• (GFD-2020-5782) [SALAH] Keturunan Tiongkok Dilarang Jadi Polisi

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 10/12/2020

    Berita

    Akun Facebook Reinaldy memposting foto seorang pria yang menggunakan seragam kepolisian RI yang diikuti dengan narasi bahwa keturunan Tionghoa selalu jadi musuh bangsa ini sejak dahulu sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan sejak dulu diatur dalam UUD 45 dan Pancasila keturunan asing dilarang menjadi aparatur negara, postingan tersebut diunggah pada Minggu (06/12/2020).

    Hasil Cek Fakta

    Dari hasil penelusuran, orang dalam foto tersebut merupakan Brigjen Hendra Kurniawan, Karopaminal Divpropam Polri yang baru saja dilantik dari Kombes ke Brigadir Jenderal Polisi, namun klaim pada foto tersebut tidak benar.

    Melansir bbc.com, keturunan Tiongkok atau Tionghoa yang menjadi polisi sudah ada, setidaknya sejak orde lama, di zaman awal kemerdekaan polisi atau militer keturunan China bukanlah hal yang aneh, seperti dijelaskan Iwan Ong Santosa, penulis buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran.

    “Bahkan sampai tahun 70an, 80an di beberapa daerah seperti di Bangka Belitung biasa saja,” kata Iwan Ong.

    Ditarik lebih ke belakang, jumlah personil militer di tahun 60an bisa mencapai ratusan orang “karena kebutuhan personil untuk konfrontasi Trikora, Dwikora cukup banyak.”

    Namun ‘Kelangkaan’ personil dari keturunan China menurut Iwan Ong mulai terjadi sejak zaman Orde Baru karena kebijakan politik saat itu.

    “Politik segregasi berbasis SARA jadi mempertentangkan ideologi antara Islam dengan identitas Tionghoa, ini sesuatu yang berbeda, sesuatu yang jauh, sesuatu yang bersekat. Yang berusaha dibangun seperti itu,” terang Iwan Ong.

    Sementara itu dilansir merdeka.com, di era Presiden Gus Dur, warga keturunan Tionghoa telah dibuka kesempatan seluas-luasnya untuk ikut ambil bagian dalam pemerintahan, termasuk menjadi anggota polisi.

    Tetapi kenyataanya amat jarang warga keturunan yang masuk ke dalam Korps Bhayangkara. Brigadir Chang Mei Zhiang alias Yolla Bernada menjadi satu dari yang sedikit itu.

    Fenomena ini ditanggapi tegas oleh Kapolri Jenderal Sutarman. Mantan Kabareskrim ini mengatakan kini Polri telah memberi ruang seluas-luasnya untuk keturunan Tionghoa menjadi polisi.

    “Semua warga negara boleh masuk Polri, tidak membedakan etnis,” kata Sutarman dalam pesan singkatnya kepada merdeka.com, Jumat (31/1).

    Dengan demikian, klaim akun Facebook Reinaldy adalah salah dan masuk ke dalam kategori konten yang menyesatkan.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5783) [SALAH] Foto “ternyata Ahmad Taufan Damanik ketua Komnas HAM boneka cendana”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 10/12/2020

    Berita

    Akun Aira Sema (fb.com/aira.sema.52) mengunggah sebuah gambar tangkapan layar dengan narasi sebagai berikut:

    “Komnas HAM = SAMPAH NEGARA”

    Gambar tersebut menampilkan gambar putra bungsu Presiden kedua RI, Tommy Soeharto bersama seorang laki-laki–yang dilingkari dengan garis merah dan terdapat narasi “Jejak Digital Memang Kejam Rudolfo. Pantas selama ini #komnasHAM selalu berseberangan, ternyata Ahmad Taufan Damanik ketua Komnas HAM boneka cendana… #BurbakanKomnasHAM”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya foto Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik bersama putra bungsu Presiden kedua RI, Tommy Soeharto adalah klaim yang salah.

    Faktanya, bukan Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik. Komnas HAM menegaskan bahwa Taufan tidak pernah bertemu atau berfoto bersama dengan anggota keluarga Cendana dalam kesempatan apa pun.

    Akun twitter resmi Komnas HAM (twitter.com/KomnasHAM), mengunggah tangkap layar foto tersebut dengan label ‘Hoax.’

