• (GFD-2020-8164) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto Titiek Soeharto Saat Demonstrasi Tolak RUU HIP di DPR?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/07/2020

    Berita


    Foto yang memperlihatkan Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto bersama belasan wanita sedang duduk di depan sebuah pagar beredar di media sosial. Foto itu diklaim sebagai foto Titiek saat aksi bela Pancasila dan beredar pasca digelarnya demonstrasi yang menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) di depan gedung DPR, Jakarta, pada 24 Juni 2020 lalu.
    Di Facebook, foto tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Facebook Calvyn Tarigan, yakni pada 28 Juni 2020. Akun ini menulis, “Saat donatur demo terekam kamera, akanya tujuan awal bela pancasila ujung ujungnya demo jatuhkan Jokowi sebagai Presiden,semua demi pesanan cendana."
    Dalam foto tersebut, Titek mengenakan topi dan baju berwarna senada, yakni krem, serta syal berwarna hijau toska. Ia sedang duduk bersama sejumlah perempuan dengan latar belakang pagar besi berwarna hitam. Dalam foto itu, wajah Titiek dilingkari merah.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Calvyn Tarigan.
    Apa benar foto tersebut adalah foto Titiek Soeharto saat demonstrasi yang menolak RUU HIP di DPR?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto di atas denganreverse image toolSource, Yandex, dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut telah beredar pada 2019, jauh sebelum digelarnya unjuk rasa yang menolak RUU HIP di depan gedung DPR pada 24 Juni 2020.
    Foto serupa dengan sudut pandang yang berbeda pernah dimuat oleh situs Genpi.co pada 27 Juni 2019. Foto itu terdapat dalam artikel yang berjudul “Titiek Soeharto Menjadi Incaran Foto Selfie Oleh Massa Yang Melakukan Aksi Kawal MK”.
    Foto tersebut diberi keterangan sebagai berikut: "Dengan menggunakan topi berwarna krem dan pakaian senada, Titiek Soeharto menjadi incaran massa yang sedang melakukan aksi kawal MK di sekitaran Patung Kuda. (Foto: Dika Raharjo)".
    Kehadiran Titiek dalam kerumunan massa aksi bela MK yang berlangsung pada 27 Juni 2019 tersebut juga pernah diberitakan oleh Tempo dengan judul “Saat Massa Aksi di MK Berebut Berfoto dengan Titiek Soeharto”.
    Berita ini menjelaskan bahwa Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Titiek Soeharto, ikut menghadiri aksi massa Halal Bihalal Persaudaraan Alumni (PA) 212 untuk mengawal sidang putusan MK. Kedatangannya menjadi pusat perhatian massa.
    Titiek turun di sekitar kerumunan massa yang berada di dekat Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis, 27 Juni 2019. Massa yang melihat sosok Titiek pun segera mendekat. Massa juga berebut untuk berswafoto bersama putri mantan presiden Soeharto itu. Ada yang berfoto berdua, ada juga yang berfoto beramai-ramai.
    Titiek mengenakan baju berwarna krem dan topi senada. Ia tampak sabar meladeni massa yang ingin berfoto dengannya. Massa menyiapkan kamera ponselnya masing-masing. Sesekali juga terlihat Titiek memegang ponsel milik massa untuk berswafoto. Setiap orang yang selesai berswafoto langsung menyalami dan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih mbak, Insya Allah menang," ujar salah satu massa.
    Video yang memperlihatkan momen saat Titiek mengikuti aksi Kawal MK juga pernah diunggah ke YouTube oleh kanal JPNN.COM, yakni pada 27 Juni 2019. Video itu diberi judul “Titiek Soeharto Menyapa Emak-Emak di Kerumunan Massa Aksi Kawal MK”.
    Dalam keterangan video itu, dijelaskan bahwa politikus Partai Berkarya Titiek Soeharto turut menghadiri aksi Kawal MK pada 27 Juni 2019. Putri Presiden Kedua RI itu hadir menggunakan topi dan baju berwarna cokelat dibalut dengan selendang berwarna hijau. Titiek yang hadir menjadi pusat perhatian massa yang tengah berjalan ataupun beristirahat di pinggir jalan.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas diabadikan saat Titiek Soeharto mengikuti demonstrasi yang menolak RUU HIP di DPR pada 24 Juni 2020 keliru. Foto tersebut merupakan foto Titiek yang mengikuti aksi Kawal MK pada 27 Juni 2019, jauh sebelum digelarnya unjuk rasa yang menolak RUU HIP pada 24 Juni lalu.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-8165) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto-foto Aksi Penolakan RUU HIP di Berbagai Penjuru Indonesia?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/07/2020

