• (GFD-2020-8436) Keliru, WHO Bandingkan Efektivitas 10 Vaksin Covid-19 dan Sebut Sinovac yang Terendah

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 31/12/2020

    Berita


    Akun Instagram @wawsehat membagikan informasi yang berisi klaim bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut vaksin Sinovac sebagai vaksin Covid-19 yang paling lemah. Kesimpulan itu diambil setelah WHO disebut melakukan perbandingan efektivitas 10 vaksin Covid-19 yang siap diedarkan.
    Klaim itu diunggah oleh akun @wawsehat pada 24 Desember 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah disukai lebih dari 1,5 ribu kali. Akun ini pun menulis bahwa informasi tersebut berasal dari situs media Aljazeera. Namun, akun ini tidak menyertakan tautan berita Aljazeera itu.
    Sinovac buatan China menjadi vaksin yang memiliki pengaruh paling rendah atau efektivitasnya paling rendah dibandingkan dengan 9 vaksin lainnya. Sementara itu, vaksin moderna dan vaksin Pfizer menjadi vaksin yang disebut-sebut lebih efektif dibandingkan vaksin lainnya. Karena itu, sejumlah negara di dunia rata-rata memesan vaksin Moderna dan vaksin Pfizer,” demikian sebagian narasi yang ditulis oleh akun tersebut.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Instagram @wawsehat yang memuat klaim keliru terkait WHO dan vaksin Covid-19.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, tidak ditemukan penjelasan di situs resmi WHO maupun pemberitaan di Aljazeera bahwa organisasi kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyebut vaksin Sinovac sebagai vaksin Covid-19 yang paling lemah.
    Lewat pencarian di situs resmi WHO dengan kata kunci “Covid-19 vaccine”, Tempo menemukan 39 artikel terkait dengan vaksin Covid-19. Namun, dari semua artikel tersebut, tidak satu pun berisi informasi bahwa WHO menyebut vaksin Sinovac paling lemah dibanding sembilan kandidat vaksin Covid-19 lainnya.
    Dalam artikel berjudul "COVAX Announces additional deals to access promising COVID-19 vaccine candidates; plans global rollout starting Q1 2021" yang terbit pada 21 Desember 2020, WHO hanya menjelaskan tentang 10 kandidat vaksin yang melibatkan investasi Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Dari 10 kandidat vaksin itu, sembilan di antaranya masih dalam pengembangan, di mana tujuh di antaranya dalam tahap uji klinis.
    Sepuluh kandidat vaksin tersebut adalah AstraZeneca/University of Oxford (Tahap 3); Clover Biopharmaceuticals, Cina (Tahap 1); CureVac, Jerman (Tahap 2B/3); Inovio, Amerika Serikat (Tahap 2); Institut Pasteur/Merck/Themis, Prancis/AS/Austria (Tahap 1); Moderna, AS (Tahap 3); Novavax, AS (Tahap 3); SK bioscience, Korea Selatan (Praklinis); University of Hong Kong, Hong Kong (Praklinis); University of Queensland/CSL, Australia (Tahap 1, program dihentikan).
    CEPI sendiri merupakan kemitraan inovatif antara publik, swasta, filantropi, dan organisasi sipil, yang diluncurkan di Davos, Swiss, pada 2017 untuk mengembangkan vaksin guna menghentikan epidemi di masa depan. CEPI telah bergerak dengan sangat mendesak dan berkoordinasi dengan WHO dalam menanggapi munculnya Covid-19.
    Adapun lewat penelusuran di Google dengan memasukkan kata kunci yang sama, “Covid-19 vaccine”, juga tidak menemukan berita bahwa WHO menyebut vaksin Sinovac paling lemah. Dalam sebuah berita di Aljazeera pada 18 November 2020 yang berjudul "Where are we in the Covid-19 vaccine race?", pejabat WHO Swaminathan menyatakan belum bisa mengambil kesimpulan tentang perlindungan jangka panjang dan efek samping dari seluruh vaksin yang sedang diuji coba.
