Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden memastikan bahwa narasi tersebut tidak bersumber dari pernyataan Presiden Joko Widodo maupun sumber lainnya.
Beredar pesan di aplikasi whatsapp dan media sosial yang mengatasnamakan Presiden Joko Widodo.
Berikut kutipan pesan itu:
“Saya, Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, memberlakukan kerantina parsial terbatas terhadap aktifitas publik di beberapa wilayah di Indonesia, yaitu
1. DKI Jakarta
2. BEKASI
3. DEPOK
4. BOGOR
5. BANDUNG dan sekitarnya
6. SURABAYA dan sekitarnya
7. BANTEN
8. TANGERANG
9. SEMARANG
10. BALI”
(GFD-2020-3697) [SALAH] “Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, memberlakukan kerantina parsial terbatas”
Sumber: www.whatsapp.comTanggal publish: 18/03/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden, Bey Triadi Machmudin, menegaskan pesan tersebut hoaks. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden memastikan bahwa narasi tersebut tidak bersumber dari pernyataan Presiden Joko Widodo maupun sumber lainnya.
Presiden dalam keterangan persnya pada Senin, 16 Maret 2020, di Istana Kepresidenan Bogor, telah menyampaikan sejumlah arahan yang justru tidak sesuai dengan narasi yang beredar tersebut. Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Senin (16/3/2020), tidak pernah menggunakan kata ‘meliburkan’.
“Presiden juga tidak pernah menggunakan istilah meliburkan, tapi bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah,” kata Bey kepada kumparan, Selasa (17/32020).
Bey juga memastikan Jokowi tidak pernah mengeluarkan kebijakan karantina seperti yang disebutkan dalam pesan tersebut. Sebab dalam konferensi pers sebelumnya, Jokowi mengatakan masih belum berpikiran untuk mengambil kebijakan lockdown.
“Berita itu tidak benar. Presiden Joko Widodo dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Bogor pada Senin, 16 Maret 2020 justru menyampaikan bahwa dan sampai saat ini, tidak ada kita berpikiran ke arah kebijakan lockdown,” tegasnya.
Adapun langkah yang perlu dilakukan saat ini adalah pembatasan sosial (social distancing), yaitu dengan mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain, menjaga jarak, dan mengurangi kerumunan orang yang membawa risiko besar kepada penyebaran Covid-19.
“Kebijakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah perlu terus untuk kita gencarkan untuk mengurangi tingkat penyebaran Covid-19 dengan tetap mempertahankan pelayanan kepada masyarakat, baik itu urusan kebutuhan pokok, layanan kesehatan, dan layanan-layanan publik lainnya,” jelas Presiden.
Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden, Bey Triadi Machmudin, menegaskan pesan tersebut hoaks. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden memastikan bahwa narasi tersebut tidak bersumber dari pernyataan Presiden Joko Widodo maupun sumber lainnya.
Presiden dalam keterangan persnya pada Senin, 16 Maret 2020, di Istana Kepresidenan Bogor, telah menyampaikan sejumlah arahan yang justru tidak sesuai dengan narasi yang beredar tersebut. Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Senin (16/3/2020), tidak pernah menggunakan kata ‘meliburkan’.
“Presiden juga tidak pernah menggunakan istilah meliburkan, tapi bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah,” kata Bey kepada kumparan, Selasa (17/32020).
Bey juga memastikan Jokowi tidak pernah mengeluarkan kebijakan karantina seperti yang disebutkan dalam pesan tersebut. Sebab dalam konferensi pers sebelumnya, Jokowi mengatakan masih belum berpikiran untuk mengambil kebijakan lockdown.
“Berita itu tidak benar. Presiden Joko Widodo dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Bogor pada Senin, 16 Maret 2020 justru menyampaikan bahwa dan sampai saat ini, tidak ada kita berpikiran ke arah kebijakan lockdown,” tegasnya.
Adapun langkah yang perlu dilakukan saat ini adalah pembatasan sosial (social distancing), yaitu dengan mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain, menjaga jarak, dan mengurangi kerumunan orang yang membawa risiko besar kepada penyebaran Covid-19.
“Kebijakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah perlu terus untuk kita gencarkan untuk mengurangi tingkat penyebaran Covid-19 dengan tetap mempertahankan pelayanan kepada masyarakat, baik itu urusan kebutuhan pokok, layanan kesehatan, dan layanan-layanan publik lainnya,” jelas Presiden.
Rujukan
(GFD-2020-3698) [SALAH] Video “Gara2 corona ada orang jatuh dari motor cuma di liatin”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 18/03/2020
Berita
Bukan karena terjangkit virus Corona atau Covid-19. Pria dalam video itu terjatuh karena penyakit ayannya kambuh. Menurut saksi mata, Iron yang juga pemilik rumah makan Padang, pria itu mengaku memang memiliki riwayat epilepsi sejak lama.
Akun Fie Jie (fb.com/100000146618810) mengunggah sebuah video dengan narasi:
“Gara2 corona ada orang jatuh dari motor cuma di liatin… Kameramen pekok”
Video itu memperlihatkan seorang pria pengendara motor yang tiba-tiba jatuh terkapar tak sadarkan diri di depan sebuah rumah makan Padang. Dalam video juga terdengar suara seorang pria yang merekam kejadian itu mengimbau kepada warga untuk tak menyentuh pemotor tersebut.
“Takutnya dia kena corona lho, gak ada yang berani nyentuh, tolong, jangan disentuh, jangan disentuh, jangan disentuh ” kata pria yang merekam video tersebut.
Akun Fie Jie (fb.com/100000146618810) mengunggah sebuah video dengan narasi:
“Gara2 corona ada orang jatuh dari motor cuma di liatin… Kameramen pekok”
Video itu memperlihatkan seorang pria pengendara motor yang tiba-tiba jatuh terkapar tak sadarkan diri di depan sebuah rumah makan Padang. Dalam video juga terdengar suara seorang pria yang merekam kejadian itu mengimbau kepada warga untuk tak menyentuh pemotor tersebut.
“Takutnya dia kena corona lho, gak ada yang berani nyentuh, tolong, jangan disentuh, jangan disentuh, jangan disentuh ” kata pria yang merekam video tersebut.
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa pria yang terjatuh dari motornya itu karena virus corona covid-19 adalah klaim yang salah.
Pria dalam video itu terjatuh karena penyakit ayannya kambuh. Menurut saksi mata, Iron yang juga pemilik rumah makan Padang, pria itu mengaku memang memiliki riwayat epilepsi sejak lama.
Insiden tersebut terjadi di halaman parkir rumah makan Padang di Jalan Blambangan Kuta Bali, Minggu (15/3/2020) sekira pikul 15.00 WITA.
Iron, pemilik rumah makan Padang mengaku, kejadian tersebut sempat membuat warga setempat ketakutan sehingga tidak berani memberikan pertolongan.
“Setelah jatuh, dia kejang-kejang dan mulutnya berbusa sampai warga tidak berani menolong karena takut virus corona,” ucap Iron seperti dikutip dari Beritabali.com — jaringan Suara.com.
Melihat kondisi tersebut, seorang saksi lainnya sempat meminta bantuan kepada anggota Koramil yang berada di seberang warung.
Bahkan sampai mengundang anggota TNI untuk datang. Namun mereka tak berani menyentuh korban setelah melihat mulut korban berbusa. Begitu pula dengan aparat kepolisian yang turut mendatangi lokasi kejadian. Polisi merasa ketakutan hingga tidak berani menyentuh korban.
Kepanikan warga itupun terjawab selang 15 menit kemudian, setelah pemotor Honda Scoopy tersebut sadar. Laki-laki itu mengaku tiba-tiba pingsan dan jatuh dari sepeda motor karena epilepsinya kumat.
“Dia bilang, sebelum terjatuh sebenarnya hendak berhenti. Tapi epilepsinya sudah kumat. Saya saja kaget tiba-tiba dia tarik gas motornya hingga menabrak motor yang terparkir,” kata Iron.
Bahkan, menurut seorang saksi, korban yang diketahui hendak pergi ke Jimbaran itu langsung tancap gas dengan sepeda motornya setelah sadar.
