. Kepala Humas BPJS Kesehatan M Iqbal Ma'ruf menegaskan isi dalam pesan itu tidak benar.
“Ini pasti hoaks. Karena klasifikasi RS tidak dikenal istilah bintang, seperti contohnya hotel atau airline. Yang ada kelas rumah sakit, dan diatur kriteria kelasnya berdasarkan permenkes yang berlaku,” kata Iqbal.
Iqbal menuturkan, pasien peserta JKN-KIS dengan kondisi gawat darurat wajib ditangani oleh RS, baik yang bekerjasama maupun tidak bekerja sama dengan BPJS. Pelayanan kegawatdaruratan, lanjut dia, telah diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 47 Tahun 2018.
Menurut dia, kabar yang sama seperti ini pernah menyebar pada 2017 lalu. Widyawati pun kembali menegaskan, kabar yang beredar ini bukan berasal atau gebrakan dari Menkes Terawan Agus Putranto.
“Pesan tersebut juga bukan berasal dari Kementerian Kesehatan atau BPJS Kesehatan,” kata Widyawati.
Ia menjelaskan, rumah sakit tidak mengenal klasifikasi bintang 5, melainkan RS kelas A, B, C, dan D. Sementara itu, kelas pelayanan RS untuk pasien JKN terdiri dari kelas 1, 2, dan 3.
Peserta JKN-KIS yang memerlukan pelayanan gawat darurat, lanjut Widyawati, dapat langsung memperoleh pelayanan di setiap fasilitas kesehatan, baik yang bekerjsama atau tidak kerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Hal ini tertuang dalam Pasal 63 Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.
Seperti diatur pada Pasal 32 ayat 2 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka.
Pihak Kemenkes pun sudah memberikan bantahan melalui akun media sosial Twitternya, yakni @KemenkesRI.
Senada dengan pihak Kemenkes, BPJS Kesehatan pun membantah kabar yang beredar itu. Kepala Humas BPJS Kesehatan M Iqbal Ma'ruf menegaskan isi dalam pesan itu tidak benar.
“Ini pasti hoaks. Karena klasifikasi RS tidak dikenal istilah bintang, seperti contohnya hotel atau airline. Yang ada kelas rumah sakit, dan diatur kriteria kelasnya berdasarkan permenkes yang berlaku,” kata Iqbal.
Iqbal menuturkan, pasien peserta JKN-KIS dengan kondisi gawat darurat wajib ditangani oleh RS, baik yang bekerjasama maupun tidak bekerja sama dengan BPJS. Pelayanan kegawatdaruratan, lanjut dia, telah diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 47 Tahun 2018.
Kesimpulan
Berdasarkan bantahan tersebut, maka dapat dipastikan bahwa informasi yang beredar melalui Whatsapp dan Facebook tidak benar. Adapun, informasi itu masuk ke dalam kategori Fabricated Content atau Konten Palsu.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1023284581337410/
- https://turnbackhoax.id/2019/11/08/salah-gebrakan-menteri-kesehatan-yang-baru/
- https://twitter.com/KemenkesRI/status/1192257095963312128
- https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/07/160000765/-hoaks-gebrakan-menteri-kesehatan-yang-baru-soal-bpjs?page=all
- https://www.inews.id/lifestyle/health/menkes-ri-nyatakan-hoaks-mengenai-pesan-berantai-gebrakan-dr-terawan-soal-bpjs-kesehatan
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4775086/beredar-gebrakan-menkes-terawan-soal-bpjs-kesehatan-dipastikan-hoaks
(GFD-2019-3267) [SALAH] Virus Babi Hog Cholera Menular pada Manusia
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 07/11/2019
Berita
Foto yang diklaim sebagai korban bukan korban virus babi melainkan korban infeksi streptococcus karena memakan blood puding atau makanan yang dibuat dari darah hewan beku. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, juga menyatakan bahwa virus Hog Cholera tidak membahayakan manusia walaupun daging babi yang terjangkit virus itu dikonsumsi.