    “Semua hasil yang kami lihat sejauh ini didasarkan pada tiga atau empat bulan analisis tindak lanjut, yang berarti bahwa kami belum bisa mengatakan apapun tentang perlindungan jangka panjang (dari vaksin), atau tentang efek sampingnya,” kata Swaminathan. “Dalam kondisi yang lain, Anda tidak akan pernah menggunakan vaksin dalam waktu terbatas. Tapi, karena berada di tengah pandemi, kita harus menyeimbangkan antara risiko dan kebutuhan.”
    Menurut arsip berita Tempo, pada 21 Desember 2020, juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Lucia Rizka Andalusia juga telah membantah bahwa vaksin Sinovac memiliki kualitas paling lemah di antara kandidat vaksin lainnya. "Hingga saat ini, tidak ada dokumen dan informasi resmi dari WHO yang membandingkan respons imunitas 10 kandidat vaksin, atau pernyataan bahwa vaksin Sinovac rendah," ujarnya.
    Dia menambahkan, sampai saat ini, belum ada pengumuman tingkat efikasi vaksin Sinovac, baik dari pihak produsen maupun badan pengawas obat di negara tempat dilakukannya uji klinis. Selain itu, kata Lucia, informasi bahwa hanya Indonesia yang memesan vaksin Sinovac tidak tepat. "Sejumlah negara telah melakukan pemesanan vaksin Covid-19 dari Sinovac, seperti Brasil, Turki, Chili, Singapura, dan Filipina. Bahkan, Mesir juga sedang bernegosiasi untuk bisa memproduksi vaksin Sinovac di negaranya," ujar dia.
    Efikasi vaksin Covid-19
    Tempo merangkum beberapa pemberitaan media mengenai efikasi vaksin Covid-19 yang diuji coba di sejumlah negara. Efikasi vaksin adalah kemampuan vaksin untuk memberikan manfaat bagi individu yang mendapatkan vaksinasi.
    Dikutip dari Aljazeera, hasil terbaru dari uji coba vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca dan University of Oxford menunjukkan bahwa vaksin ini aman dan sekitar 70 persen efektif, walaupun tetap muncul pertanyaan tentang seberapa baik vaksin itu dapat membantu melindungi mereka yang berusia di atas 55 tahun.
    Vaksin lainnya, vaksin Pfizer, menunjukkan kemanjuran 95 persen dalam mencegah infeksi Covid-19 yang bergejala, diukur sejak tujuh hari setelah dosis kedua diberikan. Vaksin terlihat kurang lebih sama protektifnya di seluruh kelompok usia serta kelompok ras dan etnis.
    Untuk vaksin Moderna, dilansir dari Stat News, diklaim 94,1 persen efektif mencegah gejala Covid-19, diukur sejak 14 hari setelah dosis kedua diberikan. Kemanjuran vaksin kemungkinan sedikit lebih rendah pada orang berusia 65 tahun ke atas. Namun, saat presentasi di depan komite penasihat Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), perusahaan menjelaskan bahwa angka tersebut dapat dipengaruhi oleh fakta bahwa muncul beberapa kasus pada kelompok usia tersebut dalam uji coba. Di sisi lain, vaksin ini kemungkinan sama efektifnya di berbagai kelompok etnis dan ras.
    Sementara vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Sinovac, dikutip dari Straits Times, ditemukan lebih dari 50 persen efektif dalam uji klinis Brasil, meskipun para peneliti menunda merilis lebih banyak informasi terkait itu atas permintaan perusahaan. Tingkat kemanjuran 50 persen adalah standar minimum yang ditetapkan oleh regulator AS untuk otorisasi darurat vaksin Covid.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa WHO membandingkan efektivitas 10 vaksin Covid-19 dan menyebut vaksin Sinovac yang terendah, keliru. Informasi itu disebut berasal dari Aljazeera. Namun, berdasarkan penelusuran, Aljazeera tidak pernah mempublikasikan berita yang mengutip perbandingan efektifitas 10 vaksin Covid-19 oleh WHO.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2020-5943) [SALAH] Video Keadaan RS Covid Wisma Atlet