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa pria yang terjatuh dari motornya itu karena virus corona covid-19 adalah klaim yang salah.
Pria dalam video itu terjatuh karena penyakit ayannya kambuh. Menurut saksi mata, Iron yang juga pemilik rumah makan Padang, pria itu mengaku memang memiliki riwayat epilepsi sejak lama.
Insiden tersebut terjadi di halaman parkir rumah makan Padang di Jalan Blambangan Kuta Bali, Minggu (15/3/2020) sekira pikul 15.00 WITA.
Iron, pemilik rumah makan Padang mengaku, kejadian tersebut sempat membuat warga setempat ketakutan sehingga tidak berani memberikan pertolongan.
“Setelah jatuh, dia kejang-kejang dan mulutnya berbusa sampai warga tidak berani menolong karena takut virus corona,” ucap Iron seperti dikutip dari Beritabali.com — jaringan Suara.com.
Melihat kondisi tersebut, seorang saksi lainnya sempat meminta bantuan kepada anggota Koramil yang berada di seberang warung.
Bahkan sampai mengundang anggota TNI untuk datang. Namun mereka tak berani menyentuh korban setelah melihat mulut korban berbusa. Begitu pula dengan aparat kepolisian yang turut mendatangi lokasi kejadian. Polisi merasa ketakutan hingga tidak berani menyentuh korban.
Kepanikan warga itupun terjawab selang 15 menit kemudian, setelah pemotor Honda Scoopy tersebut sadar. Laki-laki itu mengaku tiba-tiba pingsan dan jatuh dari sepeda motor karena epilepsinya kumat.
“Dia bilang, sebelum terjatuh sebenarnya hendak berhenti. Tapi epilepsinya sudah kumat. Saya saja kaget tiba-tiba dia tarik gas motornya hingga menabrak motor yang terparkir,” kata Iron.
Bahkan, menurut seorang saksi, korban yang diketahui hendak pergi ke Jimbaran itu langsung tancap gas dengan sepeda motornya setelah sadar.
Rujukan
(GFD-2020-3699) [SALAH] Dosen Kedokteran Gigi UI Meninggal Karena COVID-19
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 18/03/2020
Berita
Beredar pesan berantai yang menyebutkan ada seorang dosen Universitas Indonesia (UI) meninggal dunia karena virus Corona atau COVID-19. Pada narasi disebutkan pula dosen tersebut berasal dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UI. Berikut kutipan narasinya:
“Innalilahi wa'innalilaihi rojiun telah meninggal dunia Dosen UI ada berita yg menyedihkan, pagi tadi jam 10.00 Dosen kedokteran Gigi, dr Umi Susiana, meninggal (covid 19) pimpinan memutus semua dosen dan karyawan libur 3 Minggu, masuk tgl 6 April 2020. Sekarang kita semua disuruh cepet pulang karena kampus akan ditutup dan di semprot... Jadi kita semua sholat dhuhur dan sholat ghoib, karena jenazah tdk boleh di bezuk.. msh di RSI Cemputih...
Semoga Allah melindungi kita semua, aamiin yaa rabbal aalaamiin...”
“Innalilahi wa'innalilaihi rojiun telah meninggal dunia Dosen UI ada berita yg menyedihkan, pagi tadi jam 10.00 Dosen kedokteran Gigi, dr Umi Susiana, meninggal (covid 19) pimpinan memutus semua dosen dan karyawan libur 3 Minggu, masuk tgl 6 April 2020. Sekarang kita semua disuruh cepet pulang karena kampus akan ditutup dan di semprot... Jadi kita semua sholat dhuhur dan sholat ghoib, karena jenazah tdk boleh di bezuk.. msh di RSI Cemputih...
Semoga Allah melindungi kita semua, aamiin yaa rabbal aalaamiin...”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui hal itu tidak benar. Pihak FKG UI sudah memberikan klarifikasi terkait hal itu dan menyatakannya tidak ada dosennya yang meninggal lantaran COVID-19.