    “Komnas HAM Republik Indonesia memberikan klarifikasi resmi sebagai berikut:

    1. Berita dan foto tersebut TIDAK BENAR

    2. Pria yang diberi lingkaran merah dalam foto tersebut bukan Ketua Komnas HAM RI Ahmad Taufan Damanik

    3. Ketua Komnas HAM RI Ahmad Taufan Damanik tidak pernah bertemu atau berfoto bersama dg anggota keluarga cendana dalam kesempatan apa pun.

    Maka, Komnas HAM RI menghimbau agar masyarakat utk tdk terpengaruh dan/atau ikut menyebarluaskan berita bohong dan menyesatkan tsb.

    Komnas HAM RI akan selalu bekerja berdasarkan mandat Undang-Undang, dalam hal ini UU No. 39 Tahun 1999 ttg Hak Asasi Manusia dan bekerja tidak dalam kaitan dengan kelompok politik manapun, tapi semata-mata untuk tegaknya hukum yang berlandaskan prinsip hak asasi manusia.” tulis Komnas HAM dalam akun Twitter resminya, Kamis (10/12/2020).

    Sementara Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik tengah mempertimbangkan langkah selanjutnya untuk menindaklanjuti ulah penyebar hoaks.

    “Saya sedang mempelajari apakah akan menempuh jalur hukum atau tidak,” kata Taufan kepada CNNIndonesia.com, Kamis (10/12/2020) malam.

    Rujukan

  • (GFD-2020-5784) [SALAH] Akun Twitter Badan Intel Negara “@BadanIntelegent”

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 10/12/2020

    Berita

    Telah beredar di media sosial Twitter sebuah akun yang mengatasnamakan BIN atau Badan Intelijen Negara.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, akun tersebut adalah akun palsu dan bukan resmi dikelola oleh BIN RI.

    Pada akun Twitter resmi BIN RI ditegaskan bahwa BIN hanya memiliki satu akun Twitter dan saat ini sudah terverifikasi resmi dengan tanda centang biru, akun resmi milik BIN RI saat ini adalah @binofficial_ri.

    Dengan demikian informasi terkait Akun yang beredar di Twitter dengan nama Badan Intel Negara atau @badanintelegent tersebut tidak benar, sehingga informasi tersebut masuk dalam kategori konten tiruan.

    Rujukan

  • (GFD-2020-8409) Keliru, Kutipan yang Diklaim Berasal dari Gus Mus tentang Warga Keturunan Arab

