(GFD-2021-8475) Keliru, Pengawal Joe Biden di Foto Ini Berasal dari Militer Cina
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 29/01/2021
Berita
Foto dari sebuah tayangan di televisi yang memperlihatkan Presiden Amerika Serikat Joe Biden tengah menghadiri sebuah acara beredar di media sosial. Dalam tayangan itu, terlihat seorang pria di belakang Biden yang berwajah khas Asia. Pria tersebut diklaim sebagai pengawal Biden yang berasal dari pasukan militer Cina.
Di Facebook, salah satu akun yang membagikan foto beserta klaim tersebut adalah akun Handaya Jaya, tepatnya pada 21 Januari 2021. Akun itu menulis, "Pengawal biden sekarang dari pasukan Cina..." Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah mendapatkan 12 reaksi dan 12 komentar.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Handaya Jaya yang memuat klaim keliru terkait foto yang diunggahnya.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, foto di atas merupakan foto dari tayangan pelantikan Joe Biden pada 20 Januari 2021. Tayangan tersebut disiarkan oleh stasiun televisi Metro TV pada 21 Januari. Metro TV juga mengunggah potongan video pelantikan Biden ini di YouTube. Dalam video itu, memang terlihat sosok pria berwajah khas Asia di belakang Biden.
Tempo kemudian menelusuri informasi serta pemberitaan terkait pengawal Joe Biden yang berwajah khas Asia tersebut. Dilansir dari Vice, Biden tidak memiliki pengawal yang berasal dari pasukan militer Cina. Pengawal yang bernama David Cho ini adalah seorang agen Dinas Rahasia AS berdarah Korea-Amerika. Ia memang ditunjuk untuk mengatur detail keamanan pelantikan Biden pada 20 Januari lalu.
Pada 2019, Cho menerima medali emas atas pelayanannya yang luar biasa dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS. Penghargaan tersebut diberikan "atas partisipasi langsung dan tanpa lelah dalam negosiasi tingkat tinggi" selama pertemuan kedua antara mantan Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Vietnam. Menurut The Washington Post, Cho adalah "orang kedua" di Dinas Rahasia AS selama masa jabatan Trump.
Di akun Twitter miliknya, Alistair Coleman, penulis BBC Monitoring yang fokus pada isu disinformasi dan analisis media Korea Utara, juga membantah bahwa Joe Biden memiliki pengawal dari Cina. "Dia adalah David Cho, keturunan Korea-Amerika, salah satu anggota Dinas Rahasia AS yang paling dihormati dan berpengalaman yang telah bekerja baik untuk pemerintahan di bawah Partai Republik maupun Partai Demokrat," ujarnya.
Tempo pun menemukan sejumlah foto yang memperlihatkan David Cho ketika mengawal Donald Trump. Dua di antaranya adalah milik kantor berita Reuters. Foto pertama diambil ketika Trump dan istrinya, Melania, menghadiri acara Paskah di Gedung Putih pada 22 April 2019. Sementara foto kedua diambil ketika Trump tiba di New York Presbyterian Hospital untuk mengunjungi adik laki-lakinya, Robert, pada 14 Agustus 2020.
Presiden Donald Trump, memegang priwitan milik anggota militer saat ikut mewatnai menggunakan crayon ketika merayakan Hari Raya Paskah dalam White House Easter Egg Roll di Washington, 22 April 2019. REUTERS/Jonathan Ernst
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pengawal Presiden AS Joe Biden yang terlihat dalam foto di atas berasal dari pasukan militer Cina, keliru. Pengawal Biden dalam foto itu bernama David Cho. Ia adalah seorang agen Dinas Rahasia AS berdarah Korea-Amerika. Ia memang ditunjuk untuk mengatur detail keamanan pelantikan Biden pada 20 Januari lalu. Cho juga menjadi "orang kedua" di Dinas Rahasia AS selama masa jabatan Donald Trump.