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 30/12/2020

    Berita

    “All….. Stay Safe and stay Healthy. Jangan kendor dgn 3Mnya. 👌

    RS Covid Wisma Atlit semalam. Video dari pak Prof Ronnie. Serem. 😥”

    Hasil Cek Fakta

    Akun Twitter ? ?Ameera ? ? (@Ameeranti) mengunggah video disertai dengan narasi yang menyebutkan bahwa video tersebut direkam di RS Wisma Atlet. Video unggahan yang berdurasi 0:33 detik itu telah ditonton sebanyak 12,6 rb kali serta mendapat respon sebanyak 51 retweet, 167 suka, dan 28 balasan.

    Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut bukan direkam di RS Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, melainkan di Stadium Tertutup Kompleks Sukan Pahang (Sukpa), Kuantan, Malaysia. Mengutip dari East Coast China Press, rumah sakit penampungan Kuantan itu dibagi menjadi dua area dengan bidai. Adapun pasien yang beristirahat di sana menggunakan tikar jerami plastic dan selimut sebagai tempat tidur.

    Mengutip dari My Metro, pemilihan Stadion Indoor Kompleks Olahraga (Sukpa) Pahang sebagai Pusat Karantina dan Perawatan Covid-19 (PKRC) dilakukan karena memiliki fasilitas dasar yang memadai. Direktur Departemen Kesehatan Negara (JKN) Pahang, Datuk Dr Bahari Che Awang Ngah mengatakan, dalam waktu yang bersamaan, PKRC dapat mengobati kasus Covid-19 tanpa gejala atau dengan gejala ringan dalam jumlah besar antara 50 hingga 200 orang. Selain itu, lokasinya juga dekat dengan Rumah Sakit Tengku Ampuan Afzan (HTAA) dan Sultan Ahmad Shah Medical Center, International Islamic University Malaysia (SASMEC) yang memiliki keahlian dan peralatan yang memadai untuk penanganan kasus kritis.

    “Sukpa yang terletak di dekat jalan raya akan memudahkan pengangkutan kasus positif ini dari kecamatan lain,” ungkapnya.

    Dengan demikian, unggahan akun Twitter ? ?Ameera ? ? (@Ameeranti) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Salah/False Context karena video tersebut bukan direkam di RS Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, melainkan Stadium Tertutup Kompleks Sukan Pahang (Sukpa), Kuantan, Malaysia.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)

    Narasi yang salah. Faktanya, video tersebut bukan direkam di RS Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, melainkan Stadium Tertutup Kompleks Sukan Pahang (Sukpa), Kuantan, Malaysia.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5944) [SALAH] Salju Di Mesir Cuaca Tidak Normal

    Sumber: Twitter.com
    Tanggal publish: 30/12/2020

    Berita

    “エジプトに雪…異常気象や…”

    (Salju Di Mesir… Cuaca Tidak Normal…)

    Hasil Cek Fakta

    Sebuah akun twitter bernama @/Ran_Paratrooper mengunggah foto Piramida dan Sphinx dengan narasi klaim bahwa saat ini Mesir tengah turun salju pada 19 desember 2020. cuitan tersebut sudah di retweets lebih dari 11 ribu kali dan di likes sebanyak 90 ribu pengguna twitter lain.

    Berdasarkan penelusuran, dilansir dari tempo.co, baik foto Piramida ataupun Sphinx tersebut tidak diambil di Mesir. kedua ikon terkenal tersebut hanyalah miniatur yang berada di Tobu World Square, Kota Nikko, Prefektur Tochigi, Jepang. Meskipun unggahan tersebut sudah diklarifikasi oleh yang bersangkutan bahwa lokasi sebenarnya berada di Tobu World Square, namun postingan tersebut sudah terlanjur viral di kalangan pengguna twitter.

    Tempo kemudian membandingkan foto tersebut dengan foto Zona Mesir Tombu World Square di Google Maps. Hasilnya, ditemukan bahwa taman hiburan yang berisi 14 ribu miniatur itu memang menampilkan Piramida dan Sphinx sebagai salah satu obyeknya.

    Namun, hal yang menunjukkan bahwa Piramida dan Sphinx tersebut tidak berada di Mesir adalah adanya miniatur Menara Eiffel di belakang Piramida itu. Di Google Maps, terlihat jelas bahwa miniatur Menara Eiffel di Tombu World Squre berada di belakang Zona Mesir.

    Sekedar informasi, Taman ini terdiri dari enam zona yaitu Jepang, Jepang modern, Amerika, Eropa, Asia dan Mesir. Meskipun sulit untuk melakukan perjalanan keliling dunia, kamu dapat merasa seperti melakukan perjalanan keliling dunia dalam satu hari di sini.