    Berita


    Akun Facebook Lutfi MDj mengunggah 12 foto dan video, beberapa di antaranya merupakan foto atau video yang sama, yang diklaim memperlihatkan aksi umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia yang menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila atau RUU HIP. Unggahan ini dibagikan di Facebook pada 28 Juni 2020.
    Foto dan video itu memang memperlihatkan momen ketika ribuan orang turun ke jalan. Sebagian besar massa berpakaian putih dan berpeci. Mereka juga membawa berbagai bendera organisasi. Akun Lutfi MDj pun memberikan narasi bahwa foto dan video tersebut merekam aksi yang menolak RUU HIP.
    Selain itu, akun ini mengklaim bahwa hanya tvOne yang menayangkan unjuk rasa tersebut. “Yang seperti ini tidak ada di tivi-tivi, tapi ada dimasing-masing HP rakyat dan umat Islam diberbagai daerah, hanya tvOne yang ikut meliputnya,” demikian narasi yang ditulis oleh akun Lutfi MDj.
    Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 1.300 kali, dikomentari lebih dari 500 kali, dan dibagikan lebih dari 3 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Lutfi MDj.
    Artikel ini akan berisi pemeriksaan fakta terhadap dua hal, yakni:

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim pertama, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto dan video di atas dengan reverse image tool Source, Google, dan Yandex. Hasilnya, terdapat dua foto yang tidak terkait dengan penolakan RUU HIP. Berikut ini fakta-fakta atas foto dan video tersebut:

    Fakta: Foto ini benar foto aksi yang menolak RUU HIP oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212 di depan gedung DPR, Jakarta. Dalam aksi ini, massa menuntut agar DPR mencabut RUU HIP dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Foto ini diambil dari video yang dipublikasikan oleh tvOne pada 24 Juni 2020.
    Sumber: Kanal YouTube tvOneNews

    Fakta: Foto ini tidak terkait dengan aksi penolakan RUU HIP. Foto tersebut merupakan foto aksi Bela Islam Jilid 3 pada 1 Desember 2016 yang meminta Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, segera ditangkap. Foto ini pernah diunggah oleh MNC TV di akun Twitter resminya, @Official_MNCTV.
    Sumber: Akun Twitter MNC TV

    Fakta: Foto ini bukan foto aksi penolakan RUU HIP, melainkan aksi ribuan umat Islam dari berbagai organisasi di depan gedung DPR pada 29 September 2017 untuk menuntut agar DPR membatalkan Perpu Ormas dan menolak kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Foto ini diambil oleh jurnalis VOA Indonesia, Fathiyah, dan dipublikasikan pada 30 September 2017.
    Sumber: VOA Indonesia

    Fakta: Foto dan video ini benar foto dan video terkait penolakan RUU HIP, tepatnya di Kalimantan Barat. Foto tersebut diambil oleh jurnalis Suara Kalbar dengan keterangan bahwa ribuan umat Islam berdemontrasi untuk menolak RUU HIP dengan konvoi bersama menuju Tugu Digulis dan kantor DPRD Kalimantan Barat pada 26 Juni 2020.
    Sumber: Suara Kalbar

    Fakta: Foto dan video ini benar foto dan video terkait penolakan RUU HIP, yakni di Purwakarta, Jawa Barat. Aksi tersebut digelar di depan kantor DPRD Purwakarta pada 26 Juni 2020. Tempo membandingkannya dengan video yang dimuat oleh Tribun Jabar, dan ditemukan kesamaan pada warna kepala truk dan orang-orang yang berorasi di atas truk.
    Sumber: Kanal YouTube TribunJabar Video