Akun David’z Mana’loe (fb.com/david.manalu.165) mengunggah beberapa gambar yang diberi narasi sebagai berikut :
“Hati2 yg suka makan jagal babi”
Akun tersebut juga mengunggah gambar tangkapan layar pesan WhatsApp yang menyebut ada ‘gejala penyakit babi’.
“Areal Medan dan sekitarnya Stop beli daging babi untuk dimasak dan dimakan. Atau untuk dijual. BERBAHAYA. Ada Wabah Virus mematikan manusia,” demikian cuplikan isi percakapan WA tersebut.
Akun David’z Mana’loe (fb.com/david.manalu.165) mengunggah beberapa gambar yang diberi narasi sebagai berikut :
“Hati2 yg suka makan jagal babi”
Akun tersebut juga mengunggah gambar tangkapan layar pesan WhatsApp yang menyebut ada ‘gejala penyakit babi’.
“Areal Medan dan sekitarnya Stop beli daging babi untuk dimasak dan dimakan. Atau untuk dijual. BERBAHAYA. Ada Wabah Virus mematikan manusia,” demikian cuplikan isi percakapan WA tersebut.
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Artikel ini akan memeriksa dua hal:
– Benarkah pasien yang fotonya muncul dalam unggahan di Facebook terkena virus babi?
– Benarkah virus babi menyerang manusia?
1. Tentang berita “Babi di Sumut Terjangkit Hog Kolera”
Tempo menemukan berita yang berjudul “Hampir 2 Ribu Babi di Sumut Terjangkit Hog Kolera” itu dipublikasikan oleh situs Medan Inside. Berita tersebut berisi tentang virus Hog Cholera atau kolera babi yang sedang mewabah di Sumatera Utara (Sumut). Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mencatat sebanyak 1.985 babi yang tersebar di tujuh kabupaten di Sumut terjangkit virus kolera babi.
Menjangkitnya virus Hog Cholera terhadap hampir 2 ribu babi di Sumut itu juga dipublikasikan oleh situs Kompas.com pada 24 Oktober 2019. Beritanya berjudul “Hampir 2000 Ekor Ternak Babi di Sumut Terjangkit Hog Cholera, Amankah?”.
Dengan demikian, gambar tangkapan layar berita yang tersebar di Facebook tersebut benar.
2. Foto pasien yang diklaim terkena virus babi
Tempo menggunakan reverse image tools pada Google dan Yandex untuk menelusuri apakah foto tersebut benar merupakan foto pasien yang terkena virus babi bernama Hog Cholera. Hasilnya, ditemukan foto yang sama di situs media Vietnam, Danviet.
Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa pasien itu mengalami perdarahan subkutan yang menjadi gejala penyakit streptokokus. Perdarahan ini bukan disebabkan oleh virus kolera babi. Kedua foto pasien yang diklaim terkena virus Hog Kolera itu pernah viral di Vietnam saat mewabahnya virus babi Afrika (African swine fever atau demam babi Afrika) di sana pada 7 Maret 2019.
Faktanya, menurut artikel tersebut, gambar-gambar yang beredar dari media sosial adalah pasien korban infeksi streptococcus karena memakan blood puding atau makanan yang dibuat dari darah hewan beku.
Menurut Departemen Pembangunan Industri Primer dan Regional Australia, virus babi Afrika (African swine fever) memang serupa dengan virus Hog Cholera (classical swine fever) meskipun jenis virusnya berbeda. Kedua virus ini hanya bisa menyerang babi, tidak bisa menyerang manusia.
World Organisation for Animal Health (OIE), dalam situsnya, juga menegaskan bahwa African swine fever tidak berisiko pada kesehatan manusia.
Apakah African swine fever sudah menyebar hingga Indonesia?