ANGELINA ANJAR SAWITRI
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/joe-biden
- https://archive.md/Ap9tV
- https://www.tempo.co/tag/pelantikan-joe-biden
- https://www.youtube.com/watch?v=SRNq0xzJSho&t=27s
- https://www.vice.com/en/article/5dpjqk/no-biden-doesnt-have-a-chinese-handler-hes-a-us-secret-service-agent
- https://www.tempo.co/tag/donald-trump
- https://twitter.com/alistaircoleman/status/1352692299017424900
- https://www.tempo.co/tag/cina
- https://pictures.reuters.com/archive/USA-TRUMP--RC1300429990.html
- https://pictures.reuters.com/archive/USA-TRUMP--RC2WDI9LOMK1.html
- https://www.tempo.co/tag/militer-cina
(GFD-2021-8476) Keliru, Klaim Video Kamala Harris yang Disuntik Ini Bukti Kebohongan Vaksinasi Covid-19
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 29/01/2021
Berita
Video yang diklaim sebagai bukti kebohongan vaksinasi Covid-19 beredar di media sosial. Video tersebut memperlihatkan momen ketika Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris menerima suntikan vaksin Covid-19 dari seorang petugas medis.
Setelah menyuntikkan vaksin ke lengan Harris, petugas medis itu terlihat melipat sebuah bagian yang terdapat di alat suntik dengan bantuan pegangan kursi yang diduduki Harris. Cuplikan momen ini diperbesar dan diputar dua kali dalam video tersebut.
Di Facebook, video beserta klaim itu diunggah salah satunya oleh akun Komandan Sarges She Halilintar, tepatnya pada 2 Januari 2021. Akun ini menulis, “Sadarlah Kebohongan sedang di lancarkan ke publik!!! Reposted from @truthhunterid Tonton baik baik! Perawat ketauan blunder. Silahkan simpulkan sendiri. Cawapres USA Kamala Harris disuntik va*sin disiarkan live di TV.”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Komandan Sarges She Halilintar yang memuat klaim keliru soal video yang diunggahnya.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, video tersebut memperlihatkan momen ketika Wapres AS Kamala Harris menerima vaksin Covid-19 pada 29 Desember 2020 dan disiarkan oleh sejumlah media. Salah satu media yang pernah mengunggah video itu adalah CNN, yakni ke kanal YouTube resminya. Menurut keterangan video tersebut, diketahui bahwa saat itu Harris menerima dosis pertama vaksin Moderna.
Video yang sama, dengan kualitas yang lebih baik, juga pernah diunggah ke YouTube oleh VOA News pada 30 Desember 2020. Dalam keterangannya, tertulis bahwa Harris, pada 29 Desember 2020, menerima dosis pertama vaksin Moderna di depan media secara langsung sebagai bagian dari upaya untuk meyakinkan publik AS bahwa vaksinasi itu aman. "Itu mudah! Terima kasih. Saya hampir tidak merasakannya," kata Harris setelah menerima vaksin.
Namun, dalam video berkualitas tinggi yang dipublikasikan VOA News ini, ketika petugas medis mencabut bagian penutup alat suntik, terlihat secara jelas bahwa terdapat jarum di alat suntik tersebut. Setelah vaksin disuntikkan, petugas medis itu memang tampak melipat sebuah bagian yang terdapat di ujung alat suntik dengan bantuan lengan kursi yang diduduki Harris. Bagian alat suntik yang dilipat itu berwarna merah muda.
Tapi, seperti dilansir dari France24, bagian alat suntik berwarna merah muda yang tampak berbahan plastik itu merupakan sebuah mekanisme keamanan. Bagian tersebut membantu memastikan bahwa baik pasien atau petugas medis tidak melukai dirinya sendiri secara tidak sengaja akibat jarum suntik selama proses penyuntikan.
Penjelasan serupa dimuat oleh World Today News, yang mengutip AFP. Bagian berwarna merah muda itu sebenarnya adalah mekanisme keamanan yang sudah cukup umum diterapkan dalam alat suntik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun merekomendasikan penggunaan bagian semacam ini yang "menekan dan menutup jarum suntik sepenuhnya setelah proses penyuntikan" untuk mencegah pengguna melukai dirinya sendiri secara tidak sengaja dan akhirnya membuat dirinya terpapar risiko infeksi.