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 10/12/2020

    Berita


    Sebuah poster yang berisi foto pengasuh Pondok Pesantren Raidlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, Kiai Haji Mustofa Bisri atau Gus Mus yang disertai dengan kutipan yang menyerang warga keturunan Arab beredar di media sosial. Kutipan itu berisi peringatan agar warga keturunan Arab tidak mengklaim sebagai pihak yang pertama mengajarkan Islam di Indonesia, karena ada Wali Songo yang telah lebih dulu membimbing umat Islam di Indonesia.
    Berikut isi kutipan dalam poster tersebut:
    “Jadi warga keturunan Arab, jangan klaim bahwa kalianlah yg pertama mengajari kami berislam, karena ada Wali Songo yang telah lebih dulu membimbing kami, bahkan 3 diantaranya dari Cina. Biarkan kami beragama Islam melakukan hablumminallah dan hablumminnas dengan cerdas, bukan teriak takbir, tapi kelakuan kafir.
    Kami akan ikuti akhlak Rasulullah sebagai pedagang yang menghidupi jutaan manusia. Itulah yang dilakukan orang Cina. Jangan tularkan kepada kami kebiasaan perang, biarkan kami terbiasa menjadi pedagang, tetapi bukan dagangan agama, menjual surga.”
    Di Facebook, poster tersebut diunggah salah satunya oleh akun Gendeng War Slawer, tepatnya pada 3 Desember 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah mendapatkan 33 reaksi dan 48 komentar serta dibagikan sebanyak 96 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Gendeng War Slawer.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri sumber kutipan tersebut dengan memasukkan kata kunci “Gus Mus kritik warga keturunan Arab” di mesin perambah Google. Hasilnya, ditemukan bahwa kutipan itu bukan bersumber dari Gus Mus.
    Pada 1 Desember 2020, lewat akun Instagram-nya, @s.kakung, Gus Mus telah mengklarifikasi kutipan yang mencatut namanya tersebut. Dalam unggahannya, Gus Mus mencantumkan tautan yang mengarah pada sebuah tulisan panjang di Facebook yang menjadi sumber dari kutipan yang mencatut namanya itu.
    Tulisan ini berupa surat terbuka bagi warga keturunan Arab di Indonesia. Surat tersebut ditulis di Sidoarjo, Jawa Timur, dan diunggah oleh akun Facebook Iyyas Subiakto pada 19 November 2020. Namun, surat itu sama sekali tidak menyebut nama Gus Mus.
    Dalam unggahannya di Instagram, Gus Mus pun menulis sebagai berikut:
    "Banyak orang yang kalau menemu atau mendapatkan sesuatu (dari WA atau medsos) yang 'menarik hati'nya, langsung dishare, tanpa tabayyun kepada yang mengiriminya.
    Aku sendiri (dan anak-anakku) capek mengklarifikasi bila ada tulisan atau ujaran yang mengatasnamakan diriku. Kecuali mereka yang sudah hafal 'bahasa'ku, banyak yang justru tabayyun menanyakan kepadaku atau anak-anakku. Kok tidak sejak awal bertanya atau tabayun kepada yang mengirim atau pihak dari mana mereka mendapatkannya.
    Seperti baru-baru ini, aku kebanjiran pertanyaan tentang adanya 'surat' yang 'ditandatangani oleh KH. MUSTOFA BISRI' yang ternyata itu bermula dari postingan orang Sidoarjo di Facebook. Lalu entah dengan alasan apa, ada yang mencantumkan namaku disitu (dan kelupaan menghapus tulisan Sidoarjo-nya)."
    Putri Gus Mus, Ienas Tsuroiya, juga telah mengklarifikasi kutipan tentang warga keturunan Arab tersebut. Dilansir dari Suara.com, dalam sebuah utas yang diunggah pada 1 Desember 2020, Ienas bercerita bahwa sebuah tulisan berjudul "Saudaraku Keturunan Arab" ramai beredar di grup-grup pesan singkat. Tulisan itu ditutup dengan tulisan "Sidoarjo, 19 November 2020" dan nama Gus Mus.
    Ienas menegaskan bahwa tulisan itu bukan tulisan Gus Mus. Menurut dia, gaya penulisan dan bahasa yang digunakan dalam tulisan tersebut sangat berbeda dengan tulisan Gus Mus. "Dari segi penulisan, gaya bahasa, dan seterusnya, sudah jelas sekali itu BUKAN tulisan Abah. Ditambah di bagian penutup ada keterangan 'Sidoarjo, 19 Nov 2020'. Entah siapa yang kemudian menambahkan kata: Gus Mus," katanya.
    Ienas berpesan, jika menemukan pesan di grup-grup pesan singkat yang mengatasnamakan Gus Mus dan dibumbui dengan kata "Viralkan!" atau "Sebarkan!", masyarakat perlu menginformasikan kepada penyebar pesan tersebut bahwa pesan itu bukan tulisan Gus Mus. Ia juga meminta agar pesan-pesan semacam itu berhenti disebarkan dan tidak membawa-bawa nama Gus Mus.
    Terakhir, Ienas mengingatkan bahwa Gus Mus memiliki media sosial yang dikelola secara mandiri. Selain itu, ada platform lainnya yang dikelola oleh anak-anak Gus Mus, yakni akun YouTube Gusmus Channel dan Mata Air Radio. Jika tulisan yang beredar tidak memiliki logo lembaga-lembaga itu, kata Ienas, bisa dipastikan bahwa tulisan itu palsu.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa poster dengan kutipan yang berisi peringatan bagi warga keturunan Arab di Indonesia di atas bersumber dari Gus Mus, keliru. Kutipan tersebut bersumber dari sebuah tulisan panjang yang pernah diunggah oleh akun Facebook Iyyas Subiakto pada 19 November 2020. Gus Mus dan putrinya, Ienas Tsuroiya, pun telah menyatakan bahwa tulisan itu bukan tulisan Gus Mus.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan