Akun Facebook atas nama Entertainment Center mengunggah dua foto yang menampilkan sebuah ruangan milik Google. Akun itu dengan tegas mengklaim ruangan tersebut sebagai kantor pertama Google di Pakistan.
Entertainment Center mengunggah narasi Google membuka kantor di Pakistan pada 9 November 2020. Dia juga mengklaim kalau ini merupakan keberhasilan dari Perdana Menteri Pakistan.
Begini narasinya tentang kantor Google di Pakistan:
"Berkat upaya pribadi Perdana Menteri, Google telah membuka kantor pertamanya di Pakistan.
Setelah Google, PayPal dan Facebook juga kemungkinan membuka kantor mereka di Pakistan. Dengan kedatangan Google di Pakistan, ekonomi akan mendapatkan keuntungan dari crore, sedangkan dengan kedatangan PayPal dan Facebook, keuntungan ini akan menjadi milyaran."
(GFD-2020-5580) [SALAH] Google Buka Kantor di Pakistan
Sumber: FacebookTanggal publish: 19/11/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Untuk mengungkap kebenaran informasi tersebut, Cek Fakta Liputan6.com menggunakan mesin pencari, Google dengan kata kunci: "Google has opened its first office in Pakistan".
Hasil penelusuran mengarahkan ke situs Phone World dengan artikel berjudul: "Google Opens its First Authorized Store in Pakistan". Artikel itu dipublikasikan pada 9 November 2020.
Disebutkan dalam artikel tersebut, Google membuka toko resmi pertama mereka di Pakistan. Lokasi tepatnya di Commercial Area DHA Phase 1, Lahore.
Upacara pembukaan toko pertama Google di Pakistan dilakukan dengan cara yang meriah. Google memutuskan untuk membuka toko resmi mereka di Pakistan agar tidak ada lagi orang Pakistan yang membeli secara online.
Hasil penelusuran Google juga mengarahkan ke situs RS News dengan judul artikel: "First Authorized Google Store Opens in Pakistan". Artikel ini sudah berada di ruang digital pada 15 November 2020.
Dalam artikel tersebut, dijelaskan kalau Google membuka toko resmi di Pakistan, bukan kantor. Di toko ini, Google menjual semua produk dan akan ada staf penjualan yang bakal menjelaskan keunggulan produk keluaran Google.
Hasil penelusuran mengarahkan ke situs Phone World dengan artikel berjudul: "Google Opens its First Authorized Store in Pakistan". Artikel itu dipublikasikan pada 9 November 2020.
Disebutkan dalam artikel tersebut, Google membuka toko resmi pertama mereka di Pakistan. Lokasi tepatnya di Commercial Area DHA Phase 1, Lahore.
Upacara pembukaan toko pertama Google di Pakistan dilakukan dengan cara yang meriah. Google memutuskan untuk membuka toko resmi mereka di Pakistan agar tidak ada lagi orang Pakistan yang membeli secara online.
Hasil penelusuran Google juga mengarahkan ke situs RS News dengan judul artikel: "First Authorized Google Store Opens in Pakistan". Artikel ini sudah berada di ruang digital pada 15 November 2020.
Dalam artikel tersebut, dijelaskan kalau Google membuka toko resmi di Pakistan, bukan kantor. Di toko ini, Google menjual semua produk dan akan ada staf penjualan yang bakal menjelaskan keunggulan produk keluaran Google.
Kesimpulan
Klaim yang menyebut Google membuka kantor pertama di Pakistan adalah salah. Sebabnya, Google membuka toko resmi pertama di sana.
Rujukan
(GFD-2020-5581) [SALAH] Foto Suasana Vaksinasi Covid-19 di Peru
Sumber: FacebookTanggal publish: 19/11/2020
Berita
Beredar di media sosial kabar terkait vaksinasi covid-19 yang wajib dijalani di Peru. Kabar ini ramai dibagikan sejak pekan lalu.
Salah satu akun yang membagikannya adalah Fernando Capanacci Alves. Ia mengunggahnya pada 9 November 2020 lalu.
Dalam postingannya ia mengunggah beberapa foto orang sedang disuntik dan disertai tentara. Selain itu ia menambahkan narasi sebagai berikut:
"Pembantaian di Peru. Vaksinasi wajib dipaksakan dengan peringatan militer. Rumah-rumah, seperti di era Nazisme, ditandai setelahnya. Mengingat bahwa belum ada vaksin yang disetujui. Sialan apa yang mereka letakkan pada orang-orang ini? Kita berada di tengah Perang Dunia ke 3. Bersiap dan berdiri teguh."
Selain itu ada juga postingan dengan foto serupa namun disertai narasi berbeda. "Di Peru, vaksinasi terhadap COVID-19 sekarang diwajibkan dan siapa pun yang menolak untuk menggunakannya akan ditangkap, lihat gambar. Sudah dimulai, BANGUN. Kekhawatiran besar datang, ini adalah awal dari rasa sakit."
Salah satu akun yang membagikannya adalah Fernando Capanacci Alves. Ia mengunggahnya pada 9 November 2020 lalu.
Dalam postingannya ia mengunggah beberapa foto orang sedang disuntik dan disertai tentara. Selain itu ia menambahkan narasi sebagai berikut:
"Pembantaian di Peru. Vaksinasi wajib dipaksakan dengan peringatan militer. Rumah-rumah, seperti di era Nazisme, ditandai setelahnya. Mengingat bahwa belum ada vaksin yang disetujui. Sialan apa yang mereka letakkan pada orang-orang ini? Kita berada di tengah Perang Dunia ke 3. Bersiap dan berdiri teguh."
Selain itu ada juga postingan dengan foto serupa namun disertai narasi berbeda. "Di Peru, vaksinasi terhadap COVID-19 sekarang diwajibkan dan siapa pun yang menolak untuk menggunakannya akan ditangkap, lihat gambar. Sudah dimulai, BANGUN. Kekhawatiran besar datang, ini adalah awal dari rasa sakit."
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri fakta dan menemukan artikel dari lembaga pemeriksa fakta asal Brasil, Aosfatos.org. Aosfatos membahas postingan tersebut dalam artikel berjudul "Photos do not show mandatory vaccination against Covid-19 in Peru" yang tayang 10 November 2020.
Dalam artikel itu dijelaskan foto yang tersebar tidak terkait vaksinasi covid-19 melainkan kampanye vaksinasi melawan difteri di La Victoria, distrik Lima pada 28 Oktober 2020.
Vaksinasi difteri dilakukan karena ada laporan kasus penyakit tersebut setelah menghilang selama 20 tahun. Pemerintah Peru pun langsung melakukan imunisasi untuk menghentikan epidemi tersebut.
Hingga 30 Oktober 2020 tercatat sudah 5.300 orang divaksinasi dan Pemerintah Peru menjelaskan sudah 2.189 rumah dikunjungi selama kampanye vaksinasi difteri itu. Selain itu 86 persen keluarga yang dikunjungi menerima kampanye tersebut dan tidak ada penangkapan bagi keluarga yang tidak mau divaksin.
Selain itu ada artikel dari DW.com berjudul "Coronavirus vaccines: Fake news and myths go viral" yang tayang 18 November 2020.
Dalam artikel itu dijelaskan foto yang beredar berasal dari postingan Kementerian Kesehatan Peru di Twitter pada 28 Oktober 2020. Postingan tersebut disertai narasi.
"Saat ini, 50 brigade Minsa melakukan aksi vaksinasi dari rumah ke rumah di daerah Manzanilla, La Victoria, di mana kasus difteri terdaftar. Para spesialis ke sana dengan tujuan untuk mengidentifikasi orang yang tidak divaksinasi dan kasus yang dicurigai sebagai penyakit."
Terkait vaksin covid-19, DW menulis Menteri Kesehatan Peru, Pilar Mazzetti menjelaskan tidak akan wajib bagi warganya.
"Jika memang ada orang yang tak mau divaksin maka kami tidak akan mewajibkannya," ujar Mazzeti dilansir DW.
Vaksin covid-19 sendiri saat ini belum ada yang memperoleh izin edar. Beberapa calon vaksin covid-19 seperti dari Moderna, Pfizer, hingga Sinovac masih menjalani fase uji klinis tahap ketiga.