Sejauh ini belum ada informasi sahih soal itu. Dalam artikel berjudul Puluhan ekor babi mati di Kupang, tapi bukan karena virus ASF yang dimuat Antara pada Jumat 1 November 2019, disebutkan bahwa Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dani Suhadi, mengemukakan kasus kematian puluhan ekor babi milik warga di Kota Kupang tidak disebabkan serangan virus African swine fever (ASF) atau demam babi Afrika.
3. Foto babi yang mengalami pendarahan
Dengan reverse image tools Google, Tempo menelusuri foto yang memperlihatkan dua petugas sedang memeriksa seekor babi dengan pendarahan di kulitnya. Hasilnya, babi tersebut tidak terkena virus Hog Cholera atau virus babi Afrika.
Situs berita Vietnam, Docbao, pernah mempublikasikan artikel dengan foto tersebut pada 2 Oktober 2015. Secara garis besar, berita itu berisi tentang pemeriksaan tim inspeksi interdisipliner Thailand di restoran Hai Beo milik Pham Thanh Hai pada 29 September 2015. Tim itu memeriksa dua babi yang dijual di restoran tersebut karena mengalami pendarahan memar pada permukaan kulitnya. Menurut hasil pemeriksaan tim itu, babi tersebut terkena pasteurelosis, penyakit bakterial yang kerap menyerang hewan ternak.
Virus babi Afrika pertama kali terdeteksi di Cina pada 3 Agustus 2018. Sejak itu, Kementerian Pertanian dan Pedesaan Cina mencatat bahwa terdapat lebih dari 100 kasus pembantaian terhadap sekitar 916 ribu babi dengan cara dibakar massal. Meskipun wabah terburuk terjadi di Cina, penyakit ini telah menyebar ke Vietnam, Kamboja, Mongolia, dan Rusia. Cina sendiri adalah rumah bagi sekitar 440 juta babi (setengah dari populasi babi di dunia) dan sebanyak 1,2 juta babi telah dibunuh untuk menghentikan penyakit ini.
Menurut Direktur Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidi, masyarakat tidak perlu takut dengan keberadaan virus babi Afrika. Hingga saat ini, belum ada data yang menyebut bahwa virus tersebut dapat menyerang manusia. Dia pun mengatakan penanganan dan pencegahan penyakit yang berasal dari babi ini bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan dan sanitasi kandang, juga vaksinasi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, juga menyatakan bahwa virus Hog Cholera tidak membahayakan manusia walaupun daging babi yang terjangkit virus itu dikonsumsi. Azhar juga menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai pencegahan agar virus tersebut tidak menyebar lebih luas.
Artikel ini akan memeriksa dua hal:
– Benarkah pasien yang fotonya muncul dalam unggahan di Facebook terkena virus babi?
– Benarkah virus babi menyerang manusia?
1. Tentang berita “Babi di Sumut Terjangkit Hog Kolera”
Tempo menemukan berita yang berjudul “Hampir 2 Ribu Babi di Sumut Terjangkit Hog Kolera” itu dipublikasikan oleh situs Medan Inside. Berita tersebut berisi tentang virus Hog Cholera atau kolera babi yang sedang mewabah di Sumatera Utara (Sumut). Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mencatat sebanyak 1.985 babi yang tersebar di tujuh kabupaten di Sumut terjangkit virus kolera babi.
Menjangkitnya virus Hog Cholera terhadap hampir 2 ribu babi di Sumut itu juga dipublikasikan oleh situs Kompas.com pada 24 Oktober 2019. Beritanya berjudul “Hampir 2000 Ekor Ternak Babi di Sumut Terjangkit Hog Cholera, Amankah?”.
Dengan demikian, gambar tangkapan layar berita yang tersebar di Facebook tersebut benar.
2. Foto pasien yang diklaim terkena virus babi
Tempo menggunakan reverse image tools pada Google dan Yandex untuk menelusuri apakah foto tersebut benar merupakan foto pasien yang terkena virus babi bernama Hog Cholera. Hasilnya, ditemukan foto yang sama di situs media Vietnam, Danviet.
Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa pasien itu mengalami perdarahan subkutan yang menjadi gejala penyakit streptokokus. Perdarahan ini bukan disebabkan oleh virus kolera babi. Kedua foto pasien yang diklaim terkena virus Hog Kolera itu pernah viral di Vietnam saat mewabahnya virus babi Afrika (African swine fever atau demam babi Afrika) di sana pada 7 Maret 2019.
Faktanya, menurut artikel tersebut, gambar-gambar yang beredar dari media sosial adalah pasien korban infeksi streptococcus karena memakan blood puding atau makanan yang dibuat dari darah hewan beku.
Menurut Departemen Pembangunan Industri Primer dan Regional Australia, virus babi Afrika (African swine fever) memang serupa dengan virus Hog Cholera (classical swine fever) meskipun jenis virusnya berbeda. Kedua virus ini hanya bisa menyerang babi, tidak bisa menyerang manusia.
World Organisation for Animal Health (OIE), dalam situsnya, juga menegaskan bahwa African swine fever tidak berisiko pada kesehatan manusia.
Apakah African swine fever sudah menyebar hingga Indonesia?
Sejauh ini belum ada informasi sahih soal itu. Dalam artikel berjudul Puluhan ekor babi mati di Kupang, tapi bukan karena virus ASF yang dimuat Antara pada Jumat 1 November 2019, disebutkan bahwa Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dani Suhadi, mengemukakan kasus kematian puluhan ekor babi milik warga di Kota Kupang tidak disebabkan serangan virus African swine fever (ASF) atau demam babi Afrika.
3. Foto babi yang mengalami pendarahan
Dengan reverse image tools Google, Tempo menelusuri foto yang memperlihatkan dua petugas sedang memeriksa seekor babi dengan pendarahan di kulitnya. Hasilnya, babi tersebut tidak terkena virus Hog Cholera atau virus babi Afrika.
Situs berita Vietnam, Docbao, pernah mempublikasikan artikel dengan foto tersebut pada 2 Oktober 2015. Secara garis besar, berita itu berisi tentang pemeriksaan tim inspeksi interdisipliner Thailand di restoran Hai Beo milik Pham Thanh Hai pada 29 September 2015. Tim itu memeriksa dua babi yang dijual di restoran tersebut karena mengalami pendarahan memar pada permukaan kulitnya. Menurut hasil pemeriksaan tim itu, babi tersebut terkena pasteurelosis, penyakit bakterial yang kerap menyerang hewan ternak.
Virus babi Afrika pertama kali terdeteksi di Cina pada 3 Agustus 2018. Sejak itu, Kementerian Pertanian dan Pedesaan Cina mencatat bahwa terdapat lebih dari 100 kasus pembantaian terhadap sekitar 916 ribu babi dengan cara dibakar massal. Meskipun wabah terburuk terjadi di Cina, penyakit ini telah menyebar ke Vietnam, Kamboja, Mongolia, dan Rusia. Cina sendiri adalah rumah bagi sekitar 440 juta babi (setengah dari populasi babi di dunia) dan sebanyak 1,2 juta babi telah dibunuh untuk menghentikan penyakit ini.
Menurut Direktur Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidi, masyarakat tidak perlu takut dengan keberadaan virus babi Afrika. Hingga saat ini, belum ada data yang menyebut bahwa virus tersebut dapat menyerang manusia. Dia pun mengatakan penanganan dan pencegahan penyakit yang berasal dari babi ini bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan dan sanitasi kandang, juga vaksinasi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, juga menyatakan bahwa virus Hog Cholera tidak membahayakan manusia walaupun daging babi yang terjangkit virus itu dikonsumsi. Azhar juga menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai pencegahan agar virus tersebut tidak menyebar lebih luas.
Rujukan
Halaman: 7641/7976




