• (GFD-2020-4581) [SALAH] Foto “cekungan pada bekas lokasi ledakan di Beirut kemarin maka fix ini adalah C4”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 08/08/2020

    Berita

    Akun Budi Saks (fb.com/budi.saksono.71) mengunggah sebuah foto dengan narasi sebagai berikut:

    “Dari berbagai macam banyaknya foto foto kejadian ledakan di Beirut kemarin akhirnya aku dapatkan juga satu foto yang menurut ilmu investigasi ku paling penting (dalam hal investigasi ledakan).

    Seperti kutulis pada analisa awal minimal itu beberapa ton TNT atau C4 lalu setelahnya keluar pernyataan dari petinggi Lebanon disana ada gudang 2700 ton amonium nitrate (masuk akal karena dekat pelabuhan) ditambah adanya gudang senjata sitaan sisa perang saudara era 70-80an. Apalagi setelah mengamati beberapa kali video ada dua kali ledakan yang diawali kebakaran maka dugaan awalnya ini adalah kecelakaan industri.

    Tapi dengan adanya foto ini dimana terdapat cekungan pada bekas lokasi maka fix ini adalah C4. Karena ledakan amonium nitrate dan TNT sebanyak apapun tidak akan meninggalkan bekas lubang kedalam tanah.

    Tapi kesimpulan ini juga tidak menggugurkan teori kecelakaan industri.

    Bisa jadi kecelakaan industri sengaja dilakukan dengan teknik sabotase untuk menyamarkan trigger ledakan kedua yang dari C4 itu terlepas dikirimnya dengan rudal jelajah atau pesawat tempur atau drone.

    Ingat kejadian WTC 911 dulu polanya hampir sama dengan pesawat militer tanpa awak penuh peledak (yang disamarkan sebagai pesawat komersil) sebagai trigger jaringan peledak yang sudah dirangkai pada tiap lantai menara kembar tersebut.

    Jadi memang benar ini adalah kecelakaan industri (amonium nitrate) yang dirancang mengkamuflase trigger ledakan berikutnya yang mengandung C4.

    Cuma penulis skenario terlatih yang bisa membongkar skenario terlatih.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, foto yang disertai klaim bahwa ledakan di beirut, Lebanon pada 4 Agustus 2020 meninggalkan cekungan besar karena yang meledak adalah C4 merupakan klaim yang salah.

    Foto yang digunakan sumber klaim bukan foto sisa ledakan di Beirut. Foto itu adalah foto sisa ledakan di kawasan industri Tianjin, Tiongkok terjadi pada 12 Agustus 2015.

    Foto yang sama, diunggah oleh situs South China Morning Post di artikel berjudul “‘700 tonnes’ of sodium cyanide reportedly in warehouse during deadly Tianjin blasts” pada 16 Agustus 2015.

    Dilansir dari Tirto, pada 2015, ledakan yang disebabkan oleh amonium nitrat mengguncang pelabuhan Beijing, Tianjin, dan menewaskan 173 orang.

    Ledakan terjadi di sebuah gudang di pelabuhan yang menyimpan bahan kimia berbahaya dan mudah terbakar, termasuk kalsium karbida, natrium sianida, kalium nitrat, amonium nitrat, dan natrium nitrat. Para pejabat bersikeras belum jelas apa yang memicu ledakan itu dan mengatakan mereka masih menyelidiki.

    Media Cina mengatakan, setidaknya satu anggota staf dari Tianjin Dongjiang Port Ruihai International Logistics, yang bertanggung jawab di gudang, telah ditangkap. Sebelum ledakan, beberapa petugas pemadam kebakaran sudah berada di lokasi berusaha mengendalikan api.

    Namun, beberapa ahli meyakini, air yang disemprotkan ke bahan kimia justru memicu ledakan lain. Kalsium karbida, yang diketahui ada di lokasi, bereaksi dengan air untuk menghasilkan asetilena yang sangat mudah meledak. Pakar kimia menyatakan, ledakan asetilena bisa meledakkan bahan kimia lain untuk ledakan yang jauh lebih besar.

    Selain itu, Pemerintah Lebanon meyakini penyebab ledakan di Beirut adalah gudang di pelabuhan yang terbakar. Gudang itu menyimpan sekitar 2.750 ton amonium nitrat yang tersimpan di gudang lokasi ledakan besar Beirut.

    Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Libanon, saat diwawancarai BBC, menyatakan sumber ledakan kemungkinan gudang yang beroperasi di pelabuhan sejak 2014. “Ada laporan kalau pemicunya adalah bahan peledak yang pernah disita aparat hukum beberapa waktu lalu,” kata Mayjen Abbas Ibrahim.

    Amonium nitrat adalah suatu senyawa kimia. Penggunaan amonium nitrat adalah sebagai komponen campuran peledak yang digunakan dalam konstruksi pertambangan, penggalian, dan konstruksi sipil.

    Kesimpulan

    BUKAN foto ledakan di Beirut. Foto itu adalah foto sisa ledakan di kawasan industri Tianjin, Tiongkok terjadi pada 12 Agustus 2015. Selain itu, Pemerintah Lebanon meyakini penyebab ledakan di Beirut adalah gudang di pelabuhan yang terbakar. Gudang itu menyimpan sekitar 2.750 ton amonium nitrat yang tersimpan di gudang lokasi ledakan besar Beirut.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4582) [SALAH] Foto Satelit Pangkalan Militer China di Natuna

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 08/08/2020

    Berita

    Akun facebook bernama Bang Bima Bim mengunggah status pada tanggal 05/8/2020 berupa sebuah berita dari laman MILITERMETER[dot]com yang berjudul “Google Earth Rilis Gambar Pangkalan Militer China di Laut Natuna.” Dalam narasinya pemilik status menyebut pembangunan pangkalan militer di laut Natuna adalah alasan China mendukung Jokowi.

    Berikut kutipan narasinya:

    “*_”Akhirnya KETAHUAN Kenapa CHINA Dukung Penuh Jokowi !”_*
    *_Google Earth RILIS Gambar Proyek Pembangunan Pangkalan Militer China Dilaut Natuna, Tidak Jauh Dari Pulau Batam-Riau dan Tidak Jauh Dari Pontianak !_*
    *_TERNYATA ADA HAL BESAR YANG DITUTUP-TUTUPI DARI RAKYAT !_*
    *_POTENSI TERBESAR DALAM MEMAKSAKAN KEHENDAK UNTUK TETAP BERKUASA, TERKESAN ADA YANG INGIN Di SELESAIKAN !_*
    https://t.co/jlFRUcn3WB
    *_TOLONG DIVIRALKAN AGAR SEMUA BANGSA INDONESIA TAHU DAN SADAR BAHWA NKRI DIUJUNG TANDUK ... KALAU PANGKALAN MILITER CHINA SUDAH SELESAI ... DAN PELABUHAN JUGA BANDARA DIKUASAI ... LALU BANGSA INDONESIA BISA LARI KEMANA ... MUNGKIN AKAN DIBERANGUS ... !!!_*
    Lihat Tweet @Unkwon_mouse: https://twitter.com/Unkwon_mouse/status/1125401766973984768…"

    Hasil Cek Fakta

    Dari hasil penelusuran foto pangkalan militer China di pulau Natuna sempat beredar pada bulan Januari lalu. Foto pangkalan militer Tiongkok itu terletak di Kepulauan Spratly yang berjarak sekitar 1.120 kilometer dari Natuna berdasarkan hitungan Google Map dan bukan di Natuna, Kepulauan Riau. Dilansir dari artikel berjudul “[SALAH] Foto “Ternyata China Telah Membangun Persenjataan Militer Di Natuna, Dengan Senjata Mengerikan..”” yang tayang pada laman turnbackhoax.id pada tanggal 09/1/2020, Foto itu direkam pada 2017 melalui citra satelit dan dirilis oleh Asia Martitim Transparency Initiative (AMTI). Lembaga kajian pakar ini bagian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington DC, AS. Pulau Spratly sendiri memang wilayah sengketa, tapi tidak ada sangkut pautnya dengan wilayah Indonesia.

    Dilansir dari cekfakta.tempo.co, menurut AMTI selain di Kepulauan Spratly, Cina memiliki pangkalan lain di Pulau Woody dan Kepulauan Paracel. Keduanya berada di utara Kepulauan Spratly. "Ini akan memungkinkan pesawat tempur militer Cina beroperasi ke hampir seluruh Laut Cina Selatan," kata AMTI.

    Selain itu dari penelusuran tirto.id, Sejak kepemimpinan Xi Jinping, Beijing telah mereklamasi sekitar 1.290 hektar tanah di tujuh terumbu atau batuan di Kepulauan Spratly. Di atasnya dibangun pelabuhan, mercusuar dan landasan pacu, baterai rudal, dan peralatan militer lainnya. Tiga pangkalan militer Cina didirikan di kepulauan Spratly, yakni pangkalan udara militer Yongshu di Terumbu Fiery Cross, pangkalan udara militer Zhubi di terumbu Subi, dan pangkalan udara militer Meiji di terumbu Mischief.