Dalam artikel itu dijelaskan foto yang tersebar tidak terkait vaksinasi covid-19 melainkan kampanye vaksinasi melawan difteri di La Victoria, distrik Lima pada 28 Oktober 2020.
Vaksinasi difteri dilakukan karena ada laporan kasus penyakit tersebut setelah menghilang selama 20 tahun. Pemerintah Peru pun langsung melakukan imunisasi untuk menghentikan epidemi tersebut.
Hingga 30 Oktober 2020 tercatat sudah 5.300 orang divaksinasi dan Pemerintah Peru menjelaskan sudah 2.189 rumah dikunjungi selama kampanye vaksinasi difteri itu. Selain itu 86 persen keluarga yang dikunjungi menerima kampanye tersebut dan tidak ada penangkapan bagi keluarga yang tidak mau divaksin.
Selain itu ada artikel dari DW.com berjudul "Coronavirus vaccines: Fake news and myths go viral" yang tayang 18 November 2020.
Dalam artikel itu dijelaskan foto yang beredar berasal dari postingan Kementerian Kesehatan Peru di Twitter pada 28 Oktober 2020. Postingan tersebut disertai narasi.
"Saat ini, 50 brigade Minsa melakukan aksi vaksinasi dari rumah ke rumah di daerah Manzanilla, La Victoria, di mana kasus difteri terdaftar. Para spesialis ke sana dengan tujuan untuk mengidentifikasi orang yang tidak divaksinasi dan kasus yang dicurigai sebagai penyakit."
Terkait vaksin covid-19, DW menulis Menteri Kesehatan Peru, Pilar Mazzetti menjelaskan tidak akan wajib bagi warganya.
"Jika memang ada orang yang tak mau divaksin maka kami tidak akan mewajibkannya," ujar Mazzeti dilansir DW.
Vaksin covid-19 sendiri saat ini belum ada yang memperoleh izin edar. Beberapa calon vaksin covid-19 seperti dari Moderna, Pfizer, hingga Sinovac masih menjalani fase uji klinis tahap ketiga.
Kesimpulan
Postingan yang menyebut vaksinasi covid-19 wajib diikuti di Peru adalah tidak benar. Faktanya foto tersebut merupakan foto kampanye vaksinasi difteri yang muncul lagi di Peru sejak 20 tahun terakhir.
Rujukan
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4412476/cek-fakta-tidak-benar-foto-ini-gambarkan-suasana-vaksinasi-covid-19-di-peru
- https://twitter.com/Minsa_Peru/status/1321466912585453569?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1321466912585453569%7Ctwgr%5E&ref_url=
- https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Fcek-fakta%2Fread%2F4412476%2Fcek-fakta-tidak-benar-foto-ini-gambarkan-suasana-vaksinasi-covid-19-di-peru
(GFD-2020-5587) [SALAH] Video Militer Pakistan Menang Lawan Militer Amerika dalam Lomba
Sumber: facebook.comTanggal publish: 19/11/2020
Berita
Akun Ertugrul Ghazi Fanx Page mengunggah sebuah video yang menampilkan dua orang sedang beradu di kegiatan pentathlon dengan menambahkan bendera Amerika Serikat dan Pakistan di video tersebut. Di postingan tersebut juga terdapat narasi bahwa tentara Pakistan menang melawan tentara Amerika. Postingan ini mendapat 138 ribu atensi, 2.600 komentar, dan 25 ribu kali dibagikan.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran dengan menonton videonya, pada detik ke-39 ditemukan sebuah logo kegiatan yang bertempel di dinding peserta melompat. Logo kegiatan tersebut menyerupai bentuk logo kegiatan 60th World Military Pentathlon Championship yang di selenggarakan oleh International Military Sports Council (CISM) di Brazil tahun 2013. Dalam kegiatan tersebut Pakistan dan juga Amerika tidak ikut berpartisipasi.
Penelusuran juga merujuk pada laman periksa fakta AFP, di mana mereka juga menemukan bahwa video tersebut merupakan salah satu pertandingan 60th World Military Pentathlon Championship.