    Fakta: Video ini benar video aksi yang menolak RUU HIP yang berlangsung di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 27 Juni 2020.
    Sumber: Kanal YouTube Official iNews
    Pemberitaan unjuk rasa tolak RUU HIP
    Untuk memeriksa klaim "apakah benar hanya tvOne yang memberitakan aksi penolakan RUU HIP oleh sejumlah ormas Islam", Tempo memasukkan kata kunci “unjuk rasa tolak RUU HIP” di Google dan YouTube. Hasilnya, terdapat 4.780 artikel di situs berbahasa Indonesia yang terkait dengan unjuk rasa tolak RUU HIP dalam sepekan terakhir.
    Artikel berita tersebut ditulis oleh berbagai media online Indonesia, baik media nasional maupun lokal. Demikian halnya dengan berbagai televisi Indonesia yang juga memuat rekaman aksi penolakan RUU HIP di berbagai daerah. Hasil pencarian bisa disimak melalui gambar di bawah ini:
    Gambar tangkapan layar hasil pencarian Google mengenai pemberitaan aksi penolakan RUU HIP.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim dalam unggahan akun Facebook Lutfi MDj sebagian benar. Beberapa foto dan video yang diunggah oleh akun tersebut memang menunjukkan aksi penolakan RUU HIP di berbagai daerah. Namun, terdapat pula klaim yang salah atas dua foto yang sebenarnya memperlihatkan peristiwa pada 2016 dan 2017, yang tidak terkait dengan penolakan RUU HIP. Klaim yang salah berikutnya adalah bahwa hanya tvOne yang memberitakan unjuk rasa tolak RUU HIP tersebut. Faktanya, sebagian besar media, baik nasional dan lokal, menayangkan aksi penolakan RUU HIP.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-4231) [SALAH] Video “Benarkah COVID ada??”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 01/07/2020

    Berita

    “Benarkah COVID ada??”

    Di video yang berasal dari kanal Youtube FE 101 Channel yang berjudul “E21 Part 5: TATO SERTIFIKASI DAJJAL” tersebut, berisi kolase foto, cuplikan video, dan klaim bahwa pandemi Covid-19 adalah hasil konspirasi sejumlah tokoh, salah satunya pendiri Microsoft, Bill Gates. Narasi dalam video itu dibacakan oleh seorang pria.

    Klaim yang disampaikan dalam video itu antara lain soal tes swab polymerase chain reaction (PCR) Covid-19 yang sengaja dibuat tidak akurat, rencana sertifikasi digital pada mereka yang telah divaksin Covid-19, Covid adalah singkatan dari Certificate of Vaccination Id, dan konsep “new normal” yang bermuatan LGBT seperti judul serial televisi pada 2012.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim bahwa Covid-19 adalah singkatan dari Certificate of Vaccination ID dan konsep “new normal” bermuatan LGBT adalah klaim yang keliru.

    Nama Covid-19 merujuk pada singkatan dari “coronavirus disease 2019″ atau penyakit yang disebabkan oleh virus Corona pada 2019. Adapun serial televisi yang berjudul “The New Normal”, yang di dalamnya menyinggung LGBT, tidak berkaitan dengan pandemi Covid-19 karena ditayangkan pada 2012, jauh sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

    Berikut penjelasan selengkapnya yang dilansir dari cekfakta.tempo.co:

    Klaim 1: Tes swab PCR dibuat tidak akurat agar sampai kapan pun Covid-19 seolah-olah tidak pernah hilang. Sampel swab tidak dimurnikan dulu. Tidak jelas urutan genetik apa yang dibandingkan.