Ditelusuri lebih lanjut, didapatkan pemberitaan dari liputan6.com dan cnnindonesia.com, isu dosen kedokteran gigi yang diduga meninggal lantaran COVID-19 berasal dari Universitas Yarsi. Berikut kutipan pemberitaannya:
Dari liputan6.com:
[…] Dosen Universitas Yarsi Meninggal Dunia Setelah Tes Covid-19
Liputan6.com, Jakarta Seorang dosen di Universitas Yarsi, Jakarta dilaporkan meninggal dunia diduga terkait virus corona atau Covid-19. Dosen tersebut meninggal pada Senin (16/3/2020) siang setelah sempat dirawat beberapa hari di sebuah rumah sakit di Jakarta.
"Memang ada dosen dari Fakultas Kedokteran Gigi ya, meninggal tadi siang," kata Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal saat dikonfirmasi Liputan6.com, Senin (16/3/2020).
Fasil mengatakan, hingga pasien meninggal, pihak rumah sakit belum mendapatkan hasil pemeriksaan spesimennya apakah negatif atau positif Covid-19.
Fasli tidak bisa secara rinci mengungkapkan kondisi pasien sebelum meninggal. Yang pasti, sang dosen sempat melakukan tes untuk mengetahui apakah terinfeksi Covid-19 atau tidak.
"Tesnya baru keluar dua atau tiga hari ke depan," tuturnya.
Fasli mengungkapkan, almarhum meninggal dunia di usia berkisar 65 tahun. Ia merupakan dosen sekaligus dokter gigi senior di kampusnya. […]
Dari Cnn Indonesia:
[…] Dosen Universitas Yarsi Meninggal, RS Periksa soal Corona
Jakarta, CNN Indonesia -- Rektor Universitas Yarsi Jakarta Fasli Jalal menyatakan seorang dosen Fakultas Kedokteran Gigi dinyatakan meninggal dunia pada Senin (16/3).
Menurut pernyataan rumah sakit, saat ini tengah dilakukan pemeriksaan terkait virus corona (covid-19) terhadap dosen tersebut.
"Maka keluarganya [menyatakan] statusnya itu masih dalam pemeriksaan. Apa penyebab kematiannya itu [belum tahu]. Karena dia juga punya penyakit kronik sebelum itu. Tapi kata rumah sakit belum bisa sebut apa-apa karena hasil lab belum keluar. Baru akan tahu konfirmasi iya atau tidak itu dua tiga hari lagi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.
Fasli mengatakan dosen tersebut sudah berusia 67 tahun serta mempunyai riwayat penyakit kronis. Ia juga sudah dirawat di salah satu rumah sakit Islam selama beberapa hari belakangan.
Sepengetahuannya dosen tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Terkait isu corona, Fasli menyatakan hal tersebut baru bisa dikonfirmasi oleh pihak rumah sakit yang berwenang atas riwayat kesehatan pasien.
Universitas Yarsi Jakarta, menurutnya, sudah menerapkan kebijakan perkuliahan dari rumah secara daring. Masih ada beberapa prodi yang belum menerapkan perkuliahan dari rumah, namun diharuskan menaati protokol pencegahan virus corona.
Fasli juga sudah meminta semua civitas kampus maupun anggota keluarga agar mengisolasi diri selama setidaknya 14 hari di tempat tinggal masing-masing.
Saat ini, total pasien positif virus corona per Senin (16/3) bertambah menjadi 134 orang. Juru Bicara pemerintah penanganan virus corona, Achmad Yurianto mengatakan penambahan tersebut berasal dari 17 kasus baru yang ditemukan hari ini.
Dari 134 orang itu, lima orang di antaranya meninggal dunia dan delapan lainnya dinyatakan sembuh. […]
Ditelusuri lebih lanjut, didapatkan pemberitaan dari liputan6.com dan cnnindonesia.com, isu dosen kedokteran gigi yang diduga meninggal lantaran COVID-19 berasal dari Universitas Yarsi. Berikut kutipan pemberitaannya:
Dari liputan6.com:
[…] Dosen Universitas Yarsi Meninggal Dunia Setelah Tes Covid-19
Liputan6.com, Jakarta Seorang dosen di Universitas Yarsi, Jakarta dilaporkan meninggal dunia diduga terkait virus corona atau Covid-19. Dosen tersebut meninggal pada Senin (16/3/2020) siang setelah sempat dirawat beberapa hari di sebuah rumah sakit di Jakarta.