“Saya dapat mengonfirmasi bahwa video ini diambil selama Kejuaraan Pentathlon Militer Dunia ke-60 yang diadakan di Brasil 2013 tetapi itu bukan video resmi yang kami ambil,” kata Direktur Media dan Komunikasi CISM, David Vandenplas, mengatakan kepada AFP (17/11/2020).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa video tentara Pakistan menang melawan tentara Amerika tidak benar. Hoaks ini termasuk dalam kategori konten yang dimanipulasi.
Penelusuran juga merujuk pada laman periksa fakta AFP, di mana mereka juga menemukan bahwa video tersebut merupakan salah satu pertandingan 60th World Military Pentathlon Championship.
“Saya dapat mengonfirmasi bahwa video ini diambil selama Kejuaraan Pentathlon Militer Dunia ke-60 yang diadakan di Brasil 2013 tetapi itu bukan video resmi yang kami ambil,” kata Direktur Media dan Komunikasi CISM, David Vandenplas, mengatakan kepada AFP (17/11/2020).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa video tentara Pakistan menang melawan tentara Amerika tidak benar. Hoaks ini termasuk dalam kategori konten yang dimanipulasi.
Rujukan
(GFD-2020-8381) Klaim bahwa Ini Foto Cincin Kawin yang Diambil dari Jari Korban Perang Dunia II Sebagian Benar
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 18/11/2020
Berita
Foto hitam-putih yang memperlihatkan ratusan cincin dalam sebuah kotak beredar di Facebook. Ribuan cincin itu diklaim sebagai cincin kawin yang diambil dari jari para korban Perang Dunia II. "Gambar cincin pernikahan yang diambil dari jari korban perang dunia II, bayangkan betapa banyak kisah cinta yang dikubur," demikian klaim yang menyertai foto tersebut.
Salah satu akun yang membagikan foto beserta klaim yang berasal dari akun Instagram @infomenariq itu adalah akun Dhynazhayra, tepatnya pada 15 November 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 8.800 reaksi dan 617 komentar serta dibagikan lebih dari 500 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Dhynazhayra.
Hasil Cek Fakta
Untuk memeriksa klaim itu, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto di atas denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut pernah dimuat oleh situs penyedia foto Getty Images dengan judul “Wedding Rings Taken From Concentration Camp Inmates” atau "Cincin Kawin yang Diambil dari Penghuni Kamp Konsentrasi".
Menurut keterangan Getty Images, foto yang diambil pada 5 Mei 1945 itu merupakan koleksi Corbis Historical. Foto itu menunjukkan cincin yang diambil oleh Nazi dari korban mereka untuk mengamankan emas. Pasukan Amerika Serikat menemukan cincin, jam tangan, batu mulia, kacamata, dan gigi palsu emas di dekat kamp konsentrasi Buchenwald, Jerman.
Foto tersebut juga ditemukan di situs jual-belionlineAS, Amazon. Keterangan yang dimuat oleh Amazon sama dengan yang ditulis oleh Getty Images, bahwa tumpukan cincin kawin itu ditemukan di kamp Buchenwald oleh pasukan AS. Foto tersebut merupakan koleksi Perpustakaan Kongres AS.
Dikutip dari situs Museum Memorial Holocaust AS (USHMM), Buchenwald merupakan salah satu kamp konsentrasi terbesar yang dibangun oleh Nazi, yang dibuka pada Juli 1937. Kamp ini berada di daerah berhutan di lereng utara Ettersberg, sekitar 5 mil barat laut Weimar, Jerman.
Sebagian besar tahanan awal Buchenwald adalah tahanan politik. Pada November 1938, menyusul peristiwa Kristallnacht, pasukan militer Nazi, Schutzstaffel (SS), dan kepolisian Jerman mengirim hampir 10 ribu laki-laki Yahudi ke Buchenwald, di mana mereka diperlakukan dengan kejam.
Selain tahanan politik dan orang Yahudi, di Buchenwald, terdapat pula para pelaku kriminal, Saksi Yehuwa, orang Roma (Gipsi), dan pembelot militer Jerman. Pada tahap berikutnya, di kamp itu, SS memenjarakan tawanan perang dari berbagai negara (termasuk AS), pejuang perlawanan, mantan pejabat pemerintahan negara-negara yang diduduki Jerman, dan pekerja paksa asing.