Sebelum Kamala Harris menjalani vaksinasi Covid-19, pada pertengahan Desember 2020, isu mengenai jarum palsu ini telah beredar, terutama sejak vaksin Covid-19 diluncurkan di Inggris dan AS. Salah satunya adalah klaim yang dilengkapi dengan video milik BBC yang memperlihatkan vaksinasi Covid-19. Video tersebut diklaim sebagai "bukti" alat suntik yang digunakan untuk vaksinasi palsu.
Menurut penjelasan BBC, rekaman tersebut menunjukkan petugas medis yang menggunakan alat suntik berpengaman, di mana jarum suntik dimasukkan ke dalam bagian tubuh alat suntik setelah digunakan. Alat suntik berpengaman telah digunakan secara luas selama lebih dari satu dekade. Mekanisme keamanan yang diterapkan dalam alat suntik itu melindungi petugas medis dan pasien dari cedera dan infeksi.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video yang memperlihatkan Wapres AS Kamala Harris disuntik tersebut adalah bukti kebohongan vaksinasi Covid-19, keliru. Dalam video yang sama, namun dengan kualitas yang lebih tinggi, ketika petugas medis mencabut bagian penutup alat suntik, terlihat secara jelas bahwa terdapat jarum di alat suntik tersebut. Setelah vaksin disuntikkan, petugas medis itu memang tampak melipat bagian berwarna merah muda yang terdapat di ujung alat suntik. Namun, bagian itu merupakan sebuah mekanisme keamanan pada alat suntik. Bagian ini berfungsi untuk melindungi pasien atau petugas medis dari cedera dan infeksi. Alat suntik berpengaman telah digunakan secara luas selama lebih dari satu dekade.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/kamala-harris
- https://archive.vn/oRWyH
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://bit.ly/3ovMh3f
- https://bit.ly/3clzEWb
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-moderna
- https://observers.france24.com/en/americas/20210108-was-there-really-no-needle-when-kamala-harris-got-vaccinated-for-covid-19-look-again
- https://www.world-today-news.com/yes-the-syringe-used-to-vaccinate-kamala-harris-was-fitted-with-a-needle/
- https://www.tempo.co/tag/vaksinasi-covid-19
- https://bbc.in/3r32kaw
- https://www.tempo.co/tag/jarum-suntik
(GFD-2021-6212) [SALAH] Lianhua Qingwen Dapat Digunakan Sebagai Obat Covid-19
Sumber: facebook.comTanggal publish: 29/01/2021
Berita
Beredar sebuah postingan dari akun Facebook Kimberly Rebecca memposting sebuah narasi yang berisikan klaim bahwa Lianhua Qingqwn dapat membantu pasien Covid-19 dan mampu menangani infeksi Covid-19. Postingan tersebut disukai sebanyak 30 kali, dikomentari sebanyak 4 kali, dan disebarkan kembali 4 kali.
Lianhua Qingwen Capsules
Lianhua Qingwen obat china
Lianhua Qingwen
Obat penyakit covid
Lianhua obat covid
Lianhua qinggwen
Obat lianhua qinggwen
Obat lianhua qingwen
Lianhua qingwen jiaonang
Lian hua
Lianhua Qingwen Capsules
Lianhua Qingwen obat china
Lianhua Qingwen
Obat penyakit covid
Lianhua obat covid
Lianhua qinggwen
Obat lianhua qinggwen
Obat lianhua qingwen
Lianhua qingwen jiaonang
Lian hua
Hasil Cek Fakta
Setelah melakukan penelurusan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) menjelaskan bahwa obat tradisional bermerek Lianhua Qingwen Capsules terdapat pada database BPOM dengan pemilik atas nama PT. INTRA ARIES dan Nomor Izin Edar (NIE) TI144348471, namun produk tersebut disetujui BPOM bukan sebagai obat untuk mengatasi Covid-19 dan mengobati Covid-19 melainkan meredakan panas dalam dan batuk. PT. INTRA ARIES pada 16 April melaporkan adanya Lianhua Qingwen Capsules palsu yang beredar,