"Memang ada dosen dari Fakultas Kedokteran Gigi ya, meninggal tadi siang," kata Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal saat dikonfirmasi Liputan6.com, Senin (16/3/2020).
Fasil mengatakan, hingga pasien meninggal, pihak rumah sakit belum mendapatkan hasil pemeriksaan spesimennya apakah negatif atau positif Covid-19.
Fasli tidak bisa secara rinci mengungkapkan kondisi pasien sebelum meninggal. Yang pasti, sang dosen sempat melakukan tes untuk mengetahui apakah terinfeksi Covid-19 atau tidak.
"Tesnya baru keluar dua atau tiga hari ke depan," tuturnya.
Fasli mengungkapkan, almarhum meninggal dunia di usia berkisar 65 tahun. Ia merupakan dosen sekaligus dokter gigi senior di kampusnya. […]
Dari Cnn Indonesia:
[…] Dosen Universitas Yarsi Meninggal, RS Periksa soal Corona
Jakarta, CNN Indonesia -- Rektor Universitas Yarsi Jakarta Fasli Jalal menyatakan seorang dosen Fakultas Kedokteran Gigi dinyatakan meninggal dunia pada Senin (16/3).
Menurut pernyataan rumah sakit, saat ini tengah dilakukan pemeriksaan terkait virus corona (covid-19) terhadap dosen tersebut.
"Maka keluarganya [menyatakan] statusnya itu masih dalam pemeriksaan. Apa penyebab kematiannya itu [belum tahu]. Karena dia juga punya penyakit kronik sebelum itu. Tapi kata rumah sakit belum bisa sebut apa-apa karena hasil lab belum keluar. Baru akan tahu konfirmasi iya atau tidak itu dua tiga hari lagi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.
Fasli mengatakan dosen tersebut sudah berusia 67 tahun serta mempunyai riwayat penyakit kronis. Ia juga sudah dirawat di salah satu rumah sakit Islam selama beberapa hari belakangan.
Sepengetahuannya dosen tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Terkait isu corona, Fasli menyatakan hal tersebut baru bisa dikonfirmasi oleh pihak rumah sakit yang berwenang atas riwayat kesehatan pasien.
Universitas Yarsi Jakarta, menurutnya, sudah menerapkan kebijakan perkuliahan dari rumah secara daring. Masih ada beberapa prodi yang belum menerapkan perkuliahan dari rumah, namun diharuskan menaati protokol pencegahan virus corona.
Fasli juga sudah meminta semua civitas kampus maupun anggota keluarga agar mengisolasi diri selama setidaknya 14 hari di tempat tinggal masing-masing.
Saat ini, total pasien positif virus corona per Senin (16/3) bertambah menjadi 134 orang. Juru Bicara pemerintah penanganan virus corona, Achmad Yurianto mengatakan penambahan tersebut berasal dari 17 kasus baru yang ditemukan hari ini.
Dari 134 orang itu, lima orang di antaranya meninggal dunia dan delapan lainnya dinyatakan sembuh. […]
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, tidak ada dosen dari FKG UI yang meninggal karena COVID-19. Adapun, kabar mengenai adanya dosen kedokteran gigi yang meninggal diduga COVID-19 dikabarkan oleh beberapa media berasal dari Universitas Yarsi. Oleh karena itu, konten pesan berantai di Whatsapp itu masuk ke dalam kategori False Context/Konten yang Salah.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2020/03/18/salah-dosen-kedokteran-gigi-ui-meninggal-karena-covid-19/ Surat Edaran Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia Nomor: SE-0612/UN2.F2.D/HKP.04/2020
- https://www.liputan6.com/news/read/4203557/dosen-universitas-yarsi-meninggal-dunia-setelah-tes-covid-19
- https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200316202712-20-484015/dosen-universitas-yarsi-meninggal-rs-periksa-soal-corona
(GFD-2020-3665) [SALAH] Satu Pasien Pertama Suspect Corona Terdeteksi di Atambua
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 17/03/2020
Berita
Beredar informasi yang menyebutkan pasien pertama suspek virus Corona atau COVID-19 sudah terdeteksi di Atambua. Dalam narasi yang beredar disebutkan pasien tersebut akan dipindahkan ke ruang isolasi. Berikut kutipan narasinya:
“Info dari IGD RSU Mgr. Gabriel Manek Atambua, tadi sore satu pasien pertama suspect corona terdeteksi. Sementara mau dipindahkan ke ruang isolasi. Beliau adalah pegawai Imigrasi yg bertugas di Motaain. Semoga penanganannya memadai sehingga tdk menyebar. Untuk kita semua, mesti berhati2lah selalu, jaga kesehatan dsn ambil langkah2 taktis dlm berinteraksi demi menjaga penyebaran virus ini.”
“Info dari IGD RSU Mgr. Gabriel Manek Atambua, tadi sore satu pasien pertama suspect corona terdeteksi. Sementara mau dipindahkan ke ruang isolasi. Beliau adalah pegawai Imigrasi yg bertugas di Motaain. Semoga penanganannya memadai sehingga tdk menyebar. Untuk kita semua, mesti berhati2lah selalu, jaga kesehatan dsn ambil langkah2 taktis dlm berinteraksi demi menjaga penyebaran virus ini.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa informasi tersebut tidak benar. Informasi tersebut sudah mendapat klarifikasi dari pihak rumah sakit. Direktur RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua, dr. Batsheba Elena Corputty, menyatakan bahwa informasi yang tersebar tidak benar.
Ia menjelaskan, sekitar pukul 17.00 WITA ada seorang staf imigrasi PLBN Motaain yang berobat dengan keluhan batuk dan sedikit sesak napas.
Demi menjaga keamanan pasien yang lain dan tenaga medis, sesuai prosedur, pasien sarankan menunggu di depan IGD dengan menggunakan masker dikarenakan ruang IGD yang ada belum sesuai standar isolasi.
Namun, pada saat dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis (2 dokter umum, dan 1 dokter spesialis penyakit dalam) serta dilakukan pemeriksaan rontgen dada, maka kami dari pihak RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua menyatakan bahwa pasien tersebut tidak memiliki ciri-ciri suspect COVID-19 sehingga diperbolehkan pulang untuk istirahat di tempat tinggalnya, dengan tetap berkoordinasi dengan tim dari RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Belu
“Kondisi terakhir pasien tersebut stabil, dengan tanda-tanda vital baik, dan tidak ada tanda sesak napas. Suhu dengan termometer infrared tercatat 36.5 derajat celcius,” ungkapnya.
Menurut Dirut RSUD Atambua, Prosedur pemeriksaan diluar IGD Umum mungkin dianggap berlebihan, namun semata-mata untuk mengamankan secara umum pasien di IGD dan tenaga medis di IGD sehingga pelayanan di RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua tetap dapat berjalan dengan baik.
“Kami harap dengan klarifikasi ini pihak RSUD Atambua meminta agar masyarakat tidak panik dan tidak lagi meneruskan informasi yang tidak benar atau hoaks,” tegasnya.
Hal senada pun ditegaskan oleh pihak Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua, Halim. Ia menyatakan bahwa kabar yang tersebar tidak benar. “ Itu berita hoax. Benar pegawai saya yang betugas di Motaain, tapal batas antar Negara dengan Timor Leste masuk opname di rumah sakit Umum Sint Gabriel Atambua. Tetapi bukan karena suspect virus corona sebagaimana viral di dunia maya,melainkan karena sakit lambung,” katanya.
Karena viralnya didunia maya itu lanjut Halim, dini hari Senin 16 Maret 2020 bertempat di rumah sakit Sint Gabriel Atambua sudah melakukan klarifikasi bersama instenasi terkait.
“Saya bersama direktur Rumah Sakit Sint Gabrial Atambua, Wakil Bupati Belu, Ose Luan harus memberikan keterangan pers, dini hari terkait berita bohong ini,” ujar Halim.