Antara Juli 1937-April 1945, SS telah memenjarakan sekitar 250 ribu orang dari seluruh Eropa di Buchenwald. Tahanan pria yang terbunuh di kamp tersebut diperkirakan mencapai 56 ribu orang, di mana 11 ribu di antaranya adalah orang Yahudi. Dengan jumlah tahanan yang sangat besar ini, selama Perang Dunia II, Buchenwald berperan penting dalam sistem kerja paksa.
Pada 11 April 1945, tahanan yang kelaparan menyerbu menara pengawas Buchenwald dan merebut kendali kamp. Sore harinya, pasukan AS memasuki Buchenwald dan menemukan lebih dari 21 ribu orang di kamp tersebut. Usai penyerbuan Buchenwald ini, pasukan AS mendokumentasikan kekejaman di balik kamp konsentrasi tersebut, termasuk ribuan cincin kawin itu.
Peristiwa Holocaust
Dilansir dari National Geographic, Holocaust merupakan peristiwa pembunuhan massal terhadap orang Yahudi serta kaum lainnya di Eropa oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II, tepatnya pada 1933-1945. Dikutip dari situs USHMM, orang Yahudi merupakan korban utama Holocaust. Orang Roma (Gipsi), penderita cacat mental dan fisik, serta orang Polandia juga menjadi sasaran pembantaian karena ras atau etnis mereka. Jutaan orang lainnya, termasuk Saksi Yehuwa, tawanan perang Uni Soviet, dan oposan politik, juga mengalami penindasan serta pembunuhan di bawah tirani Nazi.
Kemurnian ras dan ekspansi spasial adalah inti dari pandangan Hitler. Kamp konsentrasi resmi pertama dibuka di Dachau pada Maret 1933. Selama enam tahun berikutnya, mereka mulai memecat orang Yahudi dari layanan sipil, melikuidasi bisnis milik Yahudi, serta menelanjangi pengacara dan dokter Yahudi. Pada November 1938, tindakan Nazi memuncak. Hal ini ditandai dengan malam Kristallnacht, di mana sinagoge, atau tempat ibadah orang Yahudi, di Jerman dibakar dan jendela toko-toko milik orang Yahudi dihancurkan.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto di atas adalah "foto cincin kawin yang diambil dari jari korban Perang Dunia II" sebagian benar. Foto itu menunjukkan cincin-cincin yang diambil oleh Nazi Jerman dari korban mereka. Namun, cincin-cincin milik para korban Holocaust tersebut ditemukan oleh pasukan Amerika Serikat di dekat Buchenwald, salah satu kamp konsentrasi terbesar yang dibangun Nazi. Holocaust merupakan salah satu peristiwa besar yang terjadi selama Perang Dunia II, yang berupa pembunuhan massal terhadap orang Yahudi serta kaum lainnya, seperti orang Gipsi, orang Polandia, dan Saksi Yehuwa, di Eropa oleh Nazi.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/perang-dunia-ii
- https://archive.vn/o1eeP
- https://www.gettyimages.fi/detail/news-photo/few-of-the-thousands-of-wedding-rings-the-nazis-removed-news-photo/615307576
- https://www.tempo.co/tag/nazi
- https://www.amazon.com/New-4x6-Photo-Wedding-Buchenwald/dp/B00A2OBMME
- https://encyclopedia.ushmm.org/content/en/article/buchenwald
- https://www.tempo.co/tag/yahudi
- https://encyclopedia.ushmm.org/content/en/photo/wedding-rings
- https://nationalgeographic.grid.id/read/13909815/holocaust-dan-perjalanan-kebencian-yang-ditularkan-oleh-nazi-jerman?page=all
- https://encyclopedia.ushmm.org/content/id/animated-map/world-war-ii-and-the-holocaust
- https://www.tempo.co/tag/holocaust
Halaman: 6983/7928
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3299549/original/060007800_1605678502-Tidak_benar_Google_buka_kantor_di_Pakistan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3300786/original/099055100_1605764115-cek_fakta_vaksinasi_covid-19_di_Peru.jpg)