    Kesimpulan

    Bukan di Mesir. foto Piramida dan Sphinx yang diselimuti salju tersebut berlokasi di taman hiburan Tobu World Square, Jepang, pada 17 Desember 2020. Saat foto itu diambil, salju memang turun di negara subtropis tersebut.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5945) [SALAH] Bill Gates dan CEO Pfizer Menolak Disuntik Vaksin Covid-19

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 30/12/2020

    Berita

    Pada 18 Desember 2020, pemilik akun Facebook Elias F Vargas mengunggah sebuah klaim yang menyebut Bill Gates melarang keluarganya untuk disuntik vaksin covid-19. Akun itu juga menyebut CEO Pfizer, Albert Bourla tidak mau divaksin covid-19.

    Sehari setelahnya, akun Facebook yang menggunakan nama Jayis Blesswilliams juga mengunggah klaim yang sama. Bill Gates dan CEO Pfizer menolak disuntik vaksin covid-19.

    Begini narasinya:

    "Bill Gates mengatakan dia tidak akan divaksinasi, begitupun anak-anaknya. CEO Pfizer juga menunda menerima vaksin covid-19."

    Hasil Cek Fakta

    Untuk membuktikan klaim tersebut, Cek Fakta Liputan6.com menelusurinya menggunakan mesin pencari, Google. Hasil pencarian mengarahkan ke situs USA Today dalam artikel berjudul: "Fact check: Bill Gates, Pfizer CEO both plan to take COVID-19 vaccine".

    Pada artikel yang dipublikasikan pada 29 Desember 2020, USA Today menghubungi Bridgitt Arnold, juru bicara keluarga Bill Gates. Arnold menyebut kalau klaim keluarga Bill Gates menolak disuntik vaksin covid-19 tidak benar.

    "Saat gilirannya, mereka bakal melakukan itu (divaksin)," katanya.

    Bill Gates sendiri mengatakan dirinya siap untuk disuntik vaksin covid-19. Dia mengatakan itu saat diwawancarai oleh presenter Today, Savannah Guthrie. Klik tautan ini untuk melihat wawancara Bill Gates."Apapun posisi saya, saya akan segera melangkah dan mengambil vaksin," kata Bill Gates kepada Guthrie.

    Sementara itu, CEO Pfizer, Albert Bourla, bukannya menolak untuk disuntik vaksin covid-19. Dia hanya tidak mau menjadi yang pertama. Hal ini bisa ditemukan di artikel Liputan6.com dengan judul: "Alasan CEO Pfizer Bukan Jadi Orang Pertama yang Dapat Suntikan Vaksin COVID-19."

    Dalam artikel yang dipublikasikan pada 18 Desember 2020 itu, Bourla mengungkapkan, dirinya belum menerima suntikan vaksin untuk melawan virus COVID-19 dan menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.

    "Umur saya 59 tahun, saya dalam keadaan sehat, saya bukan di baris pertama, jadi untuk tipe saya tidak disarankan untuk divaksinasi sekarang. Sebisa mungkin, aku akan melakukannya aturan itu," kata Bourla.

    Jika dia divaksinasi, masyarakat umum akan mempertimbangkan untuk melakukannya. Sadar akan pengaruhnya terhadap populasi terkait keputusan mereka untuk menerima vaksin atau tidak, CEO perusahaan farmasi tersebut menyatakan dia belum mempertimbangkan untuk menerimanya lebih awal.

    Bourla menjelaskan, survei yang dilakukan oleh apoteker sendiri mengungkapkan bahwa masyarakat akan lebih rela divaksinasi jika CEO perusahaan disuntik terlebih dahulu. Responden menilai vaksinasi CEO Pfizer akan lebih menentukan dibandingkan jika presiden terpilih, Joe Biden, menerima obat tersebut.

    "Dengan pemikiran itu, saya mencoba mencari cara untuk mendapatkan vaksinasi, meskipun ini bukan waktu saya, hanya untuk menunjukkan kepercayaan pada perusahaan," katanya.

    Kesimpulan

    Klaim yang menyebut Bill Gates dan CEO Pfizer, Albert Bourla menolak disuntik vaksin covid-19 merupakan informasi yang salah. Faktanya, Bill Gates dan Albert Bourla siap untuk disuntik vaksin covid-19.

    Rujukan