Lianhua Qingwen dapat digunakan sehari 3 x 4 kapsul tanpa resep dokter tetapi ada produk Lianhua Qingwen Donasi yang berbeda komposisi dan diberikan secara gratis sebagai donasi pada masyarakat melalui BNPB oleh pemohon ke fasilitas pelayanan Kesehatan, pemerintah daerah, dan Kepolisian RI/TNI serta harus digunakan dibawah pengawasan dokter. Food and Drug Administration (FDA) pada bulan Agustus 2020 lalu menyetujui penggunaan Lianhua Qingwen hanya untuk mengobati gejala dari Covid-19 tetapi tidak dapat mengobati virus Covid-19.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim Lianhua Qingqwn dapat membantu pasien Covid-19 dan mampu menangani infeksi Covid-19 adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Lianhua Qingwen dapat digunakan sehari 3 x 4 kapsul tanpa resep dokter tetapi ada produk Lianhua Qingwen Donasi yang berbeda komposisi dan diberikan secara gratis sebagai donasi pada masyarakat melalui BNPB oleh pemohon ke fasilitas pelayanan Kesehatan, pemerintah daerah, dan Kepolisian RI/TNI serta harus digunakan dibawah pengawasan dokter. Food and Drug Administration (FDA) pada bulan Agustus 2020 lalu menyetujui penggunaan Lianhua Qingwen hanya untuk mengobati gejala dari Covid-19 tetapi tidak dapat mengobati virus Covid-19.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim Lianhua Qingqwn dapat membantu pasien Covid-19 dan mampu menangani infeksi Covid-19 adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Rujukan
- https://www.liputan6.com/health/read/4462084/bpom-tidak-pernah-keluarkan-izin-edar-lianhua-qingwen-capsules-untuk-obat-covid-19
- https://news.abs-cbn.com/news/08/18/20/lianhua-qingwen-the-fda-approved-traditional-chinese-med-only-treats-symptoms-not-covid
- https://newsinfo.inquirer.net/1321460/fda-approved-chinese-drug-not-for-treating-covid-19
(GFD-2021-6213) [SALAH] Bank Indonesia Cetak Uang 300 Triliyun
Sumber: facebook.comTanggal publish: 29/01/2021
Berita
Sebuah akun Facebook bernama RA Kartini mengunggah artikel yang menyebutkan bahwa Bank Indonesia (BI) akan mencetak uang kartal sebesar Rp100 hingga Rp300 triliyun. Langkah itu diambil karena keadaan darurat keuangan negara yang semakin kritis.
Hasil Cek Fakta
Setelah ditelusuri, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan kabar yang mengatakan BI akan mencetak uang sebesar Rp300 triliyun karena negara sedang kritis adalah tidak benar dan tidak didukung oleh data, fakta, dan informasi yang valid.
“Tugas BI dalam mencetak uang dilakukan di bawah amanat undang-undang dengan berbagai pertimbangan seperti kebutuhan likuiditas perekonomian, mengganti uang lusuh, dan lainnya. Jadi tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan karena akan membahayakan perekonomian,” demikian penjelasan Erwin.
Pada awal pandemi pun, Gubernur BI Perry Warjiyo pun menolak usulan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI agar BI mencetak uang sampai Rp600 triliun. Menurut Perry, hal itu tidak sejalan dengan kebijakan moneter yang prudent dan lazim. Pencetakan uang hanya dilakukan sesuai kaidah dan koordinasi antara Bank Indonesia dengan Kementerian Keuangan.
Sehingga klaim mengenai BI akan mencetak uang sebesar Rp300 triliyun termasuk hoaks dengan kategori konten yang menyesatkan.
“Tugas BI dalam mencetak uang dilakukan di bawah amanat undang-undang dengan berbagai pertimbangan seperti kebutuhan likuiditas perekonomian, mengganti uang lusuh, dan lainnya. Jadi tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan karena akan membahayakan perekonomian,” demikian penjelasan Erwin.
Pada awal pandemi pun, Gubernur BI Perry Warjiyo pun menolak usulan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI agar BI mencetak uang sampai Rp600 triliun. Menurut Perry, hal itu tidak sejalan dengan kebijakan moneter yang prudent dan lazim. Pencetakan uang hanya dilakukan sesuai kaidah dan koordinasi antara Bank Indonesia dengan Kementerian Keuangan.
Sehingga klaim mengenai BI akan mencetak uang sebesar Rp300 triliyun termasuk hoaks dengan kategori konten yang menyesatkan.
Rujukan
Halaman: 6827/7945