Sementara Wakil Bupati Belu Ose Luan juga menegaskan hal yang sama. Bahwa pegawai Imigrasi Atambua yang bertugas di pos lintas batas dengan Negara Timor Leste, Motaain itu bukan terpapar virus Corona (Covid-19) .
Lebih lanjut Ose Luan menjelaskan selama ini Pemkab belu sudah dan selalu menghimbau masyarakat di Kabupaten Belu agar tidak menyebarkan berita yang tidak benar terkait corona ini.
“Sudah berulangkali kami sosialisasikan agar masyarakat tenang. Jaga dan mawas diri agar terhindar dari virus corona ini. Termasuk menghimbau agar tidak jangan menyebarkan berita bohong, hoaks,” jelas Ose Luan.
Ia menjelaskan, sekitar pukul 17.00 WITA ada seorang staf imigrasi PLBN Motaain yang berobat dengan keluhan batuk dan sedikit sesak napas.
Demi menjaga keamanan pasien yang lain dan tenaga medis, sesuai prosedur, pasien sarankan menunggu di depan IGD dengan menggunakan masker dikarenakan ruang IGD yang ada belum sesuai standar isolasi.
Namun, pada saat dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis (2 dokter umum, dan 1 dokter spesialis penyakit dalam) serta dilakukan pemeriksaan rontgen dada, maka kami dari pihak RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua menyatakan bahwa pasien tersebut tidak memiliki ciri-ciri suspect COVID-19 sehingga diperbolehkan pulang untuk istirahat di tempat tinggalnya, dengan tetap berkoordinasi dengan tim dari RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Belu
“Kondisi terakhir pasien tersebut stabil, dengan tanda-tanda vital baik, dan tidak ada tanda sesak napas. Suhu dengan termometer infrared tercatat 36.5 derajat celcius,” ungkapnya.
Menurut Dirut RSUD Atambua, Prosedur pemeriksaan diluar IGD Umum mungkin dianggap berlebihan, namun semata-mata untuk mengamankan secara umum pasien di IGD dan tenaga medis di IGD sehingga pelayanan di RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua tetap dapat berjalan dengan baik.
“Kami harap dengan klarifikasi ini pihak RSUD Atambua meminta agar masyarakat tidak panik dan tidak lagi meneruskan informasi yang tidak benar atau hoaks,” tegasnya.
Hal senada pun ditegaskan oleh pihak Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua, Halim. Ia menyatakan bahwa kabar yang tersebar tidak benar. “ Itu berita hoax. Benar pegawai saya yang betugas di Motaain, tapal batas antar Negara dengan Timor Leste masuk opname di rumah sakit Umum Sint Gabriel Atambua. Tetapi bukan karena suspect virus corona sebagaimana viral di dunia maya,melainkan karena sakit lambung,” katanya.
Karena viralnya didunia maya itu lanjut Halim, dini hari Senin 16 Maret 2020 bertempat di rumah sakit Sint Gabriel Atambua sudah melakukan klarifikasi bersama instenasi terkait.
“Saya bersama direktur Rumah Sakit Sint Gabrial Atambua, Wakil Bupati Belu, Ose Luan harus memberikan keterangan pers, dini hari terkait berita bohong ini,” ujar Halim.
Sementara Wakil Bupati Belu Ose Luan juga menegaskan hal yang sama. Bahwa pegawai Imigrasi Atambua yang bertugas di pos lintas batas dengan Negara Timor Leste, Motaain itu bukan terpapar virus Corona (Covid-19) .
Lebih lanjut Ose Luan menjelaskan selama ini Pemkab belu sudah dan selalu menghimbau masyarakat di Kabupaten Belu agar tidak menyebarkan berita yang tidak benar terkait corona ini.
“Sudah berulangkali kami sosialisasikan agar masyarakat tenang. Jaga dan mawas diri agar terhindar dari virus corona ini. Termasuk menghimbau agar tidak jangan menyebarkan berita bohong, hoaks,” jelas Ose Luan.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat dikatakan konten informasi yang beredar mengenai satu pasien suspek COVID-19 terdeteksi di Atambua tidak benar. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah.
Rujukan
Halaman: 7378/7813