    Merujuk pada Google Map, jarak Kepulauan Spratly ke Natuna, Kepulauan Riau adalah 1.120 kilometer. Atau hampir setara dengan jarak Jakarta-Bali (1.155 kilometer) via Jalan Raya Pantura.

    Kesimpulan

    Bukan di pulau Natuna, Kepulauan Riau. Foto satelit pangkalan militer China tersebut berada di kepulauan Spratly, tepatnya di pulau karang Subi dan Fiery Cross, serta di Pulau Woody yaitu pulau di luar wilayah Indonesia.

    Rujukan

  • (GFD-2020-4583) [SALAH] Video “BERITA TERBARU HARI INI ~ SRI MULYANI SUDAH TIDAK SANGGUP LANJUT, SERAHKAN TUGASNYA KE RIZAL RAMLI”

    Sumber: youtube.com
    Tanggal publish: 08/08/2020

    Berita

    Kanal Youtube Radar Politik mengunggah video dengan judul “BERITA TERBARU HARI INI ~ SRI MULYANI SUDAH TIDAK SANGGUP LANJUT, SERAHKAN TUGASNYA KE RIZAL RAMLI” dengan durasi 10:03 dan telah ditonton sebanyak 59.893 kali.

    Berikut kutipan narasinya:

    “BERITA TERBARU HARI INI ~ SRI MULYANI SUDAH TIDAK SANGGUP LANJUT, SERAHKAN TUGASNYA KE RIZAL RAMLI

    Terima kasih sudah mensupport channel kami, semoga tayangan yang kami sajikan bisa bermanfaat untuk pemirsa dimanapun berada.
    dukungan pemirsa dengan memberikan Subscribe, like, Comment dan Share, kami mengucapkan banyak terima kasih.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, narasi yang dibacakan dalam video tersebut berasal dari sejumlah artikel dari sejumlah laman daring. Bagian pertama, diketahui berasal dari artikel pada laman law-justice.co berjudul “ProDEM: Minggirlah Kalau Sudah Tidak Mampu, Rizal Ramli Punya Solusi!” yang tayang pada 6 Agustus 2020. Dalam artikel tersebut membahas mengenai pernyataan dari Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM), Iwan Sumule, dan tidak ditemukan pernyataan Menkeu Sri Mulyani menyerahkan tugasnya kepada Rizal Ramli.

    Lalu, bagian kedua, diketahui berasal dari artikel berjudul “Jokowi Minta Ekonomi Melampaui Dunia, Rocky Gerung: Joko Tingkir Keselek Klepon Alias Oon” yang tayang di gelora.co pada 6 Agustus 2020. Artikel tersebut merupakan lansiran dari artikel berjudul sama pada laman suaranasional.com yang tayang pada 6 Agustus 2020. Artikel tersebut berisikan pernyataan Rocky Gerung dan tidak ditemukan pernyataan Sri Mulyani menyerahkan tugasnya kepada Rizal Ramli.

    Narasi yang dibacakan pada bagian ketiga video tersebut diketahui berasal dari artikel berjudul “Bu Sri Mulyani, Mohon Yang Adil!” yang tayang di rmol.id pada 6 Agustus 2020. Artikel itu berisikan pernyataan dari Musni Umar yang merupakan Sosiolog sekaligus Rektor Universitas Ibnu Chaldun. Pada artikel itu juga tidak ditemukan pernyataan mengenai Sri Mulyani menyerahkan tugasnya kepada Rizal Ramli.

    Dan, narasi pada bagian keempat video berasal dari artikel rmol.id dengan judul “Pakar Ekonomi: Marah Terus, Siapa Yang Jadi Kompor Presiden Jokowi?” yang tayang pada 6 Agustus 2020. Artikel itu membahas mengenai pernyataan Dradjad H. Wibowo, Pakar Ekonomi, dan tidak ditemukan perihal penyerahan tugas dari Sri Mulyani kepada Rizal Ramli.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam video di kanal Radar Politik tersebut tidak ditemukan pernyataan dari Sri Mulyani menyerahkan tugasnya kepada Rizal Ramli. Oleh sebab itu, konten video tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8219) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ratusan Mobil di Foto Ini Hangus Karena Ledakan di Beirut?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 07/08/2020

    Berita


    Foto yang memperlihatkan ratusan mobil yang hangus terbakar beredar di media sosial. Dalam foto itu, terlihat pula kepulan asap tebal di belakang bangunan yang porak-poranda. Menurut klaim yang menyertainya, mobil dalam foto itu terbakar akibat ledakan di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020.
    Di Facebook, foto tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Fadlan Akbar, yakni pada 6 Agustus 2020. Akun Fadlan Akbar pun memberikan narasi sebagai berikut:
    "Hakikat Harta Dunia yg diperebutkan.
    Ribuan mobil impor baru masih terparkir rapi di Pelabuhan Beirut, belum dikendarai,hanya dalam waktu singkat, kini laksana barang rongsokan yg tidak bisa dimanfaatkan lagi, diberikan gratis pun seseoran masih berfikir keras untuk menerimanya.
    Begitulah hakikat kenikmatan Dunia, sementara dan cepat sirna."
    Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Fadlan Akbar tersebut telaah dibagikan lebih dari 200 kali dan direspons lebih dari 200 kali pula.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Fadlan Akbar.
    Benarkah ratusan mobil dalam foto di atas hangus karena ledakan di Beirut, Lebanon?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, hangusnya ratusan mobil dalam foto tersebut bukan diakibatkan oleh ledakan di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020. Mobil-mobil itu hangus karena ledakan yang terjadi di Pelabuhan Tianjin, Cina, pada 13 Agustus 2015.
    Fakta tersebut didapatkan setelah Tempo menelusuri foto itu dengan reverse image tool Source. Berdasarkan penelusuran tersebut, ditemukan bahwa foto itu banyak dipakai oleh sejumlah media saat terjadi ledakan besar di Pelabuhan Tianjin, Cina, pada 2015.
    Foto itu pernah dimuat oleh BBC dalam artikelnya pada 13 Agustus 2015 yang berjudul "Tianjin blast: Images reveal extent of devastation". BBC menyebutkan bahwa foto itu bersumber dari Associated Press (AP).
    South China Morning Post ( SCMP ) juga pernah menggunakan foto tersebut dalam artikelnya yang berjudul "Punishment looms for Tianjin explosion executives" pada 11 Februari 2016. Sama halnya dengan BBC, SCMP menulis bahwa foto itu bersumber dari AP dengan keterangan: "Asap mengepul dari lokasi ledakan pada Agustus tahun lalu yang membuat tempat parkir di Tianjin yang penuh dengan mobil baru menjadi hangus."
    Berdasarkan dua petunjuk itu, Tempo pun mencari foto tersebut di situs AP Image. Hasilnya, memang benar foto itu diambil oleh fotografer AP Photo yang bernama Ng Han Guan pada 13 Agustus 2015.
    AP memberikan keterangan pada foto tersebut sebagai berikut:
    "Asap mengepul dari lokasi ledakan sebuah gudang di Kota Tianjin, timur laut Cina, Kamis, 13 Agustus 2015. Ledakan itu membuat tempat parkir yang dipenuhi dengan mobil baru tersebut menjadi hangus. Ledakan besar di bagian gudang memunculkan bola api besar yang mengubah langit malam menjadi seperti siang hari, kata pejabat dan saksi mata. (Foto AP/Ng Han Guan)"

    Menurut laporan SCMP, insiden itu berasal dari gudang kimia yang dioperasikan oleh Tianjin Ruihai International Logistics dengan pengawasan yang lemah oleh regulator. Tianjin Port Development dan perusahaan induknya, Tianjin Development, menyebut bahwa Ruihai menangani bahan kimia berbahaya tanpa izin dan menggunakan koneksi mereka untuk mendapatkan izin keselamatan kebakaran.
    Ledakan itu menyebabkan 165 orang tewas dan melukai lebih dari 800 orang. Ledakan tersebut juga meratakan ratusan bangunan serta menghancurkan ribuan kendaraan dan kontainer dengan total kerugian sebesar 8,13 miliar dolar Hongkong.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa ratusan mobil dalam foto di atas hangus karena ledakan di Beirut, Lebanon, keliru. Foto itu merupakan foto peristiwa di Cina pada 13 Agustus 2015, saat terjadi ledakan besar di gudang bahan kimia di Pelabuhan Tianjin, Cina, yang meratakan ratusan bangunan serta menghancurkan ribuan kendaraan dan kontainer.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan