• (GFD-2020-4706) [SALAH] Vietcong Belajar Taktik Gerilya dari Indonesia

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 25/08/2020

    Berita

    Akun Twitter Fakta Google (@FaktaGoogle) mengunggah cuitan dengan narasi bahwa Vietcong memenangkan perang melawan Amerika berkat membaca buku 'Pokok-Pokok Perang Gerilya' karangan Jendral A.H. Nasution pada 20 Agustus 2020. Cuitan tersebut telah mendapat respon sebanyak 35 retweets, 190 likes, dan 40 komentar.

    Berikut kutipan narasinya:

    “Amerika kalah perang di Vietnam, 'berkat' Indonesia. Vietcong membaca buku 'Pokok-Pokok Perang Gerilya' karangan Jendral AH Nasution.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, narasi pada cuitan tersebut tidak tepat. Sarif Idris, seorang pemerhati sejarah militer, melalui akun Twitternya (@sarifidris) mengkonfirmasi bahwa Vietnam mengembangkan strategi perang gerilyanya sendiri berdasarkan pengalamannya dalam bertempur selama bertahun-tahun melawan Jepang dan Perancis. Selain itu, strategi gerilya Vietnam dan Indonesia berbeda dalam praktiknya.

    Dikutip dari portal berita militer Indonesia, Militermeter, Vietnam telah melancarkan perang gerilya jauh sebelum pemikiran Jendral A.H. Nasution diterbitkan dalam buku. Jurnal penelitian dengan judul “Ho Chi Minh and the origins of the Vietnamese doctrine of guerrilla tactics” yang dibuat oleh Edward C. O’Dowd mengungkapkan bahwa Ho Chi Minh, yang pernah bergabung di sebuah sekolah perang gerilya di Henyang, China pada 1938, menulis pamflet Cach Danh Du Kich (Taktik Gerilya) sekitar tahun 1941 yang berfungsi sebagai panduan bagi para pemimpin datasemen gerilya Komunis Vietnam (1941-1944) dan kader pertama Tentara Rakyat Vietnam. Sedangkan buku “Pokok-Pokok Gerilya” karya Jenderal A.H Nasution pertama kali diterbitkan tahun 1953.

    Vietnam Utara dengan tentara komunisnya mengadopsi perang gerilya model Mao yang berakar dari pemikiran Mao Zedong dengan tujuan akhir menghancurkan lawan. Model Mao yang digunakan oleh Vietnam Utara membagi peperangan menjadi tiga fase, dan ini dikenal juga dengan istilah Dau Tranh Strategy.

    Fase pertama adalah penyebaran propaganda, perekrutan, infiltrasi organisasi, dan pengadaan senjata. Fase kedua adalah perang gerilya yang melibatkan sabotase, penyergapan, dan tindakan militer lain terhadap militer lawan maupun institusi vital. Fase ketiga adalah perang konvensional untuk merebut kota, menggulingkan pemerintah dan mengontrol negara.

    Sebagai tambahan, dikutip dari BBC, teknik gerilya adalah seni menggunakan pengetahuan lanskap untuk menghindari pertempuran terbuka dengan musuh dan untuk melancarkan serangan mendadak, sebelum menghilang kembali ke semak-semak. Tentara Vietcong menggunakan Ho Chi Minh Trail, jalur logistik raksasa dari Vietnam Utara melalui Kamboja dan Laos hingga Vietnam Selatan yang diperuntukan bagi para pejuang di garis depan.

    Kesimpulan

    Dengan demikian, cuitan akun Twitter Fakta Google (@FaktaGoogle) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan. Hal ini dikarenakan informasi mengenai kemenangan tentara Vietnam dalam melawan Amerika berkat membaca buku 'Pokok-Pokok Perang Gerilya' karangan Jendral A.H. Nasution tidak tepat.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4707) [SALAH] Video Perbandingan Makanan Asli dan Palsu yang Dibuat di China

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 25/08/2020

    Berita

    Akun Twitter Uyghur News Network TV (@UNNTV1) mengunggah sebuah video dengan disertai narasi yang menggambarkan agar tidak memakan makanan yang dibuat di China pada 19 Agustus 2020. Unggahan tersebut telah mendapatkan respon sebanyak 991 retweets, 1.197 likes, dan 49 komentar.

    Berikut kutipan narasinya:

    “Hope you didn't eat any #MadeInChina food.
    #ChinaVirus #CCP #CCPVirus”
    “Semoga Anda tidak makan makanan #MadeInChina.
    #ChinaVirus #CCP #CCPVirus”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut merupakan potongan video yang berasal dari unggahan akun Facebook Blossom yang diunggah pada 1 Juni 2019 dengan judul "Is your food fake or real? Find out with these 16 easy tests at home!". Namun, unggahan asli dari akun Facebook Blossom itu telah dihapus karena beberapa dari klaim di video tersebut salah dan menyesatkan berdasarkan dari hasil pemeriksaan fakta. Video serupa diunggah kembali oleh akun YouTube Rytopia dengan judul “Fake Food vs Real Food Test. What is in it that we eat?” pada 3 Juni 2019.

    Dikutip dari laman Snopes, 16 tes yang diuraikan dalam video tersebut merupakan campuran dari kepalsuan, mitos perkotaan daur ulang, satu atau dua eksperimen yang memiliki butir kebenaran, dan beberapa tes yang membahas jenis pemalsuan yang tidak ada di Amerika Serikat dan banyak negara lain, tetapi telah dilaporkan di India dan beberapa negara berkembang. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengatakan konsumen harus yakin bahwa sebagian besar praktik yang diilustrasikan dalam video tersebut tidak legal di Amerika Serikat dan produk apa pun yang diatur FDA yang melanggar atau tampak melanggar Undang-Undang Makanan, Obat, dan Kosmetik Federal, dapat disita, penarikan wajib, atau tindakan penegakan hukum lainnya.

    Kesimpulan

    Dengan demikian, unggahan akun Twitter @UNNTV1 (Uyghur News Network TV) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Salah/False Context. Hal ini dikarenakan unggahan tersebut tidak menggambarkan makanan yang dibuat di China.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4708) [SALAH] “Penampakan baju putih tangan ke belakang setelah tragedi kebakaran”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 25/08/2020

    Berita

    Akun Cahaya Mulya (fb.com/100042322210356) mengunggah sebuah foto dengan narasi sebagai berikut:

    “Penampakan baju putih tangan ke belakang setelah tragedi kebakaran. Kenapa bukan pas kebakaran dia disitu ya”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya penampakan seseorang dengan yang mengenakan baju putih dengan tangan ke belakang di gedung Kejaksaan Agung yang terbakar adalah klaim yang salah.

    Faktanya, foto itu adalah foto editan atau suntingan. Di foto identik yang beredar, tidak ditemukan tidak ada penampakan orang dengan baju putih yang dimaksud. Foto asli pria berbaju putih itu adalah foto ketika Presiden Jokowi meninjau kebakaran di penanganan kebakaran lahan di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Pelalawan, Riau pada tahun 2019.

    Dikutip dari Medcom.id, berdasarkan foto identik yang dimuat di artikel berita di situs okezone.com dan jawapos.com, sama sekali tidak terlihat adanya penampakan seseorang dengan yang mengenakan baju putih dengan tangan ke belakang gedung Kejaksaan Agung yang terbakar.

    Sementara itu, foto Presiden Joko Widodo meninjau penanganan kebakaran lahan di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Pelalawan, Riau, Selasa (17/9/2019) salah satunya dimuat di situs kompas.com di artikel berjudul “Kunjungan Jokowi di Riau, Rapat hingga Tinjau Lokasi Kebakaran Hutan”

    Kesimpulan

    Foto editan / suntingan. Di foto identik yang beredar, tidak ditemukan tidak ada penampakan orang dengan baju putih yang dimaksud. Foto asli pria berbaju putih itu adalah foto ketika Presiden Jokowi meninjau kebakaran di penanganan kebakaran lahan di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Pelalawan, Riau pada tahun 2019.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4709) [SALAH] “Video Bayi Bermata Tiga”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 25/08/2020

    Berita

    Akun facebook يوسف زين العابدين mengunggah video (6/08/2020) yang memperlihatkan seorang anak bayi yang mempunyai tiga mata dengan narasi sebagai berikut:
    “سبحنان الله🌺طفل مولود بثلاث عيون”
    (Puji Bagi Allah 🌺 anak yang lahir dengan tiga mata)

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut hasil suntingan/editan. Tidak ada informasi valid mengenai bayi yang mempunyai mata ketiga di dahi seperti yang ada dalam video. Bila diamati dengan seksamavideo tersebut, maka akan terlihat mata ketiga yang berada di dahi pada bayi telah diedit. Terlihat mata ketiga yang berada di dahi pada bayi mirip dengan mata sebelah kiri. Mata kiri bayi dan mata ketiga di dahi bergerak serentak ke arah yang sama persis.

    Setelah ditelusuri lebih lanjut, terdapat sebuah laporan kasus 2018 yang diterbitkan di West Journal of Radiology berbicara tentang ‘duplikasi kraniofasial’ bayi yang lahir dengan kelainan genetik, yakni kasus seorang anak laki-laki berumur 1 tahun yang dirujuk ke rumah sakit dengan kelainan genetik di Nigeriayang mempunyai mata ekstra (mata ketiga) di sisi kiri kepala dan bentuk kepala yang tidak normal yang terlihat sejak lahir, namun foto yang dimuat di jurnal tersebut berbeda dengan bayi yang ada di video itu.

    Video yang sama juga ditemukan di channel Youtube 10NEWS INDIA yang membagikan video tersebut dengan deskripsi yang menyebutkan ‘Craniofacial duplication’, atau duplikasi wajah sebagai alasan dibalik mata ketiga bayi dalam video tersebut. Akan tetapi, keterangan deskripsi pada unggahan video itu, ditemukan pada sebuah laporan kasus 2018 yang diterbitkan di West Journal of Radiology berbicara tentang ‘duplikasi kraniofasial’ bayi yang lahir dengan kelainan genetik di Nigeria.

    “Craniofacial duplication known as diprosopus is a rare congenital disorder whereby parts or all of the face are duplicated on the head. This is a case of a 1-year-old boy referred to our hospital with an extra eye (third eye) on the left side of the head and an abnormally shaped head, which were noticed since birth, Jan 2, 2018”

    (diartikan: “Duplikasi kraniofasial yang dikenal sebagai diprosopus adalah kelainan bawaan langka di mana sebagian atau seluruh wajah diduplikasi di kepala. Ini adalah kasus seorang anak laki-laki berumur 1 tahun yang dirujuk ke rumah sakit kami dengan mata ekstra (mata ketiga) di sisi kiri kepala dan bentuk kepala yang tidak normal, yang terlihat sejak lahir. 2 Jan 2018”).

    Kesimpulan

    Klaim video yang salah. Video tersebut hasil suntingan/editan. Tidak ada informasi valid mengenai bayi bermata tiga seperti yang terdapat dalam video tersebut.

    Rujukan