    Fakta:
    Hingga saat ini, reverse transcriptase PCR dianggap sebagai metode standar emas (gold standard) yang digunakan untuk mendeteksi Covid-19. Metode ini tidak hanya digunakan di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain di Asia, Eropa, dan Amerika. Dilansir dari jurnal PubMed Central, tes PCR merupakan tes berbasis deteksi asam nukleat yang memiliki sensitivitas yang memadai untuk membantu mendiagnosis infeksi dini.
    Meski memiliki akurasi yang lebih tinggi ketimbang tes antibodi (rapid test), tes PCR tetap memiliki potensi negatif palsu. Namun, potensi ini bukan diakibatkan oleh kesengajaan agar Covid-19 tetap selalu ada seperti klaim dalam video di atas. Negatif palsu bisa terjadi karena tiga hal. Pertama, jika infeksi yang terjadi pada seseorang yang dites masih terlalu dini atau malah terlambat sehingga tidak terdapat virus dalam jumlah yang cukup di sel mereka. Kedua, jika layanan kesehatan tidak mengumpulkan jumlah sampel yang cukup, misalnya swab kurang. Ketiga, jika jarak waktu antara pengambilan sampel dan tes terlalu lama, yang membuat RNA virus terurai.
    Dengan adanya risiko negatif palsu tersebut, dokter biasanya tidak hanya mengandalkan tes untuk menentukan apakah seseorang mengidap Covid-19. Jika seseorang menunjukkan gejala klasik Covid-19 dan berada di lokasi wabah, dokter kerap mendiagnosis seseorang terkena Covid-19 meskipun hasil tesnya negatif.

    Klaim 2: Bill Gates mengatakan mereka yang sudah divaksin Covid-19 harus ditato sertifikat digital. Sertifikat digital itu dibuat oleh Tattoo ID dan tertera dalam situs ID2020.org. Tato tersebut berkode 666 atau tato dajal. Vaksin dan sertifikat digital ini kemudian akan dihubungkan dengan chip implan transaksi online (microchip).

    Fakta:
    Rumor ini pernah beredar pada April 2020, dan Tim CekFakta Tempo telah menerbitkan artikel cek fakta yang membantah rumor tersebut. Dilansir dari Reuters, rumor mengenai rencana Bill Gates untuk memakai implan microchip dalam melawan pandemi Covid-19 memang bermula dari wawancara pendiri Microsoft tersebut dengan para pengguna Reddit. Setelah wawancara itu berakhir, muncul sebuah tulisan berjudul “Bill Gates will use microchip implants to fight coronavirus”.
    Ditulis layaknya sebuah berita, tulisan yang menyesatkan itu menyebut bahwa “quantum dot dye” atau “quantum dot tattoo”, teknologi yang ditemukan oleh Bill and Melinda Gates Foundation, bakal digunakan sebagai kapsul yang diimplan ke manusia yang memiliki “sertifikat digital”. Teknologi ini disebut dapat menunjukkan siapa saja yang sudah menjalani tes Covid-19.
    Kepada Reuters, salah satu penulis utama makalah penelitian mengenai quantum dot dye, Kevin McHugh, mengatakan, “Teknologi quantum dot dye bukan berbentuk microchip atau kapsul yang bisa diimplan ke manusia, dan setahu saya tidak ada rencana menggunakan teknologi ini untuk memerangi pandemi Covid-19.”
    Dalam wawancara di Reddit itu, Bill Gates memang sempat menyebut “sertifikat digital”. Namun, penyebutan “sertifikat digital” itu untuk menjawab pertanyaan mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap bisnis dan ekonomi dunia. Dalam wawancara itu, Bill Gates sama sekali tidak menyinggung masalah microchip.
    Organisasi cek fakta Amerika Serikat, FactCheck, juga telah memverifikasi klaim “Bill Gates berencana menggunakan vaksin Covid-19 untuk melacak orang-orang dengan microchip”. Menurut mereka, klaim itu keliru. Gates Foundation mengkonfirmasi bahwa penelitian mengenai quantom dot dye tidak terkait dengan vaksin Covid-19. Begitu pula dengan sertifikat digital.
    Bill Gates merupakan salah satu orang terkaya di dunia, yang menempatkan sebagian kekayaannya itu dalam berbagai organisasi dan inisiatif amal melalui Bill and Melinda Gates Foundation. Fokus utama yayasan ini, dan filantropi Bill Gates secara umum, adalah mengurangi ketidaksetaraan dalam bidang kesehatan, dengan fokus pada negara berkembang.
    Melalui organisasi-organisasi ini, Bill Gates juga mendanai penelitian terkait solusi teknologi untuk menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat di komunitas termiskin secara global. Sejak 2015, ia telah mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kurangnya kesiapsiagaan dunia dalam menghadapi bencana pandemi.
    Salah satunya karena pembelaannya terhadap vaksin, Bill Gates menjadi sasaran utama gerakan anti-vaksin selama lebih dari satu dekade terakhir. Permusuhan yang dibangun selama bertahun-tahun oleh klaim palsu dari kelompok-kelompok anti-vaksin itu, yang meningkat selama pandemi Covid-19, telah menciptakan teori konspirasi seputar Covid-19 yang semakin luas dan berpusat pada Bill Gates.

    Klaim 3: ID2020 adalah bagian dari konspirasi vaksin global.

    Fakta:
    Sebenarnya, ID2020 adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Amerika yang bertujuan untuk membantu miliaran orang yang tidak berdokumen, seperti pengungsi. Mereka yang tidak berdokumen ini adalah kelompok rentan yang tanpa perlindungan hukum, tidak dapat mengakses layanan dasar dan berpartisipasi sebagai warga negara atau pemilih, serta bertransaksi dalam ekonomi modern. Organisasi pemeriksa fakta Amerika, Snopes, menulis bahwa ID2020, atau Digital Identity Alliance, didanai oleh beragam yayasan dan perusahaan, termasuk Microsoft dan GAVI yang didanai oleh Bill Gates.
    ID2020 Alliance menyediakan dana dan bantuan lain untuk proyek identitas digital dalam rangka melindungi privasi. Setiap individu atau organisasi yang memenuhi kriteria dapat mengajukan proposal. Tujuannya adalah untuk mengembangkan sistem di mana individu memiliki kendali penuh atas identitas pribadi atau dokumentasi kesehatannya. Sementara produk akhirnya adalah sistem yang memungkinkan informasi semacam itu dapat diakses di mana saja tapi hanya dengan persetujuan pemilik.
    Salah satu proyek percontohan yang terkait dengan ID2020 adalah MyPass, upaya untuk memberikan identifikasi digital kepada populasi tuna wisma di Austin, Texas. Proyek tersebut berupaya membuat repositori identifikasi dan dokumen medis berbasis cloud. Versi awal, mereka menggunakan beberapa kombinasi kartu kode QR yang diberikan kepada individu yang berpartisipasi. Namun, kepesertaan dalam penelitian ini bersifat sukarela. Proyek berikutnya berada di Tanzania dan Bangladesh, yang melakukan pencatatan online pada bayi.
    Proyek-proyek tersebut tidak terkait dengan pandemi Covid-19 dan tidak menyuntikkan apapun ke dalam tubuh manusia, atau sesuatu yang memungkinkan segala jenis pelacakan aktif atau pengawasan. Namun, teori konspirasi telah mendorong fakta-fakta di atas ke dalam narasi yang tidak berdasar.

    Klaim 4: Covid adalah singkatan dari Certificate of Vaccination ID.

    Fakta:
    Pemberian nama Covid-19 merujuk pada singkatan dari “coronavirus disease 2019” atau penyakit yang disebabkan oleh virus Corona pada 2019. Nama Covid-19 tersebut diumumkan oleh Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada 11 Februari 2020. Sesuai pedoman internasional, nama tersebut tidak merujuk pada lokasi geografis, hewan, individu, ataupun kelompok tertentu.

    Klaim 5: Konsep “new normal” diambil dari serial televisi tentang LGBT.

    Fakta:
    Tidak ada kaitan antara “new normal” sebagai konsep kenormalan baru untuk beradaptasi dengan Covid-19 dan serial televisi berjudul “The New Normal” yang pernah ditayangkan oleh CNBC. Serial televisi tersebut dirilis pada 2012 dan berakhir pada 2013, jauh sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Cerita da

    Kesimpulan

    Nama Covid-19 merujuk pada singkatan dari “coronavirus disease 2019″ atau penyakit yang disebabkan oleh virus Corona pada 2019. Adapun serial televisi yang berjudul “The New Normal”, yang di dalamnya menyinggung LGBT, tidak berkaitan dengan pandemi Covid-19 karena ditayangkan pada 2012, jauh sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4237) [SALAH] Menanak Nasi Dengan Bawang Putih Bermanfaat Bagi Kesehatan

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 01/07/2020

    Berita

    “MASAK NASI DI TAMBAH BAWANG PUTIH

    Jadi inget waktu dulu…
    Di mana dulu setiap kali masak nasi selalu di ajarkan agar menambahkan bawang putih.
    Mengapa di tambah putih ?
    Karena jika ditambah bawang putih membuat nasi menjadi gurih, wangi dan ngga mudah basi, apa lagi jika di tambahin dgn minyak zaitun 1 sendok makan jika tdk ada bisa menggunakan 1/2 sendok makan minyak goreng. Maka beras menjadi pulen tidak lengket di panci. (Minyak untuk ukuran rice cooker kecil ya mom, silahkan di sesuai dgn kapasitas masaknya)
    Dan yang paling penting, taukah ummahat ?
    Ternyata setelah diteliti oleh para ahli gizi dan kesehatan, bahwa bawang putih jg mempunyai banyak kasiat loh, di antaranya:

    Menurunkan resiko kanker.
    Meningkat sistem imun tubuh.
    Dapat mengobati batuk dan flu.
    Menurunkan kadar kolestrol.
    Mencegah penyakit jantung.
    Anti bakteri dan Virus.
    Dan masih banyak lagi..
    Maka tunggu apa lagi, pasti ada kan stok bawang putih di rumah,
    Yuk… Kawan kita praktekkan, selain menjadi nasi enak, pulen, tdk cepat basi, badan jg sehat.”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar uggahan di media sosial facebook mengenai informasi manfaat menanak nasi dengan bawang putih. Dalam info tersebut disebutkan bahwa menenak nasi dengan bawang putih dapat menurunkan resiko kanker, meningkatkan imun tubuh, mengobati batuk dan flu, menurunkan kolestrol, mencegah penyakit jantung dan masih banyak lagi.

    Berdasarkan penelusuran, dilansir dari republika.co.id, Menurut Dr dr Inge Permadhi SpGK, kiat seperti tidak benar. Tidak ada argumentasi ilmiah yang mendukung klaim khasiat menggunakan bawang putih utuh sebagai campuran untuk menanak nasi.

    “Memasukkan bawang putih utuh saat menanak nasi dengan harapan suhu yang panas menyebabkan zatnya jadi keluar itu mitos,” jelas dokter spesialis gizi klinis ini.

    Sebaliknya, menurut Inge, suhu panas justru dapat merusak. Zat aktif yang terkandung di dalam bawang putih malah bisa menjadi hilang. Berdasarkan hasil penelitian, bawang putih merupakan salah satu bumbu dapur yang mengandung antioksidan dan dapat bermanfaat bagi tubuh. Salah satu cara yang sudah banyak diketahui untuk mengonsumsi bawang putih ialah dengan memanggangnya.

    “Bawang putih harus dipanggang terlebih dahulu karena kalau tidak pasti akan pedas sekali,” katanya.

    Terlepas dari itu, Inge mengatakan, perlu penelitian lebih lanjut mengenai takaran bawang putih yang perlu dikonsumsi dalam sehari agar bisa mendapatkan manfaat yang diinginkan bagi tubuh.

    “Perlu penelitian, apakah hanya enam saja atau malah harus satu kilogram, karena bawang putih kalau mau diambil zat aktifnya kan hanya sedikit dan zat aktif yang lainnya belum tentu yang kita cari,” katanya.

    Kesimpulan

    Menurut Dr dr Inge Permadhi SpGK, kiat seperti tidak benar. Tidak ada argumentasi ilmiah yang mendukung klaim khasiat menggunakan bawang putih utuh sebagai campuran untuk menanak nasi. Suhu panas justru dapat merusak. Zat aktif yang terkandung di dalam bawang putih malah bisa menjadi hilang.

    Rujukan